"Kakashi, kami paham kau sangat sedih, tapi dengan kondisi Sakura yang sekarang … tidakkah lebih baik jika ia tinggal di rumah orangtuanya, setidaknya sampai ia tenang?" tanya Mebuki lembut.

Mata Hokage Keenam terbelalak mendengar usul ibu mertuanya.

"Saat ini, dalam ingatan Sakura, ia masih Genin, masih empat belas tahun. Dalam ingatannya, kau hanyalah seorang guru, dan ia pikir ia masih menyukai Sasuke. Jika setelah keluar dari rumah sakit ia dipaksa pulang ke rumah kalian … tidakkah dia akan semakin bingung?" tanya Mebuki lagi. "Kamu sendiri juga seorang Hokage, Kakashi. Akan sangat sulit untukmu mengurus desa ketika istrimu dalam kondisi seperti itu. Kau mencintainya, kan?" Kakashi mengangguk. "Ini demi Sakura, Kakashi, biarkan putri kami pulang ke rumah kami dulu, sampai dia siap menerima fakta bahwa dia istrimu."

Lidah Kakashi kelu, tapi ia paham, jadi laki-laki itu mengangguk untuk kesekian kalinya.

.


.

Disclaimer: serial Naruto dikarang oleh Masashi Kishimoto, author tidak mengambil keuntungan materiil.

Warning: Kakashi x Sakura, AR, ide spontan, DLDR.

.

.

Broken Heart
Devastated

by Fei Mei

.


.

Hening. Itulah yang menyapa Kakashi begitu ia membuka pintu rumahnya. Biasanya Sakura akan menyambutnya dari dalam dapur. Atau jika wanita itu sedang tidak di rumah, maka aroma masakannya akan menyambut hidung Kakashi. Tempat tinggal Kakashi tidak pernah terasa hampa sejak Sakura menerima cintanya. Namun, sekarang, semua kembali seperti dulu, dan Kakashi benci ini.

Ia sungguh tidak mengerti. Kenapa semua orang yang berarti baginya harus ditarik pergi? Orangtuanya, rekan-rekan dan gurunya? Bakal anaknya pun direbut—

BRAK!

Perlahan tangan Kakashi mengeluarkan darah. Saking kesalnya dengan keadaan saat ini, ia meninju pintu kayu. Pintu yang itu adalah pintu menuju ruang yang seharusnya menjadi kamar anaknya, anak yang mereka usahakan sejak tiga tahun yang lalu tapi baru berbuah beberapa bulan lalu.

Bukan hanya anaknya, sekarang istrinya juga tidak bisa bersamanya, entah sampai kapan.

Sakura sakit, dan seharusnya Kakashi bersamanya.

Dalam susah maupun senang. Saat sehat maupun sakit. Bukankah begitu sumpah pernikahan mereka? Tapi Kakashi paham—Sakura akan kebingungan jika ia terus bersamanya saat ini.

.


.

"Sensei, tampangmu kusut banget," ujar Shikamaru sambil menaruh berkas di meja Hokage. "Seharusnya kau tidak usah ke kantor saja, semua akan mengerti, kok."

Kakashi menggeleng. "Aku butuh pengalihperhatian."

Shikamaru menggaruk lehernya. "Tapi—"

"—tidak apa-apa. Kalau di rumah, aku akan ingat Sakura, bisa-bisa aku stress," potong Kakashi. "Anu, Shikamaru, bisa minta tolong?"

"Apa?"

"Tolong hubungi Ino, Hinata, dan Naruto untuk menjenguk Sakura ke rumahnya. Kupikir mungkin ia akan tenang jika dikelilingi teman-temannya. Atau temannya yang lain juga."

Murid Asuma itu mengangguk. "Sensei sendiri tidak mau menjenguk?"

"Ayahnya meneleponku tadi pagi," cibir Kakashi. "Katanya, sebisa mungkin aku jangan menghampirinya, nanti dia takut."

.

.

Tengah hari. Kakashi melirik jam dinding. Biasanya jam segini ia makan siang dengan masakan Sakura, atau pergi makan dengan istrinya itu. Sekarang jelas tidak bisa. Tadi pagi bahkan Kakashi hanya mengisi perutnya dengan secangkir kopi. Sekarang, walau sudah mulai keroncongan, ia tidak yakin mau makan.

Kakashi frustasi setengah mati. Ketika membaca berkas, itu cukup mengalihkan perhatiannya dari apa yang menimpa Sakura. Tapi ketika ia tidak melakukan apa-apa, semua ingatan itu kembali dalam otaknya.

Hokage Keenam ini berusaha agar jangan sampai membenci ayah dan ibu mertuanya. Ia paham kedua orangtua itu mencemaskan putri tunggal mereka, dan sesungguhnya Kakashi sendiri setuju agar Sakura bisa tenang di rumah tempat ia tumbuh besar. Tetapi, Kizashi dan Mebuki seakan lupa bahwa Kakashi terkena dampak dari insiden yang menimpa Sakura juga. Ketika istrinya bisa dibantu tenang oleh kehadiran orangtuanya, siapa yang bisa mengurus Kakashi dari rasa depresi ini?

.

.

"Sensei, ini sudah malam, pulang gih, istirahat!" usir Shikamaru.

Kakashi menggeleng. "Sudah kubilang, rumah akan mengingatkanku pada Sakura. Jadi aku akan lembur saja di sini. Atau, kalau aku mengantuk, aku akan tidur di sini."

"Sensei jangan begitulaaah … " raung sekretarisnya.

Mantan Guru Tim 7 itu tersenyum tipis, tidak menyangka Shikamaru bisa seperti itu. "Kamu dan yang lain pulang saja. Aku sendiri di sini tidak masalah."

Shikamaru menghela. "Ya sudah." Pemuda itu memungut sampah ramen instan yang berserakan dalam ruangan, lalu bersiap keluar. Tapi ia teringat sesuatu, jadi ia menoleh pada gurunya lagi. "Omong-omong, tadi Ino sudah ke rumah Haruno. Dibilang sudah tenang, memang Sakura sudah tenang. Tapi dia masih tidak ingat apa pun tentang enam tahun belakangan. Dugaan Ino, yang paling tidak bisa Sakura ingat mungkin adalah perasaannya pada Kakashi-sensei."

"Hah?"

"Iya. Ino ingat, setelah lulus ujian Chuunin dengannya dan Chouji, Sakura curhat bahwa mungkin mulai suka pada Sensei."

Waduh, kenapa begitu?

.


.

Dua minggu lebih berlalu sejak hilangnya ingatan Sakura. Shikamaru terus mendumel karena Hokage Keenam bersikukuh tidak mau pulang sama sekali. Pemuda itu paham bahwa Kakashi pasti sedih luar biasa, tapi ia juga berharap guru pengganti Asuma itu bisa merawat diri sendiri untuk tetap bertahan.

Makanya, Shikamaru terkejut sekaligus senang ketika siang itu berpapasan dengan Sakura yang agak linglung di lobi.

"Ah, Shikamaru, kan?" tanya Sakura. "Maaf, saya tidak terbiasa melihatmu yang sudah mulai punya jenggot."

Shikamaru tertawa miris. "Tidak apa-apa jalan sendirian?"

Sakura mengangguk. "Sejauh saya jalan tadi, Konoha tidak begitu berubah dari dalam ingatan saya. Ibu membiarkan saya jalan-jalan sendiri karena desa ini toh tetap tempat tinggal saya, jadi kalau tersasar ya pasti bisa ketemu jalan pulang."

Sekretaris Hokage itu manggut-manggut. "Lalu? Hari ini main ke sini?"

"Anu, saya, eh, bawa bekal untuk Kakashi-senseisan."

Waduh, sudah sensei, pakai embel-embel –san pula?

"Hmmm, masih belum ingat tentang Kakashi-sensei, ya?" tanya Shikamaru.

"Begitulah. Rasanya aneh, seingat saya dia adalah guruku, tahu-tahunya sekarang sudah jadi suami."

"Hahahaha! Percaya deh, kita semua juga pada kaget, kok, waktu dengar kamu mulai pacaran dengannya!"

Telinga Sakura memerah. "Iya, itu, eh, saya pikir, kalau saya iseng membuat bekal dan saya bawa padanya, saya akan ingat sesuatu. Karena, selama di rumah, ibu cerita sedikit-sedikit tentang bagaimana saya dengan Sensei, seperti makan bekal, atau pemeriksaan rutin …"

Shikamaru mengangguk, lalu menunjuk ke koridor dengan dagunya. "Kantor Hokage masih seperti biasa. Bisa pergi sendiri? Atau mau kuantar?"

Sakura tersenyum kecil. "Saya akan ke sana sendiri. Terimakasih, permisi, Shikamaru."

Lalu Sakura pergi. Shikamaru menggaruk kepalanya, merasa miris karena baru sadar tentang kenapa Sakura tampak begitu sopan padanya.

Oh iya, dalam ingatannya, dia masih empat belas tahun, dan barusan ia melihatku seakan aku lebih tua enam tahun.

.


.

Bersambung

.


.

A/N: Karena ini ide sangat spontan, Fei berharap mungkin chapter depan bisa ditamatin, wkwkwk. Omong-omong, Fei paham kalau ada yang tanya ini masih dilanjutin apa enggak. Yang Fei gak paham itu adalah perkataan sepihak yang bilang ini tidak dilanjutin.

Untuk chapter ini, nuansanya jadi beda dengan yang sebelumnya ya, mungkin karena ide utama fict ini adanya di chapter kemarin. Semoga selanjutnya gak bernuansa jauh dari yang sekarang. Fei juga belum nentuin apakah happy atau sad ending, mengingat ide yang Fei punya hanya tentang chapter 1 dan awal chapter 2 ini.

Review?