HECTIC HOURS

Disclaimer: As much as I want Haikyuu! To be mine, it is imposibbru! #pundung di pojokan.

Genre: Romance, Humor.

Warning: referensi Kuroko no Basket di beberapa tempat, if you now, tell me #wink wink.

.

.

.

a/n:

Hai, minnaaaaaa! Genki desu kaaa?

Osu. Akhirnya sempet juga ngepos chapter 7 ini. Maaf ya lama, soalnya real live lagi sibuk banget, apalagi sempet sakit juga, hiks, gara-gara begadang nonton Haikyuu! Hyper Projection secara streaming.

UWOOOO! Minna-san udah nonton belum stage play-nya?

Kalau belum nonton cepetan nonton deh. Seruuu!

Apalagi castnya, heran deh, nemu di mana ya bisa pas kaya gitu. Apalagi yang meranin Kageyama, Oikawa, sama Tsukki. KYAAAH! Perfect! Kanpeki! SUGOOOOOIIII! #Dilempar mangga.

Anyway, saatnya jawab salam cintah dari reviewer.

Keumcchi-san: Halo, salam kenal. Senang kalau fic ini bisa menghibur Keumcchi-san. Hayuuks, mampir di fandom ini. Masih sepi, kok, moga-moga tambah rame. Btw suka Kuroko juga ya? Aku jugaaaa! #gak ditanya. Thanks udah review ya, Keumcchi-san. Moga-moga betah baca fic ini.

Enamel Illyane-san: Salam kenal Ename Illyane-san, thanks udah nyempetin review di fic ini. Jadi kita sama-sama suka paha Kei, nih. #woi!. Wkwkwkw. Anyway, maaf untuk penyebutan Author dan readers di fic ini kalau udah bikin nggak nyaman. Terima kasih saran dan masukannya. #bungkuk hormat.

Shigatsu-sanjyunichi-san: My lovely revieweeeer, as always you always make my heart goes BWAH and GWAAH and BAM! (#Kageyama: Oi, jangan niruin gaya ngomong gue!). Eh, iya juga ya, kalau Kei gitu-gitu buat muasin 'rasa ingin taunya' ke Saki gimana donk? (#WOI! Inget rating, woi!). Wkwkwkwkwk.

Thanks a lot for the review, minna-san. Your feedbacks make me excited, banget-banget. Dan itu pula yang bikin saya semangat ngelanjutin ini fic. Tanpa banyak kata, here it goes: chapter 7.

.

.

.

Saki memandangi punggung itu dengan intens. Yang sedang dilihat tidak merasa. Ya, pastilah. Saki kan duduk di belakangnya, mana dia tahu kalau sedang dipelototin sama seorang cewek.

Sudah beberapa hari berlalu dari insiden salah kamar itu. Tetapi Kei bersikap seolah tidak ada apa-apa. Kepala Saki menunduk.

'Memang tidak terjadi apa-apa, sih.' Saki cemberut. Iya, sih tidak terjadi apa-apa. Kei memang cuma salah kamar, salah tempa tidur, dan setelah itu… udah.

Selesai. Salah paham kelar.

Tapi masalahnya adalah setiap Saki melihat Kei, dia jadi ingat momen ketika dia membuka mata dan yang terlihat adalah mata emas Kei… dan wajahnya yang berjarak tidak sampai lima centi dari wajah Saki. Belum lagi tangannya yang hangat memeluk pinggangnya. Di atas kasur, pula.

Pokoknya, buat Saki hal itu adalah hal yang besar. Biar saja logikanya mengatakan kalau dia lagi lebay. Kalau ini masalah logika, tentu peristiwa dengan Akiteru akan lebih meninggalkan bekas di otaknya. Secara Saki melihat Akiteru top and bottom less alias nude to the max. Apalah itu istilahnya, pokoknya artinya Akiteru bugil. Sedangkan dengan Kei, Saki merasa insiden itu berbeda. Salahkah kalau Saki merasa kalau situasinya dengan Kei itu lebih intim?

Saki tidak mau minta pertanggungjawaban atau apa. Memangnya dia hamil di luar nikah? Atau Kei tidak sengaja membunuh Farrel dan Raisa, misalnya? Nggak. Saki hanya berharap bukan hanya dia yang suka salting sendiri, atau teringat peristiwa itu di waktu-waktu yang random. Sama sekali tidak!

Saki cuma berharap kalau bukan hanya dirinya yang terpengaruh oleh hal tersebut. Nyatanya, Kei malah bersikap biasa.

Saki kan jadi merasa kaya remaja labil nan alay yang malu-maluin diri sendiri.

Saki menghela napas berat. 'Kayanya aku memang lagi labil. Kuso.' Batinnya mellow.

Kelas hari ini ribut, seperti biasa. Tapi kali ini ributnya alasannya bukan karena yang biasa. Sekarang adalah pelajaran bahasa Inggris. Bisa seribut apa, sih, pelajaran bahasa Inggris? Kalau pelajaran Biologi okelah, soalnya kan bisa lempar-lemparan mikroskop. Atau mungkin menakut-nakuti teman pakai preparat. Kalau bahasa Inggris kan hitungannya aman. Walaupun sebenarnya bisa juga lempar-lemparan kamus…

Jangan ditiru ya, pemirsah.

"Minggu depan kita bikin bedah buku, ya. Jadi nanti kalian pilih buku. Temanya bebas. Asal jangan manga hentai."

Seorang murid cowok mengacungkan tangan.

"Ecchi boleh nggak, bu?"

"Cari mati, ya?" Jawaban bu guru langsung membuatnya hatinya hancur berkeping bagai remahan roti. "Oke, lanjut. Pokoknya kalian pilih yang menarik buat kalian. Nanti kalian presentasikan di kelas: apa yang membuatnya menarik, apa tema dan bahasannya, apa yang menonjol, apa kelemahannya, dan lain sebagainya. Dalam presentasi itu harus ada laporannya, berarti laporan itu harus jadi dulu. Kalian kerjakan per kelompok ya. Per kelompok dua orang. Terserah kalian mau berpasangan dengan siapa. Sekarang bukan jamannya kawin paksa, jadi kalian tentukan pasangan kalian sendiri."

'Yang terakhir bu guru ngomong apa sih?' semua murid mikirnya spontan kompakan.

"Saki-chan, mau ngerjain bareng aku nggak?"

Saki menoleh cepat waktu suara lembut itu berbicara padanya. Kirimoto Nadeshiko, cewek kalem yang duduk di sampingnya menatapnya dengan senyum sayu. Saki langsung berbinar mendengar tawaran itu.

"Mauuuuu. Kalau sama Nade-cin aku mauuu."

"Ah, untunglah. Kirain Saki-chan udah punya kandidat lain." Nadeshiko tersenyum girang, tapi tetap dengan cara yang anggun.

"Nggaklah. Aku juga mau minta Nade-cin buat jadi partner aku, kok." Saki berkata cepat. Dia tidak berbasa-basi dalam mengatakannya. Nadeshiko adalah teman pertamanya di Karasuno. Plus, sekalipun kepribadian mereka bagaikan langit dan bumi, tapi hobi mereka sama: anime, dorama, sama boysband Misdirection. Itulah yang menyatukan mereka berdua. Kalau lagi ngomongin anggota boysband satu itu, semuanya terasa damai buat Saki. Tak ada perang maupun perpecahan, dan semua orang hobinya sama yaitu mengejar kupu-kupu di taman berbunga nan indah.

Apadeh.

Nadeshiko meletakkan telunjuknya di dagu, "Kalau gitu kita cari literaturnya di perpus pas jam sejarah, yuk. Hari ini katanya sejarah kosong."

"Yuk." Saki mengangguk, "Kayanya perpus punya stok buku yang menarik deh. Kemarin-kemarin aku nemu lumayan banyak loh."

"Wah, enak dong kalau begitu. Oh ya. Nanti bikin laporannya di rumah aku atau rumah Saki-chan?"

Tanpa disangka, Saki diam. Nadeshiko terus terang heran. Sekalipun baru kenal kurang dari sebulan, Nadeshiko selalu terbiasa dengan Saki yang lincah dan ceria. Dia cuma anteng pas pelajaran dan quiz. Kok sekarang sepertinya mikir berat?

"Hei…" sapa Nadeshiko lembut. "Kenapa?"

"Oh, nggak kok." Saki senyum. "Buat laporannya… di perpus aja gimana? Atau kalau kemalaman kita kerjakan di rumah masing-masing atau di rumah Nade-cin, nanti kita bisa berangkat bareng dari sekolah. Itu… kalau Nade-cin tidak keberatan."

Nadeshiko tersenyum. Dia selalu tersenyum. Itu sudah menjadi kebiasaanya sehingga dia kadang tidak tahu hal itu diperlukan atau tidak, ataukah dia melakukannya sepenuh hati atau palsu. Tapi saat melihat Saki sedikit terbebani seperti saat ini, Nadeshiko menampakkan senyumnya yang tulus.

"Tentu saja nggak," senyumnya makin lebar. "Lagipula kita kan bisa sambil liat koleksi poster Misdirectionku. Aku punya banyak loh. Yang Kise Yuuta sendirian juga ada loh. Saki-chan suka kan?"

Saki tertawa lega. "Oke deh. Nanti sekalian aku bawa yang Yaoimine Daiki deh ya, buat Nade-cin."

Kedua gadis remaja itu melanjutkan kembali perbincangan yang sekarang tidak ada hubungannya dengan proyek bahasa Inggris lagi. Di depan mereka, Kei menatap apatis ke jendela di luar kelas. Dia tidak perlu repot mencari partner proyek kelasnya. Yamaguchi sudah menawarkan diri, dan Kei bersyukur dia tidak perlu memikirkan masalah teknis proyeknya. Dia dan Yamaguchi sudah kenal cara kerja satu sama lain, bagi-bagi tugas dipastikan akan lebih mudah.

Yang jadi fokus perhatian Kei sebenarnya bukan masalah itu, bukan juga pemandangan di luar jendela. Sebenarnya dari tadi dia sedang asyik mendengarkan perbincangan kedua cewek di belakangnya. Bahkan dengan detail, soalnya mereka berisik. Lebih tepatnya salah satu dari mereka yang berisik. Kei bahkan sempat-sempatnya mencibir dalam hati waktu mereka bicara masalah boysband apalah itu.

Telinganya menangkap suara mereka yang bicara dengan antusias, terutama cewek yang suaranya lebih nyaring. Kei baru sadar kalau gaya bicaranya lucu. Seperti mendengar suara seiyuu sedang mengisi suara animasi. Kadang rendah, kadang tinggi, tapi seringnya dengan bersemangat berapi-api.

Sangat hidup.

Begitu tulus dan polos.

Tapi beberapa detik sempat terdengar suara gadis itu merendah, bahkan terkesan terbebani saat akan menjawab pertanyaan temannya tentang di rumah siapa mereka akan membuat laporannya.

Alis Kei berkerut.

Pedui amat kalau cewek itu kedengaran agak sedih. Kei juga tidak ambil peduli kalau cewek itu bingung.

Masa bodoh, lah.

Atau setidaknya itu yang dikatakannya pada dirinya sendiri.

Terutama saat cewek itu suka bertingkah bodoh saat salting sendiri. Kei tahu kalau cewek itu masih teringat peristiwa memalukan beberapa hari yang lalu. Tapi bisa nggak sih, Saki bersikap biasa? Soalnya mau nggak mau Kei jadi ingat kebodohannya sendiri yang asal masuk kamar. Imagenya kan jadi rusak. Apalagi kalau mengingat dia yang susah tidur setelah Saki meninggalkan kamarnya.

Malu-maluin. Bener-bener, deh. Memangnya dia cowok labil yang kelebihan hormon, apa?

Sama seperti Saki, cowok pirang itu hanya bisa menghela napas.

"Oh, ya, class." Bu guru bahasa Inggris tadi kembali mengumpulkan perhatian anak-anak didiknya yang sebagian besar ribut.

"Bu Misa sedang berhalangan hadir karena ada acara dengan pacar, ahem, maksud ibu, orang tuanya, jadi hasil ulangan sejarah kalian dititipin ke ibu. Yang namanya dipanggil, maju ya. Yamaguchi!"

Satu per satu murid-murid maju untuk menuai apa yang mereka tanam dan menghadapi penghakiman mereka. Apakah mereka akan dapat nilai seratus dengan dua angka nol yang berbinar, ataukah cuma telor ceplok garing yang nangkring di pojok kertas jawaban?

Pokoknya situasinya horor, deh. Meskipun katanya ini adalah college prep-class, jangan sangka kalau isinya jenius semua. Mereka semua cuma manusia yang kadang suka males kalau harus nge-date sama buku tebal. Lihat saja. Ada yang nangis sesenggukan karena dapet kursi dibalik, alias empat. Ada juga yang menari-nari di atas penderitaan temannya yang dapat empat tadi. Ada yang masa bodo dan merobek-robek kertas ulangannya gara-gara dapat nilai seratus. Bosan karena keseringan, katanya.

Orang kaya gini pantes ditabok.

Saki terus terang deg-degan dan hampir melompat waktu namanya dipanggil. Dengan terburu dia maju untuk menyongsong hasil kerjanya, pakai acara kepentok pojokan meja, lagi. Padahal dia terhitung langsing. Heran.

Delapan puluh. Angka itu tersenyum manis kepada Saki ketika mata jernih cewek itu menerima hasil quiz. Senyum mengembang. Yah, lumayan. Hasil melototin guru sejarah tiap mata pelajaran sejarah berlangsung dan belajar sampai malamnya terbayar juga. Cuma dia agak khawatir dengan statusnya sebagai murid pertukaran pelajar. Walau hasilnya tidak jelek, dia tidak ingin membuat kecewa sekolahnya kalau hasilnya nggak ekstra ordinary begini. Dia kan ingin membanggakan sekolahnya, harusnya dia bisa dapat lebih.

Saki mengerucutkan bibir sambil mengerutkan jidat. Pening. Kakinya berjalan sambil matanya masih melototin kertas ulangan. Sampai jidatnya menabrak sesuatu yang solid dan hangat. Kaget, Saki mendongak, mendapati mata emas tengah menatap ke bawah, ke arahnya. Mungkin karena terkejut, dada Saki mendadak deg-degan mendapati sosok tinggi itu begitu dekat dengannya.

Ya. Pasti karena terkejut.

Ah, sial. Sepertinya dia tidak dengar waktu tadi nama Kei dipanggil.

"Maaf," Saki berdehem, kakinya mundur selangkah. "Aku tadi nggak liat Tsukishima-kun." Ya, untuk di sekolah, Saki pakai 'Tsukishima-kun' mode. Sama dengan Kei yang memilih memanggilnya 'Kinoshita' dan bukannya 'Saki-sama'.

Yang dimintai maaf hanya diam sambil memandangi Saki dengan ekspresi yang tak teridentifikasi. Saki mengharapkan Kei akan melengos lalu cepat pergi karena memang Kei suka bersikap cuek, karena itu mata Saki membulat kaget ketika cowok itu malah maju, berdiri di belakangnya dengan jarak yang dekat… sangat dekat hinggi dadanya menyentuh punggung Saki. "Dapat berapa?" Kei melongok ke kertas ulangan Saki, menundukkan kepalanya hingga sejajar dengan wajah gadis itu.

Dekat… Dan Hangat.

Begitu hangatnya hingga Saki merasa wajahnya terbakar. Peristiwa beberapa hari yang lalu melintas lagi di kepala Saki.

"Lumayan," komentar Kei pelan. Tapi Saki dapat mendengarnya dengan jelas. Rambut pirang Kei menggelitik pipi gadis itu. Dan jika Saki menoleh, bibir mereka akan berhadapan.

Sesuatu dalam dada Saki seolah merekah.

Tidak. Tidak! Ini tidak sedang terjadi! Saki menjerit dalam hati.

Kelas sedang ribut, suara para murid hiruk-pikuk. Tapi Saki merasa suara itu tidak ada apa-apanya dengan gemuruh jantungnya yang memenuhi telinganya. Semuanya cuma karena tubuh Kei yang menyentuh ringan punggungnya, dan suaranya yang lirih dan lembut di telinganya.

Saki baru sadar kalau dia sedang menahan napas ketika Kei beranjak ke meja guru untuk mengambil kertas hasil quiz. Tanpa tahu kalau cowok itu meliriknya dengan senyum, atau mungkin seringai kecil dengan wajah puas.

'Bagus.' Kei ketika melirik wajah bersemu Saki yang sedang menunduk, 'Sekarang skor kita satu sama, Saki-sama.' Batin Kei ketika melewati kerumunan para siswa.

Ini balasan Kei karena mengingatkannya pada peristiwa memalukan itu setiap Saki salah tingkah di hadapannya.

.

.

.

Percikan air dingin mengguyur muka Saki tanpa ampun. Sambil melihat pantulannya sendiri di kaca, Saki terengah. Ya, habisnya dia bolak-balik mengguyur air ke mukanya sendiri, sih. Pastilah megap-megap.

Saki menatap sepasang mata hijau yang menatapnya balik. Berantakan banget. Poninya jadi basah deh. Nanti kalau orang yang naksir dia memergokinya sedang kacau begini bisa-bisa orang itu ilfil. Emang ada yang naksir Saki, gituh? Yah, walaupun Saki sendiri tidak tahu, dia mencoba optimis.

Hufff. Saki menghembuskan napas. Heran. Akhir-akhir ini sering banget dia menghembuskan napas panjang. Kaya nenek-nenek aja.

Cukup.

Cukup sudah ababilnya. Saki memicingkan matanya. Dia masih punya mata pelajaran yang harus dia taklukkan. Masih ada teman-temannya di Tokyo sana yang belum sempat main bareng lagi. Masih ada konser boysband yang belum dia cari tiketnya. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Cukup.

Cukup sudah dengan Kei. Memangnya dia naksir cowok itu? Nggak kan? Kebetulan aja dia mengalami insiden yang kalau di Shoujo Manga tuh bikin perasaannya sebagai anak gadis yang suci, lugu, dan masih perawan meletup-letup nggak karuan. Tapi hanya sebatas itu. Lebih, tidak.

Cewek itu bersidekap. Enaknya kalau lagi labil gini ngapain ya?

"Mmmhh…" Saki bergumam. Kalau di sekolahnya yang asli kan dia termasuk cewek yang sibuk. Sibuk ribut dengan Karin tentang siapa yang paling ganteng di drama Belahan Dada Kak Rahman, sibuk karaokean sama keluarnya kalau weekend, sibuk main sekalipun itu hanya main domino, sibuk mancing, juga sibuk latihan panahan sepulang sekolah. Bahkan kadang dia suka menggantikan Karin jadi manager klub basket kalau teman baiknya itu lagi sakit sehabis begadang karena telpon-telponan sama pacarnya yang di luar kota.

Saking seriusnya Saki berpikir, dia tidak sadar kalau sedang ada sepasang mata hitam sedang menatapnya.

"Lagi mikir apa?"

"Uwah!" seru Saki. Habisnya tiba-tiba ada suara muncul di sebelahnya. Untung yang menyapanya tadi bukan cewek berbaju putih yang suka ketawa lenjeh pas malam jumat.

"Kaget ya?" cewek itu bertanya kalem. "Maaf."

"Ng-nggak. Eh, iya. Nggak apa-apa kok. Abisnya tadi aku melamun, sih," Saki mengaku sambil nyengir malu. Apalagi yang bertanya tuh cantik dan anggun. Saki ngomel dalam hati, kenapa sih cewek selain dirinya tuh kalem-kalem dan anggun? Jadinya kan Saki merasa kebanting. Bagai anak curut disandingkan dengan putri keraton, gituh.

"Lagi sibuk karena nggak ada kerjaan di luar kegiatan sekolah?" tebak cewek misterius itu telak.

"Eh?" Saki menatap takjub. "Kok tahu?"

"Habisnya kamu tadi bergumam sendiri, kamu bilang 'cari kegiatan sampingan' atau semacamnya gitu." Cewek cantik itu menjelaskan. Saki ber'oh' panjang.

"Kamu kelas berapa?" tanya cewek itu lagi, kali ini dengan senyum ramah mengembang. "Kok nggak pernah keliatan di toilet?"

Ya. Pertanyaan itu wajar karena toilet adalah tempat paling strategis di seluruh penjuru sekolah. Toilet adalah pusat informasi. Toilet adalah pusat gosip. Kalau pemirsa bikin search engine, namailah search engine itu dengan 'toilet'.

"Kelas satu. Aku murid pertukaran pelajar. Makanya aku baru akhir-akhir ini main di toilet."

Toilet juga tempat hang out paling beken se-Karasuno.

Cewek itu mengangguk. "Kamu lagi nggak ikut klub apa-apa, kan? Gimana kalau gabung sama klub aku? Aku sedang cari asisten manager."

Mata Saki berbinar mendengar tawaran itu, "Benar? Nggak apa-apa, tuh? Klub apa memangnya? Basket? Baseball?"

Lawan bicara Saki merasa senang dengan semangat Saki, "Datang aja ke gym abis sekolah. Pokoknya seru, deh. Kamu mau menerima tawaranku dan gabung sama klub kami kan?" Kata cewek itu lagi dengan nada ramah, sedangkan tangan kanannya yang tersembunyi di belakang punggung membentuk tanda silang.

"Oh, siap. Kalau jadi asisten, sih, aku bisa. Oh, ya, kenalkan. Aku Kinoshita Saki." Saki mengulurkan tangan.

Cewek cantik itu membalas jabatan tangan Saki, "Aku Shimizu Kiyoko."

Kiyoko yang stoic itu lalu tersenyum senang. Satu misi telah selesai.

.

.

.

Saki benar-benar ingin pulang, sekarang. Di hadapannya, di bawah hamparan net voli, terlihat para cowok remaja dengan celana pendek menggantung. Saki teringat pembicaraannya dengan Megumi minggu lalu.

Paha.

Paha di mana-mana.

Di antara para pemain bola voli remaja itu, berdiri cowok pirang dengan tinggi paling menjulang sambil memunggungi pintu masuk. Karena paling tinggi, makanya celananya keliatan paling pendek. Padahal sebenarnya sama aja. Cuma kakinya itu loh, jenjang banget. Saki mati-matian menahan untuk tidak memelototi sepasang paha mulus itu lebih dari dua detik.

'Oke, jangan mimisan. Jangan mimisan. Jangan mimisan.' Saki kembali merapalkan mantra nggak jelas.

Cewek itu merasa kecut. '…Harusnya aku tahu kalau Kiyoko-san itu manager voli. Asemasemasem!'

Saki melirik ke Kiyoko yang tadi menyambutnya di gym. Berharap kondisi ini bisa dianulir. Otak Saki mulai sibuk mencari celah untuk melepaskan diri dari posisi ini. Secara hukum kan posisinya sebenarnya kuat. Nggak ada hitam di atas putih. Nggak ada materai. Nggak ada saksi. Kesepakatannya itu disetujui atas dasar suka sama suka (?) dan atas kebodohannya sendiri. Tapi melihat wajah bahagia penuh harap dari manager tim voli itu rasanya Saki sungguh tak tega.

"Semuanya. Kumpul dulu!" Seorang pria berambut pirang yang disinyalir adalah pelatih tim voli putra, memberi titah. Otomatis saat mendengarnya, para cowok yang sedang latihan ala Spartan langsung nurut dan berkumpul di satu titik di pinggir lapangan.

Berpasang-pasang mata kini menatapnya dengan berbagai macam ekspresi.

Ada yang loncat-loncat kesenengan. Ada yang melotot seperti kucing melihat ikan asin.

Ada yang menggumam nggak pake titik koma: 'Siapa dia? Apa dia bisa main voli? Apa dia setter? Apa sekarang posisiku mau diganti? Sehebat apa dia? Apa aku kasih arsenic aja? BANTAIBANTAIBANTAIBANTAI!'

"Kageyama! Dia itu cewek. Ini kan tim voli cowok. Mana mungkin dia menggantikan posisimu, boge!"

"Diam, boge! Hinata Boge!"

"Hweee! Pelatiiiiih!"

Saki tertawa nggak enak, se-nggak enak perasaannya ketika mendengar gumaman psikopat Kageyama. Apalagi waktu melihat si cowok berambut hitam itu menatapnya setajam laser. Kalau Kageyama punya kekuatan super, Saki pasti udah bolong-bolong.

'Aku mau pulang. Mama, aku takut.' Ini suara hati Saki yang punya firasat bahwa hidup dan kewarasannya sedang terancam.

Sayang, pelatih tidak bisa –dan tidak mau- mendengar isi hati Saki yang sedang siaga satu.

"Aku ingin mengumumkan satu hal penting buat kita. Hari ini kita mendapat asisten manager. Mengingat jadwal latihan kita yang sangat padat, belum lagi agenda kita ke depan di mana kita berencana melakukan latih tanding di luar kota, aku rasa tidak ada salahnya jika ada tambahan bantuan. Karena itu, meskipun hanya sementara, tetapi bantuannya akan sangat berarti. Nah, Kinoshita, kurasa kau bisa mulai dengan perkenalan."

Saki menelan ludah. Jangan salah. Kenalan itu bukan hal yang sulit. Hanya saja tiba-tiba jadi terasa sepuluh kali lipat lebih sulit saat semua merubunginya dan memandangnya dengan amat lekat.

Termasuk saat seseorang memandangmu dengan tatapan tidak suka ala Tsukishima Kei.

"Kinoshita Saki. Kelas 1-4. Salam kenal semuanya. Seperti yang dikatakan pelatih, aku akan jadi asisten manager sementara hingga masa pertukaran pelajarku habis. Untuk pengalaman organisasiku, aku menjadi manager di klub basket sejak SMP dan juga aktif di panahan, walaupun di Shoka Sonjuku aku hanya manager pengganti. Karena di dua sekolahku itu olahraga yang dominan adalah basket, aku sedikit asing dengan voli. Jadi mungkin aku akan bertanya tentang banyak hal pada kalian. Mohon bantuannya." Saki membungkuk dalam-dalam, yang disambut dengan tepuk tangan para cowok tersebut.

"Shoka Sonjuku? Apa itu?" Hinata bertanya dengan semangat kemerdekaan, pakai tunjuk tangan segala. Dalam hati Saki merasa silau melihat Hinata. Oranye, terang dan lincah. Apalagi matanya itu loh, berbinar sempurna ala petromax. Jangan-jangan Hinata bawa bohlam kemana-mana.

"Bodoh!" Potong Kageyama. Saki refleks berjengit kaget. Haduh, kok ada sih cowok yang auranya mirip raja kegelapan kaya kamu?

"Itu nama SMA-nya, Hinata bodoh!" Kageyama .

"Kageyama!"

"Uh… yang dikatakan Sasuke-kun benar." Saki menjawab cepat begitu merasakan ada aura-aura bertarung dari keduanya. Duh, semoga kedua cowok itu tidak memutuskan bertukar ninjutsu di hadapan Saki.

"Pfffft…Sasuke-kun?"

'Hadeuh, mulai deh.' Saki tergoda untuk menutup muka. Dia akan selalu mengenali cara tertawa menjengkelkan itu di manapun ia berada.

Kei menutup mulutnya, sok-sokan menahan tawa. Kalau Saki bukan objek tertawaannya, dia akan berpendapat kalau gestur Kei itu imut. Tapi lain soal kalau dia yang akan dijadikan bulan-bulanan.

"Tunggu dulu. Kalau kamu kelas 1-4 berarti sekelas sama mereka berdua, dong?" Sugawara menunjuk si kembar dibelah kampak, si sebelas duabelas, alias Kei dan Yamaguchi.

"UWOOH! Kalian beruntung sekali, Yamaguchi, Tsukishima!" Nishinoya menyembul dari balik raksasa-raksasa Karasuno sambil menunjukkan mata berbinar, membuat Saki melongo melihat Nishinoya.

'I-imutnya…. Mirip Farrel…' Saki langsung ingin peluk, cium, dan mandiin Nishinoya pakai shampoo di-di sambil menghujaninya dengan balon sabun dengan aroma strawberry.

"Walaupun dadanya kecil, teman kalian ini cantik banget!"

GAPLOK!

R.I.P, Nishinoya. Semuanya mengheningkan cipta.

.

.

.

.

.

.

Suara langkah kaki sepasang anak manusia terdengar lamat-lamat menyusuri aspal di bawah sinar bulan. Tadinya jumlah kaki-kaki itu lebih banyak, dan suara yang dihasilkan para pemiliknya lebih berisik dan beragam. Para atlit voli Karasuno memang punya kebiasaan pulang bareng, tapi tentu saja kebersamaan mereka cepat atau lambat akan berakhir waktu persimpangan jalan ke rumah mereka sudah muncul.

Sekarang tinggal dua orang, searah, bahkan serumah, berjalan jauh-jauhan kaya pulau Sulawesi dan Sumatera yang dipisahkan Kalimantan.

Saki menatap ke depan, berusaha mengabaikan pemandangan jalan yang gelap. Seram, ih. Sebaliknya, cowok jangkung yang berjalan di depan Saki menatap dunia dengan bosan. Jalanan lengang, bikin ngantuk. Satu-satunya yang bisa dikerjai cuma cewek yang ada di belakangnya. Kei menyeringai.

Oh…tunggu dulu…

Kei tidak sedang berniat untuk mengerjai cewek itu kan? Tentu tidak. Tapi seperti biasa, jalanan pulang kali ini membosankan. Sedangkan gadis itu selalu bisa membuat Kei terhibur… atau mungkin kesal setengah mati dengan komentar yang kemungkinan akan dilontarkannya. Jadi, ganggu atau tidak? Kei terombang-ambing dalam kenistaan pikirannya.

'Tidak.'

Kei mengerutkan kening.

'Daripada mengerjai cewek itu, ada yang lebih penting yang harus dilakukan.'

Ya. Kalau cewek itu di klub voli, kemungkinan mereka untuk berinteraksi lebih banyak, dan tentunya kemungkinan untuk rahasia mereka terbongkar juga lebih besar.

"Tsk."

Saki mendengar decihan menyebalkan itu lagi.

"Aku salut dengan keberanianmu membuat Nishinoya-san terkapar di debutmu sebagai manager kami. Kau memang keren, Saki-sama."

Saki menatap punggung orang yang ada di depannya. Punggung yang tadinya menjauh kini berhenti dan berbalik.

"Tapi ada yang mengganjal pikiranku. Tentang motifmu ikut klub kami."

Jujur, Saki merasa aneh dan terkejut. Seorang apatis dan cuek bernama Tsukishima Kei, yang lari keliling gym saja harus diomelin oleh kapten mereka agar mau lari lebih kencang waktu latihan, kini bersedia menoleh ke belakang untuk bertanya padanya. Saki tidak tahu harus merasa tersanjung atau merasa sial.

"Apa ini? Wawancara malam hari?" gumam Saki. "Bukan urusanmu, Kei."

Kei menyeringai ala serigala. Sinar bulan bermain di puncak kepalanya yang pirang, membuat kepala Kei bersinar seperti dikelilingi halo.

….Emang bisa ya?

"Hmm?" Kei mengendikkan bahu. "Aku hanya ingin mengingatkan tentang perjanjian kita. Kau masih ingat kan?"

Kata-kata itu terlontar, dan mulut Saki ternganga.

Apa?

Apa katanya?

Saki bukan orang yang sempurna, dia sadar seratus persen kalau kelakuannya kadang konyol, tapi dia selalu berusaha untuk menjadi orang yang menghargai keputusan orang lain. Terlebih lagi, dia tidak ingin menyakiti siapapun.

Jadi jangan salahkan Saki jika hatinya sakit ketika yang dia dapat hanyalah seseorang yang menatapnya dengan mata dingin, dengan wajah enggan yang terlihat mengejek di malam yang pekat ini.

Saki merasa terhina.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Kei mendapat tatapan serius dari sepasang mata hijau itu. Gadis itu lebih pendek, tapi intensitas di matanya membuat tinggi mereka seolah sejajar.

"Kau sadar dengan yang kau ucapkan?"

"Hm?" Kei angkat alis. Gadis di depannya sepertinya marah. Tapi mana dia peduli.

"Tentu saja. Karena itu aku tanyakan padamu. Tiba-tiba kau muncul di klub kami, mendeklarasikan diri sebagai asisten manager sementara masih ada banyak klub yang membutuhkan manager di Karasuno. Terlebih lagi dengan kemungkinan kita akan lebih sering kerja bersama membuat keadaan sangat riskan. Kau cerdas, Saki-sama, kau pasti mengerti maksudku."

Ucapan Kei membuat Saki tidak bisa bergerak. Telinganya tidak percaya dengan yang didengarnya barusan. Dari semua keketusan dan ketidakramahan Kei, ini adalah yang terburuk. Pemuda itu secara tidak langsung menuduhnya memiliki rencana untuk memojokkannya?

Ini… benar-benar keterlaluan.

"Kau tidak berhak, Kei!"

Ucapan tegas Saki membuat Kei kehilangan ekspresi bosannya. Bahkan membuatnya merasakan firasat buruk waktu melihat tangan gadis itu yang terkepal, serta matanya yang tenang berubah dan menunjukkan kilatan emosi. Jangan bilang dia marah?

"Kau tidak berhak memperlakukan siapapun seperti kau memperlakukan aku sekarang!"

"Oi."

Aku hanya bercanda.

Ya.

Hampir saja Kei mengucapkan kata-kata itu kalau ingat bahwa dia tidak akan, tidak perlu, dan tidak akan mau mengucapkan penjelasan dari apapun yang dia lakukan.

Hanya saja Kei benar-benar tergoda untuk mengatakan hal itu ketika Saki berderap maju dengan kegeraman yang terlihat berbahaya, dan tangannya menggapai kasar ke arah Kei.

"Oi! Kau mau apa?" Kei bergerak ke kiri dan kanan, menghindari terjangan tangan Saki yang berusaha meraihnya.

"Diam! Biarkan aku memukulmu sebentar!"

"Memangnya aku gila?!"

Emosi Saki semakin meletup sementara Kei masih lincah berkelit, mengakibatkan tangan jari-jemari Saki cuma menggapai-gapai udara kosong. Tapi kali ini, Kei harus mengakui kalau Saki benar-benar dalam kondisi yang prima. Tangan Saki bergerak cepat dengan agresif hingga dia mendapat yang dia mau: kerah baju Kei.

"Dengar ya-" Saki menekankan setiap suku katanya, tangannya menyentak paksa cowok itu untuk merendahkan kepalanya hingga sejajar dengan kepala Saki.

Mata hijau menyala bertatapan dengan mata emas yang setengah terbelalak.

Napas mereka bertubrukan.

Belum selesai keterkejutan Kei, pinggangnya tiba-tiba merasakan sensasi yang luar biasa menggigit. Tanpa cowok itu melihat pun, Kei tahu kalau jemari Saki sedang mencubitnya. Bukan cubitan sayang atau main-main, tapi cubitan itu seolah sebagai pengganti tonjokan. Kei memang tidak berteriak atau mengaduh, tapi dari caranya menggeretakkan gigi, Saki tahu kalau cowok itu kesakitan.

"-Kalau kau membuatku kesal lagi," Saki setengah menggeram, sementara Kei hanya bisa mendesis, "akan kubuat kau merasakan yang lebih dari ini."

Dengan itu Saki melepas siksaannya. Langkah kakinya bergegas membawanya agar segera menjauh dari Kei.

Saki muak. Dia tidak ingin berurusan dengan cowok itu lebih lama lagi untuk hari ini. Mungkin juga untuk besok dan seterusnya.

Gadis itu bahkan tidak melihat ke belakang, ke tempat di mana cowok itu sedang sibuk mengusap-usap bekas cubitan maut cewek polos yang mendadak beringas.

Kei memicingkan mata. Apa sih cewek itu? Apa-apaan dia? Seenaknya saja. Dia kan tidak bermaksud membuat gadis itu murka, walaupun dia memang berniat menjadikan gadis itu sebagai bulan-bulanan. Dia kira candaannya tidak melebihi batas, kok.

"Tsk."

Kalau memang gadis itu sok marah-marah, dia bisa melakukannya sesukanya, tapi Kei tidak akan ambil peduli.

Meskipun di dadanya seperti ada gumpalan emosi yang berusaha untuk ia abaikan.

Dan buat Kei, hal itu merepotkan.

.

.

.

TBC

.

.

.

a/n:

Ugggh! Kok rasanya nggak puas ya, ama chapter ini. Kaya kurat greget gimanaaa gitu. Terus terang nih, saya agak nggak sreg sama chapter ini, tapi nyerah setelah beberapa kali revisi. Kayanya saya juga ngalamin masalah ama gaya penulisan, kaya keburu2 gitu. Hadeuh, gini ya, masih amatir, sih.

Help, review, feedback, minna-san? Pliiiis