NIGHT, KIYOKO, STARS, AND ATSUMU

Kiyoko melihat hamparan langit malam ini, ia mengedarkan pandangan. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam dan dia malah keluar dari penginapan diam-diam. Besok adalah hari kepulangan mereka karena tidak berhasil mengalahkan Inarizaki.

Ia menghela napas berat, rasa sedih yang belum pernah ia rasakan sebelumnya timbul tiba-tiba. Siang tadi ia masih kuat menepuk pundak Hinata yang tidak bisa berhenti menangis sesampainya di penginapan, ia bahkan masih kuat menaruh daging lebih banyak lagi pada mangkuk Nishinoya dan Tanaka yang tidak menyentuh makanannya sama sekali.

Tidak ada yang lebih kuat dari siapa, semuanya nampak bisa remuk kapan saja siang tadi. Bahkan Daichi yang biasanya paling tegas tidak mampu berkata apa-apa ketika melihat Asahi dengan sengaja tidak bergabung untuk menyantap makan malam. Yachi bahkan makan sambil terus terisak di samping Yamaguchi yang hanya diam saja sejak pulang dari lapangan. Tsukishima bahkan jauh lebih diam dari pertama laki-laki itu bergabung dalam tim.

Tidak ada yang lebih buat dari siapa dalam tim karasuno hari ini.

Tidak terkecuali dirinya. Ia juga bisa remuk kapan saja, tapi bukan tadi. Mungkin sekarang ia bisa.

Atau tidak?

"Kau manager karasuno?"

Mungkin tidak.

.

.

.

.


A Fanfiction

Haikyuu! © Haruchi Furudate

Miya Atsumu x Shimizu Kiyoko

Rated T

Running by Chololo II


.

.

.

.

Kiyoko tidak tahu alasannya duduk bersebelahan dengan Miya Atsumu di sebuah kursi taman. Ia bahkan menerima kaleng minuman hangat dari tangan setter nomor satu tersebut tanpa berpikir apa-apa.

"Kenapa keluar sendiri? Tidak mau terlihat sedih di depan yang lain?"

Kiyoko sedikit banyak mendengar sifat Atsumu karena lelaki itu beberapa kali masuk dalam majalah voli bulanan, ia juga sudah mendengarnya dari Kageyama. Harusnya Kiyoko tersinggung dengan ucapan laki-laki yang bisa dikatakan asing, tapi dia sepertinya percuma saja tersinggung dengan orang seperti Atsumu, maka ia lebih memilih untuk mengangguk lalu meminum kopi hangat dari kalengnya.

Rasa pahit kopi meluncur dalam tenggorokkannya saat itu juga.

"Miya-san sendiri? Sedang selebrasi?"

Miya Atsumu tersenyum miring ke arah perempuan berwajah datar di sampingnya, ia kemudian membuka kaleng minum miliknya sendiri. Menyesapnya sedikit demi sedikit hingga rasa hangat sampai pada pencernaannya.

"Ide yang bagus sepertinya," Atsumu mengusap rambut kuningnya ke belakang, "Apa Tobio menangis? Aku benar-benar penasaran bagaimana keadaanyanya."

Kiyoko diam menatap kaleng minumannya, ia tidak berniat menjawab pertanyaan Atsumu karena teringat wajah sedih Kageyama yang… tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.

"Kau bisa tanyakan sendiri, Miya-san."

Atsumu memandang gadis cantik disebelahnya yang sepertinya memang irit kata, ia lantas tertawa kecil.

"Ada apa?"

"Tidak ada, aku hanya heran kenapa kita ada di sini."

"Kau menawariku duduk di sini, kenapa heran."

"Nah! Itu dia, kenapa mau?"

Kiyoko mengernyit, "Apa aku harusnya menolak?" Atsumu giliran mengernyit, ia tiba-tiba merasa takjub dengan gadis di sampingnya. Tiba-tiba dan ia tidak tahu kenapa. Mungkin karena wajahnya yang cantik? Atau ada hal lain?

"Kau tidak taku akut berbuat hal-hal yang jahat?"

Kiyoko tertawa, hal yang jarang sekali ia lakukan, "Aku rasa Miya-san besok bertanding, kenapa harus berbuat jahat dulu?"

Atsumu tersenyum lebar hingga lesung samar di pipinya terlihat, diam-diam Kiyoko melirik lesung itu.

"Pikiranmu sederhana sekali? Selain duduk di sini bagaimana kalau kau jadi pacarku saja?" Kali ini senyum Kiyoko hilang sepenuhnya berganti dengan picingan mata waspada.

"Hei jangan melihatku begitu, aku besok bertanding, kenapa harus mencari pacar dulu malam-malam begini." Atsumu terkekeh mendengar dengusan keras gadis cantik(Atsumu benar-benar memujinya dalam hati) di sampingnya.

"Lebih baik kita pulang sebelum terlalu larut, tidak baik tidur terlalu malam sebelum bertanding." Kiyoko menatap lelaki berambut kuning di sebelahnya tanpa ragu-ragu, diam-diam Atsumu teringat tidak ada perempuan lain yang pernah menatapnya sedekat dan setegas ini sebelumnya.

"Harusnya kau biarkan saja aku supaya menyusul kalian pulang ke rumah."

Kiyoko mengangguk, "Kau benar, hanya saja aku sudah cukup melihat banyak ekspresi kecewa hari ini. Lagi pula rasanya pasti menyebalkan sekali kalau kami pulang karena tim yang ternyata tidak sekuat itu."

Atsumu terkekeh agak lama, ia merasa terhibur karena ucapan pedasnya dibalas begitu menyakitkan oleh gadis yang terlihat lugu di sebelahnya.

"Hm, biar kutebak, salah satu pemain di sana adalah kekasihmu?"

Kiyoko menggeleng.

"Serius? Kenapa?

"Kenapa, apa?"

"Tidak menjadi kekasih salah satunya, aku kira kau mungkin adalah gadis sang kapten? Makannya kau kelihatan sangat membela timmu?"

"Tidak," Kiyoko menjawab kalem, ia lantas kembali menyamankan duduknya, menatap ke arah Atsumu sambil meminum kopinya tenang, "Apa terlihat seperti itu?"

"Aku tidak tahu, memang kau timku?"

"Memang timmu begitu?"

Atsumu mendengus, "Kapten kami tidak seperti itu." Kiyoko mengangguk, ia melihat ke arah langit. Rasi bintang orion tertangkap matanya.

"Itu namanya rasi bintang orion."

Kiyoko menoleh ke arah Atsumu yang berdiri dari tempat duduknya, sebelah tangan masuk ke dalam saku celana panjangnya sedangkan sebelah tangannya lagi memegang kaleng kopi.

"Aku tahu."

"Kembali saja ke penginapan, aku juga akan kembali."

Kiyoko melirik arlojonya yang menunjukan tengah malam. Ia ternyata cukup lama menghabiskan waktu bersama lelaki di hadapannya.

.

.

.

Mereka bersisihan menuju ke penginapan tim karasuno, Atsumu memaksa untuk mengantarnya sampai ke dekat penginapan.

"Terima kasih Miya-san, semoga sukses untuk besok."

"Yah aku yakin kami pasti bertahan cukup lama di sini." Kiyoko mengabaikan senyum miring Atsumu, iya hanya mengangguk lalu berbalik hendak masuk ke dalam gerbang penginapan.

"Aku belum tanya namamu, Cantik."

Kiyoko menoleh lantas ia tersenyum tipis, "Panggil saja sesukamu. Kau suka kan? Mengeluarkan kata-kata sesukamu?"

Atsumu terkekeh, gadis ini barusan menyindirnya habis-habisan dengan wajah sedatar itu?

"Aku tidak enak kalau kupanggil, pacarku?"

Kiyoko mendengus, "Apa kau sedang ingin aku bela di hadapan orang lain jika kau kalah?" katanya santai lantas memasuki area penginapan, mengbaikan Atsumu yang masih berdiri menatap kepergian gadis bermulut tajam yang sialnya begitu menawan.

"Sialan." Atsumu terkekeh teringat ucapan terakhir gadis itu, ia menyesap kopinya lantas berjalan ke arah penginapannya.

Ah jadi begini rasanya menggoda seorang gadis?

Atsumu membatin lantas mendengus geli.

.

.

.

end


squel? eeerrrr, maybe soon wkwk