Hetalia milik om Himaruya Hikadez

Cerita milik Kopi and Co

XxXxXx

Bab 1 : Ngambek

(Narator POV )

" Gitu aja kok ngambek sih baang. Heey baaang, bang Mahmut! "

Panggilan dari Peter sama sekali tidak digubris Mathias. Tanda ngambek nya Mathias beneran greget, maklum lah jones nya Mathias udah akut, jadinya kalo ada hal-hal yang menyinggung soal gebetan auto bikin Mathias sensitive.

Lantaran Mathias masih diam aja, cuek bebek sambil main game di HP, kumparjo cs mulai panik.

" Heh gaes, Si Mamet beneran ngambek nih gimana dong? " Bisik Emil

" Haduh jangan lagiii, My God! oh no! Kuotaku terancam uwaa hiks hiks "

" Alay lu, Fred! Hal ini kan kejadian gegara elu yang seenak jidat ngodain si jabrik! " Hardik Gilbert setengah berbisik.

" Oooh jadi elu menyalahkan aku?! " Alfred gak mau kalah. " Lu kagak inget, lu tadi yang pertama kali ikutan ngodain?! " Sekarang si Alfred ikutan nyolot.

" Wooo dasar kamuu " Kata Alfred dan Gilbert secara bersamaan. Kemudian terjadilah perdebatan sengit di antara mereka berdua tentu saja debatnya sambil berbisik biar Mathias gak keganggu.

" Woi lu pada! Bisanya ribut aja, cari solusi kek! " Bisik Lovino.

" Be.ri.sik. Diem lu! " Kata Alfred dan Gilbert.

" What? Beraninya " Pada titik ini Lovino sudah mau ikutan ribut bareng duo asem itu. namun itu tak terjadi, Feli mencegahnya.

" Kak Lovi, gak usah ikut. " Kata si Feli dengan senyum anehnya. Um... yang ini cenderung lucknut kalo menurut Lovi.

Lovi merasakan ada yang tidak beres dari adiknya. Lovi baru akan berkata ketika tiba-tiba Feli berteriak.

" Baaang Daniii, tolong babu mu di kondisikaan ! " Kaget kan kok Feli bisa OOC begitu?

" AAASIAP! / NJIR! SIAPA YANG LO BILANG BABU HEH?! " Kata Daniel, Alfred, dan Gilbert bersamaan.

Dak Duk Duak

Dua biang onar itu akhirnya diam akibat jitakan yang di lancarkan Daniel.

" Yosh akhirnya duo payah itu berhenti. Oke, ada ide buat si Mamet? " Kali ini Arthur bertanya.

" Mau gimana lagi. Anterin tu si Mathias ke Indomaret. Traktir sekalian noh " Komen Lukas singkat padat jelas.

" Aiya kagak mau. Lu tahu kan dana kita tipis. " Tolak si Yao

Kiba-tiba sebuah tangan menarik lengan baju Yao, otomatis Yao sekarang bertatap mata dengan si penarik.

Berwald -si pelaku penarikan- kemudian berkata. " Yao, lu dari dulu ributnya dana mulu. Lu belum pernah lihat kalo Mathias ngabek kek gimana kan ? " Yao hanya menggeleng. Tak Lama kemudian cengkraman tangan itu melonggar.

" Huh sini ku beritahu." Kata Berwald kalem. " Si Mathias itu kalo ngambek bisa berubah jadi monster kuota. Kagak tahu gimana caranya. Lu tahu gak? Kuota kami yang 10 giga habis dalam waktu satu jam. " Begitulah yang dikatakan Berward.

Jeder!

Wuuss wuusss

Entah bagaimana setelah Berwald selesai bicara, petir tiba-tiba datang bersama angin kencang.

" Sekarang.. " Berwald melirik kearah Mathias yang masih meringkuk memainkan HP sambil menghadap tembok. Kemudian Berward balik menatap langsung ke mata Yao.

" Berhati-hatilah jika Mathias tahu sandi wifi mu. " Kata Berwald memperingati.

" Gulp" Entah kenapa semua anggota kumparjo cs minus Mathias dan Berwald merasa lehernya kering.

Duar jeder!

Petir menyambar, udara lembab nan dingin mulai terasa di dalam ruangan tempat kumparjo berkumpul.

" Sepertinya akan ada pemadaman lampu da... Aku perlu teman untuk mengambil lampu petromax dan beberapa lampu teplok. " Kata Ivan mengakhiri kesunyian yang tidak enak itu.

" Aku ikut. "

" Aku juga ikut. "

" Oke, ayo lewat sini. " kata Ivan menunjukan jalannya. Tiga orang itu, Ivan, Vladimir, dan Arthur pun pergi meninggalkan ruangan. Mereka bertiga menghilang melalui pintu dapur.

(Akhir dari Narator POV )

XxXxXx

Bab 2 : Lampu teplok

(Vladimir POV)

" Wow aku belum pernah yang seperti ini sebelumnya. Um bagaimana caramu menggunakannya ? " Tanyaku penasaran

" Ahaha itu sudah lama sekalii tidak digunakan, um.. Untuk menggunakanya kamu hanya perlu memasukan arang yang membara ke dalam sini dan siaplah oven pizza nya. " Jawab Ivan menerangkan.

" Kalau di lihat-lihat area dapur mu ternyata luas juga ya, Van. " Celuk Arthur tiba-tiba.

" Sebenarnya tidak juga. Itu cuma ilusi saja" Terang Ivan.

(Akhir dari Vladimir POV)

XxXx

(Narator POV)

" heee ilusi? " Beo Arthur dan Vladimir.

" Um... Bagaimana menerangkannya ya? " Kali ini Ivan tersenyum kikuk. " Well kalian melihat palang kayu itu? Nah di situlah tempatnya. "

" Yang kayak balkon itu? aku pernah lihat sebelumnya... Huff lupa namanya." Kata

Vladimir dengan dahi yang berkerut.

" Mezzanine. Itu nama ruangan tambahannya. Almahum kakek Yang membuatnya, tapi, kakek lupa menambahkan tangga. Wkwk" Ivan tergelak, kemudian melanjutkan. " sebelum di bangun, tiap kali ke sini kakek pasti komen " Ini ruangan tiap hari makin sempit aja. " Akhirnya semua barang-barang dinaikin ke situ. " Terang ivan sambil menunjuk ke Mezzanine.

Ivan memandang kosong Mezzanine itu." Sekarang ruangan kesannya jadi terlalu hampa ya? " Kali ini Ivan bicara tanpa melirik Arthur maupun Vlad. Ucapan Ivan ini lebih ke monolog dari pada pertanyaan.

Arthur mau menjawab, tapi keburu di serobot Vladimir. " Tidak sehampa seperti yang kau pikirkan. "

Ivan menoleh " Menurutmu begitu? "

" Yup benar sekali. Yang lapang begini malah cocok untuk demo memasak. " Kata Vladimir dengan dilatar belakangi Arthur Yang tersenyum sambil memberikan jempol.

" Yoss ide bagus besok aku akan buka kelas memasak scones! " Kata Arthur berbinar-binar.

"LU Jangan bercanda, bambank! " Ucap Ivan dan Vlad. Jangan lupa setelah itu Arthur mendapat jitakan rasa sayang dari temannya.

" SaKiT Mblo! " Protes Arthur.

" Salah sendiri. Siapa yang suruh buat skenario pembunuhan begitu! "

" Macam psikopat aja, mengerikan sekali da~"

Oke abaikan saja Arthur dengan benjolnya.

XxXx

Ada sebuah tangga kayu yang terbuat dari gabungan beberapa kayu sisa pertukangan --sepertinya dibuat secara terburu-buru-- digeletakan di lantai dibawah mezzanine. Ivan mengambil tangga itu dan menyadarkannya di pintu mezzanine. (Sebenarnya pintunya lebih mirip celah bukaan pada platform eternit. )

" Jadi, ini dia tangga nya. Siapa yang mau ke atas? " Kata Ivan dengan satu tangan masih memegang tangga yang sudah di senderkan.

Mereka bertiga melihat ke atas, mereka mengamati lantai landasan mezzanine itu.

Arthur pun bermonolog. " Sepertinya kayunya dah lama. Harus yang kurus yang naik. "

Empat mata lantas melirik ke rekannya. Manik Ungu bertemu merah, hijau bertemu merah.

" Dah lah gak usah lirik-lirikan gitu, risih tau! " Setelahnya tanpa kata si Vladimir naik ke atas.

" Van, Lampunya di sebelah mana? Minta senter juga. " Kata Vladimir setelah berhasil naik di mezzanine.

Sebuah tangan terulur dari celah landasan kayu. " nih senternya, Vlad. lampunya kalau gak salah ada di atas peti. " Kata Ivan sambil mengulungkan senter.

Tangan yang terulur itu lenyap di gantikan bunyi berisik langkah kaki dan bunyi lainnya. " Ada Boss? " Tanya Arthur.

Bunyi barang di geser itu lantas berhenti. " Adaaa~ " Sahut suara dari atas. Setelahnya terdengar bunyi barang di geser lagi.

" Anu minta satu orang stay di tangga. Satu orang di lantai jagain tangga. " Kata Vladimir.

" Okeee" Jawab Arthur dan Ivan.

Tak lama kemudian beberapa lampu teplok dan sebuah lampu emergency pun diturunkan dari gudangnya.

" Itu muatan yang terakhir. " Kata Vladimir.

Setelahnya Ivan dan Arthur menyortir lampu yang sudah di turunkan. Mereka mensortir lampu teplok mana yang bisa di pakai dan tidak. Selagi mereka mensortir, Vladimir tidak ikut, sedang membereskan kekacauan diatas katanya.

Tak! Tak! Tak!

Ivan berkomentar " Oh sudah turun rupanya. Gimana udah selesai bere-- (ivan menoleh) Eh ? Kok LU KELUAR DARI SITU ? "

(Arthur menoleh, dia terkaget-kaget. ) " Weh LU KOK UDAH DAPAT LAMPUNYA? " Kini giliran si Vladimir yang balik nanya keheranan.

" Bukannya lu- " Ada jari telunjuk yang menempel dibibir Arthur. Otomatis Arthur menoleh ke pemilik jari. Manik hijau itu memicing mau memprotes, emosi itu seketika lenyap.

Disana Ivan berjongkok menghadap kedepan seolah menyelidiki tangga. Tangannya memberi gestur agar semuanya diam. Manik hijau yang memicing itu hilang berganti dengan pupil yang melebar.

Vladimir ikut bergabung, tentu saja setelah bersakit-sakit dahulu melawan pusingnya. Yap jalannya Vladimir agak sempoyongan.

Vladimir membuka mulut mau bicara " A-" keburu sebuah jari telunjuk menuntut mulutnya untuk diam.

Muncul suara dari atas, sama seperti tadi, suara barang di geser.

" Vlad, Tur, aku akan memanggil "sesuatu" itu entah apa namanya. Pokoknya kalian gak boleh menyaut. Terutama kamu, Vlad. " Bisik ivan memberi intruksi.

Vladimir dan Arthur menganggukkan kepala tanda mengerti. Tanpa suara. Diam.

" Masih belum selesai, da ? Perlu dibantu ? " Tanya Ivan dengan nada ceria. Sikap ivan ini diberi hadiah tatapan horror penuh emosi dari dua orang temannya.

Tak! Tak! Tak!

"Bentar lagi selesai" Ucap suara dari atas. Kemudian suara barang di seret terdengar lagi.

Ketiga orang di ruangan itu menatap horror mezzanine. Ke tiga pasang bola mata beda warna itu terbelalak dengan pupil yang melebar.

" Dia jawab dong gaes. " Bisik Arthur ketakutan.

Tanpa babibu lagi Arthur menyambar lampu emergensi dan pergi meninggalkan dapur, disusul Ivan dan Vladimir di belakangkanya.

Xxxxx

Bab 3 : Pengungsi

Brak!

Pintu dapur terbuka paksa. Menampikan tiga figur pemuda dengan muka pucat pasi, raut wajah tak karuan dan pandangan mata kosong.

" Ya ampun kalian kenapa? "

" Pucatnya~ kayak habis lihat hantu. "

Berbeda dengan dua rekannya yang langsung terduduk lesu, shock setelah kejadian. Ivan dengan nafas tersengal-gengal langsung saja menemui Yao dan mengguncang-guncang bahunya, bagaikan Yao ini minuman es boba.

" Yao pokoknya malam ini kas nya dipakai. " Masih mengguncang bahu Yao " Kita ke Indomaret right now! "

" Kagak bisa aru. " Kata Yao.

" Gaes- (terengah-engah) ayo pergi jajan." Ucap si Vladimir.

" Sabar bang, minum dulu." Peter memberi sebotol air putih.

" Heh kagak bisa gimana? UANG? NTAR KITA URUNAN DEH. (uhuk uhuk) Pokoknya kita pergi sekarang, plis. " Ivan masih maksa negosiasi sama bendahara.

" Yok kita pergi!" kata semua orang kompak minus Ivan dan Yao.

" Loh kok kalian...? " Beo Yao keheranan. Yao melirik sekilas ke Ivan. Ivan mengangguk mengiyakan, wajahnya seolah berkata nanti-aku-jelaskan.

Semua terjadi begitu cepat. Sekarang semua Kuparjo cs sudah bergandengan tangan, berlarian diantara gang. Dari satu gang menuju gang lain.

Xxxxxx

Mendung dan angin bukan ancaman buat kumparjo cs. Di saat seperti ini mereka melakukan perjalanan mencari aman.

Tujuan mereka adalah swalayan terdekat, yang sebenarnya jaraknya lumayan jauh dari pondok Ivan.

" Jauuuh " " Penat" " Capek "

Keluhan demi keluhan terlantun apik mengiringi perjalanan. Capeknya jelas karena mereka harus berlari -takut kena hujan- padahal hanya berbekal sendal jepit dan bawa dompet. Boro-boro pakai sendal jepit, beberapa ada yang gak pakai sendal jepit alias bertelanjang kaki.

" Halah anggap saja ini perjalanan mencari kitab suci. " Tanggapan seorang Vash Zwingli kepada para penggeluh.

" Lu kira ini film Sun Gokong?! " Protes Lukas

" Iye hehe lebih baik menganggap kesulitan ini film kan? Supaya ringan beban hidup lo. " Balas Vash

Lukas menanggapi. " Hilih kalo film mah dibayar plus dapat tunjangan, lha kite-kite? Hidup dah susah, masih ketambahan halu. Jadinya warbiasa ngenes. "

" Itu perumpamaan aja, siying. dasar pesimis. " Balas Vash tak mau kalah.

" Ini bukan pesimis, ini disebut pikiran yang realistis! " Kata Lukas lagi.

" Cih. " Lukas dan Vash pun sama-sama saling memalingkan muka. Sama-sama ogah melihat muka sepet lawan debatnya.

(akhir dari narator POV)

To be continue...

XxXxX

Keterangan kata asing :

platform eternit : Langit-langit rumah yang biasanya di cat putih.

Mezzanine : Ruang tingkat tambahan. Biasa di temukan pada rumah berkonsep minimalis.

XxXxX

Halo readers, author kembali lagi bersama fanfik receh ini. Bagaimana menurut kalian? Apakah sudah cukup seram?

5 mei 2020