KISS ME, KILL ME: chapter 9

Suatu pagi setelah menyelesaikan sarapan, Sehun dan Chanyeol sudah bersiap untuk ke kota, begitu juga dengan Ex'Act Line [1] yang juga memiliki keperluan di kota terkait bisnis Sehun.

Setelah kembalinya pekerjaan Sehun, Ia dan anak buahnya kembali disibukkan dengan kewajibannya masing-masing. Tidak seperti Jongin yang hanya menghabiskan waktu dengan menghibur diri sendiri. Terkadang Ia merasa tidak berguna.

"Baekhyun..." Panggil Jongin, "Tidak bisakah aku ikut ke kota?"

Baekhyun diam. Dalam hati Ia ingin sekali membawa Jongin ikut dengannya, Ia tidak tega meninggalkan Jongin sendiri di rumah. Namun, keputusan ada di Sehun.

"Hmm, bagaimana ini?" Baekhyun hanya bisa menatap Jongin.

"Ada apa?" Chanyeol menghampiri mereka.

"Ah, Jongin ingin ikut ke kota. Tidak bisakah aku membawanya?" Baekhyun menjelaskan pada Chanyeol.

Chanyeol mengusap belakang lehernya, bingung, kemudian melirik ke arah Sehun yang sedang menerima telepon tidak jauh dari mereka. "Aku akan berbicara dengannya."

Chanyeol menghampiri Sehun yang sudah selesai menerima telepon, berbicara sebentar kemudian Sehun menghampiri Jongin.

Sehun mengelus kepala Jongin, "Kau bosan dirumah?"

Jongin hanya mengangguk.

"Ingin pergi ke kota bersamaku?" Sehun menatap Jongin. "Kau tahu? Pekerjaanku tidak banyak hari ini, kau bisa ikut denganku. Nanti, setelah Baekhyun dan yang lain selesai, kau bisa dijemput oleh mereka."

Jongin mengangguk dengan antusias. "Biarkan aku ganti pakaianku." Jongin berlari kecil menuju kamarnya.

Setelah keluar dari penjara, Jongin belum pernah pergi ke kota. Hampir sepuluh tahun lamanya Ia dipenjara dan ingin sekali melihat hiruk-pikuk kota.

Setelah mengganti pakaiannya menjadi lebih rapih, Jongin masuk ke dalam mobil Sehun dan pergi menuju kota.

Jongin takjub melihat perkembangan kota yang pesat. Jalan yang lebih lebar, banyak mobil yang berlalu-lalang, gedung-gedung yang hampir menyentuh langit berada di sisi kiri dan kanan jalan dengan layar LED hampir di setiap bagian depan gedung-gedung itu. Sungguh mengagumkan untuk Jongin.

Sesampainya di kantor Sehun, Jongin sedikit terkejut setelah melihatnya langsung. Jongin mengira jika kantor Sehun adalah bangunan tua yang sudah lama kosong seperti mafia-mafia mengerikan didalam otaknya, namun ternyata kantor Sehun sama seperti kantor-kantor lainnya. Bisa terbilang mewah untuk sebuah kantor. Namun yang tetap membuat Jongin bergidik ngeri adalah para penjaga yang sedang berbaris di depan pintu menyambut Sehun. Badan mereka sungguh besar dan tinggi, mengalahkan Lucas, dan juga tato-tato yang menghiasi tangan mereka.

Sehun, Jongin dan Chanyeol berjalan masuk diikuti petinggi perusahaan yang ikut menyambut Sehun di depan pintu masuk tadi. Beberapa dari mereka memberikan laporan-laporan rutin terkait perusahaan.

"Hei, siapa laki-laki yang bersama kalian tadi?" Seorang manager bertanya pada Chanyeol.

Chanyeol tersenyum, "bukan urusanmu." Kemudian berlalu mengikuti Sehun yang masuk ke dalam lift menuju ruangannya.

"Boss, hari ini Suho ingin berkunjung." Ujar Chanyeol sesampainya di dalam lift. Walau mereka adalah teman, namun Chanyeol tetap menghormati Sehun jika menyangkut dengan pekerjaan.

Sehun bergumam.

Tidak lama, mereka sudah sampai di ruangan Sehun. Jongin yang baru pertama berada di gedung pencakar langit, langsung membawa badannya mendekati jendela. Terkagum dengan pandangan di bawahnya. Walaupun Ia pernah melihat pemandangan yang lebih indah, namun pemandangan penuh kota ini sungguh berbeda.

"Jongin, apa kau ingin sesuatu?" Chanyeol bertanya pada Jongin.

Jongin hanya menggeleng, fokus pada pemandangan di depannya.

"Bawakan saja ice coffee dan hot coffee untukku." Jawab Sehun kepada Chanyeol.

Chanyeol mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan Sehun.

"Buatlah dirimu nyaman, aku harus mengurus beberapa dokumen terlebih dahulu." Sehun kemudian berfokus pada dokumen-dokumen yang sudah ada di mejanya.

Setelah lima belas menit Jongin mengagumi pemandangan di hadapannya, Ia membawa dirinya untuk duduk di sofa, mengeluarkan ponselnya dan bermain game sambil menikmati cemilan dan kopi yang dibuatkan Chanyeol tadi. Ia ingin menonton televisi, namun takut mengganggu Sehun.

Tidak lama setelah itu, pintu ruangan Sehun diketuk. Seorang laki-laki masuk dengan pakaian yang rapih.

"Yo! Sehun!" Laki-laki itu berseru dan menghampiri Sehun.

Yang dipanggil hanya mengangkat tangannya untuk menyapa.

Laki-laki itu sudah terbiasa dengan sikap Sehun dan langsung duduk di sofa, berhadapan dengan Jongin.

"Ah! Kau pasti Jongin." Tebak laki-laki itu.

Jongin memiringkan kepalanya, mencoba mengingat orang di hadapannya barangkali Ia mengenal laki-laki itu.

"Aku Suho, teman Sehun." Laki-laki itu mengulurkan tangannya.

Jongin menjabat tangan itu, "Aku Jongin, Kim Jongin."

"I know." Jawab Suho kemudian tersenyum lebar.

"Apa kau mencoba memata-mataiku?" Ujar Sehun.

Sehun ingat yang tahu tentang Jongin hanya ayah dan Ex'Act Line. Dari mana Suho tahu tentang Jongin?

"You know... Rumor cepat menyebar, dude. Kau harus berhati-hati," Suho memberikan nasihat pada Sehun.

"Ada apa kau kemari? Ini masih terbilang pagi." Sehun mengabaikan nasihat Suho.

"Aku hanya merindukanmu," Suho tertawa. "Setelah keluar dari penjara, kau bahkan tidak mengunjungiku, berterima kasihpun tidak." Suho mencibir.

Sehun mengabaikan perkataan Suho lagi.

Jongin yang mendengarkan percakapan itu hanya bisa memicingkan matanya, tatapannya tertuju pada Suho. Ada hubungan apa Suho dengan Sehun.

Suho yang ditatap sontak merasakan aura dingin di tubuhnya. Ia melihat Jongin yang sedang menatapnya. Suho segera melambaikan kedua tangannya, "No, no, aku dan Sehun murni sebatas teman."

Jongin kemudian tersenyum lebar.

"Ku dengar, kau ingin membeli saham Shanghai Fire Cooperation?" Suho bertanya pada Sehun.

Sehun hanya mengangguk.

"Aku juga akan ikut lelang itu. Ayahku memaksaku agar tidak kalah denganmu." Suho menghela napasnya.

Keluarga Suho hanyalah keluarga pebisnis biasa, walau keluarga Sehun dan Suho memiliki hubungan yang baik, namun ayah Suho cukup ambisius untuk tidak kalah dengan ayah Sehun. Namun ini bukan berarti menjadikan mereka musuh.

"Aku tidak turun langsung. Lay yang mengurusnya." Sehun menghampiri sofa dan duduk disebelah Jongin.

"Lucky you... Kau punya banyak kaki tangan, bahkan aku sering kau manfaatkan." Suho tersenyum kecut. "Apa kau free akhir pekan ini? Kudengar Jang akan mengadakan pesta ulang tahunnya. Apa kau ikut?"

"Entahlah, aku masih ada banyak keperluan." Sehun menyandarkan tubuhnya.

"Kau bahkan belum menyapa yang lain setelah keluar dari penjara."

Sehun tertawa, "Untuk apa? Mereka pasti lebih senang ketika aku dipenjara."

"Benar juga." Suho hanya bisa mengangguk, setuju. Suho kemudian berdiri, "Lebih baik aku pergi. Beri aku kabar jika kau datang akhir pekan nanti!" Suho keluar dari ruangan Sehun.

Sehun mengalihkan perhatiannya pada Jongin.

"Apa permainan itu lebih menarik?"

"Kau sibuk dengan pekerjaanmu. Aku tidak ingin mengganggu." Jongin melanjutkan permainannya.

"Setidaknya hiburlah aku," Sehun membawa tubuh Jongin agar duduk di pangkuannya, menghadap Sehun.

Sehun membawa kedua tangannya pada pinggang Jongin dan mengelusnya sensual.

Jongin terkejut dan menegakkan tubuhnya namun tetap melanjutkan permainan di hadapannya.

Sehun yang ingin menggoda Jongin kemudian memindahkan tangannya menuju bokong Jongin, memberikan tamparan-tamparan kecil yang membuat Jongin teriak terkejut.

"Berani mengabaikanku?" Sehun menurunkan celana Jongin, kemudian memasukkan jarinya di celah bokong Jongin dan membelai lubang anal Jongin dengan sensual.

"Ahh!" Jongin mendesah. "Se-sebentar... sebentar lagi selesai." Jongin menggerakkan tubuhnya, bukan untuk menyingkirkan tangan Sehun, tapi untuk menggesekkan penisnya yang sudah berdiri tegak pada penis Sehun.

Jongin terus bergerak mencari kenikmatan, begitu juga dengan Sehun yang masih bertahan membelai lubang anal Jongin.

Jongin kemudian melempar ponselnya dan memajukan tubuhnya, mencium Sehun dengan penuh gairah.

Diperlakukan seperti itu tentu membuat Sehun senang. Sehun membalas ciuman Jongin dengan penuh gairah juga.

"Boss!" Chanyeol kemudian masuk dengan terburu-buru, menggagalkan aksi Sehun dan Jongin.

.

.

.

Di sebuah sekolah, berkumpul lima orang pelajar pada jam istirahat. Di bawah sebuah pohon di pinggir lapangan, lima orang tersebut menghabiskan waktu dengan bersenda gurau dan menikmati makan siang.

"Hei, Jaemin, apa yang kau pikirkan?" Seorang pelajar yang bertubuh tinggi memeluk teman di hadapannya. Tercantum nama Jeno di seragam yang Ia kenakan.

"Aku sedang tidak ingin berbicara denganmu," yang dipanggil Jaemin itu menjawab dengan ketus.

Jaemin kemudian berdiri, hendak kembali ke kelas, namun dibelakangnya Jeno melihat sebuah bola yang mengarah pada Jaemin. Refleks Jeno memeluk Jaemin dan tangannya yang kosong segera menepis bola itu.

CLANG!

Bola tadi mengarah tepat pada kaca gedung sekolah, membuat kaca jendela pecah karenanya. Bisa dibayangkan jika bola itu mengenai orang, bisa dipastikan akan ada cedera pada tengkoraknya.

"Fuck! Dari mana bola itu berasal?" Jaemin yang terkejut mencoba untuk berdiri.

"Kau tidak apa-apa?" Tiga pelajar itu menghampiri Jeno dan Jaemin.

"Sepertinya kaca jendela hancur!"

"Apa yang terjadi?!" Pelajar yang ada di sekitar kejadian mulai ramai dan berkumpul.

Jeno segera mengedarkan pandangannya, Ia tidak melihat orang yang bermain bola di lapangan. Namun jauh disana, Ia bisa melihat seseorang yang pergi meninggalkan lapangan, sangat kontras dengan pelajar lainnya yang datang menghampiri mereka.

.

.

.

"Jeno! Jaemin! Ada apa dengan kalian?" Ujar seorang guru.

Kejadian pecahnya kaca jendela tentu membuat pihak sekolah merugi, ditambah penyebabnya adalah Jeno.

Jeno adalah seorang pelajar yang berprestasi baik di akademik maupun olahraga dan seni, Ia memiliki banyak penggemar karena raut wajah yang menawan dan murah senyum. Tapi tidak heran, Ia memiliki sifat yang cuek dan terkadang membuat masalah dengan guru namun tidak sampai melewati batas.

"Ini salahku, Sir. Aku akan membayar kerugiannya." Ujar Jeno.

"Kau tahu? Akhir-akhir ini nilaimu menurun! Kau seharusnya belajar dengan benar untuk mendapat universitas yang bagus. Ada apa denganmu?" Ujar guru itu. "Ini tidak bisa dibiarkan! Jeno, beri tahu orang tuamu untuk datang!" Perintah guru itu.

Jeno dan Jaemin hanya bisa bertatapan.

"Sir, apa kau yakin ingin bertemu dengannya?" Jeno menatap datar pada guru itu.

Di sisi lain, Chanyeol yang menggagalkan aksi Sehun dan Jongin hanya bisa tersenyum malu.

"Boss, Jeno menelepon. Ia ingin berbicara denganmu." Chanyeol menyerahkan ponselnya pada Sehun.

"Ada apa?" Tanya Sehun.

"Boss," panggil Jeno ketika Sehun bertanya. "Guru ingin bertemu denganmu di sekolah."

Sehun terdiam untuk beberapa saat. "Tunggu aku..."

Belum selesai mood-nya dihancurkan Chanyeol, sekarang Ia kembali dibuat badmood oleh Jeno.

.

.

.

"Sudah tiga tahun tidak ada yang datang dalam pertemuan orang tua. Aku ingin tahu orang tua seperti apa yang dimiliki Jeno itu." Ujar guru yang menegur Jeno dan Jaemin tadi pada rekan kerjanya.

"Sangat disayangkan. Jeno adalah pelajar yang berbakat namun sepertinya kurang perhatian dari kedua orang tuanya. Seberapa sibuk orang tuanya, seharusnya mereka tetap datang untuk mendukung pendidikannya." Ujar guru yang lainnya.

"Namun jika ditelaah, marga ayah Jeno berbeda dengan Jeno. Disini tertulis Oh, sedangkan Jeno adalah Lee." ucap wali kelas Jeno.

"Apa Jeno anak angkat?" Guru itu tertawa, "Pantas saja walau nilainya bagus tapi sikapnya seperti itu. Sepertinya wali kelasnya harus memberikan pelajaran juga untuk orang tuanya."

Bersamaan dengan itu, Sehun masuk ke dalam ruang guru, diikuti Jongin di belakangnya. "I'm Jeno's parent." Raut wajah yang datar, suara yang rendah dan aura yang gelap mampu membuat siapa saja takut pada Sehun. "Maaf, saya terlambat."

Guru-guru itu gemetar dengan hanya melihat Sehun dan mempersilahkan Sehun untuk duduk.

"Jeno adalah pelajar yang berbakat, Ia menjadi harapan untuk sekolah kita." Ujar guru itu memulai percakapan.

Sehun yang duduk bersandar di sofa hanya mendengarkan perkataan itu. Sedangkan Jongin yang berdiri di belakang Sehun hanya membaca catatan milik Jeno dan Jaemin.

"Namun akhir-akhir ini nilainya menurun dan beberapa kali membuat masalah di sekolah. Kami takut hal ini berpengaruh buruk untuk masa depannya." Lanjut guru itu.

Sehun tertawa.

Seluruh ruangan tertuju padanya.

"Ah, sorry." Sehun berdeham. "It's kinda funny." Sehun mengembalikan ekspresi wajahnya yang datar dan gelap, "Kalian mengharapkan seorang pelajar untuk membawa nama baik bagi sekolah tapi tidak bisa memberikan timbal balik yang menguntungkan?"

Guru-guru yang ada di ruangan itu tercengang dengan perkataan Sehun.

Sehun kemudian berdiri, "Terima kasih atas perhatianmu terhadapnya. Tapi Ia tahu apa yang Ia lakukan. Aku akan bertanggung jawab terhadapnya."

Sehun berjalan meninggalkan ruangan itu. Koridor sekolah yang sepi saat Ia datang tadi sudah dipenuhi oleh pelajar-pelajar yang sudah menyelesaikan jam belajarnya.

"Sangat tinggi..."

"Siapa itu?"

"Wajahnya familiar."

"Seorang artis?"

"Sangat tampan!"

Semua orang yang ada di koridor itu menatap Sehun dan Jongin. Aura dari seorang Sehun memang tidak bisa dipungkiri.

Setelah sampai di pintu gerbang sekolah, Jeno dan Jaemin serta tiga orang lainnya sedang berbincang dengan Ex'Act Line yang baru saja sampai setelah menyelesaikan urusannya.

Sehun menghampiri Jeno, "Aku mungkin tidak peduli apa yang kau lakukan," Sehun menarik rokok yang ada di mulut Jeno, "tapi kau tidak diperbolehkan merokok di area sekolah."

Rokok itu kemudian berpindah ke mulut Sehun. Sehun menghisapnya dalam.

"Sebaiknya kalian pulang." Ujar Sehun.

"Aku masih harus membersihkan lapangan sebagai hukuman." Jawab Jeno.

Sehun menganggukkan kepalanya kemudian mengelus kepala Jeno dan Jaemin bergantian.

"Boss, bolehkah aku meminjam Lucas hyung?"

Sehun menaikkan alisnya, "Untuk apa?"

"Untuk membantu membersihkan lapangan." Jeno menyeringai.

.

.

.

Hari sudah mulai gelap, Jeno berjalan di sebuah jalan yang cukup ramai. Tidak lama Ia berbelok di gang yang sempit dan gelap.

"Melempar bola bisa menyebabkan orang lain terluka. Apa kau bisa bertanggung jawab akan hal itu?" ujar Jeno.

Di ujung gang itu berkumpul sekitar sepuluh pelajar.

"Bukankah Jaemin baik-baik saja?" Ujar seseorang yang duduk di sebuah kursi. "Take it easy."

"Jika sasaranmu adalah aku, maka jangan pernah menyakiti orang-orang di sekitarku. Aku menolak masuk kelompokmu karena aku bukan pecundang sepertimu." Jeno mendekat pada orang itu.

"Shut up!" Orang itu melayangkan tangannya hendak memukul Jeno, namun terhenti.

Sebuah tangan besar menggenggam erat tangan orang itu.

"Oww... ah!" Orang itu merintih kesakitan, Lucas menggenggam tangannya dengan kuat.

"Kau yang seharusnya santai." Ujar Lucas.

"Lepaskan! Siapa kalian?"

Di belakang Lucas juga ada Baekhyun dan yang lainnya.

"Shhh... Entahlah, apakah ini sebanding dengan melawan bocah ingusan seperti kalian." Ujar Baekhyun yang ikut mengawasi Lucas dan Jeno.

"Hari ini, aku hanya memberikan gertakan kecil untukmu." Jeno kemudian mengambil bola dari Lucas dan melemparnya tepat di wajah orang itu berulang kali hingga wajah orang itu babak belur. "If you fuck around again, orang-orang di belakangku tidak akan berbuat baik sepertiku."

Jeno kemudian pergi, diikuti yang lainnya.

.

.

.

"Jadi, Jeno dan Jaemin itu disponsori oleh Sehun?" Jongin membuka percakapan.

Jongin. Ex'Act Line dan Jeno-Jaemin sedang berkumpul di salah satu cafe setelah menyelesaikan masalah Jeno. Mereka menghabiskan waktu di kota sebelum kembali ke rumah Sehun.

"Ya seperti yang kujelaskan sebelumnya, Sehun mensponsori banyak remaja. Namun tidak semua terdaftar atas namanya. Contohnya seperti Jaemin. Walinya adalah aku." Jelas Baekhyun.

Jongin menatap bingung, "Kenapa seperti itu?"

Baekhyun menggaruk kepalanya, bingung, "Kau tahu, Sehun memiliki usaha yang besar. Tidak jarang Ia memiliki lawan bisnis bahkan musuh dari berbagai kalangan. Kalau terlalu banyak memakai nama Sehun, anak-anak ini bisa dalam bahaya dan bisa mempengaruhi Sehun juga."

Jongin mengganggukkan kepalanya. Lalu termenung, apa aku juga bisa dalam bahaya? Jongin kemudian tersenyum, mana mungkin! Aku bukan siapa-siapa untuk Sehun.

.

.

.

"Ada apa dengan wajahmu?" Seorang pria berbadan tinggi dengan pakaian jas rapih datang.

Seorang pelajat yang wajahnya terluka itu memalingkan wajahnya, "Tidak apa-apa, hyung."

Pria berjas itu menatapnya tidak puas.

"Aku hanya ingin memberi pelajaran pada Jeno. Aku sudah tidak tahan dengan kelakuannya, seolah memiliki segalanya!"

BUG!

Pria berjas itu melayangkan tinjunya tepat pada perut pelajar tadi dan membuatnya jatuh tersungkur.

"Kau tahu? Tugasmu hanya untuk mengawasinya. Kau tidak berhak mencari masalah!" Pria itu kemudian membuang ludahnya tepat di wajah pelajar yang babak belur tadi. "Aku harap sikapmu yang ceroboh ini tidak diketahui oleh Sehun! Jika itu terjadi, kau akan segera mati ditanganku!"

Pria tadi menendang perut pelajar tadi kemudian melempar sebuah kantong plastik yang berisi narkoba.

"Ini tugas untuk kalian minggu ini dan uangnya harus diserahkan padaku akhir minggu!" Pria berjas itu kemudian meninggalkan kumpulan pelajar tadi.

.

.

.

Shtpnk's memo:

[1] Ex'Act Line – /ig'zakt/: accurate or correct in all details, /līn/: narrow mark. Adalah nama grup untuk anak buah Sehun, termasuk anggota EXO (Baekhyun, Chen, Xiumin, Lay) dan NCT127/U (Taeyong, Yuta, Johnny, Lucas, Mark, Jaehyun, Haechan, Jungwoo, Doyoung, Taeil). Suho tidak termasuk karena hanya teman Sehun, DO adalah dokter jadi tidak termasuk dalam kelompok ini, Lay berdomisili di China. NCTDream belum masuk ke dalam kelompok Sehun karena masih pelajar.