Halo! Lama tidak bertemu dengan Riku!
King and Queen merupakan salah satu sequel dari fanfiksi paling terkenal yang saya punya (hahaha you know I love you guys!), Klaustrofobia. Saya mempublish cerita ini kalau tidak salah pada tahun 2017. Sebenarnya saat itu saya menyelesaikan King dan Queen dengan terburu-buru dan hingga saat ini saya tidak sanggup membacanya ulang karena terlalu cringey! Terkadang saya heran bagaimana bisa saya menulisnya hahaha
Karena saya merasa sayang saat itu saya tidak secara serius memikirkan plotnya, saya memutuskan untuk menulis ulang King and Queen.
Saya akan tetap promosi cerita SasuHina saya yang lain disini hehe! Hurt adalah fanfict kedua saya yang paling terkenal haha padahal Hurt juga sekuel dari Companion tapi Companion masuk urutan keenam. Anyway! King and Queen (2017) sebenarnya berada di urutan ketiga. Saya jujur tidak tahu bagaimana cerita super cringey itu bisa masuk top three? But I know you guys are rocks. Double thumbs up for your endless support! Love you all!
Enjoy!
000
"Kenapa kau ada disini?" Hinata menatap Sasuke heran. "Aku pikir kau tidak ikut bermain."
Sasuke tertegun. Kenapa ia ada disini?
"Sasuke?"
"Ah," lelaki itu menggaruk tengkuknya canggung. "Pemeriksaan keamanan."
Hinata mengerutkan keningnya. "Kau bagian keamanan malam ini? Aku kira kau ketua divisi logistik dan transportasi..."
"Aku membantu Kiba karena dia kekurangan orang," Sasuke memalingkan wajahnya. Walaupun tempat ini cukup gelap dan hanya disinari sinar rembulan, ia tidak mau mengambil risiko pipinya yang memerah terlihat oleh perempuan dengan rambut indigo tersebut.
Hinata mengangguk namun gadis itu masih menatap Sasuke dengan ekspresi penuh tanya.
Sasuke yang masih dapat melihat raut wajah Hinata kembali berbicara. "Aku melihat jejak sepatu dibawah."
Gadis itu berdiri dari duduknya di lantai. "Jejak sepatu? Aku tidak sadar..."
Ya, memang. Sasuke tersenyum di dalam hati. "Kau ceroboh bahkan saat bermain."
Hinata membelalakkan matanya tidak percaya. "K-kau baru saja menertawakanku, bukan?"
Lelaki dengan rambut hitam itu tidak dapat menahan tawanya. Ia melihat bagaimana pipi perempuan dengan mata lavender itu memerah karena malu. How adorable.
Ruangan tersebut kembali hening. Hinata memainkan ujung rambutnya canggung, tidak tahu harus melakukan apa dengan tangannya. Sasuke menatap dinding kayu rumah pohon tersebut sembari berpikir keras. Apa lagi yang bisa ia lakukan? Ia menggunakan alasan patroli untuk tidak terlihat sengaja mencari gadis tersebut dan karena ia secara teknis sudah selesai mengecek ruangan tersebut, ia tidak punya alasan lain untuk tetap tinggal disana. Sasuke tidak tahu apakah memintanya untuk mencari tempat persembunyian lain akan menjadi ide yang bagus, jadi ia saat ini terpojok dalam situasi yang serba sulit. Di satu sisi ia tidak ingin pergi, namun di sisi lain ia tidak dapat tetep tinggal.
Lelaki itu melirik Hinata sejenak. Gadis itu sudah kembali duduk di lantai, seperti saat Sasuke menemukannya beberapa menit yang lalu. Ia tidak tampak ketakutan seperti saat ia terjebak di gudang fakultas dengan Sasuke beberapa bulan silam. Mungkin ia akan baik-baik saja?
"Baiklah karena tempat ini sepertinya aman dan pemilik dari sepasang sepatu tersebut bukanlah orang aneh, jadi mungkin kamu bisa melanjutkan permainanmu dan aku akan pergi—"
"T-tunggu," Hinata memotong perkataan Sasuke.
Lelaki itu mengangkat alisnya. Ia baru saja akan melangkah pergi ketika saat itu juga Hinata sudah berdiri di sampingnya, kedua tangannya menahan lengan Sasuke.
Gadis itu tidak melanjutkan perkataannya bahkan setelah beberapa detik terlewat. "Hinata?"
"Uh... kamu sudah selesai patroli?"
Sasuke tidak menyangka gadis itu akan menanyakan hal tersebut. Ia mengangguk singkat. Sasuke sebenarnya tidak harus melakukan patroli, tentu saja,namun Hinata tidak perlu tahu hal tersebut.
"K-kalau begitu apakah kamu bisa menemaniku disini... sampai permainan selesai? Apabila kamu tidak keberatan," ucap Hinata, menghindari tatapan Sasuke.
Lelaki dengan iris hitam itu mengerutkan keningnya. Gadis ini tampak baik-baik saja... namun saat itulah ia menyadari hal yang beberapa saat lalu luput dari observasinya –mungkin karena Hinata saat ini berada sangat dekat dengannya, atau mungkin juga karena perempuan itu sedang menggenggam lengannya erat.
She is trembling.
000
Disclaimer:
Naruto Masashi by Kishimoto
Holding On by saya
P.S. sequel dari Klaustrofobia, remake dari King and Queen
Pairing:
Sasuke-Hinata
Genres:
Romance, Friendship
Warning:
AU, OOC, my Hinata will always be OOC walaupun saya berusaha sebagaimanapun hahaha. Anyway, have fun!
DON'T LIKE DON'T READ, PLEASE
000
Cahaya matahari yang terik namun tidak begitu menyengat di hari itu menandakan bahwa musim panas akan segera berakhir. Waktu yang sangat tepat untuk mengadakan field trip.
Dengan berakhirnya kegiatan Festival Tahunan Universitas Konoha, berakhir pula masa kepanitiaan pada tahun ini. Naruto, sebagai ketua umum, sangat bersikukuh untuk mengadakan after party –yang dalam hal ini terwujud sebagai kegiatan bonding 3 hari 2 malam.
Sasuke menghela napas. Ia menatap pepohonan rindang yang berdiri kokoh di sepanjang jalan pinggir Kota Konoha bosan. Bus berjalan dengan kecepatan yang tidak akan membuat muntah sehingga kegiatan observasi Sasuke sama sekali tidak memberikannya masalah yang berarti. Konsentrasinya masih setia pada sumber paru-paru dunia tersebut ketika ia merasakan seseorang duduk di sampingnya.
"Yo! Teme!"
"Berisik," jawab Sasuke cepat. Ia mengalihkan pandangannya dari jendela minibus sebelum menutup matanya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada –posisi yang sangat menandakan bahwa ia tidak mau diganggu oleh siapapun.
Naruto mengerucutkan bibirnya kesal. "Hei, bagaimana bisa kau tidur disaat seperti ini? Perjalanan jauh harus dinikmati dengan canda dan tawa!"
Kening Sasuke berkerut sebagai jawaban.
"Benar-benar membosankan," cetus Naruto.
"Kalau kamu begitu bosan, tidak ada yang melarangmu untuk pergi sekarang juga," ujar Sasuke.
"Tsk! Dasar. Kalau begini terus bagaimana kau bisa mendapatkan pasangan, huh? Kurasa tidak akan ada perempuan yang mau berurusan dengan manusia sesensitif Uchiha Sasuke!"
Pasangan? "Omong kosong. Kau sendiri tidak mempunyai pasangan jadi jangan berkomentar apapun."
"Well! Setidaknya aku punya orang yang kusukai!" jawab Naruto defensif, lalu berdiri dari kursi yang baru saja ia duduki. Ia baru saja hendak mencari lawan bicara yang secara sukarela mau menanggapinya ketika ia tiba-tiba mengingat alasannya mendatangi Sasuke. "Oh, iya."
Mendengar intonasi serius Naruto yang biasanya hanya muncul saat mereka sedang rapat umum, Sasuke membuka matanya. "Apa?"
"Jangan merindukanku," untuk apa Naruto datang? Tentu saja untuk mengganggu sahabat kesayangannya.
"Kau—" Sasuke berdiri dari duduknya dengan raut kesal. Lelaki itu tidak sempat berkata-kata lagi karena Naruto sudah kabur menuju kursi belakang untuk bergabung dengan Shikamaru dan Chouji sebelum Sasuke sempat memukulnya.
Tepat disaat ia hendak duduk kembali, pandangannya bertumpu pada sosok perempuan berambut indigo yang duduk sekitar dua kursi di belakangnya. Mata perempuan itu tertutup rapat dan kepalanya mengangguk-angguk pelan mengikuti kondisi jalan yang sedang dilalui bus –tanda ia tengah terlelap.
Tanpa sadar, lelaki dengan iris onyx itu tersenyum. Ia duduk dan menutup matanya, hendak melakukan hal yang sama dengan perempuan yang baru saja dia lihat.
000
"Selanjutnya kita akan memasuki sesi games!" sahut Sakura dan Ino yang saat ini sedang berdiri di depan ruangan.
Sorakan penuh semangat mengisi seluruh sudut ruangan. Sasuke bersandar di dinding dengan mata tertutup. Sungguh, sejujurnya ia tak tertarik dengan permainan apapun itu. Perjalanan kurang lebih 5 jam melalui jalan dengan kondisi yang tak dapat dikatakan baik, ditambah lagi posisi Sasuke sebagai penanggung jawab logistik membuatnya ingin langsung berbaring di kamarnya.
"It's time for King and Queen!"
Sorakan para panitia semakin menggema. Sasuke mengerutkan keningnya terganggu. Ruangan yang sangat berisik ini hanya membuatnya kesal.
"Kami akan membagi kalian menjadi 2 tim yaitu tim A dan tim B. Pertama-tama, aku akan menyebutkan anggota yang berada di tim A. Chouji, Shino..." suara Ino meredup di telinga Sasuke. Lelaki itu hampir saja jatuh dalam lelap ketika Ino mengakhiri kata-katanya dengan suara lantang. "Dan yang terakhir, Hinata!"
Sasuke secara refleks membuka matanya.
"Nama-nama yang tidak disebut otomatis menjadi Tim B!" sambung Sakura.
Terdengar beberapa sorak kecewa –mungkin karena ada beberapa orang yang tidak satu tim dengan orang terdekat mereka atau mungkin bahkan satu tim dengan orang tidak mereka sukai.
"Secara singkat, ini adalah permainan petak umpet yang kami modifikasi," Ino terlihat bangga saat menjelaskan permainan tersebut. "Masing-masing tim akan memiliki sepasang Raja dan Ratu. Kalian harus mencari ratu yang telah disembunyikan oleh panitia game. Kalian akan menang apabila raja grup yang sama menemukan ratu dan akan kalah apabila anggota atau raja tim lawan menemukan ratu kalian. Yang bukan menjadi raja atau ratu pun bisa saling membuat out satu sama lain! Kami mempersiapkan balon-balon air dengan pewarna di dalamnya. Lalu—"
Sasuke kembali menutup matanya, tidak lagi mendengarkan penjelasan Ino dan Sakura. Saat itulah ia merasa kesadarannya semakin menurun.
000
"...ke!"
"Sasuke!"
Sasuke tersentak. Ia spontan membuka matanya dan bertemu pandang dengan Kiba. Akamaru menyalak bising disampingnya. Ruangan yang sangat ribut beberapa saat yang lalu itu sudah kosong sekarang, tanda bahwa permainan sudah dimulai.
Sasuke mengangkat alisnya. Ekspresi Kiba bukanlah ekspresi yang diharapkan Sasuke pada saat seperti ini. "Ada apa?"
Kiba tampak ragu sesaat, namun tatapan Sasuke membuatnya kembali membuka mulutnya. "Hinata..." Sasuke mengerutkan keningnya. Seluruh rasa kantuknya hilang seketika. Ada apa dengan Hinata? Melihat raut wajah Sasuke, Kiba tampak ragu untuk melanjutkan kata-katanya.
Kesabaran Sasuke menipis dengan berjalannya waktu. "Bicaralah sebelum aku memaksamu untuk bicara—"
Kiba menelan ludah gugup sebelum mengeluarkan smartphonenya. Dia membuka sebuah aplikasi chatting dan menunjukkan sebuah chatroom.
[Hinata]
Kiba!(20:03)
Tenten pingsan! Badannya panas sekali. (20:03)
Kiba. (20:10)
Aku sudah membawanya ke ruang panitia game. Disini ada Naruto. (20:10)
Naruto bilang dia akan mengurus Tenten dengan tim medis. (20:11)
Aku khawatir pada Tenten tapi permainan tidak mungkin berjalan tanpa aku :( (20:13)
Semua orang sepertinya sibuk. Aku sembunyi sendiri saja ya? Aku akan berusaha bersembunyi sebaik mungkin hehe. (20:16)
Kiba. (20:18)
Hei! Kenapa kau tidak membuka chat dariku! (20:20)
Sasuke terdiam disaat otaknya berusaha memproses informasi yang baru ia dapatkan. Hinata adalah Queen dari tim A?
"Uh... Sebenarnya aku menunjukkan ini karena kau adalah ketua tim logistik dan transportasi," Kiba menggaruk tengkuknya canggung. "Naruto akan mengantar Tenten ke rumah sakit terdekat. Dia butuh kunci mobil Shino yang kau simpan."
Lelaki dengan iris onyx itu mengeluarkan kunci mobil dengan gantungan kunci lebah yang merupakan trademark dari barang-barang milik Shino. "Aku belum menurunkan barbeque set di bagasi."
"Bukan masalah. Akan aku pindahkan sebelum Naruto pergi," Kiba mengangguk paham. "Um... Sasuke?"
"Apa lagi?" cetus Sasuke yang sedari tadi tampak sibuk dengan pikirannya.
Kiba tersenyum gugup. "Kau tahu... Kartu kredit untuk bensin..."
Sasuke menghela napas sebelum menyodorkan kartu berwarna hitam. Kiba mengangkat alisnya kaget, namun tidak mempertanyakan kenapa ketua divisi transportasi itu dengan mudah memberikannya kartu yang sangat penting. "Terima kasih. Aku yakin Naruto akan menjaganya dengan baik!"
Kiba dan Akamaru baru saja akan pergi dari ruangan tersebut ketika pergerakan mereka dihentikan oleh Sasuke. "Tunggu. Kau sudah selesai melakukan pemeriksaan keamanan di sekitar vila?"
"Uh... belum..." Kiba tertawa canggung, merasa bahwa ia akan dimarahi karena belum menyelesaikan tugas yang seharusnya ia selesaikan dari sore hari walaupun ia dan Sasuke berada di kedudukan yang sama. "Ah... dan sekarang Shino harus membantu Naruto membawa Tenten ke rumah sakit," gumamnya, sudah merasakan beban pekerjaan yang bertambah karena anggotanya berkurang satu.
"Aku akan membantumu," Sasuke bangkit dari duduknya.
Kiba membelalakkan matanya kaget. "Hah?"
Sasuke mengulurkan tangannya. "Kau punya senter cadangan, kan?"
"Senter cadangan... tentu," jawab Kiba heran, namun tetap memberikan Sasuke senter cadangan yang selalu ia bawa. "Kau tidak harus membantuku, kau tahu. Walaupun tempat ini nyaris sebesar gedung kuliah utama fakultas hukum tapi aku punya anggota yang bisa membantuku—"
"Kau mau menolak bantuan sukarela?"
Kiba menggelengkan kepalanya, sedikit merasa terintimidasi dengan tatapan kesal Sasuke. "Uh, tidak, tapi—"
"Aku tidak ikut permainan, jadi tidak ada yang bisa kulakukan saat ini," Sasuke memainkan senter kecil pemberian Kiba di tangannya. "Lagipula kau membangunkanku. Akan sulit untuk tidur kembali."
Kiba tertawa canggung. Walaupun Sasuke mengucapkannya dengan intonasi biasa, ia merasa seperti sedang diomeli. "Maafkan aku..."
"Bagian mana yang belum kau periksa?"
"Taman vila, lantai 3, dan lantai 4."
Sasuke mengangguk. "Aku akan mengecek taman villa."
Kalah argumen, Kiba hanya bisa mengangguk. "Baiklah. Terima kasih...?"
Lelaki dengan iris onyx itu mengibaskan tangannya sebagai jawaban. Kiba menganggap hal tersebut sebagai tanda baginya untuk segera keluar dari ruangan yang sangat menyesakkan itu. Akamaru menyalak nyaring sebelum mengikuti Kiba keluar dari ruangan. Hell, Sasuke tidak pernah menyukai betapa berisiknya partner hidup Kiba itu. Kalau diingat-ingat, Akamaru turut andil dalam terkurungnya ia dan Hinata di gudang universitas beberapa bulan yang lalu. Sasuke menghela napas.
Dalam waktu singkat setelah Kiba menunjukkan pesan Hinata, Sasuke berpikir keras.
Hinata memiliki klaustrofobia. Gadis itu tidak akan memilih tempat gelap sebagai tempat bersembunyi, kan? Tapi apabila dilihat-lihat lagi, tempat ini hanya terang di dalam gedungnya saja dan ruangan dalam gedung merupakan tempat yang sangat obvious untuk ini tidak memiliki cukup penerangan pada halamannya. Tempat ini sangat dekat dengan gunung dan jauh dari gemerlap kota yang berarti menjamin minimnya cahaya.
Ah... Hinata tidak pernah berhenti memberikannya sakit kepala.
Sasuke mengeluarkan smartphone miliknya untuk mengirimkan sebuah pesan kepada Hinata, walau ia tidak yakin gadis itu akan menjawabnya.
[Hinata]
(20:45) Kau dimana?
000
Mencari seorang manusia di penginapan yang sangat luas seperti ini tentu bukanlah hal yang mudah. Ditambah lagi dengan pencahayaan yang sangat minim. Bagaimana bisa lampu halaman disini hampir tidak ada yang hidup? Untung saja pengelihatan Sasuke berada diatas rata-rata sehingga ia tidak menemukan masalah yang cukup berarti.
Ia berhasil membuat Kiba memberikannya authority untuk mengecek taman belakang. Tentu saja alasannya membantu Kiba sama sekali tidak ada hubungannya dengan keamanan para panitia. Tempat ini mungkin saja terpencil, namun secara keseluruhan keamanan disini cukup terjamin. Pemeriksaan yang dilakukan divisi keamanan hanyalah merupakan protokol untuk dilaporkan ke universitas.
Apabila Sasuke tidak dapat menemukan Hinata di tempat ini, maka ia tidak perlu lagi merasa khawatir karena berarti gadis itu bersembunyi di dalam gedung.
Namun hal pertama yang seharusnya ia jawab, kenapa ia merasa khawatir?
Dalam beberapa bulan terakhir setelah kejadian di gudang tersebut, ia memang menjadi jauh lebih dekat dengan Hinata. Ia bahkan memanggil gadis itu dengan nama depannya. Pekerjaan festival yang sangat banyak membuat mereka seringkali bekerja sama. Ia sudah mengenal Hinata semenjak ia masih SMA, walau mereka hanyalah sebatas kenal. Gadis itu cantik, tentu saja. Ia merupakan anak pertama dari keluarga Hyuuga yang sangat terkenal dengan paras yang diatas rata-rata. Hinata memiliki sikap yang tenang. Ia juga cukup aktif di berbagai organisasi. Pekerjaannya selesai dengan sangat baik –ia merupakan orang yang sangat bisa diandalkan. Kegiatan akademiknya juga tentunya tidak ia tinggalkan, karena keluarga Hyuuga juga terkenal dengan keahlian mereka untuk selalu menduduki peringkat pertama. Tidak heran apabila banyak orang yang menyukainya. Tanpa gadis itu sadari, ia memiliki idola di setiap penjuru Universitas Konoha.
Sasuke sendiri selama ini hanya menganggap Hinata sebagai orang yang bisa ia toleransi. Akan tetapi akhir-akhir ini dengan semakin seringnya mereka berinteraksi, Sasuke mulai melihat Hinata dalam warna yang berbeda. Sejak kapan hal itu berubah? Ketika orang lain selalu berusaha menarik perhatiannya dengan berbagai macam cara, entah kenapa Hinata bisa membuat fokusnya terbagi hanya dengan panggilan.
Lelaki dengan rambut sekelam malam itu menyusuri halaman depan dan samping villa tersebut tanpa hasil. Ia bahkan tidak dapat melihat ujung rambut Hinata. Pada beberapa tempat, Sasuke melihat beberapa anggota tim A yang juga tengah kesusahan mencari queen mereka. Bunch of idiots. Mereka sudah bermain selama nyaris satu jam tapi masih belum berhasil menemukan Hinata? Geram Sasuke di dalam hati.
Sasuke mulai menyusuri bagian belakang villa. Tempat itu dipenuhi oleh pepohonan rindang. Terdapat satu atau dua lampu taman yang menyala, namun cahayanya tidak begitu terang.
Untung saja cahaya rembulan malam ini cukup terang, batin Sasuke, sedikit merasa lega.
Sasuke tidak menemukan lokasi apapun yang bisa dijadikan tempat bersembunyi di taman belakang. Setelah mengecek untuk kedua kalinya, lelaki itu menarik napas lega. Tentu saja. Hinata tidak akan senekat itu, kan? Pikirnya, namun rasa lega itu berhenti tepat ketika ia melihat celah pada semak-semak di pojok taman.
"Tidak mungkin," gumamnya.
Tepat setelah ia mengutarakan hal tersebut, smartphone Sasuke berdenting menandakan bahwa terdapat pesan masuk.
[Hinata]
Uh... kau tahu, aku sedang bersembunyi. (20:50)
Aku tidak bisa memberitahumu. (20:50)
Sasuke tidak dapat mempercayai pandangannya. Baru kali ini lelaki itu mengetik sebuah balasan dengan sangat cepat.
[Hinata]
(20:50) Kau bersembunyi dimana?
Ada apa? (20:51)
Ah, ya. Bukankah kau bagian dari tim B? (20:51)
Bila kau menemukanku, maka timku akan kalah (20:51)
Sasuke, bukan begini caramu memainkan game ini. (20:51)
Aku tidak akan tertipu. (20:51)
(20:51) Aku tidak ikut bermain.
Hmm. (20:51)
Oh ya? (20:51)
(20:51) Kau tidak percaya?
Hahaha (20:51)
Sasuke mengurut keningnya. Perempuan ini benar-benar membuatnya sakit kepala! Berita bagusnya adalah, sepertinya Hinata tampak baik-baik saja. Akan tetapi, kenapa Sasuke masih belum merasa tenang?
Lelaki ini menghela napas panjang. Sasuke tahu dia tidak akan tenang sebelum melihat gadis itu dengan kedua matanya.
...kenapa? Sasuke menggelengkan kepalanya. Saat ini bukanlah saat yang tepat untuk memikirkan perasaannya pada gadis itu.
Lelaki itu melangkah mendekati celah di semak-semak tersebut. Walaupun tubuhnya tinggi, Sasuke termasuk dalam kategori kurus sehingga ia bisa melewati celah tersebut tanpa masalah berarti. Hal yang terdapat dibalik semak yang baru ia lewati itu tidak jauh berbeda dengan pemandangan yang sebelumnya ia lihat. Pepohonan memenuhi lapang pandang Sasuke, hingga akhirnya matanya tertuju pada suatu hal yang paling mencolok diantara pepohonan tersebut.
Rumah pohon.
Sasuke bergegas melangkah mendekatinya. Rumah pohon itu terbuat dari kayu yang tampak kokoh walaupun atapnya terlihat lusuh dan lapuk. Terdapat tangga kayu yang dilapisi oleh cat berwarna hitam yang berhubungan langsung dengan pintu rumah kayu tersebut. Pintu rumah itu tertutup rapat dan tidak tampak cahaya apapun dari jendela kecilnya. Sasuke memanjat tangga itu tanpa pikir panjang.
Seorang gadis tampak duduk sembari memeluk lututnya di salah satu sudut, layar smartphone menyinari wajahnya. Ia tampak tenang, namun kakinya mengetuk-ngetuk lantai seperti orang gelisah. Dia menekan layar ponselnya berkali-kali, sepertinya sedang mengetik sesuatu.
Sasuke tidak mampu mendeskripsikan perasaannya saat ini.
"Hinata."
Gadis itu mengangkat wajahnya, kaget.
"Sasuke?" ujarnya cepat, kening berkerut. "Kenapa kau ada disini?"
000
"Kau gemetaran."
Hinata tertegun, lalu menatap tangannya yang tidak sedang menahan lengan Sasuke. "Oh..."
Sasuke tidak habis pikir. Bagaimana bisa gadis ini menahan rasa takut selama nyaris satu jam dengan pencetus yang terus-menerus ada? "Ayo keluar dari tempat ini."
"Tunggu," Hinata menahan pergerakan Sasuke ketika lelaki itu mulai melangkah menuju pintu.
"Hinata—"
"Sa-satu jam!" sahut gadis itu. "Aku memang berniat hanya akan bertahan di tempat ini selama satu jam."
"Kenapa kau..." Sasuke menghela napas panjang. Tatapan gadis itu menunjukkan bahwa keputusannya tidak dapat diganggu gugat. "Baiklah. Kapan satu jam ini berakhir?"
Hinata melirik layar smartphone-nya. "Dua puluh menit lagi."
"Dua puluh menit lalu kita pergi, oke?"
Gadis itu mengangguk kuat. Sasuke menggelengkan kepalanya. Terkadang ia tidak menyangka bagaimana gadis ini bisa menunjukkan sikap yang sangat keras kepala ketika ia terkenal sebagai seseorang yang lemah lembut. Namun memang hal itulah yang membuatnya berbeda, bukan?
Sasuke membawa Hinata untuk duduk dengannya tepat di depan jendela. Walaupun tidak ada lampu, cahaya rembulan yang sangat terang membuat ruangan tersebut menjadi tidak begitu gelap.
"Kenapa kau melakukan hal ini Hinata?" Sasuke tidak dapat menyembunyikan keingintahuannya terhadap alasan gadis itu. Kau membuatku khawatir.
Hinata tidak langsung menjawab. Gadis itu menurunkan tangannya dari lengan Sasuke, kali ini menggenggam tangan Sasuke erat.
Lelaki itu tidak dapat menyembunyikan ekspresi kagetnya. Sejak kapan Hinata menjadi sangat bold seperti ini? Well, Hinata memang sudah menganggapnya teman. Gadis ini juga sangat dekat dengan Kiba dan Shino. Mungkin saja dia menganggap ini hal biasa...? Sasuke tidak menepis tangan gadis itu ataupun membalas genggamannya. Singkatnya ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Akan tetapi, Hinata tampak sama sekali tidak menyadari inner turmoil di dalam diri Sasuke. Gadis itu mulai menjawab pertanyaan Sasuke. "Kau adalah orang pertama yang tahu bahwa aku klaustrofobia selain keluargaku. Aku tidak pernah memberitahu orang lain sebelumnya karena aku merasa malu apabila ada yang tahu."
Sasuke mengerutkan keningnya. "Tapi kau sendiri yang memberitahuku."
"Aku juga merasa bahwa saat itu aku sangat aneh. Entah kenapa, aku merasa memberitahumu adalah hal yang seharusnya memang aku lakukan," Hinata mengangguk, senyuman tipis menghiasi bibirnya. "Aku merasa, kau tidak akan mengejekku apapun yang aku lakukan."
Ruangan yang remang itu membantu Sasuke dalam menyembunyikan semburat kemerahan di kedua pipinya. Lelaki itu tidak memotong perkataan Hinata, tahu bahwa gadis itu belum selesai berbicara.
"Aneh, bukan? Aku memang sudah mengenalmu semenjak SMA, tapi kita bukanlah teman dekat. Aku tidak tahu kenapa aku percaya padamu," Hinata meringis. "Semenjak kejadian di gudang itu, aku berpikir banyak tentang rasa takut ini. Aku selalu berpikir untuk menghadapinya setidaknya sekali saja, lalu kesempatan ini datang."
"Karena itu kau pergi ke tempat yang sangat terpencil ini hanya dengan bantuan cahaya ponselmu?" sambung Sasuke, ketika Hinata tidak lagi melanjutkan kata-katanya.
Gadis itu mengangguk.
"Hinata," Sasuke mengusap wajahnya frustasi. "Kau tidak harus menghadapi ini semua sendirian. Bagaimana kalau kau tiba-tiba serangan panik lagi seperti waktu itu? Apabila kau disini sendirian tanpa ada yang tahu kau berada dimana, bagaimana kau bisa meminta pertolongan? Kau bisa saja berakhir di IGD seperti Tenten."
Ketika Hinata membalas omelannya dengan senyuman, Sasuke terdiam. Bagaimana bisa gadis ini tersenyum pada keadaan seperti ini?
"Aku tidak sendirian," jawabnya singkat.
"Kau tidak sendirian...?" Sasuke tidak dapat memahami perkataan Hinata. Ia sudah memeriksa taman belakang villa berkali-kali, lagipula selama 'patroli' singkatnya ia sama sekali tidak melihat orang lain.
Hinata mengangguk. "Banyak yang menemaniku. Kau salah satunya."
"Maksudku bukan saat ini."
"Maksudku juga bukan saat ini."
Lelaki itu mengerutkan keningnya
Gadis itu tertawa pelan. "Aku ingat saat kau membantuku beberapa bulan yang lalu di gudang universitas. Aku memelukmu walau kita bahkan bukan teman dekat saat itu tapi kau sama sekali tidak menolakku, bahkan kau berusaha menenangkanku. Setiap kali mengingat hal tersebut, aku tidak lagi merasa sendirian."
Sasuke tertegun. Bagaimana bisa gadis ini mengucapkan kata-kata itu dengan raut biasa saja seperti sedang membicarakan cuaca? Sementara Sasuke tidak dapat mengatakan apapun saat ini, pertama karena detak jantungnya terlalu keras hingga memekakkan telinga, kedua karena entah kenapa otaknya seolah memutuskan untuk berhenti bekerja.
"Aku tidak ingat sejak kapan aku memiliki ketakutan terhadap tempat yang sempit dan gelap. Aku sudah melakukan berbagai cara untuk menghadapinya namun selama sepuluh tahun atau lebih, aku selalu gagal. Aku tidak bisa tahan walau hanya beberapa detik sebelum mulai merasa panik," Hinata memainkan jari-jari Sasuke tanpa ia sendiri sadari. "Selama ini aku merasa bahwa rasa takut ini adalah kelemahan yang harus aku musnahkan. Aku membawa nama Hyuuga, salah satu keluarga dengan sejarah paling kuat di Konoha. Aku merasa tidak boleh memiliki kelemahan apapun agar tidak mengecewakan ayahku."
Sasuke menarik napas. "... Apa yang berubah?"
"I changed. Semenjak kejadian di gudang itu, aku menyadari bahwa semuanya terasa lebih mudah jika bersama-sama. Tentu saja ketakutanku tidak hilang sepenuhnya, namun aku tidak harus menghadapinya sendirian," gadis itu kali ini menautkan jari-jarinya, sebelum melempar senyuman tulus. "Terima kasih, Sasuke."
Ah... Apa yang harus ia lakukan?
Sasuke mengulurkan tangannya yang tidak sedang digenggam Hinata, menyentuh puncak kepala Hinata sebelum mengusapnya pelan. "... You did well."
Kali ini, Hinata menatapnya kaget. Hinata merasa matanya memanas, dan entah sejak kapan setetes air mata mengalir di pipi gadis itu.
Sasuke terpaku kaget. Apa dia baru saja mengatakan hal yang salah? "Ada apa—"
Perkataan Sasuke terpotong karena gadis itu tiba-tiba memeluknya, membenamkan wajahnya di leher Sasuke —hal yang lebih mudah dilakukan karena saat ini mereka sama-sama terduduk.
"Hinata?"
Gadis itu tidak menyahut untuk waktu yang cukup lama. Tidak lagi paham dengan situasi yang ia alami, Sasuke melakukan satu-satunya hal yang paling logis untuk dilakukan saat itu –membalas pelukan Hinata.
Mereka berpelukan entah berapa lamanya, hingga suara ringtone ponsel Hinata tiba-tiba memecah kesunyian. Gadis itu melepaskan pelukannya untuk mengeluarkan ponselnya, namun tidak beranjak menjauh. Smartphone itu menyala dengan tulisan 'Ayah' terpampang memenuhi layar.
"Halo?"
"Hinata," suara Hiashi Hyuuga terdengar lega dan frustasi disaat yang bersamaan. "Ayah dengar dari Neji dan Tenten... saat ini kau sedang berada di kaki gunung Konoha sendirian...?"
"Ah..." Hinata tertawa pelan. Penginapan ini memang berada di kaki gunung Konoha. Akan tetapi, darimana ayahnya mendapatkan info tersebut dan entah bagaimana beliau bisa menyimpulkan seperti itu? "Aku tidak sendirian, Ayah."
"Baguslah kalau kau tidak sendirian. Jangan lupa untuk selalu membawa powerbank. Kau tidak tahu apa yang bisa terjadi. Ponselmu harus selalu hidup."
"Baik, Ayah."
Ayah dan anak itu mengucapkan beberapa kalimat penutup —goodnight, sleep well— sebelum Hinata mematikan sambungan teleponnya.
Layar smartphone gadis itu kembali hidup, kali ini disertai beberapa dentingan notifikasi.
[Kiba]
Hinata! Satu jam permintaanmu sudah selesai semenjak sepuluh menit yang lalu! (21:30)
[Ino]
Hinata, cepat kembali sebelum aku mendiskualfikasimu dari permainan. (21:30)
Walaupun Sasuke sama sekali tidak memiliki niat untuk mengintip ponsel gadis itu, posisi mereka yang sangat dekat disertai oleh layar yang terang membuat lelaki itu tidak mempunyai pilihan lain selain tidak sengaja melihat isi pesan yang baru datang.
"Kiba dan Ino tahu kau ada disini?" ujarnya tidak percaya.
"Sudah kukatakan, aku tidak sendirian..." Hinata memainkan ujung rambutnya, tiba-tiba merasa gugup dengan tatapan Sasuke. "Kiba dan Ino sudah tahu tentang kondisiku. Aku memberitahu mereka aku akan bersembunyi di tempat ini setidaknya satu jam. For precaution."
"Tapi kau tidak memberitahuku bahkan saat aku bertanya?"
"B-bukan begitu!" Hinata mengibaskan tangannya menyangkal. "Aku benar-benar berpikir bahwa kau bagian dari tim B."
Sasuke menutup wajahnya. "Kau tidak tahu seberapa khawatir..." bisiknya.
"Apa?" Hinata mendekatkan wajahnya, tidak mendengar apa yang baru saja Sasuke katakan.
"Lupakan," Sasuke menghela napas sebelum berdiri. "Satu jam percobaanmu sudah habis. Ayo pergi dari sini."
Menyingkirkan perasaan herannya, Hinata mengangguk dan menerima uluran tangan Sasuke untuk membantunya berdiri. Saat itu, kembali muncul dentingan pesan baru di ponsel Hinata.
[Kiba]
Tugasku selesai cepat malam ini karena Sasuke secara sukarela membantuku. Aneh bukan? Tapi intinya, aku bisa saja detik ini datang ke rumah pohon yang kau temukan itu. (21:32)
Kau membaca pesanku tapi tidak membalas. Kau baik-baik saja, kan? Kau tidak balas dendam karena aku terlambat membalasmu sebelumnya? :( (21:32)
Dan juga, Ino menerorku habis-habisan. Dia jauh lebih mengerikan daripada Akamaru apabila mengamuk! (21:32)
Pernyataan Kiba terlihat sangat aneh bagi Hinata. Bukankah Sasuke bilang dia memang bertugas malam ini? Kecuali apabila... "Sasuke."
"Hm?" balas Sasuke yang sudah berdiri di depan pintu yang terbuka lebar, membuat cahaya rembulan menyinari ruangan kecil itu dengan lebih leluasa.
"Kau bukan yang seharusnya bertugas memeriksa keamanan malam ini, kan?"
Lelaki itu terdiam. Bagaimana gadis ini bisa tahu —Kiba... orang itu pasti mengucapkan hal-hal yang tidak perlu di pesan yang ia kirim pada Hinata. "... Aku membantu Kiba."
"Kiba bilang kau mengajukan diri..."
Sialan, Kiba! Lelaki itu mengusap rambutnya frustasi. "Ya, kau benar. Sudah puas, Tuan Putri? Sebaiknya kita segera kembali sebelum Kiba memerintahkan seluruh divisi keamanan untuk mencarimu."
"K-kenapa?" ujar Hinata terbata. Ia sudah sangat lama melatih dirinya agar tidak terbata-bata dalam berbicara, namun entah kenapa hal itu terjadi sangat banyak sekali malam ini! "Kalau kau melakukannya dengan sukarela, berarti kau memang berniat untuk mencariku."
Sasuke menyadari bahwa ia sudah kalah semenjak memutuskan untuk mencari gadis ini. "Karena aku khawatir, Hinata."
"Kau khawatir...?"
"Ya, aku khawatir," lelaki itu menghela napasnya, lalu melangkah mendekati Hinata. "Aku bahagia saat sedang bersamamu dan aku seringkali memikirkanmu saat kita tidak bersama. Kepanitiaan festival ini berubah dari hal yang memang harus kulakukan, karena Naruto adalah ketua umumnya, menjadi hal yang kusenangi. Aku tidak terlalu memikirkannya sebelum ini, tapi sepertinya aku menyukaimu lebih daripada bagaimana perasaan teman seharusnya."
Sasuke berhenti tepat di depan Hinata. Gadis menatap Sasuke tanpa kata-kata, terlalu syok dengan hal yang baru saja lelaki itu utarakan.
"Aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya," lelaki itu berbisik, namun Hinata bisa mendengarnya dengan sangat jelas karena posisi mereka yang sangat dekat. "Apa yang harus kulakukan, Hinata?"
Hinata membuka mulutnya, namun tidak satupun perkataan keluar. Gadis itu bisa merasakan wajahnya memanas. Sasuke baru saja... menyatakan perasaanya, bukan?
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Gadis itu mengalihkan pandangannya, panik. Berpikir, Hinata, berpikir! Apa yang seharusnya kau katakan pada saat seperti ini? Oh, tapi bukankah kau juga belum pernah merasakan hal ini sebelumnya?
Menganggap ketidakyakinan dari tatapan Hinata sebagai suatu penolakan, Sasuke hanya bisa tertawa miris di dalam hati. Satu-satunya perempuan yang kau sukai bahkan tidak menganggapmu lebih dari teman, Sasuke. Life is such a joke. "Sudahlah, lupakan saja. Kita harus benar-benar kembali sekarang," ujar lelaki itu sembari menepuk pundak Hinata pelan, menyadarkan gadis itu dari pikirannya. Sasuke membalikkan badannya namun Hinata menahannya lagi, untuk kesekian kalinya malam itu, dan menggenggam tangannya erat.
Hal selanjutnya yang terjadi sama sekali tidak dapat di proses oleh Sasuke.
Hinata menarik kerah bajunya dengan tangan yang tidak sedang menahan tangan Sasuke, lalu mencium pipinya. Sangat singkat, namun berhasil membuat Sasuke berhenti berpikir.
"If you are making a pact," Hinata berujar, dibawah sinar rembulan, dengan kedua pipi memerah malu, namun tatapan yang tegas. "You have to seal it."
Sasuke menyentuh pipinya ragu. Apa Hinata baru saja menciumnya? Walaupun hanya di pipi —akan tetapi untuk menjadi yang menginisiasi hal tersebut, Sasuke hampir tidak saja mempercayainya.
"Apa kau," Sasuke menyentuh wajah Hinata dengan tangan yang tidak sedang digenggam gadis itu. "... juga tidak tahu apa yang harus kau lakukan?"
Pembicaraan ini terlalu memalukan! Hinata berteriak di dalam hati. Gadis itu mengangguk cepat. Sasuke terlalu dekat, dan mereka sudah berada di posisi ini dalam waktu yang cukup lama. Keberanian Hinata beberapa detik lalu mulai menghilang satu persatu. Ia tidak yakin hatinya bisa bertahan lebih lama! "Uh... Sasuke? Kurasa kau benar, Ino pasti sudah mengamuk saat ini dan kurasa Kiba akan segera muncul dengan Akamaru—"
"Hinata," Sasuke memotong perkataan gadis itu. "You said that I have to seal the pact."
Hinata terpaku. Ia sadar pembicaraan ini akan mengarah kemana, tapi tentu saja ia sangat sangat tidak siap menghadapinya—
"Kau benar," lelaki itu tersenyum. "Then, I have to do it properly."
Sasuke mendekatkan wajahnya, lalu menempelkan bibirnya pada bibir Hinata. Mata Hinata membelalak kaget, walau tak sepenuhnya terkejut dengan apa yang terjadi. Oh, girl, you started this. You reap what you sow. Menyadari bahwa ia hanya perlu mengikuti instingnya, gadis itu melingkarkan tangannya di leher Sasuke, tanpa sadar semakin mendekatkan dirinya. Ciuman itu tidak bertahan lama, namun Sasuke kembali menunduk untuk mencium bibir Hinata. He tasted a little bit of mint and chocolate, probably because of the candy distributed by Ino and Sakura at the beginning of the game. Sasuke tidak menyukai hal yang terlalu manis, namun Hinata jelas menjadi sebuah pengecualian. Hinata tiba-tiba menghentikan ciuman intens mereka, napas sedikit terengah karena kurangnya pasokan udara. Sasuke menyentuh pipi gadis itu untuk menciumnya lagi ketika gadis itu menahan bibir lelaki itu dengan tangannya.
"K-kita benar-benar harus kembali," ujar Hinata serius. Bukan hal yang mudah untuk menghentikan keinginan di dalam hatinya dan, terlebih, mengabaikan tatapan tidak rela Sasuke.
Setelah beberapa detik berlalu tanpa adanya tanda-tanda Hinata akan mengalah, lelaki itu mengangguk. Ia menjauhkan tubuhnya namun tidak melepaskan genggamannya dari tangan Hinata. "Ayo," gumamnya.
Mengeratkan genggamannya, Hinata mengikuti Sasuke turun dari rumah pohon tersebut.
"... Are you my boyfriend now?" tanya Hinata tanpa pikir panjang setelah mereka melewati celah di semak-semak.
Sasuke tertawa pelan. Ah, betapa Hinata menyukai suara itu. "Of course."
Hinata ikut tertawa. Ia sama sekali tidak menyangka percobaannya akan berakhir seperti ini.
Ia masih belum sepenuhnya mengatasi ketakutannya akan kegelapan. Akan tetapi, ia tidak akan lagi menghadapinya sendirian.
THE END
OMAKE:
"Kau bisa mendapatkan kartu kredit Sasuke? Tanpa persetujuan lewat kertas dan tanda tangan?" Naruto menatap Kiba tidak percaya. Saat ini mereka berada di luar garasi, kedua tangan masing-masing penuh dengan perlengkapan barbeque. Shino dan Ino sedang membopong Tenten ke dalam mobil sebelum Shino nantinya akan membawa mobil ke depan pintu utama untuk bertemu Naruto.
"Hebat bukan?" Kiba tertawa bangga. "Yah, aku memang sedikit curang tapi ini semua demi Tenten—"
"Oh, kau menunjukkan chat dari Hinata?" Naruto tertawa.
Kiba mengalihkan pandangannya. "Aku tidak memiliki niat buruk."
"Yah, aku tidak akan memarahimu atau apapun. Tapi aku juga tidak akan membantumu apabila Sasuke menyadarinya," Naruto menyeringai. "Akhirnya kali ini objek kemarahan orang itu bukan aku!"
"Hey! Aku hanya berpikir mungkin Sasuke akan menemuinya, dan hal itu akan mengurangi kekhawatiranku, dan juga mereka akhirnya bisa berbicara —kau tahu bagaimana mereka beberapa bulan ini. Kartu kredit serta keputusannya untuk membantuku mengecek keamanan hanyalah bonus," ujar Kiba dengan suara semakin lama semakin mengecil. "Ugh... Ini semua ide Ino!"
"Apa maksudmu ideku?!"
Naruto dan Kiba menoleh, Ino dengan wajah kesalnya muncul tepat di belakang mereka.
Ino menyilangkan kedua tangannya kesal. "Kau sendiri yang tidak menjawab chat Hinata karena kau terlalu sibuk bermain game online disaat kau seharusnya patroli. Kau seharusnya bisa menghentikan Hinata sebelum ia membuat keputusan seperti ini. Aku menyuruhmu menghubungi Sasuke agar kau merefleksikan diri—"
"Maafkan aku, Ino!" teriak Kiba, sebelum berlari memasuki vila.
Naruto terkekeh. "Haaa, Kiba, kau akan dihabisi tidak hanya oleh Sasuke."
THE END, for REAL
Aww I love Ino and Kiba, you know. They are soo comical sometimes.
Hello! You know, I might as well call this story a masterpiece because it was the most satisfying story I'd ever write! I'll let you out a little secret. I, actually, regret writing King and Queen the most as I portrayed Hinata as a weak girl there hahaha She doesn't need any man to be strong, you know. She also needs to realize that leaning on somebody doesn't make her weak. You too, my reader! If you have any problem, be sure to talk it out to anybody you feel closest to. I know it's hard since I experienced it firsthand :) I have a stress disorder myself. Talking it out makes it better. Just my opinion though! If you don't trust anybody around you, seeking a professional hand might help. They would keep your secret no matter what. They do have the confidentiality code!
Anyway! Apapun yang kalian lakukan, saya harap kalian melakukannya dengan bahagia. Let's spread happiness! The world is too dark already. Well, at least in my fict I won't let even the smallest hint of hate –so, no flame! Tentu saja saya menerima kritik yang membangun. Review kalian selalu membuat saya bersemangat :)
P.S. This story marks the end of Klaustrofobia sequels! Saya tidak akan lagi menulis lanjutannya hehe. Saya sebenarnya saat ini sedang menulis cerita SasuHina yang lain, namun dalam bahasa Inggris. What do you think?
Please review if you have time to. Thanks again!
