HECTIC HOURS

CHAPTER 11

Disclaimer: Haikyuu! Belongs to Haruichi Furudate

Warning: OOC-ness. Bahasa kasual.

.

.

.

Saki mengetuk-ngetukkan pensil ke buku catatannya. Yang dipelukannya saat ini bukanlah buku catatan sembarangan, melainkan logbook serba guna miliknya. Isinya rupa-rupa dan ngisinya suka-suka. Ada konsep data statistik teman-teman basket SMPnya, strategi belajar mandiri, notes keperluan apa saja yang Yachi-san butuhkan buat bikin banner.

Saki melirik lembar baru yang kosong, lalu lirik kiri-kanan, ruang tamu aman, semuanya sedang asyik nonton sinetron bareng. Gadis itu menggigit bibir bawah dan menulis cepat-cepat dengan pensil.

Strategi menaklukkan hati-

"Yo! Saki!"

Coretan sekusut jalan cerita sinetron menutupi apapun yang Saki tulis barusan.

"Kamu lagi belajar?"

"He'eh."

"Belajar apaan?" Akiteru melompat dari balik sofa dan mendarat dengan mulus di sebelah Saki.

"Belajar tentang alasan kenapa peribahasa gayung bersambut bunyinya gayung bersambut. Memangnya ada yang mandi bareng ya?" Harusnya Saki dapat award buat ngeles dan ngelantur abad ini. Keringat dingin mengaliri jidat di malam yang membuat orang enggan hidup tanpa AC. Mata Saki awas dan melirik Aki yang kini duduk di sebelahnya.

Fiuh… hampir saja ketahuan.

"Tsk!"

Telinga Saki seperti terlatih mendengar decakan khas itu. Asalnya dari Kei yang tadi tenang-tenang saja menjalani hidupnya tanpa ketus dan judes. Tapi seperti biasa, kita tidak tahu orang akan ke-trigger dengan apa.

Kei mengangkat kepala pirangnya dan melupakan autobiografi penemu hewan purba yang dipinjamnya dari Yamaguchi. Kacamata berkilat judgemental dan bibir mengkerut terganggu.

"Gayung yang dimaksud di sini artinya serangan. Itu dari bahasa Melayu. Gayung bersambut itu punya beberapa arti yang hubungannya adalah dengan serangan, balas membalas kata-kata, dan permintaan. Jadi yang dimaksud gayung di situ bukan gayung buat mandi. Lagipula kau ngomongnya kurang lengkap. Belajar lagi sana!"

Hanya perasaan Saki saja atau ada cambuk yang melambai-lambai dan suara 'CETAR!' saat Kei bicara tadi?

Akiteru garuk-garuk kepala, "Er…Saki, gayungmu bersambut tuh."

Tangan mungil Saki memegangi dadanya sementara muka terlihat ngilu, 'Tolong, kokoro, jangan berdetak lebih kencang hanya karena ditanggapi sama Kei. Plis. Aku bukan masokis. Uh!' Saki gemas dengan dirinya sendiri.

Terdengar tawa dari Megumi yang tadinya melihat adegan bunuh-bunuhan karena rebutan cowok di layar kaca. Kan Saki jadi malu. Untungnya suami bibi Megumi yang baru pulang dari luar kota ada di kamar, jadinya Saki tidak harus merah padam di depan lelaki asing yang baru ditemuinya.

Saki bersungut kesal pada Kei. Yang dimanyunin tampak tak peduli dan kembali tenang kembali ke dunianya yang introvert, tak peduli bahwa ada yang kepalanya bingung menghadapi reaksinya barusan.

'Jadi sebenarnya Kei itu gampang terpicu sama yang bego-bego,' Ingin rasanya Saki menepuk jidat dengan buku tebal yang Kei baca. Kalau bersikap bodoh secara natural Saki bisa. Tapi kalau pura-pura bodoh, Saki belum pernah mencoba.

Saki menurunkan buku catatannya demi melihat si pemuda berkacamata. Tinggal serumah dengan yang disukai itu bikin jantungan, ternyata. Dan karena ini Kei, Saki tidak tahu harus mendekati dengan cara apa. Cowok normal didekati saja susah, apalagi yang bibirnya sepedas saos ricis level lapan belas.

Gadis itu mengepalkan tangan rapat-rapat. Tidak. Dia tidak boleh jalan di tempat. Pokoknya malam ini harus ada progress. Momentum malam kemarin jangan sampai turun lagi. Dia harus bisa menarik perhatian Kei! Harus! (Saki rupanya terbawa mood permainan voli)

Dilema Saki bukannya terlindung dari mata orang di sekitarnya. Tanpa cewek itu menyadari, sedari tadi Akiteru memperhatikan gerak-gerik Saki yang terlihat abnormal. Maju mundur maju mundur cantik. Apa dia sudah jadi pengikutnya mami Syahrini? Akiteru awalnya khawatir dengan kondisi mental Saki yang terlihat tidak stabil. Bukannya lebay, tapi di mata Aki, Saki terlihat mirip atlet yang mau sprint tapi takut dicegat Satpol PP. Kan dibilang, maju mundur maju mundur asyik. Tapi kemudian otak Akiteru baru nyambung begitu mata resah Saki tertuju pada Kei.

Si sulung Tsukishima berbinar. Jadi anak ini mau make a move sama adiknya? Akiteru jadi ikutan bersemangat. Apalagi saat melihat Saki komat-kamit.

'Ayo, dhek! Semangat! Abang mendukungmu!' Akiteru refleks mengepalkan tangan. Dia bahkan duduk sambil setengah berdiri. Kedengarannya memang susah tapi kalau adrenalin dalam nadi memuncak semua jadi mungkin.

"Kei!"

Yang dipanggil menoleh.

Mata Saki terlihat liar dan bolak-balik antara Kei dan bukunya, soalnya lama-lama melihat Kei Saki bisa kolaps. Tekanan makin kuat apalagi ketika Kei memicingkan mata.

"Apa?" jawab Kei malas.

"Kamu pernah nembak Yamaguchi nggak?"

"Ngajak berantem ya?!"

Akiteru merasa perjalanannya mendapatkan uang jajan tambahan dari emaknya makin jauh.

.

.

.

Setidaknya satu teori Saki terbukti. Kei memang gampang kepancing sama orang-orang yang menunjukkan kebodohannya. Anaknya suka pamer kepintaran, sih, jadinya gampang dipancing. Cuma kalau begini caranya Saki bukannya tambah dekat sama Kei. Bisa-bisa mereka malah tawuran di rumah.

Saki garuk-garuk pipinya.

"Yang tadi itu apa-apaan?" Kei mendesis. Tangannya gatal mengetukkan bukunya di kepala Saki. Ah… Saki ingat. Karena stress buat bicara normal, tatapan Kei yang menusuk dan buku yang ada nama Yamaguchinya bercampur baur di kepala, Saki sampai mengucapkan kalimat lucknut tadi.

"Entahlah. Mungkin aku kena heatstroke," Saki rasanya beneran berasa bodoh. Pesan moral dari blundernya tadi adalah bersikap dibuat-buat itu hanya akan mempermalukan diri sendiri. Lagipula…

Saki melirik Kei.

Sikap Kei sudah jauh membaik, kok. Walaupun tidak bisa dibilang manis. Dari awal bertemu Kei memang tidak suka basa-basi dan bahkan sering 'menyerang' Saki. Namun seiring berjalannya waktu, semuanya berubah.

'….atau aku yang kepedean?'

Saki menekan tombol air panas dispenser. Air mengalir di gelasnya dan membuat tangannya terasa hangat. Lumayan membuat rileks saat Kei ada di belakang punggung Saki ketika mengantri mengambil air di dapur seperti sekarang.

Ah… seperti ini juga boleh. Tidak perlu pendekatan mewah ala sinetron atau drama Korea. Saki kan bukan heroine shoujo manga atau tokoh utama drakor yang sering diikuti Nadeshiko. Jalan cerita mistis dan romantis ya cuma dalam mimpi. …atau di skrip drama.

'Aduh… harus gimana ini…? Masa iya pasif amat?' Sambil mendesah pasrah Saki menghisap air hangatnya, membuat cowok jangkung yang kini giliran mengambil air melirik diam-diam. Malem-malem mendengar cewek mendesah itu… ya gitulah.

Setengah melamun, Saki memperhatikan buku bersampul hitam yang masih dipegang dengan posesif sama Kei. Punya Yamaguchi. Ah, ya… yang bisa dekat sama Kei memang cuma Yamaguchi. Kemana-mana mereka selalu berdua. Latihan berdua. Berangkat dan balik bareng sekolah selalu berdua. Saki sampai harus sembunyi-sembunyi saat bolak balik rumah-sekolah. Kadang dia merasa seperti pelakor di tivi-tivi seleb yang suka ditonton ibundanya. Mendokusei… Saat Saki kondisinya seperti itu, Kei dan Yamaguchi lagi asyik makan roti melon di tengah jalan. Jalan berduaan. Sebelah-sebelahan sambil cekakak cekikik ngerjain Hinata.

Mendadak Saki ingat sesuatu. Bukan. Dia bukan kepikiran Yamaguchi dan Kei mirip pasangan homo.

"Kei, kalau suatu hari Yamaguchi datang ke sini gimana?"

Dengan gaya sesantai raja minyak, Kei duduk menyilang kaki. Jemari panjang membalik lembaran buku dan mata nggak sudi melihat ke Saki.

Gak pernah diajarin pelajaran akhlak kali tuh anak.

"Yamaguchi nggak akan datang ke sini." Nada suaranya absolut.

"Kalau dia ternyata datang gimana?"

"Dia nggak akan datang."

Baiklah. Saki dan Kei melontarkan pertanyaan dan pernyataan yang intinya sama dua kali. Sama-sama kepala batu.

"Kalian kan teman. Biasanya kan teman main ke rumah temannya yang lain." Saki menjelaskan dengan suara disabar-sabarkan, berharap pemuda yang katanya pintar ini nyambung dengan isu di kepala Saki.

"Aku sudah mengantisipasi biar dia nggak datang ke rumah untuk sementara waktu. Kak Akiteru lagi konsen ngurusin klien dan kuliah. Ayah sedang ingin ketenangan dan cuti buat istirahat. Yamaguchi anaknya pengertian. Mohon maaf, setiap yang kulakukan selalu kupikirkan, tidak seperti seseorang."

Saki mengangkat dagu, mata Kei menyipit. Aliran listrik mengalir dari mata ke mata walaupun tanpa kabel PLN.

"Yakin?"

"Seribu persen."

"Keiii, Sakiiii! Ada tamu buat kalian tuh di depan."

'Yamaguchi!' Kei dan Saki langsung gelagapan berdiri mendengar suara ayahnya.

.

.

.

Akiteru tertawa. Kelihatan sekali kalau dia sedang mengalami kebahagiaan yang meluap-luap. Sebabnya adalah tamu yang secara tak terduga datang.

"Maaf, ayah," Akiteru berbisik pada ayahnya, "Tamunya bukan buat anak-anak ingusan di sana. Tapi buat aku."

'Anak-anak ingusan di sana' yang dimaksud sedang berdiri cengo di balik pembatas tembok dekat dapur. Kei terus terang takjub melihat pemandangan di teras depan.

Iya, sih. Tamunya kali ini pakai seragam sekolah kebanggaan Karasuno. Pantesan ayahnya yang bang toyib (tiga kali lebaran nggak pulang) salah cerna hingga mengira dia datang buat Kei atau Saki. Gara-gara seragamnya sih. Padahal yang berdiri di pintu depan adalah bidadari ber-seifuku hitam yang suka diikuti oleh Noya dan Tanaka kemana-mana. Ke neraka sekalipun.

"Aku nggak tahu kalau Kiyoko-san kenal sama Kak Aki. Kau tahu ini?" Bisik Saki masih menyipit-nyipit demi melihat tiga sosok yang sedang ngobrol tanpa memperhatikan sepasang tukang intip di bawah umur.

Karena pertanyaannya tidak dijawab, Saki menoleh pada Kei yang masih shock. Hasilnya positif. Wajah Kei yang sekarang adalah wajah adik manis yang impian masa kecilnya dikhianati.

"Sejak kapan kak Aki punya kenalan cewek?" gumam Kei. Dikiranya lingkup pergaulan kakaknya cuma seputar wing spiker kekar dan beleleran keringat, apa?

"Malah itu yang dikomentarin. Kau nggak mau tahu hubungan mereka apa? Lihat saja kak Aki seperti punya pabrik LED di mukanya. Dan lihat itu, juga. Kiyoko-san blushing gitu apa kau nggak curiga?" Saki mendadak menggebu. Jiwanya seolah kerasukan setan gibah yang suka mangkal di pohon mangga sebelah rumah.

Mendengar itu Kei langsung pasang tameng jaim. Sekalipun batinnya menjerit ingin tahu, tapi kan dia cowok brilian, terpelajar, calon penerima beasiswa, berdarah biru dan memiliki sosok seindah pelangi. Nggak mungkin dia mau menjerumuskan imagenya ke dalam golongan lambe-lambean dan gosip membara ibu-ibu kompleks waktu belanja di tukang sayur. Seperti ibunya misalnya.

"Kak Aki mau kenal sama anak TK atau nenek-nenek juga tidak ada urusan denganku. Kau jangan mencampuri urusan orang lain. Ingat, Saki-sama. Semua ada batasnya. Sebaiknya aku kembali ke bukuku dan kau kembali ke peribahasamu. Rasa ingin tahu bisa membunuh kucing. Pelajari itu."

"Ah!" Saki memekik tertahan dengan mata membola. Bodo amat sama ceramah Kei. Tangannya menunjuk Akiteru dan Kiyoko yang kini pamit ke ayah mereka.

"Kei, mereka jalan berdua, Kei!"

Kei mematung. Lebih tepatnya mematungkan diri.

Tahan, Kei. Ini cobaan. Jangan kemakan provokasi Saki-

"Kei, kak Aki sama Kiyoko-san cekikikan, Kei!" Saki setan mode.

Jiwa brother complex Kei mulai meronta-ronta. Wajah seolah kena stupified Harry Lobster. Leher kram karena Kei mati-matian menahan nggak menoleh.

"Kei, tangan Kak Aki di pinggang Kiyoko-san, Kei! Pinggang! PINGGANG!"

Detik berikutnya dua anak ilang itu langsung balapan mengikuti Aki dan Kiyoko ke belakang.

.

.

.

Sunyi menemani seorang pria muda dan gadis cantik yang sedang duduk di pinggiran lantai papan. Kaki menggantung, bergoyang santai. Sesekali kaki Kiyoko menyentuh secara tak sengaja kaki orang yang di sebelahnya. Sementara tatapan lembut selalu menemani gerak-gerik Kiyoko. Pemilik tatapan lembut itu tentu saja adalah Akiteru. Sedangkan tatapan lapar dan dahaga tentang konten gosip adalah milik Kei dan Saki yang sedang olah peran jadi agen spionase di balik pintu geser.

Syukurlah setengah rumah Tsukishima tipenya tradisional. Kalau yang depan sudah dibeton, yang bagian belakang masih pakai triplek khas rumah tradisional Jepang yang asyik jadi fasilitas buat nguping.

Saki meremas permukaan pintu geser. Darah mudanya bergejolak melihat cowok dan cewek lagi dua-duaan. Ini bukan manga atau anime. Ini real! Bisa buat bahan referensi. Apalagi pemainnya kak Aki yang tampan dan Kiyoko yang selembut kembang mayang.

Eh? Kembang mayang tuh apaan?

Sementara di belakang Saki berdiri si jangkung kuning berkulit putih bangsat. Nggak kalah ikemen dari sang kakak. Biasanya tingkahnya terkendali tapi karena kondisi sekarang sedang force majeure, dia juga ikutan memegang tepian pintu dengan tubuh membungkuk setengah nungging. Maunya sih dia nempel pintu tapi apa daya spot sudah terisi sama si kecil alias Saki.

Untuk sementara bibir mereka rapat, perdebatan unfaedah untuk sementara dihentikan. Kuping dibuka lebar-lebar bak satelit yang sudah dijual ke negara tetangga. Baik hati Kei dan Saki bisa sama-sama lega, soalnya malam ini jernih dan distorsi minim.

'Apapun yang kau katakan akan kusadap, kak!' Intinya Saki dan Kei sedang melakukan permufakatan jahat dengan menggunakan bahasa kalbu.

Pembicaraan objek observasi Kei-Saki masih dalam taraf wajar. Kiyoko ternyata datang untuk menanyakan rekomendasi seputar perkuliahan. Sama sekalian bertanya tentang tips-tips lolos ujian masuk universitas. Mereka berdua mengobrol santai.

Tapi mohon maaf, mata awas Saki tidak bisa dikelabui. Pembicaraan memang normal dan umum. Seorang adik kelas yang sedang minta saran dari mantan kakak kelas. Seorang alumni yang memberi bimbingan dan rekomendasi yang aplikabel buat adik kelasnya. Tapi cara bicara mereka itu looooh. Seperti kekasih yang sudah dua milenia nggak ketemu. Kiyoko yang bicaranya sopan tapi sesekali mencuri pandang. Saki tahu itu bukan tanda kurang ajar, tapi karena pasti susah melihat langsung ke wajah orang yang disukai tanpa hati serasa diremas-remas.

'Aku paham, Kiyoko-san. Aku pahaaaam!' jerit Saki dalam hati.

Sedangkan Akiteru seperti seorang dermawan yang dengan murah hatinya menebar senyum. Tidak hanya dengan bibir tapi dari sorot matanya yang tak lepas dari Kiyoko. Baru kali ini Saki melihat sisi Akiteru yang seperti ini. Si sulung itu biasanya kocak, sekarang Akiteru bisa melihat sosok Kiyoko seolah gadis itu adalah hal paling rapuh dan paling berharga baginya.

Humoris dan penyayang. Hangat dan romantis. Get a man who can do both. Sayangnya hati Saki terlanjur menjatuhkan pilihan pada organisme paling asin-pedas-pahit sedunia. Di sela acara ngintipnya, Kei mendengar Saki menggeram kesal.

Fix. Si kuning pirang nggak paham sama isi kepala Saki yang kadang nggak sinkron sama situasi yang lagi mereka alami.

"Kalau Kiyoko mau, nanti kau bisa kuantar keliling kampus. Siapa tahu dengan itu Kiyoko akan punya gambaran yang lebih jelas. Tidak perlu terburu-buru. Nanti juga ketemu kok. Dengan melihat langsung, hal-hal yang sebelumnya nggak kepikiran akan muncul dengan sendirinya."

"Um…" Kiyoko mengangguk canggung saat mendengarkan penjelasan Akiteru. Tangan menempel di dagu seperti biasa saat sosok cantik itu sedang berpikir, "Aku rasa aku bisa sedikit tenang. Sebelumnya aku merasa tidak tahu apa-apa dan bingung mau mulai darimana."

"Memangnya Kiyoko nggak nanya sama guru? Biasanya para guru semangat, kok, kalau membantu muridnya menentukan masa depan." Akiteru bertanya heran.

Kiyoko menggeleng pelan, "Aku sudah beberapa kali ke tempat guru. Mereka memang dengan senang hati memberiku masukan. Hanya saja banyak murid yang mereka tangani, aku merasa tidak enak mengganggu mereka." Seketika Kiyoko pias setelah mengatakannya. Dengan terbata dia menjelaskan, "Bu-bukan- maksudku- aku tidak bermaksud kalau-"

Akiteru tergelak, "Tidak apa. Aku akan selalu ada waktu kalau 'diganggu' sama Kiyoko, kok." Akiteru terlihat senang dengan perubahan ekspresi gadis di sampingnya, "Malah aku menantikan hal itu."

Kei hampir keselek. Pasalnya, baru pertama kali ini dia mendengar kakaknya modusin cewek. Tapi alasan utamanya adalah karena Saki yang mulai menepuk-nepuk tangan Kei dengan girang.

PLAK PLAK PLAK!

Lebih tepatnya tamparan sih daripada tepukan.

"Pssst!" Kei melotot di sela menahan siksaan di tangannya. Rasanya geregetan melihat cewek itu blingsatan dengan pipi menyala. "Saki-sama, tolong jiwa jomblonya dikendalikan ya. Kalau ketahuan, mampus kita!" Kei bisik-bisik setengah mendesis. Yang ditegur balik badan, "Kalau cuma ngerti psikologis cicak dan bukan isi kepala anak cewek, diem aja." Saki senggol bacok mode on.

'Wanjay! Malah kena omel,' Kei menggeretakkan giginya kesal.

Tanpa sadar kericuhan di tribun penonton, Akieru dan Kiyoko masih meneruskan perbincangannya. Sebenarnya Kei ribut sama Saki lumayan kencang, tapi kalau cinta sudah bicara kuping mendadak budeg.

"Kalau begitu, aku bisa bantu apa lagi?" Akiteru bertanya ramah. Mendapat curahan perhatian dari kekasihnya, Kiyoko jadi makin gugup. Di kesehariannya, Kiyoko sering mendapat perlakuan istimewa dari orang lain, terutama lawan jenis. Sebenarnya hal itu membuatnya tak nyaman. Namun untuk Akiteru berbeda. Kiyoko tidak ingin memasang perisai seperti biasa. Dia ingin…

Kiyoko menggeleng kuat-kuat, "Aku rasa sudah cukup untuk hari ini. Akiteru-kun, maaf sudah mengganggu waktu istirahatmu."

Raut wajah Akiteru berubah. Pemuda itu kehilangan senyumnya. Matanya menatap malas namun ada rasa tak sabar. Tanpa diduga Akiteru meraih tangan Kiyoko dan menariknya.

"Yakin hanya itu tujuanmu ke sini?"

Kiyoko menggigit bibir. Dari jarak yang begitu dekat iris Akiteru menyala dan hal itu membuat pipi Kiyoko makin panas.

"Aku…" Kiyoko berpaling. "…keperluanku hanya itu…" Jawabnya lirih, membuat desir aneh di dada Akiteru.

Jemari Akiteru makin mengerat. Dan jarak antara mereka makin pendek saat Akiteru mengangkat tangan gadis itu dan meletakkannya di belakang punggung Akiteru.

Kiyoko tidak dapat mendengar apapun selain degup jantungnya.

"Katakan kalau kau tidak ingin menemuiku," Suara Akiteru terdengar rendah dan dalam. Ada tantangan di dalamnya.

Kiyoko seolah tersesat dalam sensasi yang dibuat oleh tubuhnya sendiri. Pandangan Akiteru seolah mengunci. Dia benar-benar terlihat serius. Pemuda itu… dia terlihat ingin memakannya.

Kiyoko tidak dapat bergerak. Gadis itu hanya dapat menggerakkan bibirnya yang kaku dan terbata, "..aku… ingin bersama… Akiteru-kun…"

Perlahan bibir Akiteru mengulas senyum, namun matanya tetap terlihat memerangkap. Dielusnya pipi gadis itu dengan sentuhan lembut namun penuh perasaan, "Gadis pintar."

Kiyoko tak bisa berkata apapun, karena berikutnya Akiteru telah merengkuh dan menghadiahinya dengan ciuman. Ciuman yang membuat tubuhnya terasa panas dan meleleh. Tubuh Kiyoko bergetar menahan sesuatu yang asing, yang baru dia rasakan kali ini. Namun, di malam yang sunyi ini, dia dengan sepenuhnya membiarkan bibir Akiteru menuntunnya dalam ciuman yang tidak lagi perlahan.

.

.

.

'APA-! APA-APAAN ITU?!'

Rahang Kei jatuh demi melihat pemandangan yang terpampang dengan vulgar di depannya.

Akiteru.

Dan Kiyoko.

Beradu bibir dengan cara yang jauh dari gentle. ….kalau dari apa yang mata Kei lihat sepertinya mereka juga beradu lidah.

Kei puyeng. Apakah ini rasanya menderita darah tinggi? Dan bolehkah dia menghapus apa yang dia lihat barusan? Can he unsee it? No? okay.

Rasanya Kei ingin mengompres kepalanya dengan es batu. Sayangnya kedua tangannya penuh. Secara literal.

'Jadi gitu, kak? Selama ini tampang hamstermu cuma buat nutupin jiwa binalmu, kak? Jahanam kamu, kak! Jahanaaaam!' Adalah sumpah serapah di kepala Kei, tapi mohon maaf banget, itu tangan kanan Kei teracung dengan ponsel yang sudah merekam video dan kelakuan steamy kakak tersayangnya yang kini gagal jadi teladan. Kei memang ingin meng-unsee apa-apa yang dia lihat dan meraih kepolosannya kembali, tapi konten dan bahan blackmail tetap harus diamankan.

Foto-foto. Cek.

Video. On process.

Kalau video tidak perlu ditanyakan lagi soalnya ciuman mereka masih lanjut.

'Bagus. Terusin aja kelakuan nakalmu, Kak. Biar ayah dan ibu tahu kalau anak sulungnya sudah berani main sosor anak perempuan orang.' Tangan kanan Kei masih sibuk membuat video amatir dan buset, ini ciumannya panjang amat. Ingin Kei pindah tangan karena tangan kanan gemetar, kelamaan memegang handphone. Namun sayang tangan kirinya sedang membekap mulut Saki dari belakang.

Sejak ciuman kak Aki dimulai, Saki malah excited sendiri dan kalau tangan Kei tidak bergerak cepat, gadis itu pasti akan teriak. Tadi saja kaki Kei berkali-kali kena injak. Anjaaaay! Lain kali kalau ada acara ngintip lagi Kei ogah bareng sama Saki.

Namun Kei baru sadar sekarang, ini terlalu sunyi. Tangan kirinya yang meredam tingkah Saki kini tak ada perlawanan.

Kei mengangkat alis. Handphone kembali ke kantong agar barang bukti tidak hilang. Dengan tinggi badannya, Kei bisa dengan mudah memperhatikan kepala Saki yang ia tahan dengan dadanya. Tidak bergerak.

'Mati?' Spekulasi Kei tanpa rasa cemas, cuma ingin tahu.

Tangan kiri Kei membebaskan mulut Saki dari bekapannya. Pelan-pelan jemarinya dialihkan dan turun ke dagu. Dengan penasaran Kei memiringkan kepala Saki ke arah Kei yang juga menunduk.

Ha! Gadis itu memejamkan mata. Tadi lagaknya mau melihat adegan yang panas-panas, sekarang malah takut dan tutup mata.

Tadinya Kei mau iseng dan menjentik dahi Saki, namun Kei malah mematung. Mata coklat emas Kei terpaku pada bulu mata Saki yang kontras dengan kulitnya yang putih. Tak ada seringai di wajah Kei, hanya ada raut yang tergelitik karena penasaran. Ada yang salah, bukan pada Saki, tapi pada diri Kei. Kei sadar itu. Sensasi di dada Kei semenjak di gym kembali lagi, dengan kondisi yang berbalik seratus delapan puluh derajat. Pemuda itu tidak bisa berpaling dari pemandangan paling inosen yang pernah ia lihat. Sekarang Kei yang mengambil kendali. Saki ada di pelukannya, sendirian. Tanpa perlindungan. Seolah menunggu untuk…

Kei menelan ludah.

Jemari Kei dengan hati-hati mengelus dagu Saki, meninggalkan sentuhan ringan dan lembut, membangunkan kesadaran gadis itu.

Harusnya Kei menjauh saat kelopak mata Saki terbuka, namun pemuda itu malah bergerak, mengikuti instingnya untuk memangkas jarak di antara mereka dan membiarkan Saki melihat betapa seriusnya Kei dalam menatap mata Saki, bergantian dengan garis hidungnya… turun ke bibir Saki yang pink.

"Kei…?"

Dada Kei seolah mau meledak mendengar panggilan bimbang Saki barusan. Wajah mereka yang hanya terpisah beberapa inci membuat ritme di kepala Kei makin kacau. Logika Kei mengatakan kalau dia akan mendapatkan masalah besar kalau pemuda itu berbuat yang macam-macam. Otaknya mengatakan kalau dia tidak boleh melewati batas. Bahwa ini tidak seperti dirinya. Dia bukan Kageyama yang berdarah panas.

Di dekapannya, Saki mematung, matanya berkabut tapi sempat melihat sejenak ke bibir Kei.

Persetan dengan logika. Kei merendahkan kepalanya untuk menjamah bibir Saki. Lembut. Bibir gadis ini lembut, pun tubuh Saki yang Kei kekang dalam lengannya.

Dalam pelukannya, Kei merasakan tubuh Saki menegang. Perlahan-lahan pikiran akan konsekuensi dari kelakuannya mulai menghantui Kei. Keraguannya mulai berlipat. Dan alis Kei mulai membuat celah di tengah pelipisnya. Namun lengan Kei masih sekokoh besi menahan kepala dan dagu Saki. Darah masih memacu kencang dan membuat kulitnya kepanasan. Bibir Kei masih bergerak di atas bibir Saki, mengelus, mengapit, mempermainkannya dengan gigitan lembut…

…hingga gadis itu terengah.

Kei menarik kepalanya, mengakhiri kontak fisiknya dengan Saki. Gadis yang tadi diciumnya berdiri sambil berpegangan pada ornamen pintu. Seolah dia terlalu lemas bergantung pada kakinya sendiri. Kalau situasinya berbeda, Kei pasti akan tertawa sinis saat melihat gadis itu terlihat linglung.

Saki meraba bibirnya, membuat perhatian Kei kembali ke bibir ranum yang memerah. Tanpa sadar Kei mengusap bibir bawahnya sambil menyayangkan kenapa saat dia mencium gadis itu dia tidak menghisap lidahnya sekalian-

Kei menampar mentalnya. 'Ya sudahlah. Toh kakakku bejat juga.' Kei melempar masalah ke morale example-nya yang tersayang.

"Aku tidak paham… tadi itu…."

Kei melirik Saki yang sudah mulai pulih dari 'genjutsu' yang Kei lakukan. Namun sorot mata gadis itu masih penuh dengan keraguan.

"Kenapa kau tadi menciu-" Entah apa yang terjadi, namun Saki menghentikan ucapannya. Gadis itu menekan bibirnya dengan kencang, tidak dapat menutupi warna merah padam yang memenuhi wajahnya. Stimulus ini terlalu kejam bagi Saki. Gadis itu mendapati pandangannya tidak bisa fokus. Dan tanpa berkata apapun dia berlari menuju kamarnya, meninggalkan Kei yang hanya bisa diam.

.

.

.

Akiteru bersiul-siul kecil. Akhirnya setelah sekian lama pacaran dia gol juga mendapatkan ciuman dari Kiyoko. Kalau bisa Akiteru tidak ingin malam berakhir dan dia tetap bersama Kiyoko. Tapi walau memiliki keinginan egois begitu, Akiteru sadar kalau dia dibiarkan bermalam sama Kiyoko bisa-bisa status keperawanan pacarnya itu akan berubah.

Tidak. Tidak.

Akiteru anak baik dan dia akan menjaga Kiyoko seperti seorang putri. Pokoknya jaga hati, jaga mata, jaga tangan jangan grepe-grepe…. Yang terakhir Akiteru tidak bisa memberi jaminan. Yang penting pagi ini cerah. Rumahnya cerah. Dunia ini juga cerah.

"Pagi, kak Aki. Tampaknya hari ini ada yang ketiban sinar matahari. Bisa tolong kecilkan volume senter di wajahmu? Kalau boleh tolong ceritakan padaku kenapa bisa kau terlihat seperti matahari yang mau meledak? Ada yang memberimu pasokan energi? Ada yang memberimu hutang dalam negeri? Apa kau sudah menemukan sumber energi tanpa batas dan bisa diperbaharui?"

"Geh!"

Aura muram Tsukishima Kei sudah cukup untuk membuat seisi dunia ini mendung, tapi cerocosannya itu mengandung sindiran tak kasat mata, bikin jantung Akiteru dag dig dug secara otomatis.

"Ke-Kei," Akiteru cengar-cengir gugup. Ah, kecurigaannya tak beralasan. Lingkar hitam nan gloomy yang dipancarkan adiknya bukan karena apa-apa, tapi memang sudah bawaan sejak lahir bahwa Kei diberkahi dengan aura madesu. "Kau kenapa, Kei? Kok seperti kurang sehat? Salah posisi tidur?"

"Ha~~~?" Kei angkat kepala. Mata memicing tajam melihat Akiteru yang sudah rapi mau berangkat kuliah dari atas ke bawah. "Tidak, sih, kak. Mungkin aku terlalu lelah karena semalam aku mimpi buruk."

"Oh."

"Aku mimpi melihat seekor bebek dewasa lagi nyosor bebek muda. Keliatannya napsu banget sampai-sampai aku tidak bisa mengalihkan mataku yang mau berdarah ini karena melihatnya."

Petir siang bolong.

Oh, maaf, hanya di kepala Akiteru aja kok. Tenang.

Akiteru langsung meraup pundak Kei. Wajah tersembunyi poni berwarna terang.

"Kak, jangan remas pundakku. Nggak napsu."

"Kei, mimpimu yang tadi malam, bisa kau lupakan?"

"A~~~," Kei melirik pojokan langit-langit, "Sayangnya sudah kubuat podcast," Artinya: sudah didokumentasikan. "Terus aku masukin akun internet," Baca: Sudah masuk cloud.

Adik kampret.

"Sudah ya, kak, kalau ada apa-apa, aku pasti akan cerita sama kakak," Baca: coba yakinkan aku buat nggak cerita ke ayah ibu dengan membelikanku yang enak-enak dan pastinya mahal. X.O.X.O, Kei.

Lalu dengan itu Kei langsung ngacir sebelum kakaknya ingat buat memberinya tonjokan di perut. Cepat-cepat Kei menjauhi rumah dan setengah berlari menuju sekolah. Tas disampir di bahu. Bagus. Satu masalah sudah selesai. Tinggal satu masalah lagi.

Kalau biasanya Kei akan menghindar untuk bertemu jalan dengan Saki, kali ini dia terpaksa harus bertemu dengannya. Kei ingin egois, namun entah kenapa ia merasa tidak bisa membiarkan seorang anak gadis berlalu dari hadapannya dengan wajah yang ditunjukkan Saki tadi malam.

Baru beberapa blok yang Kei lewati, selama itu pula Kei mencari dan meneliti beberapa tikungan. Siapa tahu gadis itu mampir untuk beli majalah anime. Tak lama, terlihat sosok anak perempuan memakai seragam Karasuno sedang berjalan dengan sedikit lemas. Kei menyesuaikan kacamata minusnya. Ah… tidak salah lagi. Kunciran berpita hijau dan tas sekolah warna beige yang tergantung lunglai di pundak itu punya Saki.

Lagipula Kei hapal bentuk cewek itu meski dilihat dari belakang. Body belakang cewek itu kan sama dengan yang depan, alias tipis. Tapi kalau dipeluk lumayan anget kok. Apalagi dari belakang. Apalagi sambil ciuman. Sayang nggak ada pertukaran cairan-

Duh, otak! Kalau mau mesum jangan sekarang! Kei mau ngajak berantem otaknya. Sekarang ada yang lebih penting daripada ingat yang panas-panas. Oke, Kei memang kalah dengan impulsnya. Tapi suasana tadi malam benar-benar mendukung. Bahkan cewek itu juga tidak berontak saat Kei menyentuhnya. Sepertinya Saki tadi malam belum panas. Coba kalau Kei tidak berhenti, kira-kira cewek itu apakah akan membalas ciumannya?

Oke, oke, sekali lagi, stop kemesuman ini sekarang juga.

Kei menyisir rambutnya dengan tak sabar.

"Oi, Saki-sama."

Yang dipanggil secara ajaib membeku. Dengan enggan Saki menoleh. Gadis itu kemudian berbalik. Dramatis deh. Kei ingin sweat drop tapi momennya nggak pas. Apalagi kulit wajah Saki masih merah padam. Apakah dia tidur semalaman dengan wajah seperti itu? Kei takut kalau-kalau mukanya melepuh.

"Kenapa mukamu?"

Saki yang gugup setengah mati, tidak bisa tidur nyenyak, deg-degan sepanjang malam, dan hampir tidak sarapan, rasanya ingin menendang tulang kering Kei. Keberaniannya mendadak muncul, dan dia akhirnya punya kekuatan untuk menatap wajah bosan hidup Kei.

"Kau masih bertanya kenapa dengan mukaku? Yang harusnya bertanya adalah aku. Tadi malam itu apa?"

Niat semula Kei adalah bicara baik-baik kalau Saki masih menunjukkan sisi emosional dan melankolisnya. Namun ini di luar dugaan. Cengiran Kei mengembang.

"Kau suka ciumannya?"

Boleh Saki mati di perempatan jalan ini pagi ini juga?

Saki tidak percaya dengan kegalauannya. Dia juga amat sangat bingung dan tidak percaya dengan apa yang Kei lakukan. Tentu dia merasa senang. Bohong kalau Saki tidak bahagia dicium oleh seorang yang ia sukai. Tapi lebih dari itu, dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Kei dan apa yang tengah dipikirkan si bungsu Tsukishima itu.

"Kei, tolong beritahu aku. Kenapa kau menciumku?"

Pertanyaan yang absurd mengingat saat ini mereka di tengah jalan. Untung pagi sedang sepi, bahkan ibu-ibu yang mengantar anak-anak ke TK juga belum jalan.

Sebenarnya apa yang Saki lontarkan bukan hal yang asing, karena sebenarnya Keipun menanyakan hal yang sama pada dirinya sendiri. Tapi jawabannya apa? Memangnya gadis itu akan menerima kalau Kei menjawab jujur.

"Aku hanya ingin melakukannya." Itu juga jujur, sih.

"Hanya ingin melakukannya?"

"Kurasa itu hanya impuls. Maaf. Apa kau merasa tidak nyaman?"

Otak Saki mendadak kosong. "Kau melakukannya hanya karena impuls? Tidak ada alasan lain?"

Kei membetulkan tasnya yang terasa melorot, ataukah itu hanya alasan agar tangannya menemukan pegangan? Saki tengah menatapnya dengan sungguh-sungguh saat ini dan Kei harus mengakui, untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia merasa takut. Bukan karena Saki adalah orang yang berbahaya, tapi Kei takut akan emosi di mata gadis itu. Kei tidak memahami semua ini karena emosi ini sangat asing. Dia sering melihatnya, tapi baru kali ini dia merasakannya. Melihat dan merasakan itu dua hal yang berbeda dan itu membuat Kei seolah diceburkan ke tepi jurang tanpa persiapan.

"Alasan apa yang ingin kau dengar, Saki-sama? Alasan yang sama dengan yang dimiliki gadis-gadis yang kutolak pernyataan cintanya?"

Tembakan yang telak. Tidak hanya buat Saki, tapi juga buat Kei.

Bibir Saki seperti menahan beban berat. Gadis itu terlihat kacau, bahkan kesulitan menyusun kata-kata.

"Itu artinya kau…," Tuhan, kenapa ini terasa sakit? "…kau melakukannya bukan karena menyukaiku?"

Kei menatap mata Saki yang tertahan pada dirinya. "Tidak. Aku tidak menyukaimu."

Hampir tidak ada reaksi dari Saki. Tidak ada cubitan atau tangis yang meledak seperti gadis lain yang Kei kecewakan harapannya.

Tidak.

Aku tidak menyukaimu.

Saki yang mendengarnya.

Namun Kei yang merasa tertampar.

Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa jalan-jalan dan semua ruang terasa di-reset.

Gadis itu hanya menatap Kei tepat di mata, tampak sedikit sesak napas dengan rahang mengeras. Saki tampak setegak pintu pagar yang bahkan tak bergerak diterpa angin kencang. Namun lagi-lagi yang Kei tidak mengerti, dia ingin meraih gadis itu dan bertanya dengan sungguh-sungguh.

Kau tidak apa-apa?

Dirinya sendiri tidak apa-apa?

Akhirnya setelah seperti sekian tahun, gadis itu bergerak maju. Dia menunjuk tepat dada Kei dua kali.

"Kalau begitu jangan sembarangan mencium orang. Bodoh."

Setelah gadis itu menjauh dan menghilang, Kei baru sadar bahwa gadis itu tadi memperingatkannya dengan suara bergetar.

.

.

.

Notes:

Oiiiiii!

Hola!

Mucas gracias!

Terus-terang nggak bisa ngomong apa-apa selain mengucapkan terima kasih atas atensi dan dukungan karena udah baca fanfic ini.

Specially for Fei Mei-san, yup. This is the update.

Aaaa~ nggak ngerti ini sebenarnya slow burn atau nggak. Sebenarnya not intended to be slow burn, nggak mau fast pace juga. (Trus maunya authornya apaaa?) Wkkwkwkwk. Anyway. Semoga memenuhi ekspektasi. Sebenernya pingin nulis lebih panjang tapi udah nggak kuat. I know how it feels. Saya juga suka baca yang panjang-panjang (fanfic, maksudnya). And so sorry kalau ada hal-hal yang non-canon di sini. Mungkin ini adalah kompensasi dari imajinasi saya yang terlalu liar. Ulalalah! (GomennasaaaiT_T)

Love and thank you so much for the support, minna-san. Stay tune.

XOXO

Tall-and-handsome