Au inspired by Manga spoiler: 371

Cuaca terik menyinari pantai Joatinga, seorang perempuan berambut merah oranye memakai topi pantai dan kacamata gelap menggerutu kesal. Sudah ada kali 17 kali dia terkena cat calling oleh orang-orang sekitar sini, Hinata mahfum kalau Rio de Janeiro itu lebih berbahaya daripada Jepang, tapi memangnya tidak ada etika saja? Walau yah, di Jepang juga ga jarang yang melakukan seperti itu. Tapi ini rekor!

Tiba-tiba saja handphone Hinata berdering, Hinata menggerutu dan mengangkat teleponnya, "Halo, Hinata, Oikawa-san sudah bisa dihubungi?" Tanya Yachi gugup.

"Belum," Hinata menghela napas dan mengacak rambut panjang miliknya, "Maaf Yachi-san, kamu ditanyain oleh Nice Rodrigues?" Tanya Hinata.

"Yeah, dia ingin pemotretan ini segera cepat selesai, Heitor Santana sudah sampai. Kau butuh berapa menit lagi Hinata?"

"Ahh, maaf Yachi kau jadi kesulitan seperti ini. Baiklah—"Omongan Hinata terputus saat tiba tiba ada yang merangkulnya dari belakang.

"Yoohoo, Shou-chann~" Seru Oikawa tiba-tiba.

"Geez, Tooru! Kemana saja? Kok ga diangkat-angkat?!" Seru Hinata marah-marah menghadap Oikawa yang hanya tersenyum.

"Ee, Shou-chan nyariin? Maaf maaf, tadi aku abis main voli pantai ehe~ seru loh!" Kata Oikawa tanpa ada rasa bersalah.

"Ayo kita segera ke tempat pemotretan, astaga kita sudah telat!" Seru Hinata seraya menarik Oikawa.

"Oh iya iya, hari ini pemotretan Vogue Brazil yaa," kata Oikawa riang. Hinata mendengus dan menjitak kepala pacarnya itu, sungguh kadang dia menyesal kenapa dia menerima permintaan Oikawa menjadi managernya. Menjadi pacar itu satu, tapi menjadi manager model kelas internasional Oikawa Tooru itu beda halnya!

"Akhirnya! Ayo Oikawa-san, anda harus segera di make up dan berganti baju," Seru Yachi saat melihat Hinata dan Oikawa keluar dari mobil yang dikendarai oleh Hinata, bukannya Oikawa ga bisa naik mobil, tapi yang tahu lokasi pemotretannya itu ya Hinata.

"Kamu duluan Tooru, aku mau parkir mobil dulu," kata Hinata seraya menaiki kembali mobil yang dirental oleh Oikawa selama mereka di Brazil. Ford CD3 platform warna merah.

"Gak valet parking aja, sayang?" Tanya Oikawa menghiraukan tarikan Yachi.

"Gak. Sekalian mau beli makan siang, jangan susahkan Yachi!" Seru Hinata seraya menancap gasnya.

"Maaf Yachi, aku tadi ada urusan," kata Oikawa.

"Yeah semoga berhasil ya rencanamu nanti malam, semoga Hinata-san ga nolak gegara bête dengan anda," kata Yachi, nadanya sedikit sebal.

"Ehh, Yacchan!"

Hinata kembali ke tempat pemotretan 40 menit kemudian, ia baru saja membeli makanan ringan yang akan ia bagikan kepada beberapa crew pemotretan. Ia membeli beberapa Empada, Pastels, Esfiha, dan Pao de Queijo.

"Hei, Hinata!" Seru seorang perempuan.

"Nice! Hai! Maaf tadi aku telat," sapa Hinata seraya tersenyum kikuk.

"Kamu dimaafkan, mm.. kamu bawa Pao de Queijo?" Tanya Nice yang merupakan PR Vogue Brazil sekaligus teman Hinata yang baru (mereka baru berteman sekitar 1 minggu).

"Yeah, aku merasa bersalah tidak segera menemukan Tooru tadi. Pemotretannya sudah selesai?" Tanya Hinata yang berjalan disebelah Nice.

"Mhm, sekarang giliran pacarmu foto solo," jelas perempuan berumur 26 tahun itu.

Hinata dan Nice pun memasuki ke studio pemotretan. Di kelilingi oleh sinar lampu terang dan kamera flash yang tak berhenti memotret, ada Oikawa yang sibuk berpose. Hinata yang memperhatikan memakai kacamatanya kembali, menutupi rona merah yang muncul di wajahnya. Hinata walau sudah sering melihat pacarnya berpose di depan kamera, ia masih tidak terbiasa. Soalnya diluar dari pandangan kamera, Oikawa Tooru itu manja, menyebalkan, dan posesif. Namun saat berada di depan kamera Oikawa berubah menjadi serius, maskulin, seduktif, sensual, dan percaya diri. Tentu saja, bukan hanya di depan kamera Hinata dihadapi sisi Oikawa seperti itu, di atas ranjang Oikawa kadang juga seperti itu.

Buru-buru Hinata menggelengkan kepala cepat untuk menghilangkan pemikiran nakal yang berkelebat, mereka baru melakukannya kemarin malam, masa Hinata sudah membayangkan yang engga engga lagi?

"Aah, Shou-chann!" Seru Oikawa yang kemudian berlari dan memeluk Hinata, Hinata yang terbiasa hanya tertawa, rasa sebalnya hilang.

"Hei, Tooru, sudah selesai?" Tanya Hinata seraya tersenyum menatap Oikawa yang tengah memandanginya.

"Mhm." Oikawa pun menunduk dan mencium bibir Hinata sebentar. Ciumannya singkat karena kalau keterusan, Oikawa tidak bisa berhenti. Memang, bibir Hinata itu susah untuk tidak kecanduan.

"Terima kasih, Yachi, Nice, dan Oi Heitor!" Seru Oikawa, yang dibalas dengan lambaian dari pemuda 197 cm tersebut.

"Kerja bagus, Oikawa. Kalian ada rencana sehabis ini?" Tanya Nice yang mengerlingkan matanya kearah Yachi yang hanya tersenyum kecil.

"Aku mau menemani Shou-chan belanja baju, kita jadi kan?" Tanya Oikawa yang kini melingkarkan lengannya ke pinggang Hinata.

"Mhm. Mumpung ini hari terakhir kita di Rio," kata Hinata seraya tersenyum.

"Oo! Kau harus sering sering kontak dengan aku ya, Shouyou! Aku pasti akan rindu padamu," kata Nice yang kemudian memeluk Hinata..

"Tentu! Kapan kapan mainlah ke Jepang," kata Hinata.

"Yeah, mainlah ke Jepang bersama pacarmu, Nice," sahut Yachi yang membuat dirinya disikut Nice.

"Benar, aku tak tahan melihat sexual tension kalian! Cepatlah jadian," canda Hinata, Nice memerah seraya menggelengkan kepalanya.

"Sudah, kau pergi Shouyou, lihat pacarmu sudah tidak sabar~" Goda Nice yang membuat Hinata memerah.

"Yeah, well, sampai jumpa!" Seru Oikawa dan Hinata berbarengan.

"Oh ya, Shou-chan, Yachi ikut kita juga kan balik ke Jepang?" Tanya Oikawa saat Hinata dan dirinya sudah di dalam mobil.

"Iyalah, dia kan make up artist kamu, tanpa dia, kamu itu disaster!" Cibir Hinata.

"Ehh, tanpa Yachi kan ada kamu, kalo gaada kamu baru itu berantakan!" Kata Oikawa sambil menyeringai, mendengar itu Hinata memerah yang kemudian dicium bibirnya oleh Oikawa, habis manis banget pacarnya ini.

Malam telah tiba, dua sejoli yang baru saja menyelesaikan belanja mereka pun berencana untuk makan malam.

"Aku sudah pesan tempat, kita makan malam diluar ya?" Tanya Oikawa.

"Oh, boleh. Tapi kapan kamu pesannya?" Tanya Hinata bingung.

"Ada deh, ayo!" Hinata mengangkat alis bingung atas perlakuan pacarnya tersebut. Mengangkat bahu, Hinata pun memutuskan ikut Oikawa saja.

Setelah sekitar 18 menit berkendara, mereka pun sampai ke sebuah restoran.

"Aku pesan disini selain dekat pantai, makanannya juga enak." Jelas Oikawa saat melihat pacarnya terkagum dengan suasana pantai yang sejuk ditambah restaurant yang terlihat penuh tersebut.

"Kamu berhasil dapat reservasi? Keren juga," komentar Hinata.

"Iyalah, apa sih yang engga buat kamu, sayang.." Kata Oikawa berbisik rendah di telinga Hinata, mendengar hal itu, Hinata merasakan dirinya merinding kecil.

Sepiring besar Moquieca, Bolinhos de bacalhau, Feijoada Completa, Bobo de camarao, Pudim de laranja, dan classic caiprianha tersaji. Hinata berdecak kagum, "Wahh! Tooru, kamu yang pesan semua ini?" Seru Hinata kagum. Oikawa hanya tersenyum lembut kemudian mengaitkan jari mereka.

"Ah, kamu bisa romantic juga ya sayang," kata Hinata lembut seraya menyandarkan kepalanya ke pundak Oikawa.

"Aku selalu romantic tahu," kata Oikawa sedikit sebal.

"Iya, iyaa… memang aku ini dimanja sekali sama pacarku," goda Hinata seraya mencubit pelan pipi Oikawa. Oikawa hanya tersenyum lembut dan mencium bibir Hinata.

Malam itu mereka berdua menikmati makanan brazil dibawah cahaya terang bulan dan deburan ombak. Hinata sesekali tertawa menanggapi candaan Oikawa dan Oikawa tak bisa menghilangkan senyumnya mendengar cerita gadisnya tersebut.

Sedikit mabuk namun masih sadar, Hinata dan Oikawa berdansa di atas pasir pantai yang bersih seraya tertawa-tawa mereka berdansa atas irama yang mereka tahu di kepala sendiri, menghiraukan suara suara lain. Setelah dansa tersebut selesai, tiba tiba Oikawa berlutut satu kaki dan memegang tangan Hinata.

"Maukah kamu menjadi istriku?" Tanya Oikawa, Hinata yang mukanya memerah sedikit mabuk terkaget saat melihat apa yang dilakukan pacarnya tersebut.

"H-hah? A-aku mau!" Seru Hinata tanpa pikir panjang, namun beberapa saat kemudian dia sadar apa yang dilakukan pacarnya, "KAU MELAMARKU OIKAWA TOORU?!" Seru Hinata.

"Kamu bilang iya lalu baru sadar aku melamarmu, sayang?" Tanya Oikawa seraya tertawa pelan dan merangkul pinggang Hinata.

"Kamu seriusan, aku aku.." Hinata tidak dapat melanjutkan karena kemudian ia tiba tiba menangis.

"Eh, kenapa.." Eksperi Oikawa berubah, ia kaget karena Hinata tiba tiba menangis

"Aku senang sekali, bodoh. Bukan sedih, sebentar biarkan aku tenang dahulu!" Seru Hinata seraya menghapus air matanya dengan lengannya. Oikawa yang menyadari bahwa Hinata menangis bukan karena menolak atau sedih, tertawa dan mengangkat Hinata untuk memutarnya. Setelah selesai, ia segera menciumi Hinata. Baik itu hidung, kelopak mata, pipi, dahi, alis, dagu kemudian terakhir bibir yang ia kecup dengan lama

"Jadilah teman hidupku, Oikawa Shouyou," kata Oikawa lembut. Hinata tersenyum dan memeluk Oikawa sekali lagi.

Ia tak penah terpikir ia akan dilamar oleh Oikawa di dekat pantai dan dibawah langit Brazil. Memang untuk urusan romantic, pacarnya tidak segan segan.

.

.

.

A/N: Sebenarnya ada scene yang kupotong, aku males nulis di bahasa indonesianya wkwkwk. Kalo yang penasaran, boleh check versi bing nya di AO3 namanya 'Shut up and Dance' :)