HECTIC HOURS
CHAPTER 10
Disclaimer: Haikyuu! Belongs to Haruichi Furudate
Warning: OOC-ness. Bahasa kasual.
.
.
.
"Kei…" suara lirih itu mendayu. "…aku takut…"
Kei menarik napas panjang. Bibir tipis dan matanya terkatup rapat. Di dalam gulita, indranya menajam berlipat-lipat. Tubuh Saki yang bergetar. Napas gadis itu yang memburu. Dan lengan Kei yang bergerak sendiri melingkari tubuh Saki.
Kali ini Kei tak akan lari lari. Kali ini Kei tak akan sembunyi dari perasaannya sendiri. Kali ini biarlah dia akan jadi lelaki sejati dan berani mengelus mulusnya tubuh Saki.
Kei kalap.
Di momen ini Kei tidak tahu lagi bedanya modus dan ngeles tingkat tinggi. Kepada ayah, ibu, dan guru ngaji Kei waktu SD dulu, Kei minta maaf. Cobaan ini terlalu berat dan terlalu sayang buat dilewatkan.
"Saki-sama…" Kei mengelus kepala Saki, berniat menenangkan dan menghilangkan rasa takut gadis itu. Dari dulu dia penasaran seperti apa rasanya rambut Saki. Sehalus apa rasanya.
Tapi kayanya bukan kaya gini deh. Kei berkedip. Tubuhnya yang tadi membara seolah dikubur es.
"…Saki-sama, rambutmu kemana?"
"Anu… rambutku meranggas."
"Suaramu kok kaya beruang."
"Mou, Kei…kenapa mendadak cerewet sekali? Bukankah kau tadi ingin menciumku?"
'Cewek' di pelukan Kei mendadak melepaskan diri dari pelukan Kei dan mencengkeram wajah si pemuda.
"DAN JANGAN SEBUT NAMA CEWEK LAIN DI HADAPAN LUCINTANAKA INI, KORRAAAAAAAA!"
"AAAARGGGGGGGGHHHHHH!"
.
.
.
Kei terengah. Tidak. Kei megap-megap.
"Hahh…hahhh.." suaranya sudah mirip kakek-kakek kena asma. Pelipis kaya lantai kolam renang nan becek. Keringat dingin meluap selevel banjir lima tahunan. Dan tangan mencengkeram dada. Kei hampir sakaratul maut. Demi Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, Kei memohon untuk tidak bertemu dengan demit yang berlinang maskara seperti dalam mimpinya barusan.
Cowok itu duduk sejenak, berusaha rileks dan menetralkan napasnya yang masih satu-satu. Entah bagaimana dia menghadapi Tanaka nanti pas latihan voli. Untuk kedua kalinya Kei berdoa agar dia tidak secara impulsif mengunci seniornya itu ke peti mati berisi karbon monoksida. Bisa-bisa Kei dihukum Daichi dan diserahi tugas megang kunci gym dan dia harus datang pagi-pagi buta tiap hari. (Mohon maaf, moral kompas Kei memang sudah lama ambyar)
Ketika napasnya kembali menemukan ritme yang normal, baru Kei bisa berpikir jernih. Otaknya mulai jalan. Kenapa bisa dia mimpi yang tidak terdefinisi macam itu? Apa ini gara-gara yang semalam…?
Kei mendengus. Bagaimanapun dia tidak akan bertingkah impulsif seperti cewek polos yang suka bertindak tanpa memikirkan konsekuensi dari kelakuannya itu.
Tubuh gadis itu bergelung, dan jari-jemari lentik Saki meremas kaos depannya…
Kei hampir menjambak rambutnya.
.
.
.
Kirimoto Nadeshiko menyambut pagi ini dengan senyum manisnya. Sudah lama ia tidak tersenyum seriang ini. Layaknya seorang gadis sempurna, senyum palsunya saja bisa membuat cowok-cowok menyerahkan ginjalnya. Apalagi senyumnya yang dari hati, bisa-bisa punah para lelaki di Jepang. Di antara hari-harinya yang datar saja itu, kini hadir sesosok matahari yang bisa membuat waktu yang ia miliki terasa menarik. 'Matahari' punya Nadeshiko cukup mungil, lincah dan bisa membuat dadar gulung dengan saos micin yang bikin nagih. Namanya Kinoshita Saki.
Nadeshiko sungguh berharap akan menemukan Saki yang menyambutnya dengan lambaian tangan dan tawaran buat mencicipi kotak bentonya. Namun hari ini entah kenapa Nadeshiko malah menemukan Saki sedang tertelungkup di meja dengan aura gelap menguar-nguar mirip lubang hitam. Atau tentakel cumi Bikini Bottom. Pokoknya suram.
"Saki-chan..." Nadeshiko meletakkan buku-bukunya di meja dan segera mengambil tempat di samping Saki. Yang dipanggil mengangkat wajah, menganggguk seperlunya, lalu telungkup lagi.
Nadeshiko berkedip bingung, "Saki-chan...kau tidak tidur semalam?" tanyanya khawatir kala menangkap ada bayangan hitam di bawah mata Saki. 'Panda. Saki-chan panda-chan?' Nadeshiko sempat-sempatnya memikirkan nickname imut buat diberikan ke Saki. Tapi urung ketika dia sadar sepertinya Saki tidak akan mengapresiasi julukan itu.
Saki kembali mengangkat wajah, "Aku nonton Master Receh Indonesia. Semalaman." jelasnya parau.
"Oh," Buat orang yang hidupnya teratur dan lurus-lurus saja kaya Nadeshiko, tidur, makan, bikin cowok patah hati pun ada jadwalnya. Nadeshiko mencoba relate, tapi gagal.
Nadeshiko geleng-geleng kepala, "Begadang itu tidak baik, Saki-chan." Katakan itu pada author fanfiction ini, Nadeshiko.
Yang dinasehati hanya terkekeh. Namun Nadeshiko menemukan sesuatu di balik tawa lelah Saki. Ada apa dengan temannya itu? Kenapa tawanya terdengar maksa?
"Apa kau ingin membicarakannya?"
Raut Saki berubah seperti burung kena ketapel. Oke, itu berlebihan.
Nadeshiko mengendikkan bahu, "Karena kayanya Saki-chan lagi ada masalah." Nadeshiko menutup tawarannya dengan senyum, mencoba menenangkan Saki yang tampaknya sedang dalam fase galau.
Saki meringis, lalu menutup mukanya dengan dramatis. Nadeshiko seperti sedang menyaksikan drama Korea kesayangannya. Sayang untuk yang satu itu Saki nggak bisa diajak fangirlingan. Waktu Nadeshiko cerita tentang BTS aja si Saki ngiranya dia sedang membahas menara Sutet.
"Sepertinya aku sudah bikin kacau deh." Kalau suara Saki kurang terdengar galau, lihat saja gesturenya. Cewek itu mengetuk-ngetukkan sepatu, mengulur waktu untuk berpikir mana yang bisa diceritakan pada temannya itu dan mana yang tidak. Gadis itu mengigit bibir.
"Nee, Nade-chin. Apa… aku ini aneh ya?"
"Hm?" Nadeshiko sungguh tak paham. Dia telah melihat bagaimana Saki bersikap. Anak ini sering suka mengatakan kata pertama yang terlintas di otaknya, dan reaksi orang juga ikutan spontan dibuatnya. Tapi Saki adalah orang yang jujur. Motifnya genuine dan sepertinya Saki enjoy dengan dirinya. Lagipula kepolosannya juga masih dalam taraf sopan. Nadeshiko suka itu. Jadi kenapa tiba-tiba Saki merasa insecure?
"Ini sudah lama Saki-chan pikirkan atau baru-baru saja? Ada apa, Saki-chan? Kau bisa mempercayaiku, kok."
Sang gadis berkuncir tampak berpikir keras. "Bukan aku nggak percaya. Tapi… aku malu… Selama ini aku berpikir kalau semua orang tidak punya masalah dengan sikapku. Keluargaku, teman dekatku, bahkan orang-orang di sekolah asalku juga memaklumi kalau aku sedikit spontan."
"Sedikit?" Nadeshiko mengangkat alis, setengah menggoda.
Saki meringis, "Sedikit terlalu banyak."
Nadeshiko tertawa. Suara tawanya terdengar bagai musik yang indah. Beberapa cowok pernah baper karena saat Nadeshiko tertawa, mereka malah mendengar lonceng pernikahan.
"Tapi kalau keluargaku kan sudah biasa. Ini beda. Soalnya aku… aku bertemu dengan seseorang."
Punggung Nadeshiko seketika tegak. Raut wajah berbinar menatap Saki seperti dihujani cahaya matahari.
"Nade-chin jangan mikir macam-macam." Sergah Saki seketika.
"Tapi memang terjadi hal yang macam-macam kan?"
"Apa?! Nggaklah." Dengan panik gadis itu mengibas-ngibaskan tangan. Tidak mungkin. Terjadi apa-apa? Nggaklah! Tadi malam itu bukan apa-apa, kok. Sama sekali bukan apa-apa. Cewek menindih cowok itu sudah biasa. Un! Dah biasa jaman now!
Muka Saki pucat pasi. Tiba-tiba semuanya terasa jauh lebih buruk dari ketinggalan hape dan dompet. Soalnya yang ketinggalan adalah harga diri di gym tadi malam ketika dia dengan bodohnya bersikap berlebihan.
"Nade-chin… kalau ada orang yang tiba-tiba melanggar personal space Nade-chin gimana?"
Nadeshiko tersenyum ramah, "Kupotong tulang belakangnya."
Horor.
Sepertinya darah di wajah Saki berubah jadi sprite semua. Pucat.
"E-eh? Memangnya Saki-chan jadi korban pelecehan?"
"Mungkin… lebih tepatnya aku yang melakukan pelecehan." Saki seperti makin kehilangan nyawa, "Pokoknya, aku sudah berbuat yang tidak seharusnya. Dan kurasa dia marah padaku. Dia bukan orang yang terbuka. Untuk membuatnya nyaman padaku bukan hal yang mudah. Dia… dia itu… dia itu pokoknya seperti orang yang tidak ingin terlibat dengan dunia ini."
Nadeshiko membuka mulutnya, lalu menutup mulutnya kembali. Tidak ingin terlibat dengan dunia ini? Orang itu bosan hidup, ya? Nadeshiko sungguh tak mengerti dan dia khawatir dengan nasib Saki-channya.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Saki-chan?"
Saki garuk-garuk kepala, "Aku rasa aku sudah melanggar personal spacenya," Saki menelan ludah. "….dengan cara yang mungkin offensive."
Saki menoleh ke arah Nadeshiko, membuat gadis itu bisa melihat penyesalan di mata hijau Saki.
"Apa kalian akrab?"
"...aku tidak tahu..."
"Apa kalian paham karakter masing-masing?"
"..." Saki angkat bahu.
"Saki-chan...," Nadeshiko beneran terlihat khawatir sekarang. "Apa kalian bahkan berteman?"
Saki mengangkat telunjuknya, mau mengatakan sesuatu. Lalu akhirnya urung. Cewek itu mengerang kebingungan.
"Kayanya hal itu perlu observasi...lebih lanjut," tambahnya tanpa kepastian.
"Hm..." Nadeshiko menopang dagunya, berpikir.
Saki makin terlihat resah, "Kami mengawali interaksi dengan cara yang bisa dibilang tidak mulus. Lalu kami sepakat buat gencatan senjata. Kurasa sikapnya mulai membaik. Dia bahkan mulai ngobrol denganku. Mungkin aku terlalu nyaman sama kondisi kami yang mulai… normal? Kasual? Terserahlah. lalu-" Saki teringat wajah Kei yang pias ketika dia di atas pemuda itu. Di atas pemuda itu. Kebayang, kan, betapa salahnya frase itu? Kalau dia lagi ada di pantai, Saki pasti sudah tutup kuping sambil mengeluarkan bunyi-bunyian random sambil setengah berteriak agar otaknya tidak memutar memori itu berulang-ulang.
Betapa malunya dia!
Dan betapa bodohnya!
Dari sederet tingkah lakunya yang kadang ajaib, ini yang paling dia sesali.
Pelupuk mata Saki mulai terasa panas dan memerah saga. Bibirnya rapat tapi bergetar. Nadeshiko benar-benar merasa kasihan dibuatnya. Sebaliknya Saki malah merasa bersalah, "...maaf sudah membuat Nade-chin harus mendengar galauan-ku pagi-pagi."
"No problem," lagi-lagi gadis berambut lurus itu bersikap sangat pengertian. "Aku tidak ingin Saki-chan murung seharian." Nadeshiko memutar posisi duduknya hingga berhadapan dengan Saki. "Dengarkan aku Saki-chan, aku tidak tahu apa yang sudah terjadi. Tapi sepertinya antara kau dan 'temanmu' itu ada kesalahpahaman. Bisa jadi Saki-chan salah bersikap. Bukankah memang dalam berteman salah bersikap itu biasa terjadi? Saki-chan sendiri yang bisa menilai apakah sikap Saki-chan termasuk level yang benar-benar keterlaluan dan menyinggung secara prinsip atau tidak. Yang aku katakan ini mungkin bukan saran yang terbaik, tapi aku ingin Saki-chan memikirkan apa yang harus selanjutnya dilakukan dengan kepala dingin."
"Tapi bagaimana kalau orang itu mikir yang tidak-tidak tentang aku?" Saki berjengit mendengar kata-katanya sendiri. Dia terdengar ketakutan. Gadis itu baru menyadari, bahwa hatinya semalaman ini memendam rasa takut dan cemas yang cukup serius.
"Well..." Nadeshiko menelan ludah, kelihatannya ini memang serius, "Asumsi adalah asumsi. Fakta adalah fakta. Kalau dia cukup pintar, dia akan bisa memilah antara asumsi dan fakta. Yang penting," Nadeshiko menatap lurus ke poros kolam hijau pekat di mata Saki, lalu tersenyum, "Jujur dan tulus." Suara Nadeshiko menenangkan, "Aku biasa melihat dua hal itu pada diri Saki-chan. Dua hal itu bukan jaminan apa yang akan terjadi akan menyenangkan. Tapi jujur dan tulus adalah hal yang terbaik."
Seperti sihir, kalimat demi kalimat yang terucap kalem membawa gelombang kelegaan dbuat Saki. Iya juga sih. Kei kan orangnya mengedepankan logika. Walaupun kondisinya seganjil apapun, dia tipe yang tidak gampang terpancing emosi, kok. Untuk sementara Saki bisa bernapas. Saran temannya itu membantunya untuk cukup tenang menghadapi jam pelajaran di awal pagi itu. Saki pikir, duduk di belakang Kei akan jadi pengalaman terhoror di hari itu. Tapi ternyata tak seburuk yang Saki kira. Diputuskannya untuk tidak berpikir macam-macam tentang pendapat Kei padanya. Saki berniat harus setrong. Se-setrong spike Asahi.
Semua berjalan lancar sampai bu Nagisa masuk ke kelas. Bibirnya sumringah. Kelihatannya dia lagi senang sampai-sampai matanya menyipit.
"Oke, hari ini kita akan mendiskusikan tentang latar belakang dan isu sosial di balik karya-karya Shakespeare. Ini pasti akan jadi seru. Biar nggak ribet kalian duduk berhadapan aja ya. Yang duduk di bangku ganjil balik badan, pasangannya sama yang di belakangnya."
Mampus.
Seingat Saki si Kei tuh bilangan bangkunya ganjil. Jadi harusnya Saki akan berhadapan dengan-
Kei balik badan pasang muka cemberut.
MampusMampusMampus.
Telapak kaki Saki seolah ada yang nge-lem. Gadis itu tidak bisa bergerak ketika Kei tiba di mejanya dengan menyeret kursinya sendiri dengan enggan.
Tadi apa kata Nade-cin? Tenang? Jujur? Cantik alami dari dalam? Pilih calon presiden nomor lima?
Eh?
Kok Saki tiba-tiba merasa amnesia?
Cewek itu pegangan pinggiran meja, mau pingsan. Ya Tuhan. Ini teh kumaha?
.
.
.
"Bu guru, jadinya Hamlet atau Omelet yang dibahas?"
"Kita sedang membahas Shakespare, bukan menu sarapan chef Juna."
"Bu guru, aku duduk di line terakhir, nggak ada temen."
"Selamat bergabung di klub jomblo gemes nan ngenes dimana kalian akan belajar tentang tragedi dan kehidupan. Ngobrolnya sama tembok yang seru ya." Bu guru bipolarnya kumat.
"Bu guru, mau kencan sama aku nggak?"
"Kamu ingat apa yang terjadi hari rabu pertama di bulan ketiga tahun kemarin?"
"...nggak."
"Kalau gitu jawaban ibu buat pertanyaanmu sama."
Ini kelas atau acaranya Andre T*ulany, Kei sudah nggak paham. Bagaimana dia yang kalem tapi sinis bisa beradaptasi di sini, Kei juga sudah nggak ingat. Yang jadi fokus utamanya sekarang adalah cewek berkuncir di hadapannya.
Mata terang Kei mengawasi setiap gerak-gerik Saki. Sementara yang diawasi kerjanya cuma menunduk dengan wajah seperti habis dikukus.
Ah, ya…
Cewek itu pasti sedang salah tingkah dan tidak tahu harus ngapain ketika harus berhadapan dengan korban ke-impulsif-annya tadi malam.
Alias Kei.
Pikiran Kei sendiri nyut-nyutan mengingat yang semalam. Dia sudah berusaha bersikap normal tapi otaknya menolak. Makin berusaha tidak diingat makin menjadi-jadi tuh adegan menjurus.
Dari tadi mereka hanya diam. Dan diam-diam Kei merasa tidak nyaman. Hatinya bilang ini salah. Kei tahu bahwa Saki pasti salah tingkah kepada dirinya. Tapi bisa, kan, cewek berisik ini nggak nganggurin Kei? Kei bosan. Kei juga mau ngobrol sama dia tentang kejadian semalam setelah Kei ngomong ketus ke Saki. Atau nggak usah? Atau usah? Yang enak gimana, sialan?! Kei jadi undecided. Dan Kei nggak mau kejadian awkward ini berlangsung terus.
Eh? Kok? Kei baru sadar kalau daritadi dia ngedumel dalam hati, seolah-olah dia kecewa sama tingkah Saki. Seolah-olah Kei kange-.
'Mikir apa sih?!' Kei menarik napas dengan kasar. Tanpa disangkanya kalau itu akan membuat Saki berhasil mendongak.
Kolam zamrud dan bulan purnama bertemu. Untuk sejenak, waktu melambat. Saki tidak tahu apakah dirinya kebanyakan baca teori tentang quantum realm ataukah cuma karena tatapan mata Kei saja.
Tapi tak lama, gadis itu menunduk lagi.
Dan Kei jadi makin kesal dengan dirinya sendiri karena tiba-tiba tangannya gatal buat menarik cewek itu keluar kelas dan mengomelinya di luar. Tapi kalau dia melakukan hal itu berarti dia harus megang tangan cewek itu. No no no. Gak ada lagi pegang-pegang. Kei kapok.
Sungguh ajaib itu yang jadi concern Kei dan bukannya hukuman level iblis yang kemungkinan diberikan bu Nagisa kalau dia mengacau begitu.
Entah karena kesabaran Kei mulai habis, atau karena gemas dengan kesunyian di antara mereka padahal kelas ramainya kaya pasar, Kei menutup paksa buku yang sedang Saki baca, membuat Saki terlonjak.
'Diam, Kei. Jangan ketawa.' Batin Kei ketika melihat gadis itu melotot seperti kucing yang mainannya diambil paksa.
"Rude!" Saki bergumam tanpa suara.
Kei mendengus. Tanpa peduli dibukanya halaman buku Saki dan ditulisnya sesuatu di sana lalu disodorkannya buku itu kembali ke pemiliknya.
'Kembali ke awal?' tulis Kei.
Saki menggigit bibirnya. Di mata Kei, tampak jelas sekali raut penyesalan di muka Saki. Gadis itu tampak berjuang dengan segala keruwetan di kepalanya. Pada akhirnya gadis itu juga menulis pesan buat Kei di buku tulisnya.
'Sorry.' Mata Kei membaca tulisan itu lamat-lamat.
Heh. Baik Kei maupun gadis itu sama-sama tidak bisa menulis yang panjang-panjang. Itu saja sebenarnya bisa dianggap sebagai kesepakatan bersama.
Saki menggigit bibir dan kembali meraih bukunya. Tidak sadar kalau bola mata Kei tertahan pada bagian wajah Saki yang satu itu waktu dia sedang menulis lanjutan pesannya.
'Tadi malam aku nggak sengaja. Tapi kesalahan tetap ada padaku. Aku benar-benar minta maaf.'
Apakah Saki berbuat salah? Apakah gadis itu sudah melakukan sesuatu yang tidak sepatutnya dimaafkan? ...apakah Kei benar-benar marah karena kejadian itu? Kei merasa lelah dengan semua drama ini. Ia hanya ingin melupakannya saja. Toh, di antara mereka tidak apa-apa...
Dengan raut malas Kei menopang dagunya, memalingkan wajahnya ke jendela.
"Belikan aku milkshake strawberry siang ini."
Dari sudut matanya, gambar di depan Kei seakan melambat. Dia seolah melihat dokumenter dari National Geographic tentang flora yang sedang mekar saat senyum di bibir Saki merekah.
Sialan. Sejak kapan Kei jadi cheesy begini?
Tapi rasanya hari Kei yang kusut langsung berubah cerah. Dia juga jadi bisa menikmati angin semilir sepoi-sepoi dari jendela yang sedari tadi tidak disadarinya. Dan matahari, tidak pernah seterang ini sebelumnya.
Dalam diam, Kei hanya melirik Saki di balik topang dagunya.
.
.
.
Saki mencoret lengkungan parabola di buku pelajarannya. Cewek itu mengkalkulasi ulang variabel gerak untuk menemukan selisih waktu dari contoh soal yang terpampang manis di kertas dan berhasil. Gadis itu tersenyum puas. Namun belum berselang sedetik jiwa parnonya kumat. Karena contoh soal yang mudah bisa melontarkan kepercayaan diri para murid dan akibatnya saat menghadapi quiz yang level kesulitannya jauh di atas contoh, mereka jatuh berdebum dalam gerak parabola yang indah. Mirip meteor Tiamat, lah, kira-kira.
Saki pernah jatuh ke jebakan semacam itu waktu dia SD. Padahal Saki kira dia sudah cukup belajarnya tapi ternyata yang keluar mirip ujian kehidupan. Alhasil ayah dan ibunya seakan kecewa dan menghukumnya tidak boleh nonton anime selama seminggu.
Buat anak SD, itu kejam, saudara. Kakaknya juga cuma ketawa sambil nari balet. Lalu keseleo dan Saki balik ketawa. Akhirnya kakaknya marah dan kejadian itu berakhir dengan drama.
Semua gara-gara nilai jeblok. Saki kapok dan tidak mau hal itu berulang kembali! Saki mengenangnya dengan trauma.
Gadis itu akhirnya menyerah. Mau diskusi lewat video call sama Karin rasanya nggak ada mood.
Kepala dan tubuh penatnya akhirnya menyandar ke kursi, mengantarkan gadis itu pada pemandangan malam hari ini. Bulan dan bintang bersinar terang, bahkan gunung pun kelihatan. Kalau dibandingkan pemandangan di Tokyo ya pastilah jauh berbeda. Di sana yang kelihatan adalah sinar apartemen dan gedung-gedung tinggi.
Tokyo yang hiruk pikuk. Tokyo yang ruwet dan serba sibuk. Tapi buat Saki itu adalah rumah. Dan Saki kangen rumah. Bukan karena di sini keluarga Tsukishima memperlakukannya dengan tidak baik. Sebaliknya, yang sering dibully adalah Kei, sedangkan Saki malah dianggap keluarga sendiri. Semua itu tidak menghalangi Saki untuk tetap merasa kangen rumah. Kangen teman-temannya. Kangen ayah yang kalem dan suka mendengar curhatannya. Juga sama ibu yang biasanya ribut mau masak apa di rumah. Kakak yang nyebelin tapi suka mengajaknya jalan-jalan buat hunting buku baru. Karin yang selalu setia mengajaknya ngedate dan jajan di pinggir jalan walaupun cewek itu sudah punya pacar. Hal-hal kecil dan biasa yang jauh dari kata mewah, tapi ternyata berarti buat Saki.
Saki menggigit bibir, ada sesak yang tertahan di dada gadis itu. Air matanya di pelupuk seakan mau tumpah. Kenapa dia merasa melankolis, dia sendiri tidak tahu. Dengan lesu Saki menelungkup di meja dengan beralaskan lengan. Buat Saki pose ini sangat efektif, raut mukanya akan tersembunyi dari orang luar, air matanya tetap akan jatuh sehingga cewek itu tidak perlu menahannya, dan lengan baju akan membantu menghapus jejak tangisnya.
Walaupun sebenarnya tak kan ada yang melihat, Saki ingin tetap sembunyi. Ia lelah. Ia ingin istirahat. Sejak kepindahannya sampai sekarang, Saki seakan sudah melakukan maraton yang panjang. Tiba-tiba dia pergi ke tempat yang jauh, tinggal bersama orang lain, tidak punya tempat bercerita.
Tidak ada tempat untuk lari...
Karena semua waktunya ia habiskan untuk menyesuaikan diri, ya, dengan aturan rumah yang baru, kultur di lingkungan yang asing, orang-orang yang sebenarnya adalah 'orang lain'. Saki sadar bahwa ia tidak se-extrovert yang orang-orang kira.
Kemudian ada pemuda tinggi berkacamata. Yang matanya bersinar seperti bulan. Yang lidah dan pikirannya sama tajamnya. Dia tidak peduli dengan sekelilingnya. Dia tidak suka dengan kontak fisik dan mungkin dengan kontak batin. Dia yang senyumnya hanya untuk mengejek.
Dan tawanya juga.
Tapi Saki tidak keberatan mendengar tawa itu lagi, ya Tuhan…
Dan senyum kecilnya. Senyum kecil pemuda itu indah sekali sampai Saki salah fokus dengan noraknya. Saki mulai peduli pada senyum pemuda itu. Tapi yang lebih Saki pedulikan adalah pendapat pemuda itu.
Betapa cowok menyebalkan itu sedikit demi sedikit sudah menjadi sosok yang tidak bisa Saki abaikan.
Saki menghela napas panjang. Belum lagi jantungnya yang seolah punya otak sendiri waktu Saki di dekat cowok itu...
Menyukai seseorang itu tidak pernah mudah. Kata Karin.
Tapi Saki punya firasat, menyukai pemuda itu adalah hal yang jauh lebih sulit.
Ketukan di pintu membuat Saki berhenti berkontemplasi. Disekanya bulir air mata dengan seadanya. Dengan terburu karena takut bibi Meguminya yang berada di luar kamar, gadis itu melongok ke balik pintu hanya untuk jantungan.
"K-Kei..."
Wajah Kei by default -alias muka tembok- menyambut penglihatan Saki.
"Dipanggil sama ibu," Cowok itu memberi kode dengan kepalanya, menunjuk ke arah tangga bawah.
"Oh..."
"Ilermu masih ada tuh."
"Ini bukan iler!" Saki memekik kesal. Cowok itu hanya terkekeh sambil lalu.
Saki kembali bungkam dan hanya memperhatikan sosok Kei yang hilang di tangga bawah.
Tadi dia mikir apa?
Suka sama seseorang?
Dan orang itu anak bungsu Tsukishima?
Lupakan 'tidak mudah', jatuh cinta sama Tsukishima Kei bisa jadi misi paling tidak masuk akal buat seorang Kinoshita Saki.
.
.
.
Wajah bosan seorang Kei tampaknya akan jadi permanen. Ternyata ibunya tadi menyuruh Kei memanggil Saki buat minta tolong ke gadis itu buat beli kue. Dan apesnya sang bunda menyuruh Kei buat menemani gadis itu. Beli kue? Malam ini Kei lagi mager dan lagi ingin dimanjakan oleh pendingin ruangan. Iya, sih. Kuenya buat ayahnya yang akan pulang besok. Tapi sepertinya ada ide yang lebih baik buat mengeksekusi rencana ngasih surprise buat ayah mereka. Minta kak Aki beli kue sehabis pulang kerja besok, misalnya?
'Ayah sukanya kue yang sudah dingin menjelang expired! Udah, sana berangkat! Nggak usah banyak protes!' Kei malas kena semprot dua kali jadi akhirnya dia menurut saja.
Kei menyender di pagar, menunggu Saki yang tak lama keluar rumah dengan rok biru pastelnya. Sobekan kertas ada di tangan yang kemudian dia jejalkan ke kantong outer warna langit cerah. Uwah, cewek ini panas sekali, pikir Kei. Maksudnya ngapain panas-panas gini pake outer. Melihatnya saja bikin gerah. Saki yang tidak sadar sedang di-judge oleh si judes pirang hanya konsen ke pesan dari ibu Kei untuk memilihkan jenis kue kesukaan ayahnya.
Toko kuenya lumayan jauh, sekitar lima belas menitan jalan kaki. Perjalanan Kei dan Saki ke sana serenyah kembang tahu. Alias melempem. Alias tidak ada obrolan sama sekali.
Duh. Iya sih. Masalah sudah clear. Tapi kenapa dramanya belum kelar-kelar?
Bukannya Kei tidak memperhatikan, waktu dia ke kamar Saki tadi Kei sadar kalau cewek itu habis menangis. Kei pernah melihat iler kak Aki, jadi, please, Kei tahu iler itu seperti apa walaupun dia sendiri tidak pernah ngiler. Kei adalah manusia bebas iler.
Kei melirik cewek itu. Masih diam. Tiga setengah detik kemudian Kei melirik kembali gadis itu. Ya, masih diamlah. Gadis itu hanya berjalan tenang di sampingnya. Sekalipun diam, Kei tahu kalau setengah isi kepala gadis itu ada di awan.
Malam secerah ini membuat siapapun yang di luar merasa segar. Bukan secara literal karena mereka yang di luar masih bisa merasakan hawa hangat. Namun setidaknya pemandangan jernih di langit akan membuat pikiran yang kalut pun bisa sedikit tertolong. Apalagi dengan udara sebersih ini.
Saki tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Gadis itu melirik ke pinggir jalan, mencuri pandang dari atmosfer yang tenang. Cahaya lampu yang kontras dengan malam, pohon-pohon yang sesekali bertiup, langit berbintang yang luas...
Saki menengadah, membiarkan angin berhembus di sela poninya. Cahaya gemintang bertaburan seperti percikan perak.
Apakah itu ikan paus?
Di sini dia bisa menikmati gemerlap cahaya langit malam dengan leluasa, tanpa kilauan cahaya perkotaan yang mencuri perhatian. Di sini, langit adalah rajanya. Dan Saki sedang menikmati suasana tenang ini agar kerinduannya akan rumah segera berlalu.
Dari lirikannya, Kei menangkap gambar gadis itu sedang terperangah, seperti bocah yang dengan gampangnya dibuat takjub oleh pertunjukan sulap. Bibir Saki melengkung, sementara semesta membuat pantulan di mata hijau gadis itu. Kei ingin menepikan semuanya, kembali ke masa-masa dimana ketidakpeduliannya pada dunia adalah zona nyamannya. Tapi disinilah dia, menjadi satu-satunya manusia yang tengah menyaksikan alam sedang berbaik hati menunjukkan sisi polos Saki.
Ah~ diam-diam Kei membencinya…
Karena pemandangan yang disuguhkan kepadanya menimbulkan perasaan yang merepotkan.
Kemana perginya Kei yang tak peduli? Yang bahkan tidak tersipu melihat senior yang secantik bidadari macam Kiyoko? Kenapa dia malah ingin merekam semua tentang Saki? Saki yang lugu. Saki yang kadang tidak bisa diam. Saki yang manis…
Cowok itu menunduk. Hati terbakar kesal. Pemuda itu iseng-iseng menendang kecil bebatuan atau apapun yang bisa membuat pikirannya terdistraksi dari melihat gadis itu.
"Saki-sama."
Saki menoleh karena panggilan lembut itu. Langit malam membingkai siluet tubuh Kei dan angin malam mengacak rambut emasnya. Pandangan mata Kei seolah sepasang kunang-kunang yang berpendar ajaib. Dengan mudah Saki mengabaikan malam di hadapan pemuda ini. Kadang Saki bisa lupa kalau sosok Kei bisa begitu indah.
"Nge-halunya udahan, yuk. Umurku sia-sia nih, tiga detik."
Kei juga jelmaan Squidward Tentacle versi manusia.
.
.
.
"Semuanya -bleep- yen," Kasir di toko kue itu memasang senyum terbaiknya walaupun customer di depannya kaya pasien yang lupa minum obat mencret. Semuanya atas nama pelayanan prima. Kei merogoh kantung celananya, menghitung sebentar uang kertas yang lecek pemberian ibu sebelum menyodorkannya ke counter.
Setelah memilih kue rikuesan ibunya, dalam durasi sesingkat-singkatnya dan chit chat seperlunya, beli kuenya udahan. Sambil menunggu pesanannya dan uangnya dihitung, Kei melirik cewek berambut coklat yang dari tadi sedang memperhatikan kue-kue di etalase. Cewek itu memperhatikan jajaran kue-kue nan indah aneka warna dari jarak dekat, hidung hampir menyentuh kaca.
Eh? Galaunya kemana?
Tadi di jalan Kei berusaha mengembalikan sisi hiperaktif Saki dengan provokasi tentunya, biar dia nggak ngehalu terus. Sayangnya triknya tidak mempan. Gadis itu bahkan berubah manyun saat dia mengajaknya cepetan tadi di jalan. Sekarang tanpa diminta gadis ini sembuh sendiri.
Kei menarik napas panjang. Dia akan menyesali ini. Dirogohnya beberapa yen di sisi lain celana yang sama. Lalu disodorkannya kepada kasir.
"Tambah strawberry shortcakenya, ya. Dua." Kei senyum masam.
"Ashiyap," Mas kasir halilintar mengiyakan dengan semangat. Tolong berikan penghargaan pegawai terbaik bulan ini buat mas-nya.
Ketak ketik ketak ketik. Mas-mas counter itu meraih uang Kei.
"Ano, duitnya tolong dilepas, mas."
"Oh. Oke."
.
.
.
Saki menatap kue di depannya dalam diam. Mata membulat, bibir terkunci rapat, kalau ada orang yang melihatnya bertingkah begitu, mereka tidak akan tahu apakah Saki senang, marah, tersinggung atau tersedak. Pokoknya unidentified.
Di pojokan kafe merangkap toko kue itu Kei dan Saki duduk berhadapan.
Iya. Di toko serba pink itu, Kei dan Saki duduk di mengapit meja bertaplak renda diiringi musik romantis mengalir sendu. Lagunya 'Gabut Sepuluh Ribu Jam' dari mantan artis Yucup yang kini karir musiknya makin melesat.
"Ini...buatku?" Saki bertanya ragu. Pandangannya bolak-balik antara kuenya dan kue Kei yang identik.
"Hmh..." Kei menjawab setengah hati sambil mengulum sendok bekas kue yang ia cicipi.
Saki menggumam pelan, "Kei… kau ternyata punya hati nurani juga ya. Maafkan aku sudah salah menilai."
Kei keselek, lalu mengacungkan sendoknya, "Jangan samakan aku dengan zombie, ya."
Aslinya Kei akan meneruskan acara makan kuenya dengan mood yang kena fermentasi, tapi detik berikutnya ia memperhatikan perubahan di muka Saki.
Gadis itu tersenyum lebar. Kei bahkan bisa dengan pede menyimpulkan kalau cewek itu excited. Lihatlah itu, buku-buku jarinya mencengkeram meja. Dengan sedikit bingung Saki melihat sisi kiri lalu ke sisi kanan kue, lalu ke kiri lagi sebelum memutuskan mengiris kuenya dan memasukkan ke mulut. Gadis itu bergidik seru.
'Hm? Apaan nih?' Kei kembali mengulum sendok, dan kali ini sambil mengulum senyum. Zat pemanis di kue yang kini ada di mulutnya seolah bertambah berkali lipat. Melihat Saki yang seperti itu mengingatkannya pada hewan-hewan lucu di national geographic -lagi- yang sering dia lihat video-videonya. Koala, anak kucing, sloth, dinosaurus...
Kalau si mungil di depannya ini berubah jadi anak kucing, dia tidak akan ragu buat memeliharanya.
Kalau, ya. Kalau…
Kei berdehem, sok-sokan pasang muka tembok dan tidak tertarik sekalipun Apple Inc. berubah jadi Strawberry Inc. "Kau bertingkah seperti nggak pernah makan shortcake." Jurus ketus ala tsundere sedunia dikeluarkan Kei.
Di sela suapannya Saki mengalihkan pandangannya dari kue lucu di depannya ke Kei, "Tidak juga sih. Biasanya aku dan Karin yang kerjaannya begini. Jajan... trus jalan-jalan nonton film setelah kerja rodi di tim basket. Biasanya kami gantian nraktir sih. Kadang juga cuma makan es krim habis balik sekolah."
Kei mengangguk, "Nggak ada tujuan hidup. Aku paham."
Saki menjulurkan lidahnya yang pink.
"Terus latihan panahannya kapan kalau kerjaanmu nolep gitu?" Kei sudah seperti bapak-bapak yang menyidang anaknya.
Saki tertawa kecil, "Itu sih pas SMP sampai kelas dua. Kelas tiga aku konsen jadi manager."
"Hee? Bukannya sayang skillnya udah dapet malah dilepas?"
Untuk sesaat Saki terlihat tidak fokus pada kuenya. Perasaan Kei saja atau wajah Saki diselimuti bayang-bayang? Bahkan senyumnya terlihat terpaksa. Kei pasang stealth mode.
"Hm… Iya juga sih…" Saki menyuap krim yang ia sendok dengan perlahan, "Kadang saat aku lewat koridor ruang panahan, aku refleks berhenti." Gadis itu kali ini meletakkan sendoknya, dan mengarahkan perhatian penuhnya pada Kei. Sembari mencondongkan tubuhnya, gadis itu berbisik jenaka, "Kau tahu tidak? Kami punya seragam putih. Saat pertama kali memakainya, aku seperti berubah menjadi ksatria pelindung bumi. Ternyata setelah aku cerita pada teman-teman seklubku mereka juga berpikiran yang sama. "
Gadis itu nyengir. Ada nostalgia di matanya. "Ayahku bahkan membelikanku set panahan sendiri. Waktu anak panah dilepas, bunyinya terdengar keren sekali. Aku rasanya masuk isekai dan berubah jadi toko utama anime. Kakkoiiii…."
Kei mengangkat alis. Apa jangan-jangan Saki punya sindrom chunibyou?
"Dari segi skill aku bukan yang terbaik. Ada kakak kelas bahkan anak baru yang lebih jago. Piagam yang Kei lihat waktu itu bisa dikatakan rejeki," Saki tersenyum kecil, "Tidak ada yang menyangka kalau aku akan jadi runner-up. Bahkan aku sendiri. Tapi teman-temanku dan pelatih percaya padaku. Mereka membuatku percaya saat aku menarik busur, aku bisa melakukan semuanya." Saki bercerita tanpa ditanya. Sebenarnya buat Kei ini adalah tipikal cerita yang membosankan. Harusnya sekarang Kei merasa cukup mendengar cerita semacam ini.
Namun bibirnya malah melontarkan tanya, "Lalu kenapa?"
"Huh?"
"Kenapa berhenti?"
Saki mengerucutkan bibir, "Klasik. Nilaiku turun…"
"Oh? Jadi orang tuamu marah?"
Saki menggeleng. Kaki mengetuk-ngetuk resah di bawah meja. "Nggak sih… eum… gimana ya? Ya kau tahulah kalau ibumu kecewa walaupun mereka tidak marah."
"Lalu? Itu sebabnya kau pilih jadi manager basket?"
Saki mengangguk dan tersenyum irit, "Tim basket kami besar. Managernya lumayan banyak. Lagipula aku hanya asisten. Tidak akan mengganggu belajarku."
Kei menatap Saki lamat-lamat. Jemarinya telah lama berhenti menyuap kue.
"Memilih menjadi suporter daripada pemain," gumam Kei. Suaranya satu frekuensi dengan apa yang ada di pikiran Saki.
Tanpa harus bertanya pun Kei tahu kalau topik pembicaraan ini bukan topik yang paling Saki sukai. Tapi gadis itu tidak berhenti, dan Kei juga tidak akan menghentikan gadis itu sebelum dia sendiri melakukannya.
'Ayo, Saki-sama. Ceritakan padaku semua tentangmu,' Kei menahan senyum iblisnya. Ya. semua informasi ini akan dia simpan untuk-
Kei hilang fokus.
-untuk-
Kei berusaha mengingat. Bahkan dia tergoda untuk memiringkan kepala seolah itu akan membantunya berpikir.
Untuk apa dia mengorek informasi ini?
Ah, sudahlah.
"Kurasa kita semua tidak terlihat seperti yang di luar ya," Ucapan Saki berhasil mengembalikan minat Kei.
"Aku mungkin terlihat menggebu-gebu, tapi aku berhenti di tengah jalan dari apa yang aku pilih. Sedangkan Kei, kau terlihat membenci semua ini, tapi kau bertahan. Kei melanjutkan semuanya. Kau hebat…"
Mata mereka bertemu. Untuk pertama kalinya mereka tidak memasang pertahanan masing-masing. Dalam hati, Kei jadi ingin tahu apakah Saki seterbuka ini pada orang lain? Ini adalah kelemahan Saki yang sedang dibicarakan. Apa ini tidak apa-apa? Apakah tidak berbahaya?
Saki memutuskan dia yang pertama kali memutus kontak mata mereka. Kei sedang melihatnya seperti objek bedah di pelajaran Biologi.
Dengan sedikit salah tingkah, Saki berdehem, "Kalau Kei sendiri, biasanya mainnya di mana?"
Kei menusuk kuenya dengan malas, "Di toko Sakanoshita, makan bakpao. Dengerin musik. Jalan sama Yamaguchi."
Saki mengangguk, "Jones. Aku paham." Saki ketawa. Kei berasa kena tonjok balik. Well, setidaknya ceriwisnya gadis ini balik lagi.
"Basket di SMA kalian, apakah mereka kuat?" Pertanyaan dari Kei disusul dengan diam. Sadar kalau dia lebih cerewet dari biasanya. Diperhatikannya gadis di depannya, tampaknya Saki tidak paham dengan realisasi yang sejenak tadi melanda Kei.
"Bisa dibilang begitu. Tapi kalau boleh jujur, kebanyakan akan menilai permainan SMP kami jauh lebih seru dan menarik. Selain skill yang unik, dan masing-masing dari mereka kurasa suka pamer." Saki tertawa, matanya tampak berbinar karena kenangan.
"Kalau Soka Sonjuku beda lagi." Kali ini gadis itu nyengir. Nah, itu dia Saki yang sering Kei lihat.
"Kerja mereka ribut melulu tapi sebenarnya mereka seperti itu karena sudah seperti keluarga. Kurasa alasan kenapa aku senang di Karasuno karena itu mengingatkanku pada mereka. Sedangkan waktu aku SMP, tim basket kami punya kelemahan di team work. Terutama karena masalah senioritas."
"Masih main sama mereka nggak?"
Saki mengangkat wajah, "Masih, sih. Biasanya kami yang seangkatan suka datang ke pertandingan tim basket SMP. Soalnya memang yang paling kompak ya yang seangkatan."
"Heh. Jadi sebenarnya kau ini murung karena homesick,ya? Karena kau nggak bisa lagi kaya gitu pas di Miyagi."
Saki cemberut. Dalam hati dia tidak mau mengakuinya karena takut dikira lemah oleh Kei. Sepertinya Kei juga bukan orang yang mengerti akan hal-hal sensitif seperti perasaan kangen kota halaman. Beberapa menit lalu saja Saki sempat meragukan kalau Kei sebenarnya manusia atau nendoroid berwajah sengak.
"Ya…apapun masalahku, aku homesick atau tidak, aku masih punya beberapa bulan untuk menetap di sini."
Kei melihat percikan antusias sudah sepenuhnya kembali di mata Saki. Raut mukanya berubah dari serius menjadi jahil. Kei mundur ke sandaran kursi, menjauh. Saki kan impulsif, apa yang ada di otak cewek itu Kei mana tahu.
"Sekarang, kira-kira apa yang bisa kubantu buat tim voli Karasuno?" tanya gadis itu dengan senyum yang menyilaukan.
"Voli lagi yang dibahas?" Kei mengusap mukanya. 'Ya Tuhan, aku lelah lahir batin kemana-mana.' Ratap Kei. Porsinya menghadapi voli sudah lebih dari porsi makannya tiga kali sehari. Jangan-jangan trombosit di badannya akan berubah bentuk jadi kaya bola voli semua.
"Iyalah," Saki menggeser kursinya memutari meja, mendekati Kei. Tidak di sebelahnya, sih, tapi cukup untuk bisa diskusi tanpa orang lain mendengar. "Kau kan blocker andalan Karasuno."
"Heh…" Kei tidak tersanjung sama sekali. Strawberry shortcake ditusuk-tusuknya tanpa ampun.
Berhadapan dengan Kei yang hidup segan mati kapan-kapan, Saki tidak kehilangan semangat. "Aku berniat mengumpulkan data lawan tanding Karasuno. Tapi tidak tahu awalnya dari mana. Sebelum aku tanya-tanya ke Yachi-san atau Kiyoko-san, kasih tahu aku dulu."
"Heh…" versi dua. Kei tidak tahu ini berkah atau musibah. Masa di kafe romantis macam gini yang diomongin nggak jauh-jauh dari voli, bola, sama pemain lawan yang mukanya nyebelin semua, sih? Kei nggak sadar kalau dia seribu kali jauh lebih menyebalkan di mata lawan-lawannya.
"Turnamen nanti Karasuno lawan siapa?" Saki sudah mirip anak kucing minta makan. Mata berbinar-binar.
"Ya lawan sekolah satu prefektur-lah."
"Dih. Ratu drama. Serius ini!" Saki memberengut, "Sebenarnya aku ingin tahu peta kekuatan lawan, sih. Sama karakteristik pemain dan permainan mereka."
"Kalau gitu kau salah alamat. Ukai-san punya semua video mereka. Harusnya kau tanya ke dia." Kei ikutan cemberut.
"Tapi perspektifnya beda karena kau pemain, Kei." Saki geser mendekati kursi Kei lagi.
"Persepektifku sebagai pemain adalah aku mirip prajurit yang disuruh misi bunuh diri atau membasmi titan bugil tanpa manuver gear." Kali ini Kei geser kursi. Menjauh. Lama-lama mereka kaya main catur. Geser-geser kursi nggak jelas. Dia lalu diam sejenak, "Tapi pemain lawan pakai baju, sih." Kei menatap Saki lekat-lekat, "Kau tidak tahu bagaimana rasanya ada di hadapan tiga blocker lawan yang tingginya hampir dua meter semua."
"Semua sekolah blockernya kaya gitu?"
"Rata-rata begitu. Namanya juga dinding pertahanan. Tapi kalau yang paling horor adalah blockernya Date kogyo. Mereka sekolah dengan sistem blocking paling matang di sini. Tinggi badan mereka jauh di atas rata-rata. Refleks cepat. Intuisi masing-masing pemain jalan. Katanya Asahi-san pernah trauma menghadapi blocking mereka. Belum lagi Shiratorizawa yang punya spiker kaya meriam, setter yang berbakat, fasilitas yang memadai dan sistem latihan yang komprehensif, lalu sistem penyaringan orang baru yang memang mengincar pemain berbakat." Tanpa sadari Kei nyerocos memberikan informasi yang Saki inginkan. Hitung-hitung melepas stress.
"Sugoi…" Saki berbisik dan matanya memancarkan sinar lugu. "Selama ini aku hanya fokus pada peraturan dan basic permainan voli."
Kei mengangguk, "Tidak ada salahnya memulai dari yang basic. Daripada yang mulia putri Saki-sama akan merengek kalau gagal paham di tengah video pertandingan."
Saki mengabaikan ejekan Kei yang menyebalkan itu, "Kalau begitu, sekolah lain?"
"Rata-rata mereka punya pemain berbakat dan cara bermain yang beda satu sama lain. Johzenji terkenal dengan individual skill dan serangan kejutan. Lebih tepatnya mereka selalu siap menghadapi hal yang tidak terduga." Kei rasanya ingin muntah membayangkan betapa random tapi efektifnya serangan Johzenji. "Tapi jumlah pemain mereka tidak terlalu banyak. Jumlahnya tidak terlalu jauh sama Karasuno. Lagipula mereka juga sering melakukan kesalahan sendiri, sih."
"Un! Un!" Saki mengangguk kencang, membuat Kei merasa jengah tapi juga sedikit bangga karena cewek itu memperhatikannya seperti Kei adalah seorang dosen.
"Lalu yang terakhir, adalah yang paling berbahaya." Layaknya orang dewasa sedang menakut-nakuti bocah ingusan, Kei bicara dengan nada sok misterius.
"Be-berbahaya?" Saki refleks mundur. Untuk urusan hantu dan yang bahay-bahaya gadis ini punya level ketakutan yang 'membanggakan'.
"Ya. Soalnya kekuatan mereka terletak pada konduktor pertandingan alias setternya. Dia bisa in-sync dengan partnernya sekalipun pemain-pemainnya masih baru. Buat teknik, dia sudah veteran. Dia juga sangat pintar menebak pola serangan lawan, memecahkan kode dan menganalisa situasi di lapangan. Dari skala satu sampai lima mungkin teknik permainannya sempurna. Pokoknya kalau buat setter, dia yang terbaik di sini. "
Saki terkesiap. Lagi, buku-buku jarinya menancap di meja. "Dia jenius? Orang yang sejenis Kageyama?"
"Lebih buruk lagi, dia punya kemampuan yang letal dan langka. Tapi tenang, selama dia tidak pakai seragam, kau mungkin bisa mengenalinya sekali lihat. Soalnya dia pernah pakai kaos Magenta, sepatu kuning dan celana tosca sekaligus."
Saki memiringkan kepala tanda bingung. Ini analisis voli apa lambe turah?
"Dari sekolah mana dia?" Tanya Saki akhirnya. Dia menyerah membayangkan seseorang yang punya selera fashion yang bikin pedih mata.
"Aoba Johsai. Namanya Oikawa. Ingat, jangan bersentuhan dengan orang itu. Jangan ngobrol sama dia. Pokoknya kalau ketemu dia, segera lari."
"Eh? Skill-nya segila itu? Ja-jadi dia juga bisa mengorek keterangan bahkan dari orang luar seperti aku?" Muka Saki menunjukkan raut ketakutan.
Tapi Kei hanya mengibaskan tangan dengan santai. "Bukan. Kalau dekat-dekat kau bisa hamil. Soalnya dia penjahat kelamin."
Saki garuk-garuk kepala, 'Ini masih tentang voli, kan?'
.
.
.
Saki merentangkan tangannya, posturnya siap untuk freefall tanpa memikirkan apapun resikonya. Kaki berdiri di atas dipan. Dan detik berikutnya dia meluncur jatuh ke pelukan kasur di belakangnya. Semua dilakukan dengan senyum yang tak lepas dari wajah.
Saki berguling ke kiri ke kanan, kaki bergerak dengan girang.
Mimpi apa dirinya semalam? Dia bisa pergi ke kafe seperti kapel-kapel bucin sama Kei. Yah, walaupun sebenarnya niat mereka pergi buat beli kue, dan perjalanan awal mereka penuh dengan Saki ngagalau gara-gara homesick, tapi berakhir manis.
Kei bahkan membelikannya sepotong kue strawberry.
Apakah Kei suka kue strawberry? Saki menghentikan cekikikannya. Tiba-tiba otaknya bertanya-tanya apakah cowok seasin Kei suka dengan kue semanis dirinya. Saki penasaran sambil narsis.
Setelah tidak menemukan jawabannya, Saki akhirnya menyerah. Dia memutuskan untuk bertanya langsung pada orangnya lain kali. Gadis itu menutup wajahnya dengan bantal. Napasnya memburu karena bergerak berlebihan. Dan yang lebih dari itu, di pikirannya berseliweran tentang satu orang yang membuat malam biasa ini terasa magical.
'Kei….'
Saki menyingkirkan bantal dari wajahnya, menampakkan pipinya yang memerah. Peristiwa di kafe tadi terasa surreal walaupun interaksi mereka normal. Dan yang lebih penting lagi, Saki belajar beberapa hal tentang cowok itu. Pembicaraan mereka berawal dari voli. Selalu. Lalu mengalir santai, tentang keseharian Kei, awal pertemuannya dengan Yamaguchi, bagaimana Akiteru sudah mengubah hidupnya dengan voli, tentang musik. Meskipun sebenarnya Saki yang banyak tanya.
Ah, tadi Kei bilang dia tidak secara spesifik suka dengan musik tertentu. Bahkan playlistnya saja random.
"Aku menyukai yang handphoneku lakukan buatku."
"Musik?"
Kei menyeringai, "Salah satunya. Tapi fungsi utamanya adalah menghalangi orang lain dan suara berisik mereka."
Saat itu Saki hanya bisa memasang wajah pokerface nan speecless seperti putri gurun inceran Aladdin.
Pemuda jangkung yang ia sukai adalah orang yang tipenya seperti itu. Sungguh Saki tidak tahu kenapa bisa suka dengan dia yang mirip dengan Grinch dan kakek-kakek grumpy yang tinggal di sebelah rumahnya di Tokyo. Sifat Saki adalah happy go lucky, sedangkan Kei itu happy go Loki, yg mana kalau legal, dia tidak akan ragu buat membunuh satu klan keluarga dengan jurus julidnya.
Saki menelungkup di kasur. Bertanya-tanya dalam hati apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Karena malam ini dia masih ingin bersama Kei.
'Jadi begini rasanya suka dengan seseorang?'
Menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran. Negara ini akan mencapai Mars dalam waktu tiga bulan kalau warga negaranya berpikir seperti Saki dalam kondisi sekarang.
Saki miris sendiri.
Gadis itu melihat keluar jendela dan mendadak teringat kalau Kei suka belajar sambil mendengarkan musik.
Saki meraih hapenya, ia lalu mengirim sebuah link dan mengetik sesuatu buat Kei.
'For your playlist.'
Buat sekarang, Saki masih tidak paham kenapa dia bisa suka dengan pribadi yang bosan hidup macam Kei, dan apa yang akan dia lakukan dengan perasaannya. Tapi untuk malam ini, Saki ingin menghadiahi Kei dengan sesuatu karena pemuda itu telah memberikan sesuatu untuk Saki walaupun secara tidak sengaja.
Malam ini lebih indah bersamanya.
.
.
'For your playlist.'
Kei mengangkat alis. Kalau untuk urusan terlihat skeptis, Kei jagonya. Jadi saat tengkurep dan buka-buka majalah -coba tebak- national geographic sambil melototin tengkorak triceratops, dia langsung melempar hapenya. Ya itu, gara-gara skeptis dan curigaan.
Beberapa kali Kei sering kena prank seniornya di tim voli. Dia pernah dikirimi video drama Korea yang dimix dengan adegan pocong lompat, makanya agak trauma...di bagian drama koreanya, bukan pocongnya. Kei nggak keberatan liat pocong leloncatan tapi akan alergi saat melihat bucin termehek-mehek.
Karena itu dia curiga saat menerima pesan dari Saki karena sepertinya cewek itu membaur dengan baik dengan Tanaka dan Noya. Jangan-jangan dia ketularan isengnya duo senpai hiperaktif itu.
'Tapi ini dari Saki, loh.' Heh...Kei penasaran dari mana datangnya suara itu. Dia kan miskin hati nurani.
Hanya saja ingatan tentang pembicaraan mereka di toko kue tadi kembali kepada Kei. Pembicaraan mereka yang cenderung santai dan mengalir. Sudah berapa lama Kei bisa ngobrol santai seperti tadi selain sama Yamaguchi. Kei bukan orang yang gampang akrab dengan orang. Ibarat pintu, Kei itu jenis pintu yang ada tulisan 'harap tenang, ada ujian'. Masalahnya ujiannya nggak kelar-kelar. Tapi dengan Saki rasanya berbeda. Jangan sampai Saki tahu kalau Kei diam-diam bisa nyaman dengan cewek itu.
'Kenapa harus diam-diam? Kenapa Saki jangan sampai tahu?' Lagi-lagi Kei dibuat kesal dengan isi kepalanya sendiri.
Akhirnya Kei bergerak. Pemuda itu merangkak malas dan meraih kembali hapenya, kemudian membuka pesannya.
'Mau apa cewek ini ngirim link? Link apaan ini?'
Pemuda itu meraih headphone dengan satu tangan dan memasangnya. Telunjuknya yang panjang meng-klik link dari Saki. Lalu…
Angin berdesau, dedaunan gemerisik. Kei bisa mendengar bunyi gemuruh di langit yang jauh. Perasaan tadi ponselnya memberitahu kalau malam ini akan cerah.
Tak lama titik air mulai turun. Pertama rintik. Semakin lama semakin riuh. Hujan mulai deras dan guruh bersahut-sahutan. Refleks, Kei meraih selimut, namun segera ia lepaskan karena ada yang salah dengan kesimpulan yang otaknya kirim. Kei lalu menghampiri jendela kamarnya yang tertutup. Dibukanya jendela itu dan dijulurkannya tangan.
Terang benderang, malam cerah tak ada hujan. Bahkan air juga tidak ada setetespun.
Kei mencopot headphonenya. Suara hujan berhenti.
Ternyata yang dikirim Saki adalah rekaman suara hujan yang diloop. Kei mengernyit. Dasar gadis kurang kerjaan. Malam-malam begini malah ngirim suara hujan. Nanti kalau dia rematik gimana? Mode kakek-kakek grumpy ala Kei langsung on.
Tapi walaupun Kei ngedumel dalam hati, malam itu Kei tidur dengan headphone terpasang. Suara hujan berderai-derai menemaninya di sela himpitan bantal. Dia bahkan bisa menghirup bau air bercampur tanah sekalipun hujan kali ini hanya ilusi dari suara yang keluar lewat handphonenya. Dan di malam itu juga Kei bermimpi makan kue strawberry di kafe sambil memandang hujan di luar jendela.
-TBC-
Notes:
Hai, minna-san. #bow
It's been a long…long…long… time.
Akhirnya saya punya kesempatan untuk melanjutkan fanfiction ini. Oh, my God.
Di tengah pandemi Covid19, hiks.
Pertama-tama saya minta maaf karena saya baru update setelah berapa tahun?
Terus terang real live sangat sibuk. Baru ada waktu setelah pandemi. I'm so so so sorry.
Lalu ada block. Writer block. Awalnya saya nggak tahu ini cerita kemana. Tapi setelah get a grip saya bisa meraba kembali jalan ceritanya walaupun revisi-revisinya dah nggak kehitung.
Hal lain yang jadi perhatian adalah, it's been years. Yeaaaars. (God, what have I done?!)
Bahasa di fanfic ini sepertinya pasti mengalami perubahan. Ouch, saya nggak tahu apakah bisa ngelucu seperti dulu. Apakah chapter baru ini bisa selaras dan nyambung, terutama dari segi bahasa dan konsistensinya. If it doesn't, tolong diaafkeun. Hiks. Serius, beneran, ini jadi pertimbangan saya menulis setelah sekian lama.
Untuk pembaca dan semua yang sudah membaca, mereview, alert, like fanfic ini dari awal sampai baru-baru ini, saya ucapkan banyak-banyak terima kasih. Percayalah, saya sangat menyukai fic ini dan merasa sangat fun untuk menulisnya. Jadi support semuanya sangatlah saya hargai. I heart you somach.
Saya nggak tahu apakah masih ada yang masih mau baca fic ini. Tapi kalau kalian baca, pli, plis, plis, pliiiiis let me know. Your support is the fuel of my spirit. I love it. I love love love to read people's oppionion about the character we like so much.
Thank you so much, minna-san, for the wait, for your support and patience. Semoga fanfic ini bisa menghibur kalian. Semangat buat semua yang sedang mengalami lockdown dan terdampak dari Covid-19. Semoga covid-19 segera enyah.
I hope you all well, healthy, and live a long and beautiful life.
Xoxo
Tall-and-handsome
