Kitten
Haikyuu! hanya milik Furudate Haruichi-sensei. Author tidak mengambil keuntungan materiil sama sekali.

Prompt : Them getting puppy/kitty, and arguing over names.


Ditengah kesibukan latih tanding dan lomba voli, setter kelas tigaㅡOikawa dan Sugawaraㅡ dari dua SMA tersohor di Miyagi mengikuti tambahan materi pembelajaran di Miyagi Center Club. Dimana enam materi utama dicekokkan demi mendapatkan nilai yang maksimal. Terkadang mereka melepas lelah dengan membeli es krim dan nikumanㅡroti isi daging babiㅡ di kedai coach Ukai yang kebetulan searah dengan jalan pulang mereka.

Seperti malam ini, pukul delapan malam mereka sedang dalam perjalanan pulang. Mulut mereka tidak berhenti mengunyah, lapar. Bahkan mereka sempat dimarahi oleh coach Ukai karena makan sambil jalan. Namun mereka hanya berkata "Ya, coach. Maaf." lalu mengabaikannya.

"Anu... Suga. Kau sudah terpikir akan mengambil jurusan apa saat kuliah?" tanya Oikawa memulai percakapan pertama sejak keluar bimbel.

"Hmm, aku ingin mengambil pendidikan guru sekolah dasar. Aku ingin menjadi guru! Anak kecil sangatlah lucu!" jawab Sugawara dengan nada antusiasnya.

"Dasar. Itu akan sangat cocok denganmu yang notabene juga seorang anak kecil," sahut Oikawa mengejek Sugawara.

"Jika kau berkata seperti itu, berarti aku ini lucu, bukan?" Mata Sugawara berbinar-binar, menunggu jawaban 'Ya, kau sangat lucu.' dari mulut Oikawa.

"Kau menyedihkan," jawab Oikawa dengan nada sinis. Sugawara mengerucutkan bibirnya kesal dengan jawaban Oikawa yang tidak sesuai ekspetasi.

"Bagaimana denganmu? Kau jadi ke Universitas Kyoto?" tanya Sugawara penasaran. Ia menatap mata Oikawa dari samping yang terhalang gagang kacamata, menunggu jawabanㅡlagiㅡ.

"Tidak. Aku akan ke San Juan. Aku ingin lebih mengembangkan bakat voliku," jelas Oikawa.

'Ah, ya. San Juan,' batin Sugawara. Ia pernah mendengat rencana Oikawa pergi ke San Juan dari Iwaizumi.

"Oh."

"Kau tidak kaget aku akan ke San Juan?"

"Tidak. Aku sudah tahu dari Iwaizumi." Oikawa tertegun mendengar jawaban itu.

"Kau berbicara dengannya?"

"Ya, aku bertanya mengapa kekasihku yang bodoh ini jarang bercerita padaku tentang masa depannya. Jadi, daripada mati penasaran, aku bertanya saja pada sahabat kecilnya," jelas Sugawara diakhiri dengan senyum lebar yang ia paksakan, berniat menyindir Oikawa.

Oikawa menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. "Ah, maaf."

"Tidak apa. Anu, kau pergi bersama Iwaizumi?" tanya Sugawara, ia mengalihkan pandangannya dari mata Oikawa menjadi lurus ke depan.

"Jika ya, apakah kau akan marah?" Oikawa balik bertanya. Mencoba menggoda lelaki manis di sampingnya itu. Pipi Sugawara memerah.

Oikawa tertawa kecil, gemas melihat reaksi Sugawara. "Tidak. Aku sendiri." Sugawara kembali menatap Oikawa, matanya seakan bertanya mengapa. Oikawa yang seakan tahu maksud tatapan Sugawara lalu melanjutkan kalimatnya, "Setiap aku bertanya pada Iwa-chan akan pergi kemana setelah lulus SMA, Iwa-chan selalu menatapku dengan tatapan 'Apa pedulimu?!'. Aku heran, kita ini sudah menjadi teman sejak kecil, apa Iwa-chan tidak percaya lagi padaku?"

"Heh, kau tidak boleh berpikir seperti itu. Mungkin Iwaizumi belum tahu kemana tujuannya. Kau harus menyemangatinya, bodoh!" Oikawa mengangguk mengerti.


Suasana menjadi hening. Nikuman yang mereka beli juga sudah habis dilahap. Semilir angin malam menerpa kulit wajah mereka, dingin. Mereka masih berjalan santai sampai suara benda jatuh dibelakangnya terdengar bersamaan dengan bunyi krincing lonceng menghentikan langkah mereka. Bulu kuduk keduanya meremang.

Oikawa membenarkan kacamata di batang hidungnya, meneguk ludah, lalu berjalan lebih cepat mendahului Sugawara.

"Oikawa kau meninggalkanku?!" teriak Sugawara pada Oikawa yang telah mendahuluinya. Sugawara mengeratkan telapak tangannya pada lengan tas miliknya, lalu jalan cepat menyusul Oikawa.

Kini mereka berjalan sejajar, keringat dingin mulai menetes di pelipis masing-masing. Suara seperti sesuatu yang berlari mengikuti mereka, suara itu tidak terlalu keras. Mereka refleks menghentikan langkah setelah mendengar suara yang tak dipercayai telah merubahnya menjadi laki-laki pengecut.

Meow

Meow

Suara anak kucing telah membuat mereka menjadi orang yang bodoh.

"Hah, demi Tuhan! Hanya seekor kucing, Oikawa!" ejek Sugawara, nafasnya memburu oksigen yang seakan menipis.

"Kau tidak punya kaca ya di rumahmu? Bodoh!" sanggah Oikawa yang nafasnya juga berlomba-lomba mencari oksigen.

"Sudah, tinggalkan saja mereka," lanjut Oikawa.

"Tapiㅡ"

Meow

"Tapiㅡ Hei kau ini tidak punya rasa peri kehewanan ya?!" bentak Sugawara berkacak pinggang.

Oikawa mengerutkan dahinya. "Bukan tidak punya rasa peri kehewanan, hanya tidak punya waktu untuk merawatnya."

Sugawara berbalik menuju anak kucing yang juga berjalan menuju dirinya. Kucing itu memiliki bulu putih dengan corak hitam di punggungnya. Ada kalung hitam yang melingkar di leher kucing itu.

Sugawara berjongkok mengelus dahi anak kucing itu, dan kucing itu nampak terlihat nyaman.

Meow Meow Meow

"Ah... lucu! Kau pasti tersesat, ya?" Sugawara berbicara pada kucing itu, seolah mengerti bahasa kucing.

"Ayo pulang, sudah malam," ajak Oikawa yang ntah sejak kapan ikut berjongkok di samping Sugawara.

"Kau pasti lapar." anak kucing itu masih mengeong. "Baiklah-baiklah. Sekarang aku ibumu." Sugawara masih mengelus tubuh mungil kucing itu, lalu berdiri berjalan meninggalkan Oikawa yang menghela nafas kasar. Ia mengerti betul jika Sugawara sudah bertemu sesuatu yang menurutnya lucu atau imut maka Sugawara akan melupakan hal di sekitarnya.

"Apa nama yang bagus untukmu ya?" Sugawara masih berdialog dengan hewan temuannya.

Oikawa menyimpan telapak tangannya ke saku celana. "Tooru saja."

Sugawara mengernyit. 'Mengapa harus Tooru kalau ada nama lain selain itu?'

"Itu 'kan namaku. Yah, agar kau selalu ingat diriku." Oikawa mengedikkan bahu lebarnya. Sugawara memutar matanya malas.

"Bagaimana dengan Tora?"

"Tapi itu kucing, sayang. Bukan dan tidak mirip harimau."

"Ya sudah, neko saja lah kalau begitu."

"Ah, sudah basi."

"Shiro! Shiro berarti putih, cocok dengan warna bulunya!"

"Tidak sekalian Kuroo? Itu juga ada corak hitamnya."

Sugawara mendecih kesal, "Jadi, apa yang cocok, tuan Oikawa?" melihat respon Oikawa yang malah senyum-senyum membuatnya berpikir bahwa Oikawa sudah gila.

"Toshi. Tooru-Koushi." Oikawa menatap kedua manik Sugawara dari balik kacamatanya. Senyumnya melebar melihat Sugawara salah tingkah.

Sugawara segera mengalihkan perhatiannya dari mata Oikawa. "A-Ah, b-bagaimana menurutmu, neko-chan?"

Meow!

"Haha, lihat. Kucing itu menyukainya!" Oikawa tertawa. "Okay, nama yang bagus!"

"Jangan lupa, marga kucing itu Oikawa," kata Oikawa lalu memperlihatkan smirk licik yang tak tahu untuk apa.

"Kau aneh ya, lama-lama."

"Kau bilang kau ibunya, bukan? Maka aku ayahnya." tangan kanan Oikawa ikut mengelus kucing di pelukan Sugawara. "Kau benar-benar sudah gila."


Tak terasa sudah dekat dengan rumah, walau sempat dihadang dengan perasaan takut ditengah jalan yang ternyata hanya seekor kucing kecil yang tersesat.

"Jangan lupa, satu minggu lagi babak kualifikasi seprefektur Miyagi. Dan kami tidak akan kalah, ingat itu!" ucap Sugawara pada Oikawa di depan rumahnya yang terlebih dahulu mereka lewati.

"Timku juga tidak akan kalah. Sementara itu kita akan menjadi musuh di lapangan. Aku tidak akan mengalah demi kebahagiaanmu kali ini," balas Oikawa menantang untuk bertarung. Mereka berdua lalu tertawa bersama.

"Selamat malam, tolong jaga anak kita," kata Oikawa asal.

"Selamat malam juga, tapi, Oikawa sepertinya kau harus pergi ke dokter jiwa."

"Tidak perlu, dokterku sudah di depanku saat ini." Sugawara sudah kebal terhadap semua gombalan tidak jelas dari kekasihnya itu. Ia memilih diam.

Oikawa memeluk Sugawara, mengelus surai abu-abu lembut milik si submisif, dan diakhiri kecupan di 'antena' rambutnya.

Dua tahun menjalani hubungan ini tidak mudah bagi mereka. Bahkan sempat putus-nyambung karena hal tidak masuk akal seperti 'Aku harus fokus belajar, minggu depan sudah penilaian akhir semester.'. Atau beberapa pertikaian kecil yang membuat mereka selalu terpikir dan volley mereka yang terkena imbasnya, sehingga mereka memilih untuk rehat sejenak.

Namun hal itu seperti sudah biasa. Mereka sudah dewasa, sudah tau apa yang harus mereka lakukan saat ada dalam situasi suka maupun duka. Bagi mereka, yang terpenting adalah kepercayaan dan sebuah kabar pasti yang akan menghilangkan rasa kekhawatiran.

fin.


a/n: rnr kudasai...

Minggu, 10 Mei 2020.
Kavi, oyobidesuka.