KISS ME, KILL ME: chapter 7
Pada suatu waktu, di siang hari yang terik, jauh di dalam kawasan bangunan lama. Taeyong dan Lucas duduk disebuah kotak kayu. Mereka menunggu kliennya untuk melakukan transaksi narkoba.
Lucas bangun, tidak sabar. Ia mengeluarkan rokok dari sakunya dan mulai menyulutnya.
Dari ujung gang, terlihat tiga orang mendekat ke arah mereka.
"Ini..." Taeyong mengarahkan plastik kecil ke arah tiga orang yang masih memakai seragam sekolah itu. "Ada 0,5 gram disini, kau berhutang 50.000 won kepadaku." (sekitar Rp 650.000,00)
"Li-lima puluh ribu won?! Kau bercanda! Kau mencoba menipuku?" Teriak salah satu dari mereka terkejut dengan harga yang diberikan Taeyong.
"Dude, kau pikir kami akan tertipu dengan itu." Ucap yang lainnya.
Taeyong hanya tersenyum.
Lucas maju beberapa langkah, berdiri di samping Taeyong. "I'll let you know... Kalau untuk bercanda saja sangat sulit jika mengenai hal ini." Lucas tersenyum meremehkan. "Aku menjamin kalian akan mendapatkan harga yang jauh lebih tinggi jika beli di tempat lain. Silahkan kau berkeliling dan bertanya jika tidak percaya."
Perkataan Lucas cukup meyakinkan tiga pelajar itu.
"Baiklah," jawab salah satu diantara mereka. Satu persatu dari pelajar itu mengeluarkan sejumlah uang yang kemudian diberikan ke Taeyong kemudian melangkah pergi.
"Senang berbisnis dengan kalian semua!" Teriak Lucas melihat mereka mulai menjauh. "Itu terlalu mudah."
Taeyong tertawa, "Bisa menjadi hal bagus. Akan lebih mudah untuk mempengaruhi mereka jika mereka sudah ketagihan dengan obat-obatan."
"Mereka terlihat seperti dari sekolah militer. Jika mereka yang memegang masa depan negara ini, aku dapat langsung membayangkan apa yang akan terjadi di akhir." Ujar Lucas.
"Well, itu pilihan yang jelas, jadi kenapa tidak?" Taeyong bangkit dari duduknya. Ini adalah kasus klasik untuk memakan semua yang ada didepanmu." Taeyong kemudian melangkahkan kakinya.
"It's true." Jawab Lucas.
Taeyong dan Lucas kemudian meninggalkan tempat itu, kembali ke mobil yang terparkir di depan pagar kawasan ini.
"Dude, something really stinks here." Sebuah suara muncul dari belakang Taeyong dan Lucas yang sedang berjalan.
Taeyong dan Lucas berbalik untuk melihat siapa yang mengganggu mereka.
"Hei, lihatlah! Jika bukan karena dua tikus ini, maka jelaskanlah dari mana bau ini berasal." Tiga orang berbadan besar dan berpenampilan seperti orang jalanan menghampiri Taeyong dan Lucas. "Kenapa kalian tidak menuruti kami dan kembali pada lubang tanah tempat kalian berasal?" Ucap seseorang yang berada ditengah itu dengan tertawa meremehkan.
Lucas hanya menatap Taeyong, "Wow! Jika aku tidak melihatnya sendiri, aku tidak akan percaya." Lucas memberikan tatapan terkejut pada Taeyong. "Siapa sangka seekor babi bisa berbicara bahasa manusia?" Kemudian tertawa lepas.
Taeyong hanya bisa tersenyum.
"Apa katamu?!" Pria ditengah itu mulai mendekat. "Kau lebih baik memperhatikan ucapanmu. Akan kuberi tahu, kalian tidak akan bisa lolos jika mencari masalah dengan kami. Kami salah satu anggota Snakes Organitation, jika kalian mencari masalah dengan kami, maka kau mencari masalah juga dengan mereka."
Snakes Organitation, salah satu kelompok gelap yang mirip seperti punya Sehun tapi masih dibawah Sehun.
"The snakes?" Lucas membayangkan ular dikepalanya. "Apa itu?"
"Oh, mereka yang mengambil alih kawasan ini kurasa." Jelas Taeyong. Ia tentu pernah mendengar kelompok itu.
"The name sucks though." Lucas tidak takut.
"Hei, apa kalian tuli? Aku rasa sudah kukatakan untuk menjaga omongan kalian! Sebentar lagi kalian tidak akan berhasil kabur. Boss kami adalah Choi Jin Hyuk dan kalian tidak akan berani mencari masalah karena Ia adalah salah satu –"
Lucas tertawa, "Kau dengar itu, hyung? Seekor babi menjadi anak seekor ular... Or should I say, tadpole?"
Taeyong hanya tertawa. Mereka akhirnya berbalik dan berjalan meninggalkan orang-orang itu.
"Kalian! Akan kuberi kalian pelajaran!" Orang itu berlari, mengulurkan tangannya untuk menyentuh Lucas.
Lucas dengan segera menyingkir, refleksnya sangat bagus. Gerakan tiba-tiba itu membuat orang tadi kehilangan keseimbangan.
Melihat itu, Taeyong mengulurkan kakinya. Ketika orang tadi terjatuh, ujung sepatu Taeyong tepat menusuk perut orang itu. Membuatnya terbatuk menahan sakit.
"H-hyung!" Anak buah orang tadi segera membantunya untuk berdiri.
"Oops! Sorry. Old habits die hard." Lucas tersenyum dengan tulus. "Anyway, ular, babi, atau apapun itu yang kau panggil tikus harus berbalik pada kalian sendiri. We – don't – give – a – fuck."
Perkataan Lucas sungguh membuat orang-orang itu marah. Mereka langsung mengambil kayu dan batu yang ada disekitarnya, siap menyerang Lucas dan Taeyong.
Namun dengan cepat semua itu diruntuhkan oleh Lucas dan Taeyong yang terlatih bela diri sejak kecil. Menghadapi orang-orang yang hanya mengandalkan badan besar sangatlah mudah. Perut, ulu hati, dan leher belakang adalah titik lemah bagi orang-orang seperti ini.
"Wish you the best of luck to y'all!" Doa Lucas setelah melumpuhkan mereka.
"Fuck! Aku akan membunuh anak kecil seperti kalian suatu saat nanti!" Teriak orang itu.
Taeyong dan Lucas tidak menggubris perkataan itu dan kembali ke mobil mereka.
.
.
.
"Begitukah?" Terlihat Chanyeol menerima teleponnya.
Di seberang telepon, Taeyong melaporkan apa yang terjadi dengan detail.
Chanyeol mendengarkan dengan seksama, kemudian berkata, "Biar aku yang urus. Kerja bagus untuk kalian." Ujar Chanyeol sebelum akhirnya mematikan sambungan telepon itu.
Sehun yang berkutat pada dokumen-dokumen dihadapannya melihat Chanyeol sekilas. "Ada apa?"
"Nothing. Just rats, playing with fire." Jawab Chanyeol.
Sehun kemudian melanjutkan memeriksa dokumen-dokumen di hadapannya.
"Apa hari ini kau akan pulang?" Tanya Chanyeol.
Sudah lima hari dirinya di Seoul, di kantornya untuk mengurus pekerjaan yang telah Ia tinggalkan selama empat tahun dipenjara. Jongin sudah ada dirumahnya selama hampir satu bulan dan dia sudah mulai menyesuaikan dirinya dengan anak buah Sehun.
"Apa jadwalku untuk besok?" Bukannya menjawab, Sehun malah bertanya pada Chanyeol.
"Kau memiliki jadwal makan siang dengan ayahmu. Untuk membahas pengalihan pekerjaan selama kau di penjara."
"Aku tidak bisa menolak, kan?"
Sehun tidak butuh jawaban dari Chanyeol. Pertanyaan itu lebih seperti pernyataan baginya.
"Kalau begitu, aku akan pulang besok." Sehun menyerahkan dokumen-dokumen itu pada Chanyeol, kemudian Chanyeol pergi meninggalkan ruangan.
.
.
.
Keesokan harinya, Sehun kembali ke kantor.
"Selamat pagi, Boss!" Sapa beberapa anak buah Sehun yang berdiri di pintu masuk.
Sehun hanya melewati mereka dengan raut wajah yang gelap. Diikuti Chanyeol dibelakangnya.
"Ada apa dengan ekspresinya?" Tanya salah satu manager perusahaan Sehun pada Chanyeol.
Chanyeol hanya mengangkat bahunya. Chanyeol tahu Sehun sedang tidak mood hari ini, tapi Ia tidak tahu alasan pastinya. Ia hanya bisa menebak-nebak.
"Jangan mulai percakapan tidak penting dipagi hari." Sehun menoleh, merasa risih dengan manager itu.
Melihat mood Sehun yang benar-benar tidak baik, Chanyeol dan anak buah Sehun lainnya berhenti, membiarkan Sehun ke ruangannya sendiri.
"Ia benar-benar sedang badmood. Mungkin karena terlalu stres dengan pengalihan pekerjaan yang akan datang." Ujar manager yang ditegur Sehun tadi.
"Bukan, bukan itu." Chanyeol hanya bisa tersenyum licik. "Aku sudah tahu itu... Just sexual frustation." Lanjut Chanyeol kemudian pergi menyusul Sehun.
Karena sedang badmood, Sehun meminta Chanyeol untuk menemaninya di ruangannya. Jadilah Sehun duduk memainkan ponselnya menghubungi Baekhyun yang selalu rajin memberikan detail-detail aktivitas Jongin, sedangkan Chanyeol mengurus dokumen-dokumen yang Ia tangani. Sesekali Chanyeol melaporkan beberapa masalah pada Sehun, termasuk kejadian yang terjadi pada Taeyong dan Lucas kemarin. Sehun kemudian menyulut rokoknya, menghisapnya dalam. Ia butuh pelampiasan.
Pintu ruangan Sehun diketuk dan muncul seorang anak buah Sehun yang lain di ambang pintu, "Boss!"
"Apa? Jangan masuk! Kau terlalu berisik." Sehun tidak menoleh, perhatiannya masih tertuju pada ponselnya.
"Choi Jin Hyuk..." Ujar anak buah itu. "... Dari Snakes Organitation."
Sehun hanya menatap seseorang yang sudah duduk dihadapannya. Keheningan masih tercipta saat Choi Jin Hyuk menyulut rokoknya.
"Hei, Sehun! Minta maaflah!" Ujar Choi Jin Hyuk dengan tatapan kesal. "Kau yang pertama memasuki daerah kekuasaanku!"
"Hei," Sehun hanya tersenyum, bersikap santai. "Bukankah kau kesini untuk mempermasalahkan tiga anak buahmu yang babak belur karena dua anak kecilku?"
"You've got it wrong there." Choi Jin Hyuk meluruskan duduknya. "Kau tahu anak kecilmu itu sudah memasuki daerah kekuasaanku? Mereka menjual narkoba didaerahku. Kau tau kita sedang melakukan fair play, tidak bisa seenaknya kau mengacaukan daerahku. Apa kau ingin mengambil alih kekuasaanku juga?"
"Great way to interfere with business." Sehun menghisap rokoknya. "There's something called a limit, you know? Aku yakin ini bukan sesuatu yang akan mampu dibayar oleh Snakes Organitation."
"Apa maksudmu?"
"Totalnya won (sekitar Rp ,00)." Sehun mengambil secarik kertas yang diserahkan Chanyeol di sampingnya. "Bayarlah dulu sebelum kau mengeluh hal lain."
Choi Jin Hyuk hanya bisa terduduk kaku.
"Jika kau tidak bisa membayarnya, silahkan datang dan memohonlah pada presiden kami. Pastikan kau mengatakan 'Tolong biarkan hutang bulan ini berlalu'." Sehun menatap Choi Jin Hyuk tepat di kedua matanya, menantang.
Tiba-tiba Choi Jin Hyuk berdiri dan menekan tangannya pada dada Sehun. "Simpan kata-kata kotormu itu."
"Masih mudah dipancing." Sehun tersenyum, "Jika kau tidak memperbaiki itu, kau tidak akan dipromosikan menjadi pimpinan besar."
"Apa masalahnya mafia yang mudah marah dan dipancing? Jangan samakan aku dengan seseorang sepertimu yang mendapatkan jabatan hanya dengan tidur malas-malasan."
"Tapi pria yang kau sebut malas-malasan ini tidak pernah mengenal apa kata hutang. Yang Ia hasilkan hanyalah uang untuk kesejahteraan seisi organisasi." Sehun tertawa.
"Sial kau!" Choi Jin Hyuk mendorong dada Sehun kemudian meninggalkan ruang Sehun diikuti anak buahnya. "Akan kupastikan kau mendapatkan balasannya!" Ujar Choi Jin Hyuk sebelum benar-benar meninggalkan ruangan Sehun.
Sehun melemparkan dirinya bersandar pada sofa kemudian menyulut rokok yang baru.
"Apa tidak apa-apa?" Chanyeol bertanya.
"Ia tidak akan bisa melakukan apapun. Perusahaannya bergantung pada kita." Sehun menjawab dengan santai.
Seketika itu pintu ruangan Sehun terbuka. Seorang pria tua namun masih terlihat gagah masuk ke dalam ruangan Sehun. Seketika Sehun berdiri dan memberi hormat diikuti Chanyeol.
"Aku berpapasan dengan Choi Jin Hyuk saat menuju ruanganmu." Ujar pria tua itu.
"Hanya datang untuk menggeretak saja." Jawab Sehun.
"Chanyeol, tolong bawakan aku secangkir teh." Ujar pria tua itu pada Chanyeol.
Chanyeol yang mendengarnya langsung pergi meninggalkan ruangan Sehun.
"Apa yang Ayah lakukan? Ini bahkan belum saatnya makan siang." Ujar Sehun melihat jam tangannya.
Pria tua yang dipanggil ayah itu hanya tersenyum, "Apa tidak boleh mengunjungi anakku lebih awal? Bahkan kita belum bertemu selama empat tahun."
Selama Sehun keluar dari penjara, Ia belum bertemu ayahnya. Sehun memang tidak memiliki niat untuk menemuinya. Walau ayahnya telah menjebak Sehun, namun Sehun tetap menghormatinya sebagai ayah dan presiden perusahaan.
"Apa kau sudah membereskan kekacauanmu?" Tanya Oh Jiho, ayah Sehun.
"Sudah kubereskan. Ayah hanya perlu menandatanganinya, setelah itu pekerjaan itu akan kembali lagi padaku."
Chanyeol kemudian masuk membawakan dua cangkir teh untuk ayah Sehun dan Sehun.
"Chanyeol sedang mengerjakan dokumen penandatangannya, Ayah bisa menunggunya sebentar." Sehun kemudian memberikan sinyal pada Chanyeol untuk meninggalkan ruangannya.
"Aku senang mendengarnya. Bebanku lebih ringan." Oh Jiho mengambil cangkir teh itu dan menyesapnya. Kemudian bersandar di sofa, "Tapi bukan itu maksudku. Kekacauan anak-anak kecilmu yang membawamu kabur. Aku sudah membantumu menghalangi media untuk mengekspos kejadian itu, bahkan aku memberi kompensasi besar pada para korban." Oh Jiho berhenti sejenak, kemudian menatap Sehun dengan penuh arti.
"Aku akan mengganti kerugianmu. Terima kasih sudah membantunya." Melihat tatapan itu, Sehun sudah tahu keinginan ayahnya.
Oh Jiho adalah orang yang sederhana. Ia adalah pribadi yang tidak ingin terlibat dengan masalah-masalah yang rumit. Baginya jika ada sesuatu yang akan merugikannya, Ia akan segera menghindari itu, namun jika ada yang menguntungkannya, Ia akan segera mengambil itu dengan resiko apapun.
Oh Jiho menatap Sehun dengan tatapan tidak puas.
Sehun tersenyum, "Aku akan menggantinya lima kali lipat."
Oh Jiho terkesan, "Kau berani tanggung jawab akan perbuatanmu. Ayah bangga padamu." Oh Jiho tertawa lepas. "Ngomong-ngomong tentang anak kecilmu, aku dengar kau membebaskan tahanan lainnya?" Oh Jiho bertanya pada Sehun.
"Dia tidak akan merugikanmu." Sehun menjawabnya tanpa berpikir.
"Aku harap Ia tidak membuatmu lemah." Nasihat Oh Jiho pada Sehun.
Tak lama setelah itu, Chanyeol masuk dan membawa beberapa dokumen yang perlu ditanda tangani Oh Jiho.
Setelah mengecek beberapa hal dan mengoreksi, Oh Jiho kemudian menandatangani dokumen-dokumen itu. Sekarang Sehun mendapatkan kembali jabatannya sebagai pimpinan perusahaan ini. Walau hanya anak perusahaan dari perusahaan utama milik Oh Jiho, namun perusahaan Sehun mampu membawa keuntungan yang sangat banyak bagi Oh Jiho.
"Hei, Sehun." Panggil Oh Jiho ditengah-tengah memeriksa dokumen lainnya, "Orang tua ini sudah bekerja terlalu keras. Bisakah kau membelikan aku mobil baru? Maserati Quattroporte keluaran terbaru contohnya."
Sehun hanya tertawa, "Biarkan nanti Chanyeol yang mengurusnya."
Oh Jiho terlihat sangat senang. Selain Sehun, Oh Jiho juga gemar mengoleksi mobil-mobil mewah. Sebagian koleksinya adalah hadiah dari Sehun, lebih tepatnya hasil dari paksaan halus.
"Aku tidak akan makan siang denganmu, aku ingin menemui Ibumu." Oh Jiho bangkit berdiri, "Kau pulanglah. Aku tahu kau sudah beberapa hari disini." Oh Jiho kemudian meninggalkan ruangan Sehun.
Sehun dan Chanyeol kemudian menunduk hormat pada Oh Jiho sampai hilang dari pandangannya.
Sehun kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa, "Kau mendengarnya kan? Segera proses itu."
Chanyeol segera menghubungi Yuta untuk membeli mobil keinginan Oh Jiho tadi.
.
.
.
Siang itu, Jongin merasa bosan. Sudah lima hari Sehun tidak pulang.
"Sehun sedang mengurus pekerjaannya di Seoul. Ia akan disana dalam beberapa hari," begitulah kata Baekhyun saat Jongin bertanya.
Jongin merasa gelisah, tapi tidak tahu apa penyebabnya. Akhirnya Ia memutuskan untuk bermain bersama Baekhyun atau siapa sajalah yang tidak sibuk. Ketika membuka pintu kamarnya, Ia melihat dua pelayan yang mendorong garment rack berisi pakaiannya dan Sehun yang telah selesai di laundry.
"Apa itu punya Sehun?"
Jongin bertanya pada pelayan dan disambut anggukan oleh pelayan itu.
"Biar aku membawa beberapa." Jongin mengambil pakaian miliknya dan mengambil satu kemeja milik Sehun kemudian masuk ke kamarnya.
Jongin melempar pakaiannya ke sembarang tempat dan menuju lemari kaca. Jongin membuka bajunya, menyisakan underwear yang Ia gunakan. Kemudian memakai kemeja Sehun yang Ia ambil tadi. Kemeja itu terlalu besar untuknya, mampu menutup area privatnya.
Sentuhan kemeja itu pada kulitnya mampu membuat Jongin merinding. Seketika Jongin merasakan panas yang membara di dalam tubuhnya.
Sehun... Jongin memeluk dirinya sendiri. Walau sudah di laundry, namun pakaian Sehun mampu menyisakan jejak harum khas Sehun. Jongin menghirup wangi dari kemeja itu, begitu dalam.
Jongin tanpa sadar membawa tangannya menyentuh penisnya.
"Nnhh..." Jongin mendesah perlahan.
Sehun-ah...
Sehun-ah...
Pikiran Jongin tertuju pada sosok Sehun. Jongin kemudian melepas underwear miliknya dan berlutut didepan cermin, membayangkan Sehun berada dibelakang memeluknya erat dan tangan besar Sehun memberikan pijatan-pijatan pada penisnya.
Jongin membelai penisnya sendiri, mengurutnya semakin cepat. Mencari kepuasannya.
"Ngh! Uhhh..."
Jongin menjatuhkan tubuhnya kedepan. Bertopang pada tubuhnya sendiri, membuatnya mengekspos bokong miliknya.
Jongin ingin lebih. Ia tidak tahan lagi.
Jongin akhirnya membawa tangan yang lain untuk menyentuh anus miliknya. Dengan cairan precum miliknya, Ia meraba lubang itu dan memasukinya perlahan.
"Ah!" Erangan Jongin lolos dari mulutnya.
Tubuh Jongin bergetar, seirama dengan tangannya yang menusuk dalam anus miliknya. Jongin terus mengurut penisnya hingga akhirnya klimaks menumpahkan cairannya di kemeja Sehun yang Ia pakai.
"Ahh! Haaa..."
Jongin merasakan lelah pada tubuhnya. Ia pun bangkit dan menuju ranjang, membaringkan dirinya tanpa membersihkan diri dan mengganti bajunya.
Dalam kesunyian itu, Jongin terlelap dalam tidur.
.
.
.
"Dasar jalang, cilik! Kau sungguh menyukai penis ayahmu?" Suara itu terdengar bersamaan dengan adegan seorang pria yang bergerak dengan kasar diatas seorang anak laki-laki.
Jongin berdiri di ambang pintu. Ia melihat dirinya sendiri yang masih kecil sedang disetubuhi oleh ayahnya, Ahn Bo Hyun.
"... Kau akan menjadi seorang kakak, Jongin."
Adegan didepannya berganti menjadi momen dimana Ibu Jongin mengumumkan bahwa Ia sedang mengandung buah hatinya bersama Ahn Bo Hyun. Adegan itu membuat Jongin merasa sakit di dadanya. Ia telah mencintai sentuhan-sentuhan ayahnya, Ia tidak akan membagi ayahnya.
"Oh, Jongin, ada apa?"
Adegan kemudian berubah lagi, Ia melihat Jongin kecil sedang menyembunyikan pisau dibelakang tubuhnya dan mengampiri Ibunya yang terbaring di ranjang. Jongin kecil kemudian berlari dan menancapkan pisau itu ke perut Ibunya sendiri, berulang kali, memastikan Ibu dan adiknya mati disaat itu juga.
"Apa yang kau lakukan?" Teriak Ayah Jongin.
Jongin kecil berbalik dan berlari, melompat dan memeluk Ayahnya dengan erat. "Ayah, aku mencintaimu." Kemudian menusukkan pisaunya tepat di leher Ahn Bo Hyun. Membuat Bo Hyun langsung ambruk terjatuh.
Adegan itu berubah menjadi gelap. Jongin ada ditengah-tengah sebuah ruang yang hitam kelam. Jongin gelisah, berlari dan terus berlari mencari tempat untuk keluar.
Jongin...
Jongin mendengar ada yang memanggil namanya. Ia berlari kearah suara itu berasalah.
Jongin...
Suara itu semakin jelas.
"Kim Jongin!"
Seketika Jongin membuka matanya. Ia terkejut melihat Sehun dihadapannya.
"Kau mimpi buruk." Ujar Sehun.
Jongin tersadar, itu hanya mimpi buruk. Ia menghembuskan napasnya lega. Kemudian duduk dan bersandar pada kepala ranjang.
Sehun kemudian duduk di pinggir ranjang, "Baekhyun bilang kau melewatkan makan siang dan tertidur." Sehun mengelus pipi Jongin. "Sekarang sudah malam, sebaiknya kita makan malam sekarang." Sehun menuntun Jongin untuk bangun.
Jongin heran, tadi dirinya menggunakan kemeja milik Sehun, tapi sekarang Ia sudah mengenakan piyama miliknya dan kamarnya sudah bersih, tidak ada pakaian berserakan dilantai. Apa Baekhyun yang mengganti pakaianku?
Sehun dan Jongin kemudian menuju ruang makan. Hari ini semua anggota hadir pada makan malam. Jongin mengambil kursi didekat Sehun.
"Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian semua." Sehun membuka percakapan, "Mulai hari ini aku dengan resmi mendapatkan hakku lagi, begitu juga dengan kalian semua. Mari kita merayakan hari ini! Cheers!"
Semua orang bersulang dan menikmati makan malam itu. Namun tidak dengan Jongin, mimpi buruk itu terus terbayang di pikirannya, membuat tubuhnya merasa tegang.
Sehun yang melihat itu kemudian mengelus pipi Jongin. Jongin memejamkan matanya, bersandar pada telapak tangan Sehun yang besar di pipinya. Ia menikmati sentuhan Sehun.
Reaksi yang Jongin berikan mampu membuat Sehun bergejolak. Rasa ingin cepat-cepat menyetubuhi Jongin membara di hatinya.
Setelah makan malam, Sehun langsung membawa Jongin untuk menikmati malam bersama dengan penuh gairah.
.
.
.
Keesokan paginya, Jongin terbangun dari tidur, meraba tempat tidur disampingnya dan tidak menemukan Sehun. Jongin kemudian bangun dan melihat Sehun sedang berbicara di telepon, berdiri di depan jendela kamarnya.
"Okay, apa kau yakin?" Ujar Sehun kemudian menghisap rokoknya kembali.
Jongin mengambil gelas yang ada di meja samping tempat tidurnya dengan mengendap-ngendap, Ia tidak ingin mengganggu Sehun. Namun suara dentingan gelas mengejutkan Sehun, Ia kemudian berbalik dan menatap Jongin.
"Biar Chanyeol yang mengurusnya. Kita lanjutkan lagi nanti." Sehun kemudian menutup sambungan teleponnya, berjalan ke arah Jongin. "Sudah bangun?" Sehun memberikan pelukan pada Jongin.
Jongin hanya diam dan minum dari gelasnya.
"Lebih baik kita membersihkan diri terlebih dahulu lalu sarapan." Sehun membawa Jongin ke kamar mandi dan mulai membasuh tubuhnya dan juga tubuh Jongin.
"Apa kau tidak bekerja?" Jongin bertanya.
"Ini akhir pekan, biarkan aku istirahat sejenak."
Sebenarnya Sehun ingin sekali menyetubuhi Jongin, tapi melihat Jongin lelah dan dirinya juga lelah, Ia kemudian mengurungkan niatnya.
Selesai membersihkan diri, Sehun mengeringkan tubuh Jongin dan memakaikan pakaian padanya.
"Sehun." Panggil Jongin.
Merasa dirinya terpanggil, Sehun menoleh kearah Jongin.
"Kau tahu? Aku belum pernah berenang sama sekali." Jongin malu, "Apa kau bersedia mengajarkanku untuk berenang?"
Sehun mengelus kepala Jongin, "Kau ingin berenang?"
Jongin menganggukkan kepalanya dengan antusias.
"Baiklah, sore hari akan kupersiapkan semuanya. Sebelumnya ada beberapa hal yang harus kudiskusikan dengan Chanyeol." Sehun kemudian pergi meninggalkan kamar Jongin diikuti Jongin menuju ke ruang makan.
Seperti rutinitas setiap hari, mereka semua berkumpul untuk makan bersama. Pagi, siang, malam selalu bersama.
Setelah selesai sarapan, Sehun dan Chanyeol menuju ke ruang kerja Sehun di lantai dua, sedangkan Jongin, Baekhyun dan yang lainnya berkumpul di ruang keluarga. Sudah dua hari mereka berkumpul untuk maraton film hero dari Marvel.
"Wahh aku tidak tahan! Hey, Mark, ambilkan ice cream di lemari pendingin!" Lucas berseru, meminta Mark.
"Dude, this is the climax!" Mark menolak permintaan Lucas.
Lucas kemudian merebut remote televisi dan menekan tombol pause kemudian diikuti suara decakan dan teriakan protes dari seisi ruangan termasuk Jongin.
"Tidak bisa! Apa kalian tidak kepanasan? Hawanya sangat membakar. Akan lebih nikmat jika kita menonton sambil makan ice cream." Lucas membela diri.
Ada beberapa dari mereka yang menyetujui usulan Lucas, ada juga yang berdiam diri tanpa memberi masukan.
"See! We have to play scissors-rock-paper to decide who will go to get ice cream!" Mereka kemudian bermain, termasuk Jongin. Tidak lama, bertahan Mark dan Baekhyun. Baekhyun kalah dan mau tidak mau Ia pergi mengambil ice cream di dapur, dibantu Jongin. Karena jumlah mereka yang banyak, satu cup besar ice cream tidaklah cukup.
"Kenapa kalian tidak memintanya pada pelayan?" Jongin bertanya heran.
Sehun punya pelayan yang banyak, begitu juga dengan chef profesional, bahkan ice cream yang akan dibawanya ini adalah buatan dari chef pribadi Sehun.
Baekhyun tertawa, "Mereka memiliki banyak pekerjaan, mengambil ice cream bukanlah hal yang sulit. Semenjak bisa melakukannya sendiri, kenapa tidak mandiri saja?" Baekhyun berjalan membawa satu cup besar ice cream.
Jongin termenung. Apa mereka benar-benar mafia? Seketika Jongin ragu. Ia belum pernah melihat mafia seimut mereka.
Jongin kemudian pergi mengikuti Baekhyun membawa satu cup besar ice cream lainnya, diikuti satu pelayan yang membawa alat makan ice cream.
.
.
.
Di sisi lain, Sehun dan Chanyeol sedang berkutat dengan dokumen-dokumen di ruang kerja Sehun.
"Tadi pagi aku mendapat kabar dari Lay, bahwa Shanghai Fire Cooperation sedang melelang saham-sahamnya." Ujar Sehun. "Aku rasa ini kesempatan bagus untuk memperluas hubungan kerja kita, maka dari itu aku minta kau untuk mempersiapkan semuanya. Jika bisa, lusa sudah kau serahkan ke Lay."
"Menurutku itu peluang yang bagus, Sehun." Chanyeol mengeluarkan pendapatnya. "Bagaimana kalau kita meminta bantuan Ayah Lucas untuk membantu Lay?"
Seperti yang di telah diketahui, Ayah Lucas adalah salah satu mafia yang berpengaruh di Cina.
"Tidak perlu. Aku tidak ingin berhutang budi." Sehun menggelengkan kepalanya. "Lagi pula aku yakin Lay akan memenangkan lelang ini."
Chanyeol hanya menganggukkan kepalanya. Ia tahu jika meminta bantuan pada organisasi lain dalam dunia gelap ini maka akan terus-menerus berkaitan dan dimanfaatkan, sama seperti yang mereka lakukan.
.
.
.
Sehun dan Chanyeol kemudian turun menuju ruang keluarga. Melihat semua berkumpul menonton film action dan menikmati ice cream. Sehun kemudian duduk di sofa kosong dan Chanyeol duduk disebelah Baekhyun, bersandar manja pada Baekhyun.
Sehun kemudian memanggil Jongin menggunakan isyarat tangannya. Jongin pun berdiri dan menghampiri Sehun dan menjatuhkan tubuhnya dipangkuan Sehun memberikan ciuman-ciuman yang berubah menjadi ciuman panas.
"Eww, hyung! Kami masih dibawah umur!" Teriak Lucas, Mark dan Haechan yang hanya lelucon. Mereka tentu sudah legal untuk meminum alkohol dan melakukan seks.
Tentu Sehun dan Jongin tidak mendengarkan mereka dan melanjutkannya sampai bibir Jongin sedikit membengkak.
"Siapkanlah diri kalian, selesai ini kita akan ke pool house." Ujar Sehun disambut teriakan senang oleh yang lainnya.
Sebenarnya semua orang dibebaskan menggunakan fasilitas di rumah Sehun ini, namun tidak jarang mereka melakukan aktivitas-aktivitas bersama seperti ini untuk menumbuhkan tali merah diantara mereka.
.
.
.
Shtpnk's memo:
Terima kasih yang masih setia membaca karya shtpnk :) Kiss Me, Kill Me dan Counterattack akan di update 2 hari sekali berganti-gantian jadi kalian gak perlu nunggu lama-lama lagi. Hope you like it!
