Sweet Mochi

Kacchako BnHA by Horikoshi Kohei

Original Story by Viziel Veronica

Rated T/Romance/Sweet

"Bakugou-kun."

"Hah?"

Katsuki Bakugou mengalihkan pandangannya dari komik yang sedang dipegangnya tatkala ia mendengar teriakan si gadis gravitasi bersamaan dengan suara pintu kamarnya yang terbuka lebar.

"Oi ... angel face. Apa kau tidak punya tata krama? Ketuk pintu dulu baru ma ... ugh." Katsuki terbatuk pelan merasakan sakit di tubuhnya karena Ochako dengan seenaknya melompat dan menimpa tubuhnya. Gadis itu sekarang duduk di atas kedua pahanya, menatapnya tajam dengan pipi yang menggembung. "Kau kenapa hah? Bagaimana kalau ada yang lewat di depan kamarku dan berpikir yang macam-macam?" sentak Katsuki marah menyadari pintu kamarnya terbuka lebar ditambah dengan posisi mereka yang ambigu. Siapa pun yang lewat dan hanya melihat mereka secara sekilas pasti berpikiran yang macam-macam.

"Aku ingin mochi."

Katsuki mengerutkan keningnya.

"Bakugou-kun ... jangan berpura-pura tidak tahu. Berikan dompetku, aku akan membelinya sendiri bersama Tsu-chan."

Katsuki mendengus salah satu kebiasaan Ochako—walau pun tidak sering—bila gadis ini merasa kesal ia akan memanggilnya dengan marga, bukan nama kecil seperti biasa.

"Si gadis kodok ya?" Katsuki meletakkan kedua tangannya di pinggang kecil Ochako kemudian dengan mudahnya ia mengangkat tubuh mungil gadis itu agar menyingkir dari atas tubuhnya. Ochako terheran-heran melihat Katsuki yang melompat turun dari atas kasur.

"Bakugou-kun mau kemana?"

"Menghampiri si gadis kodok atau siapa lah namanya itu agar tidak mengajakmu makan-makanan manis."

"Eh ...?"

"Ah benar juga aku harus mengatakan ini kepada gadis-gadis yang lainnya."

"Bakugou-kun kenapa kau sekejam ini?"

Katsuki menghela napas, ia berdiri di ambang pintu dan menatap Ochako tajam dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada. "Aku hanya melakukan apa yang kau minta dariku. Memangnya siapa yang memaksaku untuk membantumu diet? Kau lupa dengan tekad dietmu sendiri. Kau bahkan menitipkan dompetmu kepadaku agar aku bisa mengontrolmu untuk tidak membeli banyak cemilan. Dan sekarang aku akan mengatakan kepada yang lainnya agar tidak ada yang menggoyahkan program dietmu."

Ochako ternganga mendengar kalimat panjang lebar dari Bakugou Katsuki persis seperti Bakugou Mistuki kalau sedang mengomel panjang lebar. Mengabaikan wajah bodoh gadis itu Katsuki kembali melangkah keluar dari kamarnya, mencari gadis-gadis lainnya yang sepertinya sedang berkumpul di lantai bawah.

Ochako mengerang kencang membenamkan wajahnya ke bantal milik Katsuki. Ia menyesali keputusannya lima hari yang lalu, memberitahu kepada Katsuki mengenai program dietnya.


Flashback

"Kau ingin diet?"

Ochako mengangguk mantap, ia mengepalkan kedua tangannya di depan dada dan menatap Katsuki dengan sungguh-sungguh. "Aku akan diet sampai berat badanku turun sebanyak lima kilo,lebih banyak lebih bagus sih."

Katsuki menghela napas. Ia memutuskan untuk berhenti memainkan gamenya, tak peduli timnya yang terdiri dari Kaminari, Kirishima dan Sero menjadi kalah karena dirinya dengan seenaknya log out di tengah pertempuran.

"Memangnya beratmu berapa sampai-sampai kau ingin diet?"

"Katsuki-kun tidak usah tahu. Pokoknya aku ingin diet karena belakangan ini berat badanku bertambah. Dan ..." Ochako memainkan jemarinya memalingkan wajahnya dari Katsuki, wajahnya memerah malu. Mana mungkin ia mengatakan kepada Katsuki kalau ia ingin diet karena juga demi Katsuki. Mereka memang sudah lama berpacaran tapi Ochako tetap tidak mau mengecewakan pemuda itu. Ochako pikir kalau ia bertambah gendut Katsuki akan merasa risih terhadapnya. Ia ingin tubuhnya sebagus Yaoyorozu atau pun Camie, kedua gadis itu memilki tinggi yang ideal di tambah dengan proporsi tubuh yang sempurna. 'tidak sepertiku yang pendek dan gemuk.' Ochako meringis dalam hati.

"Dengar angel." Katsuki menarik pergelangan tangan gadis itu yang berdiri gelisah di hadapannya, membuat Ochako terduduk di atas pangkuan pemuda itu. "Aku tidak peduli kau gemuk atau pun kurus. Bagaimana pun keadaanmu aku tetap menyukaimu. Perasaanku tidak sedangkal itu, bodoh."

Ochako merona mendengar bisikan lembut Katsuki disertai dengan jemari pemuda yang mempermainkan helaian rambutnya yang berada di sisi pipi gadis itu. Tapi kata 'bodoh' yang mengalun keluar dari bibir pemuda itu jelas sedikit mengurangi suasana romantis di antara mereka. Ochako merutuki dirinya sendiri. Benar, pemuda ini jelas-jelas sangat mencintainya. Bahkan saat dulu dirinya masih menyukai Midoriya Izuku, Katsuki Bakugou selalu diam-diam menaruh perhatian terhadapnya. Katsuki berusaha dengan caranya sendiri untuk membuatnya jatuh hati terhadap bocah peledak ini, dan ia berhasil. Ochako tak ingat sejak kapan dirinya menjadi sangat menyukai pemuda pemarah ini. Lupakan perasaan bodohnya dulu yang hanya sekedar perasaan kagum terhadap Midoriya, saat ini Ochako bahagia bisa memiliki dan dimilki oleh Katsuki.

"Aku tidak meragukan Katsuki-kun." Ochako balas berbisik, meletakkan kedua tangannya di tengkuk pemuda itu. "Tapi aku tetap ingin diet. Katsuki tak mengerti. Kebanyakan gadis-gadis seumuranku ini sangat khawatir dengan berat badannya."

Katsuki mendengus, gadis ini masih bersikeras dengan tekad awalnya. "Lalu apa rencanamu sampai-sampai kau memberitahu hal ini kepadaku?"

"Aku ingin kau membantuku agar program dietku menjadi lancar. Setidaknya sampai berat badanku turun menjadi lima kilo."

Dan begitu lah setelahnya Katsuki menuruti permintaan Ochako. Katsuki memegang dompet Ochako agar gadis itu tidak bisa sembarangan membeli cemilan. Bahkan saat jam istirahat Katsuki memantau Ochako agar tidak makan berlebihan. Awalnya berjalan dengan baik tapi baru saja program dietnya berjalan selama lima hari, Ochako sudah merasa menderita. Katsuki terlalu ketat menekannya. Gadis itu tidak menyangka bahwa pemuda itu sungguh-sungguh menuruti permintaannya agar program diet ketatnya berjalan dengan lancar.


"Katsuki-kun."

Ochako berlari keluar dari lift asrama mendekati Katsuki yang bebicara dengan gadis-gadis lain. Dari wajahnya pemuda itu sepertinya mengeluarkan ancaman agar tidak mengganggu program dietnya Ochako.

"Jadi ... Ochako-chan sedang diet, ribbit?" Tsuyu mengangguk-angguk mengerti.

"Pantas saja sudah lima hari ini ia tidak makan mochi. Kue kesukaannya itu." Jirou ikut berkomentar.

"Sayang sekali padahal ibundaku baru saja mengirimi pai apel dan beberapa mochi untuk kita semua."

"Aku ingin mochi." Ochako yang baru tiba dan mendengar perkataan Yaoyorozu menimpali dengan penuh semangat.

Katsuki mendecak, menatap Ochako tajam. "Aku tidak akan membiarkanmu memakannya."

"Tapi aku ingin memakan sesuatu. Jam makan siang masih lama." Ochako menggembungkan pipinya merajuk. Ia memeluk lengan berotot Katsuki sembari mengedipkan kedua matanya kepada pemuda itu. Berharap gerakan imutnya dapat menggoyahkan pemuda itu.

Katsuki menelan ludahnya melihat tingkah Ochako, gadis itu tahu benar cara merayunya. "Jangan berwajah seperti itu, kau terlihat semakin jelek."

"Ugh." Ochako meringis, Katsuki menutup wajahnya menggunakan telapak tangan kanan pemuda itu dengan lembut, mendorongnya menjauh agar rangkulannya terhadap lengan Katsuki terlepas.

"Bakubro ... kupikir program dietmu untuk Uraraka terlalu ketat."

Kaminari yang ternyata berada di lantai bawah bersama Kirishima dan Sero mulai ikut suara. Ternyata ketiga bocah itu tadi diam-diam mendengarkan pembicaraan Katsuki bersama gadis-gadis lainnya.

"Kaminari benar. Tidak ada salahnya bukan kalau ia memakan satu potongan kecil kue." Ochako mengangguk-angguk bersemangat, Sero juga ikut membelanya.

"Hei ... memangnya kalian pikir aku melakukan ini demi siapa? Muka bulat ini sendiri yang meminta tolong kepadaku untuk membantunya dalam program dietnya. Aku hanya melakukan apa yang ia suruh." Katsuki menjawab cepat merasa tidak terima karena ia telah disudutkan. Padahal ia tidak pernah memaksa Ochako untuk diet, itu keinginan Ochako sendiri.

"Ochako-chan seharusnya kau meminta tolong kepada kami saja. Kau tahu bukan? Bakugou itu terlalu ketat." Ashido menepuk bahu Ochako menggelengkan kepalanya dengan prihatin.

"Ah ... begini saja. Bagaimana kalau kalian melakukan sebuah game? Kalau Uraraka menang maka ia boleh memakan mochi."

"Huh?" Katsuki mengerutkan keningnya mendengar usulan Kirishima.

Para gadis berbisik-bisik menggelengkan kepalanya tak setuju. Mereka pikir pasti sulit bagi Ochako untuk mengalahkan Katsuki. Status mereka memang sepasang kekasih tapi Katsuki tentu tidak akan pernah mengalah dalam sebuah duel. Bayangan Ochako yang pernah babak belur oleh Katsuki masih membekas dalam benak para gadis padahal bisa saja game yang dimaksud Kirishima itu bukan dalam adu fisik.

"Aku terima." Ochako berkata dengan penuh semangat membuat Kirishima terkejut sendiri mendengarnya. Padahal ia hanya iseng mengeluarkan pendapat tidak dikira Ochako menanggapinya dengan serius. "Mari kita adu panco Katsuki-kun."

"Adu panco? Uraraka kau serius?" Semua orang berseru terkejut mendengar tantangan yang diusulkan Ochako untuk melawan Katsuki. Ochako mengangguk mantap, ia menunjukkan kepalan tangannya kepada Katsuki dengan penuh percaya diri.

Katsuki menyeringai melihat wajah yakin Ochako. Tidak salah lagi gadis itu pasti punya rencana untuk mengalahkannya. Banyak sisi dalam diri Ochako yang dapat membuat Katsuki takjub. Seperti saat ini, gadis mungil yang dulu gemetaran untuk berduel dengannya sekarang malah berani menantangnya.

"Baiklah aku terima tantanganmu."

"Bakubro kau serius." Bakusquad berseru khawatir. Bisa-bisanya bocah peledak itu menerima tantangan dari pacarnya sendiri hanya demi izin memakan mochi.

"Daripada kalian ribut seperti ini kenapa kau tidak membiarkan saja Uraraka memakan satu mochi?" Kirishima bangkit berdiri menepuk bahu temannya itu dengan maksud membujuknya. Ia merasa bersalah sendiri karena mengeluarkan usul konyol.

"Tidak apa-apa Kirishima-kun. Ini akan mengasyikkan." Ochako mengibaskan tangannya membuat sebuah meja bulat melayang dan meletakkanya dengan hati-hati di hadapan dirinya dan Katsuki. "Dan tenang saja aku tidak akan mengunakan quirkku untuk membuat Katsuki-kun melayang."

"Eh?" semua orang terkejut mendengarnya. Ochako dengan santainya mengenakan sarung tangan karet di tangan kanannya agar quirknya tidak aktif saat bergenggaman tangan dengan Katsuki. Ochako menyunggingkan senyum penuh percaya diri untuk membalas keterkejutan temannya, ia menggerak-gerakkan lengannya sejenak.

"Angel ... kau memang penuh kejutan." Katsuki kembali menyeringai mengikuti gerakan Ochako untuk mengambil pemanasan, menggerak-gerakkan lengannya. Mengabaikan pandangan tersipu sekaligus heran dari gadis-gadis yang berada di sana. Bagaimana tidak? Katsuki memasang wajah serius seperti biasa tapi suaranya terdengar sangat lembut sekaligus seksi tatkala menyebut angel. Sisi yang tidak pernah Katsuki tampakkan kesembarang orang dan hanya terhadap Ochako ia bisa bersikap seperti itu.

'Dasar pasangan gila.' Mereka semua membatin.

"Kau siap, angel?" Katsuki menyiapkan posisi meletakkan sikunya di atas meja dan menegakkan tangannya. Ochako mengangguk yakin, ia mulai menggamit kencang tangan besar Katsuki. Katsuki mendengus, apakah tangan kecil nan imut ini bisa mengalahkannya dalam adu panco. Lihatlah tangan kecil Ochako bahkan dapat dengan mudahnya tenggelam dalam genggaman tangan Katsuki yang besar dan agak kapalan.

"Shitty hair hitung lah. Beri aba-aba sebelum kami memulai." Katsuki menoleh memerintahkan Kirishima dengan seenaknya. Lagipula adu panco konyol ini terjadi begitu saja karena usul bodoh Kirishima.

"Uh baiklah." Kirishima menggaruk kepalanya canggung, pandangan mata semua gadis kini tertuju ke arahnya seolah-olah menyalahkannya. Ochako kecil yang manis sekarang bertanding dengan bocah kasar nan sadis karena usul bodohnya. "Aku akan mulai menghitung."Kirishima berdiri di sisi Ochako dan Katsuki. Ia menarik napas panjang. "Satu ... dua ... "

Ochako tersenyum gugup keringat dingin mulai membasahi keningnya tatkala genggaman Katsuki mengencang. Ia tahu Katsuki akan bersungguh-sungguh melawannya, walau pun mereka sepasang kekasih Katsuki tidak pernah mengalah untuk melawannya. Ochako tahu itu, karena mereka serimg berlatih bersama, hanya berdua di gedung olahraga. Ochako menggigit bibirnya ia tidak bisa mundur lagi, ia sudah menyiapkan rencana untuk Katsuki.

"Tiga!"

"Ugh." Tepat saat Kirishima selesai berhitung tangan kanan Ochako terdorong kencang ke kiri, kening gadis itu berkerut dalam menahan tekanan Katsuki.

"Ada apa angel. Baru saja kita mulai wajahmu sudah memerah begitu." Sudut bibir Katsuki terangkat melihat Ochako yang kepayahan menahan tangannya agar tidak terjatuh di atas meja.

"Aku belum mengeluarkan seluruh kemampuanku." Ochako berkata susah payah dengan wajah berkerutnya. Tangan kirinya yang bebas mencengkram pinggiran meja seakan-akan dengan cara itu ia bisa menambah kekuatan tangan kanannya.

Katsuki terkekeh, ia menaikkan sebelah alisnya dan memandangi Ochako dengan jahil. Ia sengaja menahan kekuatannya sendiri membuat tangan Ochako yang hampir menyentuh meja mulai terangkat perlahan, menekan tangan Katsuki ke sisi lain.

"Bakugou-kun tertawa?" bisik Tohru Hagakure ke teman-temannya yang ikut menonton. Mereka semua mengangguk-angguk para gadis terpesona sendiri, Mina bahkan sampai mengabadikannya. Kapan lagi mereka dapat melihat sisi Katsuki yang seperti ini? Seperti Todoroki, Katsuki jarang sekali tertawa.

"Tapi kelihatan sekali ia sedang menjahili Uraraka," bisik Jirou.

"Ya. Ia suka melihat wajah kesal Ochako-chan. Kalau ia serius dalam sekali tekanan tangan Ochako-chan pasti sudah terbanting," balas Ashido.

"Ngh ... Bakugou-kun kau tidak serius melawanku." Ochako menatap Katsuki jengkel karena bocah itu tampak menahan tawa melihat usahanya.

"Wajah kesalmu itu jelek sekali angel. Aku tidak tahan untuk tidak terus melihatnya."

Ochako mendengus tapi ia segera memekik terkejut tatkala tangan besar Katsuki kembali menekan tangannya ke sisi lain. Mudah sekali bagi Katsuki untuk menjatuhkan Ochako, tapi seperti kata teman-teman sekelasnya ia hanya ingin menjahili Ochako. Ochako menggeram kesal sedikit pun ia tidak bisa menggeser tangan Katsuki.

"Katsuki-kun ada ibumu di pintu."

"Tch ... apa-apaan tipuanmu itu? Jadi hanya itu rencanamu angel?" Katsuki tersenyum kecut. Jadi itu rencana Ochako? Taktik pasaran, begitu lah pikir Katsuki. Lagipula memangnya ia bocah umur berapa yang masih bisa termakan oleh trik murahan seperti itu? "Apa kau tidak ada cara lain untuk mengalahkanku? Kau tidak akan mendapatkan mochi yang kau mau."

Ochako menggeleng, ia tersenyum manis membalas ejekan Katsuki. "Aku masih ada rencana lainnya."

"Apa pun itu kau tidak akan bisa me ..." Perkataan Katsuki tertelan begitu saja mendadak wajah pemuda itu memerah. "O-oi ... angel, apa yang kau lakukan?"

Mengabaikan keadaan sekitar Ochako merendahkan wajahnya, mengecup punggung tangan Katsuki yang terkepal. Lembut dan hangatnya bibir itu terasa jelas tatkala berada di punggung panas Katsuki. Wajah bocah itu semakin memerah, Ochako tetap mencium punggung tangannya di hadapan teman-teman sekelasnya. Konsentrasi dan pertahanannya menjadi kacau.

'Brak!'

"Yes ... aku menang." Ochako melompat girang menjerit senang melihat tangan Katsuki yang kini terkulai lemah di atas meja. Ia berhasil mengalahkan Katsuki. Ia memenangkan lomba adu panco melawan si bocah peledak.

Bakusquad dan para gadis yang berada di ruangan itu ternganga selain terkejut dengan kemenangan Ochako, mereka semua juga merasa kaget dengan rencana yang Ochako lakukan untuk Katsuki. Katsuki tidak suka bermesraan di depan umum. Ia selalu merasa salah tingkah bila ada yang melihatnya bermesraan dengan Ochako, itu lah kenapa Ochako menyusun rencana itu, mencium tangan Katsuki di tengah duel mereka.

"Aku akhirnya boleh memakan mochi. Ayo teman-teman aku sudah tidak sabar untuk memakan sesuatu yang manis."

Gadis itu membalikkan tubuhnya menghampiri gadis-gadis lain dengan wajah polos dan cerianya. Tak sadar kalau apa yang sudah ia lakukan tadi sudah mengejutkan semua orang.

"Uh ... benar. Ayo kita ke taman untuk minum teh dan makan kue." Yaoyorozu dengan cepat menerima ajakan Ochako. Gadis-gadis itu lalu berjalan bersama keluar dari asrama menuju taman, tapi sebelum mereka benar-benar keluar mereka sempat melirik ke arah Katsuki yang membenamkan wajahnya ke atas meja. Kuping pemuda itu tampak memerah, wajahnya juga merah padam karena itu lah ia berusaha menyembunyikannya.

Kirishima, Sero dan Kaminari sibuk menyemangati Katsuki Bakugou.

Ochako terkikik geli.

'tunggu saja pembalasanku malam ini, angel.' Katsuki merutuk dalam hati, memandangi punggung tangannya, hangatnya bibir Ochako seolah masih membekas di sana. Katsuki mendengus, mengepalkan tangan.

Sialan. Untuk kali ini ia mengakui dirinya kalah telak. Gadis itu memang penuh kejutan.

_FIN_

Terimakasih yang sudah berkomentar, sesuai dengan jawaban saran dari yang kuminta fanfic ini tetap kuletakkan di rated T. Tapi kalau ada mengandung adegan lemonnya baru akan kuubah menjadi rated M(tapi kayaknya nggak bakal ada rated M deh. Hehe)

Oh ya untuk fanfic yang ini aku terinspirasi dari short Doujinshinya Gajel x Levy dari anime Fairy Tail. Itu karyanya Rboz