KISS ME, KILL ME: chapter 6

Jongin membuka matanya, membiasakan cahaya matahari yang menyambut dirinya. Tubuh Jongin terlalu kaku dan tegang untuk bergerak, terlebih bagian bawahnya. Ia hanya bisa bergerak sedikit demi sedikit dan kembali memejamkan matanya.

"Wake up, sunshine!"

Jongin terkejut, teriakan itu membuatnya sadar sepenuhnya.

Jongin menoleh dan melihat Baekhyun sedang duduk bersandar di kepala ranjangnya.

"Apa yang kau lakukan?" Jongin tidak acuh.

"Bersihkan dirimu, kau bau sperma." Baekhyun menutup hidungnya, berpura-pura besikap jijik.

Jongin hanya bisa meregangkan tubuhnya, tidak peduli tubuhnya terekspos dan menjadi tontonan Baekhyun. Baekhyun juga terlihat tidak masalah akan hal itu.

"Sehun menyuruhku untuk mengajakmu berkeliling dan memperkenalkan beberapa orang." Baekhyun melanjutkan perkataannya.

Ah, bicara tentang Sehun, Ia telah membelah diri Jongin menjadi dua. Sehun menghabisi Jongin sampai pagi, membuatnya tidak mampu menahan diri dan tertidur. Terakhir yang Ia ingat, Sehun klimaks empat kali dan Jongin sendiri sudah kehabisan cairannya.

Dimana Sehun? Sejak Jongin membuka matanya, Ia belum melihat Sehun.

"Ayo cepatlah! Aku tidak ingin kau membuang waktuku."

Ucapan Baekhyun membuat Jongin tersadar kemudian membawa dirinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setelah lima belas menit dirinya berkutat di kamar mandi, Jongin keluar dengan pakaian santainya. Hanya hoodie dan celana kain pendek. Kemudian menyusul Baekhyun meninggalkan kamarnya yang sudah bersih dengan sprei baru. Jongin yakin pelayan rumah sudah membersihkan kamarnya.

"Kau pasti lapar, mengingat kau melewatkan sarapanmu." Baekhyun berjalan mendahului Jongin.

Baekhyun benar. Hari sudah siang dan Jongin belum makan.

Selama perjalanan, Jongin tidak berhenti mengagumi rumah Sehun. Kali ini Ia bisa dengan jelas melihat isi dalam rumah Sehun.

Jongin mengerutkan alisnya. Sejak keluar dari kamarnya, Jongin hanya melihat lorong dan tiga pintu, satu pintu kamarnya, satu pintu yang sama dan berhadapan dengan kamarnya, satu lagi adalah pintu kaca yang ada di ujung lorong. Lorong itu langsung membawa mereka pada tangga menuju kebawah. Interior rumah Sehun didominasi batu marmer dan wood ceiling. Membuatnya terlihat bersih namun juga megah.

Turun dari tangga, Jongin langsung bisa melihat dua orang asing di meja makan sedang menikmati makan siang. Yang satu bertubuh tinggi besar dan satu lagi lebih kecil. Jongin ingat belum pernah melihat dua pria ini.

"Yo, hyung!" Sapa pria bertubuh kecil itu. "Ah, you must be Kim Jongin, right?" Pria kecil itu menoleh ke arah Jongin.

Jongin hanya bisa mengangguk kecil dan mengambil tempat di sisi Baekhyun yang sudah duduk.

"Makanlah." Ujar Baekhyun.

Tanpa berpikir dua kali, Jongin menikmati makanannya dalam diam. Berbeda dengan dua pria asing dihadapanya. Mereka makan dan berbicara bersamaan, banyak istilah-istilah asing yang tidak dimengerti Jongin.

"Jangan hiraukan mereka." Bisik Baekhyun pada Jongin saat Jongin menghentikan makanannya untuk mendengarkan dua pria itu. "Hei, Mark! Jangan membicarakan pekerjaan saat makan. Kau mengganggu Jongin."

"Whoops! Sorry, hyung." Refleks yang dipanggil Mark menutup kedua mulutnya.

Gerakan sederhana itu mampu membuat Jongin tersenyum.

"Jongin, perkenalkan ini Mark," Baekhyun menunjuk pria kecil yang dipanggil Mark, "dan ini-"

"Lucas!" Seorang pria berbadan besar itu menyela ucapan Baekhyun. "It's nice to meet you, Mrs. Jongin!" Teriak Lucas antusias.

"Mrs? Hell, aku laki-laki. Aku bahkan belum menikah" Jongin risih.

"No, you're our brother in law. Ah! No, sister in law." Ucap Lucas dengan senyuman lebarnya.

Jongin hanya bisa menatap dua pria dihadapannya dengan tatapan heran. Dari cara mereka makan dan berbicara, Jongin tahu bahwa mereka masih kecil. Sikapnya sama sekali belum dewasa.

"Habiskanlah makananmu, aku akan membawamu berkeliling." Baekhyun mengingatkan Jongin.

"Hyung, apa boleh kami ikut?" Tanya Mark dengan memohon, dan diikuti Lucas yang mengangguk.

"Terserah kalian." Baekhyun menjawab dengan tidak acuh.

Jawaban Baekhyun disambut teriakan bahagia Mark dan Lucas.

.

.

.

Setelah selesai makan, Baekhyun membawa Jongin meninggalkan ruang makan dan berjalan menelusuri jalan. Dinding di lantai satu ini didominasi oleh kaca dan terbuka sehingga orang di dalam bisa melihat langsung ke luar.

"Ini pintu masuk dan langsung menuju ruang keluarga. Kau sudah menikmatinya kemarin malam." Baekhyun terus berjalan, "ini ruang tamu formal. Semua tamu disambut disini."

Jongin melihat refleksi gelombang air yang memenuhi salah satu dinding di ruang tamu itu. Gelombang itu begitu indah, seakan-akan hidup. Melihat Jongin terpaku melihat gelombang itu, Mark menghampirinya.

"Apa kau suka berenang?"

Jongin hanya membalas menatap Mark.

"Hyung, kau harus mencoba berenang disini!" Seru Mark sambil menarik tangan Jongin agar mengikutinya.

Mark kemudian menekan sisi dinding yang kemudian kaca-kaca dinding itu menggeser. Jongin terperangah. Dihadapannya terdapat kolam renang yang besar dan panjang. Jongin yakin, jika ia tenggelam pasti tidak akan terlihat oleh orang-orang karena besarnya kolam ini. Belum sembuh dari keterkejutannya, Jongin seperti terbawa angin. Hembusan angin yang sejuk menyelimuti tubuhnya. Jongin kemudian berjalan menelusuri pinggiran kolam dan membawanya keujung pinggir kolam. Jongin kembali terperangah.

Ia melihat hamparan hijau yang luas dibawahnya. Dengan jarak yang jauh dibawah, Jongin mampu melihat atap-atap rumah lainnya. Lebih jauh lagi Jongin mampu melihat gedung-gedung tinggi yang hampir menyentuh awan.

"Cool, isn't it?" Tanya Lucas sambil merentangkan tangannya.

Jongin berdiri disisi kolam, membuatnya seperti terbang diatas awan. Ini adalah pengalaman yang belum Ia rasakan.

"Kau tahu? Hanya Boss yang punya rumah di gunung ini." Lanjut Lucas.

"Gunung?" Jongin bertanya.

Lucas tertawa. "Aku juga tidak percaya, tapi ini kenyataan. Gunung ini milik Boss seorang, hanya ada rumahnya disini. Yah, walaupun ada orang kaya lain yang punya gunung disebelah sana dan sana." Lucas menunjuk jauh di sisi kiri san kanannya.

Ah, gunung. Jongin membatin. Pantas ketika semalam diperjalanan, Jongin merasa telinganya seperti terhalang. Ternyata mereka naik jauh ke atas gunung.

"Dari sini kau bisa melihat Seoul," sambung Mark sambil membuat lingkaran menggunakan tangannya dan meneropong jauh didepannya.

Setelah cukup menikmati pemandangan itu, Jongin kembali masuk ke dalam. Ia melihat Baekhyun duduk menunggunya di ruang tamu.

"Sudah cukup melihat pemandangannya?"

Jongin mengangguk.

"Lebih baik kita ke atas." Baekhyun menunjuk tangga yang ada di ruang tamu itu.

"Itu..." Jongin menunjuk ruang dengan dinding kaca dan botol-botol tertata rapih di dalamnya.

"Ahh, itu koleksi wine Sehun. Kau bebas mencicipinya. Jika ingin, mintalah pada pelayan." Baekhyun menjelaskannya lalu menaiki tangga.

Sesampainya di lantai dua, Jongin langsung disambut dua buah pintu. Pintu satu adalah pintu kaca menuju luar dan pintu satunya adalah pintu dengan fingerprint disampingnya. Baekhyun kemudian memindai sidik jarinya dan pintu terbuka. Di dalam ruangan itu ada meja kerja dan kursi serta lemari berisi buku-buku yang tersusun rapih. "Ini ruang kerja Sehun sekaligus perpustakaan. Sebenarnya tidak sembarang orang boleh masuk, tapi karena kau lagi house tour jadi tidak apa-apa." Baekhyun kemudian tertawa.

Jongin tertarik untuk melihat keluar. Melalui teras yang ada di ruang kerja itu, Jongin melihat pemandangan yang ada diluar. Pemandangan yang disajikan berbeda dengan yang Ia lihat di lantai satu tadi. Jongin bisa melihat lapangan-lapangan olahraga dan jauh dibawahnya dan juga beberapa rumah. Setelah itu Jongin mengedarkan pandangannya, ia melihat bahwa guest room ini tersambung dengan rooftop deck. Disana terdapat bar dan juga barbecue area lengkap dengan fireplace. Rooftop deck ini sangat luas.

"Kami biasa mengadakan party disini. Kalau musim panas seperti ini, biasanya di pool house." Baekhyun duduk di bar. "Itu adalah kamarmu dan Sehun. Di sana hanya ada dua kamar." Baekhyun menunjuk sisi diujung rooftop deck.

Jongin baru sadar, ada dua tangga di rumah ini, satu tangga menuju ruang kerja dan rooftop deck, dan tangga lainnya menuju kamar miliknya. Baekhyun mengatakan bahwa kamar Sehun ada disana. Apa pintu dihadapannya itu kamar Sehun?

"Dimana Mark dan Lucas?" Jongin tidak melihat dua pria itu.

"Ah, mereka ada di ground floor. Kau mau melihatnya?"

Jongin menebak-nebak, sebenarnya rumah ini ada berapa lantai.

Jongin dan Baekhyun kemudian turun melalui tangga guest house, melewati lantai satu dan sampai pada ground floor. Ketika sampai, ia dapat melihat bar dan juga billiard table. Di pojok ruangan ada dua sofa unik yang mencolok di ruangan itu.

"Mereka pasti sedang bermain game didalam." Baekhyun menuju sebuah pintu yang ada di lorong.

Ternyata benar, Mark dan Lucas sedang bermain didalam. Jongin terpaku, didalam ruang itu adalah arcade place. Video game retro ada disana. Sehun benar-benar memanjakan anak-anak kecilnya. Diseberang arcade place tadi terdapat ruang karaoke yang mampu menampung 10 orang.

Baekhyun membawa Jongin melewati lorong dan melihat ada sofa yang besar mampu menampung 20 orang lebih dan juga tiga layar LED yang besar di satu dinding.

"Ini entertain room. Biasanya kami main video game disini jika berkumpul bersama." Jelas Baekhyun.

Setelah itu Baekhyun membuka sebuah pintu dan mempersilahkan Jongin masuk terlebih dahulu. Jongin bisa melihat sofa-sofa nyaman tersusun rapih dengan perbedaan level yang tidak jauh beda. Layar besar memenuhi satu dinding di ruang itu.

"Ini home theater. Sehun membuat teater disini agar tidak perlu jauh-jauh ke kota. Kau bisa menggunakannya jika kau bosan di rumah. Aku yakin kau akan segera bosan disini." Baekhyun bicara jujur, Ia yakin kesibukan Sehun akan membuatnya jarang menemani Jongin.

"Ayo, masih ada yang harus kutunjukkan." Baekhyun kembali membuka pintu mempersilakan Jongin keluar lebih dulu.

Baekhyun membawa Jongin kesisi bar satunya. Disana terdapat alat-alat olahraga dan juga dinding dari kaca. Dari sini ia masih bisa melihat pemandangan diluar.

"Biasanya kami berlatih disini untuk menjaga tubuh tetap fit. Disini juga dilengkapi sauna dan massage room."

Seketika Jongin merasakan pusing. Ia tidak menyangka Sehun sekaya ini.

"Ini semua punya Sehun?" Jongin tanpa sadar menggumam. Tapi bisa didengar jelas oleh Baekhyun.

"Tentu saja. Ia membangunnya dengan uang sendiri, tanpa bantuan ayahnya."

Jika Sehun sekaya ini, apalagi ayahnya?

Jongin hanya bisa mengangguk. Ia melihat sekeliling, tidak melihat ada kamar lainnya.

"Kalian... Bagaimana dengan kalian?"

Baekhyun menoleh, tidak mengerti perkataan Jongin.

"Aku tidak melihat kamarmu. Apa kau tidak tinggal disini?" Jongin menjelaskan.

"Oh. Rumah ini adalah main house. Kami tinggal di rumah sebelah."

Jongin kembali terperangah.

"Apa kau masih sanggup untuk berjalan?" Baekhyun tidak bermaksud meremehkan. Pertanyaan ini memang penting karena perjalanan mereka masih jauh.

Jongin hanya bisa mengangguk.

Baekhyun kemudian masuk kedalam fitness room, menekan sisi dinding, kemudian dinding itu terbuka. Didalam sana terdapat lorong yang dalam. Baekhyun kemudian masuk dan diikuti Jongin. Lorong ini didominasi batu marmer berwarna hitam, titik-titik lampu yang terpajang membuat lorong ini menjadi indah. Bukan kesan seram dan horor. Di ujung lorong Jongin melihat ruangan luas yang lebih terang. Kaki Jongin lemas seketika.

Dalam ruang itu ada puluhan kendaraan yang terparkir rapih. Dari sepeda, sepeda motor, mobil sedan, mobil sport, mini bus, semuanya ada disini. Dari warna hitam sampai warna langka metalik juga ada. Jongin lebih terpaku pada sebuah mobil yang ada di tengah-tengah dan berputar dengan hidrolik di lantai.

"Ini garasi kendaraan milik kami. Um, ralat. Milik Sehun." Baekhyun menggaruk kepalanya, merasa malu. "Kau tahu kan perusahaan Sehun bergerak dibidang otomotif?"

Garasi? Ini lebih seperti showroom mobil. Batin Jongin.

"Ya..." Jongin menjawabnya dengan lirih.

Baekhyun kemudian berjalan menuju sebuah pintu kaca dan menekan sisi dinding. Pintu kaca itu kemudian terbuka dan mereka berdua berada dalam lorong lagi. Kali ini lorongnya dipenuhi dengan batu marmer berwana alami dengan dinding dipenuhi koleksi action figure dari berbagai hero di dunia perfilman. Jongin tahu beberapa, Batman, Superman, Wonder Woman, Iron Man, Thor, Captain America, dan lain-lain. Bahkan diujung lorong terdapat sebuah fosil dinosaurus kecil.

"Itu asli, by the way." Baekhyun buru-buru berkata ketika Jongin mengulurkan tangannya untuk menyentuh fosil itu.

Jongin kemudian menarik kembali tangannya, mengurungkan niatnya untuk menyentuh fosil itu.

Baekhyun menekan tombol yang ada dinding, kemudian pintu lift terbuka. Mereka masuk kedalamnya. Baekhyun menekan angka 1 di lift itu. Perhatian Jongin tertuju pada tombol lift, Ia melihat terdapat 4 tombol disana. Lantai 1, lantai 2, ground floor, dan under ground floor. Garasi tadi berada di ground floor.

Setelah sampai di lantai satu, Jongin melihat ruang keluarga. Disana Ia melihat Chen dan Xiumin sedang membaca buku dan menonton televisi. Jongin hanya menganggukkan kepalanya singkat untuk menyapa mereka dan dibalas senyuman.

Interior rumah ini sangat berbeda dengan rumah Sehun. Rumah ini didominasi warna-warni dan furnitur yang unik. Jongin menebak bahwa isi dari rumah ini memiliki sifat yang menyenangkan. Setidaknya Jongin harap begitu.

Disebelah ruang keluarga ada ruang makan lengkap dengan dapur. Walau dapur ini lebih kecil dari dapur di rumah Sehun, tapi Jongin yakin bahwa dapur ini bisa memenuhi kebutuhan pemilik rumah.

"Apa kalian selalu makan di rumah Sehun?"

"Tentu saja. Itu prinsip Sehun, kebersamaan adalah nomor satu."

Jongin mengangkat alisnya. Seorang Sehun punya prinsip seperti itu? Jongin tidak menyangka.

"Di rumah ini kami gunakan untuk tidur saja, kegiatan sehari-hari lainnya kami lakukan di rumah Sehun. Itu menjadi kebiasaan kami." Baekhyun kembali menjelaskan.

"Ayo naik ke atas!" Baekhyun semangat mengajak Jongin menaiki tangga. "Kami lebih suka menggunakan tangga dari pada lift. Disini kami memiliki kamar masing-masing. Ada enam belas orang yang tinggal disini, kau bisa melihat kamarnya satu persatu."

Enam belas? Orang? Jongin berhenti sejenak, terkejut mendapatkan informasi bahwa enam belas orang itu adalah anak buah Sehun.

"Sisanya tinggal di rumah lainnya." Baekhyun melanjutkan.

Sisanya? Jongin meringis.

"Sebenarnya kalian ada berapa orang?" Jongin penasaran.

"Hmm..." Baekhyun berpikir, "enam belas hidup bersama, sebelas di rumah yang lain, beberapa hidup menyebar." Baekhyun pun pusing menghitungnya. "Kau tahu kan bahwa kami ini organisasi yang besar? Perlahan kau akan beradaptasi dengan hal ini."

"Lalu apa pekerjaan kalian?"

"Seriously?" Baekhyun jengah. "Apa tidak ada pertanyaan lain?"

"..."

"Anggap saja kami teman bermain Sehun?" Baekhyun tertawa. Geli memikirkan bermain dengan Sehun. Seperti anak kecil. Tapi Baekhyun tidak berbohong, mereka semua teman bermain Sehun. Teman bermain pistol, narkoba, judi, dan lain-lain.

Melihat Jongin yang serius, Baekhyun membersihkan tenggorokannya.

"Jangan terlalu serius." Ia menepuk pundak Jongin. "Kami membantu mengelola bisnis Sehun. Aku besama Chen dan Xiumin memproduksi dan mengedarkan senjata api."

"Lalu bagaimana dengan yang lain?"

"Let me show you."

Mereka sampai pada lantai dua. Terdapat lorong panjang dengan sisi kiri dan kanan terdapat pintu yang berjajar dan berseberangan. Baekhyun membuka pintu yang dekat dengan tangga. "This is my room. Welcome!"

Berbeda dengan kepribadiannya, kamar Baekhyun didominasi warna abu-abu dan putih. Ranjang yang memuat dua orang, beberapa frame di dinding dan lampu unik yang menggantung membuat kamar ini terlihat rapih.

"Ini kamar Chen." Baekhyun menunjukkan kamar disebelahnya. Dinding kamar berwarna soft pink dengan perpaduan furnitur berwarna hitam dan ranjang berwarna putih mampu membuat kamar ini terlihat maskulin.

"Ini kamar Xiumin." Baekhyun berlanjut kesebelah kamar Chen. Warna soft biru mendominasi kamar Xiumin, dihiasi furnitur berwarna putih. Tidak banyak barang yang ada didalam, membuat kamar ini terlihat luas.

"Ini kamar DO." Baekhyun membuka kamar DO. "Kau belum mengenalnya kan? Ia sedang bekerja, kau akan jarang menemuinya karena Ia jarang ke rumah Sehun. Nama aslinya adalah Kyungsoo. Ia adalah seorang dokter, bisa dibilang dokter pribadi Sehun." Kamar milik DO terlihat sangat misterius. Dinding, furnitur, ranjang berwarna hitam gelap, hanya lantai dari kayu satu-satunya yang berwarna terang. Dilihat dari kamarnya, Jongin ragu kalau DO adalah 'dokter biasa'.

"Ini kamar Lay. Kau juga belum bertemu dengannya. Dia berdomisili di China sekarang, jadi kau akan bertemu dengannya mungkin tahun depan?" Baekhyun juga tidak yakin kapan Lay akan kembali. Kamar ini di cat hitam dan putih dengan sentuhan warna ungu dibeberapa titik. Membuatnya terlihat unik.

"Ini kamar Yuta. Dia adalah anak seorang yakuza Jepang. Namun dititipkan ayahnya untuk belajar dengan Sehun. Lucu jika mengingatnya, namun itulah yang terjadi." Warna kuning menyapa dari dalam. Cukup unik dengan kombinasi warna putih dan biru didalamnya.

"Ini kamar Johnny. Ia berasal dari Chicago dan bukan warga negara Korea. Ia bertugas bersama Yuta mengelola bisnis otomotif milik Sehun. Kau lihat koleksi mobil Sehun kan? Rata-rata Yuta dan Johnny lah yang berkeliling dunia untuk membelinya langsung." Kesan modern dapat dilihat dari kamar Johhny, warna biru dan futnitur kayu membuat kamar ini terasa nyaman.

"Ini kamar Taeyong." Jongin terkejut melihatnya. Seluruh dinding dan plafon berwarna pink. Lampu unik dari rotan yang menggantung menjadi sebuah daya tarik sendiri di kamar ini. Sangat jauh berbeda jika melihat Taeyong. Taeyong memiliki aura yang kuat. "Taeyong bertugas bersama Lucas dan anak-anak yang lainnya untuk mengedarkan narkotika. Bisa dibilang Taeyong adalah pemimpinnya."

"Ini kamar Lucas." Baekhyun berpindah keseberang kamar Taeyong. "Sama seperti Yuta, Lucas juga anak dari seorang mafia di China. Karena masih kecil, Lucas dikirim kesini untuk berlatih dari Sehun." Jongin sudah menebak dari sifat kekanakan Lucas, maka kamarnya tidak akan jauh berbeda. Namun tetap saja Jongin terkejut. Ranjang milik Lucas terlalu rendah untuk orang tinggi dan besar seperti Lucas. Beberapa lampu dengan warna unik dan sentuhan warna pastel mendominasi kamar ini.

"Ini kamar Mark. Walau masih kecil, Mark adalah jantung kami. Dia sangat berbakat dalam teknologi. Meretas, melacak, memalsukan adalah kemampuannya." Jongin memahami itu. Di kamar Mark terlihat banyak komputer dan terdapat satu etalase kaca dipenuhi berbagai macam smartphone dan semuanya hidup.

"Ini kamar Jaehyun. Kau belum bertemu dengannya. Jaehyun biasanya membantu Yuta dan Johnny tapi lebih ke motor." Jongin bisa melihat bahwa Jaehyun adalah pribadi yang bersih. Warna putih menghiasi kamar ini.

"Ini kamar Haechan. Kau akan lebih pusing jika bertemu dengannya." Ucapan Baekhyun mampu membuat Jongin merinding. Melihat Mark dan Lucas saja sudah mulai membuat kepalanya berdenyut. "Ia masih sekolah dan belum mendapat tugas yang berat. Hanya mengedarkan narkoba di skala yang kecil." Jongin bisa menilai Haechan adalah orang yang aktif. Warna merah membara menghiasi dinding dikamarnya.

"Ini kamar Jungwoo. Ia seorang pengalih perhatian. Sangat ahli. Tugasnya memang tidak berat tapi sangat beresiko." Kamar ini sangatlah menarik perhatian Jongin. Renda diatas ranjang, lampu putih yang menggantung dan warna dinding biru-hijau mampu menyegarkan mata.

"Ini kamar Doyoung. Sama seperti Jungwoo, Ia adalah seorang pengalih perhatian." Berbagai warna biru menghiasi kamar ini dan banyak furnitur kayu yang indah. Sebuah lampu berdiri di sebelah ranjang dan membuatnya menjadi pusat perhatian.

"Dan terakhir, ada kamar Taeil. Ia juga bertugas mengedarkan narkoba." Jongin paling suka kamar Taeil. Diantara warna kuning, terdapat tanaman-tanaman hijau yang menghiasi kamar ini. Kesan tropis yang santai sangat membuat Jongin ingin memiliki kamar seperti ini.

Semua kamar ini benar-benar memiliki karakter yang berbeda. Sehun membiarkan anak-anak buahnya mengurus keperluannya sendiri.

Jongin berhenti, ia menghitung ulang kamar-kamar yang ia lalui. Hanya ada lima belas. Satu lagi siapa? Ah, Chanyeol.

"Dimana kamar Chanyeol?" Jongin bertanya.

"Oh, Chanyeol sering tidur di kamarku." Baekhyun mengedip genit.

Jongin hanya mendengus.

"Hei, jangan terlalu serius." Baekhyun tertawa renyah. "Kamarnya ada di lantai satu. Karena Ia kaki tangan Sehun a.k.a sekretaris Sehun, jadi Ia memiliki kamar yang harus bisa diakses dengan cepat."

Ah, benar. Kamar-kamar yang ditunjukkan Baekhyun memliki luas yang standar dan memiliki kamar mandi masing-masing. Sangat sederhana tapi lebih dari cukup untuk tidur, mengerjakan tugas masing-masing dan membersihkan diri.

Baekhyun dan Jongin turun kebawah. Menuju kamar Chanyeol yang ada disebelah ruang keluarga tadi.

Saat dibuka, Jongin bisa melihat kamar Chanyeol memiliki luas yang hampir sama dengannya. Kamar ini didominasi warna hitam dengan furnitur yang elegan. Ada meja dan kursi kerja disebelah ranjangnya yang pasti digunakan Chanyeol sebagai sekretaris Sehun.

"Kau pasti lelah. Duduklah, akan kubuatkan kau sesuatu." Baekhyun keluar dari kamar Chanyeol dan menuju dapur.

Jongin mengikuti Baekhyun dan duduk di ruang keluarga bersama Chen dan Xiumin.

"Apa kau sudah mengelilingi rumah?" Tanya Chen membuka percakapan.

"Ya. Kakiku ingin patah rasanya." Jongin berkata jujur. Otot-otot kakinya tertarik karena terlalu lama berjalan. Belum lagi karena semalam Sehun menghajarnya habis-habisan.

Chen hanya tertawa. "Kau belum menjelajahi seluruhnya."

Jongin menatap Chen tidak percaya.

"Istirahatlah dulu." Baekhyun datang membawa secangkir teh dan beberapa camilan. Baekhyun tahu Jongin tidak minum alkohol.

Jongin langsung melahapnya. Berkeliling rumah sangat menghabiskan tenaganya.

"Kenapa rumah ini sangat sepi?" Jongin bertanya.

"Rumah ini akan selalu sepi, apalagi di siang hari. Semua berkumpul di rumah Sehun dan beberapa sedang keluar." Jawab Chen.

"Lalu bagaimana dengan yang lain? Yang tidak tinggal disini maksudku."

"Mereka tinggal tidak jauh dari sini. Karena mereka masih sekolah, jadi harus dipisahkan tempat tinggalnya."

Jongin mengangguk mengerti.

"Apa mereka akan terjun didunia ini juga?"

Baekhyun tertawa, "Tentu saja!"

"Kenapa?" Jongin langsung bertanya.

"Hmmm..." Baekhyun berhenti sejenak, berpikir keras. Ia bingung harus menjelaskan darimana. "Singkatnya, anak-anak itu tidak memiliki orang tua. Mereka diselamatkan Sehun dari perdagangan ilegal. Dengan keinginan untuk hidup yang kuat, mereka berhasil meyakinkan Sehun untuk mendidiknya."

"Kalian?" Jongin bertanya lagi. "Bagaimana dengan kalian?"

Baekhyun, Chen dan Xiumin hanya mampu menatap satu sama lain. Kemudian memberikan Jongin senyuman.

Tiba-tiba ponsel Baekhyun berbunyi. Baekhyun kemudian menjawab telepon itu setelah melihat siapa yang meneleponnya. "Ada apa?"

"Hyung! Boss ingin bermain basket!" Teriak Lucas penuh semangat.

"Sekarang?"

"Yup! Katanya kau harus membawa Mrs. Jongin juga."

"Kami bahkan belum beristirahat," gerutu Baekhyun.

Lucas hanya bisa tertawa dan mematikan teleponnya.

"Xiumin hyung, mereka sedang menuju lapangan basket. Kau harus ikut." Ujar Baekhyun pada Xiumin.

Xiumin kemudian pergi ke kamarnya untuk berganti baju.

"Ayo Jongin, kau juga ikut."

Baekhyun, Chen, Xiumin dan Jongin kemudian keluar rumah. Didepan rumah sudah menunggu empat golf cart. Empat orang pelayan kemudian menyambut mereka di masing-masing golf cart.

"Biarkan aku yang membawa Jongin, kami ingin berkeliling." Ujar Baekhyun pada salah satu pelayan itu.

Jongin yang sudah disebelah Baekhyun tidak tahan untuk bertanya, "Apakah jauh?"

"Ya, lumayan." Baekhyun kemudian mulai mengendarai golf cart-nya. Diikuti Chen dan Xiumin yang dikendarai masing-masing pelayan. "Kau bisa beristirahat sejenak."

Dalam perjalanan, Jongin bisa melihat lapangan hijau yang besar. Tidak seperti pegunungan, menurut Jongin lahan di rumah Sehun lumayan datar.

Di kejauhan, Jongin melihat deretan pagar. Dan fokus melihatnya.

"Itu adalah pacuan kuda dan kandang kuda. Disebelahnya ada peternakan pribadi. Makanan yang kau makan itu adalah hasil ternak dari sana." Baekhyun menjelaskan.

Diseberang pacuan kuda terdapat pool house yang dibilang Baekhyun tadi. Kolam renang disana memiliki luas yang sama dengan yang dirumah Sehun, hanya dilengkapi sebuah rumah dan area barbecue. Tidak jauh dari sana ada empat lapangan tenis.

"Disebelah langan tenis itu adalah tempat tinggal anak-anak buah lainnya." Baekhyun menunjuk bangunan putih bergaya klasik.

"Apa pelayan dan penjaga juga tinggal disana?"

"Tidak. Mereka memiliki tempat tinggal sendiri dibawah. Sedikit jauh memang. Kau akan melihatnya jika akan keluar dari kawasan rumah ini."

Tidak lama setelah itu, mereka melintasi rimbunan pohon yang tinggi sebelum akhirnya sampai pada area lapangan basket.

Jongin turun dari golf cart itu dan langsung disambut Sehun.

"Having fun?" Tanya Sehun.

Jongin mendorong dada Sehun pelan. "Dari mana saja kau?"

Sehun tertawa, "bekerja, tentu saja." Sehun berjalan disamping Jongin menuju lapangan basket itu. "Istirahatlah. Kau bisa melihat kami bermain."

"My Lady!"

Jongin melihat kearah datangnya suara. Ia melihat Lucas berlari menghampirinya. Bagus, sekarang ia memanggilku dengan panggilan baru.

"Apa kau datang untuk mendukungku?" Lucas tersenyum lebar.

Chanyeol kemudian memukul kepala Lucas, "apa kau ingin mati?"

"Chill! Aku hanya bercanda, hyung." Lucas kemudian meninggalkan Jongin.

"Hai, Jongin. Long time no see." Sapa Chanyeol pada Jongin. "Duduklah bersama Baekhyun." Ia mempersilahkan Jongin duduk di pinggir lapangan.

Permainan pun berlangsung, tim Sehun – angkatan tua, melawan tim Lucas – angkatan muda. Permainan yang seru untuk dilihat. Walaupun Sehun adalah boss mereka, namun dalam permainan ini tidak ada yang rela mengalah untuk Sehun. Bahkan Chanyeol sekalipun. Mereka satu tim tapi berlomba untuk mencetak angka yang lebih banyak dari yang lain.

Sambil menikmati permainan, Baekhyun menjelaskan wajah-wajah baru yang belum dikenalnya.

Jongin harus membiasakan dirinya dengan ini. Tapi, apakah Ia sanggup?

Pantaskah dirinya? Untuk seorang sempurna seperti Sehun? Seorang Oh Sehun.

.

.

.

Shtpnk's memo:

Chapter 6 ini fokus pada properti milik Sehun dan sedikit memperkenalkan pengikut-pengikut Sehun. Maybe this house is too much for you, but it's really exists. Kalian bisa lihat di youtube or something, keyword: Mega Mansion Tour. Kalian akan melihat rumah-rumah mewah disana. Untuk main house Sehun, dibangun dengan harga $46.000.000 (sekitar Rp ,00)

Tambahan cast pendukung:

DO (Do Kyungsoo) – umur 27 tahun, seorang dokter ahli bedah yang menjadi dokter pribadi Sehun

Lay (Zhang Yixing) – umur 28 tahun, tinggal di Cina untuk sementara waktu mengatur cabang perusahaan Sehun di Cina

Mark (Mark Lee) – umur 20 tahun, seorang peretas ahli diumur yang muda

Jaehyun (Jeong Jaehyun) – umur 23 tahun, membantu Yuta dan Johnny tapi lebih ke motor

Haechan (Lee Donghyuck) – umur 19 tahun, mengedarkan narkoba dikalangan remaja sekolah

Jungwoo (Kim Jungwoo) – umur 22 tahun, seorang pengalih perhatian, biasa ditugaskan untuk menyamar atau menyelundup, merupakan duo Dojung

Doyoung (Kim Dongyoung) – umur 24 tahun, seorang pengalih perhatian sama seperti Jungwoo, duo Dojung

Taeil (Moon Taeil) – umur 25 tahun, mengedarkan narkoba secara online dan di manca negara.

Novel ini masih shtpnk kerjakan, belum terlalu jelas alur, konflik, dan ending-nya seperti apa. Jadi mohon maklum ya readers :)

Cerita ini juga di post di wattpad, nama akun fujoshtpnk dan judul cerita Kiss Me, Kill Me. Kalian juga bisa baca disana. Hope you like it!