Summary: Ibarat permen, Tsukishima Kei itu nano-nano. Pedas, asem, asin, bahkan rasa Tsukuyomi juga ada. Hanya saja, Kinoshita Saki belum merasakan sisi manisnya. Bahkan interaksinya dengan Kei kebanyakan berakhir dengan pose OTL. Semua bermula dari acara pertukaran pelajar yang mengharuskan dia numpang di rumah si pemuda berkacamata, ditambah dengan perkenalan yang tidak bisa dikatakan semulus paha para waifu otaku di Jepang, bisakah Saki bertahan menghadapi si kacamata berlidah tajam dan tidak bunuh diri di dahan pohon kacang?
HECTIC HOURS
Disclaimer: Haikyuu punya Furudate Haruichi.
Genre: Romance, Humor
Warning: 1. Bahasa suka-suka. Don't expect something too stiff.
2. Cara penuturan simple. Don't expect something too flashy #nangis di pojokan.
2. Some OOC-ness.
.
Author corner:
Seperti yang author janjikan. Ini adalah chapter 5, setting masih di rumah keluarga Tsukishima. Ah… it took me so long to write this. I hope the result meet your expectation. Hiks…hiks… moga-moga nggak ngecewain reader.
Okay. Enjoy :)
.
.
Malam menjelang makan malam. Saki dan Kei sampai ke rumah dengan selamat. Dua-duanya telah melewati hari yang lelah. Untuk Kei lelah secara fisik, secara latihan ala pelatih Ukai benar-benar level Goku dengan mode Saiyan. Masa latihan voli aja persiapannya menyiksa fisik dan kokoro, memang lawannya Herkules?
Sedangkan untuk Saki, dia lelah mental. Lelah karena harus menghadapi fobia hantunya tiap sore. Sebenarnya itu bukan salah siapa-siapa, sih.
"Aku pulang!/aku pulang." Yang satu berseru dan yang satu mengucap salam dengan nada 'do' dipukul rata. You know who, lah, masing-masing itu siapa.
"Ah, kalian sudah pulang. Makan malam hampir siap loh," Sambut sang wakil presiden di rumah Tsukishima. Senyum mengembang dari bibir Megumi, kepalanya menyembul dari balik pintu sambil menenteng sendok sayur. Bau rempah dan sayur tercium dari arah dapur.
"Bibi masak? Habis mandi aku bantu yah!" seru Saki. Dengan semangat empat lima dilepasnya sepatu dan tas sekolah yang menggayuti pundaknya.
"Oh? Saki-chan bantu-bantu lagi? Boleh, boleh. Punya anak cewek enak ya, tiap hari ada yang bantuin masak."
Saki nyengir lebar. Untung ibunya selalu membangunkannya pagi-pagi setiap hari dan rajin memaksanya ke dapur walaupun kadang-kadang perannya hanya sebagai figuran yang tugasnya memotong-motong sayur. Pas dia menumpang di rumah keluarga Tsukishima jadinya Saki merasa tidak canggung untuk membantu pekerjaan rumah.
"Kau mau mandi? Mimpi. Aku duluan." Kei melenggang dengan gaya sok iye ala tokoh antagonis di dorama Turkiye.
"Eh?"
Saki menampakkan wajah ala anak anjing yang terluka di hadapan Kei. "Lalu aku nggak boleh mandi gitu?"
"Nanti saja setelah aku mandi," putus Kei ketus sambil lepas sepatu. Positif sudah, Kei tertular virus judes dan pedes raja voli alias Kageyama.
"Tapi nanti kelamaan. Kei kan kalau mandi harus luluran dan mandi kembang!"
'Njir. Kok dia tau?'
"Sudah, jangan bertengkar," sebuah suara menginterupsi pertengkaran nggak penting di sore hari itu. Kei dan Saki menoleh. Berdiri di pintu masuk dapur, Akiteru setengah menyandar pada bingkai pintu sambil memandang cowok dan cewek yang kucel abis itu. Kayanya Akiteru merasa dua juta tingkat di atas dua remaja ababil yang belum mandi itu. Coba bandingkan dengan Kei dan Saki, Akiteru kan penampilannya rapi, baru mandi, baunya wangi karena sudah pakai minyak telon dan bedak bayi. Siap untuk dicium para fujoshi.
Oke, yang terakhir itu absurd.
"Kalian kan bisa mandi bareng."
"Saran apaan itu?!" Dua remaja baru puber itu teriak tak terima.
"Tuh, kan, kalian kompak." Akiteru malah tertawa inosen.
.
.
.
Tsukishima Akiteru bukanlah pemuda yang jenius seperti adiknya. Akiteru juga bukan orang yang punya bakat menonjol seperti Kiseki no Sedai. Tapi untuk urusan membaca karakter orang, Akiteru jauh melampaui kemampuan orang rata-rata. Apalagi kalau menyangkut adiknya.
Selama dia berinteraksi dengan manusia, baik yang normal maupun aneh, Akiteru sudah melihat berbagai watak orang. Terkhusus adiknya yang terajaib dan tercinta, buat Akiteru, Kei adalah orang yang paling absurd yang pernah dia kenal –untuk level anak SMA yang baru mengalami pubertas-.
Kei itu orangnya bisa dikatakan agak mbulet. Di satu sisi dia pintar, tapi mulutnya sering mengatakan hal yang bodoh. Bodoh bagi Akiteru karena dalam kasus kebanyakan, Kei lebih sering membuka mulutnya untuk menarik kemarahan orang. Seringnya, sikapnya ini membuat dirinya terpisah dari orang-orang sebayanya. Akiteru curiga, tidak, dia yakin, bahwa kondisi ini sengaja diciptakan oleh Kei. Motifnya apalagi kalau adiknya itu memang bukan penggemar kegiatan aktifitas sosial. Fesbuk saja dia masih numpang.
Tapi Akiteru punya firasat kalau keadaan ini tidak akan sama.
"Bibi, sausnya kurang pedas, ya?"
Akiteru melirik gadis yang berdiri di samping ibunya. Rambut bergelombangnya diikat tinggi dengan pita kuning emas.
Ya. Kinoshita Saki. Kalau Kei adalah orang yang sering mengatakan hal yang –menurut Akiteru- bodoh, maka Saki adalah orang melakukan sesuatu yang bodoh, lalu menyesal kemudian. Sikapnya dari luar terlihat apa adanya. Namun, bahkan belum seminggu gadis itu di sini, Akiteru tahu bahwa mata hijau Saki terlalu cerdas untuk orang yang culun dan ceroboh.
Sepintas, mungkin Akiteru terkesan menyimpulkan kalau Saki adalah orang yang munafik atau setidaknya manipulatif. Tapi tidak. Akiteru tidak sedikitpun berpendapat begitu. Saki, menurut penilaiannya, hanyalah menurut pada nalurinya yang impulsif. Namun demikian, gadis itu memiliki kemampuan pengamatan yang lumayan, kalau tidak bisa dikatakan bagus. Akiteru memiliki perasaan, beri gadis itu sedikit waktu, dengan cara dia bersikap, dan dengan kemapuan observasinya, maka dia akan bisa menembus 'pertahanan' Kei.
"Makan malam siap!" Megumi mendeklarasikan berita ini dengan suka cita. Saki ikutan senyum-senyum bahagia. Habis lapar, sih. Setelah meletakkan berbagai makanan di meja, masing-masing ambil tempat duduk masing-masing.
Plop!
Megumi duduk di sebelah Akiteru. Entah sengaja entah tidak. Yang pasti, komposisi kursi yang cuma lima mengakibatkan Megumi dan Akiteru duduk di satu sisi meja, sementara Kei dan Saki di sisi meja yang lain. Yang tersisa adalah kursi kepala keluarga yang ada di sisi meja bagian tengah, yaitu kursi milik kepala keluarga Tsukishima yang tidak boleh diduduki meskipun pantat sedang ambeien dan hanya kursi itu yang tersisa. Berani duduk di situ, kompor melayang ke muka.
Akiteru tersenyum. Dadar telur di meja terlihat menggoda. Pemuda itu mengambilnya tanpa menghiraukan adiknya dan Saki yang kini duduk bersebelahan dan mengeluarkan hawa-hawa listrik yang mengancam pemandangan dan ketenangan meja makan.
"Aku makan duluan ya." Ujarnya riang. Yang menjawab hanya ibunya.
Sebaliknya, Kei dan Saki lagi sibuk cemberut, saling lirik dan melengos seperti anak SD lagi rebutan lahan buat malakin adik kelas. Tapi Akiteru tidak melewatkan tatapan menilai yang mereka lemparkan pada satu sama lainnya.
'Ah, ya. Saat dunia dua orang ini bertubrukan, kelihatannya akan seru.'
"Nee, Saki-chan, tiap hari pulang sama Kei, ya?" Akiteru membuka pembicaraan. Tangannya tetap sibuk mengoperasikan sumpit mengambil makanan di meja. Yang ditanyai tangannya sedang OTW ke arah dadar telur di tengah meja.
TAP!
Duh! Ternyata ada sepasang sumpit yang juga berusaha meraih telur dadar itu. Kabar buruknya, sumpit itu punya Kei.
'Apa? Sekarang dia jadi rivalku juga di meja makan?!' dua-duanya berpikiran hal yang sama. Ketidakkompakan mereka benar-benar kompak.
Listrik bertebaran di sepenjuru dapur. Akiteru jadi kepikiran buat bikin generator listrik biar mereka nggak usah bayar PLN lagi. Tapi Saki keburu sadar diri, sebelum ruang makan ini meleduk, akhirnya Saki mengalah. Batal deh makan dadar gulung. Kei juga gengsi. Ditariknya kembali sumpitnya yang sempat bertabrakan dengan Saki. Akhirnya Megumi yang ambil. Yah…. Trio muda-mudi di meja makan itu memandang kecewa.
"Eum… iya, kak Aki. Tiap hari pulang sama Kei. Berangkatnya juga kok." Saki melanjutkan percakapan yang tertunda.
"Kalau gitu Saki juga ikut Kei latihan voli?" sambung Akiteru lagi. Kali ini dia ngincar terong.
"Nggak juga sih."
"Loh?" Sang sulung Tsukishima menunjukkan tampang heran. "Kalau gitu Saki nunggu di mana? Kenapa tidak ikut ke gym? Kan sekalian bisa dapet teman baru."
"Mhmmh… gimana ya?" Saki berpikir. Makanan jadi terlupakan deh. Sepintas, dia merasa ragu-ragu melontarkan alasannya. Masa buka aib anggota keluarga yang sudah menumpanginya makan dan tidur? Kan nggak etis. Tapi Kei tampaknya cuek-cuek saja tuh. "Habisnya ada yang judes, sih." Sungutnya akhirnya. Lirikan kesal ditujukan ke Kei.
"Makasih pujiannya," Kei menjawab sambil senyum sejuta warna. Megumi dan Akiteru sweatdrop. Anak yang satu ini nggak beres, apa ya?
"Kei, jangan-jangan kau yang melarang Saki-chan buat liat latihan klub voli ya?" tuduh Akiteru, gayanya serius pakai gebrak meja makan segala.
"Nggak, kok. Kakak jangan langsung ambil kesimpulan, dong." Kei menjawab santai. Alisnya terangkat satu, "Dia sendiri yang nggak mau ikut ke gym."
'Heh….' Senyum Saki yang tadinya manis jadi asem. 'Ada yang pinter ngeles rupanya. Siapa yang sebelumnya bilang nggak mau kelihatan bareng aku?' Gerutuan Saki dala hati udah kaya ibu-ibu.
"Eh? Saki-chan yakin nggak mau lihat latihan voli? Rugi, loh." Megumi turun tangan, baik dalam pembicaraan maupun dalam perebutan terong dengan Akiteru. Multitasker yang luar biasa, ibu ini. Karena yang dilawan adalah ratu di rumah ini, Akiteru terkapar, terong berpindah tangan.
Saki mengerjapkan mata, "Rugi? Memangnya ada-apa di sana, Bibi?"
"Kau nggak tau?"
Geleng.
"Begini ya, Saki. Kau tahu kan seragam voli pria?"
Angguk.
"Tau kan model celananya?"
"Celana pendek?" Saki menjawab lugu tapi ragu-ragu.
"Tepat!"
Saki terperanjat karena garpu yang diacungkan Megumi hampir mental. Perasaan, Saki makan buat hidup, deh, bukan buat mengalami simulasi medan perang.
"Artinya cuma satu. Paha! Paha di mana-mana!" Satu kalimat diucapkan dengan tenang, kalimat lainnya diucapkan dengan semangat menggelegar, tak lupa kaki Megumi pakai nangkring di atas kursi yang diduduki Akiteru. Kokoro ketiga anak muda yang saat ini sedang bersama Megumi berasa diping-pong dari Seoul ke Pyong-Yang.
"Bu, tolong normal sedikit, dong." Keluh Kei. Tangannya menutupi muka, facepalming. Cuek-cuek begitu Kei juga masih punya malu. Bagaimana dia bisa survive di keluarga yang kelakuannya abstrak begini, tanyakan saja pada perut yang bergoyang.
"Saki nggak mau lihat paha mulus Kei?"
Hah? Apalagi ini?! Kei tersedak. Muka Saki merah kalap, sekalap seafood rebus.
Njir.
"Jarang-jarang loh, liat Kei pakai hotpants," Akiteru ikutan manas-manasin.
Njiiiiirrrr.
Ini ibu sama kakaknya lagi ngapain, sih?!
"Kak, mati sana." Kei akhirnya jadi adik durhaka.
.
.
.
Saki menghela napas pasrah. Dia sekarang sedang tergeletak tak berdaya di atas kasur di kamar –sementara-nya. Udara panas menyergap, kamar sudah mirip sauna dan keringatnya mengucur kaya kran jebol. Musim apa sih ini?! Saki membanting daun jendela, dan disuguhi pemandangan dua kucing lagi tindih-tindihan.
Oh, musim kawin.
Anjrit.
Saki kembali menutup jendelanya yang telah menghantarkan mata Saki ke dunia remang-remang para kucing. Malam ini dia kesulitan konsentrasi belajar. Padahal besok ada quiz sejarah Jepang.
"Haduh, hafalan…." Bukannya usaha, Saki malah mengerang sambil guling-gulingan di atas kasur.
Tema hafalan memang paling tidak disukai Saki. Dia lebih ke tipe eksakta, Saki hapal sesuatu kalau sesuatu itu menarik untuk diingat. Mengingat tanggal-tanggal lahir personel boysband Misdirection kesukaannya, misalnya. Jangan tanya, Saki langsung nyerocos tanpa harus liat contekan.
Biasanya untuk membantunya menghafal, ada teman sekaligus saingannya sedari SD yang namanya Karin. Cewek genit berbadan bohai itu biasanya yang membantu Saki menghadapi segala macam pelajaran hafalan dengan berbagai metode yang aneh, (Karin pernah mengajari Saki sejarah restorasi Meiji dengan cara nonton bareng Rurouni Kenshin. Dan berhasil.) Tapi semuanya selalu diawali dengan Karin menjelaskan konsep dan garis besarnya dulu ke Saki, baru menjelaskan detailnya.
Sekarang, setelah di Miyagi, Saki yang gila hitungan dan konsep kehilangan teman curhat, teman buat main dan belajar, dan rival buat perang bantal. Mau telepon tapi pulsa menipis. Mana kemarin-kemarin Karin habis nonton Iko Uwais di bioskop, lagi. Star Wars, bo. Saki kan sudah nunggu berbulan-bulan buat nonton tuh film. Hanya dan hanya jika Iko yang membintanginya.
"Tapi gak usah nonton, deh. Iko-nya cuma keluar dikit, gak sampe setengah menit. Kesel aku."
Saki tambah muntab mendengar info dari WA Karin yang dikirim beberapa waktu yang lalu. Masa Iko cuma keluar sebentar?! Cuma tiga puluh detik kurang?! Itu apa-apaan?! Aktor pujaannya kan harusnya diberi time slot yang lebih banyak! Bakatnya itu orisinil, gilaaaa!
Sial! Sial! Sial!
Saki nyumpah-nyumpah semoga sempak-sempak beterbangan di jalanan.
Oke, dia mulai OOT. Pokoknya kalau ekspekstasi dan reality nggak nyambung ya begini ini jadinya. Ditambah lagi cuaca panas, besok ulangan sejarah yang dia belum nyambung betul konsep dasarnya, badan lengket karena keringatan, nggak bisa liat Kei latian voli pakai hotpants-
Hayo loh. Kok pikirannya malah ke Kei…?
Ngomong-ngomong tentang Kei…
Saki kembali membuka jendela kamarnya. Dia lalu melempar sepasang kucing tadi dengan karet gelang biar nggak bikin ribut dengan ritual kawin mereka. Please, deh, kucing, cari kamar kek, pikirnya sinis.
Dasar pikiran orang jomblo…
Jangankan melihat orang lain, melihat kucing pacaran aja Saki nggak sudi.
Gadis itu lalu melongok ke bawah. Untunglah posisi kamarnya yang di lantai dua memungkinkannya bisa melihat kegiatan di halaman rumah, tempat di mana dua kakak beradik Tsukishima sedang asyik main voli.
Aneh.
Kalau Akiteru, sih, sudah pasti terang-terangan mendeklarasikan cinta matinya sama bola voli warna-warni itu sehingga bela-belain latihan sampai malam. Tapi, Kei? Dia latihan rutin aja ogah-ogahan, kok bisa-bisanya masih latihan setelah lewat jam makan malam begini?
Senyum Saki mengembang. Kalau bukan Akiteru yang minta, pasti Kei akan memilih untuk mengunci diri di kamarnya. Meski sering bersikap sinis, sadis, dan apatis (?), sikap Kei yang patuh dan sayang, bahkan cenderung mengidolakan kakaknya, di mata Saki itu manis.
"Kei, receive-mu masih saja jelek. Ayo, dong. Semangat dikit latihannya. Sudah dibilang kan, kalau nerima bola tuh, pinggang diturunin."
"Ini udah diturunin."
"Apanya? Kolornya? Ish, kok bisa jadi regular, sih?"
"Kak. Tega bener. Ini adikmu, loh, yang lagi dibicarain."
Saki nyengir lebar mendengar percakapan dua bersaudara itu, tapi Saki tidak bisa menahan tawanya waktu melihat muka Kei yang cemberut. Persis seperti anak SD yang dihukum kepala sekolah. Saat Kei mendongak untuk mengetahui siapa yang sudah seenaknya menertawakannya, tawa Saki sudah habis, hanya tersisa senyum dari gadis itu yang tengah memandang ke arah mereka. Dengan ekspresi netral, Kei melihat wajah bulat telur nan ramah yang dibingkai dengan helai rambut hitam berponi sedang melongok ke halaman di bawah sorot sinar bulan, wajah itu adalah wajah yang sama dengan wajah gadis menyebalkan yang sudah membuat moodnya terasa asam beberapa hari ini. Tapi kali ini Kei menemukan dirinya tidak bisa marah dan terus memandang ke sosok yang kini masih tersenyum kikuk.
Yah.
Sekalipun sudah mentertawainya, Kei merasa wajah itu tidak menyimpan sifat jahat atau sinis, kok. Malah gadis itu, saat tersenyum seperti sekarang, dia kelihatan imu-
"Duh, yang lagi jatuh cinta. Semuanya dicuekin. Kakakmu masih di sini loh."
Malam itu Akiteru menerima toss dengan jidatnya. Entah Kei sengaja atau tidak.
.
.
.
Kei mengidolakan kakaknya. Saking ngefansnya dia, Kei menempatkan kakaknya itu sebagai superhero nomor satu yang akan Kei telepon kalau ada invasi alien dari planet Pandora. Kei juga benar-benar sayang dan hormat kepada Akiteru. Kalau bukan karena Akiteru, Kei tidak akan semahir ini main voli. Yah, walaupun kakaknya juga sering bawel kalau mereka lagi latihan.
Tambahan lagi, kalau bukan karena influence kakaknya, Kei tidak akan tergila-gila pada dunia dinosaurus dan dunia jaman purba di mana pakis jadi tanaman primadona di seluruh dunia. (FYI, Kei tidak pernah menyesali hobby garis miring obsesinya itu)
Tapi Kei juga bisa kesal sama kakaknya. Iya, Kei bisa sebal juga ke Akiteru yang manis, super baik dan gentleman itu. Sebabnya apalagi kalau bukan karena kakaknya itu merengek ditemani latihan sampai larut malam. Mau menolak nggak sampai hati. Tapi kalau diterima dia jadi super duper kecapean sampai rasanya mau tepar seperti ini. Kei kan sudah latihan bareng teman klub volinya yang punya moto 'bertahan selama mungkin di arena'. Nah loh. Motonya aja udah keras kepala kaya gitu. Latihannya juga pasti gila-gilaan.
Kei tidak akan menekuk mukanya dan menggerutu panjang pendek dalam hati seperti sekarang kalau besok tidak ada quiz. Heran, semingguan ini kerjaannya ngedumel dalam hati melulu. Kei jadi khawatir kena penuaan dini. Apalagi hari ini, rasanya melelahkan sekali, badannya capek, energinya habis. Paling enak kalau kencan bareng bantal guling di kasurnya. Tapi dia kan harus belajar buat besok.
Kei berjalan gontai ke arah kamar mandi sembari memijit pundaknya dengan setengah merana. (Iya, si Kei itu kalau sedang tidak di depan publik suka lebay sendiri.) Cowok itu lalu gosok gigi sebentar, cuci muka pakai pembersih muka punya ibunya, habis itu kembali melanjutkan ritual berjalan gontai ke arah kamar.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika Kei membuka pintu kamar. Disetelnya alarm jam empat pagi. Percuma belajar sekarang, lebih baik dia beristirahat dan bangun pagi lalu mencoba belajar subuh dini hari nanti.
Puas dengan pemikirannya, Kei berjalan pelan ke kasur, melepas kacamata, yang dilanjutkan dengan meregangkan badannya sembari mengerjapkan mata. Direbahkannya tubuhnya yang penat setelah sebelumnya melepaskan kaos yang dikenakannya. Tak lupa dia menarik bantal dan guling untuk penopang tubuhnya yang lelah untuk tidur, hanya untuk tersadar kalau yang ditariknya bukan guling, melainkan pinggang ramping seorang gadis.
Mata Kei yang tadinya terpejam mengantuk kini terbelalak.
Seolah ditampar oleh titan collosal dari fandom seberang, Kei tersadar bahwa kini dia sedang berhadapan dengan seraut wajah yang sedang memejamkan mata karena sedang terlelap. Napasnya lambat dan teratur, berhembus hangat di wajah Kei yang jaraknya tak seberapa dengan gadis itu. Tampaknya Kei baru mengetahui kalau dia sedang berbaring di tempat tidurnya, alias tempat tidur yang seharusnya adalah miliknya tapi sudah dipindahtangankan kepada Saki oleh ibunya. Kakinya pasti refleks melangkah ke arah yang dikenalnya, tapi kenapa musti di saat seperti ini?!
Shit.
Belum sembuh Kei dari kagetnya, mata yang tadinya mengatup milik gadis itu terbuka.
Shit!Shit!Shit!Shit!Shi-
Tubuh Kei serasa disiram air es. Bibirnya mengatup tegang, pundaknya yang kelelahan ikutan tegang. Kei positif beku di tempat dan hanya bisa memperhatikan ketika otak Saki sedang loading.
Keringat kini mengucur dari dahi Kei. Sebuah senyum kikuk yang hanya akan hadir di bibir Kei ketika gerhana bulan purnama kini tengah nangkring di bibirnya saat Saki mengerjap dan mulai sadar, lalu mengernyit, lalu terbelalak, lalu-
Kei akhirnya bisa buka mulut, "Aku bisa jelas-"
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!"
Kei hanya bisa mengutuk refleksnya yang tumben-tumbennya lambat.
.
.
.
TBC
.
.
.
Uwaaaah! Adegan ranjang! A-Author nulis adegan ranjang! #mimisan #pingsan.
Okeh. Author akui kalau ini benar-benar OOC. Yeah, I can not help it. Author Cuma pengen liat si Kei kelabakan sehabis melakukan adegan nista.
Kei: Oi. Aku nggak nista.
Author: Jangan protes dengan muka datar gitu! Sekali-kali belajarlah dari Kageyama! Milih susu kotak aja mukanya kaya orang sembelit!
Kageyama: OI! Mukaku nggak gitu!
Author: Tapi kamu cakep kok.
Kageyama: Oke. Dimaafkan.
Kei: Pffft. Murah banget harga dirimu, nak.
Kageyama: Kau mau mati, haaaa?!
Author: Kok Kageyama malah mirip Tanaka, sih. Yasudahlah. Tinggalkan mereka yang lagi rebutan kacang ini pemirsah. Please review yaaa #senyum. Your reviews are the best mood setter for me. Arigatou.
