Apakah benar waktu dapat menyembuhkan luka? Menghapus semua amarah dan penyesalan? Kurasa hidup tak sesederhana itu.
Banyak yang berkata waktu dapat menaklukan segala hal, termasuk rasa sesal dan luka yang amat mendalam. Yah… mereka berkata dengan sangat mudahnya. Tapi sayang, aku tak percaya akan hal itu. Rasa sakitku dan penyesalanku ketika harus berjalan bersama Narcissca dan Lucious berbalik meninggalkan perang di Hogwarts kala itu masih terus meliputiku hingga saat ini. 11 Tahun, ah… ini terlalu singkat. Sesalku bukan karena menjadi penghianat bagi Voldemort ataupun Harry dan lainnya. Sesalku bukan karena tak dapat tampil sebagai pahlawan pada akhirnya. Sesalku adalah tak pernah melihat wajahnya lagi, tak pernah punya kesempatan untuk mencintainya dengan berbalas. Sesalku adalah dengan benar-benar menyerah pada segala hal, yang kumaksud "hal" disini adalah cintaku untuk dia "Hermione Jane Granger".
Sulit bagiku memahami tentang apa yang namanya waktu. Waktu mencinta dan membenci, kenapa harus datang selalu bersama? Hatiku terguncang bahwa setelah 11 tahun, aku masih mencintai dan membencinya pada saat yang bersamaan. Aku mencintainya sebagai Nona Tahu Segala tapi aku membecinya pula karena ia sekarang adalah Ny. Weasley istri Ronald Bilius Weasley.
Akupun menyesal membuat Astoria harus menderita seperti ini. Tak pernah sekalipun menganggapnya sebagai seseorang yang patut dicintai atau mungkin sedikit menarik itu sudah cukup. Namun, apa yang bisa kami perbuat?? Blaise menempatkanku dalam situasi yang menyelamatkan harga diriku namun merobek luka hatiku lebih dalam.
2 Mei 1998, aku menjadi seorang yang tanpa teman dan tanpa kekasih sekaligus namun harus bersedia menjadi ayah dan suami. Fuck, waktu!!! Kau sungguh membunuh naluriku ini. Janji setia untuk tetap menjadi sahabatnya, dan selalu menemani kekasih hatinya harus kupenuhi saat itu. Blaise pergi untuk selamanya pada malam itu, dan Astoria sedang mengandung bayinya. Hubungannya dan Astoria tak diketahui orang lain selain aku. Kami bertiga selalu bersama. Dan lagi aku telah melakukan Unbreakable Fow untuk selalu menjaga dan melindungi Astoria. Jadi apa yang bisa kuperbuat?? Selama inipun Narcissca telah dekat dengan Astoria. Narcisscapun mengira aku telah berpacaran dengan Gadis Greengrass itu. Sialnya aku, Blaise tak pernah memberitahuku bahwa Astoria tengah mengandung anaknya. Malam itu ketika sedang berburu Horchux diruang peralatan, ketika ia harus menutup matanya, kalimat terakhirnya ia berpesan tolong lindungi Astoria dan bayiku. Air mata mengalir membasahi pipiku, hangat, namun hatiku tercabik karena yang terlintas dalam pikiranku adalah wajahnya dan tawa riang Hermione. Aku telah kehilangan semunya. Kehilangan cinta namun harus tetap menyimpan hati untuk kasih yang tak pernah kuinginkan.
Saat kulihat mata hazel Lucious yang bercahaya penuh harapan dan air mata Narcissca yang penuh haru ketika berjalan dibelakang Voldemort yang dipimpin oleh Hagrid sambil menggendong Harry. Aku sadar bahwa Harry masih selamat, cahaya mata Lucious penuh harap sekaligus jijik ketika memandang belakang kepala Voldemort yang botak. Aku mengerti tatapan Narcissca, aku mengerti itu. Sangat mengerti. Namun hatiku semakin hancur, sangat hancur. Karena langkahku untuk semakin jauh dari Hermione waktunya akan semakin dekat. Saat kulangkahkan kaki maju menuju si manusia tak berkasih itu, ingin sekali kubalikkan badanku dan menatap mata hazelnya sekali lagi. Tapi tak bisa, langitku runtuh. Tak ada yang bisa kulakukan. Langkah kakiku itu menandakan bahwa waktu tanpa mencintainya dengan bahagia sudah dimulai. Segalanya terjadi begitu saja. Malfoy sekeluarga berbalik dan meninggalkan perang. Bukan sebagai pahlawan, atau lawan yang menjadi sekutu tapi berbalik menjadi keluarga yang saling mencintai dengan seharusnya.
Waktu kembali mempermainkanku. Waktu membawaku pada Astoria dan keluarganya di Paris dan mereka menerima aku dan keluargaku dengan hangat. Pertunangan itu terlaksana, kami menikah. Kehormatan Malfoy dikembalikan seperti semula. Bahkan mungkin bisa dibilang menjadi baik lebih dari sebelumnya karena Greengras adalah bangsawan dari tanah Paris. Tanah yang penuh cinta, tapi sayang selama disana aku tak bisa merasakan cinta.
Kami kembali, aku, Astoria dan Scorpius Malfoy kembali ke Inggris. Syukur neneknya berambut pirang pula sehingga setidaknya dia bisa terlihat seperti diriku. Tentang kisah cinta Blaise dan Astoria hanya kami bertiga yang tahu. Astoria sebenarnya mencintaiku pada awalnya namun cinta Blaise yang begitu kuat mampu membuatnya membalas hal tersebut. Setelah Blaise tiada dan hanya kami berdua, dia berharap mungkin aku bisa sedikit mencintainya, tapi apa?? Hatiku milikmu Hermione.
Setelah 11 tahun tak melihatmu, hari ini kembali senyumanmu kulihat. Dari jauh kau mengangkat tanganmu, aku selalu suka kau melakukan itu. Bahkan untuk setiap hal yang kau lakukan aku suka. Tapi kau bukan mengangkat tangan untuk menjawab soal dan menambah nilai Griffindor kau mengangkatnya untuk menyapaku. Tanganmu yang satu memegang bahu Rose. Tak pernah kubayangkan kita akan bertemu seperti ini, disini, di King Kross mengantar anak-anak kita menaiki peron mereka menuju ke Hogwarts. Kau begitu pintar menyembunyikannya Hermione. Namun aku tak bisa. Aku tak mungkin mendekat dan menyapamu, tersenyum dari jauh saja aku tak sanggup.
Kau mungkin ada diantara mereka yang bisa menyembuhkan segalanya dengan waktu. Aku tidak. Aku tak bisa berpura-pura sepertimu. Tapi aku salah, kau memang tak berpura-pura, karena aku memantraimu untuk membenciku dan aku benci itu. Aneh... harusnya kau membenciku, tapi kenapa kau tersenyum??? Merlin... apa yang aku tak tahu sebenarnya???
To be continued ……..
