Disclaimer | Naruto milik Masashi Kishimoto. The Blue Hearts memiliki lagu yang direferensikan: Owaranai Uta, Boku no Migite, Hito ni Yasashiku. Tidak ada keuntungan material yang didapatkan dengan membuat fanfiksi ini.
Other | AU. 7693w. Sasuke & Sakura.
A/N | Fic ini campuran dari tiga hal: nulis ulang plotbunny dari tahun 2011 + dengerin sealbum perdana The Blue Hearts + inspired by Nobuhiro Yamashita's Linda Linda Linda (nontonlah karena film ini bagus).
Summary | Uchiha Sasuke punya tiga bakat: menjadi ketua organisasi siswa, mendandani cemburu sebagai rasa marah, dan membodohi dirinya sendiri.
blue hearts, worlds apart
I love songs so kind they make you crazy.
.
littleparadox
"Neji sudah bilang? Malam ini anak-anak terpaksa menginap. Tolol amat, sih!"
Kalau posisi mereka ditukar, Sasuke akan jadi wakil yang kalem, sedangkan Yamanaka Ino ketua yang brutal: dia akan mendobrak pintu ruang panitia, mencari Hyūga Neji, dan menggorok lehernya pakai pisau cukur alis. Sayangnya, Sasuke yang mendapuk jabatan tertinggi di seitokai—OSIS—meski dia sangat enggan menyandangnya. Satu tahun yang lalu Sasuke heran ketika Shikamaru mati-matian menolak kala diminta mencalonkan diri jadi ketua, tapi melihat Ino mendumel sembari banting-banting kertas, sepertinya Sasuke sudah paham.
Di antara embel-embel tentang kompetensi, rupanya Neji punya kekurangan juga. Sekadar tanda tangan yang luput telah membuat mereka kehilangan waktu seharian penuh untuk persiapan. Panggung utama batal dipasang hari ini, membuat semua perlengkapan sound system, alat musik, sampai dekorasi urung dirangkai. Vendor mereka ingkar. Lee bilang mereka kawan-kawan ayahnya, tetapi apalah harga koneksi dan diskon kalau panitia harus begadang? Kasihan sekali. Sasuke tahu bahwa tugasnya, Ino, dan tim seitokai sekadar mengawasi, bukan terjun ke lapangan. Apa daya mereka harus turun tangan, lantaran bunkasai sudah genting dan butuh sebanyak mungkin bantuan. Pukul sembilan pagi besok, gerbang sekolah akan dibuka untuk ratusan tamu. Kalau ada yang kacau, kepala Sasuke gantinya. Neji bagaimana, sebagai ketua panitia? Yah, dia juga, tetapi urutan kematiannya masih setelah Sasuke.
Sasuke mengantungi ponselnya yang masih diberati hujan notifikasi, kemudian berdiri dari kursi. Tiga puluh menit yang lalu, Neji memecahkan kabar buruk ini di grup berisi seluruh panitia bunkasai dan anggota seitokai. Rusuh mengikuti. Dia bertindak sebagai ketua panitia yang berani, tidak berlindung di balik kata-katanya dan berjanji akan menemani tim perlengkapan begadang sampai subuh kalau perlu. Sasuke harus memujinya untuk itu, tetapi kini keresahan hatinya perlu dibayar dengan memelototi Neji secara langsung. Dia bergerak menuju pintu.
"Pastikan semua anak yang menganggur bekerja, Ino, panitia atau bukan. Waktu kita sempit."
Ino menghadangnya, telunjuk menuding. "Bentar. Ini bukan mau hajar Neji, kan?" Sasuke tidak tahu apakah Ino serius atau tidak. Kebiasaannya bergurau di saat yang tak diduga kadang menjadi ranjau baginya.
"Bukan," dia menjawab, separuh berharap sebaliknya. Kuharap aku bisa tidak dikatakan setelahnya.
Meskipun harus Sasuke akui, blunder Neji sebagai ketua panitia bisa menjadi tirai untuk alasan sesungguhnya Sasuke ingin menonjoknya.
.
.
Jam pelajaran tambahan ditiadakan. Setiap kelas penuh hiruk-pikuk, siswa memanjat kursi demi memasang kain krep di lampu, memasang aksara di depan pintu, menyusun formasi meja dan bangku. Ada musik berdentum entah dari mana… klub radio yang sedang siaran impromptu untuk memompa semangat, atau anak band yang sedang latihan? Sasuke melintasi dua ruas koridor sembari mengawasi, memastikan setiap ruangan sudah didekorasi. Menurut laporan Shino, semua kelas sudah memiliki konsep acara masing-masing, jadi seharusnya tidak akan ada satu kelas yang cupu sendirian dan mengundang pertanyaan. Matanya menangkap Inuzuka Kiba dan anak-anak 3-2, kelas Sasuke sendiri, tengah menyulap kelas menjadi rumah hantu. Seisi ruangan mereka gelap dan dirias kelam, batu nisan dari kardus dipasang di depan. Kiba sendiri sedang iseng memakai riasan wajah, mungkin niatnya hendak jadi oni, tetapi lebih mirip topeng kabuki.
"Jangan terlalu seram. Ada anak-anak SD yang akan datang," ujar Sasuke galak ketika melintas, dibalas Kiba dengan salutan dua jari di kening dan "oke bos" malas. Kalau ada yang pingsan, siapa yang mau tanggung jawab? Muka Kiba tidak pakai riasan juga sudah ngeri.
Mungkin kelas 3-3 di seberang masih lebih baik, batinnya melihat sosok Hyūga Hinata sedang memegang yukata yang kelewat mewah untuk jadi seragam pelayan kafe. Ada gorden berwarna hangat yang dipasang di pintu, mesin penyerut es dan kompor mini di belakang, berikut beberapa plakat di atas meja; menciptakan atmosfer kedai tradisional Jepang. Hinata tersenyum padanya, dan Sasuke mengangguk setuju sambil melewatinya. Meski kakaknya mengecewakan hari ini, kelas Hinata bisa dibanggakan.
Akimichi Chouji membawa panggangan yakiniku—ambisius sekali untuk sebuah festival kebudayaan. Kelasnya, 3-4, disulap menjadi restoran bisa-makan-sepuasnya. Impresif, calon-calon surplus. Kelas 3-1 punya ide cerdik nan hemat tenaga, karena ada proyektor di belakang, tirai merah, dan microwave terpasang untuk membuat popcorn. Jadilah bioskop mini untuk pengunjung yang malas berjalan-jalan. Naruto pintar sekali sebagai pencetus bisnis ini, sayangnya dia sedang bantu menyapu ketololan Neji sebagai wakilnya yang malang.
Sasuke menggeleng secara tidak sadar, tangan kanan mengepal di dalam saku celana. Dia harus bilang apa? Amarahnya menggelegak, namun sudah terlambat untuk murka. Kakinya menaiki satu set tangga menuju lantai tiga, ke jajaran ruang klub, yang di ujung koridornya terdapat ruangan panitia. Benaknya mulai merangkai kata sepedas-pedasnya. Hyūga, aku kecewa. Cemen amat, dia mau ngomel, bukan mau terapi komunikasi—
"Hei! Sudah dengar, kan?"
Serangan tidak terduga. Rambut pendek dan sepasang mata yang sama cerahnya melongok tiba-tiba dari belokan ujung tangga, menghadang langkah Sasuke dan nyaris membuatnya jatuh berguling sampai dasar. Di tangan gadis itu ada papan jalan, jaket diikatkan di pinggang, tali sepatu tidak terikat. Sasuke melotot, kemudian menghela napas panjang.
"Jangan ngagetin, kayak setan."
Kalau bukan Haruno Sakura, Sasuke akan langsung pergi tanpa merespons. Kalau bukan Haruno Sakura, dia tidak akan hanya memijit kening, meredakan detak jantung yang menderap seperti baru disetrum. Gadis itu nyengir, reaksi berkebalikan dari tipikal orang yang baru dibilang seperti setan. Giginya putih, bibirnya merah muda. Bikin Sasuke dongkol.
"Serius nih. Kamu sudah tahu, kan?" balas gadis itu, senyum bertahan di wajah meski nada suaranya prihatin. Dengan natural, seolah sudah melakukannya seratus kali (atau lebih?), Sakura berjalan di sebelahnya dan menyamai ritme langkahnya. Tangan mengait di belakang tubuhnya, melangkah ringan… Sasuke hapal tindak-tanduknya seperti mantra. Mereka menapak memasuki koridor lantai tiga, menemukan keramaian yang lebih dahsyat. Di antara teriakan, ujaran, dan bunyi meja-kursi yang ribut digeser, Sasuke menjawab.
"Tahu kalau Hyūga saking ngaconya minta diselepet? Tahu. Dari lama." Dia berharap gondoknya tidak kentara untuk gadis di hadapan. Sakura meringis, tidak punya pembelaan. Dia pasti tahu seberapa marahnya Sasuke.
"Jangan keras-keras, ya. Besok sudah acara, nanti kalian sama-sama kacau." Nada Sakura lembut, merajuk. Telapaknya mula-mula hanya melayang di sisi badan Sasuke, namun akhirnya menepuk-nepuk lengannya pelan.
Sasuke hendak membantah meski hatinya sedikit melambung: aku nggak akan kacau. Hyūga yang kacau, karena sekarang dia sudah nggak bisa lebih kacau lagi saking gobloknya. Sayangnya, argumen ini dikalahkan dasar yang lebih kuat, yakni Sakura mengenal tabiatnya yang dingin di luar namun panas di dalam. Kalau nekat bicara dengan Neji, ujungnya bisa perang. Neji sendiri mulutnya tajam, egonya tinggi. Sakura tahu semuanya, makanya dia mencegat Sasuke untuk bilang ini.
Agar bunkasai tidak digerecoki kedua pimpinannya yang adu ganas. Bukan karena dia memihak Sasuke. Atau Neji. Bukan.
(…Kan?)
Mereka masih melangkah bersama, Sakura sabar dan tidak memintanya merespons. Sasuke mencoba meluruskan pikirannya, mendinginkan emosi. Di sekeliling mereka, gaduh meledak dari koridor klub yang menampung seribu bakat eklektik dan minat menggelora. Musik yang tadi didengar Sasuke rupanya anak band yang sedang latihan. Klub teater membuat amfiteater mini di dalam ruangan, katanya besok hendak menampilkan pentas kecil setiap dua jam. Anak-anak orkestra sedang mengatur tinggi stand musik mereka, cello berdempetan dengan timpani mepet dengan seperangkat simbal. Klub sains punya tiga akuarium berbeda di dalam ruangan mereka, Sasuke tidak mau bertanya buat apa; sementara klub occult sedang menggambar sesuatu di lantai, yang buru-buru mereka tutupi ketika Sasuke lewat. Ingatkan Sasuke mengirim Ino kemari besok—kalau itu lingkaran pemanggilan arwah, mereka akan hidup untuk melihat amarah yang lebih ngeri daripada hantu.
Memandang Sakura yang tampak kalem, akhirnya Sasuke berkata, "kamu juga jadinya harus di sini sampai malam, Sakura."
Sebagai penanggungjawab divisi acara, Sakura punya jabatan tepat di bawah Naruto. Dia harus melihat bentuk panggung yang sudah jadi sesegera mungkin, untuk memastikan mobilisasi pengisi acara tidak memakan waktu lebih dari lima menit. Ditambah rasa tanggungjawabnya yang kelewat besar, Sakura tidak mungkin mau pulang kalau banyak anak masih di sekolah.
Gadis itu hanya tersenyum seolah tidak ada yang salah. "Iya. Kamu juga, kan?"
…Oke, mungkin memang tidak ada yang salah. Sasuke merasa leher dan telinganya panas.
Pada akhirnya Sasuke tidak menjawab Sakura lagi. Dia membuat gadis itu tertawa terbahak-bahak lantaran melesat menuju klub shogi, yang dengan nekat tidak menghias ruangan mereka sama sekali dan hanya memasang kertas bertuliskan duel lawan Nara Shikamaru sang juara, menang dapat 5000 yen. Kertasnya disobek, dan Sasuke melampiaskan semua amarahnya pada Shikamaru sang ketua sembari bilang, "berjudi itu ilegal, bodoh. Kalau mau pakai uang jangan ditulis, secara verbal saja!"
.
.
Tidak ada murid yang cukup dungu untuk mengganggu pembicaraan di dalam ruangan itu. Pada detik Sasuke melewati ambang pintu, dua junior berdiri dan melesat keluar disusul satu, dua, tiga orang lainnya. Naruto, yang tadinya duduk di seberang Neji, beranjak setelahnya tanpa basa basi, hanya menghela napas dan melemparkan Sasuke sebuah pandangan tentatif sebelum akhirnya keluar juga. Terakhir meninggalkan ruangan adalah Tenten, wakil ketua bunkasai yang satu lagi, enggan pergi dari sisi Neji hingga akhirnya kalah oleh hawa Sasuke di ruangan. Saking intensnya, mungkin tensi di sana bisa dipotong pakai pisau mentega. Neji duduk di balik sebuah meja, memandang Sasuke lurus.
Banyak pikiran yang berkelebat di kepala Sasuke, keinginan mengamuk merangsek maju ke lidah. Ini ketidaktelitian yang konyol, lihat seberapa besar harga yang harus kau bayar, kau orang tidak tahu diri yang hanya bisa merusak. Sasuke kesulitan memilah mana murka yang berkaitan dengan bunkasai dan mana yang tidak; di dalam keraguannya, dia malah tidak berhasil melepehkan amarahnya.
Nanti kalian sama-sama kacau.
Ucapan Sakura berdering seperti sirene, pula Neji tidak berkomentar apa-apa. Keheningan yang berat jatuh di antara mereka berdua, hanya saling menatap namun tidak berkata-kata. Saku celana Sasuke bergetar, tanda ponsel yang masih direndeng puluhan pesan. Anak-anak protes. Khawatir. Takut bunkasai mereka gagal. Dalam heningnya, Neji tampak… menyesal?
Ketika Sasuke nyaris memulai pidatonya, Neji terlebih dulu membuka mulut.
"Aku yang akan izin ke Kakashi -sensei agar vendor bisa bangun panggung sampai malam," ujarnya pelan memandang Sasuke, nadanya kalem tanpa sengat. Sejenak kemudian pandangannya diturunkan, menuju sepatunya sendiri. "Aku juga akan tinggal di sini sampai peralatan terakhir selesai dipasang."
Sasuke menatapnya dan mencari kesungguhan di balik kata-katanya, merasakan panas di dadanya mendadak reda, kemudian membalas, "tentu saja."
Sial, dia benci jadi lembek begini. Sakura benar, meski Sasuke dongkol setengah mati, tak ada gunanya marah-marah lagi. Neji terlihat sangat tertekan—ya iyalah, janggal kalau dia terlihat santai. Tidak bijak apabila Sasuke melemparkan satu barbel lagi untuk diangkatnya. Mengacuhkan panggung yang alpa, sesungguhnya persiapan sudah nyaris komplit seluruhnya. Sasuke sendiri sudah menerima laporan dari setiap kepala bidang tadi pagi. Semua klub dan kelas sudah memiliki konsep stan, tinggal mendekorasi. Pengisi acara dan jadwal penampilan sudah mantap. Vendor pengisi bazaar makanan dan stan sponsor sudah dipasang berjejer rapi di lapangan. Dekorasi rampung sembilan puluh persen. Mau tak mau mengakui, tak peduli panggung sudah selesai ataupun belum, pasti akan ada beberapa siswa yang menginap juga untuk berlatih demi penampilan esok.
Lihat gambar besarnya, Sasuke. Neji sebagai ketua bunkasai sudah berusaha sebaik mungkin, meski dia payah sekali sebagai… sebagai…
Tit. Tit. Tit. Arloji seseorang berbunyi. Neji menatap pergelangan tangannya dan mematikannya, sementara Sasuke melirik miliknya sendiri. Pukul empat sore. Jadi dia kemari untuk memelototi Neji saja? Baiklah.
"Tiga puluh menit lagi, kan?" Sasuke mendeham, mendadak canggung.
Sesungguhnya mereka berdua punya janji, pergi ke rumah ketua asosiasi orangtua murid untuk menyampaikan undangan bunkasai. Sarutobi Hiruzen sulit disenangkan, dan Neji pikir membawa siswa terpenting nomor satu di Konohagakuen akan melunakkan hatinya, membuatnya merasa dipentingkan. Mereka seharusnya berangkat bersama, naik bus dari depan sekolah. Janji bertemu untuk pukul lima.
Di wajah Neji, dia benci mengakuinya, ada sedikit senyum.
"Nanti jalan dari depan gerbang saja," jawab Neji pelan. Kemudian, dengan nada yang lebih tenang dia melanjutkan, "sampai ketemu, kaichou."
Ketika Sasuke keluar ruangan dengan gengsi tumbuh bak tunas muda di atas kepalanya, cengiran Sakura menunggunya dari sebelah pintu. Dia bersandar di dinding, menatap Sasuke jenaka, dan bilang, "kamu oke juga."
.
.
Kamu oke juga.
Sakura juga bilang begitu pertama kali mereka bertemu, di ruang musik setelah jam pulang, saat Sasuke meletakkan gitar usai memainkan refrain lagu The Blue Hearts. Dia terlalu fokus dan tidak sadar ada Sakura yang mendengarkan dari ambang pintu, gigi nampak dari antara bibir yang merah muda. Dua tahun yang lalu mereka masih sama-sama murid baru. Sakura bisa menebak lagu apa yang dia mainkan, meski jemarinya berantakan. Owaranai Uta, kan? terkanya, dan Sasuke terpana. Gadis itu sendiri katanya pernah bernyanyi di sebuah band saat SMP, tetapi sudah tidak lagi sejak bertengkar dengan sang gitaris sampai batal ikut kompetisi.
Dia masih ingat hari itu, begitu nyata melekat di otaknya. Rambut Sakura yang pendek dan dikucir mencapai tengkuk, seragam sedikit kebesaran dan dasi longgar. Bahkan sembari duduk di depan Neji di bus nomor tiga puluh tujuh menuju daerah rumah Sarutobi Hiruzen, dia masih bisa membayangkan warna mata Sakura, hijau bercampur dengan cahaya matahari yang mulai menjadi jingga. Rumah-rumah berkelebatan di sepanjang jendela, kabel ruwet tiang listrik yang memecah dan menyatu kembali, awan yang tipis di horizon, atap-atap memantulkan cahaya. Sore itu dua tahun yang lalu, cuacanya persis seperti ini.
Mereka akan pulang bersama setiap beberapa hari sekali usai kegiatan klub. Sasuke mencoba peruntungannya masuk seitokai meski jadi bahan ploncoan senior, Sakura iseng masuk klub merangkai bunga dan langsung keluar di pertemuan kedua. Terlalu lembut, katanya, dan Sasuke menyarankannya masuk klub aikido saja. Pada akhirnya, Sakura menanggalkan ketakutan dari masa lalunya dan bergabung dengan band sekolah. Meski hanya jadi sub-vokalis bersanding dengan anak kelas dua bernama Karin, dia menyukainya.
Aku boleh pilih lagu buat penampilan bunkasai, gadis itu nyengir untuk yang keseratus kalinya sembari dia dan Sasuke berjalan menyusuri jalan perumahan. Matahari sudah menggantung di ujung, langit meledak merah. Aku bilang mau nyanyi Owaranai Uta. Lagu kamu. Ingat?
Ingat. Karin bilang pilihan lagu Sakura norak dan kuno, tetapi Sakura tidak peduli. Sasuke memegang kamera di barisan terdepan dan mengabadikan setiap momen Sakura melonjak di panggung dua bunkasai yang lalu, cerah, berkeringat, terang, cemerlang. Foto yang diambilnya dicetak di halaman utama koran sekolah, dibaca nyaris semua anak saat makan siang. Sakura menjadi primadona, menyikut kecemburuan Karin demikian besarnya hingga Karin keluar dari band tahun berikutnya, dan Sakura diberikan posisinya.
Sasuke menyarangkan hatinya pada senyum itu, diulas Sakura saat membisikinya di jalan pulang. Duduk di bangku paling belakang bus yang ditimpa terang, sinar surya yang silau, ujung-ujung jemari Sakura menyentuh pelipis Sasuke. Ini rahasia, ya. Aku jadi vokalis tunggal.
Dia menahan senyum yang meronta muncul saat mengenangnya, berdiri di depan pintu Sarutobi, sembari Neji memencet bel. Kesabaran Sakura yang selalu menemaninya pulang larut, kala mereka masuk dan duduk di ruang tamu, menunggu. Kecerdasan Sakura yang selalu menjadi rekan debatnya, sembari mereka membungkuk menyapa Sarutobi dan meletakkan undangan di atas meja. Kamu pantas jadi ketua suatu hari nanti, Sasuke, sambil dia dan Neji menyaksikan Sarutobi tersenyum puas dan berkata beliau akan datang. Sakura yang tanpa ampun melatih pidato sambutannya sebagai ketua seitokai yang baru, sembari mereka pamit pada Sarutobi Hiruzen di depan pintu, undangan ditinggalkan di ruang tamu.
Sakura yang terlihat berseri-seri delapan bulan yang lalu, menemui Sasuke di hari terakhir tahun ajaran sebelum libur musim semi, pipinya merona dan tatapannya malu: aku jadian dengan Hyūga Neji.
Oh.
Lidah yang kelu, telinga panas, bingung menerjang seperti ombak.
Dia nembak kamu?
Iya. Sakura terlihat agak tidak yakin. Nggak. Kita ngobrol, lalu memutuskan ingin pacaran.
Oh.
Selama Neji dan Sakura berpacaran, Sasuke sengaja menjauh.
Enam bulan kemudian, setelah libur musim panas, mereka berdua putus. Sakura yang ingin mengakhiri. Neji tidak bicara dengan siapapun selama sebulan penuh, dan sekalinya sembuh dari patah hati, dia langsung bilang pada Sasuke: aku mau mengajukan diri jadi ketua bunkasai.
Jabatan pelarian adalah sebutan Sasuke untuk ini. Nyatanya dia dan Sakura putus baik-baik, karena mereka menjadi atasan dan anak buah yang selalu rapat bersama. Bisa bekerjasama dengan akur pula, tanpa keluhan dan pertengkaran. Sasuke tidak tahu harus menganggapnya kabar baik atau tidak, karena meski Sakura sudah putus dan terlihat secerah biasa, mereka berdua tidak pernah lagi pulang bersama.
Kini Sasuke justru berjalan di sebelah Hyūga Neji, yang tampak puas usai berhasil mengajak Sarutobi. Berjalan menuju halte bus bersisian, senja menjelang, langit menjadi temaram, dan Sasuke lihat di pergelangan tangan Neji masih melingkar sebuah gelang hitam dengan manik-manik besi. Dari Sakura. Menatapnya, Sasuke berpikir dalam-dalam apakah dia marah dengan Neji selama ini. Kalau bukan marah, kesal. Kalau bukan kesal, cemburu.
Cemburu? Dia terlalu dewasa untuk cemburu.
Sakura bergandengan tangan dengan Neji usai jam pulang sekolah. Sakura menunggui Neji di pinggir lapangan saat pertandingan olahraga. Sakura dipotret Neji ratusan kali saat latihan band.
Yamanaka Ino, wakilnya, menangkap pandangan matanya waktu itu dan bilang, kamu terbaca banget, Sasuke.
Maksudmu?
Ino tampak sedikit tertegun. Dia mengerjap, menghela napas, kemudian beranjak sembari bilang, lupakan saja.
Kalau bukan cemburu, iri.
Daftar pertanyaan wawancara Hyūga Neji, calon ketua bunkasai. Nomor satu: apa motivasimu mendaftar? Nomor dua: apa inovasimu untuk bunkasai yang lebih baik tahun ini? Nomor tiga: kenapa kalian putus?
Saya bisa jadi orang yang terlalu ambisius. Artinya, saya terlalu fokus mendapatkan sesuatu sampai melupakan banyak hal lainnya. Di satu sisi saya selalu bisa mendapatkan apa yang saya inginkan, namun di sisi lain saya jadi nyaris obsesif. Tapi, saya selalu berusaha mengarahkan kualitas ini untuk mencapai sukses.
Sasuke menandai formulir penilaian Neji setelah dia menjawab pertanyaan wawancara yang terakhir: apa kekurangan terbesar diri Anda? Dia menggunakan spidol merah dan ditegur Ino karena tulisannya belepotan dengan tinta bocor. Layak jadi ketua.
Saat menunjuk Sakura menjadi anggota tim intinya, Neji tidak terlihat marah, atau sedih, atau canggung. Seolah tidak ada apa-apa. Seolah mereka hanya rekan kerja yang tidak dekat. Seolah mereka tidak pernah pacaran.
Sialan.
Iri?
Sampai tidak bisa ditahan.
.
.
Truk vendor panggung akhirnya terparkir di lapangan sekolah pukul setengah delapan malam. Bos mereka, pemuda dengan masker flu dan kacamata hitam bernama Tobi, membungkuk kepada Sasuke dan Neji sembari meminta maaf tanpa terlihat tulus. Lee mengawasi panggung yang mulai terbentuk, papan kayu disusun dilengkapi dengan tenda sebagai atap, sementara Tenten dan tim dekorasi gotong-royong mengeluarkan papan huruf dan latar belakang. Kerja keras dimulai dari sekarang.
Di dalam sekolah, panitia dan seitokai bahu-membahu menjadi titik koordinasi. Naruto dan Shino berkeliling memastikan seluruh ruang kelas dan sekujur inci koridor usai dihias, semua properti sudah berdiri, tidak ada yang tertinggal di gudang. Siswa-siswi mulai pamit belepotan cat dan ditempeli rumbai-rumbai, kecuali mereka yang masih harus bersiap demi penampilan esok. Masih ada anak-anak yang menyelesaikan sentuhan terakhir di auditorium, menghitung jumlah stan bazaar, membereskan absensi siswa.
Kakashi-sensei tinggal di ruang guru sambil membaca buku, berbaik hati mengawasi dari jauh. Sasuke membungkuk padanya dan mempersilakannya pulang kapan saja lantaran tidak mau merepotkan, tetapi lelaki itu hanya bilang, "sekolah ini akan kebakaran kalau aku pulang, karena kamu suka main api, Uchiha."
Sasuke tidak paham apa artinya, dan ketika dia bengong keheranan, Kakashi mengusirnya.
Di lantai tiga, pesta pora menyala. Klub teater masih gladi bersih dengan kostum lengkap. Orkestra berlatih memainkan melodi yang sendu. Klub fotografi sibuk memajang karya mereka layaknya kertas dinding, meliputi seluruh ruangan. Shikamaru dan klub shogi bahkan masih asyik bermain entah berapa ronde. Sasuke menangkap cahaya lilin dari dalam klub occult, yang rupanya sedang menjalankan hyaku monogatari; persetan dengan kutukan, pokoknya jangan bawa sial untuk besok!
Terakhir, dia berhenti di depan ruang band yang sedang meledak dalam lagu. Ada Sakura yang menonton dari kursi dekat pintu, memunggungi Sasuke. Dari samping, dia bisa melihat senyumnya yang pilu. Karena menjadi kepala divisi acara, Sakura tidak bisa ikut tampil tahun ini. Vokalis yang baru, Moegi, tengah bernyanyi dengan khusyuk. Suaranya tidak semerdu Sakura, namun boleh juga. Mereka sedang membawakan lagu yang Sasuke kenal baik. Boku no Migite. Lagi, dari album pertama The Blue Hearts.
"Kamu yang pilih lagu ini juga?" tanyanya pelan, berdiri di samping Sakura tanpa suara. Gadis itu agak kaget, kepalanya mendongak, dan cengirannya muncul seperti biasa.
"Nggak. Mereka yang mau. Katanya aku sering sekali berlatih dengan lagu ini, dan mereka jadi suka."
"Band kesukaanku? Aku jadi tersanjung." Sasuke meledeknya, membuat Sakura mencibir.
"Pede. Aku juga sudah tahu Komoto Hiroto dari dulu."
Mereka menonton sebentar dari pintu yang terbuka sebelum akhirnya beranjak bersama. Moegi, yang baru sadar Sasuke berdiri di sana sedari tadi, membungkuk sambil tersipu-sipu.
"U-uchiha-senpai! Besok nonton, ya!"
Pekikan Moegi menghadiahi Sasuke sebuah ledekan dari Sakura, dan mereka tertawa.
Berdua mereka menyusuri koridor yang sudah gelap, menuju anak tangga yang berada di sebelah jendela. Kota mereka sudah menyala, lampu perumahan berkelap-kelip mendereti cakrawala. Cahaya yang redup menembus kaca, menjatuhkan sinar keemasan pada langkah mereka. Sebelumnya, Sasuke tidak pernah mempertanyakan esensinya berduaan saja dengan Sakura. Tanpa kehadiran orang lain, biasanya Sasuke tidak banyak berpikir. Dia bisa bicara apapun dengan Sakura, bertindak tanpa banyak pertimbangan. Kini otak Sasuke penuh lantaran menerka isi kepala Sakura, ketika dulu dia tidak perlu kemampuan psikis untuk bisa membaca. Kapan terakhir kali mereka hanya berdua?
Mereka memasuki koridor lantai dua, penuh ruang kelas yang sudah gelap. Dari sisi lain kelas, jendela menampilkan lautan lampu kota. Mereka melewati kelas Sasuke sendiri yang sudah penuh gorden hitam sebagai tirai, dengan lukisan mengerikan Sai menghiasi pintu. Sakura memasuki kelasnya sendiri, 3-1, yang sudah bertransformasi menjadi bioskop per instruksi Naruto. Semua jendela ditutup tirai agar menyerupai sinema sungguhan, dan gadis itu mencari-cari celah di dinding. Menarik satu tali. Kain terbuka, menampakkan pemandangan di bawah yang langsung menghadap lapangan. Ada jajaran stan, gapura yang sudah dihias… dan sekumpulan anak di panggung yang mulai terbentuk. Lee sedang memanjat salah satu tiang, sementara Naruto berlari ke arahnya dari dalam sekolah hendak membantu memasang papan judul. Tenten sedang mengawasi timnya memasang latar belakang. Shino, Kiba, dan anak-anak lain menurunkan pengeras suara, lampu, dan panel pengaturan dari belakang truk pickup Tobi-san.
"Kamu harusnya bantuin mereka nggak, sih?"
Sakura nyengir, menempelkan tangannya ke kaca. Jemarinya kemudian menemukan tuas, dan jendela itu digesernya hingga terbuka. Semilir angin malam menghembus masuk, meniup rambut cerahnya yang kini sudah mencapai pundak. Sakura tidak lagi mengucir rambutnya seperti waktu baru masuk SMA. Sasuke menatapnya sedikit terlalu lama, kemudian berdeham dan memalingkan pandangannya melihat hiruk-pikuk di bawah.
"Harusnya." Dia berkata, sadar jantungnya berpacu layaknya sedang maraton.
Sasuke benci ledakan-ledakan mendadak seperti ini. Momen tak disangka yang membuat ulu hatinya tidak karuan, tanpa disertai aba-aba. Seperti saat melihat anak rambut Sakura di sebelah telinga, anting perak kecil yang dia kenakan, bulu mata yang dititiki bias lampu sorot lapangan. Sekali lagi Sasuke bicara, namun suaranya agak retak di awal. "Tapi jadi seitokaichou datang dengan hak istimewa."
"Kayak berhak nganggur dan cuma nonton anak buahmu kerja, kan, maksudnya?"
"Tepat sekali."
Kalau Sakura tidak mendorongnya setahun yang lalu, mungkin Sasuke tidak akan mencalonkan diri jadi ketua. Senyum Sakura tidak serta-merta pudar dari bibirnya, namun bertahan di sana sembari gadis itu menatap anak-anak di bawah yang sedang bergerak.
"Kerjaanmu bagaimana? Masih ada yang harus disiapkan?" tanya Sasuke.
Sakura menggeleng. "Aku tadi minta divisiku pulang saja kalau sudah tidak ada yang penting."
Secara teknis, Sakura memang tinggal menunggu bentuk akhir panggung saja. Sisa tugasnya akan dijalankan esok, dengan handy-talky dan jadwal berisi seribu susunan acara. Sasuke kira dia akan meminta anak acara lain untuk menemaninya, tapi di sinilah ia, gedung sekolah yang sepi, bertugas sendiri.
"Nggak mau balik saja? Aku bisa minta…" Sasuke menawarkan dengan alis terangkat, melawan cekat di tenggorokan, "…Hyūga, buat fotokan bentuk panggungnya saat selesai. Jarak dan ukurannya sudah bisa kamu kira-kira kan, dari sekarang."
Neji. Mau minta tolong Neji? Selaku atasan Sakura, itu yang harusnya dia lakukan. Sakura tampak tenang, ekspresinya tidak berubah, suaranya lugas saat menjawab.
"Kamu saja masih di sini."
Dugdugdugdug. Timpani dan genderang saling membalap di rongga dada. Sasuke mendesah.
"Aku kan ketuanya, bloon."
Cengiran Sakura yang menyusul setelahnya nyaris tak bisa dimaafkan, saking terangnya.
.
.
Pukul setengah sebelas malam, Neji mengumpulkan mereka semua di lapangan. Panitia, seitokai, sampai anggota klub. Dari jendela ruang guru di lantai dua, Sasuke bisa melihat wajah Kakashi-sensei yang menonton mereka. Di hadapan, panggung sudah berdiri megah dengan seluruh ornamennya. Di sanalah Neji mengumumkan bahwa berkat kerja keras dan cekatan, tidak ada yang harus menginap di sekolah malam ini. Tugas mereka selesai sudah, lebih baik beristirahat hingga esok pagi. Gumaman girang dan tepuk tangan terdengar dari antara mereka, saling memuji.
Minat bermalam di sekolah buyar. Anak-anak mengumpulkan barang-barang dan bergegas berlari menuju gerbang, dalam gerombolan atau sendirian, mengejar bus terakhir yang akan berangkat tiga puluh menit lagi. Anggota klub yang hendak berlatih juga mengurungkan niat, karena Sasuke meminta mereka untuk datang besok subuh saja. Kakashi turun dari ruang guru dengan buku bacaannya di tangan, kunci mobil di tangan yang satunya. Anak-anak yang rumahnya jauh ditawarinya tumpangan.
Perlahan, pengurus seitokai dan bunkasai berpisah usai rapat terakhir. Mereka saling berpamitan, melesat sembari membawa tas. Hyūga Neji belum pulang. Dia sedang bicara dengan Sakura di depan panggung, tampak serius. Sasuke tidak tahu mereka ngobrol apa, dan dia enggan pergi sebelum dua orang itu berhenti. Gelisahnya didandani dengan pura-pura sibuk menginspeksi stan bazaar.
Setelah rasanya seabad menanti dengan resah, Sakura dan Neji berpisah. Lega muncul di lubuk Sasuke karena mereka berbeda arah. Neji menuju parkiran di belakang, Sakura menuju gerbang depan.
Sakura berjalan melewatinya, tangannya yang tidak memegang tas melambai pada Sasuke. Dia balas melambai, memperhatikan gadis itu melangkah keluar. Sasuke tahu rumah Sakura dekat sekali dari sekolah, tidak sampai lima belas menit berjalan kaki. Rute pulangnya selama nyaris tiga tahun sudah dimodifikasi untuk bisa melewati rumahnya sekian ratus kali. Terakhir… delapan bulan lalu?
Sebelum mereka… tidak, sebelum Sasuke menjauh?
Sebenarnya kenapa dia menjauh? Karena Sakura jadian dengan Neji?
(Kamu baru berani marah setelah gadis itu pacaran dengan lelaki lain?)
"Sakura," panggilnya mendadak, mengejutkan dirinya sendiri. Langkah gadis itu terhenti dan dia berbalik, tertegun. Rambutnya ditinta sorot lampu dan menyala gemilang. Matanya melebar. Menunggu.
Sasuke menelan ludah.
Mau menyesal berapa kali?
"Boleh bareng?"
Sakura menimbang sejenak, kemudian mengangguk.
Berdampingan mereka berjalan, menyusuri depan sekolah dan memasuki area perumahan. Lingkungan mereka sudah sepi. Dari beberapa jendela, sayup-sayup terdengar siaran komedi malam di televisi dan gelak tawa. Uap hangat membubung dari ventilasi kamar mandi, mengambang dan pupus di udara. Semua orang sudah berada di dalam rumah, tidak ada yang berpapasan dengan mereka. Hanya kucing liar yang meniti tembok pagar, burung yang melintas dengan cicit melengking, gemeresak dedaunan pohon kesemek di halaman. Udaranya sejuk dan dingin. Mereka berdua mengenakan jaket, melangkah bersisian dalam diam.
Sakura lebih sunyi dari biasanya. Mungkin lelah karena bekerja sampai malam.
"Oh. Aku nggak sadar Teuchi-san sudah pindah…"
Sasuke menggumam kala mereka melewati sebuah rumah di sebelah perempatan. Papan nama di pagar depan sudah berganti aksara. Penghuni yang lama, pria paruh-baya dan anak perempuannya, adalah pemilik ramen terenak di kota. Sakura tersenyum kecil.
"Musim panas kemarin Ayame-san lulus kuliah dan membawa ayahnya pindah ke pusat. Buka restoran baru di sana," jelasnya dengan suara kecil, "kamu belum tahu, ya?"
"Aku sudah lama sekali nggak lewat sini," tandas Sasuke. Ditatapnya Sakura, yang terpekur seolah memahami perkataannya. Sejenak mereka lanjut berjalan dalam diam, dan Sasuke bertanya-tanya apakah seharusnya dia tidak berkata demikian.
Dia dan Sakura akan memilih untuk tidak membicarakannya. Seperti biasa.
"Kenapa kita berhenti pulang bersama?"
Atau tidak.
Pertanyaan Sakura membuatnya berhenti di tempat. Sakura sedang menatapnya lurus dua langkah di belakangnya. Bibirnya membentuk senyum yang patah, canggung, seolah ia ingin pembicaraan yang kasual. Satu lengan yang memeluk dirinya sendiri mencerminkan sebaliknya.
"Aku kira," dia harus bilang apa? Semua yang Sasuke pikirkan hanyalah sebuah asumsi. Suaranya lirih dan tidak yakin. "Aku kira sejak semester kemarin kamu pulang bareng sama…" Hyūga Neji, si pemuda beruntung. "…sama orang lain."
Sakura masih berdiri diam, senyum tipisnya beku, mengerjap. Gadis itu mengulum bibirnya. Sasuke merasa mereka dipisahkan jarak yang jauh, seperti berdiri di lempeng bumi yang berbeda, berbatas lautan. Dua langkah terasa seperti dua ribu kilometer.
Sakura menurunkan tatapannya, membalas dengan suara bimbang. "Kukira nggak ada yang berubah di antara kita."
Sasuke tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Pernyataan ini menyergapnya tanpa memberinya kesempatan berlindung.
Teman. Sudah pasti, kan? Pulang bersama setiap beberapa hari, mendengarkan rahasia masing-masing, mengungkapkan lubuk hati terdalam. Tidak terpisahkan sejak semester pertama. Berbagi makan siang dan keluh kesah tentang hal-hal sepele. Kalau bukan teman, apa lagi?
Teman yang menciptakan debaran liar, pikiran irasional, perubahan emosi secepat kedipan mata. Rasa marah tak berdasar, iri yang menakutkan, saat melihat orang lain bisa menggandeng tangannya.
Sasuke tidak bodoh. Dia tahu apa arti perasaan-perasaan mengerikan ini, yang membuatnya ragu dia mengenal dirinya sendiri. Dia tahu bahwa Hyūga Neji membuatnya marah bukan karena kinerjanya sebagai ketua bunkasai, bukan pula karena panggung yang terlambat dibangun. Dia tahu Sakura merasakan kebimbangannya, mengindera tembok yang dibangunnya. Pertanyaannya, apakah dia ingin meruntuhkannya?
"Nggak ada yang berubah," jawabnya setelah sekian lama berjeda, menghitung detik yang terlewat, sembilan, sepuluh, sebelas. "Kita masih berteman, kan."
Senyum Sakura setelahnya tidak bisa dia artikan.
Saat mereka nyaris mencapai rumah Sakura dan sebelum Sasuke mengambil tikungan lain ke arah rumahnya sendiri, Sakura berbalik menatapnya. Sinar rembulan di matanya. Rona di pipinya, bibirnya, jaketnya yang kebesaran, ujung-ujung sepatunya.
"Tadi Neji mengajakku pulang bareng juga."
Dia berkata pelan-pelan, seperti sedang membisikkan sebuah rahasia. Seperti waktu mereka naik bus bersama, waktu dia membocorkan berita tentang jadi vokalis tunggal di telinga Sasuke. Waktu itu sinar surya menjadikan rambutnya kecoklatan, dan dia tersenyum jenaka.
"Dan aku bilang nggak mau."
Hei, Sasuke. Ini rahasia, ya.
Sakura memutar tumitnya dan melambai sebelum berjalan masuk rumahnya. Aku duluan, katanya, dan Sasuke sudah tidak mendengarnya.
Cemburu? Dia terlalu dewasa untuk cemburu.
Satu jam dan dua putaran penuh album The Blue Hearts berikutnya dengan volume maksimal di earphone, Sasuke berbaring di kasurnya dengan mata terbuka lebar. Tidak mengantuk. Benaknya berkabut. Empat jam lagi dia harus bangun, dan lima jam lagi kembali berada di sekolah.
Iri?
Wajah Sakura terbayang jelas di pikirannya. Kukira nggak ada yang berubah di antara kita.
Nggak ada yang berubah. Kita masih berteman, kan.
Gali lubang kuburmu sendiri, Uchiha.
Mau menyesal sampai kapan?
Dua jam kemudian baru ia terlelap.
.
.
"Uchiha, seharusnya aku nggak usah dandan seniat ini. Kamu juga bisa dipajang di depan kelas, jadi setan."
Ucapan Kiba membuat urat emosi di dahi Sasuke berdenyut. Naruto, yang lewat di tengah kesibukannya mendengarkan handy-talkie dan berkoordinasi, tergelak hebat dan memberikan Kiba sebuah tos ("Nice, Kiba!"). Lupakan saja, seharusnya dia tidak usah mampir mengecek kelasnya sendiri karena mereka terbukti memiliki persiapan yang sempurna. Dikepalai Kiba, rumah hantu kelas 3-2 berdiri megah dan menarik perhatian nyaris seluruh pengunjung. Sasuke harus mengakui, kantung matanya yang hitam membuatnya mirip arwah penasaran yang kebanyakan belajar. Seharusnya dia bisa meneriakkan dobe ke Naruto yang sudah melesat pergi, tetapi kehadiran orang asing di sekitarnya membuatnya harus menjaga citra.
Pembukaan acara sudah berlangsung meriah tadi pagi. Seolah membayar kerja keras mereka, berduyun-duyun pengunjung datang, mulai dari anak SD dan SMP, murid sekolah tetangga, orangtua murid, alumni, sampai penduduk sekitar yang ingin melewatkan hari Sabtu. Ino baru saja mengirimkan pesan di grup, kita sudah tembus 200 pengunjung. Luar biasa ramai. Kakashi melewatinya di koridor dan memberinya tepukan di pundak, guru-guru lain juga tersenyum menyetujui. Di setiap ruang kelas, ramai tak kunjung surut. Sesuai prediksi, kedai yakiniku kelas 3-4 menjadi yang mendulang banyak pujian, disaingi kedai tradisional kelas 3-3 yang kabarnya memiliki matcha paling wangi. Kelas 3-1 di ujung baru saja membuka antrian tiket untuk film berikutnya yang akan diputar sepuluh menit lagi. Kelas angkatan bawah juga menampilkan berbagai suguhan, mulai dari stan permainan, kuis dadakan, hingga sesi karaoke.
Sasuke menghabiskan waktunya berkeliling. Panitia bunkasai terlihat siap siaga dengan Neji sebagai ketua, berada di balik panggung dan menerima koordinasi dari semua anak buahnya melalui HT yang terpasang ke telinga. Cek keamanan, bazaar, dan pertunjukan setiap kelas di auditorium berlangsung tanpa cela. Sasuke sampai bingung apa yang bisa dibantunya.
Tadinya dia berjalan bersama Naruto yang juga sedang berpatroli. Setidaknya sampai Sasuke sadar anak itu selalu berputar kembali ke kedai kelas 3-3 untuk menyapa Hinata, pacarnya. Kesal, Sasuke memutuskan untuk ngobrol dengan Tenten dan memastikan semua dekorasi masih terpasang sempurna. Tidak sampai sepuluh menit, Lee menghampiri mereka dan mendominasi pembicaraan (lebih ke arah memonopoli perhatian Tenten tanpa mengacuhkan Sasuke), sampai dia merasa terusir dan malas ikut campur. Kenapa dia selalu menjadi orang ketiga, sih.
Dia belum bicara dengan Sakura sejak pagi. Hanya bertemu di rapat pembuka pukul enam, kemudian sibuk masing-masing dan hanya bertukar senyum… yang tidak mirip senyum. Sial. Sekali dua kali, dia akan menangkap kelebatan rambut cerah sepundak, yang bergegas berlari di lapangan dengan mikrofon HT di tangan. Sebagai penanggungjawab acara, Sakura sibuk sekali. Dia harus mengatur dua rundown sekaligus: panggung pengisi acara eksternal di lapangan dan pertunjukan di auditorium. Bukan main pusingnya.
Sekali waktu, Sakura menangkap matanya di jendela lantai tiga dan mengangkat satu tangannya dalam sebuah sapaan. Sasuke membalasnya, berharap senyumnya terlihat dari posisi Sakura di tengah hiruk-pikuk lapangan.
"Lihat siapa?"
Dari sebelahnya, Ino melongok. Lantaran terus menjadi pengganggu romansa, hanya rekan kerja terdekatnya yang cukup waras untuk fokus menemaninya mengawasi acara. Kini mereka baru mencapai lantai tiga dan hendak mengecek ruang klub, yang tidak kalah bisingnya disesaki pendatang.
Sasuke tidak menjawab, membiarkan Ino mencari sendiri. Sejenak alis gadis itu tidak lagi bertemu dan dia melemparkan Sasuke sebuah pandangan maklum. "Oh. Seperti biasa." Kemudian, gadis itu melengos melangkah duluan memasuki koridor.
"Hah? Oi, Yamanaka," Sasuke mengerutkan dahi, menyusul langkah wakilnya. "Maksudmu apaan, sih?"
Kakashi juga bilang hal yang aneh kemarin. Main api. Ino sendiri sudah menjalankan kebiasaan aneh ini, memberikan komentar-komentar yang tidak Sasuke pahami, sejak mereka terpilih. Apakah ini tentang gaya kepemimpinannya? Profesionalitasnya? Cara komunikasinya?
"Nggak apa-apa, Sasuke. Aku cuma menanggapi kamu."
Dengan cara yang aneh, iya.
Memutuskan untuk tidak ambil pusing, Sasuke mengikuti langkah gadis itu menyusuri deretan kelas. Luar biasa gaduhnya! Klub teater meraup banyak pengunjung, yang memberikan mereka tepuk tangan meriah pada akhir setiap pementasan. Pameran klub fotografi juga banyak dipuji, berikut klub menjahit yang menampilkan gaun buatan mereka, sangat cantik. Klub shogi pintunya nyaris tertutup, banyak seruan tertahan dari dalam. Saat mereka mengintip, isinya adalah lingkaran pengunjung berbagai usia dicampur para siswa. Mereka semua sedang tegang menonton duel shogi, Shikamaru melawan… Asuma-sensei?! Beberapa penonton memegang lembaran uang, dan sebelum Sasuke dan Ino mendengar sesuatu yang harus membuat mereka berbohong pada kepala sekolah, mereka melipir.
Mereka berdua menegur klub occult karena memutar klip penampakan supernatural saat ada pengunjung anak SD di ruangan. Berikutnya, menyapa sekumpulan alumni seitokai yang datang: Shizune, Iruka, Kabuto-senpai. Berdua Sasuke dan Ino membungkuk, menerima pujian bertubi tentang kinerja seitokai dan hasilnya menciptakan bunkasai yang cemerlang.
"Hasil kerjamu lebih bagus dari Itachi. Apa kabar dia, si keriput?" Shizune -senpai menimpali, tersenyum meledek. Sasuke tertawa, mengatakan bahwa kakaknya sedang magang di perusahaan teknologi di kota. Begitu banyak kabar yang bisa ditukar, dan sejenak pikirannya lepas dari Sakura.
Setidaknya sampai mereka mampir di ruang band, yang sedang jamming. Lagu akustik membahana, penonton yang duduk di lantai bernyanyi bersama dan bertepuk tangan. Saat hendak berganti lagu, Moegi kembali menyadarinya di dekat pintu, dan juniornya itu menghampirinya sambil berbisik, "senpai, nggak bareng Sakura-senpai?"
Ino seperti memicing menatapnya saat mereka beranjak pergi.
Mendekati klub lukis di ruang seni, Ino berjalan lebih dulu memasuki pintu dan berkata lugas sambil menatap Sasuke, "kita pisah dulu, ya. Aku mau di sini sebentar." Sebelum Sasuke sempat bertanya kenapa, Ino menghampiri ketua klub yang sedang duduk melukis di tengah ruangan, Sai, dan langsung membelai rambutnya dari belakang. Sasuke melongo.
Jengkel dan dongkol karena lagi-lagi dia menjadi badut pengiring orang pacaran, Sasuke langsung meninggalkan ruangan.
Sudah pukul empat sore. Dirundung rasa kesal, Sasuke memutuskan untuk menyendiri sejenak. Ruang panitia ada di ujung koridor, satu-satunya tempat yang sepi karena ditutup dari pengunjung. Saat Sasuke masuk, hanya ada dua junior divisi perlengkapan yang berkutat dengan kardus, dan mereka membungkuk pamit pada Sasuke di pintu. Kini dia seorang diri, menatap matahari yang menelisik dan menerangi dinding penuh poster. Sunyi. Ini yang dia inginkan.
Acaranya berlangsung lancar, pujian dituai timnya, semua orang bahagia. Seharusnya ini cukup untuk membuatnya puas. Sayangnya, sembari duduk di meja menghadap jendela yang menampilkan lapangan dan bazaar, Sasuke merasa resah. Lengannya dilipat, matanya menatap langit yang mulai meredup, dan napasnya dihela.
Sakura dan dirinya masih bersikap sewajarnya. Harusnya dia lega. Muluk? Mungkin.
Menangkap bayangan dirinya di jendela ruangan, Sasuke nyaris ingin berputar badan dan pulang. Wajahnya seperti milik mayat, pucat dan berbayang di bawah mata. Dia tidak benar-benar melihat cermin kala mencuci muka, dan Naruto jadi yang pertama menudingkan telunjuk ke hidungnya subuh tadi dan bilang, "kamu zombi."
Zombi tidak punya otak. Sasuke juga bertindak seperti orang tanpa otak, jadi nampaknya diagnosa ini benar adanya. Orang tanpa otak akan bicara tanpa berpikir, tidak bisa menentukan untuk dirinya sendiri, menyesali apa yang sudah terjadi bertahun-tahun lalu. Membayangkan seseorang kala jam-jam tidak waras selepas dini hari, dan tetap tersenyum ketika melihat wajahnya esok pagi.
Dia berada di mana sekarang? Ini bahkan bukan sebuah persimpangan. Ini jalan buntu, dan Sasuke harus memilih antara putar balik atau meloncati tembok.
Sasuke tidak sadar seberapa banyak waktu yang berlalu, merutuki dirinya sendiri, hingga pintu di belakangnya terbuka. Suara statis dari HT, warna vokal yang dia kenal.
"Iya, iya, Temari. Sedang kucari, minta mereka tunggu dulu dan bersabar…"
Sakura masuk melewati ambang pintu, berbicara lewat HT dan tampak lelah. Gadis itu tidak sadar ada Sasuke di sana hingga ia mendongak dan bertemu mata dengannya, mengulas senyum seolah malam sebelumnya mereka tidak bicara apa-apa.
"Eh. Oi."
"Oi," balas Sasuke, mengedikkan kepala, memperhatikan Sakura melangkah menuju rak dokumen yang menempel di dinding. Dia nampak terkuras, segera membuka-buka laci secara acak dan mencari di dalam map.
"Biasa, debat tentang formulir. Aku mau buktikan para pengisi acara itu yang tidak tanda tangan." Sakura menjelaskan tanpa diminta, dan Sasuke mengawasi jemarinya yang frantik mencari di setiap lembaran. Nihil, dia berganti warna map. Dan seterusnya. Dan seterusnya.
Mata Sakura dan alisnya yang mengait penuh konsentrasi. Rambutnya yang terurai di atas pundak dan terselip ke belakang telinga. Bibirnya yang membaca tanpa suara, menyebut nama-nama yang tertera di dokumennya. Betapa Sasuke hapal tindak-tanduknya, kelakuannya, setelah bertahun-tahun mereka saling kenal. Sakura yang berani mengkritisinya ketika Sasuke terlalu galak dengan junior. Sakura yang selalu bilang ingin ikut kelas muay thai agar memiliki tinju yang bisa meretakkan tanah. Sakura yang tidak pernah menangis di hadapan orang lain. Sakura dengan rambut pendek setengkuk, di depan ruang musik, menebak jitu lagu yang Sasuke mainkan di atas senar gitar.
Sasuke harusnya bilang sekarang, kan? Sekarang, sebelum dia terlambat lagi, dihujani cibiran Kakashi dan Ino dan entah siapa lagi yang ingin mengkritik kepribadiannya. Sekarang, sebelum dia kembali berlari dan menyalahkan Hyūga Neji. Dia tidak bisa membiarkan asumsi terus menghujaninya, mendaraskan rasa takut dan menariknya dari berkata jujur. Sakura akan mendengarnya. Sakura akan mengerti.
Lantas, bila tidak…
Kukira nggak ada yang berubah di antara kita.
Apa maksud Sakura semalam? Bahwa mereka memang tetap berteman meski ditimpa suhu yang berubah dan sejuta pertanyaan? Ada suara kecil di kepala Sasuke yang berkata sangsi. Tiga tahun dan lusinan pernyataan cinta yang ditolaknya. Tiga tahun alpa dari gosip anak lelaki tentang gadis yang tercantik di angkatan mereka. Nyaris tiga tahun ini, apa persepsi yang tumbuh di benak gadis itu tentang Sasuke?
Mereka mungkin benar-benar akan berhenti berteman setelah ini.
Kini Sakura tengah menarik keluar selembar kertas kuning, tersenyum girang. Dia menunjukkannya kepada Sasuke, mengatakan sesuatu yang tidak benar-benar didengarnya. Sesuatu tentang rasa lega, pengisi acara… sesuatu yang tidak Sasuke simak karena dia menimpanya dengan kata-katanya sendiri, secepat derapan jantungnya, sejelas yang dia bisa.
"Kita harusnya jadi lebih dari teman, kan?"
Satu jeda. Dua.
Pandangan Sakura tidak lepas darinya, mata melebar, kertas terlupakan di atas laci yang terbuka. Dia mengerjap. Tangan Sasuke bergetar dan dia menyatukan kedua belah telapaknya, mengaitkan jemarinya agar mereka berhenti. Tancap gas, remnya dirusak. Sudah kepalang maju dan jangan mundur. Ludahnya ditelan, dan dia memulai lagi.
"Kita sudah tahu ini dari lama, kamu dan aku. Setidaknya untukku," masih ditatapnya Sakura, panas merambat di leher dan menuju telinganya. Menuju tiga tahun untuk mereka, berbicara dalam sinyal dan berjalan memutari satu sama lain dalam lingkaran-lingkaran buntu.
"Aku sesuka itu denganmu."
Semuanya sudah dikeluarkan. Sakura tertegun, diam di hadapan Sasuke, membuatnya tegang dan takut. Detak jantungnya bergemuruh di telinga, dugdugdug seperti genderang perang. Panas dan dingin bercampur menjadi satu. Detik-detik bertumpuk menjadi sebuah jeda, menjadi sebuah ombak yang dibangun tinggi, menunggu badai. Hening tidak bergeming, tidak ada yang bergerak, dan waktu berhenti.
"Aku…"
Sakura akhirnya membuka mulutnya. Menutupnya kembali. Sasuke menunggu, dan menunggu, dan diam.
"Sasuke, aku—"
Krrsk. Lampu merah menyala, HT bersuara.
"—uno. Haruno, hoi. Sudah ketemu belum? Mereka masih ngotot mau naik panggung, nyaris kutempeleng nih!"
Mereka terperanjat. Suara Temari yang kesal menyeruak dari HT di pinggang Sakura. Buru-buru gadis itu meraih mikrofonnya, dua kali bergelut dengan kabel yang ruwet, dan menjawabnya dengan singkat. Kemudian, membuat hati Sasuke mencelos, Sakura bergerak mundur menuju pintu. Pandangan di matanya terlihat menyesal, bibir digigit.
"Maaf, Sasuke," katanya gugup, menggenggam kertas kuning itu terlalu erat. "Nanti kita ngobrol lagi, ya?"
Dengan itu Sakura berbalik dan membuka pintu, nyaris mengerling ke arah Sasuke, lalu pergi.
Dalam mimpi di malam-malam yang tersepi, Sasuke membayangkan Sakura akan melompat masuk pelukannya. Mereka akan mengungkapkan apa yang tertimbun bertahun-tahun, melepaskan keinginan dan gairah dalam satu ciuman. Sakura akan mengatakan bahwa dia merasakan hal yang sama, dan Sasuke akan menyambut tangannya.
Di ruangan panitia yang kosong, Sakura baru saja menggantung jawabannya dalam tatapan mata yang terlihat bimbang. Keraguan, satu langkah mundur, dan pilihan untuk berjalan keluar. Hal-hal paling mengerikan yang pernah Sasuke lihat bercampur menjadi satu. Pemuda itu menunduk dan menatap lantai, memejamkan mata.
Dia tidak pernah merasa setakut itu.
Nggak ada yang berubah.
Kita masih berteman, kan.
Tolol sekali.
.
.
Bunkasai sudah mencapai penghujungnya.
Sisa hari itu dihabiskan Sasuke dengan berbaur di antara kerumunan. Menyapa semua orang yang dia kenal dan berterimakasih karena sudah datang, menyemangati panitia untuk kerja keras mereka, bersilaturahmi dengan orangtua murid yang berkunjung, bahkan kepada anak-anak SMP yang ingin masuk kemari tahun depan. Kalau hari ini sudah tidak bisa lebih buruk lagi, setidaknya Sasuke bisa berusaha fokus dalam tugasnya. Apa lagi hal buruk yang bisa terjadi?
Pada akhirnya ia menemukan Neji mengawasi hingar-bingar dari depan aula sekolah, dan Sasuke menepuk pundaknya. Kerja bagus, katanya. Neji berhak mendengarnya.
Nyaris pukul sembilan malam, nyaris usai acara. Sasuke kehilangan selera lagi untuk berada di antara orang-orang. Dari tepi pagar kawat di atap sekolah, dia bisa menyaksikan lapangan yang menggelora. Siswa maupun pengunjung menari, melonjak, dan menyanyi keras-keras mengikuti dentuman lagu bertempo cepat yang dibawakan band. Moegi rupanya lihai sekali menguasai audiens. Suaranya melengking, mengajak semua orang bertepuk tangan dan saling berteriak. Lagunya Hito ni Yasashiku, dan Sasuke cukup yakin Sakura yang mewariskan mereka sediskografi The Blue Hearts.
Kakashi sempat mencoleknya tadi, memegang ubun-ubunnya dan bilang dia demam. Apaan sih, sensei jadi dukun sekarang? Pria itu hanya mengedik dan meninggalkannya. Ino bertemu mata dengannya dari ujung koridor, sedang bergandengan tangan dengan Sai, dan gadis itu mengangguk pelan untuk arti yang tidak dipahaminya.
Jemari menggenggam pagar kawat, dahi menempel. Lampu sorot yang dipasang Lee menyala biru, jingga, kuning, mewarnai wajah Moegi dan separuh kerumunan yang menggila.
Hito wa dare demo, kujikesou ni naru mono…
(Siapa pun bisa merasa sedih terkadang…)
Ada tangan lain yang menyentuh pagar, hawa familier yang melangkah mendekat dan ikut bersandar. Sakura muncul di sebelahnya, tampak puas melihat junior-junior didikannya. Di bibirnya ada senyum dan dia tidak sedang melihat Sasuke. Dia tidak bisa mendengar lompatan di rongga dadanya.
"Bagus kan, mereka?"
Menyembunyikan keterkejutannya, Sasuke berdeham dan menjawab dengan remasan di ulu hatinya. "Kurasa mereka lebih bagus dari kamu tahun lalu."
Lega menyeruak muncul ketika Sakura terkekeh. Masih bisa bercanda. Masih baik-baik saja. Mereka diam sejenak, mendengarkan musik yang terbawa angin hingga atap, menikmati irama rock dan sorak-sorai penonton. HT masih terpasang di pinggang Sakura, sebelah earphone di telinganya. Entah bagaimana Sakura bisa menemukannya di sini, namun lagi, dia tidak pernah benar-benar harus bicara gamblang untuk gadis itu mengerti. Mungkin tadi dia melihat Sasuke menaiki tangga. Mungkin ingat masa-masa Sasuke bolos pelajaran tambahan di sini untuk mencoba sebatang rokok. Mungkin, mungkin, mungkin… mungkin Sakura bisa membaca dirinya lebih dari yang dia tunjukkan.
Tanpa aba-aba, Sakura mengujar.
"Aku semacam punya firasat, tahu," katanya pelan, senyum di ujung bibirnya, "akhirnya kita akan begini."
Rasa takut di perut Sasuke lumer menjadi genangan. Tensi meledak jadi kembang api.
"…Kenapa kita nggak dari dulu?" suara Sasuke pecah, bingung. "Aku juga nggak tahu kenapa aku buang begitu banyak waktu."
"Bukan hanya kamu yang heran," Sakura membalas lembut, matanya sayu. "Kita impas."
Angin sepoi menelisik, membuat Sakura merapatkan jaket. Lengannya tersingkap dan menunjukkan koleksi gelang di tangan kanannya, jalinan benang yang ditukar bersama kawan-kawannya, mengingatkan Sasuke kepada benda serupa yang masih dipakai Neji.
"Mungkin aku nggak akan harus gondok dengan Hyūga. Dia tahu aku punya dendam-tak-terkatakan padanya," Sasuke menatap Sakura, memutar bola mata, "mesti dia nggak tahu sebabnya."
Gadis itu justru menggeleng pelan.
"Kamu tahu, aku mulai naksir Neji sejak lihat kamu sama Ino," aku Sakura, melempar pandangannya ke band di bawah yang baru menyelesaikan lagunya. "Kalian cocok sekali, dan Ino terlihat senang… dia suka sekali sama kamu, tahu?"
Di tengah ucapan MC dari pengeras suara yang mulai memperkenalkan anggota band satu-persatu, Sasuke nyaris mengira dia salah dengar. Yamanaka Ino? Wakilnya?
"Nggak tahu," selorohnya, berusaha mengingat indikasi perasaan gadis itu. Ino yang selalu ada di sebelahnya, bersikap profesional mengurusi seribu proposal dan segunung laporan. Kamu terbaca banget, Sasuke, dan oh, seperti biasa, saat menangkap dirinya memandangi Sakura. Ino yang mengelus rambut Sai dan menggandeng tangannya. Ino yang itu?
"Kamu nggak sadar?" Sakura terlihat terhibur, nyaris terkekeh. "Keren. Biasanya Ino terang-terangan bukan main kalau naksir orang."
"Ini sebelum dia jadian dengan Sai?"
Sakura mengangguk. "Kentara sekali, tahu. Semua anak perempuan di sekolah tahu ini."
Kamu zombi. Iya, Naruto, Sasuke zombi.
"Kurasa…" suara Sasuke memelan, menghembuskan napasnya. Menyandarkan satu pundak ke terali kawat dan terkagum akan dirinya sendiri, saking bodohnya. "Kurasa aku nggak pernah melihat orang lain."
Cengiran sepuluh ribu yen itu muncul. "Selain aku?" goda Sakura, membuat Sasuke gemas.
"Nggak. Selain Hyūga." Dia menjawab kesal, kali ini panas ada di pipinya. Berhenti menatapnya seperti itu. Jangan senyum seperti itu. Nyaris mendelik dia menatap Sakura, sembari separuh mendumel mengaku, "…iya, lah. Siapa lagi."
Sasuke benci disudutkan, namun kini Sakura memandangnya jenaka dan dia nyaris bisa memaafkannya. MC mengumumkan bahwa band akan membawakan lagu terakhir untuk menutup rangkaian acara malam ini. Kemudian, gitar kembali dipetik dan drum ditabuh, mengalunkan nada yang kelewat familier: Owaranai Uta. Seolah Sakura mengorkestrasi rencana teramat rinci agar Sasuke malu. Sasuke melirik gadis itu, dan dia tidak perlu bertanya lagi. Dia tahu Sakura yang meminta mereka memainkan lagu ini.
Kembali ke nyaris tiga tahun yang lalu, saat Sakura menerobos masuk ruang musik usai dia memainkan refrain yang berantakan, tanpa nyanyian. Mungkin mereka akan butuh bertahun-tahun lagi, memulai dari awal atau melanjutkan apa yang sudah mereka miliki.
Sakura bersandar di pagar dan menatapnya, mata terang. Sasuke tahu HT di pinggangnya masih berkedip-kedip dan kini mengeluarkan suara statis, namun Sakura mematikannya, menarik keluar earphone dari telinganya. Tangan dilipat, senyum terkembang. Sebelah alis naik. Menerka. Menunggu.
Mungkin dari dulu mereka memang sudah seperti ini. Mungkin mereka tidak akan pernah berubah lagi, tidak perlu berganti.
Sembari menangkup wajah Sakura dan mencium bibirnya, Sasuke berpikir, dia tidak akan keberatan.
"Inilah akhir dari Konohagakuen Bunkasai! Segenap jajaran panitia mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya. Uchiha Sasuke-san, selaku ketua seitoku, diundang naik ke panggung untuk menyampaikan rangkaian bunga kepada wakil asosiasi orangtua murid, Sarutobi Hiruzen-san… Uchiha-san? Tidak ada? Oh, mau diwakilkan saja? Silakan naik kemari, Yamanaka-san…"
.
.
.
.fin
A/N | Ilham memang menabrak secara tiba-tiba u_u (berguling)
Review dan konkrit akan sangat dihargai. Terima kasih sudah membaca karya saya sampai hari ini.
