Disclaimer: serial Naruto dikarang oleh Masashi Kishimoto, author tidak mengambil keuntungan materiil.
Warning: Kakashi x Sakura, AR, ide spontan, DLDR.
.
.
Broken Heart
Shattered
by Fei Mei
.
.
Sakura terbangun dan merasakan tubuhnya pegal. Eh, mungkin pegal bukan kata yang tepat, melainkan tegang. Iya, seluruh otot tubuhnya terasa kencang, seakan ia habis olahraga berat—padahal dia baru bangun tidur. Gadis itu berusaha mengingat-ingat, apa saja yang ia lakukan semalam sebelum tidur sehingga sekarang tubuhnya terasa tidak enak? Seingatnya, dia hanya memeriksa ulang barang yang perlu dibawanya untuk ujian Chuunin. Apa jangan-jangan dia terlalu merasa cemas sehingga tidurnya kurang nyenyak?
Mataku perih, pikir Sakura selanjutnya. Iya, ketika dia mencoba mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, dia baru merasakan tidak enak pada matanya. Rasanya kering.
Tidak sampai di situ. Yang membuatnya merasa tidak enak selain pada otot tubuh dan matanya adalah ranjang tempat ia berbaring. Matrasnya keras, jelas ini bukan ranjang yang ia punya di kamar.
Terakhir, selang infus tertancap di tangannya. Oke, fiks, ini rumah sakit.
Tunggu, rumah sakit?
Sungguhan, Sakura bingung. Masa iya, saking cemasnya ia akan ujian Chuunin, sampai perlu dilarikan ke rumah sakit?
Lalu pintu kamar rawatnya terbuka perlahan. Gurunya masuk, dan dari matanya terpampang ekspresi senang dan lega melihat Sakura.
"Sakura— … —syukurlah … " ujar Kakashi lemas, berlari pelan ke arah muridnya di ranjang, dan digenggamnya erat tangan gadis itu.
Apa kondisiku semalam cukup parah? Sampai Kakashi-sensei sebegitunya? Lho, mata kiri Sensei kok sudah tidak ditutup lagi?
"Sensei, aku sudah baik-baik saja, kok, sekarang!" kata Sakura dengan ceria.
Sang Guru mengerjap bingung. "Sakura, tadi kau panggil aku apa?"
Sakura menyerngit. "Eh, sensei? Seperti biasa, kan?"
"Sakura … kamu tidak pernah memanggilku dengan sebutan itu sejak tiga tahun lalu," gumam Kakashi.
"Ap—Sensei, kan guruku, wajar jika aku memanggilmu begitu, kan?"
Kakashi menggeleng. "Sakura—"
"—Sensei, Sakura bagaimana?" Itu suara Naruto, yang tiba-tiba masuk kamar.
Sakura bingung, tapi perasaannya senang. "Naruto! Kamu sudah kembali?"
Naruto ikutan bingung. "Hah?"
"Memang kamu sudah selesai latihan dengan Tuan Jiraiya?" tanya Sakura, masih dengan nada ceria.
"Hah?"
"Aduuuh, padahal aku berniat ingin segera jadi Chuunin, biar kalau kamu balik ke Konoha, aku bisa pamer pakai jaket Chuunin!"
"Apaan—Sakura-chan, kamu kenapa, sih?"
"Apanya?"
Naruto menyerngit pada gurunya. "Sensei?"
"Naruto, tolong—" suara Kakashi menjadi serak. "—tolong panggil Nona Tsunade."
Muridnya itu segera menurut dan pergi, meninggalkan Kakashi berdua dengan muridnya yang perempuan yang masih bingung.
"Sensei, aku sudah tidak apa-apa, kok! Mungkin semalam hanya cemas memikirkan kalau-kalau aku gagal ujian Chuunin," ujar Sakura berusaha menenangkan.
…
…
Namun, tampaknya perkataan itu membuat Sang Guru tampak makin sedih.
"Sakura, kau sudah lulus ujian Chuunin enam tahun yang lalu," kata Kakashi, terdengar sedih. "Sayangku, saat ini tingkatanmu adalah Jonin."
.
.
.
.
"Sensei, barusan panggil aku apa?" tanya Sakura sambil menyernyit.
Hati Kakashi semakin tercabik mendengar setiap perkataan aneh yang terlontar dari perempuan berambut merah muda itu. "Aku memanggilmu dengan panggilan yang sama sejak tiga tahun lalu—" Kakashi memejamkan matanya dengan sedih, "—sayangku."
"Apaan—" Sakura terkekeh, dan itu jelas dipaksakan. "—Sensei hobi bercanda, deh, kebanyak baca Icha-Icha, sih!"
Genggaman tangan Kakashi mengerat pada tangan perempuan itu, sesaat ia takut menyakiti tangan yang lebih kecil dari miliknya, tapi sesaat kemudian ia takut Sakura aku lari darinya jika ia mengendurkan tangannya. "Sakura, apa kamu sadar bahwa kamu mengenakan cincin di jari manismu?"
"Jari manis—ini—"
"Sakura, kita sudah menikah, tiga tahun yang lalu," ujar Kakashi lembut.
Daritadi perasaan Kakashi berkecamuk karena perkataan Sakura, kini hatinya semakin remuk melihat ekspresi mantan muridnya.
Kenapa Nona Tsunade belum kunjung datang?!
"Sensei bicara apa—aku masih umur empat belas tahun, lho?"
Kakashi menggeleng pelan. "Itu enam tahun yang lalu. Tahun ini kamu akan ulangtahun ke dua puluh satu."
"T—Tapi, itu tidak mungkin!" sanggah Sakura. Kakashi dapat merasakan tangan perempuan mulai meronta untuk dilepas. "Tidak mungkin dengan Sensei, soalnya aku, aku kan, Sasuke-kun—aku, kan, sukanya pada Sasuke-kun!"
Laki-laki itu memejam kedua matanya, berusaha menahan tangis. Ia menggeleng. "Kamu bilang, kamu pernah bilang, bahwa kamu sudah menyukai Sasuke seperti kamu menyukai Naruto, menganggapnya sebagai rekan tim yang penting. Lalu kamu bilang, bahwa kamu menyadari perasaanmu padaku."
"Perasaanku p—pada Sensei?"
Baru Kakashi membuka mulut lagi, orang yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Jika Sakura bukan siapa-siapa, Kakashi akan langsung melepaskan tangannya dan menyingkir sehingga Nyonya Tsunade dapat memeriksa pasiennya. Tapi Kakashi tidak mau—ia takut Sakura pergi.
.
.
.
.
Nona Tsunade menggeleng pelan, sorot matanya turut sedih walau tidak separah Kakashi. Sakura bingung, terlalu banyak hal aneh yang diucapkan gurunya—dan cincin di jariku ini apa-apaan?!
"Ayo keluar, Kakashi," ujar Nyonya Tsunade.
Sakura tebak bahwa Sang Dokter mau memberitahu sesuatu yang penting pada Kakashi mengenai dirinya. Iya, kalau tentang Sakura, buat apa Nona Tsunade memberitahu Kakashi-sensei dan bukan langsung padanya? "Kenapa? Bilang saja di sini, mau kasihtahu tentang diagnosaku, kan?"
Dokternya saling pandang dengan Kakashi, lalu menghela. "Begini," kata Nona Tsunade akhirnya pada Sakura. "Ini sudah pasti karena syok, karena tubuhmu sudah tidak apa-apa walau belum seratus persen."
Gadis berambut merah muda itu bingung. "Syok kenapa? Semalam aku hanya mempersiapkan diri untuk ujian Chuunin, kan?" Hanya karena Kakashi-sensei iseng bilang hal-hal aneh, bukan berarti itu semua benar, kan?
"Sakura, tadi aku sudah bilang—"
"—bohong!" Sakura memotong perkataan gurunya. "Kakashi-sensei pasti bohong!"
"Begini, ya," ujar Tsunade lagi, kali ini memegang bahu Sakura. "Aku tidak tahu apa saja yang sudah Kakashi katakan sejak kau siuman. Tapi, kurasa kau sedang mengalami trauma psikologis, makanya kau tidak mengingat apa pun yang terjadi beberapa tahun belakangan."
Sakura mencengkeram tangan Tsunade dengan frustasi. "Nona Tsunade, bukankah seharusnya aku ujian Chuunin hari ini?"
Tsunade menggeleng. "Aku meluluskanmu dengan Ino dan Chouji menjadi Chuunin enam tahun yang lalu. Kamu sudah berumur dua puluh tahun, Sakura, kamu sudah menikah dengan Kakashi juga."
Kenapa mereka berdua mengisengiku sampai sebegininya?
"Aku yakin, aku tahu aku tidur di kamarku semalam," ucap Sakura, keras kepala.
"Tidak," sanggah Tsunade. "Sejak empat hari yang lalu, kami membaringkanmu di ranjang ini."
Empat hari?
"Empat hari yang lalu," ulang Tsunade, dan Sakura bisa melihat sorot sedih yang sama seperti yang ia lihat dari gurunya. "Sakura, empat hari yang lalu, kamu kehilangan bayimu."
…
…
Bayi?
.
.
Bersambung
.
.
A/N: Ini ide spontan banget. Tahu-tahu pengen nulis begini, dan awalnya mau bikin AU jadi rencana awalnya mereka bukan Ninja, tapi mikir lagi untuk jangan AU biar sekalian inget-inget lagi kejadian canon di Naruto (Shippuuden). Fanfiksi ini gak bakal panjang, paling banter two-shot/three-shot, karena idenya spontan. Maafkan untuk segala irasional yang terjadi di sini.
Omong-omong, panggilan Tsunade itu nona atau nyonya, ya?
Review?
