Im Just Maid in This Cafe

Assassination Classroom Fanfiction

Karma x Rio

Drama, Romance

Warning for OOC, typo, kesalahan kata, tempat, kalimat dan hal lain.

This Character not mine, but this story is mine.

Hope you like it, happy reading!


"Kapan kau punya pacar, hm, Karma?"

Ini adalah topik yang tepat untuk anak seusia mereka. Sebentar lagi masa SMP akan berakhir, tidak mencapai tiga bulan lagi. Inilah saat-saat dimana mereka harus terus bersama dan menciptakan kenangan yang indah sebelum semua terlambat.

Masing-masing sudah memiliki kemana mereka akan melanjutkan. Para murid kelas 3-E bahkan tidak ada di antara mereka yang akan melanjutkan ke sekolah yang sama. Semuanya sempurna berpisah. Bahkan ada yang punya tujuan pergi jauh hanya untuk masuk ke sekolah favorit masing-masing.

Akabane Karma meminum susu stroberi kesukaannya seperti biasa, pikirannya tengah di penuhi tentang bagaimana perpisahan mereka nanti akan terjadi. Bahkan sampai mengabaikan pertanyaan dari Maehara Hiroto. Si Playboykelas E yang sekarang wajahnya terlihat sebal karena di abaikan oleh berandal terkenal satu sekolah itu.

"Oi, kau tuli atau bagaimana, hah?"

Karma menoleh malas. Tentu saja Ia tadi mendengarnya, tapi malas saja menjawabnya. Pertanyaan Maehara tidak bermutu, tidak ada pentingnya. Pacar? Karma sedang tidak memikirkan semua itu. Yang Ia ingin hanya cepat-cepat lulus dan bekerja di tempat yang Ia incar dari dulu.

Meski begitu, Karma tahu mengapa Maehara bertanya seperti itu padanya.

Di antara mereka berempat sekarang—Karma, Nagisa, Maehara dan Isogai—hanya Karma lah yang belum memiliki pacar. Tidak, lebih jelasnya di kelas mereka satu persatu sudah memiliki pacar. Cinta lokasi. Mereka semua berpacaran dengan teman sekelas. Awalnya terkejut, tapi Karma segera terbiasa dan mencoba tidak memikirkan itu.

Tapi lain halnya dengan Nagisa.

Laki-laki berambut biru dengan gaya twintail itu berpacaran dengan Kayano Kaede—lebih tepatnya Yukimura Akari. Gadis berambut hijau manis dan periang. Berkat kejadian dimana Nagisa menciumnya, Kayano tidak bisa menyembunyikan perasaannya lagi kepada Nagisa yang sebenarnya super tidak peka.

Karma tahu jika Nagisa sebenarnya menyukai Kayano juga, tapi si laki-laki manis itu lambat mengetahuinya. Untuk itulah Karma dan partner in crime-nya, Nakamura Rio, berniat mencomblangkan keduanya. Mudah saja, tidak sampai seminggu, kabar keduanya pacaran pun segera terdengar.

Tapi aneh saja. Setelah hari dimana Nagisa dan Kayano berpacaran, Rio selalu terlihat murung dan.. sedih? Entahlah Karma tidak yakin. Awlanya Ia tidak terlalu memikirkannya, karena ia pikir Rio bukanlah gadis seperti itu. Tapi ternyata dugaannya salah, semakin di perhatikan Rio semakin aneh akhir-akhir ini.

Bahkan kebersamaan mereka yang biasanya selalu menjahili Nagisa dan Kayano bersama pun semakin berkurang frekuensinya. Biasanya setiap hari keduanya akan beraksi, namun sekarang bahkan seminggu sekali pun tidak dapat.

Selain terlihat lebih murung, Rio terlihat seperti mencoba menjauhinya. Entahlah karena apa.

" Karma tidak seru." Gerutu Maehara saat Karma kembali mengabaikannya. "Padahal aku kasihan padamu yang sudah jomblo sejak lahir. Kau 'kan lumayan, harusnya sudah bisa memgambil hati satu gadis. Tapi sampai sekarang hasilnya nihil."

"Apa aku harus mendengar ucapan dari si Cassanova Playboy, hm?" Karma nenyeringai tipis, terlihat meledek Maehara.

"Ah, kau," Maehara mendengus tertahan, tidak bisa membantah itu, "Itu dulu. Sayangnya sekarang di hatiku hanya ada Hinata seorang."

"Mungkin saat kau menyatakan perasaanmu pada Okano-san, dia sedang kau guna-guna."

"Sialan, aku menyesal mengganggumu, Karma." Maehara mendengus sebal, berjalan mundur tepat ke sebelah Isogai yang sedari tadi sibuk menyaksikan kedua temannya. Karma menyeringai kecil, memang itulah rencananya. Membuat Maehara kesal dan akhirnya berhenti merecokinya.

"Karma-kun, bukankah kau terlalu berlebihan?" Tanya Nagisa yang kini bergantian berjalan di sebelah Karma.

Karma mengangkat bahu santai. "Tidak juga. Aku hanya malas mendengar ocehan tidak pentingnya."

Nagisa tertawa kecil. "Kau tidak berubah Karma-kun. Tapi setidaknya kau harus memikirkan tentang dirimu juga. Tentang hatimu. Kau dan Nakamura-san yang memaksaku untuk menyatakan perasaanku pada Akari—meski dengan paksaan crossdressing yang menyebalkan itu tentunya. Tapi setidaknya itu berhasil bukan?"

Karma melirik ke samping, bingung. "Jadi maksudmu?"

"Kau harus mencari pacar juga." Nagisa nyengir, menggaruk rambutnya.

Jalanan sore itu terlihat padat, hari sudah mulai gelap. Lampu-lampu lalu lintas telah di nyalakan. Karma memandang langit jingga di atasnya, terlihat indah dan mempesona. Sekilas Ia seperti terhipnotis oleh keindahan itu.

"Hm, mungkin nanti."

Dan itulah jawaban finalnya pada hari itu.


Mereka telah berpisah di perempatan jalan. Kebetulan jalan apartemen Karma berbeda dari ketiga temannya, mereka pun berpisah. Karma berjalan tanpa ekspresi sama sekali di wajahnya, satu tangannya di masukkan ke saku, satunya lagi memegang kotak susu stroberi yang dari tadi di minum olehnya.

Setelah lulus dari SMP, Ia akan masuk ke SMA. SMA Kunugigaoka. Ia akan menaklukkan SMA itu seperti dengan mudahnya Ia menaklukkan SMP ini. Lalu Ia akan berkuliah dan menjadi lulusan tercepat, terakhir Ia akan bekerja sebagai Birokrat. Itu adalah pekerjaan yang menggiurkan dan tentu saja menarik minatnya.

Dan setelah semua itu..

Karma menatap jalanan dengan datar. Tapi di pikirannya masih terbayang jelas apa yang sedang di pikirkannya sekarang.

Biasanya setelah mencapai semua itu, maka seharusnya seseorang akan menikah dan memiliki keluarga. Tapi dengan siapa nanti Ia akan memiliki keluarga? Mencari pacar saat SMA, Kuliah atau bekerja sangat merepotkan. Sekaranglah saatnya. Kata-kata Nagisa dan Maehara ada benarnya juga.

Ia harus mencari pacar.

Tapi pertanyaannya satu.

Siapa?

"Ah,"

Karma menggoyangkan pelan kotak susu stroberi yang sedari tadi terus dia sedot isinya. Menghela napas pelan saat sadar jika cairan manis kesukaannya telah kandas dan tidak bersisa sedikit pun.

Ya sudahlah, pulang saja. Hari ini juga tidak ada agenda ingin kemana la—

Kedua mata berwarna mercury itu terhenti pada satu titik. Satu titik yang tiba-tiba menarik perhatiannya. Sebuah Kafe dengan gaya sederhana namun seperti memiliki ketertarikan tersendiri, membuat pengunjung datang karena penasaran dan akhirnya betah berlama-lama.

Karma melihatnya, melihat dari banyaknya pengunjung yang tampak tengah menikmati makanan dan minuman di dalam kafe itu. Sebenarnya Ia tidak ingin masuk kesana, rasanya sama sekali tidak perlu. Ia tidak ada kepentingan kesana, lagi pula Ia sedang sendirian. Akan sangat lucu sekali saat Ia masuk ke dalam sana sendirian di tengah orang-orang yang berkumpul dan bercengkerama dengan teman—atau kekasih mereka.

Tapi aneh.

Seperti ada yang mendorongnya untuk masuk ke dalam sana. Hatinya seperti ikut penasaran, ingin sekali masuk ke dalam sana. Dan tanpa sadar kedua kakinya berjalan ke arah kafe itu, tidak memikirkan lagi mengapa tubuhnya seakan bergerak sendiri.

Karma masuk ke dalam kafe bernuansa sederhana dan menenangkan itu. Kedua matanya langsung di suguhi pemandangan orang-orang yang ramai dan ribut. Tapi tidak menurunkan kedua kesan tersebut.

Karma segera melangkah dan duduk dj salah satu meja di dekat jendela, menghadap langsung ke arah langut berwarna jingga itu. Karma memandangnya tanpa ekspresi, namun batinnya membenak tentang mengapa bisa Ia berada di tempat ini.

Ah, ini aneh sekali. Seumur-umur Karma tidak pernah terlalu ingin masuk ke suatu tempat jika tidak terlalu penting sama sekali.

Karma mengambil buku menu yang sudah tersedia di atas meja, membukanya. Kebetulan, ada Stroberry Cake dan Stroberry Milkshake—dua makanan dengan rasa kesukaannya. Karena sudah masuk kemari, kenapa Ia tidak memesan sesuatu saja?

"Permisi, apa anda sudah memilih apa yang ingin anda pesan?"

Suara familier yang akhir-akhir ini tidak pernah berbicara dengannya terdengar. Bagai alunan musik indah, di benak hati terdalamnya, rasanya Ia merindukan suara ini. Padahal Ia yakin Ia sering bertemu dengan pemilik suara ini.

Karma beralih menatap sosok dengan suara tersebut.

Lalu saat itulah pandangan meraka beradu dengan amat dramatis. Sepasang mata Mercury dengan sepasang mata Shappire saling menatap satu sama lain, amat dalam. Kilat keduanya tampak memunculkan kerinduan yang tidak pernah mereka rasakan dan perasaan aneh yang asing.

Seketika kesadaran pun kembali. Kini ekspresi terkejut terlukis di wajah keduanya.

"K-Karma?"

Gadis berambut pirang panjang dengan kedua mata shappire indah itu kini sedang berdiri di depannya dengan kostum maid—yang jujur saja amat cocok di mata Karma.

Karma berusaha menstabilkan perasannya, memasang ekspresi santai seperti biasa.

"Rio? Kau kerja disini, hm?"

Rio tidak mendengarkan, gadis itu malah tampak panik, langsung duduk di sebelah Karma. Tepat di sebelah pemuda berambut merah itu, menbuat Karma sedikit terkejut dan refleks memundurkan badannya sedikit.

"T-tolong rahasiakan ini dari orang-orang, Karma. Kumohon!" Rio menjerit pelan, menatap Karma penuh harap, "Aku tidak mau di keluarkan dari sekolah karena ketahuan bekerja. Tapi aku punya alasan kuat mengapa aku berani melakukan semua ini."

Memang wajahnya terlihat seperti akan membeberkan semua ini, ya? Tapi Rio yang sedang panik lumayan lucu juga. Karma tersenyum geli tanpa sadar, berusaha menutupinya dengan telapak tangannya.

"Baiklah. Tapi aku harus tahu apa alasanmu melakukan ini, Rio."

Rio terdiam, wajahnya malah semakin terlihat panik dari pada yang tadi. Kini rona merah juga terlihat menghiasi wajah manis Rio yang di timpa sinar matahari di sore hari.

"Kau tidak mau memberitahunya?" Karma menyeringai licik, "Baiklah, aku tidak yakin besok kau akan keluar dengan selamat dari ruang kepala sekolah—"

"Baiklah, aku akan memberitahumu! Jadi diam dan biarkan aku menjelaskan semuanya!"

Karma tampak menikmati semua ini. Tentu saja, jika Rio tetap tidak mau memberitahu alasan mengapa dia berada disini Ia tidak akan memberitahu siapapun termasuk Kepala Sekolah sialan itu tentang hal ini. Bagaimana pun juga Rio adalah temannya yang berharga. Benar bukan?

Teman ya? Karma sedikit terganggu dengan itu, entah mengapa.

"Aku ini hanya gadis blasteran Amerika yang tidak bisa apa-apa sebenarnya. Yang ku bisa hanyalah menembak, berdebat, atau menjahili seseorang untuk kesenangan—seperti kau." Rio berusaha untuk tidak memandang Karma, kemana saja asal jangan ke arah Karma. "Dan suatu hari aku berpikir, apa yang ku bisa selain semua ini? Bukankah aku menyedihkan? Bahkan aku tidak bisa memasak lebih dari lima jenis makanan. Tidak terlalu pandai mengurus rumah. Bagaimana jika suatu hari aku menikah, apakah suamiku akan tahan dan dapat menerimaku yang tidak bisa apa-apa ini?"

Karma terdiam. Rio terlihat seperti orang yang tidak bisa apa-apa? Baginya dia tidak terlihat seperti itu. Gadis berambut pirang dengan senyuman manis yang terkadang terkesan menyebalkan itu selalu menjadi alasan utamanya Ia ingin pergi ke sekolah. Anggap saja, Rio adalah sesuatu yang harus ada jika ingin Ia ingin ada disana. Ia juga tidak tahu kenapa. Semua ini amat berbeda dan tentu saja membingungkan.

"Ah, bodohnya aku. Aku bercerita seperti ini padamu, padahal kaulah yang paling tahu aku tanpa perlu repot-repotku jelaskan." Rio tersenyum muram, terkekeh pelan saat pandangannya kembali pada Karma.

"Tidak seperti Okuda, bukan? Aku terlihat tidak bisa apa-apa sama sekali." Lanjut Rio setelahnya. Kali ini kalimat barusan keluar begitu saja tanpa sadar.

"Aku hanya.. pelayan di Kafe ini."

Rio menambahkan dengan nada lirih. Tidak berani menatap Karma.

Langit sudah berubah gelap, lampu-lampu telah di hidupkan dan sepenuhnya mengganti tugas Matahari untuk menerangi bumi—di temani bintang dan rembulan di atas sana.

Akabane Karma. Untuk hari ini akhirnya mengerti dengan pasti mengapa teman-temannya selalu menyuruhnya mencar pacar. Karma akhirnya paham bahwa keberadaan dirinya ini bukan hanya tentangnya seorang, tapi tentang belahan hati yang akan menemaninya suatu hari nanti hingga Ia menua nanti.

Rio berusaha sekuat tenaga melengkapi kekurangan yang dari awal sebenarnya sulit untuk di tutupinya sendirian, hanya bisa pasrah dengan segala kemungkinan meski dia telah berusaha merubahnya.

Tentu saja, meski Rio sudah berusaha—akan ada beberapa hal yang tetap tidak akan berubah darinya. Akan tetap sama sampai kapanpun. Selamanya.

Hingga seseorang datang dan melengkapi kekurangan itu.

"Rio,"

Ini bukan tentang dirinya sendiri. Hari ini Ia paham. Ini tentang orang lain juga. Siapa yang akan melengkapi kekurangangannya dan siapa yang akan dia lengkapi dengan kelebihannya.

"Jika kau hanya seorang pelayan di kafe ini maka,"

Rio pun menoleh, bola mata itu pun mulai berkaca-kaca—

"Aku hanyalah laki-laki yang di takdirkan untuk melengkapi kekurangan sang pelayan itu."

Karena sebenarnya, Aku mencintaimu. Inilah kekuranganku.

END