"Nadja!"
"Hei, kembali kamu!"
Suara daun pintu yang dibanting itu memekak telinga. Suara-suara melontar marah tempo detik terdengar samar. Mereka mendecih, menyumpah dengan kata serapahan, lantas berbalik dengan kondisi hati dicengkeram kesal.
Aku mendecih, segera melepas masker, asal-asalan kulempar sembarang arah, bahkan tidak lagi peduli dengan kemungkinan adanya virus berbahaya yang bisa saja memasuki liang pernapasan. Gigiku bergemeletuk, mengucap balasan yang tidak seorang mendengar, "What a dull mindset! Actually a mess!" Seraya melangkah menuju ruangan khusus di lantai empat, aku balik menyumpah serapah, dengan bahasa Perancis yang takakan dipahami.
Gerbang lapis pertama kubanting, dan pemandangan serbaputih memenuhi pandanganku. Udara sejuk dari air filter berembus perlahan-lahan, membuat keringat di dahi menguap. Dua setengah meter melalui lorong pendek berkelok, dengan pintu-pintu ruangan khusus, aku sampai ke depan sebuah pintu kecil, yang kuyakin tidak dikunci oleh si pemilik ruangan.
Jika saja perasaanku sedang normal, maka gerakan membuka pintu ini pula akan perlahan dan mmbawa kesan "baik-baik". Mengucap salam dan memulai pembicaraan normal dengan siapapun yang ada di balik pintu itu. Memberi kesan hangat dan ramah ke seluruh penjuru ruangan dengan intonasi ceria seperti biasanya.
Namun sayang, kali ini tidak demikian.
"Damn!"
Pintu menjeblak terbuka, seseorang di dalam terkesiap sejenak dari posisi bertopang dagu atas meja. Tangan kirinya yang bebas mulai meletakkan gelas, jadi minum. Ia mengedip, menatap padaku yang sembrono berseloroh, meracaukan ini-itu yang jadi beban pikiran.
"Wah, kasihan." Itu kalimat pertama yang menjadi penyambut kedatanganku, otomatis membuatku balik menatapnya setelah menutup pintu ruangan—dengan dibanting, lagi, demi melampiaskan secuil kesal yang menumpuk di hati. Aku mendengus. "Yeah, Wick, terima kasih sudah mengasihaniku."
Kupaksakan untuk tersenyum tipis. Wanita itu memang selalu peduli padaku ...
"Aku tidak bicara padamu, aku mengasihani pintuku. Oh my door. Tidakkah kamu tahu itu, jika pintu lapis ketiga dengan kaca antipeluru itu rusak karena kaubanting melulu, secara tidak langsung akan menguras dompetku?" Wick menunjukku dengan sendoknya, berekspresi prihatin.
Aku melotot. Hei, bukannya memberiku motivasi atau apa agar marahku mereda, malah memberi simpati pada benda mati?
Ia terkekeh, kembali mengaduk minuman dalam cangkirnya setelah menumpahkan sesendok gula. "Bercanda, Hope. Aku hanya tidak ingin menggelontorkan dua juta mata uang Indonesia dalam sekejap." Aku mendengus.
"Duduklah, eh, rebahanlah di manapun kamu mau, Hope. Capekmu kelihatan," katanya lagi, kali ini mempersilakanku yang sudah merebahkan diri sembarangan di atas sofa kayu. Aku tidak merespons, langsung memejam karena telanjur berbaring.
Aku menghela napas, terentak kasar. Pukul berapa sekarang, sudah berapa lama aku di Ruang Terlarang, berapa nyawa yang kutolong, aku lupa. Tak ingat betul. Mendadak digantikan oleh niat ingin rebahan segera.
Termasuk yang satu ini ...
"Kurasa tanpa bertanya, aku sudah tahu respons darimu. Hari yang berat, kan?" Aku menatap wajahnya yang datar, lalu tangan kanannya yang menyodorkan termos hijau berisi minuman. Sementara tangan yang lain mencengkeram bungkusan plastik hitam, entahlah apa isinya. "Bangunlah. Take this, and cheer yourself up, Hope."
... aku tidak yakin sejak kapan dia sudah berdiri tepat di hadapanku, dan sama sekali tidak kusadari. "Oh, Wick." Aku mengatupkan rahang, beranjak duduk, dan menerima termos kecil itu darinya. Aku menatapnya lamat-lamat. "Teh? Kopi?"
"Teh hitam rasa melati, dengan lima sendok teh gula untuk dua perlima liter air." Jawabannya membuat mataku melotot. Dia balik menatapku sekilas, mengendik tidak peduli, lalu duduk bersandar punggung di sampingku. Ia merenggangkan otot, menggestur simpel. "Jangan menceramahiku soal diabetes, Hope. I need more than normal glucose for hard days of pandemic." Telunjuknya menempel tepat di bibirku, yang memang berniat untuk mengomentari.
Aku mendengus lagi. Lagi-lagi tidak berniat merespons kalimatnya.
Baiklah, sebaiknya aku melipur sedikit penatku dengan minuman ini. Aku sudah menahan haus sedari pagi, satu set alat pelindung diri kedap virus yang melarangku (dan rekan tim) untuk makan, minum, buang air, keluar dari "Ruangan Terlarang", bahkan membatasi hak untuk bebas bernapas. Pengap. Uap air mengumpul di selingkaran bibir, dan setiap tarikan napas membawa kekhawatiran yang tidak bermakna.
"Consentration and braind focus. You need it too, Hope. Just ignore the taste if too sweet for you."
Ck.
Aku membuka penutup termos ketika Wickeline sampai pada pertengahan kalimat. Eh. Aku termangu, merasa familiar ketika uap hangat menyapaku ramah dari dalam termos.
"Oh, my, thanks, Wick. Ini hangat, 'kan?" Aroma melati bersama kepul uap hangat menyentuh hidungku, dan baiknya ini kesukaanku. Senyum tersungging, perasaan kalut karena masalah tempo menit berangsur luruh bersamaan dengan uap hangat yang terus mengepul.
Sejenak, aku tidak ingat dengan takaran gula yang ditambahkannya secara berlebihan, karena beberapa saat kemudian, aku benar-benar membutuhkan takaran gula berlebihan itu, seperti yang kawanku katakan barusan.
"Of course," dia tersenyum, seraya mendudukan diri, sudah memeluk bantal toska polos, yang entah diambil dari mana. "kau tidak bisa minum minuman dingin ketika bekerja, Hope. Jadi, kuberikan saja yang sangat hangat ..."
Brussshhh!
"Eh?"
Alisku tertaut. Rasa perih itu menyebar, terkumpul di sepertiga bagian terdepan dari lidahku. Ouch. Macam mati rasa. "Dammit. Lidahku ... terbakar," sambatku, seraya mencoba merasai lagi lidahku.
Wickeline terkekeh—seolah benar tak punya dosa. Pelototan dariku justru membuatnya terbahak. "Maaf, aku lupa bilang kalau aku sudah memanaskannya lima menit sebelum kamu sampai. Apakah terlalu panas?"
"Rasa api, Wick!" Aku menjawab asal, meletakkan minuman itu di meja, hendak menunggu hingga agak dingin. Wicky terkekeh lagi, mulai merasa berdosa karena tidak sempat memberitahu. "Kaubisa ambil roti bakar di plastik itu, mungkin saja bisa mengobati luka bakar di lidah, hihi."
Aku mendengus kesal membalas cekikikannya, untuk yang kesekian kali.
.
...
.
Kami berbincang sebentar hingga malam beranjak, hendak meninggi. Membicarakan sesuatu yang membuatku terkagum hingga ber-wow, bertukar pikiran hingga Wickeline berpikir keras untuk menambah-nambahi opini, atau aku lagi yang mendengus ketika wanita berkacamata bundar ini mulai menggodaku dengan candaannya.
Dua jam yang singkat di ruangan itu, sebelum aku pamitan dan bilang terima kasih atas suguhan sederhana dan izin karena diperbolehkan menumpang membasuh badan di sana. Wickeline sejenak membuatku lupa dengan masalahku selama sesi penanganan dan recovery sessions.
Aku menepuk dahi.
Ternamun, astaga. Begitu beranjak dari gedung serbaputih itu, seluruh ketegangan dan kalutku kembali, meski aku dapat menghirup udara segar detik ini—sayangnya terhalang masker operasi warna hijau pucat ini—dan mengenakan pakaian katun yang nyaman dipakai.
Aku meraba tengkuk, mulai memijatnya perlahan-lahan.
Bahkan sepeninggalku dari ruang infeksius dan proses sterilisasi tadi, pengapnya masih terasa. Penatnya mulai ada. Pun dengan jenuhnya, terus terngiang mengingat aku akan menjadi salah satu prajurit yang berbaris di lini terdepan dalam mengatasi masalah ini.
Apakah aku ... mampu?
.
...~*o0o*~...
"I am 'hope', who came to rise your hope up to fight this 'enemy'."
.
Black Survival 2016 (c) ARCHBears; NimbleNeuron, South Korea.
Please note that I gain no material profits by making, writing, and publishing this fanfiction.
.
— WIDE HEAL —
created by INDONESIAN KARA.
(signed; Larnetta XI A1)
.
General, Tragedy, Angst, Slice of Life. R14.
Indonesian, English. Alternative Universe.
.
- Indonesia; May 9th, 2020 –
*~...OoO...~*
.
"Hatiku, bahkan kosong tanpa rasa."
"Pikiranku nyaris saja seperti mayat tanpa guna!"
"Bahkan perasaanku, lenyap seolah tak bersisa."
"Kepercayaan dariku, hancur berkeping."
...
Bioritme adalah suatu episode waktu yang reguler dan adaptasi sesuai fisiologi selama hidup manusia, memengaruhi kebiasaan hidup, aktivitas kehidupan, dan keberhasilan dalam melaksanakan pekerjaan,sedangkan pengaruh siang-malam dan manusia tidak diperhitungkan. Dapat pula berarti sebagai teori yang berdasar pada pendapat ilmiah bahwa dalam tubuh manusia sejak lahir sudah tersimpul tiga macam siklus, atau ritme, yang bekerja aktif sampai saat meninggal; siklus fisik, siklus emosional, dan siklus intelektual.
Bioritme ini jugalah yang menjadi masalahku.
Dua bulan terakhir, ritme kehidupanku teramat berantakan. Mengejar tugas jaga yang tidak menentu tiap-tiap hari, pulang membawa penat yang membebani. Lupa makan dan minum, pun membuatku hampir lupa caranya tersenyum dan bergaul dengan umum. Pulang dengan keadaan was-was, menjaga jarak dan interaksi dengan orang lain setiap waktu. Juga, jangan lupakan dengan tatapan waspada beberapa tetangga yang mengira aku pulang membawa oleh-oleh "bencana" dari tempat kerja.
Fuh.
Aku merebahkan diri di kasur, menarik lepas kedua kunciran rambut yang seharian mengikat, membiarkan tiap-tiap helai rambutku terurai tidak rapi. Telanjur malas untuk sekadar beranjak dan ganti baju, toh tadi aku juga sudah mandi di tempat kerja, sudah berganti pakaian juga.
Mataku mulai riap-riap, dan kepala mulai terasa pening.
Lima menit, ternyata aku sudah setengah sadar. Lelap dalam kondisi yang saat ini masih dapat dikondisikan.
Saat ini ... .
.
...
.
Enam jam berlalu tanpa terasa. Aku terbangun dengan wajah kusut, meraih ponsel yang berdering dengan keadaan setengah nyawa terkumpul, hendak mematikan dering berisik yang menggangguku setiap ada shift ...
Tunggu.
"Eh?"
Mataku terbelalak setelah sepuluh detik kemudian.
"Wait- wait me! Huh?" Telepon pertama berakhir dengan jeritan panik dari rekanku di lain tempat.
Aku mengacak rambut. Panggilan kedua menyusulku, membuat frasa waktu yang kuucapkan barusan tidak lagi selaras dengan kondisi. "Can you hear me? Call Miss Angelika now! We- and she need her! Aku butuh setengah jam jika jalanan tidak macet, bisa kalian tangani dulu?"
Ini mulai berjalan tidak baik.
"Prioritaskan! Hentikan penanganannya dalam jangka waktu sementara selama atribut tidak tersedia! Don't take the risk at our own!" Aku berteriak frustasi, telepon ketiga kuakhiri sembarangan. Hah!
Situasi yang menjadikanku target buruan waktu!
...
finished chapter I.
...
FUWAAAAA! Akhirnya terealisasi juga fanfiksi untuk fandom yang saya rikues ini, ahay. XD
Well, after read this fanfiction, give me your review! XD
.
~INDONESIAN KARA.
