KISS ME, KILL ME: chapter 8
"It's summer time!" Lucas, Mark dan Haechan berteriak kompak kemudian berlari dan menghempaskan badan ke dalam kolam renang.
Kolam renang Sehun berukuran besar dan sangat cukup menampung anak-anak buahnya. Dalam kawasan kolam renang itu juga terdapat rumah yang dilengkapi ruang keluarga, dua kamar tidur, dan empat kamar mandi.
Anak-anak buah Sehun yang lain menyusul Lucas, Mark dan Haechan masuk kedalam kolam renang. Diantara mereka tersedia pelampung dengan bentuk ikan paus, flamingo, donat dan bermacam-macam. Khusus Xiumin dan Chen, mereka hanya duduk di bar pinggir kolam, menikmati segelas cocktail dan melihat yang lain bermain air.
Sehun menuntun Jongin perlahan memasuki air dan mengajarkan beberapa teknik-teknik renang yang penting. Mulai dari mengambil napas, menahan napas, mengapung, menggerakkan kaki dan tangan. Semuanya Sehun jelaskan dengan penuh kesabaran.
"Sekarang akan aku tunjukkan teknik yang paling mudah, kau tunggu lah di pinggir kolam," ucap Sehun kemudian menggendong tubuh Jongin agar duduk dipinggiran kolam.
Sehun kemudian membawa dirinya mengapung di atas air. Gerakan-gerakan tangan dan kakinya sangat dinamis, riak air yang halus membawa tubuhnya pada sisi kolam renang yang lain. Otot-otot tubuh Sehun terlihat menegang seiring gerakan renangnya.
Jongin hanya bisa melihat Sehun dengan penuh kekaguman.
Di sisi kolam renang lain, Sehun berkumpul bersama anak-anak buahnya dan berbicara singkat kemudian membawa pelampung berbentuk donat ditangannya dan kembali ke tempat Jongin.
"Angkat tanganmu," ujar Sehun sesampainya dihadapan Jongin.
Jongin mengangkat kedua tangannya, kemudian pelampung donat itu masuk dan berakhir di pinggangnya. Jongin terlihat seperti anak kecil dengan pelampung itu.
Sehun menarik tangan Jongin, membuat Jongin jatuh ke kolam renang.
"Angkat tubuhmu, naiklah diatas pelampung ini." Sehun mendorong bokong Jongin naik keatas dan membawa kaki Jongin untuk diatas pelampung. Membuat bokong Jongin saja yang tenggelam di dalam air.
"Aku tidak bisa membiarkanmu langsung belajar menyelam. Kau harus mengerti dulu cara mengendalikan tubuh di air." Sehun melipat kedua tangannya dan menopang pada pelampung yang digunakan Jongin. "Cobalah untuk menggerakkan kakimu agar kau bisa berjalan di air."
Jongin kemudian menggerakkan kakinya. Riak-riak air muncul diantara kakinya dan menyebar kemana-mana.
"Santailah," Sehun memegang kaki Jongin, "Coba lemaskan otot-ototmu dan ayunkan perlahan." Sehun membelai kaki Jongin dengan lembut dan mengajarkan Jongin.
"Good job!" Puji Sehun. "Jika terlalu banyak air yang kau hasilkan saat renang, itu akan membuat tubuhmu terasa berat untuk maju."
Sehun membimbing Jongin dan membawa pelampung itu mengelilingi kolam renang.
Melihat tubuh Jongin yang semakin lama semakin masuk kedalam pelampung itu, Sehun meraba bokong Jongin dan mendorongnya keatas lagi, "Jangan biarkan kau terperangkap didalam pelampung," ujar Sehun lalu tersenyum.
Sehun kemudian membelai wajah Jongin, "Bagaimana ini, kulitmu sudah memerah."
Jongin mengalihkan wajahnya, merasa malu diperlakukan manis oleh Sehun.
"A-aku ingin ke kamar mandi sebentar," ujar Jongin.
Tanpa berpikir lama, Sehun membawa Jongin ke pinggir kolam dan membantu Jongin untuk keluar dari kolam.
"Perlu kutemani?"
"Tidak perlu." Jongin kemudian masuk kedalam pool house dan mencari kamar mandi.
.
.
.
"Apa kau melihat Jongin?" Tanya Sehun pada Xiumin dan Chen dipinggir kolam.
"Terakhir kulihat Ia masuk ke pool house." Chen menunjuk pool house dibelakangnya. "Apa perlu kupanggilkan?" Tanya Chen.
"Tidak perlu, biar aku saja." Sehun meninggalkan Xiumin dan Chen dan mengambil bathrobe kemudian menuju pool house. Sudah dua puluh menit Jongin tidak kembali.
Sehun mencari Jongin didalam ruang keluarga dan kamar mandi namun tidak menemukan Jongin. Tidak mungkin kan Ia tertidur disaat seperti ini?
Sehun kemudian keluar, memastikan jika Jongin belum ada di area kolam renang kemudian masuk kembali ke dalam rumah. Ia menuju salah satu kamar yang ada di depan, namun Jongin tidak ada disana.
Sehun kemudian menuju bagian belakang, untuk memeriksa kamar satunya. Sehun mengerutkan dahinya, Ia mendengar sebuah suara yang lirih. Semakin mendekati kamar itu, semakin terdengar jelas suara itu. Sehun menempelkan telinganya pada pintu kamar itu. Ia yakin itu suara Jongin, apa mungkin Jongin dalam bahaya?
Sehun membuka pintu kamar itu dengan buru-buru, namun Ia melihat Jongin di atas ranjang terduduk menghadap dirinya dengan celana renang menggantung disalah satu kakinya. Kedua kaki Jongin terbuka lebar, tetesan-tetesan air dari rambut Jongin jatuh ke dadanya yang telanjang. Kedua tangan Jongin sibuk membelai dirinya sendiri mencari kenikmatan. Tangan kanan Ia gunakan untuk memijat penisnya, sedangkan tangan kirinya digunakan untuk menusuk anusnya sendiri.
Sehun terpaku melihat Jongin, hanya mampu berdiri di ambang pintu.
Jongin yang terkejut karena pintu yang dibuka juga sempat menghentikan aktivitasnya, namun saat tahu yang membuka pintu itu adalah Sehun, Ia kemudian melanjutkan aktivitasnya.
"Ah! Uhmm Sehun..." Desah Jongin.
Sehun sudah menetralkan keterkejutannya, namun masih berdiri di ambang pintu.
Melihat Sehun, Jongin semakin bersemangat. Cairan precum sudah membasahi penisnya. "Please, Sehun... lihat aku..." Jongin mendesah, meminta Sehun agar melihatnya memuaskan diri sendiri.
"Apa yang kau lakukan?" Sehun bingung, ada apa dengan Jongin.
"Aku tidak tahu, aku hanya ingin kau melihatku saat ini." Jongin mengatur napasnya.
"Tapi aku tidak akan menyentuhmu," Sehun menggoda Jongin.
"Itu..." Ekspresi Jongin sangat luar biasa, "...tidak apa-apa." Jongin membawa tangannya kembali untuk memijat penisnya, tangan satunya Ia gunakan untuk menopang tubuhnya.
What the hell? What expression is he making? Sehun mendekati Jongin, melihat Jongin dengan intens. "Baiklah, aku akan melihatmu."
"Hnn... Haah..." Jongin mendesah.
Jongin membuka kakinya semakin melebar, membuat anusnya terekspos dengan sempurna.
"Apa terasa enak disaat aku melihatmu, Kim Jongin?" Dahi Sehun menyentuh dahi Jongin, membuat jarak diantara mereka berdua semakin sempit.
"Uh-huh." Jawab Jongin.
Sehun tersenyum, "I'm getting a hard-on too."
Dalam aktivitasnya, Jongin sedikit merasa malu. Dilihat Sehun secara langsung saat Ia masturbasi sungguh sensasi yang aneh.
"Setelah kupikir-pikir, kau tadi bermain dengan anusmu kan?" Sehun bertanya pada Jongin.
Jongin mengangguk.
"Coba ulangi," Sehun memasang senyuman mautnya.
Jongin memiringkan tubuhnya, membuat kakinya terangkat sedikit. Sehun kemudian merendahkan tubuhnya untuk melihat bagian bawah Jongin. Dari sisi itu, Sehun bisa melihat anus Jongin yang terbuka sedikit membentuk lingkaran. Ia tahu itu hasil karya penisnya yang hampir setiap malam keluar-masuk di anus Jongin. Namun entah kenapa lubang kecil itu terlihat sangat menggoda untuk Sehun.
Jongin memasukkan tangannya yang tadi menopang tubuhnya perlahan masuk kedalam anusnya sendiri.
"Hnn, uhhh..." Tubuh Jongin bergetar.
"Incredible. Kau memasukkan dua jarimu langsung." Sehun menopangkan kepala pada tangan dipangkuannya.
Jongin tidak mampu lagi menahan tubuhnya. Ia terjatuh dan terbaring di atas ranjang itu. Dua jarinya semakin masuk kedalam dan membuat gerakan acak.
"Haa haahh... ehh." Desahan Jongin semakin intens. "Sehun..." Panggil Jongin frustasi.
Sehun menaikkan satu kakinya di tengah-tengah kaki Jongin yang terbuka di atas ranjang, "Tidak, Jongin. Aku tidak akan menyentuhmu. Kau harus klimaks dengan caramu sendiri."
"Ha! Ahh..." Jongin hanya bisa pasrah, mencari kenikmatan untuk dirinya sendiri.
Ini pasti sisi lain diriku yang sadis untuk memprovokasi Jongin. Sehun tersenyum licik, Ia menikmati Jongin terlihat frustasi dibawahnya. Seakan-akan memohon Sehun untuk membelai tubuhnya.
"Ahh aahhh..." Jongin bergetar hebat, Ia berhasil klimaks.
I wanna see more! Seru Sehun dalam hati.
Jongin merasa lemas.
Sehun mengambil beberapa tissue yang ada didekatnya dan membersihkan cairan milik Jongin. Setelah memakaikan celana Jongin kembali, Ia kemudian melepas bathrobe yang Ia gunakan, lalu memakaikannya pada Jongin. Sehun mengelus lebut kepala Jongin dan membiarkan Jongin terlelap.
Sehun mengangkat tubuh Jongin dan membawanya keluar rumah.
Baekhyun yang melihat Jongin digendongan Sehun refleks menghampiri Sehun, "Apa yang kau lakukan? Bukankah sudah kubilang bahwa Jongin harus istirahat? Kau tidak bisa terus menerus memasukkan penis besarmu pada lubangnya. Lubangnya akan semakin membesar jika begitu. Apa kau tidak dengan dari DO kalau Ia harus banyak istirahat. Banyak hal yang dipikirkan Jongin, kau tahu itu kan? Psikologinya tidak stabil." Baekhyun terus memberondongi Sehun dengan kata-katanya.
"Ini bukan seperti yang kau bayangkan." Sehun hanya menjawabnya singkat. "Kalian lanjut bersenang-senanglah, aku akan membawanya pulang." Sehun kemdian pergi meninggalkan area pool house dan kembali ke main house dengan mobil yang dikendarai sopir pribadinya.
.
.
.
Sore hari tadi, DO mendapat telepon dari Sehun yang menyuruhnya untuk memeriksa keadaan Jongin ketika Ia pulang.
Sebagai seorang dokter yang mempelajari psikologi manusia, dengan sekali lihat DO tahu bahwa banyak hal yang mengganggu pikiran Jongin walau tidak berpengaruh besar namun bisa mengalihkan perhatian Jongin.
Sebenarnya DO sudah berbicara pada Baekhyun untuk menjaganya dengan baik, karena Ia tahu bahwa Baekhyun cukup dekat Jongin. Ia juga sudah memberi tahu Sehun, namun apalah daya, pesona Jongin terlalu menggoda untuk Sehun.
"Ia tidak apa-apa. Belum ada yang menjadi ancaman." Ujar DO pada Sehun di ruang kerjanya.
Setelah memeriksa Jongin yang tidur dari tadi sore, Sehun dan DO berdiskusi di ruang kerja Sehun.
"Apa kau tahu yang terjadi dengannya sampai bisa di penjara? Aku bisa melihat semangat cinta berlebih dimatanya." Ujar DO.
Sehun kemudian menjelaskan bagaimana Jongin masuk penjara dan pengalaman apa saja yang Jongin alami.
"Aku ingin melihat riwayat medisnya, agar bisa menjaganya dengan lebih baik. Kau bisa dapatkan itu untukku kan?" Minta DO pada Sehun.
"Akan kuberikan padamu segera." Ujar Sehun.
DO mengangguk kemudian berbalik hendak pergi meninggalkan ruang kerja Sehun.
"Sehun," sesampainya di ambang pintu, DO kemudian berbalik lagi menghadap Sehun, "kau tahu Jongin memiliki hasrat seks yang tinggi? Walau kau juga begitu, tapi ini berbeda. Setelah kupikir-pikir, Ia mendapat siksaan seksual yang kemudian menjadi hobinya. Aku harap kau bisa mengatasinya sebelum Ia berubah menjadi maniak." DO mengutarakan kekhawatirannya kemudian pergi meninggalkan Sehun.
Sehun kemudian berpikir dengan keras. Ada perang dingin antara hati dan pikirannya. Seketika terlintas suatu pemikiran. Bukankah akan lebih menarik jika Ia berubah menjadi maniak? Sehun kemudian menyeringai.
.
.
.
Di malam harinya, Jongin terbangun, tenggorokannya terasa kering. Jongin mengambil gelas di meja namun tidak ada air di dalamnya. Seketika perutnya juga terasa lapar, Ia ingat bahwa Ia melewatkan makan malam hari ini.
Jongin keluar dari kamar, lampu di kamar Sehun sudah mati pertanda pemilik kamar itu sudah terlelap. Jongin turun menuju dapur untuk mengisi botol minum dan mencari beberapa camilan yang bisa mengisi perutnya.
Ia melihat lampu dapur menyala dan suara dentingan terdengar dari sana. Ketika sampai, Ia melihat Chanyeol berkutat dengan mesin pembuat kopi membelakangi Jongin.
Chanyeol merasakan pergerakan di belakangnya dan melihat bayangan seseorang di pantulan mesin kopi itu. Ia membuka laci di dapur dan mengambil pisau dapur perlahan, kemudian berbalik. Mengarahkan pisau itu tepat di leher Jongin.
"Jongin!" Teriaknya terkejut. "Aku kira ada penyusup yang masuk ke rumah ini. Maafkan aku."
Jongin juga sama terkejutnya dengan Chanyeol, terlebih karena pisau yang diarahkan langsung di lehernya. Jika ia bergerak sedikit saja, sudah dipastikan pisau itu mengiris pembuluh darahnya.
"Apa yang kau lakukan?" Chanyeol meletakkan kembali pisau di tempat semula.
"A-aku ingin mengisi air minum dan mengambil beberapa camilan." Jongin menetralkan deru napasnya. "Kau sendiri?" Jongin bertanya kemudian melangkah ke lemari pendingin di sebelah Chanyeol.
"Ah, aku membuat kopi. Sehun dan aku mengerjakan beberapa pekerjaan yang tersisa karena besok sudah mulai bekerja kembali."
Jongin mengerutkan dahinya, bukankah Sehun sudah terlelap? Mungkin mereka bekerja di ruang kerja Sehun.
Setelah mengisi air dingin, Jongin membuka lemari pendingin dan melihat isinya. Ia menemukan beberapa slice cake yang menggoda. Jongin mengeluarkan tiga slice cake dan duduk di kursi. Ia melahap cake itu dengan nikmat.
"Kau melupakan makan malammu," ujar Chanyeol. Ia masih menunggu mesin kopi selesai membuat kopinya.
Jongin telah mengenal Chanyeol di dalam penjara, namun seperti Sehun, Jongin dan Chanyeol jarang bertemu.
"Apa ada masalah dalam pekerjaan Sehun?" Jongin tiba-tiba bertanya.
Chanyeol menggelengkan kepalanya, "Tidak. Sudah biasa jika Sehun dan aku lembur untuk mengerjakan beberapa hal."
"Jadi apa yang sebenarnya Sehun kerjakan?" Jongin kembali bertanya. Ia masih penasaran dengan pekerjaan Sehun. Apa yang Sehun kerjakan hingga mampu membangun rumah sebesar ini dengan koleksi banyak kendaraan, membiayai hidup banyak kepala, bahkan memiliki gunung ini.
"Sama seperti yang sudah kukatakan, Sehun adalah seorang mafia muda. Kami adalah kaki tangannya." Tidak lama, mesin kopi itu sudah menyelesaikan kopi Chanyeol.
Chanyeol meletakkan cangkir baru ke mesin dan menekan tombol untuk membuat kopi milik Sehun.
Chanyeol membawa dirinya duduk berseberangan dengan Jongin. "Sehun jarang sekali turun tangan langsung, begitu juga aku. Ia membiarkan anak-anak yang menyelesaikan masalahnya. Namun bukan berarti Ia tidak mampu, kami semua dilatih dengannya secara langsung. Aku dan Sehun hanya berbeda dua tahun, dan kami menghabiskan masa remaja bersama."
Jongin mendengarkan Chanyeol dengan serius, Ia ingin tahu dunia disekitar Sehun.
"Lalu bagaimana kau bisa bergabung dengannya? Apa kau juga anak orang kaya?"
Chanyeol mengangguk. "Aku dilahirkan dari keluarga orang kaya, ayahku adalah seorang pengacara sukses yang memiliki firma hukum di kota. Hidupku sangatlah nyaman, hingga suatu ketika ayahku melakukan sidang untuk membela masyarakat kecil yang menjadi korban dari mafia-mafia di kota. Kau tahu? Mereka begitu kejam, menyogok kehakiman dan membuat ayahku kalah dalam sidang. Itu sangat berpengaruh pada karirnya, firma hukum milik ayahku bangkrut dan terlilit banyak hutang untuk membiayai pegawai-pegawainya. Ayahku kemudian bunuh diri, meninggalkan banyak hutang."
Chanyeol menyeruput kopi buatannya. "Aku kemudian terpuruk dan hidup sebagai anak yang 'nakal', tiada hari tanpa berkelahi, mencoba berbagai obat-obatan terlarang, mabuk-mabukan, dan lain-lain. Hingga suatu malam, aku dan teman-temanku terlibat perkelahian dengan pemilik karaoke, kami babak belur. Aku sudah hampir mati karena itu."
Chanyeol kembali menikmati kopinya, "Hingga tiba-tiba Sehun berjalan ke arah kami, di belakangnya ada beberapa orang yang memakai jas formal dan berbadan besar. Ia menawarkan bantuannya padaku dan berjanji membalas mafia-mafia itu. Awalnya aku ragu karena kami sama-sama remaja saat itu. Tapi aura Sehun sangat memancar dan membuatku yakin."
Jongin hanya menganggukkan kepalanya mendengar cerita Chanyeol.
"Sejak saat itu aku berlatih bersama Sehun, karena aku sudah memiliki dasar bela diri dan pendidikan yang lumayan jadi aku tidak susah untuk menyesuaikan diri." Chanyeol berbangga akan dirinya sendiri.
"Lalu bagaimana dengan Baekhyun?" Jongin bertanya.
Jongin sungguh penasaran pada Baekhyun, karena menurutnya Baekhyun tidak memiliki latar belakang yang buruk. Ia juga tidak terlihat dari keluarga yang miskin.
"Ahh, Baekhyun?" Chanyeol menopangkan dagunya di tangan. "Bagaimana ya menjelaskannya." Chanyeol bingung mulai menjelaskan dari mana.
FLASHBACK – 7 YEARS AGO
Di suatu malam, sebuah sosok dengan pakaian serba hitam menutupi seluruh tubuhnya mengendap-endap mencoba masuk pada kawasan rumah itu. Ia membuka ventilasi dapur yang tidak difasilitasi sistem keamanan.
Di sebuah ruang yang gelap, sosok yang ternyata seorang pria itu berkutat pada komputer di hadapannya mencoba menyalin file-file dari komputer itu.
"That's it! Cepatlah..." Pria itu memainkan jari-jarinya di meja, gelisah.
Seketika, pintu ruangan terbuka. Sebuah lampu kemudian dinyalakan.
"Apa ada orang?" Seorang pria memakai jas bersandar pada pintu.
Sosok pria berpakaian hitam tadi bersembunyi di bawah meja, badannya yang kecil memungkinkan untuk bersembunyi dimanapun.
Shit! Seharusnya tidak ada orang kecuali beberapa pelayan. Apakah pria itu polisi? Tidak masalah, yang harus kulakukan sekarang adalah keluar dari sini dengan cara apapun.
Pria kecil itu kemudian keluar dari tempat persembunyiannya dan berlari menghampiri pria berjas tadi. Membuat pria berjas itu siaga.
Pria kecil itu mengangkat kakinya, siap menyerang pria dihadapannya. Namun sayang, pria didepannya terlalu tinggi, kemampuan bela diri hapkido yang Ia kuasai akan butuh perjuangan lebih untuk menyeimbangi pria tinggi itu.
Dengan cekatan, pria tinggi itu memegang kaki pria kecil dan memutarnya, membuat pria kecil itu membelakanginya. Dengan posisi itu, pria tinggi kemudian memukul bagian belakang leher pria kecil itu dan melumpuhkannya.
"Well, well..." Pria tinggi itu berkacak pinggang, memperhatikan pria kecil dihadapannya yang terjatuh di lantai.
Pria tinggi itu membuka topeng yang menutupi wajah pria dihadapannya.
"Terlihat seperti sleeping beauty daripada seorang pencuri." Gumamnya.
.
.
.
Ketika membuka mata, pria kecil itu masih merasakan pusing dikepalanya. Saat Ia berhasil sadar sepenuhnya, kedua tangan dan kakinya terikat di tiang-tiang ranjang.
"What the hell?" Seru pria kecil itu.
"Kau sudah bangun?" Sebuah suara yang berat terdengar di telinga pria kecil itu. "Kembali ke rumah setelah perjalanan yang panjang untuk menangkap seorang pencuri... Now that's something." Pria tinggi tadi bersandar dekat dengan ranjang.
Pria itu melangkah mendekat ke ranjang, "Beruntungnya, Boss sudah punya rencana. Tidak mungkin Ia meninggalkan file-file penting di luar pengawasannya, jadi Ia menyimpannya di laptop pribadinya." Pria itu melempar CD yang digunakan pria kecil tadi untuk menyalin file-file dari komputer. "Apakah untuk itu kau menyusup masuk kedalam rumah Boss? Apa kau ingin menakut-nakuti kami dengan itu? Atau kau disewa oleh lawan kami, Byun Baekhyun?"
Baekhyun, pria kecil tadi terkejut bahwa pria dihadapannya mengetahui identitasnya.
"A-apa yang akan kau lakukan padaku?" Tanya Baekhyun terbata.
Pria tinggi itu tersenyum licik. Kemudian membuka kancing celana Baekhyun.
"Apa yang kau lakukan?!" Baekhyun meronta, Ia terkejut.
Pria tadi mengeluarkan sebuah pisau yang dibawa Baekhyun di dalam tasnya. Menjilat pisau itu dan berkata seduktif, "Hanya sedikit hukuman atas apa yang kau lakukan." Kemudian Ia membawa pisau itu dan merobek sisi celana yang Baekhyun pakai.
"Berhenti, dasar mesum!" Baekhyun terus meronta.
"Kau akan terluka jika melawan."
Celana yang dikenakan Baekhyun ditarik, sudah tidak memiliki bentuk lagi.
"So beautiful. Sayang kau seorang pencuri." Pria tadi mengagumi bentuk tubuh Baekhyun yang indah.
Kedua puting Baekhyun sudah mengeras, Ia merasa malu karena tubuhnya terekspos. Pria tadi menyentuh puting Baekhyun dan membuat tubuh Baekhyun bergetar.
"Dan kau sangat sensitif." Ia terus memainkan puting Baekhyun.
"Stop... Ah!" Baekhyun mendesah.
"Getting more and more excited. I see..." Pria tadi kemudian menurunkan tubuhnya, menjilat kedua puting Baekhyun bergantian. Tangannya Ia bawa untuk membelai penis Baekhyun.
"Hnn! Stop..." Tubuh Baekhyun melengkung, merasakan nikmat.
"Apa kau suka diservis oleh pria? Kau sudah basah..." Pria itu memberikan pijatan-pijatan intens pada penis Baekhyun.
"Kau salah!" Baekhyun masih menolak sentuhan pria itu.
Pria tadi menurunkan wajahnya, sejajar dengan penis Baekhyun kemudian memasukkan penis itu ke mulutnya.
"Ah! Nghh!" Desahan Baekhyun seirama dengan gerakan mulut pria itu.
"Haa... Ah!" Tidak lama Baekhyun klimaks. Cairannya mengisi mulut pria itu.
Pria itu kemudian memotong kain yang mengikat salah satu kaki Baekhyun, menekuk kaki itu dan tangannya mengelus lubang anus Baekhyun.
"Apa yang...?" Baekhyun terkejut saat merasa sebuah benda keras masuk ke lubang anusnya.
Dua jari pria tadi bermain di dalam lubangnya.
"Ahh! Ah... hnn!" Baekhyun hanya bisa mendesah.
"Does it feel good here?" Pria itu menekan di satu titik yang mampu membawa sengatan listrik ke seluruh tubuh Baekhyun.
"No! Ahhh..." Baekhyun berbohong.
Pria itu mengeluarkan jarinya, memotong kain yang mengikat kaki Baekhyun satunya. Ia berdiri dan menurunkan celana miliknya sendiri.
"Ah! Ahh!" Baekhyun terkejut, penis pria itu berhasil masuk ke dalam anusnya.
Pria itu memasukkan penisnya semakin dalam, mencari kenikmatan. Namun tidak lupa untuk membelai penis milik Baekhyun agar Ia juga merasa nikmat.
Seks itu berlangsung lama hingga akhirnya pria itu klimaks. Baekhyun sudah jatuh terkulai lemah dan seketika tidak sadarkan diri.
Pria itu mengecup kedua mata Baekhyun dan berakhir pada bibirnya, "Maaf, aku akan melepaskanmu nanti. Sekarang kau milikku, milik Chanyeol seorang." Ucap pria itu.
END FLASHBACK
"Sejak kejadian itu, Baekhyun mau tidak mau mengikutiku dan masuk untuk melayani Sehun. Ia adalah seorang pencuri profesional yang sering disewa oleh orang-orang. Karena sudah memiliki dasar dan taktik yang bagus, Sehun juga tertarik padanya."
Setelah menceritakan itu, Chanyeol melirik jam yang menggantung di dinding.
"Sudah malam, sebaiknya kau kembali tidur. Aku harus membuat kopi untuk Sehun lagi, karena yang ini sudah dingin." Chanyeol berdiri, mengambil cangkir di mesin kopi dan membuangnya ke wastafel kemudian membuat ulang kopi Sehun.
Jongin yang sudah selesai mengisi perutnya dan rasa ingin tahunya kembali ke kamar dengan berbagai pikiran. Ternyata mereka memiliki kisah yang beragam. Bagaimana mungkin Sehun mampu melihat kemampuan-kemampuan itu? Apa aku juga bisa seperti mereka?
Jongin kemudian masuk ke kamarnya dan kembali tidur.
Di lain sisi, Chanyeol masuk ke ruang kerja Sehun.
"Apa kau menggiling biji kopinya dengan batu?" Sehun bertanya sarkastik, Chanyeol membuat kopi lebih dari tiga puluh menit.
Chanyeol tertawa, "Aku menemani Jongin. Ia merasa lapar dan tidak bisa tidur. Sedikit bercerita lah."
Sehun termenung dan melanjutkan pekerjaannya lagi, sesekali meminum kopi yang dibuat Chanyeol.
.
.
.
Shtpnk's memo:
Halo readers, terima kasih dukungannya yaa :) Shtpnk mau ngabarin kalau bakal telat update kedepannya ... hope you like it!
