KISS ME, KILL ME: chapter 2

Sebulan sudah setelah kejadian Jongin melemparkan dirinya, mencoba bunuh diri. Namun setelah kejadian itu, Jongin dan Sehun tidak melakukan sesuatu yang spesial, seperti seks yang banyak orang-orang kira. Jongin masih setia merawat Sehun yang tangannya dibalut akibat retakan tulang.

"Jongin, ada apa?" Tanya Sehun penasaran.

Jongin selesai membasuh mukanya dan menatap cermin dengan datar. Pikirannya melayang. "Tidak ada. Hanya mengira-ngira kapan lock-down ini akan berakhir."

Lock-down akan diberlakukan ketika terjadi sebuah kecelakaan, pembunuhan, kerusuhan, dan lain-lain yang berarti setiap penghuni sel wajib berada didalam sel sedangkan penjaga dan pihak berwajib mencari sumber permasalahan. Ketika lock-down berlaku, tidak ada yang diperkenankan keluar sel, bahkan untuk ke kamar mandi sekalipun.

Sebulan yang lalu, seorang tahanan mati didalam selnya. Mayatnya ditemukan berlumuran darah dilantai selnya, diduga akibat penusukan menggunakan benda tajam. Tahanan itu pernah menikmati tubuh Jongin ketika Jongin menjual tubuhnya setelah kejadian melemparkan tubuhnya. Jongin jengah dengan aksi bunuh dirinya yang tidak kunjung berhasil.

"Aku tahu siapa yang melakukannya." Jongin menatap Sehun dengan penuh curiga.

"Tapi kau tidak punya bukti kan? Jangan kawatir, secepatnya akan diketahui pelakunya." Sehun menatap Jongin penuh arti.

"Kapan?" Jongin bertanya malas.

"Secepatnya, setelah tanganku sembuh total." Sehun merebahkan tubuhnya diatas kasur.

"Why don't you use me?" Jongin masih setia berdiri dan melihat Sehun. "Bukankah kau memindahkanku satu sel denganmu karena hal itu? Setiap aku mencoba mati, kau selalu berjaga, mengadu pada penjaga. Setelah itu dokter akan merawatku. Dokter hanya melakukan tugasnya, jadi apa alasanmu, Sehun?" Tanya Jongin.

"Itu sudah jelas. Kau milikku. Aku tidak mengijinkan kau berulah tanpa ijin dariku." Sehun bangun dari tidurnya. "Aku tidak akan memintamu sebagai wanitaku, karena kau sudah menjadi wanitaku sekarang." Sehun tersenyum licik, "apa yang kau rasakan tidak akan berpengaruh. Aku membuat keputusan dan harus begitu adanya."

Jongin tersenyum kecut, "aku bersyukur kau tidak melibatkan perasaan. Lebih baik aku mendengar 'biarkan aku memperkosamu' daripada 'jadilah kekasihku'." Jongin mendekatkan wajahnya sehingga berjarak beberapa senti dari wajah Sehun. "Sehun, aku tidak akan pernah mencintaimu sepanjang aku hidup."

Seketika sel tahanan Sehun terbuka, "saatnya pemeriksaan keadaanmu. Dokter Kris akan segera tiba."

Dokter Kris, sosok dokter yang penuh wibawa, memiliki wajah rupawan, tinggi badan yang semampai dengan rambut pirang yang dibiarkan panjang mampu membuat setiap orang bergairah melihatnya.

"Oh my, my! Aku harus membersihkan kamarku."

"Hei, dokter cinta. Datanglah kekamarku."

"Dokter, periksalah dadaku. Sepertinya aku mengalami komplikasi."

Teriakan-teriakan nakal dan siulan menggoda memenuhi seisi ruangan, diikuti dengan Dokter Kris yang berjalan menuju sel Sehun. "Hai Jongin." Sapa Kris yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Jongin. "Jadi, bagaimana tanganmu, Sehun? Sebaiknya aku memulai darimu dulu. Lepaskan bajumu."

Sehun berdiri menghadap Kris, "bukakan untukku, Jongin."

Jongin kemudian melepaskan baju yang digunakan Sehun. Adegan itu terasa sangat intens dimata Kris. Membuat Kris mengernyit tidak suka. Setelah itu Jongin keluar dari sel, memberi ruang agar Kris bisa memeriksa Sehun.

"Sampai kapan kau akan menahannya, Sehun?" Ucap Kris sambil memulai pemeriksaan. "Tanganmu seharusnya sudah sembuh sekarang."

"Apa kau mengkhawatirkannya?" Sehun menaikkan sebelah alisnya. "Aku tidak mencicipinya. Belum." Sehun tersenyum licik. "Pada saat itu, lock-down akan berakhir."

"Apa maksudmu?" Kris tersentak, "jangan bilang tahanan itu, kau membunuh-"

"Jangan terlalu kencang, Kris. Jongin akan mendengarmu." Sehun hanya bisa tersenyum penuh arti. "Lagi pula, bukan aku yang melakukannya. Tapi aku tahu siapa saksinya. Sayangnya sampai aku tidak memberikan sinyal, dia tidak akan bersaksi."

"Jika lock-down diberlakukan terlalu lama, maka akan ada kekerasan!" Kris memperingati Sehun.

"Ini semua tergantung Jongin. Aku hanya menunggunya, sampai dia menginginkannya."

Kris tersenyum kecut. "Aku terlalu meremahkanmu. Aku kira kau akan memilikinya secara paksa sesegera mungkin. Kau cukup serius ingin memilikinya."

"Jika kau mengatakan sepatah katapun kepadanya tentang semua ini, aku akan membunuhmu, Kris." Sehun menekankan nama Dokter itu. "Termasuk keadaan tanganku."

Kris hanya menghela napas.

"Kita sudah selesai, Jongin. Pakaikan kembali pakaianku." Jongin masuk dan memakaikan pakaian Sehun dalam diam. Setelah itu Ia melepas pakaiannya untuk diperiksa oleh Kris.

"Sudah lama aku tidak melihatmu di klinik, Jongin. Aku merasa sedikit kesepian, jadi aku mendatangi kalian. Aku mengajukan pemeriksaan ini kepada Kepala agar bisa bertemu denganmu."

Jongin hanya diam.

"Luka diperutmu sudah mulai menghilang." Kris menyentuh bekas luka tusukan diperut Jongin. "Jongin, apa kau benar-benar tidak ingat siapa yang menusukmu? Katakanlah, apa itu Sehun?"

Jongin bingung, "apa yang membuatmu menuduhnya?"

"Dia terlalu tertarik padamu, untuk satu hal. Seperti aku."

"Kenapa kau tertarik padaku?"

"Kau dalam kondisi yang sangat parah waktu itu. Sejujurnya aku tidak punya kepercayaan diri untuk bisa menyelamatkanmu. Disaat yang bersamaan, aku memiliki konflik batin. Awalnya aku tidak ingin menyelamatkan seorang pembunuh sepertimu, tapi ketika kau selamat pikiranku berubah. Kau adalah seseorang yang ingin aku lindungi." Kris menghela napas, "aku tidak bisa melindungimu di dalam sel. Tapi ketika mengetahui kau bersama Sehun, aku merasa lega. Setidaknya dia adalah Boss didalam penjara ini."

"Jadi, kau mengatakan bahwa aku harus mempercayakan diriku padanya?" Jongin mengernyitkan dahinya. "Dengan kata lain, aku harus tidur dengannya?"

"Lebih baik kau memiliki orang yang bisa melindungimu. Lupakan kisah lamamu-"

Jongin mendorong tubuh Kris hingga terjatuh dilantai. Jongin menindihnya, dengan kilatan mata merah menahan emosi. "Apa hakmu untuk mengatur hidupku?" Jongin menahan tubuh Kris, kemudian mencium kening Kris. Tentu saja hal ini membuat Sehun dan penjaga terkejut. Penjaga kemudian memisahkan Jongin dengan Kris, takut kalau terjadi perkelahian disana. "Watch yourself, Kris! Ketika kau lengah, mereka akan menghabisimu!" Teriak Jongin memperingati Kris.

"Ayolah, sel pengasingan untukmu, Jongin!" Teriak seorang penjaga yang hendak membawa Jongin menjauh.

"Tunggu! Dia akan membunuh dirinya sendiri jika dibiarkan sendiri. Itu yang dia mau!" Sehun berkelit pada penjaga yang hendak membawa Jongin.

"Sehun benar, disamping hukuman pengasingan tidak akan menyelesaikan masalah. Aku hanya akan memberinya peringatan kali ini." Setelah itu, Kris pergi meninggalkan sel Sehun dan Jongin.

.

.

.

Dimalam yang sepi, Jongin berjalan menelusuri selasar yang gelap. Jongin berhenti didepan pintu besi dengan lampu temaram didalamnya. Jongin membuka pintu itu perlahan, dan menemukan seseorang sedang tertidur dengan menangkupkan kepala diatas tangannya. Jongin kemudian memeluk pria itu.

"Jong-" pelukan Jongin membuat pria itu terkejut.

"Shh!" Jongin mencium pria itu, dalam dan basah. Jongin mendesah tidak sabar, Ia membawa lututnya diantara selangkangan pria didepannya dan menciumnya menuntut.

"Kita tidak bisa, Jongin..." Pria itu mencoba menghindari Jongin.

"Kenapa? Kau menyukaiku kan, Kris? Aku mengetahuinya." Jongin mengelus lembut pipi Kris. "Dan aku... juga menginginkan kau." Jongin berlutut, membawanya sejajar dengan Kris yang terduduk di kursi kerjanya. Jongin memajukan wajahnya ke leher Kris, menciumnya intens membuat Kris hanya mampu menahan napasnya.

"Kau bilang agar aku menemukan seseorang kan?" Jongin memulai membelai tubuh Kris sensual, membuka kancing kemeja Kris satu persatu.

"Jo-Jongin..." Kris hanya bisa mendesah pasrah.

"Jadi, kaulah yang aku inginkan." Jongin berbisik sensual. Kedua tangannya sibuk membuka kancing celana Kris. Lalu mulai menghisap penis Kris dengan teratur.

Kejadian panas pun berlangsung, Kris mendorong penisnya didalam Jongin dengan mantap. Jongin hanya mampu menahan tubuhnya pada meja kerja Kris didepannya.

"Ahh ahh.. AH! Kris!" Jongin mendesah nikmat.

"Jong..in..." Helaan napas kedua pria ini kemudian mengisi seluruh ruangan.

"Ahh hahh..." Jongin memejamkan matanya, merasakan tangan Kris membelai penisnya, mengurutnya dengan perlahan sambil menikmati penis Kris didalamnya.

"Kris!" Jongin membuka matanya ketika mencapai klimaks. Ia terkejut mendapati Sehun didepannya, menatap Jongin dengan kedua mata yang memerah, menahan marah.

Mimpi sialan! Jongin menggerutu dalam hati.

"Kau jatuh cinta padanya." Sehun memecah keheningan, suaranya berat.

"Ti-tidak! Tunggu!" Jongin bangun dari tidurnya.

"Jangan main-main denganku!" Sehun menggeram marah, mencoba menyibakkan selimut yang digunakan Jongin. "Ini buktinya!" Dapat terlihat penis Jongin yang tegak sempurna akibat mimpi yang ia alami bersama Kris.

"Se-sehun. Ini hanya bayanganku saja." Jongin mencoba beranjak dari kasur menghampiri Sehun. "Tolong! Please don't kill him!" Mohon Jongin frustasi. Ia takut Sehun akan melakukan hal yang tidak Ia inginkan.

Sehun menatap datar Jongin didepannya, "Oke! Sekarang berdirilah!"

Jongin membawa kedua kakinya berdiri didepan Sehun. Sraaakk!, seketika pakaian Jongin sobek menjadi dua bagian karena Sehun yang memaksa menariknya dengan kasar.

"Tanganmu..." Jongin bingung.

"Ini sudah sembuh beberapa saat yang lalu." Sehun kemudian menekan leher Jongin mendekatinya. Membawa bibir indah Jongin kepadanya dan melumatnya dalam.

"Nhh..." Jongin hanya bisa mendesah menikmati. Ia rindu oleh sentuhan sensual ditubuhnya. "Ah!" Sehun mendorong tubuh Jongin sehingga terjatuh diatas kasurnya. "Uhh..." Jongin merasakan penisnya digenggam Sehun.

"Jongin, hatimu menginginkanmu untuk tetap hidup. Jika kau ingin mati, harusnya kau tidak melakukan kesalahan." Sehun mulai mengurut penis Jongin dengan sensual. Sehun membawa bibirnya pada leher Jongin, menjilat leher itu. "Aku tahu kau seperti manusia lainnya. A tough son of a bitch." Sehun memainkan kepala penis Jongin, meraba-raba permukaan lubang penis Jongin, membuat Jongin ngilu dan frustasi. "Jika kau ingin menyelamatkan dokter itu, sebaiknya kau menjadi milikku."

Jongin terdiam, tidak ada waktu untuk berpikir. Jongin segera membawa kepalanya pada selangkangan Sehun, membuka celana yang Sehun pakai. "Nnn..." Jongin membawa penis Sehun memasuki mulutnya yang hangat.

"Persiapkan dengan matang, penisku akan memasuki lubang analmu." Sehun membuka bajunya. "Kau sangat mahir, aku tak terkejut dengan itu." Sehun tersenyum licik, "oke cukup! Strip!"

Sehun menuntun tubuh Jongin untuk berbaring, "tu-tunggu! Gunakan kondom, didalamku sangat kotor." Jongin menahan tubuh Sehun.

Sehun hanya bisa tertawa sarkas, "jika aku menggunakannya, aku tidak bisa menembakkan spermaku didalammu. Dan aku punya persediaan yang banyak, kau bisa mendapatkan semuanya." Penis Sehun mulai meraba permukaan lubang Jongin. "Take it!" Sehun mendorong sekali hentak penisnya kedalam lubang Jongin.

Jongin tersentak, Ia hanya bisa mengernyit menahan sakit. Seks tanpa pemanasan membuat lubangnya nyeri menerima penis Sehun. "Ini kedua kalinya aku memasukmu kan? Aku kira kau akan mati..." Sehun membungkukkan tubuhnya membawa bibirnya menuju bekas luka Jongin. Menjilat sensual bekas luka tusukan itu. "Seperti yang kau mau."

"Ah! Ahh ah..."Jongin hanya bisa mendesah mengikuti irama tusukan penis Sehun didalamnya.

Deritan kasur dan desahan-desahan yang mampu membangkitkan gairah memenuhi seluruh penjuru penjara. "Ah! Ahh... ahh!" Jongin hanya bisa mendesah.

"Ahh... Ah!"

Mendesah.

"Ahh... uhmmm uhhh!"

Dan mendesah.

Disisi lain, Luhan memanggil penjaga yang kebetulan melewati selnya. "Aku ingin memberikan pengakuan. Bawa aku ke Kepala!"

.

.

.

"Check call! [1]" Suara speaker membangunkan Sehun.

"Hei, Boss. Ada apa dengan Jongin? Apa dia mati?" tanya seorang tahanan ketika memasuki sel Sehun dan melihat Jongin tergeletak tidak berdaya diatas kasur Sehun.

"Pertanyaan bagus." Sehun mendekati Jongin dan menendang kasur didepannya, membuat Jongin terusik dalam tidurnya. "Oh! Kau masih hidup? Aku mengerahkan semua tenagaku untuk membuatmu mati semalam. Kau benar-benar bajingan yang tangguh, Jongin." Sehun berjalan menuju meja, dia tidak peduli dengan tubuhnya yang masih telanjang. "Ayo mandi!"

Jongin bangkit dan menggunakan celananya kembali, mengikuti Sehun keluar dari sel. "Jangan biarkan cairanku kelar, ketatkan lubangmu. Jangan biarkan penjaga mengetahuinya." Sehun kemudian berjalan dengan amgkuh ditengah-tengah penjara. Semua mata tertuju pada Sehun yang telanjang, tidak ada sedikitpun niatan menutupi tubuhnya, diikuti Jongin dibelakangnya. Semua orang tahu bahwa Jongin adalah wanita Sehun sekarang.

"Lihat itu! Dia mencoba memamerkan bagaimana Ia menaklukan semuanya!" bisik-bisik penghuni penjara menemani langkah Sehun dan Jongin menuju kamar mandi. Tidak dipungkiri, Sehun membanggakan setiap bagian di tubuhnya terlebih penisnya, buktinya Jongin bisa klimaks tiga kali dibawahnya semalam.

Kamar mandi dipenjara ini luas, mampu menampung 20 orang didalamnya dan tidak memiliki sekat antara shower yang satu dengan yang lain, kamar mandi ini umum sehingga digunakan bersama-sama.

"Hei, pergilah!" Teriak Sehun pada seluruh pengguna kamar mandi yang sedang membersihkan dirinya.

"Fuck you!" Umpat salah satu tahanan. "B-boss! Ma-maafkan aku, aku akan segera pergi!" Teriaknya terkejut saat dilihatnya bahwa Sehun yang akan menggunakan kamar mandi itu.

"Berjagalah didepan, jangan biarkan satu orangpun masuk!" Perintah Sehun.

Dengan patuh tahanan yang didalam kamar mandi meninggalkannya, "Boss sedang menggunakan kamar mandi! Jangan masuk!" Teriaknya memperingati tahanan lain yang hendak masuk ke dalam.

"Boss, aku butuh masukan darimu!" Ucap tahanan yang diusir itu. "Aku kehabisan banyak persediaan ketika lock-down kemarin."

'Butuh masukan' dari Sehun berarti narkoba. Sehun memiliki semua obat-obatan dibawah jarinya. Itulah sebabnya Sehun mendapatkan gelar Boss di penjara ini. Jelas dia memiliki kelompok yang hebat dibelakangnya, membuat Ia dihormati oleh setiap tahanan didalam penjara ini. Namun tidak berpengaruh dengan Jongin.

Jongin tersentak ketika merasakan sesuatu yang keras diantara bokongnya.

"Berapa umurmu?" Sehun memeluk tubuh Jongin dari belakang, menggesek-gesek penisnya diantara bokong Jongin.

"Sepertinya kita seumuran," jawab Jongin menahan desahannya.

"22, ya? Tidak heran kau memiliki gairah yang membara!"

"Ahh.. Ah!" Jongin terkejut, Sehun menusuk penisnya tanpa aba-aba. Ia merasakan penis Sehun menusuk jauh di dalam sana, menumbuk titik nikmat didalam Jongin. Dibawah shower yang mengalirkan air, Jongin hanya bisa merasakan sensasi dingin diseluruh tubuhnya, tapi tidak didalamnya. Penis Sehun sangat nikmat didalam sana.

"Ughh... hmmm ahhh" Sehun menjambak rambut Jongin, membuat Jongin berpegangan pada tiang shower untuk menyeimbangkan dirinya dari dorongan-dorongan liar Sehun.

Sehun membawa wajah Jongin padanya, mencium Jongin dengan intens. "Look at me!" Teriak Sehun marah, "semalam kau menutup matamu dengan erat. Aku tidak akan memafkanmu jika kau bersetubuh dengan orang lain. Walau itu hanya didalam pikiranmu sekalipun!"

Jongin memejamkan matanya, menahan sakit karena rambutnya yang ditarik Sehun dengan kasar.

"Jangan tutup matamu!" Teriakan Sehun mengejutkan Jongin. Jongin sontak melihat kearah Sehun, sebisa mungkin tidak menutup matanya, walau dia menikmati Sehun didalamnya.

"Ah... ahh!" Jongin melihat Sehun dengan frustasi. Aliran air memenuhi tubuh mereka, Sehun begitu seksi didepan matanya.

"Nn.. ahhh ahh ahh ahh!" Sehun membawa Jongin pada kenikmatan. Tangannya menggenggam penis Jongin, mengurutnya seirama dengan hujaman penisnya.

Pikiran Jongin melayang.

Aku terhanyut!

"Ahh... huuummm" Jongin bertumpu pada dinding didepannya.

Tolong aku!

"Uhh... hmmm"

Tubuh jalang milikku menikmatinya, sebelum membuatku kehilangan tujuanku.

"Ahh.. Se-sehun... haaa ahhh"

Please! Cepat bunuh Kris untukku, Sehun!

"Ahh haaa... Agghh!" Jongin klimaks saat itu juga.

Didalam sel penjara, mereka melanjutkan aktivitas panasnya. Kali ini berbeda, Sehun menutup kasurnya dengan sprei, sehingga tidak ada satupun yang melihat mereka bercinta. Sehun ingin menikmati Jongin untuk dirinya sendiri.

"Ahh..ah!" Deritan kasur memenuhi ruangan itu. "Ahh! Pl-please aahhh... ahh!" Desah Jongin.

"Jong-In..." Desah Sehun sambil menikmati bibir manis Jongin.

"Ahh... ahhh... Kris~" Desah Jongin.

Sehun sadar sepenuhnya, Jongin memanggil orang lain.

"Urghh!" Jongin tersentak. Sehun mencengkeram lehernya dengan kuat, membuat Jongin kelabakan mencari oksigen sebisanya.

"Jangan tutup matamu, Kim Jongin!" Geram Sehun.

"Kau bilang perasaanku bukan masalah kan, Sehun? Jangan bilang kau mengharapkan aku jatuh cinta padamu. Aku sebaiknya mati daripada mengatakan itu." Sehun terkejut dengan ucapan Jongin. "Jangan bilang kau tidak benar-benar mencintaiku. Beri aku istira-" Sehun mencengkeran leher Jongin lebih erat.

Jongin hanya bisa tersenyum licik, pasrah. Ini yang Jongin inginkan.

"Hei! Apa yang terjadi?" Seketika sprei yang menutupi kasur itu terbuka dan terlihat penjaga yang masuk. "Panggil Dokter!"

Sehun terkejut dengan perbuatannya, Jongin sudah tidak sadarkan diri.

.

.

.

"Sehun," panggil Kepala Penjara melalui celah kecil dipintu.

"Ma Dong Seok! Bagaimana keadaannya?" Teriak Sehun dari dalam. Akibat kejadian itu, Sehun harus menerima sanksi. Ia dipindahkan sementara ke sel pengasingan. Sel pengasingan merupakan suatu ruang yang cukup untuk satu orang dan tertutup.

"Kau bisa tinggal disini untuk dua bulan, setelah kau kembali kau harus pindah ruangan." Kata Kepala Ma tegas.

"Kalau begitu, pindahkan Xi Luhan agar bersamanya. Jika 'dua perempuan', aku tidak khawatir akan terjadi pemerkosaan."

"Baiklah," ujar Kepala Ma, lalu meninggalkan Sehun.

Sementara itu, Jongin dirawat di klinik. Cekikan Sehun terlalu kuat hingga masih bisa Jongin rasakan sampai sekarang.

"Gagal lagi, ya?" Sahut Kris, membuyarkan lamunan Jongin.

"Sehun selalu menghalangiku, shit!" Gerutu Jongin. "Setiap aku gagal bunuh diri, mukamu selalu yang pertama kulihat ketika aku membuka mataku. Aku muak!" Jongin memejamkan matanya kembali, mencoba untuk isitirahat.

"Aku juga muak akan semua ini." Jawab Kris tenang. "Ikuti aku!" Ajak Kris.

Dokter Kris dan Jongin berjalan beberapa menit setelah itu sampai pada klinik penjara yang lebih besar dari biasanya. "Klinik ini adalah tempat untuk senior-seniormu yang terbaring di tempat tidur atau orang yang memiliki penyakit berat." Kris dan Jongin berjalan menelusuri ruangan itu. "Kau mau bekerja disini, Jongin?"

Jongin menatap terkejut, mengangkat kedua alisnya.

"Jika kau bisa bekerja disini selama dua bulan penuh, dan kau tetap ingin mengakhiri hidupmu, aku tidak akan menghalangimu lagi."

"Benarkah?" Jongin mulai tergoda dengan tawaran itu.

"Ya, aku janji."

Jika aku bisa membuat Kris jatuh cinta padaku, tidak mungkin Sehun membiarkannya hidup. Ucap Jongin dalam hati.

"Kapan aku bisa bekerja?"

.

.

.

Sesampainya Jongin pada selnya, ia menemukan Luhan sudah ada diatas tempat tidurnya. "Sehun dipindahkan, jadi kita akan menjadi teman sekamar mulai sekarang." Jelas Luhan sebelum Jongin bertanya.

"Kenapa kau ada diatas kasurku?" Jongin mengernyit tidak suka.

"Jika aku tidur di kasur Sehun, dia akan segera membunuhku." Luhan bergedik santai lalu membaringkan tubuhnya.

"Apa kau mengawasiku?" Jongin bertanya curiga.

"Biarkan aku istirahat dan setidaknya tetaplah hidup hingga dua bulan kedepan, ya? Sehun akan membunuhku jika teerjadi suatu hal padamu." Luhan meminta Jongin.

"Lights out! [2]" Speaker informasi terdengar lantang dan seketika seluruh lampu dimatikan. Menyisakan lampu remang yang ada diselasar penjara.

Wangi ini... wanginya seperti Sehun.

Jongin tidak bisa memejamkan matanya sedikitpun. Wangi Sehun memenuhi barang-barang disekitarnya, membuat Jongin frustasi.

.

.

.

Sudah satu minggu Jongin bekerja di klinik, Ia melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan pasien seperti menyiapkan makanan, menyuapi, membersihkan tubuh pasien, mengganti perban, dan lain-lain.

"Jongin, tolong gantikan popok pasien 027. Pastikan kau membersihkan dirinya terlebih dahulu!" Teriak suster yang berjaga didalam klinik.

"Suatu kehormatan bisa dimandikan olehmu, Jongin." Ucap pasien itu.

"Angkat pinggulmu, old man." Jongin mengerjakan semuanya dengan sabar.

"Kau tahanan bebas kan? Berapa tahun lagi tersisa?" Pasien itu kembali berbicara.

"55 tahun sebelum pembebasan bersyarat. Kira-kira 77 tahun nanti umurku." Jawab Jongin sekenanya.

"Kau harus bebas, bebas keluar dari tempat ini walau hanya untuk menghirup udara sebentar saja." Pasien itu menatap Jongin tepat dikedua matanya. "Jangan mati disini."

Setelah Jongin menyelesaikan tugasnya, ia merenungkan perkataan pasien tadi.

"Upah untukmu hari ini," Kris menyodorkan segelas cokelat hangat pada Jongin. "Apa yang kau pikirkan? Mencoba bunuh diri lagi?"

Jongin tetrtawa miris, "hanya membayangkan apa yang terjadi padaku jika aku bebas nanti. Kalau memang aku bertahan hidup untuk keluar, aku hanya akan menjadi mayat dipinggir jalan."

"Dalam 55 tahun kedepan, aku akan berumur 81. Kau harus mencariku. Aku akan selalu tinggal sendiri. Aku yakin." Kris tersenyum, sambil menikmati cokelat hangat.

"Kau tidak ingin menikah?"

"Itu rencana awalku, tapi Dia telah meninggal lima tahun lalu. Dan aku masih belum bisa merelakannya. Setelah ia meninggal, aku menawarkan diriku untuk bekerja disini."

"Dan kau akan hidup sampai 81 tahun?" Jongin tersenyum sarkas.

"Ya, aku yakin dengan kesehatanku karena aku dokter. Dan aku penasaran bagaimana denganmu ketika berumur 77 tahun nanti."

Jangan membahas masa depan didepanku, Kris. Jongin tersenyum miris, meremas gelas plastik cokelat hangatnya dan membuat cokelat itu tumpah ke lanati.

"Jong-" Kris tercekat, badannya sudah didorong oleh Jongin ke dinding dibelakangnya. Jongin mencium bibir Kris dengan penuh gairah dan terkesan kasar. "Kita tidak bisa melakukannya, Jongin!" Tangan Jongin sudah turun membelai penis Kris dari luar.

"Kenapa tidak? Kau menyukaiku kan, Kris?" Jongin menurunkan ciumannya pada leher Kris.

"Ya, sebagai teman!" Kris mendorong tubuh Jongin kasar. "Tidakkah kita bisa menjadi teman?" Kris menatap Jongin.

"Seseorang pernah mengatakannya padaku. Kepercayaan dan pertemanan tidak akan bertahan ditempat seperti ini." Jongin kemudian pergi meninggalkan Kris. Namun sayang, kejadian barusan terlihat oleh seorang tahanan lain yang pasti akan mengadukan semuanya ke Sehun.

.

.

.

"Check call!" Speaker informasi menggema di pagi hari. Seluruh tahanan keluar dari sel mereka masing-masing.

Jongin membuka matanya, membiasakan matanya pada sinar lampu yang menusuk terang. Jongin duduk dikasurnya dan melihat siluet yang Ia kenal betul sedang melihat kearahnya, tersenyum penuh arti diatas sana.

"Sehun kembali!" Teriak Jongin terkejut.

"Kau tidak menyadarinya? Dia kembali setelah selesai makan malam." Jelas Luhan.

"Ini belum ada dua minggu, apa yang terjadi?" Tanya Jongin bingung.

"Suka atau tidak, Sehun adalah Boss di penjara ini. Ketika Ia tidak ada, penjara ini akan penuh dengan masalah. Terlalu lama tanpa pemimpin berarti ketidakseimbangan kekuasaan akan menjadi masalah besar."

Jongin kemudian keluar dari sel penjaranya dan menuju lantai dua tempat Sehun sekarang berada.

"Hai, sweetheart." Sapa Sehun dengan berdiri bersandar di jeruji besi.

Tanpa aba-aba, Jongin berlari mendekap Sehun dan naik dalam gendongannya. Jongin mencium Sehun tepat dibibirnya dengan basah, membuat Sehun terkejut namun tetap melingkarkan tangannya menahan pinggang Jongin agar tidak terjatuh.

Siulan-siulan nakal dan teriakan-teriakan menggoda seketika menggema diseluruh penjara. "Jauhkan bibir itu, kalian berdua!" Teriak penjaga yang menghampiri mereka.

"Santai, guard!" Sehun merogoh saku celananya tanpa melepaskan Jongin dari gendongannya, "mungkin kau bisa menjauhkan semua orang dari selku?" Sehun memberikan beberapa lembar uang pada penjaga itu.

"Jangan membuat keributan, hanya sepuluh menit waktu yang kau punya." Penjaga itu kemudian menjaga didepan sel Sehun.

Sehun membawa tubuh Jongin masuk ke selnya, "sepuluh menit waktu yang cukup. Come on, baby!" Sehun mendudukkan dirinya diatas kasur, membiarkan Jongin duduk dipangkuannya. "Strip, Jongin! Aku tidak melakukannya selama seminggu, jadi berikan lubangmu padaku langsung!" Sehun memukul bokong Jongin dengan sensual.

"Nice pillow talk," Jongin membuka bajunya dengan perlahan, menggoda Sehun.

Sehun mendekatkan bibirnya pada leher Jongin, mengecup leher itu. "Jujurlah, kau mendambakan penisku kan?" Sehun membimbing tangan Jongin untuk menyentuh penisnya. "Hanya aku yang bisa membuatmu mendesah nikmat, Jongin." Sehun membisikkan kata-kata itu sensual.

"Aku memang menyedihkan, tapi aku benar-benar menginginkanmu sekarang." Ujar Jongin tidak sabar lalu mendorong Sehun berbaring di kasur. Jongin menjilat bagian tubuh Sehun dengan sensual dan Sehun hanya berbaring menikmatinya. "Cepatlah, Sehun. Kita tidak punya banyak waktu." Ucap Jongin frustasi.

Sehun meraba kotak yang ada disamping kasurnya, mecari-cari sesuatu. "Aku punya hadiah untukmu." Sehun menyodorkan barang itu tepat didepan mata Jongin.

Dapat terlihat sebuah bola mata yang terbungkus didalam plastik transparan. Jongin tahu betul mata itu, mata yang selalu ia tatap ketika membuka matanya setelah kecelakaan-kecelakaan yang ia sebabkan.

"Kau... kau tidak membunuhnya kan?" Jongin memundurkan tubuhnya, kepalanya berdenyut hebat tidak bisa berpikir apa yang terjadi.

"Kau tahu betul apa yang sudah kulakukan. Bukankah kau menginginkanku untuk membunuhnya?" Sehun kemudian meremas mata itu hingga pecah dan hanya menyisakan cairan-cairan merah didalam plastik itu. "Aku membunuhnya, untukmu, Jongin."

Jongin mual, ia bergetar hebat.

"Jongin," panggil Sehun dengan suaranya yang berat.

Jongin bangkit berdiri, mecoba turun dari kasur Sehun. Ia ingin melarikan dirinya dari Sehun, namun belum sempat kakinya menyentuh lantai, tubuhnya sudah ditarik Sehun. "Aku menarik kata-kataku." Sehun membaringkan Jongin dikasur, "aku akan merebut hatimu juga."

"Ahh..."

Sehun menjilati leher Jongin dengan penuh semangat. Ia berjanji dengan dirinya sendiri, untuk tidak melepaskan Jongin.

"...I love you."

.

.

.

Chapter 2 us UP!

Shtpnk's memo:

[1] 'check call' – adalah pemberitahuan kepada seluruh tahanan bahwa pintu sel penjara akan dibuka dan penjaga penjara akan berkeliling mengecek setiap kamar.

[2] 'Lights out' – adalah pemberitahuan kepada seluruh tahanan bahwa lampu akan dimatikan, baik lampu didalam sel maupun diluar, hanya tersisa lampu temaram diselasar penjara.