Summary: Ibarat permen, Tsukishima Kei itu nano-nano. Pedas, asem, asin, bahkan rasa Tsukuyomi juga ada. Hanya saja, Kinoshita Saki belum merasakan sisi manisnya. Bahkan interaksinya dengan Kei kebanyakan berakhir dengan pose OTL. Semua bermula dari acara pertukaran pelajar yang mengharuskan dia numpang di rumah si pemuda berkacamata, ditambah dengan perkenalan yang tidak bisa dikatakan semulus paha para waifu otaku di Jepang, bisakah Saki bertahan menghadapi si kacamata berlidah tajam dan tidak bunuh diri di dahan pohon kacang?

.

.

.

HECTIC HOURS

Disclaimer: Haikyuu is not mine. Kalau Haikkyuu punya daku, tidak akan kubiarkan abang Tsukishima Kei dianggurin.

Genre: Romance, Humor

.

.

.

Dua puluh empat jam belakangan ini, Kei sering bengong tapi menahan kesal. Perpaduan yang ganjil, memang. Muka bagusnya itu tampak agak senewen. Entah dia sakit perut atau sedang datang bulan, tapi yang pasti rasa frustasinya itu kelihatan.

Sebabnya cuma satu. Seorang gadis bermata hijau, berambut hitam bergelombang sepunggung dengan pita hijau (Kei bertanya-tanya apa cewek itu memang suka warna hijau) menghiasi kepalanya, kini sedang berdiri di depan kelas.

"Kinoshita Saki! Mohon bimbingannya!"

Saki membungkuk sembilan puluh derajat sampai punggungnya lurus. Baru setelahnya tersenyum lebar, lengkap dengan binar-binar di wajah.

Ah, senyum secerah itu seperti sinar matahari pagi waktu Kei masih ingin tetap berkutat di tempat tidur.

Sungguh. Amat. Sangat. Menyebalkan!

Bagaimana?! Bagaimana bisa gadis itu kini ada di kelas yang sama dengannya? Bukankah ini namanya pelaggaran hak asasi manusia, di mana manusia ingin hidup tenang tanpa gangguan tapi tak terlaksana?

Kalau mau berpikiran objektif, bukannya Saki pernah melakukan gangguan apapun pada Kei, ya. Tapi Kei sudah jatuh sebal pada pandangan pertama, sejak gadis itu bengong pada pertemuan mereka kemarin. Sebabnya sih masih berstatus 'unknown', tapi buat Kei wajah Saki itu hateable… atau teaseable, kah? Yang pasti saat ini Kei benar-benar kehilangan kata-kata. Buat menghina pun dia kehilangan inspirasi.

Suara bisik-bisik yang tidak sayup-sayup terdengar di mana-mana. Telinga Kei sempat mendengar pujian kalau murid baru yang ada di hadapan mereka itu: 'lumayan imut juga'.

Kekanak-kanakan, pikir Kei.

Ya, sudahlah, kalau cewek itu ternyata juga masuk ke kelas yang sama, mau diapakan lagi? Sama seperti di rumah, tinggal pasang tampang cuek, komentar sinis, dan celetukan sarkastis di sana-sini, gadis itu tentu akan pasang jarak di antara mereka.

Rencana yang sungguh amat sangat Kei sekali.

Di satu pihak, Saki berusaha untuk tidak melirik ke arah Kei. Bukan perkara mudah untuk melakukannya, tapi juga tidak mustahil. Usahanya berhasil dan Saki merasa bangga karena sikapnya sama seperti biasa. Ceria, ramah, dan tidak kenal makhluk mengesalkan bernama Kei. Kalau bisa, Saki tentu akan memeluk dan mencium dirinya sendiri, memberinya piagam dan mengalungkan bunga pada pigura fotonya…. #eh?

Anyway, acara perkenalan pertamanya lancar-lancar saja seperti jalannya pidato para Bupati sekarasidenan Miyagi. Teman-temannya juga sepertinya antusias, bahkan seorang cowok rela mengacungkan tangan untuk bertanya.

"Kinoshita-san, ceritakan tentang dirimu dong!"

"HUUU! Moduuus," terdengar sahutan kontra, padahal yang mengangguk senang dan setuju dengan pertanyaan itu juga lumayan banyak kok.

"Oh, boleh ya? Boleh bu guru?" mata Saki berbinar ketika wali kelas mereka mengangguk.

"Oke!" Saki senyum lagi, dan bunga-bunga sakura bertebaran padahal sekarang musim apa juga author tidak tahu.

"Aku ulangi ya, namaku Kinoshita Saki. Panggil saja aku Saki. Desember ini umurku genap lima belas tahun. Aku lahir, besar dan tinggal di rumah orang tuaku di Tokyo. Ini pertama kalinya aku tinggal di luar Tokyo, loh. Hobbyku adalah makan dan main-"

'Bukannya katanya keahliannya memanah?' Kei masih membatin sambil manyun.

"-Yang aku sukai adalah hari minggu dan yang tidak kusukai adalah cewek tsundere."

'Dan juga seorang cowok bernama Tsukishima Kei.' Tambahnya dalam hati.

"Makanan kesukaan: ikan. Ikan apa saja yang penting bisa dimakan. Yang tidak kusukai adalah piranha, soalnya kalau menggigit mereka susah berhentinya, ahahaha-"

Kei sweatdrop. 'Kepala gadis ini tadi terbentur, ya?'

"Oh iya, tinggiku 165 cm. Tidak tinggi tapi juga tidak pendek. Pengalaman menarikku adalah aku pernah menggigit temanku waktu ulang tahunnya yang kelima. Ibunya langsung panik karena-"

"Kisnoshita, kurasa sudah cukup untuk detailnya, ya."

"Oh, baik, bu guru." Saki menggangguk sopan, walaupun wajah gurunya sulit untuk dilukiskan, "Sekian, ada pertanyaan lagi?"

Satu jari teracung lagi, "Kalau kau aslinya tinggal di Tokyo, sekarang kau tinggal di mana di sini, Kinoshita-san?"

"Aku tinggal di-"

Ucapan dengan nada berbunga Saki terpotong kala melihat ke arah Kei. Jangan salahkan Saki, karena walaupun dia sudah berusaha keras untuk menghindari tatapan matanya, tetap saja refleksnya bekerja ketika perihal dia tinggal di mana disinggung. Kan berkaitan dengan Kei dan keluarganya juga. Dan melihat ke arah Kei saat menjawab pertanyaan yang diajukan temannya itu entah bisa dikatagorikan beruntung atau tidak. Soalnya Saki melihat Kei sedang tersenyum cerah, lima jari pula, dengan OOCnya. Matanya sampai menyipit. Segala jenis bunga bermekaran di sekelilingnya seperti di acara nikahan tantenya bulan lalu. Yang tampak salah dari gambar itu cuma pensil yang patah jadi dua oleh tangan Kei ketika dia tersenyum manis tak terkira kepada Saki.

Muka Saki memutih seketika, melihat 'ngomong-satu-kata-lagi-dan-kau-akan-seperti-pensil-ini' tertulis di wajah dan senyuman satu juta dolar Kei.

Hawa mencekam apa ini? Kenapa Saki merasa kalau arwahnya ditarik ke sebuah alam tak dikenal? Detik itu juga Saki menyadari kalau Kei menuruni kemampuan Tsukuyomi ibunya.

"A-ano… aku…" Saki garuk-garuk pipi, gugup. Dirinya lalu memutar otak mencari celah. Mau bohong apa ya?

"A-aku tinggal di rumah kerabat, tidak begitu jauh dari sini. Ya… kira-kira begitulah, ahahahaha." Tawanya terdengar ganjil, tapi siapa peduli? Nyawanya sedang terancam!

Saki memberanikan diri melirik Kei lagi. Cowok itu masih senyum. Tapi sekarang, bedanya ada cincin cahaya yang menyinari kepalanya pertanda cowok itu puas dengan kelakuannya.

'Anak pintar.'

Bibir Saki kedutan. 'Merepotkan. Berurusan dengan orang sadis dan bipolar begini memang benar-benar merepotkan.'

.

.

.

Saki menatap pemuda jangkung berambut pirang di hadapannya dengan mata hijaunya. Padahal sekarang waktu makan siang. Perutnya sedang ingin makan telur ceplok dan tumis udang yang sudah ia masak bersama Megumi-san pagi-pagi tadi, kenapa sekarang dia harus mojok di balik gudang sekolah yang sepi bersama cowok menyebalkan ini?

Kali ini Saki merasa fabulous. Pasalnya, rasa lapar telah membuat Saki kehilangan rasa takutnya pada Kei. Sungguh luar biasa naluri manusia.

"Apa yang ingin kau katakan, Kei?" tanyanya pede sambil mengibaskan rambut.

"Hooo. Tuan putri memanggilku dengan nama kecilku. Apa kita sudah seakrab itu? Rakyat jelata ini merasa terhormat, loh."

Mulai deh, provokasinya. Kei senyum-senyum durjana.

"Ya… habis gimana? Kalau aku panggil Tsukishima nanti orang di rumahmu menoleh semua," jawabnya polos.

Senyum Kei hilang mendapati Saki menjawab biasa-biasa saja.

Ish! Kok dia nggak kesal sih?

Nggak asik.

(Tuh, kan, Kei aneh.)

"Kenapa kau memanggilku, Kei?" Karena Kei cuma diam saja, giliran Saki mulai kesal karena hal lain. Dia lapar. Dan dua mau tumis udangnya!

"Tenang, Saki-sama." Kei tersenyum. Suaranya licin bagai sutra. Pemuda itu sengaja menegaskan panggilannya pada gadis itu. Tetapi sejurus kemudian, air mukanya berubah serius.

"Ini tidak akan lama, kok."

Perasaan Saki mulai tidak enak.

Hell. Kapan sih, bicara dengan Kei bisa enak?

"Seperti yang sudah kita ketahui, kalau kau tinggal di rumahku."

Saki mengangguk.

"Beda dengan prasangkamu, aku sebenarnya tidak keberatan kok kalau kita tinggal serumah."

Kedua orang yang sedang berhadap-hadapan itu sadar kalau kata-kata barusan hanya bohong.

"Aku hanya minta beberapa hal darimu."

Kepala Kei miring sambil pemuda itu tersenyum. Oh, Kei suka sekali melakukannya. Pose duapuluhlima derajat kemiringan kepala sambil bibirnya tersenyum, sementara dia menatap ke bawah itu membuat Kei merasa oh-so-villain banget. Tapi villain yang cerdas dan terhormat. Catat itu.

"Jangan sampai orang-orang tahu kalau kau tinggal di rumahku. Cuma itu saja. Di sini kita bisa berinteraksi seperti orang biasa. Tapi hanya sebatas teman sekelas. Selain itu-"

Pause sejenak.

Dramatis.

Mata emas dan mata hijau sama-sama meredup.

"-aku tidak mau ada orang yang tahu interaksi kita di luar sekolah."

Saki tetap dalam posisinya bersidekap.

Apa-apaan cowok ini?

Terus terang, ini kali pertama Saki berhadapan dengan orang yang menolak keberadaannya, menghindar untuk dihubungkan dengannya, dan tidak berminat repot-repot untuk berbasa-basi menutupi kebenaran itu.

Saki menatap lurus ke mata Kei.

Uwah, kalau Kei bukan cowok yang kuat iman, dia pasti sudah terpesona dengan mata hijau bulat Saki sekarang.

"Kau membenciku?"

Alis Kei terangkat sebelah, menatap Saki dengan rasa penasaran yang tiba-tiba muncul. Untuk pertanyaan se-powerful itu, Saki mengutarakannya dengan nada terlalu santai. Sama seperti saat Yamaguchi bertanya, 'Oi, Tsukki, sudah pipis belum?'

"Heee. Aku mana punya energi untuk benci pada seseorang." Lagi-lagi Kei menyeringai.

"Lalu?" giliran Saki yang mengangkat alis.

"Apa tidak terpikir olehmu apa yang akan dipikirkan orang-orang kalau tahu kita tinggal serumah?"

"Aku kira kau bukan orang yang gampang peduli dengan kata orang?"

'Cewek ini…'

"Tidak. Aku tidak peduli. Tapi yang pasti semuanya akan merepotkan. Aku tidak punya cukup energi untuk mengurusi hal-hal trivial."

"Mmmhhh…" Kei mendengar gadis itu bergumam tidak jelas. Wajah bulat telur Saki tiba-tiba menunjukkan kebingungan. Kemana perginya kepercayaan diri ala heroine anime shonen tadi?

"Ano…"

"Apa?"

Saki nyengir, "Kayanya nggak bisa deh?"

"Ha?"

Loh, loh, loh, kok suasananya berubah? Tadi kan sudah serius, kenapa jadi komedi lagi?

"Soalnya aku nggak tahu jalan pulang dan pergi dari rumah ke sekolah."

Kei hampir terjungkal.

APA? TADI CEWEK ITU BILANG APA?

Capslock jebol.

"Bohong, kan? Tadi kau ke sini bagaimana?"

Saki ketawa ala bayi, nyebelin tapi polos, "Aku diantar kak Akiteru, tapi tadi keasyikan ngobrol jadinya nggak memperhatikan jalan. Jadi nanti pulangnya aku bareng kamu y-"

"Aku menolak."

"Eh? Nande?"

Jidat Kei kedutan. Pusing. Bicara dengan cewek ini ternyata cuma buang-buang tenaga saja. Kata bu guru pas perkenalan pagi tadi, dia peringkat empat dari empat ratus siswa di SMPnya, kok setelah bicara muter-muter dengan hawa serius masih tetap nggak nyambung, sih?

"Kita tadi bicara berapa menit? Memangnya kau sudah lupa dengan apa yang kita bicarakan tadi?"

Lama-lama Kei pingin jambak rambut seseorang juga, nih.

"Aku tahu. Tapi bisa tidak untuk beberapa hari ini aku berangkat dan pulang bersamamu?"

Ralat. Kei tidak jadi berniat menjambak rambut seseorang. Sepertinya membenturkan kepala ke pohon beringin lebih menyenangkan.

"Aku jaga jarak, deh!" bujuk gadis itu cepat ketika Kei dirasa akan menolak. Saki menangkupkan tangannya, sambil matanya memejam, tapi cuma sebelah. Sebelahnya lagi mengintip reaksi Kei. "Aku jamin tidak akan ketahuan. Plis. Beri aku waktu seminggu!"

"Tsk. Terlalu lama."

"Mengingat jalan itu susah bagiku, tau!"

"Akan kubuatkan peta pulang ke rumah."

"Aku nggak bisa baca peta. Dora the Explorer aja aku nggak lulus."

Kei merasa cukup. Cukup sudah kesabarannya. Pemuda itu berbalik, membuat Saki panik ketika melihat pemuda itu memungginya dan beranjak pergi. Tapi tiba-tiba pemuda itu berhenti. Di balik punggung itu, dan di dalam kepala pirang itu, Saki tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi sepertinya tidak akan menguntungkan buat dia.

Hening.

Suasananya udah kaya apa aja.

"Nee. Aku sih tidak masalah kalau kau mau pulang bersamaku."

"Ha? Yang benar?"

Kei hanya berbalik dengan senyum semanis permen Yupi.

'Semoga nggak ada apa-apanya. Semoga nggak ada apa-apanya. Semoga nggak ada apa-apanya.' Saki merapal doa melihat gelagat si kacamata.

"Tapi aku latihan club dulu."

"Oh, o-"

"Sampai malam."

"-ke."

Bola mata Saki membulat.

"Tenang saja. Tidak usah panik begitu, Saki-sama. Cuma sampai matahari terbenam kok. Sampai saat itu kau cari tempat buat menungguku ya."

Kei ingin menepuk punggungnya sendiri dengan bangga saat dilihatnya keringat mengucur bak air mancur di pelipis Saki.

Tadi Kei bilang apa? Sampai malam katanya? Kalau begitu, dia harus menunggu di mana? Sama siapa?

"Oh iya," ujar Kei, masih dengan senyum sejuta Yupi. "Berdasarkan rumor yang beredar, sekolah kita ada hantunya loh. Kalau ketemu titip salam ya. Jaa nee."

Kei lambai-lambai dengan riang gembira ala anak gembala.

Hantu katanya?

Hantu…

Hantu…

Han. Tu.

Wajah Saki pias.

Oh, shit.

Hari kedua setelah mengenal Tsukishima Kei, Kinoshita Saki, kelas 1-4, kembali melakukan pose OTL dengan khidmat.

.

.

.

Sementara itu, alkisah, setelah beberapa hari kemudian, di suatu gym, para pemuda dari SMA Karasuno yang statusnya jomblo semua….

"Oi, Yamaguchi."

Si bocah kurus berambut hitam yang tengah dipanggil, menoleh, dia menemukan sesosok imut berkepala oranye tengah menatapnya.

"Oh. Hinata, toh. Ada apa?"

"Nggak pulang sama Suckyshima lagi?" Si imut menyandar pada pel-pelannya. Sejenak pekerjaan mereka beres-beres gym pasca latihan voli jadi terabaikan.

Yamaguchi tertawa tidak enak, "Bisakah kau hentikan panggilan itu, Hinata? Aku merasa nggak enak mendengarnya, loh."

Gimana-gimana juga Kei kan teman Yamaguchi.

"Ah, maaf, maaf. Soalnya dia kan nyebelin. Seperti….. Yah, kau tahu kan maksudnya."

Yamaguchi senyum, "Tapi kalau kau dekat dengan Tsukki dia tidak seburuk itu kok."

"Bweh," Hinata menjulurkan lidahnya. Jangankan berteman dekat, berdiri sebelahan saja Hinata sudah dipastikan akan jadi bulan-bulanan si kacamata. Apa karena namanya ada unsur 'bulan', dia jadi suka menjadikan orang sebagai bulan-bulanan?

"Bukannya aku menolak jadi temennya, ya….tapi…aaah, sudahlah. Kau kan belum jawab pertanyaanku tadi. Hari ini dia juga pulang duluan kan?"

Yamaguchi garuk-garuk belakang kepala. Kalau dihitung-hitung, ini keempat kalinya Kei tidak pulang bersamanya.

"Ah, kalian juga memperhatikan ya?"

"Iyalah. Kalian kan seperti anak kembar."

"Memangnya mereka kucing? Kembar tapi belangnya beda-beda?" Kageyama sudah ada di samping mereka, tentunya sambil menenteng ember buat kencan dengan lantai dan pel-pelan. Setter Karasuno itu lanjut mencibir, "Boge. Hinata boge."

JLEB!

"Kageyama!" Si imut berambut oranye berteriak, tangannya terkepal-kepal, "Tidak usah sedikit-sedikit mengataiku kenapa, sih? PMS-mu itu sudah berbulan-bulan, tau!"

Hap!

Itu bukan suara cicak makan nyamuk, tapi background Kageyama menerjang Hinata, memegang kedua tangannya, lalu mencoba melakukan penyiksaan anak di bawah umur. Semua dilakukan dalam tempo sesingkat-singkatnya dan dengan tampang sedatar-datarnya. Hinata cuma bisa bertahan di bawah siksaan keji pemuda yang diduga punya bakat antagonis sinetron itu.

"Tapi ngomong-ngomong sih, iya juga, Yamaguchi. Kalau dipikir-pikir kata-kata Hinata benar juga. Beberapa hari ini kau sudah tidak pulang lagi bersama si Sakitshima." Ujar Kageyama sambil tetap pasang tampang sedatar tembok dan melanjutkan sesi S&M-nya bersama Hinata.

'Sekarang jadi Sakitshima, ya? Lagipula pose mereka berdua saat ini kok kayak pose yang iya-iya ya…?' batin Yamaguchi sweatdrop.

"Oi, Kageyama. Singkirkan tubuhmu dariku!"

Kalimat itu kedengarannya aneh deh.

"Eummm. Gimana yah? Soalnya Tsukki bilang dia ada urusan pribadi. Makanya beberapa hari ini dia nggak bisa pulang bareng. Tidak hanya pulang, tapi kita pergi sekolah juga sendiri-sendiri."

Terdengar bunyi "oh!", karena semua terkejut akan penjelasan Yamaguchi, bukan karena nonton film biologi yang bikin pengen praktek, lo ya. Nanti 'oh'-nya beda.

"Sebenarnya aku agak khawatir juga, teman-teman, apa dia punya masalah, ya?" Yamaguchi memegang dagunya sendiri, kalau pegang dagu Kageyama bisa-bisa dia tidak akan bisa melihat matahari terbit lagi besok.

"Oh, itu juga alasan yang diutarakan mantannya kakakku waktu selingkuh, tuh," Tanaka nyelonong dengan pel-pelan tersampir di pundak. Gayanya mirip pembokat.

"Iya. Mantanku juga pernah ngeles kaya gitu terus beberapa waktu kemudian kita putus," Nishinoya menimpali dan mengabaikan alat pelnya. Modus.

Bisa dipastikan jitakan khas ala Sugawara –yang entah muncul dari arah mana- mendarat di ubun-ubun keduanya. Keduanya lalu mengaduh dengan indah.

"Sakit, Suga-san!"

"Habisnya! Kalian bicara yang tidak-tidak!" Sugawara berkacak pinggang, "Sejak kapan kau punya pacar, Nishinoya?"

"Errr.."

"Lagipula Yamaguchi dan Tsukishima bukan maho, tau," ujar Sugawara lagi, kali ini sambil mengerling dengan gaya manis minta dikawinin.

Oh, pasti. Pasti, Sugawara.

Pasti para jejomblowati di luar sana dengan senang hati ingin menikahimu dan mengikatmu di ranjang.

Lupakan kalimat terakhir.

Nishinoya dan Tanaka garuk-garuk kepala sambil berpandangan. Sementara Yamaguchi menghembuskan napas lega. Setidaknya di antara mereka semua masih ada yang waras.

"Tapi iya juga, sih. Tumben-tumbennya kalian tidak sama-sama. Kalian sedang marahan? Apa perlu aku selenggarakan sesi curhat buat pasangan? Sekalian konseling, gitu?"

Wajah senpai berubannya itu sih tulus, ikhlas dan mirip malaikat gitu, cuma kata-katanya sudah menumpahkan darah di hati Yamaguchi.

Dia bukan maho! Harus berapa kali dia bilang?

"Suga-san, aku bukan maho, loh." Yamaguchi menjawab lemah. Pupus deh harapan untuk meluruskan kalau dia masih suka cewek.

"Iya, tau. Tapi apa kamu mau kehilangan Tsukishima?" Sugawara menatap serius tapi omongannya nggak nyambung. Yamaguchi makin cengo.

"Suga-san, tolong dong jangan mengucapkan kata-kata yang ambigu gitu..."

"Tapi Yamaguchi mau kan jadi gay kalau buat Kei!" Nishinoya teriak-teriak di latar belakang.

"Noya-san! Kalimatmu berirama! Sugoi!"

Tanaka dan Noya langsung high five di atas penderitaan Yamaguchi.

"Teman-teman, fokus! Kita harus membantu Tsuki-Yama menghadapi fase krisis mereka!" –ini Sugawara, dengan mama mode on-

"Erm… etto…-" –ini Yamaguchi, dengan terpidana mode on-

"Gabungan nama kalian kaya makanan, Yamaguchi!" Hinata memotong. Dia yang aslinya memang hyperaktif makin semangat dan mulai loncat-loncat kaya ulat.

"Mungkin kau harus bilang 'notice me, Tsukki!'" Ide siapa itu?

"Ng….." Yamaguchi mencoba membantah, apa daya lidah tak sampai (?).

"Notice him, Tsukki!" Tanaka membeo sembari mengacungi jempol. Padahal Kei lagi nggak ada di sana. Dan suasana sudah mirip sekolah TK.

"Teman-teman, dengerin aku sekali saja, dong!"

"Tsukki! Notice me!" –ini Nishinoya yang bicara-

"Tsukki, practice me?" –Kageyama-

"Tsukki, nice serve!" –Hinata (?)-

"Tsukki-"

"CUKUUUUUUP!"

"…."

"…."

Kali ini semua atensi tertuju pada pemuda pemalu itu.

"AKU SUKANYA SAMA YACHI-SAN! BUKAN TSUKKI!"

BRUUUUSSSSH! Yachi keselek dengan gaya yang jauh dari kata 'elegan'.

Lalu hening yang mencekam. Pacar Kageyama alias bola voli jatuh ke lantai. Noya dan Tanaka mangap. Yachi pucat. Dan Yamaguchi sayup-sayup mendengar lagu 'menanam jagung' dinyanyikan oleh entah siapa.

"Eh?" Yamaguchi kedip.

"Eh?" Yachi cengo.

Lalu seolah dikomando, barisan jomblo sejati Karasuno langsung memberi Yamaguchi dukungan dan semangat.

"TOLAK! TOLAK! TOLAK!"

Ah, punya teman setim yang sama-sama belum punya pacar itu kampret banget, memang.

.

.

.

TBC

.

.

.

UGYAAAAH! Selese juga chapter 3 (sebenernya chapter dua dan 3).

Hadoh, Si Kei emang OOC, tapi moga-moga OOCnya nggak nyebelin.

Chapter depan sih udah dibikin, tapi perlu dipoles-poles lagih.

Yosh, I hope you stay tune, minna. And please review. Your reviews are the best. Thank you for reading this. #senyum