What if?
Written by.
Ciellalee
The 7 Second Theory
"When you die, there's 7 second in which you are in a dream state. You're unconsciously conscious. However, while dreaming, we lose all perception of the time. A day could be a minute, a second could be a year."
So, what if you've been dead for three second and all of your life up till now has been a dream?
"Aku ingin kita berpisah saja." Ucap Chanyeol dingin.
Baekhyun terpaku di tempatnya. Perbedebatan yang sejak awal mewarnai pertemuan mereka kini terhenti karena satu kalimat yang baru terucap dari bibir lelaki itu. Mereka berdua seketika sama-sama saling terdiam sambil menatap satu sama lain.
Meski Sinfonietta karya Janacek−salah satu lagu kesukaan Chanyeol, diputar keras-keras dari pengeras suara di dalam kafe, dia tetap tidak dapat mendengar apa pun. Chanyeol menarik napas dalam sambil memejamkan mata. Berusaha menenangkan diri sambil membiarkan bunyi musik perlahan terserap ke dalam otaknya.
Baekhyun melotot tajam padanya. Bibir yang sebelumnya terbuka hendak sebab mengatakan sesuatu−tertahan kemudian ia katupkan kembali, lebih memilih untuk membisu. Ia kemudian beringsut sedikit menjauh dari meja lantas mengepalkan tangan kuat.
Tatapan tak percaya dia arahkan pada si jangkung. Sebuah kekecewaan besar seakan dia bebankan padanya seolah-olah, Chanyeol adalah pihak yang paling bersalah di sini. Kedua tangannya gemetar lantas menutup bibirnya. Mata indah−yang dahulu pernah menjadi favoritnya kini memerah sedang di sudut-sudut air mata nampak siap dimuntahkan kapan pun.
"A-apa yang salah dariku, Chanyeol? Apakah.. apakah aku mengecewakanmu?" Dia bertutur lirih.
Air matanya kini bercucuran. Begitu air mata pertama keluar, air mata berikutnya tak lagi terbendung. Dia menangis tanpa suara, membuat suasana menjadi terasa lebih pilu. Dia meletakkan kedua tangan di depan bibir lantas menangis seperti ingin memuntahkan segalanya.
Namun Chanyeol bergeming sambil menatap tak acuh. Meski Baekhyun berlutut memohon padanya pun, keputusan yang telah ia ambil tidak akan goyah. Sudah terlalu banyak rasa lelah dan Chanyeol tahu persis hubungan mereka mau dilanjutkan seperti apa pun tidak akan berbuah hasil−ah, benar juga hubungan mereka sebenarnya tidak pernah sehat.
"Aku ke toilet dulu."
Tanpa menunggu jawaban. Chanyeol segera beranjak menuju toilet. Dia basuh wajahnya dengan kasar di depan wastafel. Air dingin sungguh menjadi jalan yang efektif untuk meredakan amarah. Di depan kaca terpantul bayangan diri. Dua kantung mata yang menghitam, rambut acak-acakan, serta kulit putih yang nampak pucat akibat rasa lelah bertumpuk-tumpuk.
Chanyeol kemudian merapikan rambut, mengendurkan otot muka dengan sedikit pijatan, lalu menatap tajam pada bayangan diri sendiri. Ada perasaan ganjil terbesit dalam benaknya. Tetapi dia tidak bisa mengartikan seperti apa perasaan itu, tapi yang jelas ada sesuatu yang aneh.
Mungkin perasaan tidak enak itu muncul karena meminta untuk putus tepat di hari jadi mereka yang satu tahun. Tapi untuk apa dirinya merasa tidak enak?
Ah, tapi masa bodoh. Dia benar-benar sudah membuatku muak. Setidaknya setelah merasa terkekang sejak sekian lama aku juga pantas mendapat kebebasan. Aku sudah melakukan hal yang benar, ini adalah tindakan yang sudah sejak lama aku dambakan.
Sambil menatap langit-langit Chanyeol membayangkan Baekhyun masih duduk sambil menangis di meja. Dia menggeleng-geleng kecil, lalu menepuk-nepuk wajah pelan menggunakan tissue agar kering. Sambil menyeringai kecil lelaki itu melenggang keluar.
Tepat seperti dugaannya, Baekhyun masih menangis di sana. Kendati begitu, tak ada rasa simpati yang dia curahkan untuknya. Chanyeol juga harus egois. Suatu hubungan tidak hanya melihat satu pihak melainkan harus melihat kedua belah pihak. Jika ada satu yang merasa hubungan ini tidak akan berlanjut, maka sebaiknya dibicarakan atau disudahi saja.
Tapi tentu saja opsi pertama tidak akan memungkinkan.
"Aku tahu kita sudah berpacaran selama setahun. Tapi aku tidak bisa. Hubungan ini tidak akan pernah berhasil."
...
Siang itu Chanyeol dan Sehun bertemu di tempat seperti biasa, kafe dekat kampus mereka. Harga secangkir kopi di kafe itu tidak bisa dikatakan murah untuk ukuran kantong mahasiswa. Namun lantaran jarak dari meja ke meja cukup jauh, mereka bisa berbicara nyaman tanpa mencemaskan kuping orang. Udara di dalam kafe cukup bersih dan musik yang tidak mengganggu pendengaran diputar lirih.
"Kau kenapa sih?" Tanya Sehun ketus. Wajahnya menatap Chanyeol jengah sebab sedari tadi hanya memainkan ponsel bahkan sampai tidak sadar telah membiarkan segelas Americano-nya mendingin.
Chanyeol hanya mendiamkan pertanyaan Daehwi. Suasana hatinya hari ini sedang hancur akibat pertengkaran dengan Baekhyun. Sedari awal mereka berpacaran, dia sudah merasa hubungan tersebut akan sulit dilanjutkan. Namun Baekhyun tetap bersikeras memperjuangkannya, sehingga mau tak mau dia sedikit melunak. Meski Chanyeol sudah tahu semuanya akan sia-sia.
Alhasil kini mereka dalam tahap terombang-ambing tak memiliki tujuan. Mereka seperti sedang di ujung tanduk, menanti entah kapan akan terjun ke jurang atau malah terselamatkan ketepian. Kendati begitu, dirinya berfirasat opsi pertama jauh lebih rasional untuk dijadikan sebagai penentu akhir dari hubungan mereka.
"Ya, biasalah. Aku dan Baekhyun sedang bertengkar lagi." Chanyeol mendesah malas lalu mengusap wajah dengan kasar.
Sehun menyunggingkan senyum miring−mengejek. "Tidak enak, ya pacaran dengan dia?"
Chanyeol menggeleng ragu−tidak tahu harus menolak atau mengiyakan.
"Bagaimana ya, aku hanya merasa tidak bisa melanjutkannya lagi. Mungkin untuk enak atau tidak enaknya bisa kau tarik kesimpulan sendiri." Jawab Chanyeol seadanya.
"Oh, Chanyeol lihat. Itu orang yang ingin kukenalkan padamu." Daehwi menunjuk seseorang dengan dagunya.
Chanyeol mengalihkan pandangan sebentar dari handphone menoleh ke arah pintu masuk.
Segerombolan gadis berdiri di depan pintu masuk. Mereka tertawa-tawa kecil nampak sedang membincangkan suatu hal menarik. Para pelayan menyambut mereka ramah kemudian mengantar mereka menuju meja di dekat jendela.
Seorang gadis yang berjalan paling depan di antara mereka menarik netra Chanyeol. Dia bahkan sempat tertegun menatapnya.
Parasnya boleh juga−gumam Chanyeol.
Jika boleh jujur, kecantikan gadis itu seperti memukul hatinya. Matanya jernih dan dalam bagai lautan, bibirnya merah ranum, jika dilihat secara keseluruhan meski usia gadis itu nampak lebih muda dari Chanyeol, dia memiliki kecantikan wanita matang. Itu yang membuatnya tertarik.
Begitu Sehun menyadari rasa ketertarikan Chanyeol, tanpa ragu dia mengangkat tangan lantas menyapa seorang gadis semampai itu penuh dengan senyuman. Dia mengenakan jaket denim dipadukan kaos cukup ketat berwarna putih. Kaki jenjang khas penari dibalut ripped jeans berwarna sepadu dengan jaket yang ia kenakan.
"Hei Rose!" Panggil Sehun.
Gadis itu menoleh ke arah Sehun. Dia sedikit terkejut. Butuh waktu beberapa detik baginya untuk mengenali wajah Sehun. Lantas dia tersenyum lebar lalu balik menyapa. Gadis itu sempat berpamitan dengan teman-temannya lalu membawa langkah menuju meja mereka.
"Sehun oppa! Apa kabar?" Dia menyapa Sehun.
Tasnya dia letakkan di kursi lantas duduk berhadapan dengan mereka berdua.
"Aku baik. Bagaimana denganmu? Apa kehidupan perkuliahan menyenangkan?"
Dia terkekeh kecil sambil menggaruk pipinya ragu. "Kabarku sih baik. Tapi kalau untuk kehidupan perkuliahan aku sedikit tak yakin, hehe."
"Oh iya, sebenarnya aku ingin memperkenalkan temanku padamu." Ucap Sehun seraya menyenggol lengan Chanyeol.
Si jangkung sedikit mendelik. Buru-buru dia matikan handphone, menyimpangnya di saku celana lalu menjulurkan tangan. Memperkenalkan diri pada gadis itu. "Hai, aku Chanyeol."
Sambil tersenyum kecil, dia balik menjabat tangannya. "Aku Rose."
Chanyeol menatap dengan selidik, mengarahkan pandangan pada tas yang tadi dibawa oleh Rose. "Kau suka menari?" Chanyeol bertanya tak sabaran.
Tanpa sadar, Rose turut mengikuti arah padang Chanyeol. Dia mengangguk patah-patah kemudian dia menjawab ragu dengan suara sedikit kecil. "I-iya."
Chanyeol mengangguk paham. Sejujurnya sejak dia masuk ke dalam kafe ini, tas yang dikenakannya menarik perhatian Chanyeol. Logo studio dance terkenal tercetak di permukaannya. Diam-diam dia merasa kagum bisa bertemu dengan salah satu penari dari studio itu.
"Aku juga suka menari. Sebenarnya dulu aku pernah berlatih di studio itu, hanya saja karena sekarang aku ingin belajar gaya tari lain, maka mau tak mau harus pindah."
"Ah, begitu."
Meski akhirnya pembicaraan dilanjutkan dengan Sehun yang mendominasi serta Chanyeol yang memutuskan untuk kembali fokus ke handphoneku, gadis itu selalu menyempatkan diri untuk sedikit melirik pada si jangkung. Diam-diam Chanyeol pun demikian. Bahkan mereka sesekali bertemu pandang.
Hingga saat malam tiba, Chanyeol telah putuskan untuk menghubunginya lantas mengajak dia bertemu kembali di kafe itu.
...
Minggu berikutnya, Chanyeol pergi ke kafe sesuai janji. Dia tiba 30 menit lebih awal−seperti biasanya, lalu memesan omelet dan salad sambil menunggu. Omelet yang disajikan kafe ini sangat enak. Lagi pula tempatnya juga sunyi dan menyenangkan.
Chanyeol memutuskan untuk duduk di dekat jendela, makan sendirian. Saat ia masuk, ada empat orang mahasiswa duduk di seberang mejanya, melihat-lihat menu sebentar, lalu salah satu di antara mereka menyampaikan pesanan kepada pelayan.
Dari ujung jalan dia dapat melihat seorang perempuan berambut panjang berkibar, melintasi jalan dan memakai rok selutut berbahan katun putih. Jalannya agak cepat seperti mengejar sesuatu. Wajahnya dirias menggunakan make up sederhana. Seperti biasa, dia tampak menawan.
Begitu dia masuk, bunyi lonceng dari pintu terdengar. Para pelayan pekerja paruh waktu menyapanya. Dia sempat celingukan mencari keberadaan Chanyeol, setelah lelaki itu mengangkat tangan menyuruhnya ke meja dia nampak girang−tersenyum lebar.
Chanyeol berdiri menyambut. Rose tersenyum kecil, dia menarik kursi lalu duduk di hadapannya.
"Maaf, sudah menunggu lama ya?" Tanyanya dengan wajah menyesal sambil menatap piring Chanyeol.
Lelaki itu menggeleng. "Tidak kok. Memang sudah jadi kebiasaan ketika ada janji aku datang 30 menit lebih awal. Ah, aku juga minta maaf karena makan duluan. Aku punya gangguan lambung."
"Jadi harus makan tepat waktu, ya?"
"Benar sekali. Semoga kamu bisa memakluminya." Ujarnya.
"Tentu saja, sama sekali bukan masalah."
Chanyeol kemudian mengangkat tangan memanggil pelayan. Setelah menyodorkan menu, pelayan meninggalkan meja mempersilahkan mereka untuk memilih apa yang ingin dipesan. Lelaki itu merekomendasikan omelet atau makaroni keju pada Rose. Dua makanan itu menu favoritnya di kafe ini.
Lima menit kemudian pelayan kembali ke meja mereka, siap mencatat. Rose memesan makaroni keju, lalu sebagai pelengkap Chanyeol kembali memesan anggur untuk mereka berdua.
Ketika pelayan mengantarkan makanan, gadis itu nampak begitu senang. Setelah berdoa dan mengucap 'selamat makan' dia melahap dengan semangat. Chanyeol memperhatikannya lamat-lamat. Setiap gerak-geriknya nampak begitu detail dan sempurna. Seperti seorang yang sangat terdidik.
"Etikamu sungguh luar biasa." Sebuah pujian tulus Chanyeol lontarkan padanya.
Rose agak sedikit terkejut mendengarnya. Matanya terbuka lebar−membulat lantas tertawa renyah. "Namanya juga perempuankan?"
Lelaki itu menyunggingkan sedikit senyum sambil menggoyang-goyangkan gelas. "Menjadi perempuan itu menyebalkan, ya? Bahkan hanya untuk melahap makanan harus selalu tampak anggun." Ujarnya.
Rose tersenyum kecil kemudian menyeka sudut-sudut bibirnya menggunakan tissue.
"Aku tidak pernah berpikir yang seperti itu, sih. Keluargaku memang agak sensitif dengan etika makan. Jadi sejak kecil aku sudah terbiasa melakukan ini." Katanya sambil meletakkan sendok di pinggir piring.
Chanyeol mengangguk-angguk mengerti.
Tak ingin membahas mengenai etika lebih lanjut, buru-buru Chanyeol mengganti topik. "Oh iya, apakah kamu tidak pergi latihan ke studio tari hari ini?"
Rose menggelengkan kepala. "Aku tidak ada jadwal apa pun hari ini. Makanya aku setuju bertemu denganmu. Studioku libur hingga akhir pekan." Jelasnya.
Setelah mereka berdua selesai makan, mereka minum anggur yang sudah dipesan tadi sambil menikmati musik. Ketika Chanyeol minum segelas, Rose sudah minum dua gelas. Satu hal yang dapat ia tangkap dari gadis itu−dia sangat menyukai wine.
Meski hari sudah hampir beranjak malam, tak ada satu pun di antara mereka yang ingin segera menyudahi pembicaraan. Mereka berdua sama-sama sangat menikmati waktu. Tidak ada satu pun di antaranya yang ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
Hari ini, Rose nampak sangat berbeda dari imej yang pernah Chanyeol bayangkan−ternyata dia banyak sekali berbicara. Ia bercerita tentang masa kecil, hobi, sekolah, dan keluarganya. Ceritanya panjang-panjang serta memiliki penggambaran jelas seperti sebuah lukisan elaborasi.
Mendengar ceritanya lelaki itu merasa terkagum-kagum akan kemampuan mengingat Rose. Ia bisa menceritakan kejadian yang bahkan terjadi sepuluh tahun lalu dengan penjelasan detail. Dia mendengarkan dengan saksama, mengangguk-angguk, lalu sesekali menimpali. Jika ada kejadian lucu maka ia tertawa. Sangat menyenangkan bisa mendengarkan kisah hidupnya. Chanyeol bahkan merasa seperti dibawa ke dalam penggambaran kisah itu.
Setelah dirasa cukup bercerita tentang dirinya sendiri, Rose menanyakan tentang Chanyeol. Sejujurnya lelaki itu sedikit kebingungan. Tak banyak yang bisa ia ceritakan. Chanyeol merasa kisah mengenai dirinya tidaklah terlalu menarik untuk didengarkan. Meski begitu Rose tetap menghiburnya dan berkata bahwa 'setiap orang pasti memiliki kisah unik mereka masing-masing.'
Sehingga tanpa sadar kalimat itu mengalir begitu saja. Untaian kalimat saling terjalin akur dengan nalar serta pikiran. Meski tidak terdengar menarik, Rose tetap mendengarkan dengan serius. Dia sangat menghargai setiap kisah yang Chanyeol ceritakan. Dia seorang yang sangat perhatian.
Pembicaraan mereka berlangsung dengan begitu hangat. Meski waktu bergerak begitu cepat namun bagi Chanyeol, semuanya berjalan begitu lambat−dan ia sangat menikmatinya.
Rose merupakan orang yang sangat menarik dan ia pendengar yang baik. Tidak pernah sekali pun ketika Chanyeol berbicara dia mencela. Iris hitam legamnya selalu tertuju pada si jangkung serta tatapannya selalu menatap dengan antusias setiap kali sedang mendengarkan.
Jarum jam sudah menunjuk angka pukul sepuluh malam. Tak dirasa mereka sudah berbincang terlalu jauh dan panjang. Namun tidak ada rasa sesal. Justru Chanyeol merasa sangat senang karena bisa memiliki teman bicara yang begitu menarik. Meski di akhir, kalimat akhir dari percakapan mereka seperti mengambang di udara.
"Tapi.. Chanyeol, bagaimana menurutmu jika ternyata kita hidup di dunia, dimana kita sebenarnya tidak saling mengenal?" Suaranya terdengar lirih namun matanya menatap Chanyeol dalam.
Lelaki itu mengetuk-ngetukkan jari di atas meja kemudian menghela napas panjang. "Tentu saja jawabannya sudah jelas, aku tidak ingin hidup di dunia yang seperti itu."
...
Kafe yang biasa Chanyeol kunjungi hari itu agak sedikit lebih ramai. Mungkin karena ini jam makan siang, makanya banyak mahasiswa yang memanfaatkan waktu istirahat di tempat ini.
Sebenarnya hari ini suasana hati lelaki itu sedang tak terlalu baik. Tugas menumpuk, hubungan dengan pacarnya−Baekhyun juga sedang berada di ujung tanduk, membuat kepalanya pening tak terkira. Berulang kali dia menghembuskan napas kasar membuat Sehun yang duduk di sebelahnya melirik kesal.
"Kau sebenarnya kenapa, sih hari ini?" Tanya Sehun dengan nada sebal.
Chanyeol mengangkat kedua bahu acuh. "Ya, begitulah."
Sehun terkekeh mengejek. "Capek ya pacaran dengan dia?"
Kedua bahu dia angkat sambil menggeleng-geleng. "Entahlah. Oh, tunggu sebentar Baekhyun menelponku."
Chanyeol bangkit dari tempat duduk lalu berjalan keluar mengangkat ponsel yang berdering. Dering telpon itu membahana di telinganya, seolah-olah meraung minta segera dijawab. Dia berjalan cepat menuju tempat yang lebih sepi dan menggeser layar.
"Halo? Ada apa?" Chanyeol menjawab telpon.
"Aku sudah mengetahui semuanya." Sahut Baekhyun di seberang sana.
"Aku tahu kamu pergi dengan orang lain saat perayaan hari jadi kita yang ke-30. Kamu sengajakan melakukan itu!? Mengakulah padaku!" Bentak Baekhyun.
Chanyeol mendesah pelan lalu mengusap wajahnya kasar. "Bukan seperti itu Baekhyun, aku bisa jelaskan. Halo? Halo?"
Sambungan telpon diputus secara sepihak. Tanpa dia sadari, akibat amarah yang terlalu meledak-ledak, Chanyeol justru membuat pelanggan lain yang duduk di meja luar menatapnya penuh selidik. Ada beberapa yang saling berbisik karena baru saja melihat seseorang bertengkar dengan pacarnya di telpon.
Kendati begitu, lelaki itu tidak ingin ambil pusing. Bahkan di saat mereka menatapnya, dia justru balik menatap mereka lantas tesenyum. Chanyeol memutuskan untuk berjalan melewati mereka dengan penuh percaya diri, kembali meja.
"Ada apa? Bertengkar lagi?" Tanya Sehun. Alisnya berkerut penuh rasa ingin tahu.
Dia mengangguk pasrah. "Hm, mungkin kewarasanku sebentar lagi akan hilang." Jawabnya malas.
Tiba-tiba muncul pemikiran di kepala Chanyeol, andai saja jika pada hari itu ia tidak menerima pernyataan cinta Baekhyun, kehidupan yang saat ini ia jalani pasti akan sangat berbeda dengan sekarang−batinnya.
Tidak hanya lelah secara fisik, namun penat secara batin juga Chanyeol alami. Mungkin jika Chanyeol tidak bertemu dengan dia, kuliahnya juga tidak akan terbengkalai dan kebebasannya juga tidak akan terenggut.
Bunyi bel di pintu berbunyi, menandakan ada pelanggan yang masuk. Para pelayan mempersilahkan mereka. Ada empat orang gerombolan gadis. Mereka memilih duduk di seberang meja Chanyeol dan Sehun kemudian berbincang-bincang antusias. Dilihat dari wajahnya mereka sepertinya adik kelas di universitas.
Salah satu di antara mereka ada yang menarik perhatian Chanyeol. Seorang gadis dengan rambut panjangnya yang berkibar. Dia punya senyum manis. Selain itu yang lebih menarik perhatian lagi adalah saat lelaki itu dapat menangkap dengan jelas, logo sebuah studio tari dimana dulu ia pernah belajar menari. Studio itu cukup terkenal, gadis itu pasti penari berbakat karena bisa diterima di tempat itu.
"Kau tertarik dengan gadis rambut panjang yang mengenakan denim itu?" Celetuk Sehun sambil menaik-turunkan alisnya.
Chanyeol bergumam mengiyakan. "Wajahnya manis." Ungkapnya.
"Dia adik kelasku ketika di SMA. Kau mau kontaknya?" Tawar Sehun.
"Oh, boleh."
Lalu sebuah notifikasi muncul di handphone Chanyeol. Pesan dari Sehun. Dia segera mengeceknya kemudian menambahkan kontak yang Sehun kirim sebagai teman. Dia berniat akan mengirimi gadis itu pesan nanti malam.
"Oh, sudah jam satu. Sehun aku pergi terlebih dahulu, ya. Aku ada kelas setelah ini."
Chanyeol segera membereskan semua barang bawaan kemudian pamit pergi. Meninggalkan Sehun yang masih melambaikan tangan mempersilahkan lelaki itu pergi.
...
"Halo? Baekhyun kau sedang apa?" Ucap seseorang dari seberang telpon.
Baekhyun bangkit dari kursi, meninggalkan kesibukannya sejenak sambil tersenyum riang. "Hai, Sehun! Aku sedang mempersiapkan hadiah kejutan untuk merayakan hari jadiku dengan Chanyeol yang satu tahun." Kata Baekhyun dengan nada girang.
Di sebelah sana, Sehun menyeringai kecil. "Kau benar-benar pacar yang baik, ya."
Baekhyun tersipu malu kemudian berbisik mengucapkan terima kasih. "Oh, iya ada apa kau menelponku tiba-tiba?" Tanyanya.
Sehun terdiam sejenak nampak menimbang-nimbang. Kemudian dengan ragu dia membuka suara. "Sebenarnya aku ingin bilang, kalau Chanyeol, dia−"
Seperti diserang ombak besar, Baekhyun membeku di tempatnya tak mempercayai apa yang dia dengar. Kemudian telpon terputus dan dia jatuh merosot ke lantai. Menangisi Chanyeol sepanjang malam.
...
"Chanyeol, kok kamu tidak mengucapkan apa-apa, sih?" Ujar Baekhyun dengan nada ketus.
Raut wajahnya nampak tak bersahabat. Sudah sejak pagi ini dia sangat ribut dengan hari jadi mereka yang satu tahun. Bahkan dia dengan secara terang-terangan mengintili Chanyeol kemana pun demi mengumumkan bahwa hari ini adalah hari jadi mereka.
Tentu saja tindakannya itu sangat kekanakan serta membuat lelaki itu malu tak kepalang. Sudah sewajarnya jika sepanjang hari ini dia memutuskan untuk mendiamkan Baekhyun.
"Ayolah, Chanyeol jangan seperti ini ya? Nah ayo tiup kue yang sudah aku siapkan ini. Satu, dua, ti−"
"Aku ingin kita berpisah saja." Ungkap Chanyeol dingin memutus kalimatnya.
Baekhyun terdiam di tempatnya. Bagai deja vu−Chanyeol bisa melihat dengan jelas saat ini dia membeku di tempatnya. Mungkin semua ini memang terjadi dengan sangat mendadak. Namun dirinya sudah tidak tahan lagi. Semua ini harus segera diselesaikan. Hubungan mereka tidak pernah sehat dan Chanyeol sudah terlalu muak dengan segalanya.
Lagu Sinfonietta karya Janacek yang biasanya selalu dapat meredam amarah Chanyeol sama sekali tak berefek karena karya indahnya bahkan tidak mampu diserap oleh telinganya.
"A-apa yang salah dariku, Chanyeol? Apakah.. apakah aku mengecewakanmu?" Baekhyun bertutur dengan bibir gemetar menahan amarah.
Sedang si jangkung hanya bergeming sambil menatap tak acuh. Meski Baekhyun berlutut memohon pun, keputusannya tidak akan goyah. Sudah terlalu banyak rasa lelah dan hubungan mereka mau dilanjutkan seperti apa pun tidak akan berbuah hasil−ah, benar juga hubungan keduanya sebenarnya tidak pernah sehat.
"Aku ke toilet dulu."
Chanyeol meninggalkan Baekhyun yang masih membatu tanpa memperdulikan dia yang masih terdiam. Mungkin beberapa saat lagi dia akan menangis. Lantas dugaannya benar-benar terjadi.
Ketika Chanyeol kembali, dia menangis. Tetapi lelaki itu sudah tidak mempedulikannya. Keduanya saat ini hidup dan mereka seharusnya hanya harus memikirkan semata-mata cara bagaimana melanjutkan hidup. Bukannya malah hanya berkutat dalam masalah percintaan saja.
Chanyeol menghembuskan napas kasar kemudian meraih kopinya kembali, meminumnya seteguk. Namun ada yang aneh? Rasa kopi ini tidak seperti yang biasa dia rasakan. Seketika lelaki merasakan raganya membeku. Napas sudah sulit untuk ditarik, lalu tanpa sadar Chanyeol terjatuh dari kursi.
Bibirnya kelu tak bisa meneriakkan permintaan tolong. Semua orang berseru kemudian menghampiri lelaki itu.
Jadi seperti ini akhirnya.
Di dalam keterbatasan waktu, Chanyeol dapat melihat Baekhyun masih menangis tersedu-sedu. Namun ada yang aneh, ketika Chanyeol hendak mengeluarkan suara dapat ia lihat jelas wajah itu menyeringai kecil.
Lantas berbisik di antara air mata palsu tersebut. Inilah pembalasanku.
Chanyeol paham. Jadi begitu, ternyata si gila ini sudah tahu segalanya. Chanyeol mendengus miris, menyesal sudah terlibat dengan orang tak waras macam Baekhyun. Meski bibir ini kelu, namun dalam hati dia mengumpat ribuan kali.
Aku berharap agar Tuhan mendatangkan Kerajaan-Nya padamu.
Waktu berjalan dengan begitu lambat. Episode-episode hidup kembali diputar. Dan netra Chanyeol menangkapnya. Si gadis dengan senyum manis berbalut denim, memasuki kafe. Dia anak yang baik, pasti akan sangat menyenangkan apabila dia bisa mnejadi pacarnya−gumamku sambil berangan-angan.
Barangkali gadis itu menyelinap di antar mimpi-mimpinya. Lalu tanpa sadar Chanyeol merekayasa pikirannya sendiri. Lelaki itu menghembuskan napas terakhir ditemani gegap gempita suasana kafe.
Benar seperti katamu. Inilah kenyataan bahwa sesungguhnya kita tidak pernah saling mengenal
...
"Rose lihat! I-itu kan kakak kelas kita di universitas!" Ucap salah seorang gadis bertubuh jangkung sambil menunjuk ke arah kerumunan.
Rose mengernyit tak paham, dia berusaha mencari-cari ingatan tentang orang tersebut namun nihil. Tak ada kenangan apa pun yang ada di dalam memorinya.
"Apa sih? Aku tidak kenal dengannnya. Aku.. aku tidak tahu dia siapa."
THE END
A/N :
Hohohohooo, I'm Backkkk! Yeayyy!
Gimana nih menurut kalian one shoot pertamaku ini hehehee? Ini pertama kalinya aku bawa tema tentang surialisme gitu dehhh. Semoga kalian suka yaa! Sebenernya ff ini dedicated to one of my favorite friend ever! Aku berharap semoga dia jg bisa menikmati ceritaku ini.
Kalian jangan kecewa ya si Baekhyunnya kali ini aku jadiin antagonis wkwkwk tokoh utama kan ga harus selalu protagonis lah yaa. Selamat menjalani ibadah puasa Ramadhan ya bagi yang menjalankan. Stay safe and stay healthy guyss, oh iya dan jangan lupa buat stay at home! Semoga kalian selalu dilindungi Tuhann.
Terakhir, jangan lupa untuk meninggalkan jejakk, karena dengan begitu kalian bisa meningkatkan semangatku untuk jadi penulis yang lebih baik lagiii. Love you guyss
