Summary: Ibarat permen, Tsukishima Kei itu nano-nano. Pedas, asem, asin, bahkan rasa Tsukuyomi juga ada. Hanya saja, Kinoshita Saki belum merasakan sisi manisnya. Bahkan interaksinya dengan Kei kebanyakan berakhir dengan pose OTL. Semua bermula dari acara pertukaran pelajar yang mengharuskan dia numpang di rumah si pemuda berkacamata, ditambah dengan perkenalan yang tidak bisa dikatakan semulus paha para waifu otaku di Jepang, bisakah Saki bertahan menghadapi si kacamata berlidah tajam dan tidak bunuh diri di dahan pohon kacang?
.
.
HECTIC HOURS
Disclaimer: Haikyuu is not mine. It belongs to Haruichi Furudate.
Genre: Romance, Humor
.
.
This chapter is dedicated to Shigatsu-sanjyunichi-san, reviewer setia yg nggak pernah absen review Hectic Hours, hiks-hiks, love you so maaach. Author harap chapter ini bisa lebih heboh dari yang kemarin, tapi entahlah. Kaya kurang pede gituh. (Author puk-puk diri sendiri. #Emang bisa?). So, tanpa nungu-nunggu lagi lah, 6th chapter of Hectic Hours, mangga disantaaap.
.
.
.
Saki merapatkan selimut yang melingkupi tubuhnya. Kalau suasananya normal, dia tidak akan sudi menyentuh selimut motif t-rex warna kuning ngejreng itu, apalagi menyampirkannya ke tubuhnya rapat-rapat, bikin tambah keringetan aja. Tapi saat ini kondisinya sedang tidak normal, otak Saki malah mengirimkan sinyal bahaya. Semuanya gara-gara satu orang, yang dalam kondisi tersialnya telah memeluk Saki dalam tidur.
Wajah Kei saat ini seperti orang yang habis keselek acar. Asam.
Sudah capek, badan rasanya hampir remuk, masih ditambah dengan harus menerima tuduhan dari gadis yang paling dihindarinya di seluruh Miyagi.
"Sudah kubilang, aku tidak sadar kalau aku ke sini." Kei menekankan kata tidak sengaja. Sudah ketiga kalinya dia menjelaskan hal tersebut kepada Saki. Hasilnya sama saja, gadis itu masih tidak percaya. Buktinya, Saki tidak mau menurunkan penggaris yang diacungkannya ke muka Kei. Lagian kok ada penggaris saat Saki harusnya belajar sejarah Jepang?
"Kau pikir aku bodoh?! Terus buat apa kau telanjang begitu?!" Saki benar-benar murka. Lihat saja tangannya yang gemetaran. Jangankan dipeluk, dipegang lelaki selain kakak dan ayahnya saja Saki jarang mengalaminya. Paling banter cuma salaman.
"Aku tidak telanjang." Bantah Kei, khas dengan tampang datar dan intonasi tripleknya.
"Jangan memotong pembicaraanku!" Saki teriak. Siapa yang tidak akan bereaksi seperti Saki, coba, kalau bangun-bangun dia sudah dalam posisi yang iya iya dengan lawan jenis.
"Tes…" Saki gemetaran. "Aku mau tes keperawanan-"
"OI! Ngapain pakai tes keperawanan segala?!" Potong Kei sambil teriak OOC.
Jidatnya mulai dinodai tiga siku-siku melihat Saki makin parno.
"Aku buka baju karena panas. Kau juga tidur cuma pakai singlet, kok."
Wups! Kei baru sadar kalau pemilihan katanya benar-benar amat salah waktu melihat wajah ketakutan Saki berubah jadi pucat lalu berubah lagi jadi merah padam.
"D-DASAR HENTAIIII!" Suara Saki melengking. Kei takjub orang rumahnya tidak ada yang bangun dengan jeritan bernada setinggi itu.
"Shhhh! Pelankan suaramu!" Asli, Kei mulai panik. Dia tolah-toleh antara Saki dan pintu, kalau ibunya mendengar, kesalahpahaman ini bukannya akan menjadi jernih, tapi pasti tambah kusut masalahnya. Ibunya kan suka banget sama gossip, bahkan kalau gosipnya menyangkut anaknya sendiri. Salah, kata-kata yang benar adalah apalagi kalau menyangkut anaknya sendiri. Semoga Kei tidak kualat karena meragukan ibunya sendiri.
"Katakan apa yang sudah kau lakukan padaku! Tadi kamu pegang-pegang kan?! Kan?! Kaaan?!" Saki nodong langsung. Kehormatannya dipertaruhkan, nih.
"Haaa? Kau bercanda? Mana mau aku- OI! Jangan lempar-lempar seenaknya!" Kei panik sembari menghindari barang-barang yang dilemparkan Saki. Eh, apa itu tadi be-ha?
Oh, jadi Saki sukanya yang motif polkadot.
Oh….
'Kei, fokus.' Kei jadi ingin jitak diri sendiri.
"Berisik!" teriak Saki. Tangan terkepal kesal.
"Aku tidak tertarik dengan yang begituan!" bantah Kei.
Saki mendelik, "Bohong! Bodyku kan perfect!"
"Pfff- ADUH!" Kei masih sempat –dengan bodohnya- tertawa mendengar bantahan Saki, tapi keburu dilempar botol Mijon. Muka Saki memerah lagi. Entah terhina, entah tak terima.
Gadis itu menjerit lagi, "Jangan ketawa!"
"KAU MAU AKU BAGAIMANA?!"
Saki tersentak. Teriakan Kei barusan bukan hanya kasar, tapi juga terdengar lelah. Pundak cowok itu naik turun terengah. Apa karena marah? Saki bertanya. Kalau marah kenapa dia terlihat pasrah begitu? Pikir Saki lagi. Tanpa sadar kemarahan miliknya sendiri surut, dan keinginannya untuk menuntut kejelasan pupus.
Di hadapannya, Kei berkacak pinggang, menatapnya dalam diam. Tatapan yang diperolehnya itu beda dengan tatapan yang diberikan Kei selama Saki menginap di sini. Tatapan itu mirip tatapan pelari yang sudah mencapai garis finish tapi terlambat. Kelelahan dan pasrah. Apalagi cowok itu lalu meraba pundaknya sendiri dan menekannya seperti atlit yang baru selesai bertanding. Ah, ya. Kei kan latihan keras sepulang sekolah. Ditambah lagi harus meladeni kakaknya yang lumayan eksentrik.
"Aku hanya terlalu lelah, sehingga tidak memperhatikan kemana aku melangkah." Kei buang muka, tapi Saki masih bisa melihat kalau alis cowok itu berkerut.
"Mungkin kakiku refleks menuntunku ke kamar ini. Lagipula aku benar-benar mengantuk, jadi aku tidak memperhatikan sekeliling." Ucapan yang tadinya terasa tidak masuk akal di kuping Saki itu kini terasa pas.
Cowok itu menatapnya lagi, seolah meminta pendapat Saki atas penjelasannya. Kei gigit bibir, mau menambahkan kata 'maaf' tapi suuulitnya minta ampun.
Gengsi, sih.
Keki, sih.
Malu juga, sih.
Jadinya dia bingung deh.
Tapi fokus Saki bukan itu lagi sekarang. Karena dengan melihat muka kusut Kei, Saki tiba-tiba merasakan sesuatu pada pemuda itu. Rasanya seperti… empati… atau mungkin juga kasihan. Sepertinya alasan Kei cukup masuk akal. Tenaga Kei sudah terforsir dan pikirannya tidak bisa fokus sehingga tanpa sadar dia menuju ke tempat yang dikenalnya: kamar ini, yang memang sebenarnya masih milik Kei. Saki juga merasa ada perasaan 'klik' tentang alasan Kei sering bertingkah menyebalkan ketika bersamanya.
Cowok ini mungkin saja pintar, cerdas, dan ahli strategi. Tapi untuk urusan tertentu, cowok paling bungsu di keluarga Tsukishima itu adalah cowok paling to the point yang pernah Saki temui. Kombinasi yang aneh memang, tapi semuanya berhubungan, kok. Jadi buat apa dia sembunyi-sembunyi kalau mau macam-macam? Buat apa juga dia mau macam-macam, toh Kei menunjukkan kalau dia tidak tertarik dengan kontak fisik. Kebiasaannya mencerminkan hal tersebut. Saat ada orang lain dia akan memilih jarak aman saat berinteraksi. Dan dari gerak-geriknya dia adalah tipe orang yang sangat menjunjung yang namanya personal space.
Kei itu kompleks tapi juga sederhana. Kadang bisa membingungkan juga. Biasanya Saki akan gamang saat berhadapan dengan hal yang membingungkan. Tapi tidak dengan cowok ini. Tidak dengan cowok cerdas tapi sedikit kekanakan yang sudah mengkonfrontirnya masalah kepemilikan kamar di awal mereka bertemu dulu ini. Tidak dengan cowok blak-blakan yang memakai jalan memutar untuk menghindarinya ini. Tidak dengan Tsukishima Kei.
Menimbang karakternya itulah, Saki jadi yakin kalau Kei berkata yang sebenarnya.
Tawa terdengar dari mulut Saki, membuat Kei menoleh dengan tatapan 'what-de-f-?'. Mula-mula tawa itu hanya tawa kecil, lama-lama Saki tak canggung-canggung cekikikan tengah malam. Awalnya Kei bengong juga dengan tingkahnya, tapi lama-lama ia tak ambil peduli. Masalahnya sepertinya selesai, ya, sudah.
Kei mendengus. "Kalau aku sudah berhasil menghiburmu, baguslah."
Tawa Saki berhenti dan digantikan dengan senyuman. Tapi senyumnya hilang waktu melihat tubuh polos Kei. Dada yang bidang, serta tarikan otot yang terlihat jelas waktu cowok itu bergerak, mengembalikan kesadaran Saki kalau….. Kei tidak pakai baju.
Cewek itu refleks mengalihkan pandangan.
Aduh…
Kok pipinya tiba-tiba hangat? Jantungnya juga deg-degan. Memandang Kei saat ini jadi terasa susah. Ini gawat…
Kei melangkah ke kasur, mengambil kembali kaosnya yang tergeletak. Begitu tubuhnya tertutupi, Kei melangkah ke pintu.
Tahu kalau dia akan pergi, Saki refleks memanggilnya, "Tunggu." Saki menggigit bibir, suaranya terdengar lebih gugup dari yang ia inginkan.
'Ayolah, bukan saatnya buat malu-malu.' Gadis itu memejamkan mata. Sepertinya saat ini adalah saat yang tepat untuk memulai segalanya dari awal lagi. Kalau dia mau hidup tenang di rumah ini, dia akan melakukannya: dia akan berusaha membaca pola apa yang ingin digambar oleh cowok ini, dan mungkin suatu saat nanti mereka akan bisa berdamai.
"Huh?" Kei mengerjap ketika Saki menyusulnya ke arah pintu, dengan wajah menunduk pula.
"Kau tidurlah di sini."
Buat Kei, sungguh sulit untuk melawan refleks mengangkat alis saat ini. "Huh?" Lagi-lagi cuma itu yang keluar dari mulut Kei.
"Aku tidak mau tidur berdua denganmu." kata Kei akhirnya. Tampangnya kelihatan seratus persen ogah, matanya saja semalas mata Garfield. Tapi bibirnya tergelitik buat mengeluarkan cengiran waktu pipi gadis itu bersemu merah.
"Aku juga tidak mau tidur denganmu. Siapa bilang kita tidur bareng?" Saki menjawab cepat, pipi masih menyala ala petromaks. "Tukar kamar. Aku di kamar tamu," jelasnya lagi. "Memang tempatku seharusnya di situ, kok."
Kei hanya bisa melihat kala Saki melangkah keluar kamar dan menghilang di balik pintu. Sebenarnya Kei ingin mencegahnya, tapi tidak keburu karena gadis itu sudah menutup pintu. Pemuda itu akhirnya hanya bisa mengangkat bahu saat pandangannya tertumbuk pada kasur yang seminggu ini tidak ditidurinya.
Kalau gadis itu menghendaki tukar kamar, ya, tukar saja. Kadang-kadang Kei bisa juga berpikir simple, kok. Dia sih senang-senang saja mendapatkan kamarnya kembali walau cuma semalam.
Namun saat dia berpikir akan menemukan perasaan familiar ketika dia merebahkan diri di atas kasurnya, Kei salah besar. Karena faktanya saat nyaman dan empuk kasurnya terasa sama, Kei mencium wangi yang di satu sisi familiar, tapi di sisi lain juga berbeda.
Kei kenal wangi ini: wangi sabun dan lotion yang disediakan oleh ibu mereka di kamar mandi, tertampung dalam wadah besar, untuk konsumsi seluruh anggota keluarga. Ibunya bahkan membelikan yang ukuran kecil buat ayah mereka sehingga bisa dibawa-bawa saat kerja dan dinas ke luar kota.
Wangi ini, wangi keluarganya. Wangi Satsuma.
Gadis itu pasti memakai sabun dan lotion itu dalam jumlah yang lumayan karena wanginya sampai menempel samar di kasur ini. Namun sekalipun produknya sama, entah kenapa rasanya ada yang lain. Mungkin karena berasal dari dirinya, dan bercampur dengan harum tubuhnya. Harum Satsuma yang biasanya segar rasanya lebih inosen di kamar ini…
Mata Kei terpejam, lebih rapat dari biasanya karena dia mencoba tidur. Aneh. Padahal dia lelah, kenapa nggak tidur-tidur juga? Pasti karena aroma Satsuma yang satu ini sedang membelai penciumannya, menajamkan kembali ingatan akan sepasang mata dengan bulu mata lentik, serta paras lembut gadis yang tidur menghadap ke arahnya beberapa menit yang lalu, gadis yang sempat Kei tarik dan peluk pinggang rampingnya…
Dada Kei berdesir… kencang.
Tunggu dulu.
Pemuda itu terduduk, bengong sejenak. Dikerjap-kerjapkannya mata emasnya untuk memperoleh kesadaran penuh. Kerongkongannya tiba-tiba kering.
Tidak.
Dia tidak mungkin membayangkan hal itu. Kei merapatkan bibirnya dengan skeptis.
Tidak! Tidak! Tidak!
Kei tidak mungkin membayangkan Saki dengan cara 'seperti itu'. Ini pasti karena efek kelelahan yang dideritanya.
Kei merubuhkan tubuhnya kembali ke tempat tidur, berharap lelap menyergap. Sayang, wangi Satsuma kembali tercium. Wangi yang samar tapi cukup untuk menggelitik memori di otaknya. Bayangan Saki yang membuka mata hijaunya kembali terputar, lengkap dengan rambut panjangnya yang bertebaran di bantal, dan bibinya yang membentuk garis tipis, serta pundak gadis itu yang hanya tertutupi oleh helai hitam rambutnya…
…polos…
Kei menutup mukanya dengan bantal sampai hampir tidak bisa bernapas.
'Sialan!' runtuk Kei. 'Hormon sialan!'
.
.
.
Sementara itu, di gelapnya malam, dua sosok misterius sedang berbincang serius di suatu tempat yang (kayanya) misterius juga.
"Tidak kusangka perkembangannya akan seperti ini." Sesosok bayangan, tampaknya wanita, usia kira-kira awal empat puluhan, sebut saja Bunga, tampak tersenyum di dalam sebuah kamar yang gelap. Karena lampu dipadamkan, hanya terlihat siluetnya di gelapnya malam. Salahkan imajinasi author yang dicekoki Detective Conan sehingga membayangkan sosok itu adalah manusia hitam.
"Tapi, bukankah perkembangannya cukup bagus?" sergah sosok lainnya. Kali ini yang bicara adalah laki-laki, usia awal duapuluhan, tinggi, dan ganteng. Tau dari mana kalo ganteng? Kan tadi katanya badan dan tampangnya item? Cuma firasat author, kok. Oh, ya, sebut saja sosok itu: Kecambah, karena usianya yang jauh lebih muda dari Bunga.
Bunga menoleh kepada Kecambah, "Oh, kau juga memperhatikan, ya? Sepintas perkembangan mereka terlihat menggembirakan. Tapi jangan lupa, mereka belum sedekat yang kita harapkan. Sudah seminggu berlalu tapi mereka masih jaga jarak. Sekalipun Target Satu dengan beruntungnya nyasar ke kamar Target Dua, tapi itu hanya kebetulan. Kita mungkin tidak akan menemukan keberuntungan semacam itu lagi di beberapa waktu ke depan. Tugasmu adalah memastikan kalau hubungan mereka bisa lebih dari ini."
"Baik, Hokage."
Nah loh, Bunga jadi Hokage sekarang.
"Tapi untuk itu aku memerlukan kewenangan untuk berbuat lebih leluasa."
"Dikabulkan. Asalkan tidak membahayakan nyawa Target Satu dan Target Dua. Mereka masih dibutuhkan untuk melanjutkan keturunan. Sekarang kalau kau mengerti, pergilah."
Si kecambah mengangguk dan menyeringai, "Aku mengerti."
Lelaki tersebut berbalik dan meninggalkan ruangan. Di balik pintu, sosok itu tampak jelas sedang senang. Soalnya wajahnya tersenyum dan langkahnya ringan, malah kadang-kadang waktu dia jalan ke kamarnya sempat-sempatnya loncat kecil.
Bulan bersinar, menimpakan cahaya pada rambut coklat dan sepasang mata dengan warna senada yang lebih terang, yang ternyata adalah milik…. Tsukishima Akiteru.
(…)
(…)
Loh, kok readers nggak kaget?
Ah, sudahlah.
Akiteru bersiul riang. Untuk kali ini, prospek uang sakunya tidak akan jadi dipotong dan akan adanya rapelan mencerahkan wajahnya lebih dari kosmetik pemutih wajah manapun. Asik!
"Kei, maaf ya." Akiteru senyum nista, "Tapi nanti kamu juga akan seneng, kok."
Hayoloh, Kei. Kalau Akiteru udah senyum agak sarap gitu bahaya loh.
…Mungkin…
….Author kok labil.
.
.
.
To be continued
.
.
.
Author corner:
Oooooosssuuu!
Hai, minna-san! Genki desu kaaa?!
Ini chapter enam udah uploaded, gimana menurut minna-san?
Anehkah? OOCkah? Kayanya iya deh.
Sebenernya ini udah jadi concern saya dari awal, kalau Kei emang saya buat OOC, tapi entah kenapa ya, kadang-kadang ngerasa deg-degan gitu tiap dan chapter selalu saya tanyain. Hadeuh.
Anyway, untuk hubungan antara Kei dan Saki kali ini moga-moga nggak ngelonjak terlalu cepat ya. Ini baru babak awal aja di mana Kei dan Saki nyadar kalau 'Oh, ternyata elo okeh juga'. Wkwkwkwkw.
Author sih nggak ingin progressnya terlalu cepet, tapi nggak mau terlalu lama alias slow build juga.
Moga-moga paslah, nggak kerasa awkward.
So, how do you think, minna-san? Review, please. Kalo nggak direview author nangis loh. #lagi-lagi anceman gak mutu ini yg keluar.
Osh, until the next chapter.
