R A I N B O W

RAINBOW (Kookv) Chapter 1

Bulir-bulir air berjatuhan dari kelopak mata indahnya. Lelaki berusia 14 tahun itu menekan dadanya kuat-kuat. Nyeri sekali rasanya.

"Aku benci papa" jeritnya tertahan. Ia masih sakit hati dengan keputusan papa nya yang memilih untuk menikah lagi dengan janda beranak satu. Menikahi wanita yang merangkap sebagai guru di sekolahnya. Ia benci mendapati kenyataan bahwa guru budi pekerti nya telah mengambil hati ayahnya, menggantikan posisi ibu nya sebagai wanita yang ia kira, satu-satunya mengisi hati sang ayah. Ia pikir ayah nya hanya akan setia dengan mendiang sang ibu. Ia tertawa sinis, bodoh sekali mempercayai ayah nya berbeda dengan laki-laki brengsek diluar sana.

"Papa brengsek egois" raungnya, kembali menangis histeris.

"Sampai kapan kamu terus begini" Lelaki itu menoleh ke arah asal suara, rahang nya mengeras mengetahui sosok urutan ketiga paling dibenci dalam hidupnya. Tentu setelah ayahnya dan wanita itu. Kakak tirinya.

"Mau apa kamu hah? Pergi sana!!" usir nya menahan letupan emosi yang bisa meledak kapan saja.

"Kamu bilang papa brengsek egois? Terus kamu apa? Kamu ga lebih dari bocah manja kekanakan paling egois yang aku kenal" tutur lelaki itu sinis. Sontak memancing amarah yang lebih muda.

"Apa? Bilang sekali lagi didepanku!!!" Teriak lelaki itu sambil mencengkram kerah kemeja sekolah sang kakak. Mata lelaki itu berkilat tajam, bahu nya bergetar menahan keinginan kuat untuk menghajar kakak tirinya ini.

"Kamu bocah manja egois yang bahkan ga bisa melihat orang lain bahagia! Kasihan sekali ibumu diatas sana melihat tingkah anak nya yang hanya mementingkan dirinya sendiri! Apa perlu ku ulang seribu kali lagi?!" terlampau santai dan menantang. Tanpa mengetahui detik berikutnya, satu tinjuan kuat melayang di pipi kirinya.

"tau apa kamu tentang keluargaku bangsat!!!" Kembali kepalan tangan itu menghantam. Dua kali. Tiga kali.

"Hahaha dasar menyedihkan! Ayo keluarkan! Cuman segitu aja kekuatanmu?!"

"BERHENTI KALIAN!!!! ADA APA INI????" Teriak salah seorang guru sambil menghampiri keduanya dengan langkah tegas.

"Taehyung, tolong ceritakan apa yang terjadi nak? Kenapa ka- kenapa Jungkook bisa sampai babak belur begini? Mata kamu juga bengkak" Saat ini Jungkook dan Taehyung tengah berada di ruang konsultasi BP. Bisa dipastikan siapa yang mengintrogasi. Ibu mereka.

"Saya yang hajar dia,kenapa? Karena saya ingin. Dan langsung to the point saja, silahkan anda keluarkan saya dari sekolah ini"

Lelaki itu bangkit dari duduknya, hendak keluar namun suara itu menghentikannya.

"Bukan salah Taehyung bu! Aku yang pertama cari gara-gara dengan nya! aku mengata-ngatai nya sampai dia mengamuk dan kemudian menghajarku" jelas sang anak. Ia menatap ibu nya, memohon untuk percaya.

Lelaki yang lebih muda berdecih. Sungguh muak dan jijik sekali dengan drama ini semua. Ia bersumpah membenci wanita dan anak sialan nya itu dengan seluruh hidupnya.

Sebuah tamparan keras mendarat pada pipi Taehyung. Setelah makan malam yang hening dan mencekam usai, sang ayah menyuruh anak kandungnya untuk mengikutinya ke ruang keluarga.

"Kenapa kamu jadi berandal begini? belum puas kamu buat papa malu di hadapan mama tiri kamu? Kalau bukan karena pembelaan Jungkook mungkin kamu sudah papa usir dari rumah! Jangan buat papa menyesal untuk benar-benar mengirim kamu ke desa tempat nenek"

Murka sang ayah. Lelaki muda berparas menawan itu terdiam. Menahan mati-matian cairan bening yang hendak jatuh. Menyiapkan mental untuk membalas perkataan orang yang dulu sangat di hormatinya ini.

"Papa tanya kenapa? Aku begini karena papa! Dari awal aku menentang papa nikah dengan wanita itu! Aku benci dia dan anak sialan nya itu! Sekarang aku tanya, apa yang dia punya yang mama ga punya? Kenapa papa bisa tega hianatin mama? apa jangan-jangan wanita itu duluan yang goda papa? Apa wanita itu memaksa-"

"Cukup Taehyung!!!" satu tamparan kembali mendarat di pipinya. Sakit sekali hatinya.

"Kamu sudah keterlaluan! Apa di mata kamu papa hanya mentingin diri papa? Papa menikahi nya demi kamu juga! Papa mau kamu terima kasih sayang seorang ibu yang ada untuk merawat dan memperhatikan kamu! Tapi ini balasan kamu atas kebaikan hati nya! Papa tidak pernah sekalipun ngajarin kamu untuk berbuat buruk seperti itu Kim Taehyung! Setidak terima apapun kamu, kamu sudah terlalu semena-mena! Hati seorang ibu mana yang tidak hancur diperlakukan seperti itu? Meskipun kamu bukan darah daging nya, kamu tetap seorang anak untuknya. Camkan itu!"

Sudah tepat seminggu sejak kejadian itu berlalu , dan semenjak saat itulah Taehyung menjadi sangat pendiam. Tidak pernah keluar dari kamarnya setelah pulang sekolah. Mengunci diri. Makanan yang ditaruh didepan kamarnya oleh sang ibu tiri pun jarang sekali tersentuh. Entah bagaimana keadaannya saat ini.

"Taehyung!" Oh suara kakak tirinya yang memanggil dari arah belakang. Lelaki itu tetap lanjut berjalan seolah tak mendengar.

"Kim Taehyung! Hei, ayo kita makan di kantin bersama" Tetap tidak ada sahutan dari lelaki yang kini berada disampingnya.

"Kamu dengar aku kan?"

"Bisa hilang dari pandanganku? Kamu benar-benar nguji kesabaranku" akhirnya lelaki yang lebih kecil menyahut. Walau sinis sekali, dan tanpa melirik sama sekali.

"Santai adik manis, hyung cuman mau ngajak makan bareng" balas Jungkook kelewat santai.

"Aku bukan adik mu sialan!" Lelaki itu menghentikan langkah nya. Menatap bengis sang kakak tiri yang membuatnya sungguh muak ini.

"Kamu kasar sekali si dik, apa kita akan terus begini? Gimana pun aku kakak mu, tolong hargai aku sedikit" balas nya dengan raut sedih yang menurut Taehyung sangat dibuat-buat.

"Kamu pikir aku peduli?! sekalipun kamu loncat dari atap gedung sekolah!! Kamu bunuh diri didepan ku pun aku tidak peduli!! Justru bagus kalau kamu mati jadi aku engga perlu liat kamu selamanya! Kalo perlu bawa ibu kamu sekalian. Aku akan sangat bahagia sekali" Ujar Taehyung meluapkan kebencian nya pada sang kakak tiri yang kini menatapnya dengan raut wajah tak terbaca.

"Kalau aku kasih rekaman ini ke ayah bagaimana reaksi nya ya?" Lelaki yang lebih muda itu terpaku beberapa saat melihat handphone sang kakak yang menampilkan rekaman ucapannya barusan.

"Brengsek, kamu mengancamku sekarang" Taehyung tertawa getir, menatap penuh kebencian Jungkook yang balas menatap sinis.

"Kalau aku tunjukin ini ke ayah siap-siaplah hidup di desa, dik" sahut nya terlampau santai dengan seringai menghiasi wajah tampannya.

"Sekarang lebih baik kamu nurut dan ikut aku ke kantin"

Taehyung merasa awan mendung memenuhi kepalanya yang terasa akan pecah, bersiap menumpahkan rintik-rintik hujan tak kasat mata. Seperti keadaan nya kini.

Jangan menangis,

Jangan terlihat lemah dihadapannya.

Kim Taehyung bersumpah akan menghancurkan hidup Jungkook dan ibunya.

Sekarang katakan,

Dimana letak kebahagiaan yang ayah janjikan padaku?

To be Continued

Jangan lupa Coment nya ya! komentar kalian adalah penyemangat aku untuk meneruskan cerita ini :)