A/N:
Mendadak ingin membuat lanjutan dari cerita ini.
Silakan menikmati~
Disclaimer:
Karakter yang dipakai dalam cerita ini diambil dari Naruto karya Masashi Kishimoto
ForgetMeNot09
presents
.
.
.
Pak Guru Kiba
.
.
.
"Terima kasih Nyonya."
Kiba membungkukkan badan berulang kali. Rasa terharu memenuhi dadanya. Akhirnya setelah sekian lama memperjuangkan haknya, pria itu mendapatkan jua hasilnya. Kendati demikian, ia sadar bahwa ini tak lepas dari peran kepala sekolah dan wakilnya.
Langkahnya lebar, senyumnya semringah, binar cahaya terkuar dari iras nan rupawan. Acap ia berpapasan dengan murid-muridnya, yang malah menatapnya canggung. Antara takut dengan sang guru yang dikenal tegas, dan terpukau dengan seringai nan menawan.
Sebelum sempat masuk ke kantor guru, sang pria membelokkan langkahnya. Menuju klinik sekolah. Ketika melewati jalan di seberang lorong kamar mandi, matanya menyipit. Irisnya mengecil, telinganya menegak. Sepertinya ada yang mengadu keberanian dengan berbuat sesuatu di sini.
Kiba menyeringai. Jangan dikira dalam keadaan senang hati ketegasannya akan loyo. Ia berjalan mengendap, suara desahan itu kian kuat.
Rupanya benar apa yang ia sangka sebelumnya.
Kiba menggebrak-gebrak pintu toilet dan bersuara lantang, "Siapa pun di sana, ayo keluar sekarang juga!"
Mendadak terdengar sesuara gemeresak dan lenguhan kepanikan, Kiba tertawa dalam hati. Namun mimiknya ia pasang serius. Alisnya berkernyit, sorot mata jua tajam.
Tak lama, keluarlah dua sosok murid yang menjadi tersangka penggerebekannya kali ini. Kiba berdehem, lantas menggelengkan kepala.
"Apa yang kalian lakukan di dalam sana, saya tidak perlu tahu. Yang pasti kalian berdua, ke ruang konseling sekarang juga!" geramnya.
Murid laki-laki di hadapannya justru memandang sengit, seolah tidak terima dengan perlakuan sang guru.
"Pak Guru, urus saja urusanmu sendiri! Untuk apa kau ikut campur urusan kami."
Delikan tajam lantas Kiba berikan. Apa katanya? Ikut campur urusan mereka?
"Deidara! Ini bukan yang pertama kali saya menegur kamu karena berbuat hal seperti ini di sekolah! Kamu bilang ikut campur urusan kalian? Tolong diingat! apa pun yang kalian lakukan di sekolah, itu menjadi urusan para guru! Sekarang cepat ke ruang konseling!"
Akhirnya mereka menurut, meski berjalan dengan enggan. Tak perlu Kiba mengantar, mereka sudah cukup paham apa konsekuensinya membuat masalah dengan guru Matematika satu ini.
"Deidara!" panggil Kiba.
Pemuda berambut pirang itu menoleh malas.
"Resleting celanamu," ujar Kiba sembari sekuat tenaga menahan tawa.
Deidara memerah malu.
Kiba berbalik dan melanjutkan langkahnya ke klinik. Rautnya kembali menyerikan cerah ceria.
Pria itu menggeser pintu klinik, "Hina … Yamanaka?"
Sepasang alisnya bertaut heran. Kenapa gadis itu ada di klinik?
"Ahh Pak Guru, Bu Dokter Hinata izin tidak masuk hari ini, jadi saya ditugaskan untuk menggantikannya," ujar Ino sembari memain-mainkan pulpen di sela jemarinya.
Kiba mengangguk, tapi masih belum beranjak pergi. Sebagai seorang guru yang memiliki kepedulian tinggi terhadap sekolah, tentu Kiba tahu, Yamanaka Ino adalah satu dari beberapa siswa yang pernah diikutsertakan dalam pelatihan kesehatan, untuk ditunjuk sebagai petugas klinik. Saat-saat seperti ini misalnya, mereka yang memiliki sertifikat pelatihan tersebut bergantian bertugas.
"Pak Guru sakit apa?" tanya Ino penasaran.
Walaupun jarak tidak terlalu dekat, Kiba masih mematung di dekat pintu sedangkan Ino duduk di meja dokter, sang guru masih bisa melihat mata bulat yang berpendar penasaran.
"Tidak, hanya ada keperluan dengan Hinata," ujar Kiba, kakinya berjalan mendekati meja dokter, dan akhirnya ia duduk di depan Ino.
Kiba menyandarkan punggungnya.
"Sampai mengorbankan jam mengajar? Tumben sekali, sangat tidak Pak Guru sekali," sinis Ino.
Gadis itu kembali berkutat pada soal-soal rumit di meja. Ketika bertugas seperti ini, otomatis para petugas klinik akan mendapat dispensasi berupa tugas di luar jam pelajaran.
Kiba menatap anak didiknya itu heran. Bahkan sejak kejadian saat itu, hubungan mereka berdua tidak berubah. Kiba tidak menurunkan porsi ketegasannya hanya karena sejumlah uang yang diberikan oleh para siswa. Kendati demikian, ia tetap memiliki cara sendiri untuk mengucapkan terima kasih, dan para siswa tentu memahami hal itu.
"Hari ini jam mengajarku sudah selesai Yamanaka."
Ino hanya membulatkan mulutnya. Matanya tak beranjak dari deretan kata-kata dalam bahasa asing yang membuatnya pusing tujuh keliling. Belum lagi keberadaan guru Matematika itu di sini, mengganggu konsentrasi saja. Tidak munafik, sejak sang guru mengucapkan terima kasih secara pribadi kepadanya di perpustakaan, jantung gadis ini suka mendadak salto ketika berpapasan.
"Flew bukan flied," ujar Kiba tiba-tiba.
Ino mendongak, sebelah alisnya meninggi. Lalu dilihatnya telunjuk Kiba mengarah pada tugas yang sedang ia kerjakan.
"Bentuk past dari fly itu flew, bukan flied."
Ino terpaku. Apa guru Matematika ini pintar Bahasa Inggris juga?
"Aku tahu aku tampan, tapi tidak perlu sampai seperti itu Yamanaka."
… dan pintar merayu juga?
Ino mendengus, matanya kembali fokus pada jawaban yang tadi dikoreksi Kiba.
"Pak Guru, apa merayu itu termasuk hal yang boleh dilakukan di sekolah?"
Kiba mengernyit, "Apa maksudmu?"
"Pak Guru baru saja merayuku! Demi Tuhan, bahkan Pak Guru suka menegur kami yang sedang pacaran di sekolah!" ujar Ino geram.
Kegeramannya semakin menjadi tatkala dilihatnya Kiba menyeringai.
"Aku tidak merayu, Yamanaka. Kau pikir yang baru saja itu rayuan?"
Kiba beranjak dari tempat duduknya. Tidak etis juga berada di klinik yang sepi, hanya berdua dengan anak didiknya.
"Tunggu, Pak Guru mau ke mana?"
Gadis itu tidak terima, hati eh harinya sudah dibuat kacau lalu si pelaku mau melarikan diri begitu saja.
"Ke ruang guru tentu saja. Aku kemari untuk menemui Hinata, bukan kamu."
Gigi Ino bergemeletuk menahan emosi. Kala pintu klinik sudah tertutup sepenuhnya, ia berteriak.
"Pak Guru sialan!"
Tanpa mengetahui, Kiba masih berdiri di balik pintu dan tertawa.
.
.
.
Hujan turun hari ini. Awan gelap terlihat berkumpul di ufuk. Petir bersahut-sahutan. Ino mendongak cemas. Ia tidak membawa payung hari ini, padahal harus berjalan dari sekolah ke halte terdekat. Sementara seluruh temannya sudah meninggalkan sekolah sejak tadi.
Berulang kali gadis itu merutuk. Salah siapa ia terlalu terlena membersihkan ruang klub Ikebana? Ya mau bagaimana lagi, ia yang sudah terlalu cinta pada klubnya tidak tega melihat ruang klub yang masih berantakan, sementara para anggota malah berpamitan pulang.
"Kau yakin?"
"Tidak masalah, Kiba."
Telinga Ino menegak mendengar suara yang sangat dikenal. Bergegas ia bersembunyi di balik pilar dinding yang paling besar. Matanya membulat, baru saja Kiba dan Hinata berjalan melewatinya. Kemudian ia memicing curiga, sedang apa mereka berdua?
"Baiklah, hati-hati di jalan ya."
Hinata mengangguk dan pergi, meninggalkan Kiba yang masih berdiri. Apa guru Matematika itu menyukai Dokter Hinata? Atau malah mereka berpacaran seperti yang digosipkan. Ino memang sering mendengar teman-temannya yang membicarakan kedekatan kedua guru itu, pun tentang Kiba yang acap bersambang ke klinik.
Setelah Kiba tak terlihat, Ino berjalan kembali ke ruang klub. Mungkin ia akan menunggu hujan reda di sana. Dalam perjalanan Ino membuka ponselnya, mengetikkan pesan permintaan maaf pada pemilik toko kue tempatnya bekerja sambilan.
Tatkala ia baru saja membuka pintu ruang klub, sebuah tepukan di bahu mengejutkannya.
"Ya Tuhan, Pak Guru membuatku jantungan!" teriaknya.
Kiba terkekeh, tidak menyangka Ino akan sekaget ini.
"Kau belum pulang?"
Ino menggeleng, lantas masuk ke ruang klub. Dilihatnya Kiba masih berdiri di ambang pintu. Apa pria itu tidak mau masuk?
"Aku tidak membawa payung. Pak Guru tidak mau masuk?"
Awalnya Kiba ragu, tetapi lalu tak acuh. Toh ini sudah di luar jam sekolah. Pria itu masuk dan duduk di salah satu kursi. Matanya berpendar melihat seisi ruang klub. Beberapa bunga segar bertumpuk rapi di sudut ruangan, harumnya terendus hidung sensitifnya. Kursi-kursi berjajar rapi, sementara di bagian belakang, ada satu lemari kayu besar mungkin tempat menyimpan alat-alat.
"Rapi sekali, kau yang membersihkannya?"
Ino mengangguk, gadis itu tampak nyaman-nyaman saja duduk di bawah sembari menuliskan daftar perlengkapan yang harus ia beli untuk klub.
"Pak Guru kenapa belum pulang?" tanya Ino tanpa beralih dari kesibukannya.
"Ada beberapa hasil kuis yang belum selesai aku periksa, dan aku bukan tipe orang yang suka membawa pekerjaan ke rumah."
"Uhm … tidak masalahkah Bapak pulang malam?"
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu."
Ino menggeleng, "Aku sudah memberitahu ayah."
Selanjutnya hening, Ino yang masih sibuk dengan pekerjaan mendadaknya tentu saja tidak keberatan dengan kesenyapan itu. Namun, ketika dirasa terlalu lama tak ada suara, Ino menengok ke belakang dan menemukan sosok sang guru tengah tertidur dalam posisi duduknya.
Mengabaikan aturan dan etika, gadis itu mendekati sang guru. Menilik wajahnya yang begitu polos, Ino tersenyum. Siapa sangka, di balik ketegasannya yang terkadang menakutkan, Inuzuka Kiba memiliki sisi lain saat sedang tidur.
"Mungkin kalau Pak Guru seperti ini kepada kami, akan banyak yang menyukai Pak Guru."
Namun Ino menggeleng pelan, tidak … tidak perlu polos seperti ini pun sudah banyak murid perempuan mengaguminya.
Terlalu terpaku menatap rona damai itu, Ino tidak sadar, tangannya sudah terangkat dan menyibak poni Kiba yang menutupi dahi. Hingga sang gadis hanya mampu mematung, sangkala kelopak mata gurunya perlahan terbuka.
Bagai Khronos datang menghentikan perputaran waktu, tak ada yang bergerak. Keduanya sama-sama terpaku, tenggelam dalam senyap yang mencekam. Pasang iris menatap. Bukan terpesona, melainkan dilanda kebingungan mau melakukan apa. Saat seperti ini bukan saat yang tepat untuk mengatakan, "Sike! Got you!"
Ino yang lebih dahulu sadar, menarik tangannya. Sedikit berjanji dalam hati untuk memberi pelajaran pada tangan kurang ajar ini. Lalu Kiba, menegakkan tubuh. Tangannya mengusap wajah, berharap tidak ada hal memalukan di sana.
"Maaf aku tertidur," ujarnya.
Ino menggeleng kikuk, "Ti … dak masalah Pak Guru. Ehm hujannya belum reda, tapi sepertinya aku akan pulang saja."
Ya, Ino tidak butuh kejadian tambahan yang bisa membuat rasa malunya menyeruak tak tertahan. Gadis itu mengambil tasnya.
"Kau yakin? Hujannya masih deras dan kau tidak membawa payung," ujar Kiba.
Pria berambut cokelat itu ikut berdiri. Keluar dari ruang klub, keduanya berjalan beriringan.
"Tidak masalah."
Namun gadis itu harus menelan kembali pernyataannya ketika sampai di luar sekolah. Tidak mungkin menembus hujan sebesar ini kecuali dia mau cari penyakit. Ino menggigit bibirnya kesal.
"Sudah, di sini saja sampai reda."
Suara Kiba yang sarat ledekan itu membuatnya mendelik tak suka. Apa gurunya itu tidak sadar, hanya berdua seperti ini bisa menimbulkan sensasi yang sangat tidak Ino inginkan.
Bayangkan sendiri! hujan deras, berdua saja di dalam sekolah yang sepi.
Kiba menggeleng melihat kekeraskepalaan siswinya itu. Ia meraih tangan Ino dan menariknya masuk lagi.
"Lepaskan!"
"Jangan nekat! Kau bisa sakit kalau bersikeras pulang sekarang. Lagi pula besok hari Sabtu kan, tidak masalah kau pulang terlambat karena hujan."
Ino diam. Nada Kiba barusan tegas, seakan tidak mau dibantah. Gadis itu menurut saja saat Kiba menariknya ke ruang guru.
"Duduklah di sofa, atau kalau kau lelah, tidurlah di sana. Nanti kalau hujan reda, kubangunkan. Aku akan memeriksa hasil kuis di mejaku."
Ino menurut lagi. Toh ia tidak munafik, tubuhnya memang lelah. Ino merebahkan badannya, tetapi enggan tidur. Matanya masih terbuka. Gemuruh di luar sana seirama dengan gemuruh di dalam dadanya.
"Pak Guru."
"Hmm?"
"Apa kau butuh bantuan?"
Kiba melirik Ino yang masih bergeming. Apa gadis itu berusaha untuk mencairkan suasana?
"Tidak terima kasih, aku tidak mau kau mengoreksi hasil kuis teman-temanmu dan mengatrol nilainya."
Ino mendengus. Padahal berniat baik kenapa selalu saja guru itu berprasangka buruk? Gadis itu memutuskan untuk diam.
Namun suasana sepi seperti ini sangat tidak Ino sekali. Maka gadis itu mendesah dan mulai bersuara lagi.
"Apa Pak Guru dan Dokter Hinata berpacaran?"
Ino mendengar suara batuk dari meja Kiba. Tersedak mungkin? Tidak menyangka Ino akan mengeluarkan pertanyaan seperti itu?
"Siapa bilang?" sergah Kiba.
"Banyak yang mengatakan itu. Pak Guru juga suka mengunjungi Dokter Hinata di klinik kan?" jawab Ino.
Tubuh gadis itu membelakangi Kiba, menghadap ke sandaran sofa. Ini posisi ternyaman dan teraman bagi Ino.
Lama dinanti, Kiba tak jua menjawab pertanyaan Ino. Ino mengendikkan bahu. Mungkin tebakannya tepat, gosip itu benar, tapi Kiba masih tidak mau mengiyakan.
Ya sudah, Ino tidak memaksa lagi. Gadis Yamanaka itu memilih mengistirahatkan tubuhnya dan akhirnya tertidur.
.
.
.
"Yamanaka."
Kiba mengguncang pelan tubuh Ino. Gadis itu menggeliat pelan, sebelum mengedarkan pandangannya.
"Mhhh …."
Kiba bernapas lega, gadis ini mudah dibangunkan ternyata. Jadi ia tak memerlukan banyak tenaga.
"Apa hujannya sudah reda Pak?"
Kiba mengangguk.
Setelah berkemas, mereka pun berjalan pulang.
Hujan kali ini cukup lama, sehingga saat keluar dari bangunan sekolah, hari sudah gelap. Kiba menatap langit dengan mendung yang mulai menipis. Pria itu menghela napas lega.
Perjalanan dari sekolah ke halte membutuhkan waktu sepuluh menit. Selama itu pula tidak ada yang mau memulai pembicaraan. Dua-duanya sama-sama diam. Entah canggung, entah memang tidak ada topik yang bisa diperbincangkan.
"Ya Tuhan, aku lapar sekali," keluh Ino.
Kiba melirik gadis itu. Wajar saja, berapa jam mereka tertahan di sekolah, dan sekarang tepat jam makan malam.
"Mau mampir makan dahulu?" tawar Kiba.
"Tidak, aku tidak membawa uang lebih," jawab Ino.
Kiba tersenyum. Gadis ini adalah salah satu muridnya yang istimewa. Penyantun, meski sering menanggalkan sopan santun. Apalagi jika sudah menyangkut dirinya.
"Aku yang traktir."
Ucapan singkat Kiba membuat sang gadis menoleh dengan mata membola. Apa baru saja pria ini mengatakan akan mentraktirnya?
"Tenang saja, aku sudah menerima gajiku yang tertahan kemarin. Jadi aku berencana mengembalikan uang yang kalian kumpulkan, tapi tidak serta merta."
Ino paham, teman-teman sekelasnya juga bercerita ditraktir Kiba makan di kantin sekolah. Saat itu Ino sedang tidak masuk sekolah, jadi dia tidak ikut. Namun, bukan itu yang seharusnya menjadi pikirannya saat ini.
"Ada kedai ramen yang baru buka seminggu lalu, aku sudah mencobanya. Hanya dua halte dari sini," ujar Kiba.
Mereka saat ini sudah berdiri di halte, menunggu bus yang akan membawa mereka pulang.
Melihat Ino yang masih diam, Kiba melanjutkan ucapannya, tanpa menatap.
"Atau kau mau ke Narisawa? Aku pernah ke sana sekali, saat kelulusan dahulu."
Ino mendelik. Narisawa? Restoran yang bisa menghabiskan 15000 yen lebih sekali duduk? Yang benar saja! Apa Kiba serius?
Ino mendongak, melirik raut muka sang guru. Apa Kiba bermaksud membalas budi padanya?
"Aku tidak suka restoran mahal, lebih baik digunakan untuk keperluan lain," jawab Ino lugas.
Kiba menoleh, netranya bersirobok dengan netra akuamarin Ino. Ada sedetak nadi yang nyaris terlewat.
"Tidak masalah, sekali-sekali boleh kan?" tanya Kiba.
Ino menggeleng. Gadis itu tidak mau jika niat Kiba untuk membalas budinya. Ino melakukan itu dengan ikhlas, karena ia paham bagaimana rasanya saat tidak memegang uang sementara banyak kebutuhan yang harus dipenuhi.
"Tidak! untung Pak Guru menawariku, bukan teman-teman sekelas. Bisa-bisa Pak Guru bangkrut," tukas Ino.
Kiba tertawa.
"Tentu saja hanya kamu yang aku tawari sesuatu yang spesial."
Napas Ino tercekat. Namun belum sempat menanyakan maksud Kiba, pria itu keburu menariknya masuk ke dalam bus yang baru saja berhenti di depan mereka.
"Ramen saja kalau begitu," ujar Kiba setelah masuk ke dalam bus.
.
.
.
Kedai ramen yang sederhana, pikir Ino saat memasuki kedai ini. Jumlah pelanggan di sini bisa dikatakan banyak, bahkan jika lambat sedikit saja, Kiba dan Ino mungkin tidak akan mendapat tempat. Selain rasa yang katanya enak, Ino belum pernah merasakan, juga letak yang strategis membuat kedai ini selalu ramai. Sebagian besar dari pembeli adalah orang-orang yang baru saja pulang kantor. Ada beberapa keluarga kecil juga sih, mungkin karena ini Jumat malam.
Ino tersenyum, melihat keramaian seperti ini, ia jadi ingat toko bunga sang ayah saat bulan Februari.
"Sudah menghubungi keluargamu?"
Ino tersentak. Gadis itu kembali disadarkan posisinya yang sedang berdua dengan guru Matematika.
"Sudah."
Kiba mengangguk, "Takut kalau mereka mengkhawatirkanmu."
"Tenang saja Pak Guru, orang tuaku sudah percaya sepenuhnya padaku. Mereka juga tahu aku tidak akan berbuat macam-macam."
Kiba mendengus, "Mereka tidak tahu saja kalau anak gadisnya bercumbu mesum dengan kekasihnya di sekolah."
Ino menatap sengit, masih dibahas juga aibnya yang itu? Padahal ia sudah lama putus dengan Deidara.
"Jangan ungkit-ungkit hal itu! lagi pula enak saja mengatakan aku mesum. Itu namanya passionate Pak Guru, begitu saja tidak tahu."
Kiba memandang murid keras kepalanya itu tak percaya. Passionate katanya?
"Passionate? Itu namanya mesum," rutuk Kiba.
Hampir saja Ino membantah lagi, tapi terpotong oleh pelayan yang membawakan pesanan mereka. Aroma daging yang menguar benar-benar kian membuat perut lapar. Tanpa menunggu lama, mereka berdua makan dengan lahap.
"E ... enak!" seru Ino.
Iras gadis itu merona lantaran panas kuah ramen yang mengalir menghangatkan tubuhnya. Kiba yang melihat itu tersenyum. Yamanaka Ino baginya memang seorang murid, tetapi entah kenapa gadis itu mampu menambah warna dalam hidupnya.
"Pak Guru."
Kiba menghentikan kegiatan makannya. Menatap Ino dengan pandangan bertanya.
"Pak Guru tidak masalah, aku masih pakai seragam? Tidak takut dibicarakan macam-macam? Apalagi kalau sampai ada orang sekolah yang tahu."
Kiba tertegun, sejak kapan gadis di depannya ini memikirkan omongan orang lain? Bukannya ia biasa abai? Di sekolah juga seperti itu kan?
"Memangnya kenapa? Karena kita makan berdua? Apa yang salah dari itu? Lagi pula ini sudah di luar sekolah kan? Aturan sekolah hanya untuk di dalam sekolah, bukan di luar."
Ino diam, jujur saja ia terkejut. Mengapa dirinya tiba-tiba acuh dengan hal semacam ini? gadis itu memilih melanjutkan makan.
"Atau kau tidak suka makan berdua denganku?" tanya Kiba.
Ino menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "Tidak, bukan begitu. Hanya saja kan siapa tahu ada yang menganggap kita guru dan murid yang sedang pacaran."
"Aku tidak keberatan dengan anggapan itu," jawab Kiba lugas.
Ino mematung. Pipinya menuai sepuh merah yang jelas bukan dari kuah panas.
Apa-apaan itu?
.
.
.
A/N:
Tantangan yang berat bagi saya, membuat Kiba yang bukan bad boy. Makanya di cerita ini, makin ke sini, Kibanya makin blatant XD
.
.
.
"Kenapa Pak Guru berbeda sekali hari ini?"
"Hmm? Tidak juga, mungkin perasaanmu yang berbeda, makanya kau melihatku dari sisi yang lain."
"Iya, terserah saja. Terima kasih traktirannya Pak Guru, terima kasih juga sudah mengantarku sampai rumah."
"Tidak masalah."
"…."
"Yamanaka?"
"Hmm?"
"Sabtu malam kau ada acara?"
.
.
.
Bersambung
