A/N:
Cerita ini dibuat setelah saya melihat video yang beredar di fb tentang seorang guru di Brazil yang mendapat kejutan dari murid-muridnya. Permasalahannya saya ambil dari sana, plus adegan-adegan tertentu, jadi itu bukan milik saya. Saya hanya menambah bumbu romansa di sini.
Disclaimer:
Karakter yang dipakai dalam cerita ini diambil dari Naruto karya Masashi Kishimoto
Inti cerita dan beberapa adegan diambil dari video yang beredar di fb
ForgetMeNot09
presents
.
.
.
Pak Guru Kiba
.
.
.
Ia menatap nanar. Membaca satu demi satu kata secara hati-hati demi memastikan bahwa apa yang tertulis di sana adalah apa yang ia pahami. Lantas ia terduduk lemas. Tangannya meremas lembaran kertas ukuran A4 itu dengan kuat.
Ia mendesah, tatapannya terpaku pada eternit. Dalam pikirnya membuat ia terlampau lelah dan akhirnya tertidur.
…
"Kak?"
Matanya terbuka. Meski hanya dengan sentakan ringan ia mampu terbangun. Dilihatnya sosok seorang perempuan tengah menatapnya khawatir.
"Kau baik-baik saja?"
Ia bangkit dan menegakkan tubuhnya di atas sofa berwarna cokelat pudar. Senyumannya terpatri paksa.
"Aku baik-baik saja, Amaru."
Yang dipanggil hanya menatap cemas. Namun seulas senyum Amaru berikan kepada kakaknya.
"Baiklah kalau begitu. Kakak sudah makan?"
Pria itu terdiam. Sebenarnya sejak tadi siang perutnya terus berteriak meminta jatah. Apa daya tidak ada secuilpun makanan di dapur. Sedang untuk membeli makanan ke luar jelas tidak mungkin. Ia hanya memegang sedikit uang.
"Sudah. Amaru?"
Gadis itu menggeleng. Namun sepertinya cukup paham kondisi sang kakak.
"Tapi aku tidak lapar, Kak. Kakak pikirkan Konohamaru saja."
Kiba tidak terkejut. Sudah biasa baginya Amaru bersikap seperti ini. Kendati usianya masih sangat muda, Amaru selalu mampu menyikapi kehidupannya dengan dewasa.
Gadis itu cukup mafhum dengan keadaan sang kakak, yang harus bekerja sebagai guru honorer di sebuah sekolah menengah di Konoha. Upah sang kakak yang tidak seberapa itu menjadi andalan bagi keluarga mereka. Untuk keperluan hidup dirinya dan Konohamaru, adik bungsu mereka, juga untuk keperluan sekolah. Namun keadaan memaksa mereka untuk mampu memenuhi kebutuhan meskipun mepet.
Sejak kedua orang tua mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan, Inuzuka Kibalah yang mengambil alih tanggung jawab atas kedua adiknya. Hal ini terpaksa Kiba lakukan, lantaran ia menyaksikan betapa keluarga besar pihak ayah dan ibunya bersitegang saling menolak untuk menghidupi mereka. Ya, patut Kiba marah, tetapi ia berpikir bahwa itu tak akan menyelesaikan masalah. Maka dengan mengumpulkan segenap keberanian Kiba mengeluarkan ucapan tegas, bahwa ia dan kedua adiknya akan menjalani hidup mereka sendiri.
"Kak Amaru."
Sebuah suara menghentikan lamunan keduanya. Seorang anak laki-laki menatap mereka bergantian.
"Ada apa Konohamaru?"
Konohamaru membanting pantatnya ke sofa, tepat di sebelah Kiba.
"Bulan depan ada festival kenaikan kelas di sekolah, dan setiap anak diharuskan membayar untuk kegiatan yang akan diadakan dalam festival itu."
Seolah paham, Amaru menoleh ke arah Kiba, saling menatap tetapi enggan mengatakan "tidak" kepada si bungsu.
"Berapa?" tanya Kiba.
"Tiga ratus ribu, Kak."
Jumlah yang tidak terlalu besar sebenarnya, tetapi dengan kondisi sekarang ini jelas saja Kiba sedikit mengeluh dalam hati.
"Baiklah, minggu depan kakak berikan," ujarnya sembari tersenyum.
Konohamaru pun berlalu pergi dengan kelegaan di hatinya.
"Uang dari mana?"
Celetukan Amaru membuat Kiba mengerutkan dahi.
"Tentu saja gaji kakak mengajar," tegas Kiba.
"Bukannya Kakak belum menerima itu?"
Kiba tersentak, matanya sontak menatap Amaru tajam, lalu beralih pada remasan kertas yang terjatuh di lantai.
"Kau membacanya?"
Amaru mengangguk, "Izinkan aku bekerja Kak," lirihnya.
Kiba menggeleng keras, "Tidak! Pikirkan saja sekolahmu!"
Amaru mendesah. Ini kesekian kali Kiba menolak idenya untuk bekerja di sela-sela kesibukan sekolah. Sang kakak hanya tidak ingin pendidikannya terbengkalai. Namun, bukankah Amaru sudah cukup dewasa untuk bisa mengatur waktu dan membaginya antara sekolah, belajar dan bekerja.
Suasana kelas cukup ramai. Pria itu sudah merasa biasa dengan hal seperti ini. Sekolah tempat ia mengabdi bukanlah sekolah favorit dengan murid-murid yang berprestasi. Itu hanya sebuah sekolah negeri biasa, di mana di sana bercampur antara murid pintar, sedang, dan biasa. Kiba tidak pernah menyebutkan kata "bodoh" pada muridnya, karena ia memegang prinsip bahwa setiap manusia memiliki prestasi masing-masing meski mungkin bukan pada bidang akademis.
"Selamat pagi," ucapnya pada sekian pasang mata yang menatapnya.
Lenguhan mendadak terdengar di beberapa sudut, plus decakan dari suara yang lebih berat. Bukan rahasia jika Inuzuka Kiba adalah salah satu guru favorit lantaran parasnya. Tidak terlalu tampan, tetapi daya pikatnya cukup membuat sebagian besar kaum hawa mengeluarkan kekaguman. Namun di sisi lain, ia juga cukup dibenci, karena sering memberikan tugas berat kepada para siswa, dan juga sikapnya yang dianggap terlalu pelit dalam memberikan nilai.
"Pagi Pak," ucap murid-muridnya.
"Baiklah kita lanjutkan materi minggu kemarin."
Semua anak membuka buku paket. Sebagian dengan penuh semangat, sebab di mata mereka Matematika menjadi lebih menyenangkan dengan Kiba sebagai guru. Sebagian yang lain dengan malas-malasan, sebab meskipun Kiba adalah gurunya, Matematika tetaplah Matematika yang sulit dipahami.
Mata Kiba menyisir seluruh kelas, lantas tatapannya terhenti pada bangku paling belakang di sudut kanan dari arahnya. Di sana, seorang gadis berambut pirang tampak tidak peduli bahkan dengan kehadirannya. Tangan gadis itu masih gesit menekan-nekan tombol di layar ponsel, sementara mata akuamarinnya menatap berbinar-binar dan penuh semangat.
Kiba mendecih. Sudah biasa, terlampau biasa, tetapi ia tidak pernah bosan untuk menghadapi yang seperti ini. Ia mendekat. Gadis berambut merah muda, di sebelah gadis pirang itu, bahkan telah menyikut pinggang temannya. Namun tak ada reaksi sedikit pun.
"Yamanaka Ino!" geram Kiba.
Yang dipanggil mendongak. Terkejut ketika ternyata sang guru sudah berada di hadapan. Bergegas ia menurunkan ponselnya meski dengan tatapan malas.
Kiba memejamkan mata sesaat. Gadis ini memang selalu seperti ini. Menatapnya malas, seolah tak menganggapnya sebagai seorang guru yang harus dihormati. Bahkan terkadang, Ino seperti tak menganggap dirinya ada.
"Kemarikan ponselmu!"
Ino menggeleng, poninya bergoyang akibat gelengan itu.
Kiba mengulurkan tangannya untuk meraih ponsel di tangan Ino, tetapi Ino menariknya. Seakan tidak mau kalah, Kiba menahan bahu Ino agar gadis itu tidak banyak bergerak. Sayangnya Ino malah membawa ponsel itu ke belakang punggung.
Mata Kiba menyipit, ia benci diremehkan seperti ini. Menanggalkan segala sifat ke"guru"annya, Kiba mencondongkan tubuh dan tangannya bergerak ke belakang tubuh Ino, membuat kesan seperti ia tengah memeluk gadis itu. Para murid terkesiap dan menahan napas, saat wajah kedua guru dan murid itu terlampau dekat. Yamanaka Ino bahkan merasa pipinya memanas, setengah tidak percaya gurunya akan senekat ini.
Dalam satu tarikan, Kiba berhasil meraih ponsel Ino.
Tak ada senyum kemenangan atau apa pun itu, yang ada hanya ekspresi pria itu yang masih dipenuhi gurat amarah.
"Ponselmu kusita, sampai batas waktu entah kapan."
Ino tidak menjawab. Ia sibuk menenangkan diri yang mendadak gugup setengah mati.
…
"Apa-apaan dia?"
Ino menggerutu sepanjang perjalanan ke kantin sekolah. Sakura yang menemaninya hanya menggeleng.
"Salahmu sendiri, Ino."
Ino mendelik menatap Sakura. Seketika sampai di kantin, ia mendudukkan diri di atas bangku kosong dekat jendela.
"Pesankan nasi goreng untukku Sakura," pintanya.
"Sesiang ini?"
Sakura mengernyitkan dahi dan hanya mendapatkan cengiran sebagai jawaban.
Ino mengalihkan wajahnya. Mata hijaunya menatap ke arah lapangan sepak bola, menangkap sosok Kiba tengah berbincang serius dengan Nyonya Tsunade, sang kepala sekolah. Gadis itu menatap saksama, sepertinya perbincangan mereka cukup serius. Lalu dilihatnya Tsunade melangkah pergi, meninggalkan Kiba dengan tatapan sedihnya.
"Sedih?" gumam Ino.
Gadis itu tak percaya pada dirinya sendiri, bagaimana bisa ia menafsirkan ekspresi muka Kiba dari jarak sejauh ini. Namun netra hijau pias Ino tak beralih. Ia mengikutkan pandangannya ketika Kiba memasukkan kedua tangan ke saku celana dan berjalan menjauhi lapangan sepak bola.
"Ini!"
Ino menoleh, senyumnya tergambar lebar saat sepiring nasi goreng telah tersaji di hadapannya.
"Terima kasih Sakura."
Sakura hanya mengangguk dan mulai menikmati makan siangnya.
"Kudengar," ucap Sakura dengan mulut dipenuhi makanan.
"Habiskan dahulu makanan di mulutmu, Sakura!" hardik Ino.
Sakura nyengir dan menelan bulat-bulat makanannya.
"Kabarnya Guru Kiba sedang ada masalah," lanjut Sakura.
Ino menunda sendok yang akan masuk ke mulutnya, "Masalah apa?"
"Entahlah. Aku hanya mendengar gosip bahwa belakangan dia sering terlibat perdebatan dengan Nyonya Shizune di bagian keuangan."
Ino menggeleng tak mengerti sebelum akhirnya ia menyadari sesuatu yang ganjil. Gadis itu menatap Sakura curiga, menuai gerakan tak nyaman dari gadis rambut merah muda itu.
"Apa?" tanya Sakura. Ia bahkan mengamati pakaiannya takut ada sesuatu yang menempel tanpa ia tahu.
"Kenapa kau tiba-tiba membicarakan itu?"
Sakura terdiam, lalu tertawa pelan. Ditatapnya sang sahabat dengan tatapan jenaka.
"Karena kulihat kau tadi mengamati Guru Kiba di lapangan …."
"I-"
Sakura mengangkat tangannya pertanda ia tak mau disela sebelum selesai bicara.
"Dan kau adalah murid yang suka membuat masalah dengannya."
Ino terkejut. Sedikit mendecih dan kembali menyantap makan siangnya seolah tak peduli dengan perkataan Sakura.
"Serius, Ino! Apa sebenarnya masalahmu dengan Pak Guru?"
"Bukan aku, Sakura. Dia yang mencari masalah denganku."
Sakura memutar bola matanya, sesudah ini pasti Ino akan berceramah.
"Kau ingat bukan bagaimana dahulu dia memarahiku gara-gara aku terlambat masuk kelasnya?" mulai Ino dengan berapi-api.
"Padahal aku sudah menjelaskan alasan keterlambatanku dan dia tidak menerimanya," lanjut Ino.
"Kau yang salah Ino, kau tidak merasa bersalah saat itu."
Ino mendelik, "Bagaimana aku bisa merasa bersalah, sebab dia yang tidak mau mendengarkanku."
Sakura mengendikkan bahu.
"Lalu selang beberapa hari dia membuat masalah lagi, dia menegurku dan mempermalukanku di depan teman-teman."
"Lantaran pakaianmu terlalu ketat?" dengus Sakura.
"Aku sudah menjelaskannya, Sakura. Kau kan tahu sehari sebelumnya aku kehujanan dan pakaianku basah sementara itu adalah satu-satunya pakaian yang aku punya."
Sakura enggan membalas. Padahal ia punya segudang penjelasan untuk diberikan. Namun, menyela Ino yang sedang kumat mode "pidato"nya rasanya akan sia-sia.
"Lalu dia juga mencampuri urusanku dengan Deidara hingga kami putus!"
"Berhenti Ino!"
Ino terkejut mendengar teriakan tertahan Sakura. Dilihatnya gadis itu menatap tak suka pada Ino.
"Apa?"
"Kau membuat seolah Guru Kiba jahat padamu!"
"Memang!"
"Padahal dari semua kasus itu jelas kau yang salah Ino. Kau bercumbu dengan Deidara di lingkungan sekolah, itu hal yang wajar jika seorang guru menegur. Beruntung hanya Guru Kiba bukan Nyonya Tsunade atau kau tak akan selamat."
Ino bergidik.
"Hell bahkan Deidara memutuskanmu pun kau menyalahkan Guru Kiba."
Sakura menggeleng. Sejenak disesapnya teh hangat yang telah menjadi dingin.
"Tetap saja! Dan apa itu tadi? Dia merebut ponselku, sampai nyaris memelukku. Menyebalkan!"
Entah apa yang salah, saat mengatakan kejadian terakhis, pipi Ino merona. Mengingat adegan tadi membuat jantung gadis itu berdetak kencang. Padahal seharusnya dia sedang marah bukan?
Sakura yang menyadari ini menyeringai. Ia berdiri dan menepuk kepala Ino pelan.
"Aku mengerti."
Ino mendongak, menatap bingung, "Apanya?"
"Tidak!"
"Tidak bisa Yamanaka!"
Ino mengeratkan kepalannya di sisi tubuh.
"Ayolah Pak, aku sangat membutuhkannya."
"Untuk main game di tengah pelajaran? Berapa nilai ulangan tengah semestermu, Yamanaka sehingga kau berani mengabaikan pelajaranku?"
Ino berdecak kesal. Ia menatap lantai dan menggerak-gerakkan kakinya tanda gelisah.
Ya, setelah jam pulang sekolah Ino memberanikan diri menemui Kiba di kantor guru. Beruntung ruangan itu kosong karena para guru sudah meninggalkan kantor sejak lima menit lalu. Jadi Ino bisa lebih leluasa merayu guru keras kepala ini untuk meminta kembali ponselnya.
"Aku membutuhkannya Pak," lanjut Ino.
Gadis itu memainkan roknya dan menatap Kiba yang tampak tak peduli. Bagaimana bisa, pria itu malah sibuk mengetik sesuatu di komputer. Namun sejenak Ino terpaku, pemandangan di hadapannya membuat dadanya bergemuruh. Kiba dengan ekspresi serius dan sesekali mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan, terlihat mengagumkan. Ino merasa pipinya menghangat, hingga ia menurunkan pandangan. Dasar sial, matanya justru menemukan sesuatu yang makin membuat ronanya memekat. Kancing kemeja Kiba terbuka di bagian atas, atau sengaja dibuka karena memang cuaca tengah panas. Ino lantas mundur selangkah.
"Yamanaka?"
Suara berat Kiba membuatnya mendongak.
"Pergilah! Aku tidak akan memberikannya!"
Pipi Ino menggembung, alisnya bertaut.
"Kau jahat Pak!"
Dengan kalimat itu Ino mengentakkan kaki dan berbalik pergi. Tanpa sopan santun membanting pintu ruang guru membuat Kiba mengelus dada.
"Ya ampun, anak itu benar-benar tidak bisa diatur!"
Sore ini hujan turun rintik-rintik. Cuaca yang seperti ini cukup membuat orang memilih berdiam di ruangan. Termasuk dengan pria itu. Ia memilih tinggal di kantor hingga larut, demi bisa memakai komputer sekolah. Matanya melirik pada tiap baris iklan lowongan pekerjaan. Sudah tiga hari ini ia rajin mengamati kolom tersebut, berharap bisa mendapatkan pekerjaan sampingan untuk membantu keuangannya yang tengah kalut.
Mengapa harus pekerjaan sampingan? Mengapa tidak ia keluar saja dan mencari pekerjaan lain?
Jawabannya ia tidak mau. Ia mencintai pekerjaannya sebagai guru Matematika meski upah yang diterima kecil dan kadang sampai tersendat seperti ini. Membagi ilmu kepada orang lain, membuat Kiba merasa ia semakin semangat belajar dan menambah ilmunya sendiri. Bahkan Kiba tak segan untuk mendorong kedua adiknya agar kelak bisa menjadi guru, ya setidaknya guru tetap bukan seperti dirinya.
Jam menunjukkan pukul sembilan saat Kiba akhirnya menyerah. Tidak ada lowongan yang cocok dengan kondisinya. Rata-rata perusahaan membutuhkan pekerja waktu penuh. Ada beberapa yang menerima pegawai waktu paruh tetapi batasan umur membuat Kiba mundur.
Saat berdiri, tangannya menyentuh ponsel yang tergeletak di atas meja. Ia menggeleng dan menyambar ponsel itu, memasukkannya ke dalam tas.
Sepanjang perjalanan pulang pikirannya berkelana. Hari ini sedikit nekat rupanya. Ia berani mendekati muridnya dalam jarak nyaris menempel, walaupun niatnya adalah untuk merebut ponsel itu. Padahal, sikapnya itu bisa saja mengundang salah paham pada orang yang melihat. Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa dirinya melakukan pelecehan kepada muridnya? Kiba bergidik, ia tak mau itu terjadi. Ia menyayangi pekerjaan ini dan tak ingin kehilangan.
Lagi pula, murid perempuan satu itu benar-benar selalu memantik api amarah yang ada dalam dirinya. Padahal ia merasa sudah cukup sabar untuk menghadapi setiap siswa bermasalah. Ia mendadak penasaran dengan anak itu. Apa yang menjadikannya seperti sulit dikendalikan.
"Yamanaka Ino?"
Kiba mengangguk. Pagi ini ia memutuskan untuk bertanya kepada setiap guru yang mengajar kelas Ino tentang bagaimana sebenarnya gadis itu.
"Tidak ada masalah yang menonjol," gumam Anko.
Kiba bingung. Pikirnya Anko adalah guru yang tidak begitu disukai di sekolah ini. Seharusnya Ino paling tidak tahan dengan guru semacam wanita itu bukan?
"Dia selalu memperhatikan setiap yang aku sampaikan. Ya, walaupun nilai ulangan hariannya tidak seperti yang aku harapkan," lanjut Anko.
Kiba mengangguk, ia jadi berpikir bahwa mungkin saja Ino takut dengan Anko sehingga tidak mau membuat masalah.
Lalu pada jam istirahat Kiba menemani Kakashi, guru Kesenian, yang sedang makan siang. Ya, lumayan, selain niatnya memang untuk bertanya perihal Yamanaka Ino, Kakashi juga mentraktirnya.
"Ino baik menurutku. Aktif di kelas, selalu membantu setiap ada temannya yang merasa kesulitan," jawab Kakashi malas.
Oh ayolah! Ia ke kantin untuk menenangkan diri dari kepenatan mengajar, dan di sini Kiba malah bertanya hal seperti itu.
"Tidak pernah membuat masalah?"
Kakashi menggeleng.
"Sama sekali?"
Kakashi menatap Kiba heran, "Sebenarnya ada apa denganmu, Kiba?"
Kiba mengibaskan tangannya di depan wajah. Ia merasa salah tingkah sendiri dengan pertanyaan dan tatapan Kakashi.
Sehari ini Kiba habiskan sela waktunya untuk bermain detektif. Namun hasilnya tidak membuat dirinya puas. Hampir setiap guru mengatakan bahwa tidak ada masalah dengan Yamanaka Ino. Artinya hanya kepada dirinya gadis itu membuat masalah? Kenapa ada yang seperti ini? Kiba memijit pelipisnya lantaran terasa sakit.
Sudahlah, lebih baik sekarang ia berkonsentrasi untuk mendapatkan uang agar bisa membayar biaya festival sekolah adik bungsunya.
"Aku duluan, Sakura!"
"Cepat sekali, kau mau ke mana Ino?"
Ino menjawab sembari berlari, "Hari ini banyak pesanan di toko, jadi aku harus datang awal."
Gadis berambut pirang itu berlari. Kaki jenjangnya lincah membawa ia menuju gerbang sekolah. Namun saat melihat sosok Kiba di kejauhan, yang tampak sedang berbincang dengan Nyonya Shizune, ia berhenti. Rasa penasaran membuatnya melupakan pesanan di toko kue tempat ia bekerja. Ia berjalan mengendap dan bersembunyi di balik tembok, berusaha mendengar apa yang sedang mereka berdua cakapkan.
"Saya mohon, Nyonya Shizune!"
Baru kali ini Ino mendengar seorang Inuzuka Kiba memelas.
"Saya benar-benar tidak memiliki kuasa atas ini, Pak."
"Tapi ini sudah 3 bulan saya tidak memegang gaji saya."
Shizune tampak mengangguk paham, tetapi tak ada yang bisa ia perbuat.
"Saya bisa meminjamkan A-"
"Saya tidak ingin berutang, Nyonya!" tegas Kiba.
Shizune semakin bingung.
"Mohon maaf Pak, tapi saya benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa untuk hal ini. Ketika permasalahan administratif ini selesai, saya akan secepatnya mengabari Anda, mohon maaf."
Shizune membungkukkan badannya kemudian pergi. Kembali Kiba ditinggal dengan kekecewaan. Hampir saja ia mengumpat jika tidak ingat ia sedang berada di sekolah. Pria itu lantas pergi.
Ino terpaku dalam persembunyiannya. Ternyata itulah permasalahan yang sedang dihadapi gurunya, yang pernah Sakura ceritakan. Gadis itu menggigit bibir. Ia bisa merasakan apa yang tengah dirasakan Kiba. Tidak sepenuhnya tetapi cukup mirip.
Ino sendiri bukan anak orang kaya. Ia hanya anak seorang pedagang bunga kecil di kota ini. Ada kalanya usaha sang ayah tersendat sehingga keluarganya harus menempuh berbagai cara untuk bertahan, termasuk dengan dirinya yang bekerja sampingan di toko kue milik tetangganya. Meski saat ini kondisi usaha keluarganya sudah cukup baik, Ino tidak mau meninggalkan pekerjaannya. Ia bahkan berharap bisa membantu meringankan beban kedua orang tuanya.
Jadi gadis itu paham betul apa yang sedang dirasakan Kiba saat ini. Terlebih kabarnya guru Matematika itu memiliki 2 orang adik yang harus diasuh.
Tiba-tiba sebuah ide gila muncul di kepala Yamanaka Ino.
"Selamat pagi!"
"Selamat pagi Pak!"
Ia sedikit heran dengan pagi ini. Tidak seperti biasanya, teriakan selamat pagi tadi terdengar lebih lantang dan kompak. Ia tersenyum, mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas dan menemukan sebuah kecurigaan. Seluruh muridnya sedang menatap dirinya dengan senyuman lebar.
Ini benar-benar tidak biasa. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Pak!"
Seorang murid laki-laki mengangkat tangannya dan tampak mengacungkan sebuah kertas. Kiba mendekat, membaca tulisan dengan suara cukup untuk didengar seisi kelas.
"Kau adalah guru kami."
Kertas lain teracung dan ia berjalan mendekat.
"Guru yang terkadang kami buat kesal."
Terus berlanjut, membuat Kiba harus berjalan bolak balik.
"Kau bagi ilmu kepada kami."
"Tanpa pamrih."
"Meski kau pelit memberi nilai."
"Tapi kau menyayangi kami."
"Inginmu hanya kami yang mampu menyelesaikan permasalahan Matematika."
Kiba merasa terharu. Kendati ini terlihat klise, tetapi ia benar-benar harus menahan tangis saat ini. Hingga tidak ada lagi kertas yang terangkat, Kiba melangkah menuju meja guru. Di sana ada satu kertas yang ditempel di atas sebuah kotak bertuliskan,
"We love you, Pak Guru."
Kiba tersenyum tulus. Tangannya membuka kotak itu, dan netra kelam itu membola.
Di dalam kotak itu berlembar-lembar uang kertas bernominal tinggi tertumpuk. Kiba terdiam, tak mampu mengatakan apa pun. Sedikit lebih lama ketika akhirnya ia mendongak menatap murid-muridnya yang tersenyum tulus padanya.
"Apa ini?"
Tak ada jawaban.
"Apa yang kalian lakukan?"
Masih hening, Kiba tertawa miris.
"Tidak perlu seperti ini."
Pria itu menuju ke depan kelas, bersandar pada papan tulis dan menutup wajahnya dengan sebelah tangan. Bahunya nyaris bergetar.
"Kalian cukup belajar dengan baik, tak perlu seperti ini."
Tampaknya Kiba paham bahwa murid-muridnya ini mengetahui permasalahan yang sedang ia hadapi.
"Saya tidak berhak untuk ini!"
"Tentu saja Anda berhak Pak. Anda memberikan ilmu kepada kami dengan ikhlas."
Suara itu ia kenal sebagai Naruto, murid paling "vokal". Kiba masih tidak mampu membuka tangannya. Bahkan kini mulai hancur pertahanannya. Saat itulah, saat ia mulai menangis, satu per satu muridnya mendekat dan memeluknya beramai-ramai.
Gadis itu masih membolak balik lembaran buku tebal di mejanya. Kadang menimbulkan suara berisik, tetapi ia tak peduli. Tangannya sesekali menuliskan sesuatu di lembaran kertas kosong di samping buku. Lalu ia merasa ada seseorang duduk di sampingnya. Ia bergeming, "Paling juga orang mau ikut belajar," batinnya.
"Terima kasih."
Ino mendongak terkejut. Ternyata guru Matematika itu sudah duduk di sebelahnya, dengan kursi yang dihadapkan padanya.
"Pak Guru?"
Kiba tersenyum tulus.
"Kudengar kau yang memelopori itu."
"Itu apa?" tanya Ino, pandangannya beralih ke buku tebal itu lagi.
"Yang tadi pagi," jawab Kiba.
"Hn."
Ino mengendikkan bahu. Kiba merasa kesabarannya diuji di sini. Inginnya ia menyeret gadis itu dan menghukumnya tetapi jelas itu tidak mungkin. Jadi yang Kiba lakukan saat ini hanyalah membuang egonya.
"Jangan pura-pura tidak peduli padaku Yamanaka!" bisiknya parau tepat di telinga Ino.
Kiba tahu bahwa dirinya dalam bahaya. Jelas saja, berlatar perpustakaan sekolah, ia yang notabene seorang guru berani berbisik dengan suara berat di dekat telinga gadis yang menjadi muridnya. Beruntung mereka berdua ada di bagian ujung dan sedikit tertutup rak tinggi sehingga tidak ada yang melihat. Namun, Kiba lekas menarik tubuhnya mundur. Terlebih saat Ino menatap dirinya dengan tatapan tajam dan …
… rona merah di pipi.
"Apa maksudmu Pak Guru?"
Maksud yang mana, pikir Kiba. Maksud perkataannya atau perbuatannya. Yang mana saja ia tak mau ambil pusing. Dari Sakura, ia mendengar alasan kenapa Ino mau repot-repot membantunya. Jadi pria itu hanya tersenyum membalas tatapan Ino.
"Pulang sekolah nanti, ambillah ponselmu di ruang guru!"
Kiba berdiri dan beranjak pergi, meninggalkan Ino yang masih mematung.
.
.
.
Bersambung
