KISS ME, KILL ME: chapter 3
"Kita kedatangan dokter baru sekarang."
"Jadi itu benar? Ada rumor bahwa Dokter Kris mengalami kecelakaan."
"Ya, dan Boss kembali bersama Jongin sekarang."
"Kepala Ma mengakui Boss sekarang."
Obrolan itu sedang menjadi pembicaraan hangat diantara para tahanan. Berbeda dengan kedua pria yang sekarang sedang bersandar di dinding dengan tangan seorang pria yang lebih besar sedang masuk kedalam celana seorang lelaki didepannya, memberikan servis pada penis pria itu.
"Sehun, dimana aku harus meletakkan barang-barangmu?" Luhan masuk kedalam sel itu.
"Luhan, kau sialan! Tidakkah kau membaca keadaan sekarang?" Ujar Sehun geram.
"Ma-maafkan aku!" Teriak Luhan panik.
"Taruh itu diatas meja. Lalu kau bereskan barang-barangmu, pergi dari sini!" Sehun menunjuk pintu dengan dagunya. "Dan juga, panggil aku 'Boss'. Mulai sekarang kau bukan lagi wanitaku." Sehun tersenyum, "jangan khawatir, kau tetap dalam perlindunganku."
"Ohh... Thank you, Boss!" Luhan kemudian pergi meninggalkan sel Sehun setelah mengemas barang-barangnya.
Jongin hanya terdiam melihat interaksi kedua pria didepannya. Ada perasaan aneh didalam hatinya yang Ia tidak tahu apa itu.
"Ada apa, Jongin?" Tanya Sehun ketika melihat ekspresi aneh Jongin mengikuti kepergian Luhan.
"Aku hanya merasa kasihan padanya," jawab Jongin sekenanya.
Sehun mundur lalu melipat kedua tangannya didepan dada, "dia bahkan tidak pernah suka saat melakukan seks denganku. Aku yakin dia sangat senang karena kubiarkan pergi. Lagipula, dia sudah tahu satu atau dua rahasiaku."
Ya, kau akan membunuh Luhan cepat atau lambat. Ujar Jongin yakin dalam hati.
"Kalau kau membicarakan rahasiamu, aku juga tahu salah satunya." Jongin tersenyum kecut, "dokter yang merepotkan sudah tidak ada. Come on, kill me! Sebelum aku mengadu pada Kepala Ma." Jongin menantang Sehun
"Bajingan..." Sehun memajukan wajahnya hingga berjarak beberapa senti dari wajah Jongin. "Kau berniat menjatuhkanku? Atau jangan-jangan kau berniat mengambil gelar Boss dariku?" Sehun bergidik, "damn, kau membuatku merinding!"
Jongin hanya menatap Sehun datar.
"Aku akan membunuhmu diwaktu yang tepat. Jangan terburu-buru, suatu saat akan tiba waktunya." Sehun kembali memajukan wajahnya, "tapi sebelum itu, aku akan merebut hatimu, sweetheart." Sehun mencium pipi Jongin mesra.
"Aku sudah mengatakannya padamu-" Jongin mendorong tubuh Sehun menjauh, "aku tidak akan mencintaimu selama hidupku." Wajah Jongin mengeras, memberikan tatapan tajam pada Sehun.
"Aku penasaran..." Sehun mendorong tubuh Jongin untuk berbaring di kasurnya, "tubuhmu sudah sepenuhnya menghianati perkataanmu sendiri." Sehun menurunkan celana yang digunakan Jongin.
"Tidak, ini hanya untuk memuaskan kebutuhan seksku." Jongin membuka lebar kedua kakinya, membiarkan Sehun melihat lubangnya yang haus akan kenikmatan. Jongin tahu bahwa ia tidak bisa menolak. "Ahh!"
Sehun menghentakkan penisnya keras. Lubang Jongin belum siap, masih terlalu kering membuatnya merintih kesakitan.
"Sudah saatnya kau melupakan pria yang pergi dan meninggalkanmu." Sehun berbisik tepat ditelinga Jongin, membuat Jongin merinding. "Aku tidak akan pernah melakukan itu. Aku akan memastikan untuk membunuhmu terlebih dahulu, sebelum aku membunuh diriku sendiri."
"Ahh... ah!"
"Aku akan membunuhmu, jadi jangan khawatir. Itu bukti cintaku." Sehun memulai gerakan yang lebih intens dan dalam di lubang Jongin.
"Ahh... ahhh"
"Ummm, haahhh..."
Jongin pasrah, Ia marah pada dirinya sendiri. Seberapa besar keinginannya untuk mengakhiri semuanya, ia akan kembali masuk kedalam dekapan Sehun. Seperti tikus kecil yang menunggu ular untuk menancapkan bisanya kedalam dirinya.
"Ahh..."
Dan racun yang manis itu akan mengambil semua rasa bersalah Jongin pada Kris dan Bo Hyun, dan menghancurkannya berkeping-keping tanpa sisa sedikitpun.
Dia mungkin akan membunuhku kelak.
.
.
.
"Kim Jongin, Kepala Ma Dong Seok ingin bertemu denganmu. Cepat ikuti aku!" Panggil seorang penjaga kepada Jongin yang sedang duduk santai diatas pangkuan Sehun di atas tangga.
"Tepat waktu, akupun ingin berbicara dengannya." Ucap Jongin berdiri hendak meninggalkan Sehun.
"Hei!" Sehun menarik tangan Jongin agar menghadapnya. "Apa yang ingin kau bicarakan padanya?" Sehun mencengkeram bahu Jongin erat. "Kau tidak berniat untuk menjadikanku tahanan dengan pengamanan ketat kan? Hanya dengan tuduhan tanpa bukti." Kata Sehun gusar, ia panik Jongin akan membongkar rahasia bahwa ia yang menyebabkan kecelakaan pada Dokter Kris.
"Aku tidak sabar melihatmu berkeringat dan menggigil, Sehun." Jongin memprovokasinya.
"Ayo, Kim!" Teriak penjaga tidak sabar.
Sesampainya di ruangan Kepala Ma, Jongin masuk dan ditinggalkan sendiri dengan Kepala Ma. "Ada perlu apa kau ingin menemuiku?" Tanya Jongin.
Kepala Ma tidak mejawab, ia hanya membalikkan layar laptopnya agar dapat dilihat Jongin. Disana, ia dapat melihat seseorang terbaring lemah dengan beberapa selang-selang yang melekat pada tubuh orang itu. Perban dan gips menyelimuti tangan dan kakinya. Tidak melupakan perban yang mengelilingi kepala pria itu tepat di area mata.
"Tidakkah kau mengenali siapa orang ini?" Kepala Ma memecahkan keheningan.
Jongin berpikir keras, Ia sudah tidak memiliki keluarga atau kerabat. Lalu siapa orang yang berbaring itu?
"Kris." Jawab Kepala Ma.
Jongin terkejut. Kris belum mati, dia hanya sekarat dan sedang dirawat. Jongin refleks memundurkan tubuhnya. "Ti-tidak mungkin..." Kata Jongin lirih.
Kepala Ma tersenyum, Ia bisa mendengar jelas perkataan Jongin. Ia sudah menduga bahwa kecelakaan Dokter Kris pasti berhubungan dengan pria dihadapannya ini.
Jongin berdeham, membasahi tenggorakannya yang terasa tercekik. "Untuk apa kau memperlihatkan ini padaku?"
"Aku mengetahui apa yang terjadi diantara kalian berdua. Kris sangat ingin melindungimu dan melihatmu kembali. Mendukungmu untuk bisa keluar dari tempat ini." Kepala Ma berhenti sejenak, "tidakkah kau memiliki perasaan yang sama?"
Brak! Jongin menendang kursi yang ada didekatnya. "Apa yang kau katakan? Jangan pernah memperlihatkan dia didepanku lagi! Jika terjadi lagi, aku tidak segan-segan mencelakaimu juga, Kepala Ma!" Jongin kemudian pergi meniggalkan kantor Kepala Ma. Dalam perjalananya menuju sel, Jongin hanya bisa bergetar. Pikirannya melayang.
Apa benar aku melihat Kris sebagai orang lain? Atau... Jongin memegang dadanya.
Sehun menatap Jongin dari kejauhan. Jongin tidak akan membiarkan Sehun mengetahui bahwa Kris masih hidup.
"Apa yang Kepala Ma mau darimu?"
"Hanya menawariku untuk bekerja di kantornya. Dan aku menolaknya." Jongin mendekati Sehun dengan lemas.
"Aku tidak mempercayaimu."
Aku tidak akan membiarkan Sehun mengetahuinya.
"Ya, benar." Jongin menatap mata Sehun.
Sehun tidak boleh tahu bahwa aku hampir menangis karena Kris masih hidup.
"Kau menang, Sehun." Jongin memeluk Sehun dengan erat.
"Jongin..." Sehun bingung.
Jika ia mengetahuinya, Sehun akan benar-benar membunuh Kris secepatnya!
"Aku harus merelakan perasaan ini." Bisik Jongin dipelukan Sehun.
Belum sempat Sehun mencerna perkataan Jongin, keributan dilantai 2 terdengar mengusik keduanya dan menarik perhatian seluruh tahanan.
"Lepaskan aku!" Terlihat dua orang sedang diringkuk oleh penjaga-penjaga, "Dia yang menyerangku terlebih dahulu!"
"Diamlah, atau kalian berdua yang akan masuk ke sel pengasingan!" Teriak salah seorang penjaga sambil memasang borgol pada kedua tangan orang itu.
Terlihat Luhan disana, salah satu orang yang mencari keributan. Dari atas Ia bisa melihat Sehun dengan tersenyum senang, penuh arti.
"Lock-down!" Suara speaker kemudian menggema.
"Semuanya masuk kedalam sel masing-masing!" Teriak penjaga-penjaga lain yang kini sibuk menggiring para tahanan untu masuk ke sel masing-masing.
"Sialan, Luhan! Dia mencoba untuk melindungi dirinya sendiri." Sehun tahu sifat Luhan. Sehun kemudian masuk kedalam selnya bersama dengan Jongin.
"Jongin..." Sehun memanggil Jongin dengan suara yang dalam, "aku masih punya urusan denganmu." Sehun menatap mata Jongin. "Sejak insiden aku menusukmu, aku selalu mengawasimu. Jangan berpikir kau bisa menipuku, Jongin!"
Jongin hanya menatap Sehun tepat dikedua matanya.
"Siapa yang ingin kau lindungi, Jongin?" Sehun bertanya dengan kedua tangan berada disaku celananya.
Jongin terdiam, Ia berpikir matang-matang, tidak ingin terpancing. "Diriku, hidupku sendiri." Ia masih menatap Sehun. "Aku ingin hidup sampai umurku 80 tahun, sampai aku bebas dari tempat ini."
Ya, aku ingin pergi menemui Kris setelah keluar dari sini.
"Itu tidak akan terjadi." Sehun tersenyum licik, "hukuman kita berbeda Jongin. Hukumanku akan segera berakhir. Aku bebas bersyarat, 10 tahun."
Jongin terkejut.
"Aku tidak keberatan membunuh seseorang sehingga aku bisa tetap bersamamu, walau itu bisa mengancam hidupku sekalipun. Jangan khawatir, Jongin. Aku tidak akan meninggalkanmu." Sehun memeluk Jongin yang berdiri kaku didepannya. "Sebelum aku pergi, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. Kau akan mati dalam pelukanku, mulai 10 tahun dari sekarang." Ada kesungguhan dalam ucapan Sehun didalam sana. "Sampai saat itu, kau sebaiknya menghabiskan waktu denganku tanpa penyesalan. Aku akan sangat mencintaimu sampai kau ingin mati."
"Ya..." Jongin balas memeluk Sehun, "aku juga menginginkan itu."
Aku tidak ingin mengkhianati Bo Hyun.
"Kau harus berjanji, Oh Sehun." Jongin mencium bibir Sehun dengan mesra. Mengeluarkan lidahnya, menyerahkannya kepada Sehun untuk kembali memimpin kegiatan panas mereka.
Aku tidak akan mencintai Sehun, jadi...
Sehun mencium Jongin dengan penuh gairah. Jongin terlena dengan permainan Sehun, dia membawa dirinya pada Sehun seutuhnya.
Ah, tapi... Ini seperti narkoba. Apa yang terjadi denganku saat ini?
"Ahh.. ahh!" Jongin bergerak erotis diatas Sehun. Memanjakan lubangnya yang kenikmatan karena hujaman penis Sehun.
Racun Sehun sudah memenuhi tubuhku, merampas rasa sakit dan membebaskanku.
"Ah... shit!" Sehun ikut mendesah karena ia bisa merasakan lubang Jongin yang menjepit penisnya.
"Ahh... I'm already... coming!" Teriak Jongin sambil terus menggerakkan bokongnya.
Aku tidak bisa lepas dari dekapannya... aku butuh racun ini, aku sudah menjadi candu dibuatnya... Pikiran Jongin melayang.
"Ahhh... uhhh"
Aku tidak akan bisa lepas darinya. Aku tidak akan bisa tidur dimanapun kecuali di sarangnya.
"Ahhh... help me~"
"Haaah... AH!" Jongin mengeluarkan cairannya bersamaan dengan Sehun yang mengeluarkan klimaksnya didalam Jongin.
"I love you, Kim Jongin."Sehun menatap Jongin yang mulai melemas diatasnya.
Jongin menunduk, tersenyum kemudian mencium bibir Sehun dengan lembut.
.
.
.
"Hei, guard!" Di tengah malam yang gelap, Sehun terjaga. Memanggil penjaga yang kebetulan melewati selnya.
"Ada apa, Oh?" Tanya penjaga itu setelah sampai didepan sel Sehun.
"Siang tadi, Jongin pergi menemui Kepala Ma, apa yang mereka bicarakan?" Sehun bertanya dalam kegelapan.
"Bagaimana aku bisa tahu?"
Sehun bangun dari tidurnya, kemudian berjalan menuju penjaga itu. Memberikan beberapa lembar uang disakunya, "pikirkanlah!"
Penjaga itu menerima uangnya, "aku tidak yakin apa yang mereka bicarakan. Tapi yang kudengar bahwa Dokter Kris terbaring sekarat di rumah sakit akibat kecelakaan itu."
Sehun terkejut mendengarnya dan kembali pada tidurnya.
Jongin bangun terkejut akan mimpi buruk yang ia alami. Bayangan-bayangan ia membunuh ibunya kembali terulang, diikuti Bo Hyun dan juga Kris. Membuatnya tidak tenang dan terbangun. Jongin merenung, ia tidak bisa hidup jika keadaannya terus seperti ini.
Jongin berjalan menuju meja disisi kasurnya, membuka salah satu laci dan mengeluarkan pensil dari dalam sana. Ini pilihan terakhirnya. Ia menjauhkan pensil itu, bersiap untuk menusukkannya ke lehernya.
Sebelum hal itu terjadi, tangannya sudah dicekal oleh Sehun. Sehun ternyata juga terbangun karena Jongin. "Kau baru saja bilang bahwa kau ingin hidup!" Sehun menghempaskan tangan Jongin marah. "Aku tidak tahu siapa yang mengubah pikiranmu, tapi aku berterima kasih padanya." Sehun mencengkeram dagu Jongin, membawa Jongin agar melihat dirinya. "Tidak ada hal yang lebih membosankan dari membunuh seseorang yang memang menginginkan kematiannya kan?" Sehun tersenyum licik kemudian membelai leher Jongin dengan lembut, "jangan menghancurkan kesenanganku, Kim Jongin."
Jongin tersentak, sentuhan ini. Sama seperti sebelumnya ketika Sehun menangkap dirinya yang jatuh dari lantai atas, jemari Sehun menyentuhnya sangat lembut. Jongin ingin disentuh oleh jemari-jemari ini oleh orang yang Jongin cintai, yang akan mencintai Jongin juga.
"Ahh..." Jongin menengadahkan kepalanya, agar Sehun bisa leluasa membelai lehernya dengan bibir miliknya. Malam itu, mereka kembali bergelut mencari kenikmatan masing-masing.
Dilain sisi dari penjara itu, Kepala Ma mengunjungi sel pengasingan Luhan, "kau ingin dimasukkan ke sel pengasingan kan?"
"Ya. Ia tidak akan bisa menyentuhku disini. Karena aku tau rahasianya." Luhan menatap Kepala Ma, "Aku pernah menjadi wanitanya. Aku menjaganya dan melakukan tugas-tugas untuknya, itu sebabnya aku tahu dimana Ia menyembunyikan harta karunnya." Luhan tersenyum penuh arti.
"Harta karun yang kau maksud itu narkoba kan?" Tanya Kepala Ma.
"Aku akan memberitahumu jika kau berjanji untuk melindungiku didalam sini."
.
.
.
"Check call!" Speaker informasi menggema, menandakan pagi sudah datang.
"Sialan! Aku bahkan baru memejamkan mataku." Sehun membuka matanya sambil menggerutu. Sehun menggeser badannya dan terkejut melihat Jongin yang sedang menatapnya. "What the hell! Kau tidak tidur?" Tanya Sehun terkejut.
Jongin tersenyum menggoda, "Aku tidur dengan sangat nyenyak." Melihat wajah Jongin dengan senyuman itu membuat Sehun merasakan ada yang menggelitik didadanya.
"Seks semalam membuat penisku tidak bangun pagi ini," Sehun mengacak-ngacak rambutnya menahan rasa didadanya yang membuatnya risih. Sehun membaringkan dirinya diatas Jongin, "Aku sangat lapar sampai ingin mati rasanya."
"Ya, aku juga." Jongin kemudian memberikan kecupan manis di bibir Sehun.
Sesampainya di kantin penjara, Sehun dan Jongin makan dengan dikelilingi anak-anak buah Sehun.
"Luhan tidak ada di sel pengasingan?" Sehun menggeram marah mengetahui fakta yang barusan disampaikan oleh anak buahnya.
"Benar, tadi aku datang untuk memberinya makanan tapi ternyata dia tidak ada di dalam selnya-"
"BOSS!" Teriak seorang lainnya dari kejauhan menarik perhatian semua orang di kantin. Mengetahui dirinya menjadi perhatian, anak buah itu berbisik pelan di telinga Sehun, "kamarmu digeledah."
Sehun menegang, terkejut dengan itu, namun dia menormalkan kembali tubuhnya.
"Sehun..." lirih Jongin.
"Santai, aku tidak bodoh untuk menyimpan sesuatu didalam kamarku." Sehun kemudian berdiri, meninggalkan tempatnya. "Aku hanya ingin melihatnya, kau tetaplah makan." Sehun berseru pada Jongin, "dan kalian jangan ada yang berani menyentuh dessert-ku!" Sehun kembali berseru pada anak buahnya. Dessert Sehun berarti Kim Jongin.
Jongin hanya bisa merenung, Ia khawatir dengan apa yang akan menimpa Sehun.
"Service cleaning, ya?" Tanya Sehun sarkas ketika sampai di selnya.
"Maaf, Sehun, kami mampir ketika kau sedang keluar." Jawab Kepala Ma, lalu mengambil sebuah buku dari atas kasur Sehun. "Ada sesuatu didalam sini," Kepala Ma menunjuk tepi buku yang terasa mengganjal.
Sehun terkejut, "jangan sentuh itu!" Sehun bersiap menyerang Kepala Ma.
"Tahan dia!" Tegas Kepala Ma, yang membuat dua orang penjaga menahan tubuh Sehun agar tidak mendekatinya. Setelah itu Kepala Ma merobek buku itu hingga terbelah mejadi dua pada sampul bukunya. Dapat terlihat ada sebuah pisau dengan sisa-sisa darah yang dilapisi plastik bening didalamnya. "Apa pisau ini punyamu, Sehun? Tempat ini bebas senjata."
Sehun hanya menatapnya.
"Ini sudah berkarat. Untuk siapa kau menggunakan pisau ini, Sehun?"
Sehun terdiam, Ia marah.
"Well, tes DNA akan mengungkapkannya. Kau harus menunggu didalam sel pengasingan sampai hasil tesnya keluar."
Sehun tertawa, "entah apa yang Luhan katakan padamu, tapi dia mencoba menuduhku."
"Benarkah? Luhan bilang bahwa Ia mendengarnya sendiri darimu. Tentang percobaan pembunuhan. Jika benar, ini akan menjadi kasus ketigamu, dan kau akan dijadikan tahanan level 2 [1]."
Sehun sudah tidak tahan, Ia kemudian memberontak mencoba lepas dari cekalan penjaga ditubuhnya. "Lepaskan Aku!" teriak Sehun mencoba lepas.
"Tahan dia!" Kedua penjaga itu kesusahan untuk menahan Sehun pada posisinya.
"KIM JONGIN!" Sehun menyerukan nama Jongin dengan sangat kencang.
Saat itu Jongin memang sedang berjalan menuju selnya. Jongin terkejut dan berlari menuju selnya dan mendapati Sehun memberontak diantara dua penjaga. Sehun menyikut ulu hati kedua penjaga itu, membuatnya terlepas dari cekalan.
"Cepat panggil dokter!" Seru penjaga yang lainnya, panik melihat rekan kerjanya mengeluarkan darah dari mulutnya karena pukulan Sehun yang terlalu kencang.
Sehun menggunakan kesempatan itu untuk berlari meninggalkan selnya. "Berhenti, Sehun!" teriak penjaga lainnya yang sudah bersiap dengan senjata api mengarah pada Sehun.
"Sehun!" Jongin berlari menghampiri Sehun kemudian memeluknya. Sehun membalas pelukan Jongin dengan erat.
"Tunggu, jangan tembak!" Teriak Kepala Ma sambil memberikan sinyal kepada anak buahnya.
Sehun membekap erat tubuh Jongin, mengubah posisinya sehingga Sehun berada dibelakang Jongin. Tanpa aba-aba, Sehun mengarahkan sebuah pensil di leher Jongin, dan tersenyum licik. "My bad, Jongin. Aku tidak sabar untuk menunggu sampai 10 tahun." Sehun berbisik.
"Tidak masalah bagiku..." Jawab Jongin yang tersenyum licik juga.
"Lock-down!" pengumuman speaker menggema.
Sehun dan Jongin terpojok sekarang, dikepung dengan banyak penjaga yang siap mengarahkan senjata ke mereka berdua. "Kim Jongin." Panggil Kepala Ma sambil berjalan menuju Sehun dan Jongin. "Benda ini ditemukan diantara barang-barang pribadi milik Sehun." Kepala Ma memperlihatkan pisau yang terbungkus plastik tadi. "Kau mengenalinya?" Tanya Kepala Ma.
Jongin terkejut, bayangan ketika Sehun menusuknya kembali teringat dipikirannya. "Tidak." Jawab Jongin mantap setelah merilekskan dirinya sendiri.
"Kau tidak mengenali pisau yang Sehun gunakan untuk menusukmu satu tahun sembilan bulan yang lalu?" Kepala Ma menggeram marah, tidak percaya pada Jongin.
"Aku tidak mengingat kejadian yang lalu. Aku diambang kematian sekarang." Ujar Jongin sambil melirik pensil Sehun yang masih menempel dilehernya.
"Hei, Jongin. Tidakkah kita kekurangan penonton sekarang? Harusnya Kris menonton ini semua." Bisik Sehun tepat di telinga Jongin. "Aku akan membiarkanmu melihatnya sebelum ini semua berakhir." Perkataan Sehun sukses membuat Jongin merinding. "Kau tidak bisa mempermainkanku, Jongin. Sudah kubilang bahwa aku selalu mengawasimu kan? Aku tahu semua tentangmu."
"Kenapa kau tidak menyingkirkan pisau sialan itu?" Ujar Jongin mengalihkan pembicaraan.
"Sebagai kenangan," Sehun memajukan wajahnya, mengecup pipi Jongin singkat. "kenangan pertama ketika aku menusukmu." Sehun mengerling nakal.
"Bodoh!" Jongin tersenyum geli mendengar Sehun.
"Jika aku tahu kalau ini akan terjadi, seharusnya aku melakukan seks denganmu pagi ini." Sehun menjilat telinga Jongin.
"Penismu bahkan tidak bisa tegang." Jongin tertawa meremehkan.
"Tidakkah kau ingin mencelakai Jongin, Sehun?" Tanya Kepala Ma mencoba menegosiasi keadaan.
"Tidak. Tidak sama sekali. Jongin tidak menginginkanku. Dia hanya menginginkan dokter sialan itu." Jongin kembali terkejut dengan perkataan Sehun. Sehun menjambak rambut Jongin, membuatnya menengadah kemudian mengecup leher Jongin singkat. "Pergi, pergilah ke orang yang kau mau!" Seru Sehun sambil mendorong tubuh Jongin.
Gerakan itu membuat penjaga menjadi semakin siaga. "Ready to fire!" Ucap seorang penjaga memberikan aba-aba.
"Tunggu sampai Jongin sepenuhnya lepas darinya." Ucap Kepala Ma.
Jongin seketika membalikkan badannya, memeluk Sehun erat.
"Apa yang kau lakukan?" Sehun berteriak marah.
"Jangan lepaskan aku! Mereka akan menembakmu!" Seru Jongin takut. "Kau selalu menyelamatkanku, biarkan aku melindungimu sekali ini saja." Jongin mengeratkan pelukannya, "atau biarkan mereka menembak kita berdua."
"Jongin..." Sehun terkejut akan sikap Jongin.
Aku pikir tidak ada yang aku takutkan didunia ini. Tapi itu hanya kebohongan diriku sendiri.
Jongin kemudian mencium bibir Sehun, mengecupnya dengan penuh kelembutan.
Aku tahu bahwa aku takut akan satu hal.
Aku takut kehilangan orang yang kucintai lagi.
Ciuman itu, dirasakan Sehun dengan tulus. Ia tidak ingin ciuman ini berakhir, begitu juga dengan Jongin. Namun, tubuh Jongin seketika ambruk, Sehun telah menusuk pensil itu diperut Jongin. "Mati kau, Jongin." Seru Sehun yang kemudian diterjang langsung oleh penjaga-penjaga disana. Sehun diringkuk dan diborgol.
Jongin hanya bisa menatap Sehun yang sedang diringkuk, dia tidak merasakan sakit pada perutnya. Dia merasakan sakit pada dadanya, rasa nyeri membuat dirinya tidak lagi bisa menahan air mata. Ia tidak menyangka Sehun akan menusuknya. Ia masih syok dan tidak bergerak.
"Cepat bawa Jongin ke ruang operasi!" Seru Kepala Ma mengintruksi penjaga lain untuk membawa Jongin yang mulai tidak sadarkan diri.
Dengan kesadaran yang minim, Ia menatap Sehun yang akan dibawa untuk diamankan. Satu hal yang Jongin yakin, Sehun menatapnya dengan seringai diwajahnya. Membuat Jongin kemudian tetap tersenyum.
"I love you..." Ia melihat bibir Sehun yang mengucapkan sesuatu untuknya.
Jongin percaya.
"I will take you home..." Ucapan Sehun terakhir sebelum Jongin menutup mata dan Sehun yang pergi diamankan.
Jongin mempercayai Sehun seutuhnya.
.
.
.
Shtpnk's memo
[1] Tahanan level 2 – adalahan level tahanan ketika sudah mencapai kriminalitas tinggi. Kriminalnya dilakukan di dalam sel, seperti melakukan kekerasan terus menerus, pembunuhan, penyebab kecelakaan yang disengaja, dll. Tahanan level 2 akan dipindahkan ketika sudah melakukan aksinya sebanyak 3 kali yang kemudian dipindahkan selnya bersama tahanan level 2 lainnya dengan pengamanan khusus yang sangan ketat.
Halo readers, sebelumnya shtpnk mau minta maaf karena gak biasa bales-balesin review dari kalian. sooo nantikan aja ya ceritanya :) cerita ini juga di update di wattpad, kalian bisa cari di akun dan judul cerita yang sama... hope you guys enjoy it :)
