Disclaimer

All Naruto Character belongs to Masashi Kishimoto

AU, OS, KakaSaku

Blind Date


Sakura menaruh segala fokusnya pada komputer yang ia jamah sejak beberapa jam yang lalu. Beberapa kali kacamatanya melorot turun dari hidung, tetapi tak menjadi gangguan yang berarti bagi gadis itu. Sakura tetap fokus mengisi kolom excel yang terpatri di layar komputer dengan lincah.

Dering ponsel miliknya terdengar, menggema memenuhi kubikel sang gadis yang masih fokus dengan pekerjaan. Ia membiarkan benda pipih itu berteriak sesukanya tanpa niat menghentikan. Fokus Sakura hanya satu. Laporan pertanggungjawaban yang sedang dipercayakan padanya.

"Oi, Saki! Sifat workaholic-mu itu sudah keterlaluan, kau tahu? Jangan lupa malam ini kau ada kencan buta. Jangan mengacaukannya atau aku akan dijadikan ramen oleh Mebuki baa-san."

Tepat saat suara cempreng itu berhenti mengoceh lewat jaringan seluler, Sakura juga telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia menghempaskan punggung pada sandaran kursi sambil meregangkan tangan dan bersenandung pelan. Gadis itu meraih ponsel. Tak perlu melihat nama kontak, ia sudah tahu siapa yang memanggilnya sedari tadi.

"Kakashi idiot," umpatnya. Sakura melirik jam setelah mengirim hasil kerjanya lewat e-mail. Ia lalu menyambar tas dan kunci mobilnya, berjalan keluar meninggalkan ruangan kantor yang telah sepi dan hanya diisi beberapa cleaning service. Sambil bersenandung pelan, gadis itu menenggelamkan diri ke dalam mobil dan menyalakan musik. Memacu kendaraan roda empat itu keluar dari area kantor.

Sakura memarkirkan mobilnya di lantai basement sebuah mall yang terletak di jantung kota Tokyo. Gadis itu keluar, melangkah anggun dan menarik perhatian seiring ubin yang ditapaki. Ia melirik jam, memastikan waktu masih lama. Kemudian memasuki sebuah make up store dan disambut oleh seorang pramuniaga.

"Aku harus terlihat cantik untuk kencan butaku," ujar Sakura ketika duduk didampingi sang make up artist.

"Anda punya kontur wajah yang bagus. Saya hanya akan menambahkan make up dengan kesan natural agar aura kecantikan Anda bisa menguar dengan sendirinya. Saya yakin pria tersebut akan sangat terpesona," ujar sang make up artist yang terdengar melebih-lebihkan. Sakura membiarkan wanita itu melakukan apa yang harus dilakukan. Ia hanya perlu mengikuti instruksi untuk mempermudah.

Kurang dari setengah jam, wajah Sakura berhasil dipoles. Gadis itu tersenyum puas melihat bayangannya di cermin, sedikit terkikik membayangkan wajah pria yang akan menjadi teman kencannya malam ini.

Pasti dia akan terkejut.

Setelah melakukan transaksi, gadis itu bertolak meninggalkan tempat. Ia memeriksa pesan yang diterima dari sahabatnya, Hatake Kakashi.

"Lantai tiga berarti," gumamnya setelah membaca pesan sang sahabat yang telah siang malam mencarikan pria dan mengatur jadwal kencan mereka. Sakura menaruh harapan pada pria ke-21 ini untuk mendapatkan hatinya. Karena, gadis itu sangat payah dalam hal romantis.

"Kurasa aku harus mentraktir Kakashi kapan-kapan. Ia sudah mengorbankan banyak waktu untukku," gumam Sakura yang kemudian memasukkan ponsel ke dalam clutch-nya. Gadis itu menaiki ekskalator untuk sampai ke tempat janjian mereka. Sebuah restoran udon.

Pesan yang Kakashi kirim lengkap menyebutkan tempat dan nomor meja. Bahkan telah disewa. Sakura mendecak kagum. Sahabatnya itu benar-benar orang yang totalitas.

"Kalau begini aku berharapnya menikah dengan Kakashi, bukan pria yang tidak kukenal sebelumnya," celetuk gadis itu pelan sambil menghela napas. Ia menunggu di meja yang telah dipesan. Tatapan matanya jatuh pada selembar catatan kecil di atas meja itu.

'Untuk gadis termanis. Kuharap malam ini keberuntunganku untuk mendapatkan dirimu.'

Sakura tersenyum geli dibuatnya. Hal sederhana seperti ini begitu menggelitik dan meledakkan euforia di dalam dirinya dengan sangat apik.

Gadis itu lalu menunggu dan menunggu hingga jengah. Satu setengah jam berlalu dan ia masih duduk sendirian. Sementara beberapa pelanggan mulai meninggalkan tempatnya. Sakura melirik jam, mulai menggerutu kesal. Hilang sudah kesan gentle pria yang akan menjadi teman kencannya itu.

"Apa kau sudah lama menunggu?"

Seseorang yang tiba-tiba datang dan duduk di hadapan Sakura, membuat gadis itu terkejut.

"Eh? Kakashi? Apa yang kau lakukan di sini? Mana pria yang akan menjadi teman kencanku?"

Saat itulah Sakura menyadari bahwa sang sahabat tidak muncul dengan kaos oblong serta jins yang biasa dipakainya. Ia lebih kelihatan 'laki' dengan kemeja dan balutan jas abu-abu yang senada dengan rambut peraknya. Gadis itu terperangah.

"Kau mau kencan juga?"

Kakashi mengedikkan bahu sambil melempar senyum jengkel. "Iya. Memang kau saja yang mau kencan?"

Sakura menyilangkan tangan. Sangsi dengan Kakashi yang kelakuannya benar-benar iseng. Tiap datang ke rumah Sakura, kerjanya mencuil bedak padat atau memakai high heels milik gadis itu. Usil sekali.

Bahkan bandana Sakura pun dirusak olehnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Tapi ... kalau Kakashi berkencan dengan seorang gadis itu artinya ...

Sakura akan merasa kesepian karena perhatian pria itu akan terbendung untuk sang pujaan hati. Sakura bodoh, harusnya ia menyadari usia mereka sudah sama-sama dewasa dan harus fokus untuk masa depan masing-masing. Entah karir, tempat tinggal maupun pasangan hidup. Gadis itu terlalu terbiasa dengan Kakashi yang sejak kecil selalu ada dan menjadi sosok kakak yang selalu diimpikannya. Ia menganggap ini hal wajar. Namun, perasaan gadis pink itu sedikit kecewa.

Ia menepuk meja. "Astaga! Di mana pria yang akan menjadi teman kencanku?" serunya tak sabar hingga menarik perhatian beberapa pelanggan. Gadis itu mendengus. Di depannya, Kakashi menopang dagu dengan wajah iseng.

"Kau berbicara tentangku?"

Sakura menghela napas. "Bukan, aku berbicara tentang pria yang akan ..." Ucapannya terputus. Sakura blank sesaat, menatap teman masa kecilnya itu dengan ekspresi terkejut.

"Tunggu, Kakashi, kau ...," gumam Sakura—untuk kedua kalinya terputus.

Kakashi tersenyum manis di depannya, membuat kaki Sakura langsung lemas.

"Kau cantik hari ini," ujarnya polos yang memancing desiran di dada Sakura. Kakashi melambai pada seorang pramusaji yang kemudian menghampiri mereka dengan menu. Sakura masih membeku. Memperhatikan Kakashi yang menyimak buku menu.

"Kau mau pesan apa?" tanya Kakashi. Sakura masih diam. Kakashi mendengus geli.

"Astaga. Setelah 20 pria yang kau tolak, aku tidak sanggup lagi mencari orang lain. Seleramu itu benar-benar aneh, Saki."

Sakura mengerjap. Semuanya mulai terhubung, menyatu dan tersimpul menjadi satu alasan tepat sasaran.

"Kau benar-benar mengerikan. Pria sebanyak itu kau tolak dengan mudah."

"Bukan aku yang menolak, mereka yang bilang aku terlalu baik." Akhirnya gadis itu angkat bicara. Bibirnya mengerucut dengan mata yang berkaca-kaca. Siap menumpahkan air mata kapan saja.

"Heeeh?" Kakashi memekik spontan. Beranjak secepat yang ia bisa ke sisi gadis itu dan mengusap kepalanya. Respons Sakura itu benar-benar tidak terduga.

"Sudah, sudah, kau sama aku saja. Tidak ada pria yang mengerti dirimu selain aku ... dan Kizashi jii-san tentu saja."

"Idiot!" cecar Sakura yang masih meneteskan air mata. Kakashi terkekeh.

Sakura merasa bahagia untuk hal yang masih asing baginya. Mulai sekarang, Kakashi akan terus ada untuknya dan tidak akan pernah pergi. Ia tidak melihat senyum setan yang terpatri di wajah sang sahabat.

Tidak ada pria yang mampu menolak pesona seorang Haruno Sakura. Tapi, Hatake Kakashi mampu membuat mereka takluk dan menyerahkan Sakura untuknya.

Hatake Kakashi benar-benar orang yang usil.

FIN