Summary: Ibarat permen, Tsukishima Kei itu nano-nano. Pedas, asem, asin, bahkan rasa Tsukuyomi juga ada. Hanya saja, Kinoshita Saki belum merasakan sisi manisnya. Bahkan interaksinya dengan Kei kebanyakan berakhir dengan pose OTL. Semua bermula dari acara pertukaran pelajar yang mengharuskan dia numpang di rumah si pemuda berkacamata, ditambah dengan perkenalan yang tidak bisa dikatakan semulus paha para waifu otaku di Jepang, bisakah Saki bertahan menghadapi si kacamata berlidah tajam dan tidak bunuh diri di dahan pohon kacang?
HECTIC HOURS
Disclaimer: Haikyuu is not mine! HUWEEEE! #Nangis apa ketawa?
Genre: Romance, Humor
Warning: 1. Bahasa suka-suka. Don't expect something too stiff.
2. Some OOC-ness.
Author corner:
HOLAAA! Ketemu lagi ama author yang lagi galau. First of all, sayah mau ngucapin terima kasih banyak buat yang udah alert dan follow fic ini, sama yang udah baca fic ini baik yang silent reader ataupun yang udah review. Okeh, lanjut buat balasan review:
megane-chan: HAAAAAAI! #Senyum. Seneng deh ada yang suka ama fic yg beginian. Abisnya ane lagi mood buat yang komedi. Haha. Yosh, si Yamaguchi tuh sebenernya imut, Cuma seringnya ketutupan sama –badan bongsornya- Tsukki. #dimasukin ke keranjang bola basket. Iya, sih. Interaksi Kei sama Saki masih kurang. Moga-moga chapter ini bisa nambal kekuarangan yang kemaren. Thanks for your feedback. :)
shigatsu-sanjyunichi: Hwaaaa! Makasih udah dikasih double reviews. Iya, memang, chapter 3 absurd. Entah kenapa pengen nyelipin si YamaYachi, sebenernya sih karena lagi suka aja sama di Yamaguchi. Haha. Ini dia apdetannya yah.
Oke, minna. Seperti kemarin. Author mau apdet 2 chapter sekaligus, soalnya author kagak tau dah gimana mecah chapternya. Ya udalah diaplot dua-duanya ajah. Soalnya ngambang sih #apanya?
Osh. Langsung aja kita nikmati tari balet yang akan ditampilkan oleh Kageyama- #digaplok, uhuk, maksud author, let's enjoy this fanfic.
.
.
.
Tiga hari telah berlalu semenjak Yamaguchi jadi bintang reality show gara-gara acara penembakannya ke Yachi. Entah berhasil atau tidak, bisa ditanyakan kepada seorang saksi mata yang namanya enggan disebut. Mohon jangan tanyakan kepada Author, karena Author sukanya bikin fanservice Akiteru, bukan penggemar gossip.
Back to now, saat ini seorang pemuda sedang melenggang dengan santai ke arah perpustakaan SMA Karasuno yang katanya gudang ilmu merangkap tempat pacaran buat murid yang lagi bokek.
Pemuda itu berperawakan tinggi, rambutnya kuning, dan pakai kacamata. Bukan jerapah, lho, tapi Tsukishima Kei.
Si Kei yang biasanya langsung pulang setelah latihan, selama seminggu ini punya tugas baru yang menyebabkannya harus keluyuran di perpustakaan. Sebabnya siapa lagi kalau bukan cewek bernama Kinoshita Saki, yang katanya nggak jago baca peta dan butuh waktu seminggu buat hafal rute pulang-pergi rumah-sekolah.
"Bu guruuuu, jangan pulang duluuuuu!"
"Lepaskan kakiku! Aku mau pulang, tauuu!"
"JANGAAAN! Nanti aku dimakan Sadako! Hari ini aku lupa bawa pisang!"
"Memangnya Sadako itu gorila?!"
Ah, sudah seminggu ini Kei mendengar jeritan keputusasaan Saki. Gadis itu, untuk ukuran orang yang lagi sial, memang beruntung (?), karena menemukan tempat buat berteduh selama menunggu Kei, yaitu perpustakaan yang jadi tempat belajar buat tim science Karasuno, (Saki jadi merasa seperti sandal yang terbuang), sehingga dia tidak harus ditemani oleh hantu sekolah selama menunggu Kei.
Tapi naas, kalau sudah mendekati sore menjelang malam, perpustakaan tentu harus tutup, para pelajar harus pulang, dan sensei penjaga perpustakaan harus kembali ke peradaban. Mana mau Saki ditinggal sendirian? Dan mana mau Kei melewatkan mendengar jeritan keputusasaan seseorang yang telah merebut harkat dan martabatnya (baca: kamar dan kandang mini dinosaurusnya)? Sekalian saja Saki belajar, semakin takut dia, semakin dia harus cepat-cepat buat menghapal rute dari rumah ke sekolah.
Untuk hari ini, Saki sudah terkapar ketika Kei memutuskan buat muncul dan menyelamatkan jiwa dan mental gadis itu.
"Ahem."
Saki menoleh. Wajahnya lalu berubah seputih susu rendah lemak yang suka diminum duo Tsukishima brother waktu mereka balita dulu.
Berdiri di samping pintu masuk perpus, seorang pemuda yang panjang rambutnya nanggung, keritingnya nanggung, dan tampangnya minta di-spike sama Kageyama.
"GYAAAH!"
Tapi Saki gagal mengenali wajah itu, gara-gara senter yang menyorot bagian bawah wajah Kei.
"O-obakeeee!" Jerit Saki sambil mundur dan menabrak meja, mengakibatkan botol minumannya tumbang di atas meja, untung ditutup jadi isinya tidak tumpah kemana-mana.
"Ahahahaha!" Kei menyingkirkan senter yang menyorot mukanya sambil tetap tertawa durjana. "Kau harusnya liat wajahmu, pasti ketawa juga deh." Lalu melanjutkan derai tawa bahagia tanpa dosa itu lagi.
Oh, Kei. Ketawamu polos banget. Serius. Walaupun kau tertawa nista di atas penderitaan orang lain…
Di lain pihak, Saki tentu saja tidak sependapat dengan Author. Dengan napas masih ngos-ngosan, tangan mencengkeram dada buat menenangkan jantungnya yang nggak karuan, Saki ingin sekali menyudahi urusannya dengan pemuda jenius tapi senewen ini. Sudah cukup, mama. Seminggu mereka pulang pergi bareng, tujuh hari berturut-turut pula Kei mengerjai Saki.
Cukup. Cukup. Cukup!
Saki merasakan desakan hasrat untuk berlari ke jendela lalu nyanyi keras-keras:
'But I'm only human! And I bleed when I fall down.' Tapi urung karena masih punya malu.
"Kei," Saki terengah, "Bisa tidak sih, berhenti ngerjain orang?" ujarnya, tangan masih memegang dada. Inginnya sih menenangkan detak jantung, tapi jantungnya masih belingsatan. Kalau bukan karena dia parah banget dalam baca peta dan arah (Saki sampai harus tanya bolak-balik tanya ke orang di jalan buat sampai ke rumah keluarga Tsukishima waktu pertama kali datang), dia tidak akan pernah minta bantuan pangeran bully macam Kei.
Kei nyengir. "Aku bukannya mengerjaimu, Saki-sama. Tadi itu tandanya aku senang berinteraksi denganmu, nee?" Balasnya enteng. Kaki-kaki panjang milik Kei mendekati Saki yang masih bête. Tak lupa kedua tangan berkacak pinggang. Dari radius tiga meter sosok Kei sudah kaya model papan atas yang sedang audisi jadi mami tirinya Cinderella. Ganteng-ganteng tapi kok hobinya nyengir sadis?
Cowok itu melambaikan tangannya dengan malas ke arah Saki, "Perpustakaan hampir dikunci. Ayo, cepat kita pulang. Jangan terus-terusan pegang dada gitu, dong. Nanti tambah kecil loh."
Buku setebal lima ratus halaman menghantam muka Kei dengan tidak mesra.
"Dadaku nggak kecil! Dadamu tuh yang kecil!" Jerit Saki penuh penghayatan.
.
.
.
Dua orang remaja itu berjalan beriringan dalam kesunyian. Sepanjang jalan yang terlihat hanya pematang yang remang-remang. Bulan agak penuh, jadi terangnya lumayan. Waktu Kei dan Saki keluar dari ruang perpus, kloter gagak terakhir lagi teriak-teriak, "Maho! Maho! Maho!" Jadi bisa dipastikan kalau setelah setengah jalan pulang hari akan gelap.
Selama perjalanan ke rumah mereka cuma diam saja. Yang cowok pasang tampang bête, sensi abis setelah digebuk buku yang tebalnya mengalahkan ego Oikawa Toru. Wajah boleh cool, tapi dalam hati Kei menggerutu sampai keriting. Tunggu, Kei kan sudah keriting….
Sementara yang cewek tidak tahu harus berkata apa.
Saki garuk-garuk kepala, cari inspirasi buat ngobrol dengan makhluk jangkung yang aksesorisnya headphone nyangkut di leher ini bisa dikatakan susah, pake banget. Tapi kalau sepi-sepi begini, suasanya lumayan mencekam juga. Magrib-magrib kan dedemit hobi gentayangan. Nggak, dia harus ngobrol. Harus! Tekad Saki sekuat baja.
Setelah tolah-toleh cari bahan pembicaraan, sebuah ide melintas di otaknya.
"Kei." Panggilnya. Yang dipanggil pura-pura tak dengar.
"Namamu kanjinya sama dengan kanji 'hotaru', ya?"
Lagi, Kei terus pasang tampang judes.
"Artinya kunang-kunang, kan?"
"…"
Masih tak ada jawaban.
"Berarti pantatmu bisa nyala, dong?"
CKIIIIT!
"Adududududududuhhhh!"
Akhirnya ada reaksi juga dari si jangkung, tapi bukan reaksi seperti yang Saki harapkan.
"Kei! Tanganmu! Lepas! Penganiayaan! Ini penganiayaan!" tangan Saki menepis-nepis tangan Kei, berusaha melepas jepitan pemuda itu. Sayang, jemari Kei masih gemas mencubit pipi Saki.
'Cewek ini… minta dicium bemper mobil, ya,' Kei membatin secara sadis.
"Keiiii!" Saki merengek, membuat jidat Kei makin nyut-nyutan. Buat Kei, rengekan Saki itu berisik.
Setelah dirasa gadis itu tidak akan berkomentar aneh-aneh lagi, Kei baru melepas capitannya pada pipi Saki.
"Kejam." Gumam Saki sembari mengelus-elus pipinya. Dalam hati Kei timbul hasrat untuk lari kencang dan meninggalkan Saki kebingungan di sini, biar dia tahu rasa. Karena buat dia, yang kejam itu Saki karena menuduh pantatnya bisa nyala.
'Bodoh! Cewek bodoh!' Kei diam-diam ketularan virus diktator Kageyama.
Mereka kembali ke posisi awal. Diam. Tanpa kata lagi. Sampai ke rumah masih sepuluh menitan lagi, dan Saki masih belum kapok. Soalnya diam di jalan itu nggak enak kalau nggak ngobrol. Nanti kalau ada yang tiba-tiba ketawa ala kunti di belakang mereka, gimana dong?
"Kei."
"Hm." Ujar Kei singkat. Wajahnya lempeng dan tangan tersimpan di saku. Saki tersenyum.
Bagus, setidaknya ada tanggapan, walaupun alasan utama Kei menjawab sih hanya karena dia tidak mau Saki membuat pernyataan atau pertanyaan ajaib lagi menyangkut dirinya.
"Kalau latihan voli, selalu pulang malam seperti seminggu ini ya?"
Akhirnya, topik yang normal. Saki merasa lega menemukan bahan pembicaraan yang setidaknya aman untuk dibahas oleh mereka berdua.
"Ya, begitulah."
Kei mendengus, seolah-olah dia jijik dengan apa yang mereka bicarakan.
"Timku gila voli. Bahkan mereka terobsesi dengan permainan ini. Yang paling tidak masuk akal lagi, timku bercita-cita masuk ke pertandingan voli antar sekolah menengah tingkat nasional. Buang-buang waktu saja."
Mulut Saki sedikit ternganga, karena ini adalah kali pertama dia mendengar Kei menyuarakan apa yang ada dalam kepalanya. Memang benar, pemuda itu bicara seolah dia sedang mengejek teman setimnya, yang merupakan hal yang sangat wajar untuk seorang Kei. Diam-diam Saki sering memperhatikan kalau Tsukishima Kei memang suka memprovokasi orang, dan mengutarakan pendapatnya yang sinis dan pahit bukanlah hal yang tabu buat Kei. Tapi keunikan dari seorang Kei, dia juga seseorang yang tidak mudah ditebak. Saki tidak tahu bagaimana ia berpikir dan bagaimana ia memandang sesuatu hal. Dari interaksinya selama beberapa hari pun, Saki menemukan kalau orang-orang lain di sekelilingnya juga kesulitan memahaminya. Pengecualian buat keluarganya, tentunya. Namun dari cara dia bicara tentang kegiatan klubnya barusan, Saki bisa merasakan kalau pemuda absurd ini seolah menyuarakan isi pikirannya walaupun cuma secuil.
"Uh….bukannya kau suka dengan voli?" gumam Saki lagi. Kepalanya menunduk mengamati kakinya yang bersepatu sedang menyusuri aspal.
Dari sudut bola mata Kei, tampak gadis itu sedang berpikir. Alisnya sedikit bertaut dan mulutnya agak mengerucut. Cowok berkacamata itu menyeringai.
"Suka dengan voli?" Aduh, suara mengejek itu lagi. Saki jadi eneg.
'Mulai lagi deh sinis-sinisannya.' Buat Saki, seminggu tidak akan cukup untuk membaca seorang Kei, tapi setidaknya dia bisa hafal nada mengejek pemuda itu, yang biasanya tidak akan menguntungkan buat dirinya. Ini sebenarnya hanya self-defence mechanism milik Saki.
"Memangnya dari mana kau bisa menyimpulkan hal itu?" sambung Kei lagi, sambil tetap melirik gadis mungil berambut dikuncir di sebelahnya. Sementara yang dilirik hanya mengendikkan bahu.
"Habisnya Kei tinggi, sih."
"Lalu?" Pemuda itu kali ini menatap lurus. Bosan. Jawaban tipikal.
Berikan aku sedikit kejutan dan hiburan agar perjalanan ini lebih menyenangkan. Kalau Kei bicara, pasti dia akan mencibir Saki dengan kalimat barusan.
"Di rumah ada ring dan bola basket. Kalian sering main basket juga kan?" Sambung Saki, juga sambil menatap lurus. Bicara sambil menatap mata Kei melelahkan jiwa dan raga. Dia kan tinggi, capek kalau Saki harus mendongak terus.
"Dan?" pemuda itu malah bertanya balik dengan malas, tapi Saki mengerti kalau Kei mengiyakan pertanyaannya secara tidak langsung.
"Tapi kau tetap memilih klub voli."
Tidak ada bantahan ataupun konfirmasi apapun dari kesimpulan Saki barusan. Perjalanan mereka kembali sunyi seperti di awal. Merasa diabaikan, Saki memilih menyerah, mengusir jauh-jauh keinginan untuk kembali bercakap-cakap.
Di sisi lain, Kei juga bungkam sembari memasang wajah datar dan bosan, namun sekali diliriknya gadis yang kadang-kadang menghela napas yang menemaninya sepanjang jalan pulang.
'Orang berdarah panas dan berisik seperti Hinata dan Kageyama memang menyebalkan.'
Cahaya bulan berlompatan di sela-sela awan, suara burung malam sesekali ditingkahi desau angin.
'Tapi orang seperti dirimu-'
Suara gemerisik di semak-semak membuat Saki melongokkan kepalanya dengan takut-takut, sementara bola mata emas mengikuti gerakan gadis itu dalam diam dari balik frame kacamata.
'-bisa merepotkan buatku.'
"Tsk."
Ah, di hari terakhir mereka pulang bareng pun, Saki masih mendengar bunyi decakan kesal dari bibir Kei.
.
.
.
TO BE CONTINUED
(NEXT CHAPTER IS UUUUP)
