Boboiboy milik Animonsta

Warn: AU, Maybe OOC, HaliYing.

Enjoy~

Halilintar, tujuh belas tahun, kelas tiga SMA, mencoba untuk sabar ketika sang kekasih yang berbeda usia terpaut satu tahun dengannya tiba-tiba ngambek tanpa alasan yang jelas.

"Ying, kamu kenapa?" tanyanya, lagi. Jika dihitung, ini adalah pertanyaan ke-lima puluh empat yang tak mendapatkan respons berarti dari lawan bicaranya.

Taman kota saat ini ramai. Beberapa orang mencoba melirik ke arah keduanya, mencuri-curi dengar akan drama apa yang sedang terjadi. Kan, lumayan untuk bahan gosip esoknya.

"Kamu jadi cowok peka sedikit, dong!" seru Ying. Akhirnya menyerah untuk terus diam dan membisu.

"Ya, aku mana bisa tahu kalau kamu nggak kasih tahu, Ying. Aku bukan Taufan si dukun, lho. Nggak bisa tahu secara jelas perasaan cewek," Halilintar menjawab sambil mencoba mengumpulkan kesabarannya, lagi.

Kan, nggak lucu kalau doi tambah ngambek.

"Kamu PMS, ya?"

Plak. Tabokan di lengan. Sudah biasa, batinnya.

"Kenapa nanya-nanya kayak gitu?!"

"Aku cuma nanya."

Hening di antara mereka. Ying tak menjawab, mau pun mengangguk atau menggelengkan kepalanya.

Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada, sementara Halilintar duduk diam di sampingnya.

Ying mendengus, tampak kesal ketika melihat bahwa sang kekasih hanya bisa berdiam diri tanpa adanya usaha berarti. Usaha untuk mengetahui penyebab dirinya ngambek, misalnya.

"Mau kamu apa, sih?!" seru Ying kesal.

"Lho, aku salah apa lagi?" balas Halilintar. Wajahnya datar meskipun begitu, hatinya sudah meronta-ronta.

"Pikir sendiri, kek! Kamu itu udah gede, nggak usah manja!" bentak Ying.

"Untung pacar, kalau bukan, udah gue mutilasi." Hali, itu terlalu kejam. "Aku udah mikir sendiri, kok. Ujian aku mikir sendiri, ngomong sopan ke guru aku mikir sendiri, terus—"

"Bukan itu maksudnya!" Ying membuang muka, dia mulai beranjak dari tempatnya. "Mau kamu apa? Yang kemarin! Jangan bilang kamu pura-pura nggak tahu apa-apa!"

"Mau aku? Ya, kamu lah," ujarnya ringan. Tanpa sadar bahwa kedua pipi pacarnya kini merona merah.

"Ih, bukan!" Ying mulai bangkit dari tempatnya dan mengambil langkah, mau tak mau Halilintar mencoba mengikutinya. "Kemarin kamu mau ngapain sama Yaya?! Kamu mau selingkuh, ya?! Dasar cowok, liat yang cantik sedikit langsung berpaling. Nyesel aku terima kamu, Hali!"

"Cemburunya cewek nyeremin juga." Halilintar membatin nista.

"Aku sama Yaya ada tugas kelompok, Ying. Kita kan satu kelas, terus tetanggaan. Aku nggak ada niat buat selingkuh, aku kan, tipe cowok setia," balasnya dengan percaya diri.

Ying berbalik dengan cepat, menunjuk Halilintar dengan telunjuknya, manik birunya menatap tajam. "Nah, itu kan maksudnya! Kalian ngambil—"

Telunjuk di bibir Ying, membuatnya bungkam seketika.

"Sstt, aku nggak ada apa-apa sama Yaya, cuma sebatas teman satu kelompok, satu kelas, satu kampung, satu bumi. Aku cuma mau kamu, Ying," ujar Halilintar, menekankan kata mau.

Ying mengangguk patah-patah. Dilihat lebih dekat, Halilintar ternyata cukup tampan, ya.

"Sekarang mau pergi kemana? Ke matahari aja aku sanggup, kok. Kalau alasannya itu kamu."

Fin

A/N:

Well, aku penulis baru disini dan aku baru berani publish tulisanku. Kalau jadi pembaca udah dari tahun lalu, kok /gatanya.

Mm, yah, karena aku masih newbie, mohon kerja samanya *ha?* untuk membenarkan segala kesalahan yang aku sengaja atau nggak sengaja kuperbuat. Nggak usah sambil lempar meja, tapi /apasi. Oh, oke. Daripada A/N-nya malah absurd seperti sebelumnya, mending ku akhiri saja. See you!

9 Mei 2020