Summary: Ibarat permen, Tsukishima Kei itu nano-nano. Pedas, asem, asin, bahkan rasa Tsukuyomi juga ada. Hanya saja, Kinoshita Saki belum merasakan sisi manisnya. Bahkan interaksinya dengan Kei kebanyakan berakhir dengan pose OTL. Semua bermula dari acara pertukaran pelajar yang mengharuskan dia numpang di rumah si pemuda berkacamata, ditambah dengan perkenalan yang tidak bisa dikatakan semulus paha para waifu otaku di Jepang, bisakah Saki bertahan menghadapi si kacamata berlidah tajam dan tidak bunuh diri di dahan pohon kacang?
.
.
.
Disclaimer: I don't own Haikyuu!. Haikyuu! Belongs to its respective author and I don't gain any material profit from this work. I own only the plot of this fanfic, oh, and my OC, Kinoshita Saki.
.
.
WARNING: A LONG…LONG… VERY LONG… CHAPTER. ENJOY.
.
.
.
Akiteru telungkup di kasur sambil senyum-senyum, sementara tangannya memelintir sejumput rambut basah yang menjuntai di samping telinganya. Heran, deh. Tiap scene Akiteru muncul selalu aja habis mandi.
"Jadi berhasil? Uwah! Sudah kuduga kau pasti bisa melakukannya, Kiyoko-chan!" Akiteru berkomentar ceria, seceria waralaba di pinggir jalan yang lagi obral minyak goreng dan mi instan.
"Habis targetnya polos, sih, jadi aku lebih gampang buat menariknya ke klub kami," terdengar jawaban kalem dari seberang sana. Akiteru hanya tertawa.
"Yah, calon adik iparku itu memang polos, kok. Justru kepolosannya itu yang bikin imut. Tapi sebenarnya, Kiyoko -chan lebih imut, loh."
Eaaaa!
Akiteru menelikung pembicaraan dengan mulus, membuat lawan bicaranya blushing, mimisan dan demam tinggi empat puluh derajat sampai terancam kejang. Kalau Tanaka dan Noya mendengarnya, pasti Kei akan pulang ke rumah dengan punggung ditancepin sama surat tantangan pakai paku berkarat.
"Uh… aku nggak imut, kok. Malah banyak yang bilang aku kelewat dingin…" Kiyoko gigit bibir, antara tersanjung sama pujian Akiteru, sama sedih karena yang dikatakannya itu benar. Walaupun Kiyoko punya banyak lovers, tapi dia juga punya banyak haters. Puk-puk Kiyoko.
"Ah, mereka cuma iri, kok. Mereka nggak mau kenal Kiyoko -chan lebih dalam lagi. Sekalipun begitu, pasti lebih banyak yang suka sama Kiyoko -chan. Aku aja naksir, loh."
Aduh, keceplosan!
Akiteru nepok jidat sendiri.
Habisnya Kiyoko imut, sih. Pake kacamata, lagi. Jangan-jangan Kei pake kacamata gara-gara dipaksa Akiteru biar keliatan imut?
Jadi Akiteru punya fetish kacamata?
Oh…cukup tau aja deh…
Kiyoko, di belahan dunia lain (yang nggak jauh-jauh amat, sih, masih di Jepang juga), malah gigit bibir. Pipi sudah sewarna buah peach. Soalnya yang dihadapin senior ganteng yang unyu abis, lebih unyu daripada aktor dorama Korea yang suka pake poni lempar nan lebay.
"Akiteru-san jangan bercanda…"
Apakah itu nada berharap? Atau Akiteru aja yang kelewat berharap?
"Serius, kok."
"Oh…"
Hening.
"Jadi…?"
Hening lagi…
Akiteru jedot-jedotin kepala ke tembok.
Masih hening.
Akiteru masih menunggu dengan harap-harap ngarep. Kebisuan Kiyoko membuat Akiteru berpikir apa dia harus menaikkan dosis gombalannya? Atau nyogok Kiyoko pakai emas lantakan biar diterima?
Haduh… Kan mahal. Lagian Akiteru masih mahasiswa tingkat dua. Kerja aja masih kerja sambilan. Itupun sama papa sendiri.
"Aku juga naksir…" sampai suara itu menjawab lemah.
Hah?!
"…sama Akiteru-san."
"HAH? SERIUS?! UWAAAH!"
Akiteru langsung berpose kaya waktu spike-nya menjebol benteng lawan.
"Jadi kita jadian, nih?!"
"…I-iya…"
R.I.P (again) Nishinoya.
R.I.P Tanaka.
.
.
.
Sudah beberapa hari ini Megumi merasa rumah terasa sangat tenang. Akiteru sibuk di luar rumah, katanya sedang cari cara buat nyomblangin adiknya sama Saki, tapi Megumi curiga kalau anak sulungnya itu sedang melakukan sesuatu yang sama sekali nggak ada hubungannya dengan proyek jangka panjang mereka. Lain Akiteru, lain pula Kei. Dia masih suka nge-game di rumah, masih suka diam-diam menghanyutkan –cucian- kalau nggak dipancing cerita tentang keseharian di sekolah. Tapi kali ini Kei rasanya lebih diam dan lebih sunyi dari yang biasa.
Ngomong-ngomong tentang sunyi, bocah yang satu lagi, alias Saki, juga terlihat lebih pendiam. Memang dia masih suka ngobrol kesana-kemari sama Megumi, tapi biasanya kalau dia dikumpulin sama Kei, bakal ada listrik di mana-mana. Ini kok adem ayem? Apa akan terjadi badai?
"Ada apa dengan kalian?"
"Apanya yang ada apa?"
"Jangan tanya balik, Kei. Nggak sopan." Megumi menghardik.
"Memangnya kenapa kalau aku tanya alasannya, Bu? Lagipula-," Kei mencengkeram bingkai pintu dengan kedua tangannya, menahan tubuhnya yang dipaksa maju, "Kenapa aku disuruh ke dapur?" sambungnya. Sementara punggungnya didorong sekuat tenaga oleh ibunya.
"Itu dia. Kalau kau tidak ada masalah dengan Saki, kau tidak akan menolak membantunya bikin kue di dapur. Masuk!"
"Bu!" Kei masih tahan harga, menolak masuk walaupun di belakangnya ibunya sudah dorong-dorong pakai gagang sapu.
Sadis itu turunan, ternyata.
"Jangan jadi pengecut, Kei. Masa kalah jantan sama ayam jago?!"
"Nggak nyambung!" ucap Kei masih bertahan. Tapi jangan remehkan kesadisan ibunya. Jemari Kei sampai harus digetok dan pantatnya digebuk sepenuh hati sama Megumi, membuat Kei memekik dan memasuki dapur dengan tangan memegang pantat akibat sabetan sapu.
Dengan pose itulah Kei menghadapi Saki yang sedang memakai apron setelah beberapa hari mereka tidak saling tegur sapa.
Selama belasan tahun hidupnya, Kei tidak pernah merasa sangat tidak elit seperti ini.
"Aku tinggal ya. Kei, bantuin Saki bikin kue kering, ya."
"Tapi aku mau tanya petunjuknya dulu, Bi." Pernyataan Saki tak berbalas karena Megumi keburu ngacir, meninggalkan dua anak muda yang sedang liat-liatan dengan tidak bersahabat.
Duh. Apa mereka nggak tau kalau musuhan itu bisa membuat negara terpecah belah dan bikin penjajah loncat-loncat bahagia?
Kontes liat-liatan itu diakhiri oleh Saki. Daripada memelototi Kei, lebih baik dia memeriksa kue yang sedang dipanggang.
Dengan tangan tersimpan di saku celana dan badan menyandar pada kulkas, mata emas Kei mengikuti pergerakan Saki. Rambut cewek itu terikat agak berantakan dengan sedikit noda tepung di pelipisnya. Mungkin rambutnya yang semi acak-acakan itu akibat kerja di dapur agak lama. Apron pink milik ibu Kei terikat di leher dan pinggangnya, juga belepotan tepung. Yang membuat Kei hampir tidak berkedip adalah ekspresi gadis itu.
Tenang.
Seperti danau es.
Seingat Kei gadis itu mirip karakter anime, yang saat melakukan sesuatu, pasti wajahnya berubah-ubah ekspresi. Mata hijaunya berbinar membulat. Bahkan tak jarang saat mengerjakan soal yang agak rumit di depan kelas, gadis itu akan mengerucutkan bibirnya.
Sekarang gadis itu terlihat berbeda.
Apa karena sekarang sedang ada Kei?
Saki mengalihkan perhatian ke adonan basah yang ada di sebelah Kei. Masih dalam diam, Kei memperhatikan bagaimana gadis itu melewatinya begitu saja dan memeriksa coret-coretan resep di meja dapur, kemudian menambahkan telur dan mengocoknya.
Ah, Saki lupa setelah itu langkah selanjutnya apa, jadi dia melongok kembali ke coretan resep itu, melupakan kalau ada sejumput rambutnya yang tidak ikut terikat, akibatnya ujung rambut itu terancam jatuh ke dalam adonan.
Refleks tangan Kei menahan helai rambut hitam itu, membuat Saki untuk melihat ke arahnya lagi.
Manik matanya membulat.
Jari Kei masih menahan rambut itu karena di saat itu ia tidak tahu harus melakukan apa. Namun saat melihat tangan Saki yang belepotan adonan basah, akhirnya Kei menepis helai-helai hitam itu, mengembalikannya ke belakang telinga Saki. Jemarinya menyentuh lemah kepala gadis itu…turun hingga ke telinganya.
Kei tidak bermaksud melakukan hal itu dengan cara selembut yang ia lakukan, karena dia yakin itulah yang membuat Saki menatapnya dengan tatapan aneh. Sepertinya gadis itu terkejut, tapi ada perasaan lain. Kei tidak tahu apa itu, tapi Kei tidak suka dengan dirinya sendiri menanggapi tatapan Saki. Seperti ada perasaan senang saat melihat Saki mengalihkan pandangan dari mata emas Kei dengan cara… bolehkah ia menganggap gadis itu salah tingkah? Kei hampir tersenyum melihat gadis itu berusaha keras menyembunyikan rona merah muda pipinya.
Tunggu.
Dirinya kenapa sih?
"Terima kasih." Gumam gadis itu, melanjutkan kembali ritual mengaduk adonannya.
"Tidak masalah," Kei masih terus memandang ke gadis bermata hijau itu, "Aku hanya tidak ingin adonan yang akan kami makan kena rambutmu."
Dan Kei tidak pernah merasakan keinginan yang begitu kuat untuk memukul kepala pirangnya dengan wajan yang menggantung indah di dinding dapur, waktu melihat ekspresi hangat Saki kembali membeku. Kei bahkan bisa melihat bunga es imajiner bermekaran di sekeliling gadis itu.
Satu kata: seram.
Saki menghela napas, "Oh. Harusnya aku tau," gumam gadis itu.
"Apa?"
"Tidak." Ujar Saki. Adonan di mangkuk dikocok lebih cepat, "Aku cuma mau bilang kalau aku bisa melakukan semuanya sendiri. Kau tidak perlu repot-repot membantuku di sini kalau kau tidak ingin."
"Huh?" Kei balik menggumam. Matanya yang sipit menatap tak mengerti, "Apa sekarang aku juga harus menyerahkan dapur ini, selain kamarku, kepadamu?"
Kei tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya sendiri, tapi refleksnya yang kelewat cepat melontarkan sindiran membuat dirinya merasa pantas untuk di-spike dengan kekuatan penuh oleh Akiteru. Apalagi waktu melihat kekesalan di wajah Saki makin berlipat. Kei tidak suka dengan cara gadis itu meremas pengocok adonannya, ataupun caranya memejamkan matanya. Ataupun saat melihat tatapan dingin itu diarahkan lagi kepadanya.
Haduh, kok pemilihan kata-katanya salah mlulu sih?
"Baik." Sergah Saki, sedikit terlalu tegas. "Maaf. Aku salah bicara."
Kei berkedip.
Oke, dia akui, dia memang menyebalkan dan salah bicara, tapi Kei benar-benar tidak mengerti. Kenapa gadis itu bersikap seperti ini padanya? Kenapa dia tidak bersikap seperti biasanya, yang walaupun Kei melontarkan komentar sinis dan sadis cewek itu tetap meng-counter dengan lugu? Mana komentar nyeleneh dan kadang nggak nyambung yang harusnya keluar dari bibirnya?
Kok Saki jadi baper, sih? Baper itu jatah Kei!
"Oi." Panggil Kei.
"Apa?" Tangan Saki bergerak makin cepat.
"Kenapa kau bertingkah seperti ini?"
"Seperti apa?"
"Seperti orang PMS."
Saki benar-benar tergoda untuk membanting adonannya saat itu juga. Tapi ia tahu kalau ini tidak ada gunanya. Berurusan dengan Kei seperti terjebak dalam lingkaran yang ujungnya cuma berputar-putar tidak jelas. Masih mending muter-muter naik bianglala. Cuma pusing-pusing dikit dan palingan ujung-ujungnya muntah dan dibawa ke UGD (?). Beda urusan kalau muter-muter sama Kei.
"Bukannya kau yang berharap aku bersikap seperti ini?" Saki menjawab tidak sabar. Lupa sudah acara mengocok adonan kue keringnya.
"Seperti apa?"
"Seperti yang kau inginkan. Aku sudah menuruti maumu. Aku bahkan minta maaf akan situasi ini padamu. Sedangkan untuk jadi asisten manager klub voli, aku beri tahu, ya. Aku tidak sengaja! Dan aku tidak akan mundur sekarang karena hal itu akan merepotkan buat Kiyoko-san. Tapi jangan khawatir, tidak akan ada yang tahu kalau kita serumah. Aku juga tidak akan mengajak Nadeshiko ke sini sekalipun aku sangat ingin punya teman main! Aku-"
Napas Saki tercekat.
'Apa yang sudah kau lakukan, Saki? Lihatlah dirimu. Meracau kaya anak manja dihadapan orang yang bahkan nggak peduli kalau kau ini tamu.'
Saki menggigit bibirnya sendiri tatkala sadar diri bahwa dia sudah bertingkah kacau.
Sial!
Apa dia sudah kehilangan kontrol emosinya sendiri?
Ataukah provokasi Kei sudah berpengaruh terlalu jauh pada otaknya?
Saki menghela napas, mencoba melepaskan emosinya dan membiarkan rasionya mengambil alih. Hingga akhirnya dia memiliki keberanian untuk menatap Kei kembali.
"Dengar, Kei. Kalau kau tidak mau berurusan denganku, terserah. Aku sudah mencoba bersikap baik, tapi kau-" kembali Saki menghela napas.
"Kau," ulang Saki tegas, "-kekanak-kanakan."
Sebelum melihat tatapan mata Saki, Kei tidak pernah merasa sedingin ini.
.
.
.
Bola voli terbanting ke ring basket, mengakibatkan ring bergoyang protes. Mungkin sebal karena yang masuk bukan soulmatenya alias bola basket, malahan bola voli. Sementara pelaku yang melempar bola warna-warni ke keranjang yang tidak semestinya malah cuek.
Seperti biasa, saat latihan receiving dan blocking di hari minggu yang cerah ini, Kei terlihat tenang, bahkan saat menghadapi kakaknya yang mood isengnya lagi tinggi-tingginya. Di lain pihak, Akiteru malah merasa ada yang nggak beres.
Kei memang cuek, tapi nggak secuek ini. Kalimat-kalimat nyeleneh dan jahil dari Akiteru juga ditanggapi dengan sekedar 'hm', 'iya', 'oke', dan malah kadang diam saja. Pasti ada apa-apanya sama Saki, soalnya dua-duanya sama-sama melempem kaya krupuk keanginan, bahkan kadang-kadang sama-sama judesnya.
Gawat.
Bisa-bisa batal nih kencan romantis sama Kiyoko minggu depan kalau hubungan target operasi Akiteru malah mundur. Atau malah kucuran dana dari Hokage kelima (alias emaknya Akiteru) bakal ditiadakan? Oh, No!
"Kei."
"Hm?"
Kei men-dribble bola voli, membuat suara berdesing yang falsnya ngalah-ngalahin Kei dan Akiteru waktu karaoke di pesta peringatan pernikahan orang tua mereka tahun lalu.
"Kei, kita lagi latian receive loh."
"Hm."
Tuh, kan.
"Kita lagi main voli loh, Kei."
"Iya."
"Bola yang kamu pegang itu bola voli, loh, Kei."
"Ho'oh."
"Trus ngapain kamu dribble terus-terusan?"
Tangan Kei berhenti, akibatnya bola voli tidak jadi terpantul, Kei malah memandangi bola itu sambil bengong. Sejenak ia menoleh ke kakaknya.
"Aku lupa."
Akiteru jadi ingin renang di lantai saat itu juga.
"Kamu lagi ngelamunin apa, sih?"
Alih-alih menjawab, Kei malah melipir ke teras dan duduk manis.
"Nggak ngelamun, kok."
"Bohong." Sanggah Akiteru sambil mengikuti adiknya itu. Ia lalu duduk di sebelah Kei yang lagi menyeka keringat dengan kerah kaos ungunya.
"Kamu sama Saki lagi marahan?"
"Hah?" Kei melirik kakaknya sebal. "Apaan, sih? Kakak sama ibu sama aja deh. Orang kita nggak ada masalah, kok." Kei menggumam setengah ngedumel.
"Che. Mau membantah seperti apapun juga jelas-jelas kalian ada masalah, tau."
"Nggak." Sungut Kei. Bibirnya melengkung ke bawah. "Yang ada masalah tuh dia. Bukan aku."
Ohoho. Kalau Akiteru nggak sabar dan nahan diri dia pasti udah nyengir, tapi buat kondisi sekarang, nggak bagus kalau dia nurutin nafsu ngegodain adik semata wayangnya itu.
"Hmmmm. Jadi dia marah gitu? Kok bisa? Kan kamu nggak salah apa-apa." Pancing Akiteru. Dipasangnya tampang polos dan pose kakak idaman. Kalau perlu dia akan tambahin dengan kalimat pamungkas ala penampung curcolan paling setia sejagad: 'iya, dia mah gitu. Salahin aja.', buat nyenengin yang curhat dan biar si Kei tergoda but cerita.
Tapi Kei malah diam dan keliatan kehilangan nafsu buat cuap-cuap. Kalau udah kaya gini bisa Akiteru pastiin kalau adiknya itu sibuk mikir. Apalagi kalau bukan tentang interaksi terakhir Kei dan Saki akhir-akhir ini, juga tentang sikap mereka pada satu sama lain sebelum-sebelumnya.
"Dia bilang aku kekanak-kanakan."
Alis Akiteru terangkat.
"Tsk. Dia juga sudah bersikap seenaknya sama aku."
"Hmm?" Kali ini giliran Akiteru yang ber-hmm ria. "Memangnya dia ngapain?"
"Dia-"
Ya, dia ngapain? Perasaan Saki nggak ngapa-ngapain. Sadar akan hal itu, Kei malah berhenti menjawab.
Uh…, ditanya begitu, Kei jadi bingung, memangnya di mananya Saki pernah bersikap seenaknya sama dia? Bukannya dia yang sebenarnya suka bersikap seenaknya?
Aku sudah menuruti maumu. Aku bahkan minta maaf akan situasi ini padamu.
Kei menggigit bibirnya, marah. Entah pada siapa. Mungkin pada gadis itu. Atau mungkin karena sikap gadis itu yang menyebalkan? Tapi menyebalkan karena apa? Karena tidak menurutinya? Memangnya dia mau gadis itu bersikap bagaimana?
Bukannya kau yang berharap aku bersikap seperti ini?
Kekanak-kanakan!
Tangan Kei terkepal. Tanpa sadar dia memandangi lantai teras seolah-olah ingin membunuhnya. Kalau lantai teras itu bisa ngomong pasti udah misuh-misuh dan ngajak berantem karena dipelototin dengan nggak jelas sama Kei.
"Biar kutebak. Kau menyuruhnya merahasiakan kalau kalian tinggal serumah?"
Kepala pirang adik Akiteru menoleh cepat. "Darimana kakak-"
"Sudah ketebak." Akiteru mendengus. Padahal aslinya dia dikasih bocoran sama teman sekelas adiknya yang identitasnya dirahasiakan oleh dinas perlindungan saksi (?). Informan Akiteru tuh dimana-mana, tau.
"Satu lagi. Kau juga pasti tidak bergaul dengan baik dengannya. Jangan-jangan kau juga suka menggodanya sampai dia ngambeg, ya?"
"Mmmh." Tiba-tiba mulut Kei rasanya asam, sampai-sampai mulutnya melengkung ke bawah.
"Hmmm? Iya kan?"
"Nggak kok."
"Tidak usah membantah. Mukamu itu nggak bisa bohong."
Skak mat. Bidak catur Kei berdarah-darah, sodara-sodara.
Kei menunduk seperti anak kucing yang nggak dapat jatah makan akibat kena 'sentilan' Akiteru. Melihat Kei yang tampangnya mengenaskan begitu, Akiteru menampakkan wajah prihatin, tapi aslinya dalam hati dia menyeringai.
'Untuk melawanku dalam taktik pertarungan verbal dan mengendalikan arah pembicaraan, kau masih seratus tahun terlalu cepat, anak muda. Mwahahaha.' Isi kepala si sulung Tsukishima itu kampret kali ternyata.
"Mmmh…." Si bungsu cuma bisa ber 'mmh' dan 'hmmm' ria, tanda pasrah dan males mikir.
"Kei…"
Kei beringsut dari tempat duduknya, melipir untuk kedua kalinya demi menjauhi kakaknya, takut ada dedemit lewat dan kakaknya yang baik hati jadi ringan tangan dan melakukan kekerasan dalam sesi curhat. Habisnya Akiteru memanggil Kei dengan nada penuh peringatan, sih.
"Iya." Jawab Kei akhirnya. Sekalipun sudah menduga jawabannya, Akiteru tetap saja tepok jidat.
"Habisnya merepotkan kalau ada yang tahu kalau kita tinggal serumah," gumam Kei.
"Memangnya kenapa?" Akiteru memberi Kei tatapan skeptis.
"Alasannya banyak. Pertama, aku tidak mau cewek-cewek yang naksir aku memanfaatkan dia buat mencari info tentangku. Kedua, kalau di klub ada yang tahu kita tinggal serumah, bisa dipastikan teman-teman yang pernah jadi objek observasiku-"
"Maksudmu teman-teman yang sering kau ejek?"
"-pasti akan menjadikanku bulan-bulanan." Kei pura-pura nggak dengar. "Ketiga," Lanjutnya, "pasti akan ada gosip yang tidak-tidak, terutama dari cewek-cewek kurang kerjaan yang pernah aku tolak."
"Ya ampun, Kei…" Akiteru jadi menarik napas panjang, "Jadi cuma karena itu?"
Kei menoleh cepat. Matanya jadi awas seakan tidak terima, "Kakak dengar tidak penjelasanku tadi? Kenapa bisa-bisanya komentar 'cuma karena itu'?" adik semata wayang Akiteru ngedumel lagi. Tampangnya kusut kaya kabel setrikaan yang udal belel.
"Ya jelaslah," sanggah Akiteru. "Dengar, ya. Yang kau pikirkan itu baru sebatas spekulasi saja-"
"Itu namanya kalkulasi, kak. Aku terbiasa berpikir tujuh langkah lebih maju." Protes si bungsu.
"Lebih tepatnya tujuh langkah lebih parno." Bantah si sulung.
Kei kicep.
"Hanya gara-gara spekulasimu itu kau sudah mengorbankan Saki, tau. Dia itu pasti juga ingin punya teman. Ingin bergaul dan main seperti gadis-gadis remaja yang lain."
"Kok aku kedengaran seperti bapak-bapak yang suka memingit anak gadis, sih?" protes Kei.
"Diem dulu. Kakak belum selesai bicaranya. Huf!" Akiteru menghardik, membuat adik tersayangnya manyun seribu bahasa (?).
"Dengar ya, Kei. Aku tidak tahu harus dari mana memulainya, karena sepertinya hubungan kalian itu sudah kusut dari awalnya."
Kei mendesah kesal tapi pasrah.
"Aku tidak tahu detail masalah kalian. Tapi cobalah berpikir dari perspektifnya. Andai kata kau adalah orang asing di sini dan kau mengharapkan persahabatan dan penerimaan dari orang sekelilingmu, tetapi kau malah dibatasi, ruang gerakmu tidak leluasa, bagaimana perasaanmu? Dia tamu di rumah kita. Dia bukan aku, Kei, dia juga bukan ibu. Dia tidak mengerti kau, Kei. Setidaknya belum. Tapi dia tidak akan mengerti dirimu kalau kau pasang tameng terhadapnya. Aku bisa melihat kalau Saki berusaha menyesuaikan sikapnya dengan karaktermu, tapi kau tidak bisa mengharapkan orang lain untuk terus-terusan mengakomodirmu, Kei. Atau berharap tidak akan tersinggung dengan sikap eksentrikmu. Walaupun yang kulihat, dia masih mau berusaha untuk mengikuti maumu." Akiteru bersidekap. Sementara Kei menolak untuk memandang langsung kakaknya.
Bisa tidak untuk beberapa hari ini aku berangkat dan pulang bersamamu? Plis. Beri aku waktu seminggu.
Kalau latihan voli, selalu pulang malam seperti seminggu ini ya?
Kau tidurlah di sini. Aku di kamar tamu. Memang tempatku seharusnya di situ, kok.
"Kalau aku jadi dia, bodo amat. Tapi kalau Saki, apa dia juga menampakkan sikap egois sepertimu?" Suara Akiteru menyusup ke sela-sela pikiran Kei ketika cowok itu mengingat sikap Saki padanya.
Sial, makin Kei mengingatnya, kok dia makin merasa seperti penjahat? Bukannya Kei tidak suka disebut villain, dia sih masa bodo dengan predikat yang dia sandang. Tapi kali ini kok dia merasa… bersalah?
"Tidak," gumam Kei akhirnya. Sekalipun Akiteru tidak mendengar terlalu jelas, tapi dilihat dari wajah sang adik, Akiteru sudah bisa menebak apa jawabannya.
"Aku rasa..." Kelopak mata Kei mengatup.
Kau kekanak-kanakan.
"…dia tidak begitu."
"Ini hanya satu contoh masalah saja." Akiteru menekankan kata 'satu' dan memandang lekat ke mata emas adiknya. "Masalahnya kurasa lebih dalam dari itu. Mungkin kau bisa memulai dengan mengubah pola pikirmu. Berhentilah berprasangka. Tidak semua hal yang baru itu tidak baik untukmu. Kau tidak pernah berpikir betapa miripnya hidup ini dengan pertandingan voli?"
Akiteru tersenyum lembut waktu melihat kepala Kei tengleng ke kanan, tanda berpikir.
"Ada saatnya serve dan receive. Dan tidak selamanya kau bisa melakukan blocking atau spiking, Kei."
Mau tak mau kei jadi ingat waktu Kei menerima cubitan Saki kemarin-kemarin.
Sakit. Pedas juga. Cubitan Saki baru hilang rasa sakitnya setelah agak lama.
Mungkin ini rasanya di-spike?
Kei tertunduk.
"Adikku kan cerdas, dan baik hati juga. Pasti kau bisa mengerti apa yang kumaksudkan."
Akiteru tersenyum tulus. Wah…Kei tidak pernah merasa sehangat ini di dalam dadanya, loh.
Sial.
Dipuji oleh kakak sekaligus idola itu rasanya bukan hanya membuat hatinya senang, tapi juga seperti kembali ke kondisi mereka waktu kecil dulu, waktu Kei menganggap kalau kakaknya itu tak terkalahkan seperti Superman… dan punya kantong ajaib kaya Doraemon.
Merasa bahwa isi pikirannya sudah tersampaikan, Akiteru menepuk kepala Kei.
"Sekarang, kalau pikiranmu sudah tenang, lebih baik kau minta maaf sama Saki. Kan nggak enak kalau serumah tapi marahan."
Mendengar itu Kei tahu kalau Akiteru benar, tapi melakukan mediasi antara dia dan Saki tampaknya lebih gampang diucapkan daripada dilakukan. Kalau Kei disuruh mulai duluan sudah pasti jawabannya: ogah!
"Nee, gimana Kei?"
"Uh… kayanya susah untuk membujuk Saki dengan kondisi sekarang, kak."
Dasar Kei! Sudah tahu dan sudah mengaku salah, tapi tetap saja gengsi buat berdamai. Masih saja dia ngeles saat ditodong Akiteru buat melakukan first move.
Mendengar jawaban Kei, Akiteru senyum maklum.
"Iya juga sih."
Eh, serius, kakaknya mau nerima pendapatnya gitu aja? Kei jadi lega, "Karena itu kayanya lebih baik kita-"
BRAK!
What the faaaaaak?!
Apaan itu tadi?! Meteor melayang?!
Pembicaraan yang lagi enak-enaknya antara sang adik yang mellow dan sang kakak yang pengertian tiba-tiba berubah ketika sang kakak menyerang… dengan gagang sapu.
Iya, gagang sapu yang sama yang dipake Megumi-sama buat nepok pantat sexy Kei, sekarang ada di genggaman Akiteru. Heran, kenapa keluarga Tsukishima punya tendensi nyiksa orang pake sapu, sih? Memangnya mereka masih ada hubungan darah sama penyihir yang namanya Harry Monster?
Meski jantung hampir copot, Kei sih tetap tenang, manly dan cool. Cuma posenya sudah mirip koala gara-gara memeluk tiang di teras depan rumah.
Imutnya….
Oke, salah fokus.
Akiteru senyum manis. Tapi kok Kei ngeliat ada tanduk nongol di kepala kakaknya?
"Aku ngerti kok, Kei. Kayanya kalau kita cuma ngomong doang ke Saki tidak aka nada jaminan dia mau menanggapi. Makanya kita perlu agak ekstrim biar Saki mau ngomong sama kamu lagi."
"HAAAA?! AGAK EKSTRIM KAYA GIMANA?!" Capslock di pita suara Kei jebol. Gimana nggak jebol, kalau harus berhadapan dengan pemain voli veteran yang sedang entah terlintas apa di pikirannya. Jangan-jangan beneran ada setan lewat, nih? Kakaknya beneran kesambet, nih?
"Pokoknya kamu diem aja. Ya, kaya gitu. Nggak akan sakit kok."
"OI, KAK AKI! TUNGGU DU-"
BRAK! PRAK! PRANG!
"GYAAAAH!"
Lalu dunia gelap, Kei hanya bisa melihat ada kunang-kunang lagi tanding voli three on three ketika Akiteru berhasil memukul homerun ke kepala pirangnya.
.
.
.
Saki tidak tahu harus berkata atau mikir apa waktu memasuki kamar Kei dan melihat benjolan yang mirip smiley di WA lagi nangkring di jidat cowok pirang itu. Kacamata cowok itu bahkan sampai miring dan tidak bisa dipakai lagi. Sementara Akiteru dengan tergopoh-gopoh dan panik –ya, aktingnya memang natural- meminta Saki untuk untuk mengambil kotak P3K yang ada di ruang keluarga.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kak Aki?" Saki ikutan panik waktu melihat benjolan itu membiru, kontras dengan kulit dan warna rambut Kei.
"Jangan banyak tanya, segera lakukan pertolongan pertama. Jidat Kei dalam bahaya!"
"Siap!" Saki melakukan salut.
"Bagus, kalau gitu aku serahkan nyawa adikmu padamu, Saki!"
"Baik, kak Aki!"
"Kau bisa melakukan pertolongan pertama dalam kecelakaan, kan?"
"Bisa!" Saki mingkem sejenak, "…Uh, kayanya."
Kei, yang lagi menatap Akiteru dengan tatapan setajam gigi T-Rex, rasanya pengen melempar mereka berdua dari jendela. "Lebih baik aku pergi saja."
"Jangan!"
Dua orang parno itu seketika memegang lengan Kei, yang satu memegang lengan kanan, yang satu memegang lengan kiri, persis seperti istri pertama dan istri muda yang lagi rebutan hak waris.
"Kau duduk saja, nanti lukamu bertambah parah."
Kei melotot sampai mukanya hampir merah waktu mendengar Akiteru bicara. Salah siapa dia sampai mendapatkan benjolan segede titan di jidatnya?!
Kei baper, ih.
"Psst! Yang penting rencana kita berhasil."
"Rencana yang ma-HMMPH!" mulut Kei dibekep tangan kekar Akiteru.
Oke, fix. Mata Kei makin melotot. Apalagi waktu melihat Akiteru dengan semena-mena langsung kabur keluar dari pintu kamar.
"Kau di sini saja, biar aku aja deh, yang cari obat."
"OI!"
Saki yang kebingungan ikutan kabur, sebelum beberapa menit kemudian malah dia yang kembali sambil bawa-bawa obat luka dan kompres. Kalau bukan karena ini adalah rencana kakaknya buat mendamaikan dia sama Saki, Kei pasti udah ngerencanain balas dendam buat kakak kesayangannya itu.
Memangnya dia pemeran film Fifty shades of Kei, sampai ngerelain jidatnya digebuk kaya bantal?
Kei juga manusia!
Tapi buat saat ini, lupakan soal Akiteru, karena kedatangan cewek berkuncir bernama Saki membuat Kei kehilangan selera misuh-misuhnya.
Terus terang Kei kagok juga. Soalnya dia nggak biasa nyapa duluan, apalagi kalau lagi perang dingin. Makanya, begitu berhadapan dengan muka polos Saki, Kei jadi bingung. Dia mau ngapain? Mau ngomong apa? Masa langung sok akrab terus ketawa-ketiwi dan cipika-cipiki?
Kayanya nggak mungkin…
Karena berpikir tidak mungkin mereka diam-diaman selamanya, sembari mengabaikan rasa sakit di jidat, Kei memilih duduk di kasur.
"Biar kubantu."
Tanpa menunggu jawaban, lengan Kei sudah digamit tangan kecil nan lembut. Dengan hati-hati, Saki kemudian mengoleskan obat luka ke jidat memar Kei setelah sebelumnya membersihkannya dengan disinfektan. Semua dilakukan dengan cekatan, dan tentu saja di bawah mata awas Kei.
Sementara Kei hanya bisa melihat sambil mati-matian mengatupkan bibir. Selain karena jidatnya perih merana –sial kau, kak Akiteru! pikir Kei- dia juga setengah was-was buat mengeluarkan komentar. Salah ucap sekali saja maka kesempatannya buat baikan dengan Saki pun melayang.
Bye-bye pengorbanan jidat benjol.
Salah-salah Akiteru akan melemparnya ke lubang buaya dan Kei tentu saja, tidak mau dibuat benjol kedua kalinya.
Sepasang mata emas itu tak henti menatap raut wajah Saki yang sedang bekerja. Sekalipun diam, raut wajah Saki jauh dari dingin, dia hanya konsentrasi penuh pada area yang dikerjakannya.
Kalau dilihat dari dekat, Saki tidak terlihat menyimpan kemarahan, kok. Dan fakta ini semakin mengganggu pikiran Kei. Cewek ini bisa dengan gampangnya membuang kemarahan pribadinya saat keadaan berubah genting. Bukankah itu bukti kalau cewek ini orang yang baik? Atau mungkin rencana kakaknya memang efektif?
Permusuhan ini jadi semakin terasa tidak berguna.
Bodoh…
"Selesai."
Saki tersenyum lalu mengacungkan jempol. "Benjolnya sudah kuobati. Nanti kalau tambah biru, kau bisa pakai concealer punya bibi Megumi biar nggak kelihatan mencolok. Nanti kalau kamu nggak bisa make aku bisa bantuin makein, kok."
"Tidak perlu." Kei berdehem. "Uh… terima kasih." Dia cepat-cepat menambahkan, takut kalau Saki mengira penolakannya adalah bentuk dari kejudesan Kei.
Saki hanya mengangguk sambil mengamati tangan Kei meraba benjol di jidatnya, lalu menatap kembali wajah tanpa kacamata Kei.
Tapi kok aneh? Default muka Kei kan biasanya datar-datar gitu, kadang-kadang seperti orang males, kadang-kadang mukanya ngeselin kaya nangtangin buat ditabok. Sekarang beda. Selain ada benjolan nangkring di pucuk depan kepalanya, alisnya juga berkerut.
'Kei lagi mikir matematika? Apa lagi ngebedain Arial sama Helvetica? Apa lagi melakukan simulasi fisika di dalam kepalanya? Sugoi.'
Sementara otak polos Saki yang bebas suudzon sedang mikir, Kei curi-curi pandang gadis di sebelahnya sambil berpikir. Soalnya situasi ini belum pernah dihadapinya sekalipun.
"Saki-sama."
"Iya?" Saki pasang tampang polos.
Kei menghela napas, menimbang situasi yang ada dan memperhitungkan perkembangannya. Haruskah dia lanjut dengan rencananya? Apa nanti Saki nggak akan besar kepala kalau Kei melaksanakan saran Akiteru?
Sementara Kei lagi terombang-ambing kegalauannya, objek yang jadi sasaran eksperimen teori Akiteru dan Kei alias Saki masih bengong. Baiklah kalau gitu, dia putuskan lanjut saja… ke bagian yang mempertaruhkan harga dirinya.
"Aku..."
Pause.
Saki angkat alis satu, dan tetap menatap Kei lekat-lekat. Oh, mata hijau itu… sepolos mata anak kecil yang lagi nadahin tangan sambil berucap, 'mana permen yupinya, paman?'.
Kei jadi merasa kaya om-om pedofil. Sial. Dia jadi makin salah tingkah. Apa dia batal aja ya?
"Aku…"
Pause. Lagi.
Saki angkat alis satunya lagi. Pegel.
"Aku…"
Saki siap-siap angkat kaki.
"Aku…"
"Iya, kamu? Terusannya apa?" balas Saki. Lama-lama keki juga nih. Habisnya Kei ngomong kaya orang mau parkir mobil, maju mundur.
Kei ngedumel dalam hati. Cewek ini bisa ketus juga. Sebenarnya lidah Kei sudah gatel mau mengeluarkan komentar sarkastis tapi ditahan.
Ingat misi kali ini, Kei.
Inget Akiteru, Kei.
Inget benjol di jidat, Kei.
Inget, Kei. Istigfar…
Kei tarik napas panjang.
"… aku minta maaf."
Akhirnya! Kata-kata itu berhasil terucap walaupun harus dicicil nggak pake bunga. Tiba-tiba saja Kei ingin menyeka keringat yang tak terasa menetes di jidat benjolnya. Minta maaf itu ternyata horror juga. Ini baru minta maaf, belum ngelamar cewek buat jadi nyonya rumahnya secara permanen. Hadeuh. Hidup sebagai lelaki itu rempong juga ternyata.
Saki terperangah, "Kamu…"
"Iya, aku." Bales Kei, giliran dia yang keki. Dasar cowok jutek, minta maafpun sempet-sempetnya baper.
"Aku minta maaf sudah bikin kamu uring-uring-Uh, salah, maksudku, maaf sudah membuatmu tersinggung. Kau berhak marah. Mungkin kemarin-kemarin aku mengatakan sesuatu di saat yang tidak tepat. Maaf juga sudah membuatmu kerepotan selama ini dengan request-ku. Hanya saja, aku tidak bisa menarik permintaanku untuk tidak membocorkan kalau kau tinggal bersamaku. Karena kurasa akan lebih banyak kerugiannya dari pada keuntungannya. Tapi aku akan membantumu sebisa mungkin agar kau bisa beradaptasi di sini. Kau… mau kan memaafkanku?"
Monolog singkat Kei berakhir dengan ragu-ragu, selain karena Kei bukan orang yang biasa melakukan hal ini, juga karena reaksi Saki tidak seperti yang diharapkan. Bukannya terharu dan mengusap air mata bahagia seperti cewek-cewek moe yang ada di anime-anime, Saki malah melihat Kei dengan intens. Lengkap dengan alis berkerut dan mata setengah melotot ala jagoan yang mau ngelempar tantangan perang sama penjahat.
"Kei…"
Bibir Saki gemetar. Ekspresinya kaget, pakai nutup mulut dan mata melebar.
"Kamu gegar otak ya?!"
"Hah?" Kei cengo.
"Kamu nggak apa-apa,kan? Otak kamu nggak korslet, kan?"
"Haaah!"
Kok reaksi Saki kaya gini? Romantis dikit, kek. Ekspresi Saki itu loh, kaya orang yang lagi nonton debus: tegang kaya karet ketapel. Maaf, perumpamaannya nggak nyambung.
Detik berikutnya tangan Saki sudah nemplok ke jidat Kei dengan seenaknya.
"Kei yang aku kenal nggak akan minta maaf semulus itu. Dia lebih milih dipingit dan dikawinin sama sekawanan dinosaurus plastik daripada minta maaf sama aku!"
Hanjeeer! Jadi itu sebabnya?
"Kau pikir aku senista itu?!"
Tangan Kei gatel buat jambak bulu kaki orang. Nggak. Dia gatel buat ngambil tali rafia dan gantung diri di jendela. Biar aja dia jadi bahan tertawaan kucing-kucing tetangga. Seenggaknya itu lebih terhormat dibandingkan frustasi gara-gara cewek ini.
"Ngaku aja! Kepalamu pasti terluka parah pas jatuh tadi. Aku panggilin dokter, ya." Saki mulai prihatin.
"Nggak. Aku mau mati aja."
"Keeeiii!"
"Berisiiiik!"
Maka acara permintaan maaf yang melankolispun batal demi hukum.
.
.
.
'Dasar cewek sinting! Cewek bodoh! Malu-maluin.'
Kei uring-uringan sendiri di dalam kamar. Ternyata acara curhatnya dengan Akiteru yang berujung pada penganiayaan pada salah satu bagian tubuhnya itu berakhir sia-sia. Tau gitu dia nggak usah kepikiran tentang sikap cewek itu. Buang-buang energi aja. Soalnya cewek itu ternyata gampang ngelupain masalah, jadi buat apa sebenernya acara pemukulan jidatnya yang nggak bersalah dengan gagang sapu keramat milik keluarga Tsukishima?
Jidatnya nggak diasuransiin!
Kei sebenarnya ingin teriak ke seluruh dunia, baper. Tapi gengsi.
Merasa suntuk, Keipun membuka jendela kamarnya. Angin segar menyapanya dan mengundangnya melongok ke luar jendela, menikmati cahaya bulan di malam yang belum terlalu larut. Cowok itu menghela napas panjang. Kalau dipikir-pikir, dia sendiri yang bersikap konyol dan heboh. Selama ini Kei tidak pernah membiarkan orang di luar keluarganya menyita perhatiannya. Tapi aneh, gadis itu sudah berhasil membuatnya kepikiran. Walaupun yang Kei pikirkan adalah perasaan kesal, tapi setidaknya gadis itu telah membuatnya concern dengan hal selain dunia nya sendiri… dengan sangat mudahnya.
Apa karena gadis itu tinggal serumah dengannya?
'Sial.' Runtuk Kei.
"Nggak takut masuk angin?"
Deg.
Untuk sejenak Kei tidak tahu harus berbuat apa, mau menoleh ke samping juga rasanya segan. Gengsi kalau ketahuan dia lagi melamun dan nggak sadar kalau ada sosok lain yang juga tengah melongok dari jendela di kamar sebelah.
"Kau juga sama, Saki-sama. Badanmu lebih ringkih dari badanku. Sana, dari pada masuk angin."
Eh? Nggak salah? Ucapan Kei barusan membuat Saki tertegun. Sebabnya ini adalah kalimat manis pertama yang Kei ucapkan, sekalipun ada nada ketus di dalamnya. Dan yang kedua, karena Saki teringat dengan permintaan maaf Kei tadi siang.
Saki yakin kalau Kei makin kesal karena sikap Saki terhadap permintaan maaf yang gagal itu. Tapi apa mau dikata? Dia sendiri tidak bisa mengontrol tingkah lakunya tadi sore. Terbiasa dengan sikap tidak ramah Kei, dia sedikit kagok waktu cowok tinggi itu secara frontal minta maaf di depannya. Malahan Saki jadi salah tingkah…juga malu.
Habisnya permintaan maaf Kei sudah membuatnya sadar, kalau sikapnya selama beberapa hari ini kekanak-kanakan. Dia sendiri bilang ke Kei kalau Kei itu seperti anak kecil, tapi ternyata sikapnyalah yang kekanak-kanakan. Diperparah lagi cowok itu minta maaf dengan cara yang menurutnya gentle.
Saki kan merasa gimanaaaa gitu. Dia merasa sangat bodoh dan dangkal. Saki mengira dia tidak bisa bertingkah lebih bodoh lagi, tapi ternyata kejadian sore ini berkata lain. Dia mengacaukan kesempatannya berbaikan dengan cowok itu. Suatu kesempatan yang sangat langka dan tanpa memikirkan apa-apa lagi, cewek itu membuang kesempatan yang ia punya ke luar jendela dengan pura-pura nggak mengerti dengan apa yang diutarakan cowok itu.
'Bodoh.' Runtuk gadis itu.
Tapi mau sampai kiamat meruntuki diri sendiripun tidak akan bisa mengubah keadaan. Dia harus melakukan sesuatu sekarang juga.
Saki menghela napas.
"Jadi… Uh… Kei…Kita berdamai?"
Kepala pirang itu menoleh cepat. Alis bertaut. Sejenak cuma angin yang bersuara di antara mereka.
Kei hanya menatapnya seolah gadis itu adalah gadis tersinting di dunia. Kalau telinga Kei tidak menipunya, artinya….gadis itu…
Tsk! Benar-benar ya…
"Jadi kau sebenarnya nyambung dengan yang kuomongin tadi sore?"
"Ehehehe…" Saki tidak tahu harus jawab apa. Apalagi saat ini Kei sedang menatapnya dengan tatapan yang… bisa dikatakan kalau tatapan Kei itu adalah tatapan setengah tidak percaya, setengah kagok yang dicampur dengan tatapan seorang bapak tiri yang lagi PMS.
Pokoknya bikin nggak tenang dan yang melihat akan merinding.
Cowok itu mendecih, "Aku tidak menyangka kalau kau itu ahli dalam mempermainkan perasaan dan reaksi orang, Saki-sama." Gumam Kei.
Kalau hal itu dilontarkan kemarin-kemarin pas dia lagi bad mood, Saki mungkin akan beraksi seperti Tanaka yang lagi emosi di musim panas pada waktu siang hari, tapi untuk kali ini dia akan membiarkan yang ini lolos.
Sambil menikmati rasa gugup bin gelagapan, Saki garuk-garuk pipi, "J-jadi…"
"Tawaran untuk damai sudah expired," potong Kei ketus.
"Kok gitu?!" Saki memekik gara-gara kaget, kedua tangan mencengkeram bingkai jendela. "Kan bukan salahku kalau kau minta maaf karena bersalah padaku, " Saki diam sejenak, "Kok kalimatku barusan agak aneh ya?" gumamnya.
"Kau yang aneh."
Saki merapatkan bibirnya, "Bukan salahku bereaksi seperti tadi. Kau adalah orang yang tersulit yang pernah kutemui, Kei. Maksudku, apa salahku selama ini padamu? Dari awal kau sudah tidak ramah padaku. Aku mencoba mengikuti permainanmu, tapi kau sepertinya tidak puas. Ya, aku cuma mencoba memahamimu, atau setidaknya berpikir dari sudut pandangmu. Tapi sepertinya usahaku selalu menghadapi jalan buntu. Wajar kan kalau aku jadi emosi…?"
'Kok aku jadi makin kaya terpidana gini?'
Giliran Kei yang merapatkan bibir. Matanya melirik tajam, tampak dari sudut penglihatannya, Saki sedang menunduk, kali ini ikut-ikutan manyun. Dilihat sepintas, gadis itu kelihatan sedang bete, tapi buat Kei, tanpa harus menganalisa lebih jauhpun Kei juga tahu kalau Saki sebenarnya sedang berpikir keras.
Gawat.
Sejak kapan Kei jadi paham jalan pikiran Saki? Padahal dia kan nggak sering memperhatikan gadis itu… atau mungkin dia memang sering ngasih perhatian tanpa sadar?
Kei masih mengamati wajah berpikir Saki, yang kalau diingat-ingat malah mirip ekspresi Kageyama waktu milih susu strawberry atau susu vanilla dengan buliran kacang Afrika dan ekstrak tomat di vending machine di sekolah. Tapi kalau melihat wajah Kageyama dia jadi eneg, kalau melihat wajah cewek ini, Kei jadi…-
Cowok itu mengalihkan perhatiannya ke depan begitu Saki kembali memfokuskan pandangannya ke Kei. Dan momen itu membuatnya sadar akan satu hal: Kenapa dia deg-degan waktu Saki melihat kemari?!
'Cih.'.
Ah, dia hanya takut ketahuan kalau sudah memandangi Saki dengan cukup lama.
Iya kan ,Kei?
Entahnya. Kei sendiri tidak yakin apa sebabnya. Karena tanpa sadar, saat melihat gadis itu sedang mencoba serius seperti sekarang, dengan mata hijau yang fokus pada tanaman mawar di bawah jendela kamar mereka, ditambah setangkup rasa frustasi yang sebabnya adalah rasa putus asa dalam memahami dirinya, Kei jadi berpikir… betapa mudahnya untuk jatuh cinta pada ekspresi polos milik gadis itu…
"Kita memulai perkenalan kita dengan cara yang salah. Tidakkah ini saatnya untuk memulai kembali? Aku jamin, kalau berdamai denganku, kau nggak akan rugi, kok."Saki tersenyum lembut, "Setidaknya kau nggak akan sampai berniat gantung diri dengan tali jerami."
Entah apa sebabnya, pernyataan Saki barusan berhasil membuat sudut bibir Kei terangkat ke atas. Itu bukan pernyataan yang lucu, malah lebih tepatnya ironis. Berapa kali gadis itu sudah membuatnya kesal setengah mati? Berapa kali gadis itu sudah membuat pertanyaan dan pernyataan yang membuatnya kadang tidak tahu harus menjawab apa, bahkan kadang gemas, kadang frustasi? Tapi lagi-lagi Kei tidak tahu sebabnya, keberadaan gadis itu di rumah telah membuat kehidupan Kei akhir-akhir ini menjadi lebih tidak membosankan dari biasa. Kombinasi fakta yang ada dengan pernyataan Saki barusan tak hanya berhasil membuat cowok itu tersenyum, tapi juga tertawa.
Saki kedua kalinya hanya bisa tertegun di malam itu kala mendengar tawa geli dan renyah dari seorang Kei. Karena gelak tawa itu bukanlah tawa licik yang seperti biasa Kei tunjukkan.
Tidak.
Tawa itu lebih mirip tawa anak kecil yang sudah menang adu serangga bersama teman-temannya di musim panas.
Deg.
Mata hijau itu terpaku pada mata sipit saat sang pemuda tertawa. Pada rambut cepaknya yang disapu angin. Pada lepasnya image acuh dan angkuh yang berusaha ditunjukkan oleh pemuda itu.
Tanpa sadar Saki berpikir, betapa mudahnya untuk jatuh cinta pada tawa Kei di malam hari itu…
…
…
"Jadi… kita damai? Kau belum berikan jawaban dari tawaranku, Kei." Tangan Saki terulur, setengah memaksa karena jarak antar jendela kamar mereka.
Senyum sejenak, sebelum tangan kokoh pemuda itu menyambut jemari halus milik sang gadis.
"Baiklah. Kalau itu maumu, Saki-sama."
.
.
.
TBC
.
.
Osssssuuuuuu!
Pa kabar, minna-saaaan? Hisashiburiiiii?! #author lompat-lompat gaje.
Seriusan, how long since I'd updated this fanfic? Sebulanan ada kali ya.
Hwaaaa, maaf. Maaf banget lama. Moga-moga readers nggak lupa ama fic ini. Hiks, hiks…
Yok, daku mau mengucapkan makasih banget buat para readers yang udah ngasih review.
Shigatsu-sanjyunichi-san: UWOOOOH! DIRIMU JUGA MANTENGIN KUROKO, TOH! KYAAAH! (capslock abused). Aku jugaaaaa. Sebelum nonton Haikyuu daku udah keracunan Kuroko dkk duluan. Jadi suka ngebayangin generation of miracle itu jadi boysband ala one direction gitu (namanya aja : misdirection). Pasti gaje, deh. #impian anak alay banget yah, daku.
Aku khawatir kalau mereka pakai nama asli kan jatohnya ke crossover, dan males nyantumin disclaimer tambahan, hehehe. Jadinya namanya kuplesetin dikit. Paling parah ya… si kucel manis, Yaoi, maksudnya Aomine Daiki. Wkwkwkw #dimasukin ke keranjang basket.
Kei sama shintaro sepupuan? Boleh juga ituh, sama-sama tsundere, sih. Ahahaha.
O iya, alasan kenapa Kiyoko mengajak Saki ikutan gabung di klub voli Karasuno terjawab sudah. Hehehe. Thanks a lot ya, Shigatsu-san. You always review my fanfic. I feel totally appreciated. Terharuuuu.
Zerorin05-san: Haloooo! Thanks udah direview yah. Semoga chapter baru ini bisa menghibur Zerorin-san. Maaf lama apdetnya. Moga-moga nggak mengecewakan dan bikin betah ngikutin fanfic ini. ^^
Shavira-san: Hai! Ini udah dilanjut. Moga-moga stay tune yah. Makasih reviewnya. #senyum
.
.
Author corner:
Oh ya, Minna-san, tentang chapter ini, as usual, daku (tadi nyebut diri 'author', sekarang 'daku', dasar nggak konsisten) bikinnya udah dari lama. Kebiasaan daku adalah, selalu prepare satu or dua chapter sebelum post chapter yang akan diupload (bahasanya mbulet nggak sih?). Jadi daku tuh memang ngapdetnya agak lama. Nah, berhubung real live sibuknya ampuuuuun-ampunan, daku jadi pesimis bisa update secara konsisten. Hiks. Tapi I love this fanfic, as crapy as it is. Yah, meskipun tulisan author masih amatir banget, tapi fanfic ini dibuat susah payah kok. Apalagi daku suka banget sama Haikyuu dan Tsukishima Kei, dan berusaha nyiptain OC yang kira-kira bisa lovable buat dipasangin sama si Tsukki. Jadi, moga-moga nggak drop semangatnya buat nerusin ini fanfic.
Okay, tentang chapter ini, kenapa panjang banget? Mungkin ada yang protes yah. Hiks-hiks. Gomeeeen atas ketidaknyamanannya, soalnya diriku males mecah ini chapter jadi dua. Jadinya panjang dan monyong indah gini deh chapternya. Dan untuk masalah typography, author sudah berusaha mengedit sebisa mungkin, tapi kalau nemu kata-kata yang salah ketik atau apa mohon dimaklumi ya, readers yang baik dan unyu. #kedip-kedip.
O iya, author nggak sengaja (atau sengaja yah?) masangin Kiyoko sama Akiteru. Pas pertama konsepnya jadi, terus terang daku jadi mengernyitkan dahi. Tapi malah dilanjutin aja, hehehe. Di fic ini beda usia mereka nggak begitu jauh, soalnya Akiteru masih jadi mahasiswa tahun kedua (jangan tanya semester berapa yah, hahaha #gaploked).
Dan YOOOOSSSHH! AKHIRNYA KEI DAN SAKI RUJUK JUGAAA! #Dilempar sepatu gegara berisik.
Fiuh…
yah, walaupun proses rujuknya juga nggak mulus-mulus amat, butuh pengorbanan dari Kei sedikit (sedikit benjol maksudnya). Soalnya kalau daku mikir, Kei itu apa-apa harus dipaksa. Kenalan sama cewek dipaksa, bersikap manis juga dipaksa, apa jangan-jangan ntar kawin juga harus dipaksa? Hm…
Anyway, thanks buat yang udah baca, buat yang review, buat yang fav dan alert. Lov you so much, guuuys!
Until the next chapter.
