Titik Temu

Lluvia Pluviophile

Ansatsu Kyoushitsu © Yuusei Matsui

Warning:

Segala macam kekurangan ada disini, karena kesempurnaan itu hanya milik Tuhan

.

Pair : KaruMana

.

I've warned you, 'kay?

Enjoy the story ^^

.

.

.

Salah satu kesalahan seorang Akabane Karma adalah, meremehkan pertemuannya dengan gadis bermarga Okuda.


Karma PoV

Waktu itu aku hanya sedang cuti kerja untuk kembali datang ke kampung halaman atas permintaan ibuku. Rasanya sudah lama sekali aku berkunjung ke Kunugi, sampai-sampai aku dibuat takjub dengan hasil pembangunan di kota kecil ini. Memang sudah kukatakan bahwa kota ini kecil, jarak stasiun dan pusat kota tak seberapa jauh. Karena kau hanya cukup menghabiskan 15 menit saja untuk sampai ke Hotel Kunugi naik bis satu jalur.

"Kenapa?" tanya si rambut biru di sambungan telepon.

Yahh aku benci mengatakan ini, tapi aku memang lebih senang menginap di hotel yang notabenenya berhadapan dengan bekas bangunan sekolah Kunugigaoka. Sebut saja aku melankolis karena aku sedang rindu dengan kenangan masa laluku itu.

"Sialan kau lembek sekali." sambung suara lain yang dapat kupastikan si bangsat Terasaka. Mereka berdua memang tinggal satu kontrakan di flat murah sekitar Tokyo, semenjak kuliah di universitas yang sama sampai salah satunya lulus jadi guru magang. Menghemat pengeluaran katanya.

"Kurasa jadi asisten dosen belum cukup untuk membuat mulutmu terpelajar eh?" terdengar sumpah serapah diujung sana sedang aku tersenyum miring saat melewati dua karyawan hotel yang membukakanku pintu lobi depan.

"Diamlah kau Terabaka-" dengan gerakan cepat aku mengeluarkan ponsel sebelum ku serahkan di bagian reservasi hotel "-mulutmu bisa merusak kepolosan Nagisa-ku, haha."

"Seperti kau tidak pernah menodai kesuciannya saja," lalu terdengar ribut-ribut lagi.

"Cepatlah menikah Karma, aku jenuh dikatai homo denganmu lagi." Bisa ku bayangkan dia dengan lelahnya memijit pangkal hidungnya dan berpura-pura tuli dengan tudingan seme-uke Terasaka.

"Haha kau saja sana cepat lamar Kaede, aku sih nggak masalah mau dikatai homo," sudah kelewat biasa, mulut orang memang ditakdirkan gemar julid, aku lebih memilih tak ambil pusing.

"Kuharap kau menemukan hidayah disana, Karma. Jaa." sambungan ditutup, aku menerima kunci kamarku.

Resepsionis berpesan akan ada badai salju nanti malam. Kulempar gestur tak keberatan , aku memang sedang niat hibernasi malam ini. Saat itulah dengan cepat aku berbalik hendak bertolak menuju kehangatan ranjang hotel. Tapi entah, ada sesuatu yang menubrukku hingga barang-barangnya berjatuhan di antara kakiku.

"A-ah maafkan saya," sesosok gadis itu berojigi sangat dalam lalu cepat-cepat berjongkok memunguti barangnya yang berhamburan.

Suasana mendadak senyap secara dramatis dan di situlah aku, berdiri secara kaku seperti orang bodoh yang kurang belajar etika. Ada sesuatu yang tidak asing dari manusia mungil berkepang satu ini yang membuatku merasa sedikit bingung dengan perasaan nostalgia di penginderaanku. Punggungnya familiar dan begitu dikenali oleh mataku.

"Okuda … san?" aku memanggilnya secara kurang ajar, tanpa menghiraukan kesibukannya memasukkan kembali buah-buah apel ke dalam kantung belanja.

Yang kutahu gadis itu seharusnya tidak sedang berada di Jepang, apalagi di kota kecil seperti ini. Dari berita yang kucuri dengar lewat obrolan Kaede dan Nagisa saat mereka berkencan–seharusnya begitu kalau saja tanpa aku yang harus dihitung, Okuda Manami sedang magang di MIT.

Tapi keraguanku itu segera terhapuskan saat mata ametisnya balik menatapku lewat kacamata minusnya.

"Karma-kun?"

Tidak kusangka, takdir membawaku bertemu kembali dengan sosok ini. Bahkan dalam tujuh-atau delapan tahun lamanya kami berpisah tak pernah terlintas sedikitpun bayangan dan keinginan untukku berjumpa dengan dia.

Ambisi memang telah mengambil sebagian besar kesadaranku semenjak Koro-sensei meninggal. Kurasa mungkin ini sudah waktunya untuk kami saling menyapa.

Tidak ada degup jantung yang berlebihan kurasa, terlampau normal. Aku hanya sedikit terkejut dengan ketidaksengajaan ini.

Yah, kurasa memang sudah tidak ada perasaan yang tertinggal sama sekali untuknya.

Meski memang kuakui sedikit rasa lega dan bahagia sedang mencampuri pikiranku, tapi itu bukan akibat aku bertemu kembali dengan sosok cinta monyetku saat SMP ini. Ini, lebih terasa seperti berjumpa dengan kawan lama.

Ya … kurasa memang begitu.

Pikirku waktu itu.

TBC


Hanya multichap pendek.

Dari aku yang sedang rindu-rindunya dengan fandom ini

KarManami Banzai