Summary: Ibarat permen, Tsukishima Kei itu nano-nano. Pedas, asem, asin, bahkan rasa Tsukuyomi juga ada. Hanya saja, Kinoshita Saki belum merasakan sisi manisnya. Bahkan interaksinya dengan Kei kebanyakan berakhir dengan pose OTL. Semua bermula dari acara pertukaran pelajar yang mengharuskan dia numpang di rumah si pemuda berkacamata, ditambah dengan perkenalan yang tidak bisa dikatakan semulus paha para waifu otaku di Jepang, bisakah Saki bertahan menghadapi si kacamata berlidah tajam dan tidak bunuh diri di dahan pohon kacang?

.

.

.

Disclaimer: Haikyuu is not mine, dalam mimpi sekalipun, hiks.

.

.

.

Hari itu Saki bergerak hampir tanpa henti. Tangan mencatat statistik, mengambilkan minuman, mengambilkan handuk, sesekali mengelap titik keringat yang jatuh ke lantai agar tidak mencederai para pemain voli Karasuno. Kaki pegal berdiri, berlari, kadang skipping sedikit kalau berjalan dirasa kurang cepat. Benar-benar hari yang sibuk di tengah minggu yang juga sibuk buat para manager tim bola voli Karasuno.

Seperti biasa, hari itu waktu bergulir dengan cepat. Tahu-tahu langit sudah oranye lalu menghitam. Tahu-tahu hari sudah malam. Tahu-tahu hujan turun dengan deras tak terkira, mengepung gym dengan guyuran bergalon-galon air, memerangkap para anak gagak yang lagi semangat-semangatnya memoles trik baru mereka buat dibawa ke arena tanding beberapa bulan lagi.

"Yah… hujan," desah Yachi sembari memeluk bola voli. Tolong lindungi Yachi, soalnya si cewek itu keliatan bener-bener kawaii pakai banget. Jangan sampai para lolicon melihat Yachi yang seperti itu deh, bisa-bisa diculik.

"Hujan? ASIIIK!" Hinata lompat-lompat kegirangan, "Berarti waktu latihan ditambah! UWOOOOH!"

"HINATA BOGE! ITU KATA-KATAKU, BOGE!"

"Jangan teriak-teriak, Kageyama!" Daichi mau nggak mau jadi jejeritan macho.

"Osu! Maaf, kapten!" Kageyama menunduk ke Daichi. Bisa gawat kalo papa Daichi marah-marah.

Hinata menutupi mulutnya yang lagi nyengir, "Eh? Yama-yama-kun kenapa? Dimarahain kapten lagi ya? Ahahaha!"

"HINATA BOGEEEEE!" raung Kageyama refleks.

"Kalian berdua jangan ribut! Dilarang latihan tambahan kalau suara kalian ngalahin toa, nanti kita dimarahin pak guru lagi!"

"OSSSSUUUUU!"

Daichi harus tutup kuping mendengar paduan suara polos tapi tak indah didengar dari si rambut hitam dan si ubun-ubun oranye. Tapi kemudian mereka kicep dengan sedihnya, bayi gagak yang baru menetas aja kalah, Daichi jadi ngerasa bersalah.

"Sebenernya secara teknis kan kita nggak lebih ribut dari badai di luar, Daichi-san. Nggak akan ada yang mendengar kita sekalipun kita meledakkan petasan di sini." Kei nyeletuk. Setengah pamer dengan kemampuan berpikirnya.

"Eh?"Daichi memandang Kei dengan heran, "…iya juga sih…" gumamnya sambil gosok-gosok dagu.

"JADI KITA BOLEH LATIHAN TAMBAHAN, DAICHI-SAN?" Kageyama bertanya dengan teriakan super intens.

Pembicaraan pun makin hilang fokus.

"BOLEH, DAICHI-SAN?" ulang Hinata tak mau kalah dalam berteriak.

Efeknya, kepala Daichi cenat-cenut gara-gara diteriakin oleh dua orang hyper yang sedang memandanginya dengan penuh harap.

"Sesuka kalian, lah," putus Daichi sambil mengurut keningnya.

"UWOOOOH!" si orange dan si hitam mengepalkan tangan. Lalu tos dan joget-joget makin nggak karuan.

"TSUKISHIMA KEREEEEN!" puji Hinata.

"Un!" bahkan Kageyamapun setuju.

"Uh…." Si kuning jangkung (jerapah?) speechless. Entah karena kagok karena tidak terbiasa dipuji oleh Hinata dan Kageyama, atau karena menyesal sudah mengatakan ke Daichi-san kalau tidak akan ada yang tau kalau mereka ribut. Soalnya gara-gara itu Hinata dan Kageyama makin ekstrim melanjutkan sesi latihan mereka yang pastinya ekstra berisik.

Hadeuh…

Senjata makan tuan.

Sementara anak-anak Karasuno lagi ribut, Saki menatap buliran hujan yang turun sembari senderan di jendela. Hmmm… kalau kaya gini gimana bisa pulang?

"Oi…"

Kei menghampiri Saki yang sedang menatap hujan dengan mata sayu.

"Ngapain ngliatin hujan dengan muka memelas begitu? Wajahmu sudah seperti anak ilang."

"Kkhhh…" Saki melirik sebal ke pemuda yang lagi asyik menenteng dua botol minuman.

'Jadi ini yang namanya damai versi Kei? Kok aku tetap jadi bahan ledekan? Hadeuh.'

Kei angkat alis, "Sekarang tampangmu kaya Kageyama. Sama-sama kaya orang sakit perut. Kembar ya?"

"Kei…"

Kei angkat tangan, "Becanda."

Saki maunya sih manyun, tapi sebotol minuman yang diacungkan Kei ke arahnya membuat senyumnya mengembang.

"Haus, kan?"

Mata Saki kedip-kedip ganjen, ke botolnya, bukan ke Kei, akibat terlalu terlalu bahagia melihat botol air mineral yang mengingatkannya akan rasa hausnya.

"Makasih." Sahutnya kemudian dengan manis seraya meraih botol minuman yang ditawarkan Kei. Gadis itu lalu duduk di lantai gym, mengikuti Kei yang lebih duluan duduk.

Mereka memperhatikan teman-teman yang lain yang tampaknya juga bingung bagaimana cara mereka akan pulang di tengah badai begini. Pengecualian buat Kageyama dan Hinata tentunya. Mereka malah asyik latihan teknik quick yang baru.

Satu kata di kepala Saki buat mereka: mengagumkan.

Stamina, kecepatan, akurasi…

Di mata Saki, mereka mengagumkan sekaligus bikin iri.

"Hei, mereka memangnya udah temenan dari kecil ya?"

Kei melirik malas ke arah yang lagi dilihat oleh Saki, "Maksudnya Ou-sama dengan kembaran Naruto itu?"

Saki sweatdrop, tapi kepalanya mengangguk.

"Nggak."

"Eeeh?"

Kei menutup botol minumannya setelah sebelumnya meminum isinya. "Mereka baru kerjasama di tim ini ya pas mereka masuk Karasuno," Kei menjelaskan sambil bergumam.

"Masa? Aku selalu mengira kalau mereka sudah lama kenal. Soalnya mereka juga akrab. Kok bisa mereka dapet chemistry sekuat itu ya?" Saki berkomentar takjub.

Kei angkat bahu, "Jodoh kali."

"Hmmmm….bisa jadi," Saki ikutan menggumam, mata masih memandang lekat ke duo berisik yang sedang menguasai lapangan. "Soalnya kombinasi mereka unik," sambungnya.

"O ya?" Tentu saja Kei tahu. "Unik dari mananya?" pancing Kei.

"…" Saki ngusap-ngusap dagu, padahal jenggotnya tumbuh aja nggak.

"Hinata itu punya skill, terus staminanya di atas rata-rata. Dari latihan aku juga sering lihat kalau dia suka melakukan sesuatu sesuai impuls dan tiba-tiba, tapi anehnya Kageyama selalu bisa mengimbangi Hinata, seolah-olah dia sudah tau, bahkan terbiasa. Padahal Hinata speed-nya tinggi banget. Kadang-kadang dia makai broad attack juga. Kalau setter-nya nggak bisa ngikutin dan ngasih pass-"

"Maksudmu toss?" koreksi Kei.

"Ah, iya, toss. Maaf, naluri manajer basket. Ehem. Maksudku, kalau si setter nggak bisa memberi toss yang akurat, pasti kebanyakan spike-nya akan meleset, atau malah bolanya nggak terpukul, tapi Hinata tuh bisa memukul toss itu dengan hampir sempurna. Dua orang itu kaya udah kenal lama satu sama lain. Yah, walaupun ini sebenernya nggak mengherankan, soalnya Kageyama itu kayanya memang punya bakat yang besar di voli. Tapi sepertinya hubungan mereka memang nggak searah, jadi, ini bukan semata karena skill Hinata yang tinggi aja atau karena Kageyama memang sangat berbakat aja. Tapi mereka memang saling melengkapi. Seolah-olah mereka memang diciptakan buat jadi satu paket."

"Maksudnya?"

"Eum… begini. Dalam suatu pertandingan, para pemain pasti menghadapi pressure yang tinggi. Koreksi aku ya kalau salah, Kei kan lebih pengalaman. Kalau kulihat, di voli, setter itu yang paling punya akses buat menentukan arah dan tipe serangan. Dia juga punya tanggung jawab buat menyusun taktik dimana dan ke siapa bola akan di-pass-"

"Di-toss," koreksi Kei lagi sambil sweatdrop.

"Hwaaa, maaf, lupa melulu." Saki acak-acak rambut, "Jadi, kalau aku nggak salah ingat, saat tim terdesak, setter-lah yang paling punya beban buat menembus pertahanan lawan. Dari yang kulihat, Kageyama tuh punya daya analisa yang bagus buat menjebol blok lawan. Hanya saja kalau dia nggak hati-hati, toss-nya akan mengakibatkan spiker memiliki ruang yang sedikit buat berpikir saat mengeksekusi toss-nya."

"Kau tahu, dari sanalah dia mendapatkan julukan raja lapangan?"

"Maksudnya?"

"Karena dia terlalu fokus pada perspektifnya sendiri. Dia memang bisa melihat titik lemah blok lawan dan menentukan spot mana yang bagus untuk memproyeksikan bola, tapi sayang, kelemahannya adalah dia lupa… tidak, dia tidak mau tahu dengan pemain lain. Dia hanya menuntut mereka untuk bisa mengikutinya karena dia percaya bahwa caranyalah yang paling tepat untuk menang sehingga pemain lain sering keteteran. Mirip seorang raja, kan? Raja yang egosentris."

"Mmhhh…" Saki menggaruk pipinya dengan iseng. Kata-kata Kei barusan tidak menyenangkan didengar. Diam-diam Saki merasa kasihan sama Kageyama. Dia berbakat, dan bakatnya membuatnya menonjol di antara pemain yang lain. Seperti raja. Tapi raja tanpa pengikut. Raja yang pahit dan getir. Seperti kata Kei. Dan sepahit kata-kata Kei.

Ngomong-ngomong tentang Kei, Saki refleks menoleh ke sampingnya, hanya untuk menemukan kalau pemuda pirang itu lagi memandanginya dengan intens dengan dahi berkerut dan mulut yang melengkung tak bersahabat.

"Kei, ngapain ngeliatin aku kaya gitu?" Saki sweatdrop untuk kedua kalinya, "Kamu ngeliat aku kaya cari musuh, tau."

Tatapan Kei menusuk dan tajam. Pandangan itu bikin Saki yakin kalau tidak ada orang di gym pasti ia sudah dicekik.

Ada apa lagi, sih?

"Daya analisismu menyebalkan," gumam Kei akhirnya, masih tetap memandangi Saki dengan tatapan ala jus buah asem: kecut abis. Pokoknya Kei kaya anak SD yang follower instagramnya kalah jumlah sama follower akun anak tetangga, deh.

"Memangnya kenapa, sih?" Saki nanya setengah ngedumel. Lagi asyik-asyiknya diskusi, Kei malah ngeliatin kaya gitu. Kan Saki kaget juga. Padahal dalam hati Kei hanya mengakui kemampuan menganalisa yang dimiliki Saki. Dia baru beberapa kali melihat mereka latihan dan Saki sudah bisa menyimpulkan seperti itu. Padahal asal tahu saja, Saki tidak serta-merta nyerocos karena hanya karena melihat, tapi dia juga melihat statistik para pemain, serta browsing berbagai informasi tentang voli dan tanya-tanya ke kak Akiteru.

"Orang bodoh itu menyebalkan. Tapi orang cerdas seperti dirimu, lebih menyebalkan lagi," sahut Kei sambil cemberut.

"Kkhhhh," Saki mengeluarkan suara tercekik saking sebel dan kagoknya. Nih cowok ya, dasaaaar!

Eh? Tunggu!

Berarti tadi dia bilang Saki itu cerdas?

Sampai Kei sebal? Berarti kecerdasannya selevel Kei?

Uwaa….

Hati Saki kembang-kembang bunga mawar, kamboja, dan kenanga bak kuburan di musim ziarah.

Tapi bisa nggak sih Kei mujinya pakai cara yang normal aja?!

"Lalu, kalau anggota yang lain gimana?" Tidak disangka, cowok itu masih saja melanjutkan sesi wawancaranya dengan si cewek bermata hijau.

Saki hanya diam seraya memutar otak karena pertanyaan dan nada main-main di kalimat Kei barusan rasanya mencurigakan.

"Kau sedang menguji isi kepalaku, ya?"

"Mhm," si cowok menjawab santai.

'Asem!'

Tadi sebel, sekarang sikap Kei malah seperti menemukan objek penelitian baru. Maunya cowok ini apa sih?

"Kalau Daichi-san gimana?" Kei masih keukeuh. Jarang-jarang dia mau ceriwis bertanya banyak hal ke orang lain. Buat Kei ini beda, karena Saki baru kenal voli, dan baru juga di sekolah, apalagi di klub ini, Kei jadi ingin tahu pandangannya tentang klub dan olahraga ini dari sisi orang luar. Berbicara dengan Saki, selain untuk menguji sejauh apa daya nalarnya, Kei juga jadi punya perasaan seperti sedang menyaksikan acara fortune telling, atau malah acara tebakan berhadiah. Cowok jangkung itu jadi menebak, apakah simpulan yang dibuat Saki akan sama seperti kenyataanya atau malah meleset jauh kaya home run?

"Daichi-san? Dia kapten," Saki menjawab males sambil memanyunkan bibir.

"Usaha sedikit dong mikirnya, Saki-sama. Tsk," Kei jadi ikutan memajukan bibirnya. Sayangnya, si Kei masih belum kapok dalam berusaha agar si mungil di sampingnya itu berkicau.

"Kalau Suga-san?"

"Ganteng-ganteng serigala."

"Kok bisa?"

"Soalnya dia manis, sih, tapi kalau sadisnya keluar, jangan macem-macem deh." Jawab Saki sambil memeluk kakinya, bergidik ngeri waktu dia ingat pernah ditepok pantatnya dengan gagang pel-pelan oleh Suga karena Saki pernah bilang kalau Suga tuh secantik Laudya Cintya Belanda. Nggak sakit, sih, tapi tampang PMS Sugawara udah mirip Nyi Roro Kunti.

"Kita kan lagi ngomongin skill voli. Bukan pribadi masing-masing."

"Ish. Sama aja ah."

"Dasar. Ngambeg nih ceritanya?" Kei berdecak. "Kalau Yamaguchi?" tapi tak urung dia bertanya lagi.

"Uh… kurang pede aja. Tapi sebenernya dia bisa kok."

"Asahi-san?" todong Kei selanjutnya sambil melihat senior yang bersangkutan. Sepertinya dia sudah tidak peduli jawaban Saki nyambung atau tidak.

"Orangnya lembut, tapi sayang pada banyak yang takut," Saki cemberut, "Hei! Kamu lagi ngabsen atau apa, Kei?"

Ujung bibir Kei otomatis naik. Protes Saki entah mengapa terdengar menyegarkan mood-nya. Sayang Saki tak melihat senyum irit Kei.

"Kalau Tanaka-san?"

"Powerful. Aku nggak bakal bisa main voli sambil teriak-teriak." Saki memandang ke arah yang pemain plontos yang lagi mereka gosipin, tanpa sadar kalau kini ada sepasang mata emas yang sedang terfokus padanya.

"Nishinoya-san?" Kei bertanya setengah bergumam.

"SUGOI!" Saki menjawab sambil setengah berteriak, suaranya tersamar dengan sorak-sorai teman-teman mereka ketika Noya melakukan rolling thunder. Semuanya bersorak, semuanya terpukau, semuanya berteriak: sugoi!.

"Bukannya dia kena gaplok ya, beberapa waktu yang lalu? Sama siapa tuh?" sindir Kei.

"Ahahaha! Yang kemarin ya kemarin, itu hanya refleks kok! Soalnya ternyata Noya-san itu keren banget loh!"

Saki cengar-cengir, kontras dengan Kei yang pasang tampang serius.

"Kalau Tsukishima-kun?" Kei melirik ke gadis itu. Senyum simpulnya mengembang tatkala Saki bengong sejenak seolah memproses pertanyaan Kei.

Cewek berkuncir itu mengerjapkan matanya.

"Eh?"

Sekarang kondisinya terbalik. Saki yang diam, Kei yang nyengir. Kali ini Saki benar-benar yakin kalau Kei lagi mengerjainya.

'Cowok ini… iseng banget, sih.'

"Kalau Tsukishima-kun itu seperti apa?" Kei angkat alis, sambil menekankan kata Tsukishima-kun, bikin Saki kesel, tapi juga ingin ambil hape dari tasnya buat mengambil foto Kei saat seperti sekarang ini. Bikin gemes.

"Tsukishima-kun itu cowok yang menyebalkan," Saki melengos.

Sudut bibir Kei berkedut, nahan senyum (atau cengiran) yang hampir mengembang, "Makasih."

"Aku nggak lagi memuji." Saki menggembungkan pipi. "Dia suka bertingkah seenaknya, berkata-kata semaunya. Bilang kalau dia nggak suka main voli padahal di rumah juga latihan, dasar tsundere tingkat akut! Tapi iya juga sih, skill volinya kan so so, jadi dia harus banyak latihan."

JITT!

Perempatan tiba-tiba nangkring di jidat Kei. Sebaliknya, hati Saki makin berbunga, puas udah bikin ego cowok ini nyut-nyutan karena kesal.

"Receive-nya payah."

JLEB!

Nggak apa-apa, sodara-sodara. Hati Kei cuma kena tembak pistol angin aja kok.

"Serve-nya lemah."

Harga diri Kei retak.

"Aku paling deg-degan kalau rotasi pemain menempatkan dia di belakang. Hadeuh… Karasuno bisa jebol."

Tampang Kei saat ini sudah penuh dengan perempatan. Jangan salahkan Kei kalau jidat Saki bentar lagi semerah bunga sepatu karena dislepet pakai jemari lentik nan kejam milik Kei.

"Tapi waktu dia di depan, dia benar-benar berbeda."

…..

Apa?

Tadi apa kata Saki?

"Waktu di depan, Tsukishima-kun benar-benar menguasai posisinya. Daya konsentrasinya benar-benar luar biasa. Aku tidak mengatakan kalau saat di belakang dia tidak berkonsentrasi. Tapi waktu di depan, Tsukishima-kun benar-benar bersinar. Kalau kata Hinata, dia seperti… SWOOOSH dan GWAAAAH!" Tangan Saki terentang karena terlalu excited cerita, bibir tertawa lepas dan tulus ketika mengutarakan isi hatinya. Sementara si empunya tawa tak sadar sedang diperhatikan dengan sangat seksama oleh si pemuda bermarga rembulan.

Bola voli dan sepatu berdecit, hujan deras turun tanpa henti, suara teriakan semangat dan canda dari tim Karasuno memenuhi gym, tapi kebisingan itu tak mampu memalingkan Kei dari dering tawa Saki. Benarkah saat ini gadis itu tengah mengungkapkan pendapatnya tentang Kei?

Saki nyengir sambil usap-usap belakang kepalanya yang berkuncir, pandangannya bertubrukan dengan tatapan lembut Kei. Tunggu… apakah pemuda itu sedang tersenyum samar?

Keduanya berpandangan. Saat cengiran Saki dan senyum Kei menghilangpun, entah apa sebabnya, mereka masih tetap menahan pandang untuk satu sama lainnya. Seakan ada yang memaksa mereka untuk melihat lebih jauh ke dalam bola mata satu sama lain.

Kei tidak mau melihat mata cewek itu, tapi rasanya sayang kalau dia mengalihkan pandang.

Kenapa?

Kenapa rasanya menyenangkan melihat pipi gadis itu menyala?

Dan Saki, dia tahu kalau Kei sedang melihatnya blushing tanpa sebab. Oh, jangan sampai Kei tahu kalau Saki sedang menahan deg-degan paling heboh di dadanya sepanjang sejarahnya menjadi anak gadis. Cemoohannya sebentar lagi pasti akan keluar tanpa rem dan tanpa rasa kemanusiaan, tapi kenapa?

Kenapa cewek itu hanya bisa melihat sepasang mata bulan di balik kacamata itu?

Kenapa, Tuhan?

Kalau pada akhirnya Saki dan Kei menundukkan pandangan mereka, itu hanya karena mereka sadar bahwa tembok yang menghalangi pandangan orang lain terhadap yang mereka lakukan tidaklah ada. Sayangnya, mereka tidak cukup beruntung, karena walaupun anggota tim yang lain cuek dengan apa yang Kei dan Saki lakukan, ada sepasang mata gelap yang memandang aneh ke sepasang remaja itu.

Kei yang telinganya mendadak pink dan mati-matian menolak melihat ke arah cewek di sebelahnya, serta Saki yang blushing sambil meremas-remas tangannya sendiri, menunduk dan salah tingkah, keduanya terlihat sangat ganjil di mata Yamaguchi.

.

.

.

Daichi mengatupkan kedua kelopak matanya rapat-rapat. Dia sungguh tidak menyangka kalau jadi kapten tim voli itu banyak banget cobaannya. Ujianpun datang tak tentu kapan. Sekarang, ujian datang dalam bentuk hujan deras, sementara malam makin pekat dan jumlah payung yang berhasil dikumpulkan ternyata jauh lebih sedikit daripada jumlah anggota klub mereka.

Diam-diam Daichi menyesali keputusannya meminjamkan payung-payung itu ke klub drama buat properti akting. Buktinya, payung mereka tidak dikembalikan tepat waktu. Kalau cuaca cerah, besok kayanya Daichi akan melempar klub drama ke jurang terdekat, biar mereka puas main terjun pakai payung.

"Oke, teman-teman. Sekarang sudah malam, karena hujan masih turun dan payung jumlahnya terbatas, kita akan atur supaya tiap-tiap orang bisa payungan."

"Daichi-san! Kenapa kita nggak nginap saja?" Nishinoya tunjuk jari. "Kan dengan begitu kita bisa latihan."

"Noya-san ide bagus! Aku belum puas latihan quick yang baru!" Hinata menimpali sambil terkagum-kagum pada Noya. Sebenarnya sih sebabnya dia kesenengan karena bisa latihan semalaman.

"Tsk. Memangnya semua orang punya energi sebanyak yang kau miliki?" Kei berkacak pinggang.

"Tsukishima, bisa nggak sih liat orang senang sedikit?" omel Hinata.

Raut wajah tampan itu mengkerut, "Maksudmu apa? Aku sudah capek tau. Yang lain juga."

"Tsukishima benar, Hinata," Daichi menengahi dengan bijak. "Kita tidak diperbolehkan menginap di gym. Lagipula, bagaimana dengan besok? Kan sekolah? Lalu, cewek-cewek manajer kesayangan kita mau tidur di mana?"

Kei nyengir mendengar penjelasan Daichi, sebaliknya, Hinata tampangnya jadi kusut kaya daun mendengar kesempatan buat latihan sepanjang malam jadi nggak kesampaian.

Daichi memandangi teman-temannya satu-satu sambil menghitung dalam hati. "Karena setiap orang tidak mungkin mendapat satu payung, maka satu payung akan dipakai oleh dua orang. Sekarang yang arah pulangnya sama bisa langsung pulang bareng."

Saki langsung sumringah, kalau gini kan gampang. Dia kan serumah sama Kei, jadi mereka bisa-

Jangan ada yang tau kalau kita serumah.

Muka Saki langsung berubah kecut.

Tsk! Kenapa harus ada perjanjian kaya gitu, sih? Sekarang Saki harus gimana, coba? Mau cari teman buat jalan searah nanti takut ketahuan. Mau bareng sama Kei, takut ketahuan juga. Kan Saki yang repot.

"Kinoshita, kau pulang ke arah mana?"

Berpasang-pasang mata mengarahkan pandangan pada Saki. Dilihat dengan seksama begitu Saki jadi gelagapan.

"Iya, Kinoshita rumahnya di mana? Masa serumah sama Kinoshita yang satunya? Haha, kan nggak mirip."

Tanaka langsung disodok sama Kinoshita senior. "Maksudmu apa? Maksudnya aku nggak pantes gitu jadi kakaknya gitu?"

Tanaka ketawa nista bin menghina,"Iyalah. Muka cewek ini terlalu inosen buat jadi adikmu."

"Kan bisa jadi adik ketemu gede!" bantah Kinoshita tak terima.

"Kinoshita kacrut. Ngarep aja deh!"

"Awas kau, Tanaka! Jadi jomblo abadi baru tau rasa!"

"Jangan nyumpahin gitu dong!"

Saki sweatdrop. Ini kenapa dua orang seniornya malah bertengkar sendiri, sih?

"Ano… aku bisa pulang sendiri kok. Sebentar lagi aku dijemput sama saudaraku. Jadi jatah payungku bisa dipake sama teman-teman yang lain," jelas Saki buru-buru sebelum pembicaraan hilang fokus. Soalnya Karasuno itu, selain berbakat main voli, juga berbakat menyesatkan arah pembicaraan.

Daichi mengerutkan kening mendengar pernyataan Saki. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Biar bagaimanapun kan selama teman-temannya belum pulang ke rumah, mereka masih jadi tanggungan papa Daichi.

"Ya sudah, tapi kamu memangnya nggak keberatan di sini sendirian? Kan bahaya cewek ditinggal sendirian malam-malam." Daichi diam sejenak lalu sibuk berpikir. Wajahnya yang kebapakan jadi tambah seram…

"Oh iya," cetusnya tiba-tiba. "Biar mama aja yang nemenin kamu ya, soalnya papa lagi ada pe-er. Suga, kau nggak ada kerjaan lain kan?"

Daichi menoleh ke Sugawara yang begitu namanya disebut langsung memamerkan senyum sehat ala selebritis.

Kepala Sugawara tengleng ke kiri, "Mama?" Sugawara bertanya sambil nunjuk dirinya sendiri, masih sambil senyum-senyum secantik buket bunga pengantin.

Daichi mengangguk, tak sadar kalau anggota tim voli yang lain mundur teratur. Kok perasaan mereka nggak enak ya?

"Terus papanya siapa?" Suara Suga udah kelewat manis.

Daichi ketawa lima jari, "Aku dong papanya."

Sugawara menaruh tangannya di atas rambut Daichi.

Jambak.

"Kenapa musti aku yang dapet peran mama?! HA! KENAPA?!" Sugawara teriak-teriak kaya mamak-mamak mau melahirkan.

"GYAAAH! Suga! Kepalaku bisa botak!" Teriak Daichi horor. "Iya! Iya! Nanti kamu deh yang jadi papanya! Jangan bertengkar di depan anak-anak!"

"Aku juga nggak mau jadi papa! Aku nggak mau kawin sama kamu! Aku nggak mau kawin paksa! Aku mau sekolah sampai S dua!"

Jambakan Sugara makin kenceng, otomatis teriakan Daichi makin merana.

"Huweee! Daichi-san! Suga-san! Jangan bertengkar!" Noya menjerit bombay sambil air matanya menetes.

"Kageyama, a-aku takut!" Hinata sembunyi di belakang Kageyama.

"A-aku juga…" lutut Kageyama gemeteran.

Seluruh anak kelas satu pucat kaya kertas. Baru kali ini senior mereka bertengkar hebat seperti ini.

Kei aja sampai ternganga, "Lihat yang sudah kau lakukan, Saki-sama." Kei bisik-bisik sambil melirik ngeri ke arah dua orang yang lagi jambak-jambakan.

"Hah? Kok aku?" Saki menjawab panik. Gadis itu pun tolah-toleh gantian ke Kei dan ke scene pertengkaran rumah tangga Karasuno. "Ki-kita nggak bisa melakukan sesuatu?" Saki meremas lengan Kei dengan tegang. Suasana jadi mencekam, ditambah lagi Asahi dan Tanaka baca ayat Kursi soalnya aura Sugawara udah bau kemenyan.

Kenapa, sih, tiap fanfic ini setting-nya di Karasuno selalu aja kisruh ya? Heran.

"Uh… Ano…" Kei mencoba menarik perhatian teman-temannya yang lagi asyik ribut sendiri. "Jadi acara pulangnya gimana, senpai-tachi?"

Sugawara dan Daichi yang asyik KDRT, langsung diam di tempat.

"Iya juga ya. Kita kan mau pulang bareng." Sugawara menoleh ke Saki yang lagi tegang. "Maaf, Kinoshita, aku sepertinya tidak bisa menemanimu karena adikku nggak ada yang jaga. Ini juga aku harus buru-buru pulang." Cowok manis itu nyengir.

"Kalau gitu bilang kek dari tadi! Nggak usah pakai acara PMS segala, Suga!" Daichi ngamuk-ngamuk sambil mengelus rambutnya yang perih karena jambakan dari Suga. "Uh… tapi siapa yang akan menemani Kinoshita di sini sampai jemputannya datang?"

Saki mengibaskan tangannya dengan buru-buru, "Aku nggak apa-apa kok. Di sini kan masih terang, aku bisa sendiri kok."

Jawaban Saki mendapatkan kerutan kening dari Ennoshita, "Kinoshita, kau lupa ya? Pagi dan sore adalah jadwal gym dipakai tim voli gantian sama anak basket, sementara jam sembilan ke atas dipakai sama anak hantu."

Perut Saki langsung mules mendengar penjelasan polos Ennoshita Cikara. "Yakin mau di sini?" seniornya itu loh, nanya dengan tampang tanpa dosa. Saki geleng-geleng sambil jongkok pegang perut.

"Biar aku yang menemaninya."

Semua mata memandang ke sosok di samping Saki dengan heran. "Dengan begitu semua bisa pulang ke rumah tepat waktu. Aku memang capek, tapi nggak keburu pulang, kok."

Ah, suara itu, begitu dingin dan pasif. Saki berpandangan penuh tanya kepada Kei. Tampaknya semua orang biarpun nggak menyebutkan secara verbal juga berpikiran hal yang sama.

Soalnya jangankan menawarkan bantuan, berinisiatif memulai interaksi dengan orang asing saja Kei malas. Jadi jangan salahkan anak-anak Karasuno yang pasang wajah keheranan saat pemuda itu menawarkan solusi kepada Daichi.

…Tapi aku akan membantumu sebisa mungkin agar kau bisa beradaptasi di sini…

Ah, ya. Cowok itu kan pernah bilang begitu pada Saki. Jangan bilang kalau ini taktik buat mengerjainya? Tapi…. Tampaknya Kei tulus, karena kalau dipikir untung buat dia apa dengan menemani Saki di sini? Lagipula mereka kan sudah berdamai.

Saki melirik ke arah Kei sambil tersenyum, 'Sikapmu bisa manis juga, cowok nyebelin.'

Kei angkat dagu, 'Jangan ge-er dulu, bocah.'

Ugh… angkuh banget, sih. Saki menjulurkan lidah. 'Dasar menyebalkan.'

Ditanggapi begitu, Kei malah menjadi-jadi muka angkuhnya. Tapi waktu Saki melengos, cowok itu malah tersenyum geli.

.

.

.

Petir menggelegar, suara derai air yang turun tidak terkira masih memekakkan telinga. Untung lampu di gym masih menyala, kalau nggak, Saki pasti udah beku di tempat karena ketakutan.

"Kei…" panggilnya lemah. Tangan mencengkeram erat lengan Kei. "Kak Akiteru udah bales belum? Hari sudah tambah malam. Aduh, gimana nih?"

Di luar dugaan, cowok itu malah menghela napas panjang seolah sedang menanggung derita berkepanjangan,

"Huruf 'u' berjajar empat." Keluh Kei.

"Ha?"

"Huruf 'u' berjajar empat!" ulang Kei sebal, kali ini sambil memandang lekat ke lengannya yang dipegang Saki.

"Kamu ngomong apa sih?" Alis Saki udah keriting saking nggak ngertinya. Kenapa di saat seperti ini cowok ini malah main kode-kodean?

Kei menggeretakkan giginya, tanda kalau kekesalannya bukan main-main, "Lenganku jangan dicengkeram, kukumu sudah bikin tanda 'u' berjajar empat di kulitku. Sakit, tau!"

Mata hijau berkedip.

"Oh," Saki refleks melepas cengkeramannya, "Bilang kek dari tadi! Pakai teka-teki segala. Mana aku ngerti?!"

"Mau gimana lagi? Itu kalimat pertama yang dikirim otakku," dengus Kei, sambil matanya kembali menatap layar hape.

Berdua, mereka lagi mojok di salah satu sudut gym. Setelah setengah jam yang lalu mereka mencoba menghubungi Akiteru lewat telepon, SMS, WA, Line, sampai ke akun jejaring sosial, mereka masih menunggu jawaban dari si sulung Tsukishima yang tak kunjung datang.

"Ah! WAnya dibaca!" Saki yang ikutan mengintip hape Kei jejeritan girang. Sepasang kepala beda warna itu langsung merubung hape Kei kembali.

Si pirang mengerutkan kening. "Tapi…."

Mereka menunggu semenit… dua menit… tiga menit…

"Kok nggak dibalas?!" Dua sejoli tak sehati itu kompakan teriak.

Baik Kei maupun Saki rasanya ingin melempar hape itu (dan juga Akiteru) ke kandang dinosaurus.

'Jawab woi! Aku tau kakak nggak tidur!' Kei mengetik WAnya cepat-cepat. Sepuluh menit berlalu dan masih tak ada jawaban dari Akiteru.

Oke, fix. Besok figur Doraemon punya Akiteru akan dilelang ke tukang loak di kampung sebelah dan jangan harap Akiteru akan bisa menyelamatkannya. Kei mendengus kesal. Dimasukkannya hapenya ke dalam tas. Punggung bersandar pada dinding dingin gym. Kepala terasa ringan dan mata mengantuk. Sekarang harus gimana? Dia capek, kedinginan, belum makan malam. Mau mikir juga males.

Saki juga merasakan penderitaan dan dilema yang sama. Ceilah. Kalau begini, jalan pulang satu-satunya hanyalah menerbos hujan.

Aha! Saki jadi kepikiran buat menerobos hujan dan meminjam payung di toko kelontong dekat sekolah. Kayanya itu ide yang bagus.

"Kei, gimana kalau kita-"

PET!

Belum selesai Saki mengatakan idenya, listrik tiba-tiba padam dan membuat ruangan gelap mencekam.

"Wah, hebat. Mati lampu," Kei berkomentar sedingin ikan beku. Saat Kei berpikir keadaan tidak bisa jadi lebih buruk, hal yang sebaliknya malah terjadi.

Sekarang satu-satunya naungan mereka alias gym mati lampu dan entah untuk berapa penerangan, barang-barang di gym jadi hampir tak terlihat. Alih-alih yang ada di seberang, Saki yang ada di dekat Kei saja jadi kelihatan seperti bayangan hitam.

"Tadi kau mau bilang apa, Saki-sama?"

Pertanyaan Kei dijawab hening. Hanya ada suara desau angin dan air yang menerpa atap serta dedaunan di luar sana. Lamat-lamat, Kei bisa mendengar suara kerongkongan Saki yang tercekat. Dari siluetnya juga Kei bisa yakin kalau gadis itu sedang gemetar.

Tunggu dulu…

Saki lagi ketakutan?

"Oi."

JEGER!

"KYAAAAAH!"

Panggilan Kei dijawab petir yang menggelegar, juga pekikan Saki setelahnya.

Yup. Kalau bukan ketakutan, Kei tidak tahu yang menimpa Saki itu apa.

"Saki-sama? Jangan bilang kau takut gelap? Apa takut petir? Lemah amat, sih."

Siluet Saki langsung memeluk lutut tapi masih sempat menggeleng kencang, "A-aku nggak takut gelap ataupun petir kok. Memangnya ini shoujo manga?!"

"Lalu yang kau lakukan itu apa kalau bukan ketakutan?" Dasar Kei sadis. Di situasi inipun dia masih sempat-sempatnya judes.

"Iya aku ta-takut, tapi bukan petir atau gelap!"

"Memangnya sama apa?"

"Sama hantuuuu! Gelap-gelap begini kan hantu suka gentayangan, hiiiks!"

"Pfff-"

"Aku serius, Kei!"

"Iya, iya. Tsk! Lalu alasanmu apa punya phobia yang tidak masuk akal begitu? Kau ini lucu, tau." Kei masih menyempatkan diri untuk mengeluarkan stok tawanya yang sempat minggat beberapa hari ini. Ah, sungguh menyegarkan bisa menemukan hiburan, walaupun dia tidak menyangka akan menemukannya di situasi seabsurd ini. Mana ada yang phobia hantu sampai seperti Saki….?

Muka Kei mendadak serius ketika gadis itu tak juga nyerocos seperti biasa. Terus-terang Kei jadi nggak nyaman. Cewek itu nggak mati ketakutan, kan?

"Oi," panggilnya pelan.

Tak ada jawaban. Mata minus Kei melihat siluet Saki yang sedang duduk, lagi-lagi memeluk lutut, menenggelamkan wajah di balik lututnya yang merapat.

"Kau beneran setakut ini?"

Tak ada jawaban, tak ada tanggapan.

Tangan Kei terjulur menyentuh pucuk kepala Saki. Masih tak ada reaksi. Kei garuk-garuk kepala.

Ditowelnya pundak Saki layaknya mencolek sambel. Cewek itu masih diam. Kepala Kei mulai miring ke kiri karena heran. Dia juga mulai khawatir dengan sikap gadis itu yang seperti menarik diri. Intuisi Kei mengatakan kalau itu bukan hal yang bagus.

"Saki-sama." Disentuhnya punggung tangan gadis itu. Dingin. Gemetar.

Kei bukan orang yang beraksi berdasarkan impuls. Dia juga bukan orang yang spontan, tapi kali ini tanpa pikir panjang Kei menggenggam tangan Saki. Pemuda itu berusaha menghentikan getaran yang ditimbulkan tangan mungil yang ketakutan itu.

Sebaliknya, Saki adalah orang yang spontan. Dan dalam situasi ini sifatnya yang satu itu juga sulit untuk ditahan. Karena begitu tangan gemetarnya digenggam oleh jemari Kei yang kokoh, gadis itu seolah menemukan tempat untuk berpegangan.

Dan gadis itu menerjangnya.

.

.

.

Sudah berapa lama mereka seperti ini?

Sepuluh menit? Setengah jam? Setengah hari?

Nyatanya peristiwa itu hanya terjadi kurang dari setengah menit yang lalu, sejak tubuh Kei dipeluk secara tiba-tiba oleh Saki. Punggung Kei yang terbentur dengan dinding gym harusnya terasa sakit, tapi kenapa sensasi sakit itu malah tidak terasa? Yang menjadi fokus di kepala Kei sekarang adalah kaki mereka yang saling bersentuhan, tubuhnya yang tertidih oleh tubuh mungil gadis itu dan kepala Saki yang saat ini terbenam di dadanya. Tubuh Saki yang tadinya gemetar sekarang berangsur tenang. Masalahnya, kalau Saki sudah tenang, kenapa jadi Kei yang grogi? Apakah rasa takut itu baru sembuh setelah ditularkan (dalam hal ini ditularkan ke Kei)? Karena dada Kei tiba-tiba berdebar kencang dan bulu kuduknya meremang.

Apakah dia juga ikutan phobia hantu?

Tanpa sadar pemuda itu menjilat bibir bawahnya, tiba-tiba saja kerongkongannya terasa haus dan kering. Dengan ragu-ragu diraihnya pundak Saki. Kei sangat yakin bahwa dia akan mengguncang pundak cewek itu biar dia sadar diri, tapi tangannya malah terhenti di pundak gadis itu, soalnya… Saki malah mengeratkan pegangannya pada dada Kei!

Rona merah menjalar dari pipi ke telinga Kei, kontras dengan kulitnya yang putih dan rambutnya yang terang. Matanya menatap nanar ke kaki mereka yang tumpang tindih sementara cewek itu cuma pakai rok sekolah dan Kei hanya memakai celana pendek.

Ke-kenapa cewek ini malah memilih pakai rok sekolah saat menjalankan tugas sebagai menager tim voli?! Sial!

Kei merasa wajahnya tiba-tiba berasap, apalagi ketika dia sadar bahwa tubuh hangat itu begitu mungil dan lembut….

'Warning! Hubungan arus pendek telah terjadi di area ubun-ubun, self-destruction system akan mulai bekerja pada hitungan lima… empat.. tiga…'

Kei mulai panik saat mendengar suara ngaco nan mistis itu memberi info tentang situasi di otaknya saat ini.

'Oi! Jangan terbawa suasana, Kei! Ingat prioritasmu saat ini: mencari cara agar bisa pulang ke rumah! Tsk!' Sisi realistis Kei akhirnya turun tangan di antara gempuran sensasi asing yang bertubi-tubi.

Cowok itu menggeretakkan gigi, 'Aku tahu! Tapi liat situasinya dong! Aku juga cowok normal, tau!' makinya entah pada siapa. Situasi ini membuatnya kesal. Kesal pada Saki karena tiba-tiba memeluknya seenaknya. Kesal pada dirinya sendiri karena jujur saja, Kei menikmatinya apa yang gadis itu lakukan, sekalipun Kei yakin kalau gadis itu tidak menyadari efek yang ditimbulkannya. Seperti kata Kei, dia cowok normal dan dia sedang dalam masa pertumbuhan. Bohong kalau tubuhnya tidak panas dingin dipeluk oleh cewek ini. Bohong kalau dia bilang jantungnya nggak jumpalitan merasakan kulit halus gadis ini. Bohong kalau dia bilang dia tidak merasakan sensasi aneh yang membuatnya ingin balik memeluk… atau menyentuh… atau menciu-

ARGGH!

'KENAPA JADI NGELANTUR BEGINI?!' Kei berteriak dalam hati.

.

.

.

TBC

.

.

.

HUAAAAAAH!

KENAPA AUTHOR SELALU LAMA BANGET APDETNYAAAH!

Gomennasai, minna. Chapter ini udah lama dibuat, tapi masih dipoles-poles dulu dan ternyata selama proses editing banyak banget bolong-bolongnya.

Dan author terus terang kesulitan banget menulis proses jatuh cinta Kei dan Saki, hadeuh. Terus terang author nggak puas sama chapter ini, karena rasanya proses jatuh cinta mereka kurang smooth dan malah terkesan gombal. Tapi this is as far as I can do! ARRRRGH! Frustasi, nggak, sih?! #nggak, author aja yang lebay. #hikssssss

Dan satu lagi, ini adalah chapter paling akhir yang pernah dipost. Sebelum2nya author selalu nyiapin satu atau dua chapter dari chapter yang dipost, tapi pas ngepost chapter ini author belum nyiapin buat chapter depannya.

Satu. Dua. Tiga. PANIIIIKKKKK! HWAAAA!

Author malah ngepost one shot Iwaizumi-Oikawa! HWAAAA!

Eh, ngomong2 mampir ya minna ke fanfic Iwa-Oi, author. #ini malah promo nggak jelas, gimana seeeh!

Okay, daripada panik nggak jelas, mending jawab salam tjinthah dari lovely reviewer dari chapter kemaren yaaaak.

Shigatsu-sanjyunichi-san: haaaaiiiii! Sanjyunichi-saaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan! #dilempar ulekan.

Love your review as always. Iya, entah kenapa daku bikinnya keluarga Tsukishima tuh OOC abis. Padahal aslinya emaknya Kei dan Aki tuh kalemmmm banget di animenya. Akiteru juga, lovely dork gitu kan tipenya. Jenis2 kakak yang sayang adheknya keterlaluan gitttttuuuuuh. #apacoba? Ini aku udah bikin adegan (absurd) Kei dan Saki, tapi tau deh, lovely atau nggak. Susah loh bikin adegan cinta2an yang bikin doki2 tapi nggak bikin eneg. Eggghhh! Mungkin karena pengalaman author kurang banyak. #acak2 rambut.

I hope you will like this chapter. Thanks ya reviewnya. Love you so maaaach! #big hug for you #senyum.

Misaki Younna-san: hwaaaaa, maaf ya kalo Kei OOC, abis susah bikin ni anak suka ama cewek. #seolah aku emaknya gituuuu. Wkwkwkwkw. Misaki-san suka sama Yaoimi-, maksudnya, Aomine, yah? Maaf yah, aku menistakannya di chap yang lalu. Wkwkwkw #ditindas. Thanks ya for reviewnya. #senyum

Yosh, minna, last but not least, thanks for your attention ya minna. Silahkan tinggalkan jejak yaaaaa. Lov yuuuuuu!