A/N:
Can't help myself to continue the story XD
Saya suka yang manis-manis soalnya. Kan daripada saya bayang-bayangin mulu lanjutannya, lebih baik saya tuangkan dalam cerita.
Disclaimer:
Karakter yang dipakai dalam cerita ini diambil dari Naruto karya Masashi Kishimoto
ForgetMeNot09
presents
.
.
.
Pak Guru Kiba
.
.
.
Ino menggigit bibir tampak ragu. Tak henti menatap penampilannya sendiri. Loose top ungu yang terhenti tepat di atas pusar, bertumpuk dengan kaus putih tanpa lengan di bagian dalam. Celana jin putih membalut dari pinggang sampai betis. Flatshoes senada membungkus kakinya. Tinggal menyemat sedikit lipgloss persik pada bibir, gerai rambut dan beri penjepit warna ungu di dekat pelipis kanan, sempurna!
Ino tersenyum. Sudah cukup kan begini saja? Padahal, pada hari-hari yang lalu, ketika keluar dengan mantan-mantan pacarnya, Ino selalu berdandan heboh. Polesan make up bahkan pemerah bibir yang paling merah pun pernah dia kenakan.
"Ini kan bukan pacar, cuma guru kesepian yang minta ditemani," gerutu Ino.
Selekas Ino keluar kamar, sang ayah memanggil. Mengatakan tengah ada seseorang yang menunggu di toko.
Ino bergegas turun.
"Sepertinya ayah kenal orang itu, tapi lupa di mana ayah mengenalnya. Siapa dia Ino?" tanya sang ayah.
Mata Ino mengelilingi ruangan, tak mampu menatap mata sang ayah. Untung saja, jika ibunya yang ada saat ini, bisa dipastikan pertanyaan yang dia terima tak sebatas "Siapa itu?".
"Iya Ayah, ng … aku pergi dahulu Ayah!" teriaknya sambil berlari keluar.
Ino menutup pintu toko perlahan, menimbulkan derit lemah. Tepat di samping pintu, Inuzuka Kiba berdiri. Tatapannya terpaku pada riuh jalanan kota. Ino mematung, menatap penampilan gurunya yang jauh dari kata formal. Kaus putih polos yang melekat longgar pada tubuh pria itu, terselangkup kemeja army lengan panjang yang sengaja tidak dikancingkan, celana jin biru serta sepatu sport hitam. Tambah lagi … apa rambut berantakan menjadi lazim bagi guru Matematika ini?
Ino nyaris tak mampu meneguk ludah, kerongkongan bagai terasa sakit. Untunglah, Kiba masih belum menyadari keberadaannya.
"Pak Guru," sapa Ino sembari menepuk lengan sang pria. Kiba menoleh lantas tersenyum.
"Kukira akan lama menunggumu dandan. Bukannya kamu tipe gadis yang suka boros makeup?" ujar Kiba.
Mereka berjalan menuju stasiun kereta. Melewati gegap jalanan yang penuh pasangan muda dan mudi. Ino melirik jengkel, tidak terima mendengar sang guru mengatai dirinya boros.
"Enak saja boros! Aku ini pandai menempatkan apa yang perlu dan apa yang tak perlu Pak Guru. Memangnya Pak Guru siapaku, sampai aku harus berdandan?" ledek Ino.
Sayangnya tak mendapat jawaban. Kiba berjalan di depannya, kedua tangan dimasukkan dalam saku celana. Menggerutu tak jelas, Ino memilih sengaja tidak menyejajarkan langkah dengan Kiba. Entahlah, Kiba terasa berbeda malam ini, tidak seperti saat mereka terjebak hujan kemarin.
"Ugh … tahu begini kan aku tolak saja ajakannya kemarin," rungut Ino.
Tiba-tiba, gadis itu merasakan tangannya ditarik pelan. Netra akuamarinnya membulat, menatap sosok pria jangkung yang menggenggam tangannya erat. Mimiknya pias, pikirannya reuwas, laki-laki ini kenapa pandai sekali membuat jantungnya berbolak-balik tak jelas. Kenapa pandai sekali mencipta perasaan yang kacau.
Mereka terdera keheningan. Sepanjang perjalanan sang ular besi yang membawa mereka ke pusat kota, Ino yang biasa runyam mendadak bungkam. Sepatah kata pun tak dia ucapkan. Gadis itu menatap sinis pada pasangan yang sedang sibuk menempelkan bibir. Hei, ini kendaraan umum, mana boleh kau melakukan hal mesum? Bikin iri yang jomlo saja kan?
"Kita turun di sini," ujar Kiba tiba-tiba.
Ino kaget, bukannya tujuan mereka pusat kota? Kalau tidak salah, masih satu stasiun lagi kan? Namun gadis itu tak mampu membantah. Kiba keburu membawanya keluar kereta.
"Kita mau ke mana Pak Guru?"
"Ada yang harus aku beli, tidak masalah kan?" tanya Kiba.
Ino mengangguk saja. Jujur, ke pusat kota pun ia tidak tahu tujuannya ke mana. Gadis itu hanya menurut saja ke mana sang guru membawanya.
Termasuk saat ini, ketika langkah kakinya berjalan pada lorong stasiun lama yang terlihat gelap. Ino masih diam. Kendati pikirannya kalut, sibuk menerka arah langkah mereka.
"Ketemu!" teriak Kiba.
Ino melihat di depan mata, sebuah toko buku yang berjajar rapi. Beberapa buku ditumpuk di luar, dan diberi label harga. Apa ini? ia tak pernah mengenali tempat ini?
"Toko buku?" gumam Ino.
Kiba mengangguk.
Iris kayu jati sang pria berpendar, mencari sebuah objek yang menjadi tujuan. Sampai akhirnya leret cahaya berbinar padanya. Senyumnya terkembang lebar.
Ino tersenyum melihatnya. Sembari menunggu sang guru selesai, gadis Yamanaka itu melihat-lihat bagian novel misteri. Jangan disangka ia akan membeli, tidak, Ino bukan tipe orang yang gemar membaca. Lebih baik menghabiskan waktu dengan menyiram tanaman atau mencoba resep kue baru di dapur, saat senggang.
"Ayo, sudah selesai."
Ucapan Kiba di belakang mengagih perhatiannya. Netra akuamarin Ino melirik bungkusan kertas cokelat yang di dalamnya ada sebuah kertas hias. Kado? untuk siapa?
"Apa Pak Guru baru saja membeli kado?" tanya Ino.
"Iya, kado ulang tahun untuk Hinata."
Ino membulatkan mulutnya. Sudah ia duga sebelumnya, bungkusnya saja menggunakan kertas warna warni dan dihias pita, pasti untuk wanita kan?
"Hoo jadi sekarang Pak Guru menjawab pertanyaanku?"
"Pertanyaan apa?"
Kening Kiba berkerut, seingatnya Ino tidak memberinya pertanyaan hari ini.
"Pak Guru dan Dokter Hinata pacaran?"
Entah kenapa nada suara Ino sedikit sinis. Seharusnya Kiba tidak suka itu, tapi pria ini malah tertawa.
"Siapa bilang?"
Ino menggerutu lagi. Namun menolak bertanya lebih jauh. Ya, wajar kan mereka berpacaran. Umur mereka tak terpaut jauh. Pak Gurunya tampan, dan dokter itu juga cantik, memang mereka pasangan yang serasi. Lantas siapa dirinya berani berharap lebih dengan setiap perlakuan dan perkataan sederhana dari seorang Inuzuka Kiba?
"Omong-omong, kenapa Pak Guru memilih toko itu? Bukankah banyak toko buku yang lain?" tanya Ino.
Kiba melirik gadis berambut pirang itu sejenak.
"Itu toko yang menjual buku-buku lama. Sudah tidak diproduksi lagi, dan kau tidak akan menemukannya di toko buku lain," jelas Kiba.
Ino mengangguk, akhirnya ia paham kenapa toko ini banyak pengunjung, padahal letaknya jelas tidak strategis. Buku-buku lama, biasanya adalah buku-buku berkualitas dengan harga yang tak lagi mahal.
"Kereta selanjutnya masih sepuluh menit lagi, kau mau menunggu di stasiun atau di mana?" tanya Kiba.
Ino mendongak, matanya bersitatap dengan mata unik Kiba. Gadis itu menggeleng.
"Apa ada yang Pak Guru cari di pusat kota?"
"Tidak, aku ingin mengajakmu ke Sky Tree, itu kalau kau mau."
Ino merasakan pipinya menghangat, Sky Tree? ah sudah lama Ino ingin ke sana. Namun entah kenapa pacar-pacarnya yang dahulu lebih memilih Tokyo Tower. Gadis itu jadi iri, Sakura yang sudah bolak-balik ke menara yang dikelola oleh Perusahaan Tobu itu. Kenapa Kiba baru mengatakannya sekarang? Saat mood-nya sudah jatuh lantaran kado cantik itu?
"Aku ingin di sini saja, boleh?" tanya Ino, wajahnya dipasang memelas.
Kiba menaikkan sebelah alisnya. Apa gara-gara masalah uang lagi? Padahal biaya tiket hanya 3400 yen per orang, itu tidak mahal kan?
"Bukan Pak Guru, bukan masalah uang. Aku hanya … ingin menghabiskan waktu bersama Pak Guru saja, mau di mana juga terserah."
Ino tak mampu menatap gurunya. Iris hijau pucatnya mengelilingi taman kota di seberang stasiun lama. Banyak juga yang menghabiskan waktu di sini. Lampu-lampu hias yang baru satu bulan lalu terpasang, menambah ramai suasana.
Bulu kuduknya tiba-tiba meremang, tatkala hangat embusan napas Kiba menyentuh lehernya. Pun tangan sang guru yang bertengger di pundaknya.
"Wah, kau berani sekali mengatakan itu, Yamanaka," bisik Kiba.
Namun secepat kilat Kiba menarik wajah dan tangannya, lalu berjalan mendahului Ino.
"Ya sudah, ayo ke taman saja."
Meninggalkan Ino yang kakinya masih terpaku pada jalanan.
.
.
.
Seperempat malam mereka berdua habiskan di taman. Membicarakan apa pun, bahkan sampai kepada masalah politik, demi menghindari kecanggungan. Kadang-kadang terdiam, menatap banyaknya pasangan kekasih menghabiskan waktu di sini. Apa hanya mereka yang tidak berstatus pacaran? Anehnya lagi, status guru dan murid, mungkin jika orang-orang itu tahu, mereka akan menertawakan.
Tiba-tiba mata Ino menangkap sekelebat bayangan yang dikenal. Gadis itu memicingkan mata, menajamkan pandangan, meyakinkan diri tentang sosok wanita yang baru saja memasuki restoran di seberang jalan.
"Dokter Hinata," lirihnya.
Kiba menoleh, menatap Ino bingung sebelum mengikuti arah pandangnya. Matanya melebar, ya itu Hinata. Bukankah dia bersama dengan ….
"Toneri," ujar Kiba.
Ino menoleh, melihat raut sang guru yang terlihat pucat. Lekas gadis itu menyesali diri. Kenapa harus mengucapkan nama Dokter Hinata dan membuat Kiba mendengarnya. Sekarang pria itu melihat, wanita yang disukainya sedang menghabiskan waktu bersama pria lain.
"Apa Pak Guru cemburu?"
Ino tidak dapat menahannya sungguh. Dia bahkan tidak bisa berpikir, kenapa sampai terlontar pertanyaan itu dari mulutnya. Namun, di luar dugaan, yang ia terima justru tatapan bingung dari Kiba.
"Cemburu? Siapa?" tanya Kiba.
Ino memutar bola matanya. Sudah terkuak kenapa masih berkilah? Pemandangan di depannya ini jelas kan? Kiba sedang menatap sedih pasangan jauh di sana?
"Pakai ngeles, itu Pak Guru cemburu melihat Dokter Hinata dengan laki-laki lain kan?"
Sejenak hening, lantas Kiba tertawa. Sebelah tangannya terangkat dan mengacak-acak rambut pirang sang gadis. Menuai reaksi cemberut pada iras Yamanaka Ino.
"Jangan suka menarik kesimpulan dari hal-hal yang kebetulan terjadi," tukas Kiba.
Pria itu beranjak, memiringkan tubuhnya dan tersenyum melihat Ino mengerucutkan bibir sambil merapikan rambutnya.
"Kau tidak lapar?" tanya Kiba.
Ino mengerling tajam, "Lapar!" ujarnya sengit.
Kiba tertawa, diulurkan sebelah tangannya pada Ino. Sayang, gadis itu mengabaikan dan memilih berjalan dahulu.
Jika diingat-ingat, Sakura pernah merekomendasikan kedai kopi di tikungan menuju stasiun. Kedainya memang kecil, nyaris tak terlihat, tetapi menu yang disajikan bervariasi. Ino berjalan lurus dengan cepat, tak acuh seandainya sang guru bahkan tidak mengikutinya. Dia sudah terlanjur malas dipermainkan oleh pria Inuzuka itu.
"Selamat datang."
Lho? Rasanya dia kenal suara ini? Gadis itu ternganga melihat seseorang yang dikenalnya di balik meja pesanan.
"Ino? Wah tidak kusangka kau datang kemari."
Itu Naruto! ini gawat! Dengan cepat Ino berbalik, sebelum Kiba sempat masuk ke kedai ini dan membuat gempar dunia. Namun sayang, dia terlambat. Kiba berdiri tepat di belakangnya, baru saja masuk.
"Pak Guru Kiba?" teriak Naruto.
Pemuda bermata biru itu menatap tidak percaya. Apa ini? teman sekelas dan guru Matematikanya datang berdua? Sedang kencan kan? Mereka kencan? Naruto nyaris pingsan.
Kiba terkejut, "Uzumaki? Kau bekerja di sini?"
Ino mendelik, bukannya lari Kiba malah mendekati bocah pirang itu dan berbasa-basi. Apa Kiba tidak tahu, bagaimana ember-nya mulut Naruto? Bagaimana jika setelah ini tersebar gosip tidak baik tentang mereka berdua?
"Betul Pak Guru, kedai ini milik sepupuku. Jadi? apa kalian sedang berkencan?"
"Tidak!"
"Ya begitulah."
Ino menatap tajam gurunya. Apa maksudnya dia menjawab "Ya begitulah."
"Memangnya boleh guru pacaran dengan murid? Bukannya kau biasa tegas soal aturan Pak Guru?" tanya Naruto.
Suaranya yang cempreng sedikit menganggu pendengaran, dan lantas saja ia mendapat teguran.
"Naruto! kerja yang benar!"
Teriakan dari dalam membuat Naruto cengar-cengir.
"Tuliskan pesanan kalian di sini, nanti aku antar ke meja kalian ya."
Ino mendengus, kakinya mengentak lantai, berjalan menuju salah satu meja kosong di dekat jendela. Baguslah, dengan begini, dia bisa mengamati suasana di luar, tidak monoton pada manusia-manusia yang sedang bermesraan.
Sang gadis melirik, ketika Kiba duduk di hadapannya. Jujur, Ino sedang tidak ada mood untuk berbincang lagi. Semuanya luruh sejak di taman tadi.
"Kamu marah?" tanya Kiba.
Heh sejak kapan Ino marah sebab hal tak jelas.
"Tidak, kenapa Pak Guru bilang begitu?" ujarnya bertanya balik.
Kiba tersenyum, "Katakan saja, karena aku tidak akan tahu alasan kenapa kamu marah kalau kamu tidak mengatakannya."
Ino bergeming. Dalam hati ia menyesal. Kenapa harus bersikap laiknya gadis lain yang kekanakan? Bukankah Yamanaka Ino adalah gadis paling tegar sepanjang masa? Dia tak pernah dibuat lemah hanya karena masalah sepele. Lagi pula, Kiba memang tidak salah apa-apa kan?
Ino menghela napas dalam.
"Tidak, maafkan aku Pak Guru. Aku tidak marah, mungkin kesal saja," jawab Ino.
Gadis itu membalas senyuman Kiba, kali ini tulus ia derma. Selengkung kurva yang menyemat bibirnya manis. Tanpa tahu, tingkah sederhana itu membuat dada sang guru bergemuruh.
"Ini kopinya."
Naruto meletakkan dua gelas kopi pekat panas dan dua pisin kue ke meja. Matanya berbinar jenaka, seakan menggoda.
"Jangan macam-macam Naruto! Kami tidak berkencan, aku hanya menemani Pak Guru membeli kado untuk Dokter Hinata," tukas Ino.
Naruto mengernyitkan dahi, lantas terlihat kecewa.
"Kau kecewa karena niatmu untuk menyebar gosip gagal?" ledek Ino, gadis itu tertawa melihat reaksi temannya yang semakin kecut.
"Bukan itu Ino! Aku kecewa karena Dokter Hinata dan Pak Guru ternyata benar pacaran."
"Hee? Kau masih berkhayal bisa memacari Dokter Hinata?"
"Hei enak saja mengataiku berkhayal, Babi! Akan kubuktikan suatu saat nanti kalau aku bisa mendapatkannya."
Naruto berlalu, meninggalkan Ino yang masih tertawa. Sementara Kiba tersenyum geli melihat interaksi mereka.
"Jadi Naruto menyukai Hinata?" tanya Kiba tiba-tiba.
Ino menghentikan tawanya seketika. Rautnya berubah cemas.
"Ah … iya, tapi Pak Guru tenang saja, tidak mungkin bisa, Dokter Hinata yang sudah dewasa melirik bocah cerewet itu kan?" ujar Ino sembari melambaikan kedua tangannya di depan wajah.
"Siapa bilang, buktinya aku yang sudah dewasa juga melirik gadis cerewet yang sedang berkilah di depanku."
Yamanaka Ino bungkam.
.
.
.
Setelah menghabiskan santapan dalam kesenyapan, mereka keluar kedai. Tentu saja setelah Ino mengancam Naruto untuk tidak menyebarkan gosip macam-macam.
Keduanya berjalan, beriringan. Tak berani bertaut tangan. Tatapan lurus pada jalanan, dengan berbagai carut marut menghiasi pikiran. Satu waktu saat terjebak hujan di sekolah, sudah mampu membuat Ino gelisah. Pun pada sangkala ini, suasana hati gadis itu kian resah.
Netranya melirik sang pria. Roman Pak Gurunya terlihat datar, biasa saja. Seolah apa yang terjadi pada mereka berdua, seolah apa yang terkuak dari bibirnya, adalah hal lasak yang tak melibatkan hati. Ino menekan dadanya yang terasa sesak. Apa yang sebenarnya kau rasakan Pak Guru? Kenapa senang sekali membuat mood jumpalitan tak keruan?
"Ada tempat yang ingin kau tuju?"
Suara Kiba terdengar parau, menuai keheranan Ino.
"Tidak, sudah kubilang kan, aku hanya ingin mengha …."
Ino menghentikan ucapannya saat sadar apa kelanjutan dari kata-kata itu. Sudah cukup perasaannya terombang-ambing malam ini. Dia tak mau menambah lagi.
Kiba melirik jam tangannya, pukul 9.30 malam. Sudah melampaui jam malam seorang gadis kan? Ya, meskipun Kiba tahu, hampir seluruh gadis di kota ini sudah tidak lagi mengikatkan diri pada jam malam. Namun, jiwanya sebagai seorang pendidik, mengungkapkan yang sebaliknya.
"Ya sudah, kita pulang saja ya. Sudah malam, tidak baik seorang gadis keluar hingga larut malam," ujarnya.
Ino tercenung. Malam katanya? ini masih sore. Hell saat pacaran dengan Hidan bahkan dia pernah pulang sampai jam 1 malam. Orang tuanya memang tidak mempermasalahkan itu. Mereka terlalu baik untuk menaruh curiga kepada sang anak.
Gadis itu diam tak bersuara. Langkahnya menurut saja saat Kiba menariknya masuk ke stasiun. Bahkan di dalam kereta, keduanya masih betah dengan benak masing-masing. Entahlah, Ino tak pernah merasa secanggung ini sebelumnya.
Biasanya, Ino tak pernah betah dengan yang namanya keheningan. Namun malam ini, sepanjang perjalanan pulang ini, gadis itu lebih merasa nyaman dengan hening. Jika biasanya dia akan sedih ketika waktu kencan berakhir, alih-alih ia merasa lega ketika sampai di depan rumahnya.
"Pak Guru, terima kasih," ucapnya.
Ino mendongak, mempertemukan pandangan dengan Kiba. Pria itu hanya diam, masih menatap dengan tatapan yang sulit diartikan, mengagih kernyitan heran di dahi Ino.
"Aku yang seharusnya berterima kasih, terima kasih sudah menemaniku, Yamanaka," jawab Kiba seraya tersenyum.
Ino mengangguk, gadis itu sudah berbalik tatkala merasakan lengannya ditarik. Ino menoleh.
"Selamat malam, mimpi indah ya," ujar Kiba.
Pria itu menyeringai. Sebelah tangannya yang bebas mengacak-acak kepala Ino. Lantas dia berbalik, berjalan menuju rumahnya sendiri.
Ino lagi-lagi bergeming. Inginnya menenteramkan detak jantungnya yang berdebar terlampau kencang.
Sangkala bayangan Kiba sudah tak terlihat, dan kesadaran kembali padanya, gadis itu berteriak.
"Pak Guru sialan! Kenapa kau selalu saja mengacak-acak rambutku huh?"
Rona merah tak terelak, menyemai sempurna wajah cantiknya.
Pak Guru Kiba
Dia berjalan gontai di antara selasar bangunan sekolah, diselingi kegiatan menguap lebar. Matanya masih mengantuk sesiang ini. Salahkan Pak Gurunya yang mampu membuat dunianya yang tenang, ricuh. Malam-malam yang seharusnya ia habiskan dengan terlelap damai, malah ia nikmati dengan terjaga dan berguling-guling di kasur. Hampir pagi ketika akhirnya sang mata mau menutup. Tentu saja tidak lama, lantaran ia harus terbangun oleh suara ibunya di depan kamar yang berteriak-teriak tentang rezeki dipatok ayam. Sudah seminggu ini berjalan dan belum ada perubahan lagi pada siklus tidurnya.
Selama di sekolah, Ino memang dengan sengaja menghindari Kiba. Saat pelajaran Matematika, gadis itu memilih menjadi murid baik dan tidak menarik perhatian demi mengurangi risiko bermasalah dengan sang guru. Bahkan setiap tugas diberikan, Ino akan langsung mencari Shikamaru untuk diajarkan cara menyelesaikan tugas itu. Sedangkan untuk tugas menjaga klinik, dia meminta Sakura menggantikan, dengan dalih ada banyak pesanan di toko kue sehingga dia harus memanfaatkan waktu di sekolah untuk mengerjakan tugas. Karena Ino paham, Kiba sering bertandang untuk menemui Hinata.
Berkali-kali pula pada setiap kesempatan, Sakura menyikut pinggangnya dan berbisik, "Pak Guru memperhatikanmu.", tetapi Ino tak acuh. Peduli setan, dia tidak mau mencari masalah dengan hatinya lagi. Yang sedikit menggelikan adalah Naruto. Pemuda itu seperti gatal ingin meledek, tetapi rupanya masih takut dengan ancaman tidak main-main yang Ino berikan. Menuai tawa geli dalam hati Ino.
Intinya, gadis pirang ini benar-benar menghindari kontak dengan Pak Guru Kiba.
Bahkan kemarin, ketika hendak ke toilet, Ino melihat Kiba. Guru Matematika itu tengah mengawasi renovasi di bagian toilet laki-laki. Ino menggerutu, dan memilih menahan hajatnya daripada harus berpapasan.
Apa pun Ino lakukan untuk menyeka bayangan Kiba dari pikirannya, agar hidupnya kembali normal. Seperti hari ini contohnya, Ino lupa kalau ada tugas Kimia. Setelah sampai di kelas pagi tadi, gadis itu malah merebahkan kepalanya ke meja. Berakhir dengan Anko yang menyuruhnya keluar kelas dan mengerjakan tugas makalah di perpustakaan. Ketika sampai di depan perpustakaan, Ino malah bergelayut pada daun pintu. Menuai deheman keras penjaga perpustakaan.
"Kau terlihat mengerikan Yamanaka!"
Ino tak acuh, dia melangkah melewati meja Kurotsuchi dan melambaikan tangan. Berjalan melewati deretan rak berisi buku-buku, dan berhenti di meja favoritnya. Meja yang terhalang rak tinggi di sudut ruangan. Gadis itu mulai sibuk menuliskan tugas yang diminta oleh Mitarashi Anko.
.
.
.
"Tumben sekali Kiba. Berkeliaran di jam istirahat? Kau tidak ke kantin?"
"Tidak, aku sudah kenyang Kurotsuchi."
"Omong-omong, aku dengar permasalahanmu sudah selesai?"
"Iya."
"Syukurlah. Lalu, kau mencari apa?"
"Apa buku Matematika Dasar untuk Engineer masih ada? Aku membutuhkannya. Kuharap buku itu tidak dibuang hanya karena tampilannya yang sudah tidak layak."
"Oh tidak, tenang saja Kiba. Nyonya Tsunade menyuruhku menyimpannya di rak belakang."
"Syukurlah."
Percakapan itu sama sekali tidak masuk dalam pendengarannya. Ino terlalu sibuk merangkai kata untuk dijadikan tulisan yang mampu membungkam mulut Mitarashi Anko. Jelas dia kesal, baru sekali ini dia tidak mengerjakan tugas Kimia, tapi guru wanita itu berkata seolah Ino ini pembuat masalah di sekolah.
"Mungkin dia sedang PMS," gumamnya.
"Siapa yang sedang PMS?"
Ino terlonjak. Diliriknya si pemilik suara yang ternyata berdiri di depannya. Ya Tuhan kenapa orang ini lagi? Tak bisakah hidupnya kembali kepada ketenangan?
"Bukan urusan Pak Guru," tukas Ino.
"Oh ... kamu yang sedang PMS."
Kiba tertawa. Entah perasaannya saja atau gadis ini jadi semakin galak. Dilihatnya Ino yang tengah membolak-balik buku tebal di meja.
"Tugas remedial?" tanya Kiba.
"Bukan, hukuman karena aku tidak mengerjakan PR," jawab Ino tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Tumben, tidak biasanya kau berulah dengan pelajaran selain pelajaranku."
Ino mendengus. Dia sedang tidak ingin meladeni pria yang sudah membuat rancu hidupnya. Inginnya seperti itu, tetapi Kiba malah mendaratkan pantat di sebelah Ino. Ino memutar matanya bosan. Apalagi kali ini?
"Kau tidak ada kegiatan klub kan hari ini?" tanya Kiba.
Minggu ini memang seluruh kegiatan klub ditiadakan karena pihak sekolah sedang fokus untuk penyelenggaraan pentas seni.
Ino merasa detak jantungnya kembali dipacu. Untuk hal sesederhana itu, Kiba bisa mengacaukannya?
"Tidak," jawabnya singkat.
"Pulang sekolah nanti, mau menungguku sebentar?"
Pertanyaan Kiba membuat Ino mendongak, tak bisa memungkiri warna merah yang mulai merambat di pipinya.
"Untuk apa?"
Sejujurnya Ino geram, dia sudah tidak mau lagi perasaannya dipermainkan.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," jawab Kiba.
"Tidak bisa, aku harus ke toko kue."
"Uhm … baiklah, tidak usah menungguku. Aku saja yang menyusulmu nanti."
"Kenapa Pak Guru memaksa sekali sih?" tanya Ino sambil menutup buku teksnya kasar.
Kiba yang melihat itu hanya menatap bingung. Dia salah ya? Lantas pria itu teringat kembali dengan perkataan Hinata di klinik tadi pagi.
"Jangan membuatnya salah sangka, kau bisa membuat posisi kalian semakin sulit."
Sang guru tersenyum lalu tertawa, lupa bahwa mereka tengah berada di perpustakaan. Untung saja tidak banyak siswa berkunjung saat ini.
Kiba meraih puncak kepala Ino dan memberai-beraikannya. Gadis itu tidak berteriak seperti biasa, hanya menyingkirkan tangan Kiba sekuat tenaga.
"Aku ingin mengganti waktu itu yang kesannya kau hanya mengantarku," ujar Kiba.
Sungguh, menatap iris hijau Ino yang menguarkan rasa penasaran, membuat jantungnya mencelus. Entah sejak kapan Yamanaka Ino mampu mengacak-acak hatinya, membuat keakuannya goyah saat berada di hadapan sang gadis. Stigma tegasnya sedang dipertaruhkan sekarang, maka dengan berhati-hati, Kiba menilik keadaan sekitar, memastikan bahwa posisi mereka cukup aman, tersembunyi dan tidak ada yang melihat.
Sebelum akhirnya pria itu mendekatkan wajahnya pada wajah Ino ...
"Bagaimana?"
... dan lekas menarik tubuhnya menegak.
Ino mematung, hanya sesaat.
Kala Ino hendak mendebat lagi, suara ramai derap langkah kaki terdengar. Sepertinya jam istirahat telah usai, dan anak-anak mendapatkan tugas mencari referensi di perpustakaan.
Kiba berbisik terakhir kali, "Lepas kerja paruh waktumu, ya, Yamanaka."
Lantas melenggang pergi menyisakan sang gadis dengan segala carut-marut perasaannya.
..
Pak Guru Kiba
"Kita mau ke mana Pak Guru?"
Ino tak henti bertanya. Sejak awal mereka keluar bersama dari toko kue, tak sedikit pun Kiba mengatakan tujuannya. Pria itu cenderung diam, berjalan seakan sedang sendirian. Awalnya Ino sedikit tidak nyaman dengan keadaan ini. Namun, jika dipikir lagi, bukankah ini menguntungkannya? Bukankah sejak awal dia memang menghindari Kiba?
Gadis itu menatap langkahnya melalui depak flatshoes. Sejeda berlalu, ia mendongak dan menatap. Punggung sang pria nyaris tertutup tas gitar, tetapi Ino masih dapat melihat, kemeja lengan panjang yang membalut bagian atas tubuh jangkung itu. Gadis itu tersenyum, apa memang begini gaya seorang Inuzuka Kiba? dan jika boleh jujur, Ino lebih menyukai gaya Kiba yang santai dibanding pakaian formalnya di sekolah.
Kala diperhatikan, mereka laiknya sepasang kekasih yang tengah bertengkar. Berjalan beriringan dengan jengkal satu meter, tak satu desibel pun suara teragih. Seakan menambah senyap pada jalan yang lengang.
Taman Yoyogi?
Ino menggerak-gerakkan tangannya tak nyaman. Untuk apa Kiba membawanya ke sini?
Dilihatnya pria itu berjalan, melewati pohon-pohon Sakura yang berjajar dan diberikan penerangan sewarna. Indah sekali taman ini saat malam hari. Ino tersenyum, sudah lama dia tidak ke Yoyogi pada malam hari. Lebih sering waktunya dihabiskan untuk mengunjungi tempat-tempat yang dekat rumah.
Saking terpakunya gadis itu menatap warna warni lampu, tidak sadar Kiba sudah jauh meninggalkannya. Pria itu berdecak kesal saat menyadari Ino tidak ada di belakangnya. Dengan langkah cepat Kiba kembali dan menarik tangan Ino, menuai keterkejutan dari sang gadis.
"Pak Guru?"
"Di sini saja, tidak terlalu banyak orang."
Kiba memilih tempat yang tidak banyak orang berkumpul, di tepi sungai Shibuya yang melewati taman itu. Beberapa orang terlihat duduk di tepi sungai yang sama pada sekian jarak.
Kiba duduk, kemudian mengambil gitarnya dari dalam tas. Setelah meletakkan benda itu di pangkuan, ia mendongak, tersenyum menatap Ino yang masih kebingungan. Sebelah tangannya menepuk ruang kosong di sisinya.
Ino menurut kendati merasa canggung.
"Memang Pak Guru bisa main gitar?" tanya Ino, sekadar untuk membuang kikuk.
"Tentu saja, kau meragukanku?"
Jemari Kiba mulai memetik dawai, acak pada awalnya, lalu mulai terdengar alunan lagu yang tak asing di telinga Ino.
Netra akuamarin itu menatap nyaris tak berkedip, pada iras Pak Gurunya yang mulai menyanyi.
Say You Won't Let Go
Ino terpukau. Suara Kiba bukan sempurna, tetapi suara parau itu saat mengucapkan lirik demi lirik lagu James Arthur, membuat bulu kuduk sang gadis berdiri tegak. Katakan gadis itu tak pandai bahasa Inggris. Namun jika sekadar arti dari lirik lagu, Ino sering mencarinya bersama Sakura.
Kiba menyanyikan lagu itu, sembari menatap gadis di sampingnya dengan tatapan lembut.
Bolehkah sang gadis berharap? jika lagu ini memang ditujukan untuknya?
...
I knew I loved you then
But you'd never know
'Cause I played it cool when I was scared of letting go
I know I needed you
But I never showed
But I wanna stay with you until we're grey and old
Just say you won't let go
Just say you won't let go
...
Mendadak Ino bagai bisu, tatkala petikan gitar Kiba berakhir. Pria itu menatap tepat pada iris bulat Ino. Sesudut bibirnya melengkung, membentuk senyum yang lebih mirip seringai.
Namun Ino tahu, itu senyum tulus Kiba, yang jarang sekali ditampakkan.
Ino bergeming. Kendati canggung, tak mampu ia sekadar mengalihkan pandangan. Lehernya terlalu kaku. Bibirnya membuka, lantas menutup lagi untuk mengisap oksigen.
"Yamanaka Ino, apa kau masih hidup?"
Seketika seluruh tubuh Ino lemas. Apa-apaan ini? Pandai sekali Kiba menghancurkan euforianya. Ino menatap sengit.
"Kalau aku sudah mati pasti Pak Guru bahagia kan?"
"I wanna live with you, even when we're ghosts. Because you were always there for me when I needed you most," lagu Kiba.
"A … apa?"
"Itu cuplikan lagu tadi. Pikiranmu ke mana memangnya?" sindir Kiba.
Pelipis Ino berkedut. Seandainya saja ini bukan di tempat umum, sudah pasti gadis itu berteriak melampiaskan kekesalan. Namun yang dia lakukan kini hanya meremas-remas jemarinya sendiri.
Kiba tertawa melihat kelakuan muridnya. Butuh setengah menit untuknya mereda. Lantas sebelah tangannya mengusap kasar puncak kepala Ino. Membuat gadis itu menatapnya.
"Aku sayang kamu, Yamanaka Ino."
.
.
.
TAMAT
