_Daily Kacchako_

Katsuki shirt

Rated T atau M(?)/Sweet/Romance/ Fluff


Ochako terbangun dari tidurnya membuka kedua matanya dengan enggan dan ia mengerutkan keningnya merasakan berat di perutnya, gadis itu menoleh dan merona sendiri mendapati kekasihnya, Bakugou Katsuki terlelap di sampingnya. Pemuda itu tidur miring menghadapnya, salah satu lengan kekar pemuda itu memeluknya erat dalam tidur. Ochako kembali merona merasakan sensasi kasar dari kulit lengan Katsuki yang membungkus perutnya. Mereka tidak mengenakan sehelai pakaian pun setelah kegiatan panas mereka semalam, membuat Ochako dapat merasakan suhu tubuh mereka masing-masing.

"Katsuki." Ochako memanggil pemuda itu. Sejak kapan mereka mulai saling memanggil nama kecil masing-masing? Ochako tak ingat. Gadis itu menyentuh rambut pirang pemuda itu yang terasa sangat halus, berkebalikan dengan tampilannya yang tampak berduri.

"Ngh ..." Katsuki mengerang pelan perlahan kedua matanya terbuka bertemu pandang dengan wajah manis bak malaikat yang sangat ia cintai dalam cahaya remang-remang kamarnya. "Jam berapa sekarang?" tanya Katsuki usai memberikan kecupan ringan di kening gadis itu.

"Masih jam setengah enam, aku harus keluar dari kamarmu sekarang."

"Huh? Ini hari libur Ochako. Di luar juga sedang hujan, tetap lah tinggal di sini selama beberapa menit."

Dalam sudut hati Ochako, ia merasa tergelitik untuk menuruti perkataan Katsuki. Berbaring dalam satu selimut di pagi hari libur apalagi di tambah dengan hujan di luar sana dan cahaya remang-remang di sekitar mereka yang sepertinya akibat listrik konslet, memang sebuah tawaran yang menggiurkan. Terlebih ia sangat suka kala tubuh mungilnya berada dalam pelukan hangat dan menenangkan dalam lengan kekar Katsuki.

Tapi menyadari status mereka yang masih pelajar di U.A, plus mereka sekarang berada di asrama membuat Ochako menolak bayangan menyenangkan itu. Bisa gawat kalau mereka tertangkap basah tidur bersama tanpa sehelai baju pun dalam satu selimut.

"Tidak bisa. Nanti kalau Aizawa sensei kemari bagaimana?"

"Eraser Head sedang pergi keluar kota bersama Present Mic." Katsuki masih bersikap keras kepala, memeluk erat Ochako.

"Ugh ... aku harus pergi. Aku juga tadi mendengar suara teman-teman kita di luar." Ochako dengan gemas melepaskan pelukan Katsuki, membuat pemuda itu merengutkan bibirnya kesal. Ochako tertawa, ia mencium bibir Katsuki sekilas. "Tidak usah cemberut begitu."

"Nanti malam kau harus ke kamarku lagi." Katsuki menahan pipi Ochako, melumat bibir mungil itu dengan hati-hati. Ochako menahan napas, membalasnya, morning kiss tidak buruk juga.

"Aku tidak bisa membuat janji seperti itu." Ochako berbisik lirih setelah ciuman mereka terlepas.

"Kalau begitu aku yang akan datang ke kamarmu. Kapan terakhir kali kita melakukannya di ranjangmu?" Katsuki menunjukkan seringainya saat Ochako mencubit lengannya dengan gemas, pipi gadis itu menggembung kesal dengan warna merah yang memenuhi pipinya.

"Terserah kau saja. Pokoknya aku ingin keluar sekarang."

Ochako melepaskan selimut yang membungkus tubuhnya, membuat Katsuki mati-matian menahan ereksinya yang menjadi menegang lagi akibat melihat tubuh telanjang gadis manis itu. Ia harus menekan hasratnya. Dengan gaya permainannya yang selalu liar sulit bagi Ochako untuk tidak menjerit, dan Katsuki jelas paham mereka tidak bisa melakukannya di pagi hari, di kala semua orang tidak terlelap. Katsuki menahan tawanya melihat Ochako yang turun dari selimut dengan hati-hati sembari memegang pinggulnya, kernyitan dalam yang tampak kesakitan menghiasi kening mulus gadis itu. Selangkangan Ochako terasa luar biasa sakit, Katsuki memang bagaikan binatang buas kalau sedang bercinta dan anehnya Ochako tidak keberatan sama sekali.

Gadis itu pernah merasa heran sendiri, kapan ia menjadi seorang masokis?

"Kau tidak keluar?" tanya Ochako sembari mengenakan pakaian dalamnya.

"Nanti saja, akan aneh kalau kita keluar bersama. Aku juga masih ingin tidur sebentar." Katsuki membungkus rapat tubuhnya dengan selimut, kemudian membelakangi Ochako bisa gawat kalau ia terus memperhatikan gadis itu yang sedang mengenakan pakaian.

Ochako mengangguk mengerti. Ia lalu mengambil celana pendeknya, gadis itu mengeluh dalam hati. Akibat listrik konslet, lampu kamar menjadi mati di tambah lagi di luar mendung karena hujan Ochako sampai harus meraba-raba hanya untuk menemukan pakaiannya.

'yang mana kaus yang kupakai tadi malam?' batin Ochako bertanya-tanya. Pandangannya terasa buram akibat cahaya remang-remang di sekitar. Akhirnya gadis itu mengambil kaus yang paling dekat dengannya, dan segera memakainya. Saat itu juga hidung Ochako sedang tersumbat, membuat gadis itu tidak bisa mencium wangi kaus yang di pakainya.

'Aman.' Ochako tersenyum lega, ia berjingkat keluar dari kamar Katsuki dan menutupnya kembali. Tidak ada seorang pun di koridor asrama.


Katsuki menguap lebar dengan langkah malas ia keluar dari kamarnya menuju ruang utama. Mata merahnya yang masih mengantuk melihat beberapa teman asramanya duduk di sana, termasuk anggota Bakusquad. Katsuki mengerutkan keningnya, di mana wajah malaikat kesayangannya?

"Oi bro," sapa Kirishima.

"Sana ke kamar mandi. Cuci muka dan sikat gigimu, wajahmu kusut sekali," tegur Kaminari.

"Orang yang sering berwajah idiot tidak usah sok menasihati wajahku," balas Katsuki kejam. "Oh ya di mana round face?"

"Tidak tahu, dari tadi dia tidak keliatan. Sepertinya ia masih di kamar." Sero lah yang menjawab.

"Masih pagi tapi sudah merindukan pacarnya? Dasar."

Katsuki mendecak membalas sindiran Kirishima. Ia melihat sudah ada si gadis alien dan gadis tembus pandang di ruangan itu, beberapa gadis lainnya sepertinya masih berada di kamar termasuk Ochako. Ia lalu menduduki sofa panjang di ruangan itu, mengambil tempat di sebelah Sero. Ternyata ketiga sohib idiotnya itu sedang asyik memainkan game bersama-sama. Katsuki mendengus, ia sedang tidak mood bermain game.

"Selamat pagi semuanya."

Suara manis yang menyapa ceria bocah-bocah yang berada di ruangan itu bergema, tampak sosok Ochako yang membawa pakaian ganti serta sikat gigi dan handuk kecil. Katsuki menahan dirinya untuk tidak menoleh memandangi Ochako, seperti biasa ia selalu bersikap tsundere.

"Pagi, Uraraka." Hampir semua orang yang berada dalam ruangan itu balas menyapa, menolehkan wajah mereka ke si gadis gravitasi. Tapi betapa terkejutnya mereka saat melihat Ochako. Ochako yang tidak menyadari keheranan teman-temannya melangkah ringan menuju kamar mandi, bibir gadis itu bersenandung pelan.

"Bakugou ... bukankah itu kausmu?" Kirishima berteriak heboh.

"HAH?"

"Kenapa Uraraka bisa memakai kausmu di pagi buta seperti ini sialan?" Kaminari mengguncang bahu Kasuki.

"T-tunggu apa yang kalian bicarakan."

"Kalian pasti sudah melakukan sesuatu tadi malam bukan?" Dan Sero menudingkan telunjuknya tepat ke wajah Katsuki.

Teriakan-teriakan teman-temannya serta pandangan semua orang di ruangan itu yang tertuju ke arahnya tentu membuat Katsuki heran sendiri. Kontan saja pemuda itu menolehkan kepalanya agar bisa melihat Ochako yang terus berjalan tidak mendengar kehebohan di sekitarnya.

Manik crimson itu membelalak lebar. Di sana, tampak Ochako yang mengenakan kaus hitam kebesaran dengan corak tengkorak. Kaus kesukaan Katsuki, yang sering dikenakan oleh pemuda itu. Katsuki mengumpat, kenapa gadis ini bisa salah memakai baju?

"ANGEL FACE!"

_FIN_


Aku benar-benar minta maaf buat readers yang menunggu lanjutan Kacchako "My Girlfriend". Sebenarnya sudah kulanjutkan dan tersimpan dalam draft cuman masih ada yang perlu ditambahin dan entah di tengah nulis itu aku malah oleng nulis fanfic baru.

Huhu maaf ya. Yang 'itu' bakal update secepatnya kok:(

Oh ya ini hanya berisi keseharian Kacchako. Random kalau auth ada ide yang bakal update cerita ini. Btw menurut kalian ini cocoknya dimasukkan di genre mana? M atau T?