"Okuda … san?" aku memanggilnya secara kurang ajar, tanpa menghiraukan kesibukannya memasukkan kembali buah-buah apel ke dalam kantung belanja.
Setahuku gadis itu seharusnya tidak sedang berada di Jepang, apalagi di kota kecil seperti ini. Dari berita yang kucuri dengar lewat obrolan Kaede dan Nagisa saat mereka berkencan—seharusnya begitu kalau saja tanpa aku yang harus dihitung, Okuda Manami sedang magang di MIT. Tapi keraguanku itu segera terhapuskan saat mata ametisnya balik menatapku dibalik kaca minusnya.
Titik Temu
Lluvia Pluviophile
Ansatsu Kyoushitsu © Yuusei Matsui
Warning:
Segala macam kekurangan ada disini, karena kesempurnaan itu hanya milik Tuhan
Pair : KaruMana
I've warned you, 'kay?
Enjoy the story ^^
Manami PoV
"Karma-kun?" kulihat senyum samar pada wajahnya yang tampak dewasa.
Aku mendadak bangkit karena terdorong oleh naluri, tanpa memikirkan tindakanku yang terlalu gegabah membuat kantung belanja berbahan dasar kertas di dekapanku memuntahkan kembali sebagian isinya yang sempat terjatuh tadi.
"Kyaaa!"
Agaknya aku memekik terlalu keras. Sampai-sampai resepsionis yang sedang berjaga tak jauh dari sini ikut kaget dibuatnya. Terlalu malu rasanya jadi pusat perhatian seperti ini.
Lucu sekali. Aku sampai ceroboh menjatuhkan belanjaan sampai dua kali. Sesuatu jatuh merosot lagi saat aku membungkuk hendak meraih sebuah apel. Ah, yang ketiga … itu bungkusan pembalut … oh harga diriku turut jatuh tercecer juga rupanya.
"Jangan menggumam yang aneh-aneh." Ada suara pfft yang menyertainya.
Malu sekali! Padahal aku sangat yakin tadi cuma bergumam di dalam pikiran. Sambil menunduk aku berpura-pura sibuk memunguti apel-apel di lantai, mencoba mengalihkan pandangan dari teman lama yang baru saja menertawakanku.
Lelaki itu berjongkok, ikut membantuku memungut apel, kemudian tertawa lagi.
"Kau masih sama kikuknya seperti terakhir yang kuingat, Okuda-san," katanya sambil menggulirkan sebuah apel untuk kumasukkan dalam kantung.
Aku menerimanya sambil menahan malu, "Kurasa memang begitulah diriku, hehe."
"Hahaha memang begitulah dirimu, tak usah malu."
Setelah semua beres dan aku selesai berterimakasih, aku meminta maaf karena mengganggu waktunya dengan kejadian yang tidak perlu. Karma hanya menjawab "Santai saja."
Kami baru saja mengobrol sebentar sebelum aku sadar keperluanku di bagian reservasi. Anak mataku melirik jam dinding yang terpasang di lobi hotel. Sudah pukul 4 lebih seperempat, matahari akan segera tergelincir dan badai akan datang. Aku berkata padanya hendak permisi sebentar, pria itu mempersilahkanku pergi dan tak keberatan menunggu. Segera kuhampiri meja admin hotel, meminta bantuan teknisi karena pemanas ruangan kamar milikku rusak secara ajaib menjelang badai begini.
"Ada yang bisa kami bantu?"
Dan sayangnya aku harus menunggu dua jam lagi sampai pemanas ruanganku berfungsi kembali.
"Okuda-san," aku menengok pada sosok pemuda jangkung yang berjalan mendekat.
"Kau bisa menunggu teknisi itu di kamarku kalau kau mau."
Sedikit menimbang-nimbang tapi kurasa itu bukan ide yang buruk. Aku memang sedang ingin ngobrol dengan mantan teman sekelasku ini.
Kuletakkan atensiku pada sepasang mata tembaga itu, mencoba menjawabnya dengan menggembungkan pipi dan dua kali kedipan mata, siapa tahu Karma akan mengerti.
Sebentar saja kemudian dia tersenyum
"Baguslah, ayo." katanya dan merebut kantung yang aku dekap sebelum bertolak memunggungiku.
Sejenak tertegun, tak ku sangka pria itu masih mengenali kode kecil milik kami yang sudah lama tertimbun ratusan purnama yang terlewat.
Semua berawal dari kejadian hari valentine di semester pertama kelas 3E, saat itu secara ajaib Karma meminta bantuan membuatkan cokelat valentine. Baru saja aku terkejut karena senang tapi botol kaca di genggaman pemuda itu seketika menerbitkan kerutan di wajahku. Dilain pihak Karma tahu aku pasti tidak akan senang dengan rencananya kali ini, tapi ia tidak bisa menyerah. Oleh karenanya ia kemudian melancarkan jurus memohonnya yang imut sekali di mataku. Pipi gembung dan kedipan matanya itu benar-benar membuat benteng penolakanku luluh. Aku dipaksa untuk tidak bisa menolak.
"Ugh … manipulatif sekali," Aku sedikit meringis saat mengingatnya.
Semenjak saat itu, kode kecil itu menjadi senjata Karma memenangkan penolakanku. Dan entah mengapa semakin sering dia melancarkannya justru membuatku semakin tidak bisa menolak.
Kulihat punggung tinggi Karma di depanku, lalu tersenyum.
Tidak kusangka, bertemu dengan teman lama bisa semenyenangkan ini.
TBC
Sepertinya saya ndak cocok sama fanfic multichap wkwkwk
Terimakasih untuk Iiaaraini, Aray Pangestu, NolNol, Guest, Gomizia dan Kucing Antariksa yang berbaik hati meninggalkan review.
And all of you who've been reading till this very end. Sehat-selalu yaa ...
KarManami Banzai
