Nick Name

Kacchako Bnha by Horikoshi Kohei

Original Story by Viziela Veronica

Rated T/ Romance/Sweet

WARNING OOC!

Aku pernah baca versi english bnha pas kacchako duel di sport festival disitu Bakugou manggil Ochako 'angel face' bukan 'round face' kayak di versi animenya. Aku nggak tahu yang benar yang mana bisa aja translated englishnya salah atau benar. Tapi terlepas dari salah atau benarnya aku lebih suka make julukan 'angel face' dalam fanficku untuk Uraraka dari Bakugou. Dan fanfic kali ini ngebahasa panggilan Bakugou untuk Uraraka :D

Saat itu Kirishima tidak sengaja berpapasan dengan Katsuki yang di taman kota dekat dengan asrama mereka. Pemuda itu sedang jogging bersama Ochako. Melihat mereka berdua di taman membuat menjawab rasa heran Kirishima tadi kenapa ia tidak bisa menghubungi Katsuki di asrama ternyata pemuda ini sudah pergi ke taman duluan bersama kekasihnya.

Sebenarnya Kirishima tidak ingin mengganggu mereka berdua . Tapi karena Ochako mengajaknya untuk mengelilingi taman bersama-sama, akhirnya Kirishima hanya bisa menurut saja.

"Dimana yang lainnya?" tanya Katsuki.

"Kaminari dan Sero masih tidur, mereka menolak ajakanku untuk jogging."

Katsuki mendengus menggumamkan kata dasar pemalas untuk mereka berdua. Setelah mengelilingi taman sebanyak tiga kali akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat. Ochako terengah-engah duduk tepat di sebelah Katsuki, membuka botol minum yang dibawanya meneguknya rakus.

"Hei sisakan untukku." Katsuki menggeram merebut botol minum yang tersisa setengah menghabiskan isi di dalamnya.

'indirect kiss,' batin Kirishima melihat Katsuki dengan santainya meminum dari botol yang sama dengan Ochako.

"Katsuki-kun ... kau penuh keringat." Ochako mengambil handuk kecil yang tergantung di leher Katsuki, mengelap leher dan wajah pemuda itu yang penuh keringat. Katsuki terkekeh mencubit gemas pipi tembam Ochako.

"Wajahmu juga kusam sekali angel."

'aku seperti obat nyamuk saja.' Kirishima meringis dalam hati sepertinya ide buruk jogging bersama sepasang kekasih yang sedang kasmaran ini.

"Aku mau ke toilet dulu."

"Jangan lama-lama angel. Kami menunggumu di sini."

Ochako mengangguk, gadis itu lalu berlari-lari kecil ke toilet umum yang berada di taman itu.

"Bakugou."

"Hmm?" Katsuki menyandarkan punggungnya malas ke bangku taman sedikit menengadahkan wajahnya dengan kedua mata terpejam, menikmati suasana di pagi hari ini yang mulai menghangat karena matahari perlahan muncul.

"Sebenarnya aku merasa heran sendiri. Kenapa kau memanggilnya angel?"

"Maksudmu Uraraka?"

Kirishima mendecak. "Tentu saja. Hanya ia yang kau beri julukan semanis itu. Bahkan julukan itu sudah kau berikan sebelum kalian jadian."

"Ah ... kau benar juga. Kenapa bisa begitu ya."

Kirishima merasa gemas sendiri, Katsuki malah bertanya balik kepadanya. Apa sebenarnya julukan itu tidak ada alasan khusus sama sekali? Tidak ada jawaban dari Katsuki, pemuda itu masih memejamkan kedua matanya. Kirishima mendengus, ia lalu memilih untuk memperhatikan sekeliling. Suasana taman itu lumayan ramai, ada beberapa remaja yang melakukan jogging atau beberapa paruh baya yang sekedar berjalan santai di pagi hari. Tidak sedikit yang membawa anak kecil ke taman di pagi hari yang cerah ini. Kirishima memeriksa arlojinya pukul setengah tujuh. Setengah jam lagi waktu sarapan di hari minggu untuk asramanya.

"Kau bertanya kepadaku. Bukankah sudah jelas? Dia seperti malaikat."

Kirishima mengerutkan keningnya, pandanganya kembali kepada Katsuki. "Itu alasanmu?"

Katsuki mengangguk. Netra merahnya perlahan terbuka, ia mengerjap sejenak tatkala cahaya matahari pagi menyerbu matanya. "Ada alasan lain. Tapi itu lah salah satu alasannya."

"Tunggu ... aku tidak begitu mengerti. Bisa kau jelaskan kenapa?"

"Hah ..." Katsuki menghela napas panjang mengusap tengkuknya dengan malas. "Baiklah alasan aku memanggilnya malaikat itu ..."

"Hiks ... hiks ..."

Suara isak tangis yang berada dekat dengan mereka mengalihkan perhatian mereka. Katsuki menolehkan kepalanya, mengerutkan kening saat ia melihat seorang bocah perempuan menangis sembari berjalan ke arah mereka.

"Kenapa dengan bocah itu?" Katsuki menyikut Kirishima, bertanya heran.

"Sepertinya ia tersesat dan sedang mencari orang tuanya." Kirishima merasa iba sendiri melihat bocah itu. "Coba kau dekati dan hibur dia."

"Hah? Kenapa harus aku?" Katsuki mendecak. Ia paling tidak suka beramah tamah dengan orang lain.

"Tentu saja, kita ini calon pahlawan sudah sepantasnya kita menolong orang lain." Kirishima menepuk bahu Katsuki. "Baiklah kita dekati bocah itu bersama-sama."

Katsuki terpaksa menganggukkan kepalanya seperti itu lebih baik daripada ia sendirian yang berusaha menghibur anak kecil. Sebenarnya Katsuki lebih memilih untuk menunggu Ochako saja. Gadis itu tahu benar cara menenangkan seorang bocah. Tapi Kirishima sudah terlebih dulu menyeretnya membuat Katsuki mengomel dalam hati.

"Hei bocah. Kenapa kau menangis?"

Merasa kesal karena Kirishima menyeretnya dalam masalah ini Katsuki mengeluarkan pertanyaan bernada rendah kepada bocah yang sedang menangis. Kontan saja Kirishima dengan beraninya memukuk kepala Katsuki, temannya itu justru membuat suasana bertambah tidak nyaman. Bisa-bisa bocah itu merasa takut.

Tapi terlambat bagi Kirishima, bocah yang sedang menangis itu terlihat ketakutan mendapati remaja berwajah galak dengan rambut durian yang bertanya tajam kepadanya. Wajah pemuda itu tidak ada lembut-lembutnya sama sekali, seperti penjahat yang akan menculiknya.

"Huwaaa ..."

Kirishima sontak menutup telinganya. Teriakan bocah itu kencang sekali, Katsuki mengernyit kaget. Kirishima berusaha menenangkan bocah itu tapi tetap saja tangisannya tidak berhenti. Ia sudah menganggap Kirishima berkomplot dengan si pirang berwajah galak.

"Bakugou ... ini gara-gara kau yang membuatnya ketakutan."

"Hah! Kenapa aku lagi yang disalahkan?" Katsuki jelas tidak terima.

"Hei ada apa ini?" Mendadak Ochako muncul. Entah sejak kapan gadis itu sudah berdiri di sisi Katsuki. Kehadiran Ochako membuat Katsuki dan Kirishima merasa luar biasa lega, mereka takut akan ada seorang petugas yang menghampiri mereka dan menuduh mereka macam-macam. "Astaga ... kalian membuat seorang anak kecil menangis?" Ochako menggelengkan kepalanya. Ia lalu duduk berjongkok di hadapan bocah itu menyamai tingginya.

"Ini ulah Bakugou."

"Hei!"

Ochako mengabaikan perdebatan mereka. Ia tersenyum lembut ke arah anak kecil itu, mengulurkan tangannya dan mengusap air mata bocah itu dengan jemarinya. Kemunculan Ochako bisa menenangkan tangisan yang tadi mengganggu mereka.

"Tidak usah menangis lagi. Oneesan akan menolongmu." Ochako mengusap-usap rambut panjang bocah itu dengan penuh perhatian.

Katsuki terdiam memilih untuk memperhatikan apa yang dilakukan kekasihnya untuk menenangkan anak kecil merepotkan yang tangisnya memekakan telinga. Mudah sekali bagi Ochako untuk menenangkannya membuat Katsuki merasa kagum.

"Hebat. Uraraka-san memang ahli dalam masalah seperti ini."

Katsuki melirik ke arah Kirishima. "Kau bisa lihat itu? Ini salah satu alasanku memanggilnya angel."

Karena Ochako Uraraka adalah gadis yang bisa dengan mudahnya mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Kebaikannya pun membuat Katsuki sering terkagum olehnya.


Terkadang Ochako bertanya-tanya dalam hati kenapa Katsuki memanggilnya dengan julukan 'angel face?' Katsuki juga memanggilnya round face, moon face atau pinkcheeks. Untuk julukan yang lainnya Ochako tahu kenapa Katsuki memanggilny seperti itu. Wajahnya bundar dan ia memiliki semu merah permanen di tulang pipinya.

"Memangnya kau tidak suka Bakugou memanggilmu angel face?" Ashido mengerutkan keningya.

"Ah ... bukan begitu. Aku hanya merasa heran saja." Ochako menggaruk pipi bulatnya, menerima cangkir berisi teh dari Yaoyorozu. Sore hari itu seperti biasa ia berkumpul bersama para gadis. Kali ini giliran kamar Yaoyorozu yang menjadi tempat berkumpul mereka.

"Hmm tapi julukan itu manis sekali bukan kedengarannya?" Yaoyorozu meletakkan teko tehnya.

"Yaomomo benar. Padahal biasanya Bakugou selalu memanggil dengan julukan menjengkelkan." Hagakure mulai angkat bicara. "Dia memanggilku gadis tembus pandang."

"Ia memanggilku telinga aneh."

"Kodok, gero."

"Mata rakun. Padahal aku lebih suka dipanggil alien." Ashido mengambil biskuit sembari menggembungkan pipinya.

"Ia memanggilku kuncir kuda." Yaoyorozu menghela napas.

"Memang sih julukan yang ia berikan itu benar. Tapi tetap saja terdengar menjengkelkan."

Ucapan Hagakure disambut dengan anggukan oleh teman-temannya. Pandangan mereka semua beralih ke arah Ochako yang mendadak merasa gugup karena teman-temannya kini menatapnya.

"Tapi ... kenapa Bakugou bisa memanggilmu angel?" Ashido bertanya heran.

"A-aku juga tidak tahu kenapa," aku Ochako merasa bingung sendiri.

"Yah tidak heran sih. Kalian sudah berpacaran jadi tidak aneh kalau Bakugou memberimu julukan manis." Ucapan Jirou mengundang anggukan setuju dari yang lainnya.

"Um ..." Ochako menggigit bibirnya. Ia meneguk tehnya perlahan membasahi kerongkongannya yang terasa kering. "Sebenarnya Bakugou-kun memanggilku angel face sebelum kita berpacaran."

"Heh ...?"

Ochako sampai harus menutup telinganya sendiri saat teman-temannya serentak berteriak kaget. Mereka kini terlihat lebih bersemangat. Kedua bola mata Ashido bahkan tampak berbinar. "Kapan ia memanggilmu seperti itu?"

Ochako menggaruk pipinya dengan gugup. "Saat aku melawannya di festival olahraga. Saat itu juga untuk pertama kalinya ia memanggil margaku."

"Bakugou-san tipe yang sulit untuk memanggil nama teman-temannya," komentar Yaoyorozu sembari mengketuk-ketukkan telunjuknya ke dagunya.

Ashido menghela napas menyandarkan punggungnya dengan malas. "Padahal aku dan Jirou lumayan dekat dengannya berkat Bakusquad tapi ia tidak pernah memanggil nama kami."

Jirou mengangguk setuju. "Ia selalu memanggil kami dengan julukan menjengkelkan. Sampai-sampai aku ingin membalasnya dengan memanggilnya rambut duren."

"Hahaha rambut duren? Benar juga rambutnya memang mirip sekali dengan duren." Hagakure dan Ashido tertawa mendengar omelan Jirou. Akhirnya topik mereka sedikit beralih dengan menyebutkan nama julukan yang cocok untuk Katsuki. Seperti rambut duren, granat berjalan, petasan dsb.

Ochako menahan tawa mendengarnya. Menurut Ochako, Katsuki memang pantas mendapat julukan itu karena ia sudah memanggil teman-temannya dengan panggilan konyol.

"Menurutku sebaiknya Ochako-chan bertanya langsung saja kepada Bakugou-chan."

"Ya Tsuyu-chan benar."

'bertanya langsung ya,' batin Ochako.


Sudut matanya melirik ke samping sejenak tatkala tubuh mungil Ochako beringsut mendekat ke arahnya, duduk tepat di sebelahnya terlalu dekat sampai paha mereka menempel satu sama lain. Katsuki menghela napas saat Ochako menyandarkan kepalanya dengan manja ke bahunya, ia mengusap rambut cokelat itu untuk sejenak kemudian ia kembali memfokuskan dirinya membaca novel detektif yang ia pinjam dari Jirou.

"Katsuki," panggil gadis itu.

"Hmm?" Katsuki hanya bergumam tak jelas. Netra merahnya tetap fokus ke barisan kalimat di novel itu.

Ochako memainkan jemarinya dengan gugup. Katsuki memang terlihat fokus sekali membaca novelnya tapi ia tahu pemuda itu tetap mendengarkannya. Ia menarik napas panjang dan membuka kedua belah bibir mungilnya,"Kenapa kau memanggilku angel?"

"Huh?" Fokus Katsuki kini tergoyahkan sepenuhnya. Ia melipat salah satu halaman dalam novel, menegakkan punggungnya yang tadi bersandar malas di punggung sofa dan menatap Ochako heran.

Gadis itu semakin terlihat gugup, tetap memainkan jemari mungilnya yang kini berkeringat. "Yah ... kau tahu kan? Selain memanggilku wajah bundar atau pipi, kau juga memanggilku angel atau angel face. Dan um ... kau memanggilku seperti itu sebelum kita berpacaran." Ochako menelan ludahnya perlahan berusaha menebak-nebak apa yang dipikirkan Katsuki dari raut wajah pemuda itu. "Padahal ... untuk yang lain kau memanggil mereka dengan julukan aneh. Dan menurutku julukan angel itu ... terdengar manis."

"Manis?"

Ochako menganggukkan kepalanya sembari tersenyum canggung. "Ya. Menurutku aneh kau memberi julukan semanis itu untukku berbeda dengan teman-teman yang lain. Aku ... aku hanya ingin tahu alasannya."

Hening.

Ochako menarik napas perlahan merasa sedikit lega karena akhirnya ia bisa mengeluarkan pertanyaan yang bercokol dalam hatinya untuk Katsuki. Mata bulatnya memperhatikan Katsuki yang menghela napas kencang, menyentuh tengkuknya sendiri sembari mengalihkan pandangannya dari Ochako. Ochako mengerjapkan kedua matanya secara perlahan, ia tidak salah lihat bukan? Ada semu merah yang tampak samar di pipi pemuda itu.

"Hah ... kenapa juga kau mengajukan pertanyaan semacam ini," keluh Katsuki.

Ochako menggigit bibirnya. Apa Katsuki tidak mau menjawab pertanyaannya?

Mendadak Katsuki merendahkan wajahnya hingga kedua wajah mereka sejajar. Ochako mengerjapkan kedua matanya cepat. "Katsu ... auw." Ochako merintih pemuda itu menggigit pipi tembamnya dengan gemas. "K-kenapa tiba-tiba menggigit pipiku?"

"Pipi tembammu itu ... wajah bulatmu itu ... sangat menggemaskan. Pertama kali kita bertemu di kelas 1 ... aku sudah terpesona denganmu. Membuatku menggumamkan kata 'malaikat' tepat saat aku untuk pertama kalinya melihat senyummu."

Ochako menahan napasnya mendengar bisikan Katsuki bersamaan dengan kecupan ringan yang ia bubuhkan di pipinya. Itu berarti ... pemuda ini sudah lama tertarik dengannya? Tepat saat mereka baru bersekolah di U.A? Padahal banyak gadis yang lebih menarik darinya. Tapi laki-laki setampan Katsuki malah terpesona dengan dirinya? Entah kenapa mendapati kenyataan itu membuat Ochako merasa sangat tersentuh.

'terimakasih Bakugou-kun,' batin Ochako.

_FIN_