Kiss Me, Kill Me: chapter 5
Sudah satu bulan lamanya Jongin istirahat penuh setelah operasi yang ia jalani. Tidak banyak hal yang ia lakukan selama istirahat. Hanya berbaring, minum, sesekali makan kalau ia ingin. Ia tidak bisa berhenti memikirkan Sehun, apa yang terjadi dengan Sehun, apakah Sehun sudah sampai di penjara level 2, atau bahkan Sehun memiliki mainan baru disana?
Sekarang Jongin telah kembali ke selnya. Ia menjadi pribadi yang lebih kuat atas kepercayaannya pada Sehun. Ia ingat betul apa yang diucapkan Sehun sebelum dirinya tidak sadarkan diri. Ia akan menjalankan hidupnya dengan baik agar Ia bisa bebas dari penjara ini.
"Hei, Jongin," panggil salah satu anak buah Sehun, "apa yang akan kau rencanakan?"
Jongin menatap datar, "apa yang harus kau lakukan?"
Anak buah itu kemudian tertawa, "kau bisa menjadi Boss baru untuk kami. Tidak akan ada yang berani menyentuhmu karena kau 'wanita' Boss."
"Apa masih berpengaruh? Sehun tidak ada sekarang."
"Kau meremehkan Boss?" Anak buah itu tertawa, "Walaupun ia jauh dari sini pun ia akan tetap tahu keadaanmu sedetail-detailnya."
Jongin tertawa meremehkan, tidak percaya.
"Tidakkah kau tahu siapa itu Boss?" Tanya Chanyeol, anak buah Sehun, jengah melihat Jongin yang seperti orang bodoh saat ini.
Jongin hanya menggeleng, dia tidak punya petunjuk tentang Sehun. Dia baru mengenal Sehun sekitar 2 tahun yang lalu. Yang ia tahu, Sehun diperlakukan istimewa baik oleh tahanan lainnya, penjaga, bahkan Kepala Ma sekalipun. Jongin hanya menduga karena Sehun adalah Boss disini.
"Wahh, aku kira kau pintar. Ternyata dugaanku meleset jauh." Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya disusul tawa dari tahanan yang lain. "Tidakkah kau heran dari mana ia mendapatkan uang, narkoba bahkan Boss bisa mengoperasikan ponsel didalam sini?"
"Karena dia Boss?" Jongin menebak.
"Apa kau tahu nama lengkap Boss?"
"Oh Sehun?" Jongin kembali menebak.
"Kau tidak familiar dengan namanya? Oh Sehun, Sehun, Oh? Marga keluarga Oh?" Chanyeol bertanya, gemas.
"Oh?" Jongin mencoba membuka ingatannya, apa pentingnya marga Oh untuknya? "Cepatlah katakan, kau membuang-buang waktuku!" Jongin memukul kepala Chanyeol.
"Ouch!" Cahnyeol mengelus-elus kepalanya. "Oh Sehun, anak dari istri pertama Oh Jung Woo, seorang pengusaha sukses dibidang otomotif. Ah, bukan hanya otomotif tapi masih banyak lagi."
Jongin merasa ganjil, kalau Sehun adalah anak dari keluarga berada, kenapa Ia malah terkurung dipenjara ini? Harusnya Sehun dengan mudah bisa bebas dari hukum. "Kenapa? Kenapa Sehun dipenjara?"
"Good question! Perusahaan otomotif dan lainnya itu hanyalah usaha legal dari keluarga Oh. Untuk yang ilegal, mereka adalah pengusaha senjata api dan narkoba, atau bisa kita sebut dia mereka adalah keluarga mafia. Sudah bukan rahasia lagi bahwa senjata yang beredar di kepolisian adalah produksi dari perusahaan Boss," jelas Chanyeol panjang lebar.
Jongin terdiam, masih berupaya mencerna perkataan Chanyeol.
"Semua tahanan di penjara ini tahu siapa itu Sehun, makanya tidak ada yang berani untuk mengusiknya."
"Aku tanya kenapa bisa Sehun ditempat ini?" Jongin geram, sudah cukup informasi tentang keluarga Sehun. Ia ingin mengetahui lebih lanjut tentang pribadi Sehun.
"Ahh... Sebagai ahli waris, Boss ditugaskan oleh ayahnya untuk mengendalikan peredaran narkoba di beberapa daerah di Korea. Namun suatu hari Boss tertangkap oleh polisi saat operasi penyelundupan narkoba di Busan. Ia diserahkan oleh ayahnya sendiri. Oh Jung Woo menjebak Boss, Ia ingin menguji Boss apakah bisa lari dari polisi. Yah, walau tidak ada keterangan resmi kalau itu jebakan ayahnya, tapi semuanya terlihat jelas bahwa itu hanyalah setting-an. Boss akhirnya mengikuti permainan ayahnya, Ia menyerahkan dirinya pada kepolisian."
"Bagaimana kau bisa tahu?" Jongin bertanya pada Chanyeol
"Aku? Aku ada disana bersama Boss!" Chanyeol tertawa.
Jongin terperangah.
"Selama disini, Boss tetap mengurus pekerjaanya. Tidak pernah melepas tanggung jawabnya, sampai kau datang dan mengubah semuanya. Boom!"
.
.
.
Seminggu sudah setelah percakapan Jongin dengan Chanyeol dan tahanan yang lain. Kini ia resmi sebagai Boss baru di penjara ini. Tidak berbuat banyak, namun dibantu dengan Chanyeol dan lainnya, Ia bisa melaksanakan semuanya. Sudah cukup bagi Jongin ketika tahanan yang lain tidak mengganggu dirinya. Dia tidak ada niatan untuk melakukan seks dengan pria lainnya.
Jongin berkeliling area penjara, mencari Chanyeol. Sejak pagi ia belum melihat Chanyeol.
"Kim Jongin, Kepala Ma memanggilmu!" Ujar penjaga.
Jongin mengikuti penjaga itu menuju kantor Kepala Ma. Tidak seperti biasanya, didepan kantor Kepala Ma ada 4 orang yang berdiri mengenakan jas hitam resmi, terlihat berkelas.
Sesampainya didalam, Jongin ditinggalkan berdua dengan Kepala Ma. "Ada perlu apa kau ingin menemuiku?" Tanya Jongin.
"Sebenarnya bukan aku yang ingin menemuimu." Kepala Ma berbicara santai.
Ketika itu masuklah seorang pria bertubuh kecil dengan hoodie merah dan ripped jeans. Rambutnya yang ikal membuatnya terlihat manis. Di belakang pria itu berdiri dua orang lainnya dengan pakaian yang sama santainya namun tidak terlalu mencolok. Tubuh ketiga pria ini tidak jauh berbeda, sama-sama kecil. Bahkan membuatnya terlihat seperti anak sekolahan.
"Hello, Jongin!" Sapa pria yang memakai hoodie merah itu.
Jongin menaikkan alisnya, tidak mengenali pria didepannya ini. "Siapa?" Tanya Jongin pada Kepala Ma. Kepala Ma hanya mengedikkan bahunya, tanda tidak peduli.
"Aku Baekhyun, Byun Baekhyun. Nice to meet you!" Pria kecil itu mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Jongin, namun diabaikan Jongin. "Ouch, as cold as frozen snow!" Baekhyun menyentuh dadanya, merasa iba pada dirinya sendiri.
Kedua orang dibelakangnya hanya bisa tertawa.
"Ini Chen," Baekhyun menunjuk di sisi kanannya, "dan ini Xiumin." Baekhyun menunjuk di sisi satunya.
"Aku akan menunggu di ruang sebelah, panggil aku jika kalian butuh bantuan." Ujar Kepala Ma kemudian meninggalkan Jongin dan ketiga orang itu.
"Aku akan segera kembali. Ada bisnis yang harus kuurus." Ujar Chen pada Baekhyun dan pergi mengikuti Kepala Ma. Diikuti dengan Xiumin.
Tinggallah Jongin dan Bekhyun berdua.
"Siapa kau?" Tanya Jongin.
"Sudah kukatakan namaku, kau tidak mendengarnya?" Baekhyun mendengus kesal.
Jongin masih menatap Baekhyun, meminta penjelasan lebih, namun Baekhyun hanya menatapnya dengan tanda tanya. "Kau membuang-buang waktuku." Jongin membalikkan badannya bersiap meninggalkan ruangan.
"Hey, apa kau masih ingin tinggal didalam sana?"
Jongin berbalik kembali, "apa maksudmu?"
"Ayolah, aku kesini untuk menjemputmu. Tidakkah kau ingin keluar?"
Jongin bersiap pergi, tidak tahan dengan omong kosong pria bernama Baekhyun ini. "Kau mungkin salah orang!"
"Boss menunggumu diluar. Kau tidak merindukannya?"
Jongin terpaku. Ia tahu betul siapa Boss yang dimaksud Baekhyun ini. Jongin hanya bingung, apa maksud semua ini?
"Hei, sekarang kau yang membuang-buang waktuku!" Seru Baekhyun kesal, kemudian menarik lengan Jongin untuk mengikutinya keluar dari ruangan Kepala Ma.
"Sudah selesai?" Tanya Chen yang ternyata sudah selesai mengurus keperluannya dengan Kepala Ma.
Baekhyun hanya mengangguk.
"Sampaikan salamku pada Sehun, aku tidak akan membiarkannya lain kali!" Ujar Kepala Ma sambil menatap Baekhyun dan dibalas tawa olehnya. "Antarkan mereka kedepan!" Suruh Kepala Ma kepada seorang penjaga.
Dengan tatapan bingung dan pikiran-pikiran yang berkecamuk didalam otak Jongin, Ia mengikuti langkah Baekhyun didepannya dan dua orang lainnya, diapit oleh 4 orang berjas hitam dan dipimpin oleh penjaga yang menunjukkan arah keluar dari penjara.
Jantung Jongin berdegub kencang, Ia tidak menyangka akan keluar dari tempat ini. Tidak dipungkiri, ia merasa senang namun juga bingung. Ia tidak bisa menyembunyikan senyumannya, sebentar lagi ia bisa melihat terangnya sinar matahari, merasakan udara segara yang berhembus diluar sana, dan tentunya melihat pria yang ia rindukan selama 1 bulan belakang.
Sesampainya mereka didepan gerbang penjara, Jongin membiasakan matanya untuk melihat sinar matahari. Ia menghirup dalam-dalam udara agar masuk memenuhi paru-parunya. Jongin memejamkan matanya, ingin menangis. Menangis bahagia, ia bersyukur.
"Hey, Jongin!" Jongin tersentak, kaget melihat Chanyeol didepannya dengan kemeja lengan panjang dan ripped jeans, membuatnya terlihat berbeda. Chanyeol terlihat lebih fresh sekarang. "Senang?" Tanya Chanyeol.
"Ba-bagaimana kau bisa disini?" Jongin bingung.
"Hei, aku tersinggung." Chanyeol memegang dadanya, berakting seperti sakit hati. Jongin dan Baekhyun jengah. "Jangan lupakan aku anak buah Boss. Ia juga membebaskanku. Ah, akhirnya aku bebas juga!" Seru Chanyeol sambil merentangkan tangannya, gembira. "Baekhyun, tidakkah kau merindukanku?" Chanyeol bersiap memeluk Baekhyun.
"Ya, sangat merindukanmu." Baekhyun kemudian menodongkan pistol didahi Chanyeol, "sampai ingin membunuhmu rasanya!"
"Santai, Baekhyun! Kau masih di dalam pengawasan polisi!" Suara itu, suara yang sangat dirindukan Jongin.
Jongin mengarahkan pandangannya ke arah suara. Disana, berjarak 5 meter dari hadapannya terlihat sesosok pria sedang bersandar di pintu mobil. Hanya siluet hitam yang Jongin lihat. Muka pria itu tidak terlihat karena menutup matahari, tapi Jongin tahu siapa itu.
Tinggi badannya, lebar bahunya, caranya berdiri dan bersandar hanya tertuju pada satu sosok. Sosok yang ia rindukan. Oh Sehun.
"Come on." Sehun merentangkan tangannya tanpa beranjak dari sisi mobil.
Jongin ragu. Ia melangkahkan kakinya perlahan. Semakin dekat, semakin Ia bisa melihat jelas siapa pria itu.
Jongin merentangkan tangannya, menyentuh wajah itu. Memastikan penglihatannya.
Benar. Jongin benar.
Sehun hanya tersenyum simpul, "Merindukanku?"
Sehun kemudian memeluk Jongin, mencium celah di leher Jongin, dalam dan intens. Membelai rambut Jongin dan menghirup aroma tubuh Jongin dalam-dalam. "I'm going crazy, you know?"
Jongin mendesah pelan. Sentuhan Sehun membuat tubuhnya merinding.
Adegan itu terhenti ketika Baekhyun berdeham. "Hello, masih ada orang disini!"
Sehun hanya bisa menatap Baekhyun dengan tatapan membunuh dan dibalas Baekhyun dengan jari tengahnya.
"Let's go home." Sehun menegakkan badannya dan membukakan pintu untuk Jongin.
Jongin mundur, menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku tidak mengerti." Status Sehun mungkin sudah dijelaskan Chanyeol pada Jongin, tapi semua ini terlalu mendadak untuknya. Otak Jongin masih belum mencerna.
"Kau sudah bebas. Aku menepati janjiku sekarang. Kau milikku." Jawab Sehun santai dan menuntun Jongin untuk masuk ke mobil. "Akan kujelaskan di jalan. Aku sudah tidak sabar untuk bercinta denganmu lagi." Sehun membisikkan kata-kata itu tepat ditelinga Jongin.
Mobil Sehun kemudian melaju, dengan di tuntun 2 mobil pengawal dan 2 mobil sport yang dikendarai 4 orang anak buah Sehun tadi.
Di dalam mobil, suasana begitu sunyi. Pikiran Jongin masih berkecamuk. Banyak pertanyaan yang ingin Ia tanyakan tapi Ia bingung mulai dari mana.
"Tanyakan saja," suara Sehun memecah keheningan. "Apa pun."
Jongin menolehkan kepalanya, "bagaimana aku bisa bebas?"
"Aku membayarmu." Sehun memalingkan mukanya, "jadi kau harus bisa memuaskanku."
Jongin tidak berkata apapun. Sudah pasti orang kaya seperti Sehun akan mudah dengan menggunakan uang. Tapi Ia masih ragu. Ia terus menatap Sehun, meminta penjelasan lebih.
"Seluruh senjata dan kendaraan berat milik kepolisian diproduksi oleh perusahaan ayahku. Kau pasti sudah tau dari Chanyeol. Kepala Ma berhutang banyak padaku, jadi bukanlah hal sulit untuk membebaskanmu." Lanjut Sehun.
Jongin mulai mengerti. "Tapi kenapa aku?"
"Kau milikku."
Mutlak. Tidak bisa dibantah.
"Bagaimana kau bisa keluar? Aku yakin kau diadili dan dibawa ke penjara level 2." Jongin bertanya lagi.
Sehun tertawa. "Anak-anak gila itu yang menyelamatkanku."
Jongin menatap Sehun tidak mengerti.
"Kau pasti sudah berkenalan dengan Baekhyun, Chen dan Xiumin."
Oh, pria-pria kecil itu. Ucap Jongin dalam hati.
"Kau akan mulai terbiasa dengan mereka. Mereka dan yang lainnya yang akan menjadi temanmu."
"Kenapa bukan kau?"
"Aku tidak yakin akan memiliki waktu yang banyak untukmu." Jawab Sehun jujur. "Kau bisa bertanya lebih detail ke mereka. Kau bisa mengandalkan Chanyeol jika belum nyaman dengan yang lain."
Jongin terdiam. Ia berpikir bahwa Sehun dihadapannya adalah orang yang berbeda dengan Sehun yang Ia kenal di penjara. Sisi ini membuatnya tidak nyaman.
"Siapa kau sebenarnya?" Jongin hanya bergumam, tapi Sehun dapat mendengarnya dengan jelas.
"Kau sudah mendengarnya dari Chanyeol." Sehun tersenyum. "Kau akan menemukan jati diriku yang sebenarnya ketika aku mendominasimu."
Jongin kembali terdiam. "Kita akan kemana?"
"Ke rumah?" Sehun menjawab dengan bertanya.
Sehun pun bingung, apakah ini rumah? Karena sebenarnya tempat yang mereka tuju adalah basecamp bagi Sehun dan anak-anak buahnya yang lain. Namun tempat itu juga bisa disebut rumah.
"Tidurlah. Perjalanan kita masih panjang." Ujar Sehun.
Jongin hanya bergumam.
Tersisa kesunyian diantara mereka dan membuat Jongin jatuh tertidur.
.
.
.
Jongin terbangun ketika merasakan tidak nyaman ditelinganya. Seperti ada yang menutup pendengarannya. Ketika membuka matanya, hari sudah gelap. Jongin masih berada di mobil. Ia melihat keluar dan tidak bisa melihat apapun diluar karena terlalu gelap.
"Sudah bangun?" Tanya Sehun.
"Dimana kita?" Jongin balik bertanya.
"Bersiaplah, kita akan sampai sebentar lagi."
Dalam sepuluh menit, mobil Sehun berhenti di depan sebuah tempat penuh cahaya lampu. Tidak lama pintu mobil terbuka dan Jongin pun keluar dari mobil. Jongin melihat kesekitarnya, hanya bisa menatap kagum. Walau ditengah kegelapan, Jongin bisa melihat bahwa tempat ini sangat mewah diantara sinar-sinar lampu yang menawan. Jongin tidak bisa membayangkan seberapa kayanya Sehun.
"Kau pasti lelah, bersihkan dirimu lalu kita akan makan bersama." Sehun berdiri disampingnya dan membawa Jongin masuk ke dalam.
Langkah kakinya bergetar. Ini bukan rumah, ini terlalu luas dan mewah untuk dikatakan rumah. Ketika kau masuk, kau akan melihat ruang kosong yang bahkan bisa untuk bermain sepak bola didalamnya.
Sehun kemudian mengantar Jongin kesebuah kamar di lantai dua.
"Ini adalah kamarmu, bersihkan dirimu. Semua keperluanmu ada didalam." Sehun menuntun Jongin masuk dan kemudian keluar.
Jongin hanya bisa terpaku. Luas kamar ini bahkan seluas rumahnya. Sebuah queen bed dilengkapi lemari yang mencapai plafon menghiasi kamarnya. Sebuah sofa dan meja kecil juga ada didalam kamarnya. Jongin pun penasaran apa yang ada di dalam lemari-lemari itu. Jongin membuka satu per satu dan menemukan banyak baju-baju yang tersimpan rapih di dalamnya. Baju baru yang bahkan belum dilepas tag harganya. Jongin mengintip dan hanya bisa menutup mulutnya ketika melihat nominal angka disana. Seketika kepala Jongin merasakan pusing melihat banyaknya angka nol di harga itu.
Mungkin benar, Ia terlalu lelah. Ia harus menjernihkan pikirannya dengan air dingin.
Jongin melihat sekeliling, namun Ia tidak menemukan pintu untuk kamar mandi. Yang Ia lihat hanya pintu masuk tadi. Jongin mengedarkan pandangannya, dan tertuju pada sisi lemari yang belum Ia sentuh. Tidak mungkin.
Jongin mendekati lemari itu dan membukanya. Dan benar, disanalah letak kamar mandi yang dilengkapi walk in closet mini yang membawanya pada bathup dan shower. Jongin bahkan bisa guling-guling didalam sini.
Tanpa pikir dua kali, Jongin melepas bajunya dan membersihkan dirinya. Merilekskan tubuhnya yang tegang sejak keluar dari penjara.
Setelah selesai membersihkan dirinya, Jongin mencari handuk untuk mengeringkan tubuh. Bodohnya Ia lupa membawa handuk dan pakaian ganti ke dalam sini. Jongin ingat bahwa didalam tadi ada walk in closet dan Jongin berjalan kesana. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Sehun duduk dengan santai dipinggiran bathup, melihat kearah Jongin.
Jongin terkejut dan hampir terjatuh. "Apa yang kau lakukan?"
"Aku menghampirimu. Kukira kau tertidur." Sehun menaikkan bahunya.
Jongin berjalan menuju walk in closet tanpa menutupi tubuhnya dan tidak peduli jika ada Sehun.
Memang benar apa yang ada dibenaknya, air dingin membawa dirinya kembali.
Sehun berjalan mendekat dan memeluk Jongin dari belakang. Ia mencium tengkuk Jongin, "Aku tidak sabar untuk bercinta denganmu." Sehun kemudian berjalan meninggalkan Jongin. "Kutunggu kau diluar. Yang lain sudah menunggumu."
Setelah beberapa menit, Jongin keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan bersama Sehun di lantai satu.
"Here it is!" Teriak Baekhyun yang sudah ada di meja makan ketika Sehun dan Jongin memasuki ruang makan. "Ayo cepat duduk, aku sudah lapar."
Sehun dan Jongin pun duduk bersebelahan. Meja makan ini sangat besar dilengkapi kursi sekitar 20 orang. Makanan sudah tersedia di atas meja, beberapa pelayan sibuk menghidangkan dan melayani orang yang ada di meja makan.
Selain Sehun, Jongin dan Baekhyun, ada Chen, Xiumin, Chanyeol dan tiga orang lainnya. Jongin sebetulnya penasaran tapi lebih baik untuk menunggu.
"Kemana Lucas dan Mark?" Tanya Sehun.
"Mark dikamarnya sedang mengerjakan tugas. Kalau Lucas belum pulang dari tadi siang." Ujar Johnny dan kembali melanjutkan makan.
Mereka melanjutkan makannya dengan tenang. Tidak ada yang bersuara. Prinsip Sehun adalah hargai makanan seperti kau menghargai dirimu sendiri. Sifat ini sudah diketahui Jongin semenjak dipenjara, Sehun akan diam dan menikmati makanannya.
Setelah selesai dengan hidangan penutup, seorang pelayan menghidangkan wine ke masing-masing gelas.
Sehun mengangkat gelasnya dan berkata, "untuk merayakan kebebasan Chanyeol dan Jongin. Cheers!" Semua orang bersulang, tapi tidak dengan Jongin. Jongin tidak pernah meminum alkohol dalam hidupnya. "So, ini Jongin. Kalian akan menemaninya selama Ia disini." Lanjut Sehun sambil memperkenalkan Jongin.
Semua orang kembali bersulang, menyambut Jongin.
"Biar kuperkenalkan kau, disini ada Chanyeol, Baekhyun, Chen dan Xiumin yang sudah kau kenal. Selanjutnya ada Johnny, Yuta dan Taeyong. Kau bisa berkenalan dengan mereka setelah ini." Kata Sehun yang disambut senyuman oleh setiap orang pada Jongin. "Kau bisa bertemu Mark dan Lucas besok, dan sisanya akan kau temui diwaktu yang tepat."
Sisanya? Berapa banyak anak buah Sehun? Pikir Jongin dalam hati.
Setelah selesai acara makan malam, setiap orang melanjutkan aktivitasnya masing-masing. Sehun dan Jongin bersama dengan Chen dan Xiumin menuju ruang keluarga, dan yang lainnya menuju kebawah. Jongin baru sadar bahwa selain lantai satu dan dua, masih ada lagi lantai dibawahnya.
"Apa aku akan tinggal disini?" Jongin menoleh pada Sehun.
Sehun hanya mengangguk.
"Kenapa?"
"Kau milikku. Jangan lupakan kewajibanmu untuk memuaskanku." Jawab Sehun santai.
Hari sudah larut malam, Jongin kembali ke kamarnya. Jongin membuka pintu kamarnya dan masuk, Sehun mengikutinya dan menutup pintu.
Jongin membalikkan tubuhnya menghadap Sehun, kemudian membuka baju dan celananya. Menyisakan underwear miliknya.
"Hmmm..." Sehun bergumam dan tersenyum. Jongin sudah tahu keinginan Sehun.
Sehun mendekati Jongin. "Luka ini," Sehun meraba bekas luka dari tusukan yang ditorehkan Sehun untuk pertama kali, kemudian beralih ke luka tusukan yang lain di perut Jongin.
Tubuh Jongin bergetar. Sentuhan hangat tangan Sehun sangat kontras dengan dinginnya suhu ruangan. Jongin mulai menikmati sentuhan Sehun.
"Berhentilah membuat ekspresi menggoda seperti itu," Sehun membelai leher Jongin. "Sudah berapa kali kau tidur denganku tapi kau masih belum terbiasa dengan sentuhanku?"
Jongin hanya terdiam, menikmati semua yang dilakukan Sehun.
Sehun membawa tangannya menelusuri paha dalam Jongin dan sukses membuat Jongin mendesah. Sehun membawa tubuhnya mendekati Jongin, pinggulnya bersentuhan dengan pinggul Jongin. Jongin bisa merasakan penis Sehun yang sudah mengeras.
"Mendengar desahanmu selalu berhasil membuatku horny." Sehun mendorong Jongin ke dinding dan menguncinya.
Jongin sudah tidak tahan. Ia meraih wajah Sehun dan menciumnya. Ciuman itu begitu dalam dan intens. Sukses membawa keduanya pada kenikmatan.
"Turn around and spread your legs." Bisik Sehun ditengah-tengah ciumannya.
Sehun mencium punggung Jongin dengan mesra, setiap incinya. Ciuman itu semakin kebawah dan berakhir di pinggang Jongin. Sehun berlutut dan menurunkan underwear yang Jongin kenakan.
Setelahnya Ia kembali mencium pinggang dan kedua bokong Jongin. Sehun membuka kedua bokong itu dan membawa mulutnya ke anus Jongin. Sehun mulai menjilat anus Jongin.
"Nn..! Ughh..." Jongin mendesah nikmat dan semakin melebarkan kakinya. Tubuhnya refleks membungkuk, membawa pinggulnya lebih mengarah ke Sehun.
Sehun terus melakukan jilatan-jilatan pada lingkaran anus Jongin.
"Hentikan... Tolong hentikan, jangan menjilatiku seperti itu!" Mohon Jongin dengan frustasi. Kakinya mulai bergetar.
"Berdiri yang benar!" Ujar Sehun.
Bukannya berhenti, Sehun malah membuka bongkahan bokong Jongin semakin lebar. Ia membawa lidahnya memasuki anus Jongin. Lidahnya mengeras dan bergerak naik turun. Hal ini membuat Jongin menggila.
"Haa...!" Tubuh Jongin bergetar seluruhnya.
Sehun terus melakukan gerakan naik turun menggunakan lidahnya.
"Haa! Ahhh... Ah...!" Jongin mendesah pertanda Ia klimaks. Ia tidak bisa lagi menahan tubuhnya dan terjatuh ke lantai.
Sehun membalik tubuh Jongin dan membaringkannya dilantai.
"Ah!" Jongin terkejut ketika Sehun menarik pinggulnya mendekat dan melipat kedua kakinya membuka mengarah ke Sehun.
Sehun menurunkan tubuhnya, memberi ciuman-ciuman di leher dan telinga Jongin. Tangan besar Sehun mengarah pada puting Jongin dan bermain disana. Memutar, menekan dan mencubit puting itu.
Tangan Sehun kemudian turun, membelai penis Jongin yang sudah basah oleh cairannya sendiri. Putingnya sudah digantikan oleh jilatan-jilatan lidah Sehun. Sesekali jilatan itu digantikan dengan gigitan halus yang mampu membuat Jongin ngilu.
Perlakuan Sehun membuat Jongin menggila. Ia menatap Sehun penuh memohon.
"Kau ingin aku memasukimu?" Tanya Sehun sambil membuka celananya, memperlihatkan penisnya yang keras dan siap memasuki Jongin.
Melihat itu, Jongin refleks mengangguk pasrah.
"Kalau begitu berbaliklah." Perintah Sehun.
Jongin kemudian berbalik dan menopang pada kaki dan tangannya. Mengarahkan bokongnya pada penis Sehun.
Tanpa menunggu lagi, Sehun memasukkan penisnya kedalam anus Jongin.
"Sehun..." Desah nikmat Jongin ketika merasakan anusnya penuh oleh penis Jongin.
"Apa kau tahu desahanmu mampu membuatku gila?" Sehun bertanya sambil menusuk Jongin dengan keras.
"Uahh... Ah... Ahhnnn..." Yang bisa Jongin lakukan hanyalah mendesah.
Sehun terus menusuk Jongin, mencari kenikmatannya sendiri tanpa henti.
Mereka menikmati malam itu dengan penuh nafsu dan gairah.
.
.
.
Shtpnk's memo:
Halo halo, shtpnk kembali update. Maafkan atas segala typo, cerita yang sangat klise dan membosankan ini. Mungkin sangat bebeda dengan chapter di awal. Tolong dukungannya ya readers :)
