Disclaimer punya Om Masashi Kishimoto tentunya
Fanfiction ini hanya imajinasi semata dan tidak berhubungan dengan kenyataan apapun
PROLOG
-Perceraian-
Sepasang suami-istri saling bertatap tegang di ruang tengah apartemen yang telah mereka tinggali bersama sekian tahun itu. Meski pencahayaan remang-remang hanya berasal dari lampu tempel kuning yang biasa menghiasi bingkai besar foto pernikahan mereka, namun bisa terlihat jelas refleksi kilatan amarah dari mata keduanya. Bersikukuh pada pendapat masing-masing tak ingin disalahkan.
"Lihatlah! Kau bahkan sama sekali tak mengangkat teleponku!" Sang istri berteriak. Wanita bersurai biru malam sepekat langit dini hari yang kini menunjukkan pukul dua.
Sang suami hanya mendesah panjang sambil mengusap wajahnya kasar dengan sebelah telapak tangannya dan tangan satunya melepas kancing kerah dan mengedurkan dasi hitamnya kasar. Tampak gusar karena lelah selepas pulang kerja disambut 'masalah'
"Sudah kubilang semalam kan aku harus menjamu tamu penting!" pria bersurai kuning itu tersulut dengan mudahnya. Lama-lama ia muak dengan pertengkaran yang entah sudah beribu kalinya seperti ini.
"Oooh!" Ibu satu anak itu berkacak pinggang. "Bagus Uzumaki Naruto! Apa Cuma alasan itu yang bisa kau katakan!" suaranya naik dua oktaf. Untung saja anak mereka, Uzumaki Boruto sudah tertidur dari tadi. "Apa anakmu tidak penting sampai kau bisa lupa menjemputnya di TK!"
"Aku hanya bilang fakta dan aku benar-benar lupa karena sangat sibuk. Mengertilah Hinata ini semua demi karirku!"
"Kau pikir disini hanya kau yang ingin berkakir hah! Sampai mengabaikan anakmu sendiri?! Kau tau tadi aku sangat panik saat professor datang sementara TK meneleponku terus. Aku meneleponmu berulang kali dan kau sama sekali tak menggubris, bukannya tadi pagi juga sudah kubilang aku ada tamu penting dan kau bilang akan menjemput Boruto! Itu kesempatan langka Naruto! Seorang dosen muda sepertiku bisa mendapat tempat di antara petinggi universitas lalu..lalu kau menghancurkannya begitu saja! Aku seperti orang gila berlari dari taksi karena macet menjemput Boruto meninggalkan jamuan itu dan kembali dengan pakaian dan rambut berantakan!"
"Sudah kubilangkan untuk memperkerjakan PRT tapi kau tak mau mendengar!"
Hinata mendengus. Bola matanya berputar sebelum kembali menghujam mata biru muda seindah langit itu yang dulu ia kagumi. "Sekarang kau menyalahkanku!?" dengan kasar menarik laci meja kecil di sudut ruangan, Hinata mengambil tumpukan kertas tagihan lalu mendorong lacinya lagi dengan sekali hempas membuat vas bunga diatasnya sedikit oleng. Setengah mencampakkan Hinata melayangkan kertas-kertas itu ke kaki Naruto. "Dengan semua tagihan itu, kau pikir masih cukup untuk membayar pembantu?!"
Naruto menatap nanar kertas-kertas di kakinya berisi tagihan apartemen, air, listrik, sekolah Boruto, dan cicilan mobil, belum lagi kebutuhan sehari-hari yang mau tak mau cukup tinggi karena mengikuti hasrat dan gengsi. "Kalau begitu berhentilah bekerja! Dari dulu kau berambisi sekali sih?!"
"Whoaa! Kau semakin keluar jalur! Sudahkah kita membicarakan ini sebelum menikahi wanita karir sepertiku?! Lagipula jika Cuma mengandalkan gajimu tagihan-tagihan ini takkan bisa terselamatkan."
"Kau ingin bilang gaji manager sepertiku kecil begitu? Huh maaf saja jika gaji kecilku tak memenuhi gaya hidupmu yang boros!"
"Apa? Aku boros? Standarku sudah turun sejak menikahimu dan kau masih bilang aku boros?!"
Naruto sangat sensitive jika membahas ini. Kenyataannya memang ia hanya berasal dari keluarga sederhana dari desa dan Hinata dari keluarga berada, ayahnya seorang ketua dewan sekaligus pengusaha bengkel terbesar di kota yang melayani mobil-mobil mewah, abangnya staf khusus pemerintahan, dan adiknya seorang desainer ternama. "Para Hyuuga memang sombong." Sinisnya.
"Jadi sekarang kau membawa nama keluargaku!"
"Ya benar! Kenapa kau begitu berambisinya ingin diakui oleh ayahmu menjabat sebagai rector kelak dan menguras seluruh tabungan kita demi gaya hidup yang setara dengan lingkungan kita! Bukankah kau terlalu memaksakan!"
"Boros? Bukankah kau juga menikmatinya huh! Apartemen ini, mobil yang kau pakai, makanan yang kau makan semuanya!"
"Aku tidak meminta! Kau yang memilihkan semuanya! Bahkan makanan sehari-hari tak pernah selama tiga tahun ini kau menanyakan apa yang ingin kumakan atau membuatkan hidangan dengan tanganmu, selama ini hanya makanan cepat saji, makanan beku atau pesan di restoran." Naruto memukul dadanya sendiri. "Aku memendam keinginanku selama ini, tapi sekarang.. sebenarnya dari dasar hatiku.. aku ingin seperti rock lee yang pakaiannya disiapkan oleh istrinya, Shikamaru yang selalu dibuatkan bento oleh istrinya, atau Kiba yang disambut setiap kali pulang kerumah atau paling tidak Sasuke yang kadang ditelepon istrinya di tengah waktu kerja menanyakan kabar 'sudah makan siang?' 'ingin makan apa malam ini?' 'Kau baik-baik saja? Suaramu terdengar tidak semangat' bahkan hal-hal kecil seperti itu, kau tidak melakukannya, mana sempat dengan kesibukanmu. Oh, apa jangan-jangan kau tidak sempat mengingat kalau kau punya suami. " Naruto tampak benar-benar putus asa. Kegelisahan di hatinya tertumpah dalam sekali ucap tidak memperdulikan nafasnya yang kini terengah-engah seperti selesai berlari. "Aku bahkan lupa kapan terakhir kali kita terlelap bersama."
Hinata merasa harga dirinya sebagai seorang istri terhina. Memang yang Naruto katakan fakta namun ia tetap melaksanakan kewajibannya meskipun harus membeli makanan diluar dan jasa laundry. Apa yang salah dengan semua itu? Toh kebutuhan suaminya terpenuhi meski bukan ia yang mengerjakan. Dan soal tidur bersama, tidak bisakah Naruto mengerti kalau jadwal mereka selalu berlawanan, disaat Naruto lembur Hinata akan pulang lebih awal begitu sebaliknya.
"Lalu apa? Kau tau sendirikan bagaimana aku berusaha mati-matian mendapat S2 di usia semuda ini. Kau menyesal menikahi wanita karir sepertiku?" nada suara Hinata melemah. Tergantikan nada dalam menahan emosi.
Sudah jelas tujuan hidup keduanya berbeda kini. Naruto yang berharap memiliki istri perhatian penuh dengannya. Lalu Hinata dengan ambisinya meniti karir cemerlang.
"Aku rasa pandangan kita berbeda sekarang. "
Satu kalimat bernada rendah itu menjadi penutup amukan amarah malam ini. Naruto berbalik memunggungi Hinata, keluar dari pintu apartemen entah kemana, meninggalkan Hinata yang terduduk lemah dengan segala keteguhan hatinya. "Baiklah." Jawabnya meski Naruto sudah jauh dibalik pintu sana.
Proses perceraian terjadi sangat cepat tidak sampai seminggu. Kesepakatan keduanya benar-benar mantap, tidak perlu rekonsiliasi. Hanya perlu tanda tangan dan mendengarkan sidang. Selesai. Semudah itu bercerai. Kesepakatan soal hak asuh anak pun tidak ada masalah, Boruto bersama Hinata dihari biasa dan akhir minggu bersama Naruto. Juga harta gono-gini, mereka sepakat untuk tidak menjual apapun dan membaginya berdasarkan kebutuhan, seperti apartemen menjadi milik Naruto beserta kelanjutan cicilannya dan mobil menjadi milik Hinata dengan cicilan tiga bulan lagi tetap Naruto yang melunasinya. Setiap bulan Naruto harus mengirimkan uang tiga juta sebagai nafkah untuk Boruto terhitung setelah pelunasan mobil. Sementara Hinata dan Boruto tinggal di kediaman ayahnya.
Ngomong-ngomong soal Hiashi, tentu saja mengamuk dengan kabar perceraian yang tiba-tiba namun Naruto dan Hinata telah mempersiapkan segalanya agar keluarga mengerti. Termasuk Kushina dan Minato yang hanya bisa menangis mendengar kabar melalui telepon.
"Naruto, sebagai ayah, ayah merasa malu tidak bisa mendidik putra ayah satu-satunya dalam mempertahankan pernikahannya." Ungkapan kekecewaan terdalam Minato. Naruto pasrah mendengarnya, memang benar, orang tua mana yang tidak kecewa anaknya bercerai? Lalu Kushina juga mogok bicara dengan Naruto.
"Sudah masuk semua?" Tanya Naruto memastikan koper dan beberapa kardus berisi barang mantan istrinya dan anaknya tidak ada yang tertinggal di bagasi.
Hinata mengangguk. "Sudah."
"Baiklah. Kalau begitu saya permisi." Naruto menunduk sopan ke arah Hiashi yang berada diambang pintu namun hanya dibalas wajah datar dan kemudian berbalik. Mengacuhkan.
"Pergilah, taksimu menunggu."
"Um. Tolong jaga Boruto." Telapak tangan besar Naruto menangkup surai kuning cerah anaknya yang sedang tertidur pulas di gendongan Hinata.
"Ya. Jangan khawatir." Balas Hinata. Kemudian Naruto berbalik seperti adegan slow motion, punggung lebarnya menghilang di balik pintu taksi yang segera melaju melewati dinding pagar kokoh bertuliskan kediaman hyuuga.
Hinata tidak tau kenapa tiba-tiba angin berhembus kencang sampai membuat matanya berair. Setetes. Dua tetes. Tiga.. dan tetes selanjutnya kian mengalir. Bahunya bergetar. Terisak tanpa suara.
Mengapa menangis? Bukankah ini yang aku inginkan?
Di tempat lain, Uzumaki Naruto hanya melamun menatap keluar jendela taksi yang terbuka membiarkan semilir angin melewatinya berharap nafasnya akan sedikit lega, namun kenapa malah matanya semakin perih dan berair lalu menetes tanpa harga diri. Lelaki tidak boleh menangis
Harusnya aku lega. Ini yang kuinginkankan?
Tak apa. Setelah ini semuanya akan baik-baik saja
Seiring berjalannya waktu semuanya akan terbiasa
.
.
.
Perceraian. Seringkali dianggap jalan keluar terbaik dalam pernikahan yang 'buntu' berharap lega sesudahnya. Tapi, coba tanyakan pada mereka yang bercerai, adakah yang benar-benar merasa bahagia?
TBC
Holla saia kembali lagiiii setelah sekian tahun
Cerita ini ga bakal panjang-panjang, mungkin sekitar 5 chapter untuk meminimalisir discontinued seperti ff saia yang sudah-sudah wkwk.
Gimana ceritanya? Kecepetan? Kependekan? Feelnya terasa kagak? Gimana-gimana minna-san kesannya?! Review yap biar cerita ini bisa berkembang ehe, fav dan follow juga atuh
Makasihh cinta~
