KISS ME, KILL ME: chapter 15

"It's been 4 years." Seorang pria menyapa seseorang yang baru saja masuk ke ruangannya. "Aku kira kau sudah mati di penjara. Bagaimana mungkin kau berani untuk datang setelah membawa nama kami di dalam kecerobohanmu, Luhan?" Pria itu menyandarkan tubuhnya di sofa.

"It's been a long time, Mr. Jang Ki Yong." Luhan menundukkan wajahnya.

Jang Ki Yong berdiri dan menghampiri Luhan. Ia mengangkat dagunya, "Jalang!" Jang Ki Yong meremas dagu Luhan, "Aku membiarkanmu masuk bukan karena aku peduli padamu. Aku hanya bosan."

Luhan menatap mata Jang Ki Yong.

"Aku dengar kau satu penjara dengan Sehun dan kau sempat menjadi pelacurnya?" Jang Ki Yong berjalan kembali ke sofa.

"Ia memilih orang lain..." Jawab Luhan lirih.

"Kenapa tidak kau pertahankan? Jika kau bertahan menjadi pelacurnya, maka aku akan memaafkanmu karena penghianatan yang telah kau lakukan."

"A-aku datang kesini untuk berdamai. Aku mendapatkan ide untuk membantumu menghancurkan Sehun." Ujar Luhan dengan semangat.

Luhan lalu memanggil Ahn Bo Hyun masuk dan memperkenalkannya pada Jang Ki Yong.

"Sehun memiliki mainan baru. Mereka sudah kenal sejak dipenjara, dan pria ini," Luhan menunjuk pada Ahn Bo Hyun, "Ia ingin mengambil mainan itu kembali di sisinya. Kau bisa menjadikan ini sebagai senjata karena aku yakin mainan itu penting untuk Sehun."

Jang Ki Yong menaikkan satu alisnya, "Maksudmu Kim Jongin?"

Luhan dan Ahn Bo Hyun terkejut, tidak menyangka bahwa nama Jongin sudah terdengar di telinga Jang Ki Yong.

"Sayang sekali, aku menyukai pria itu. Ia adalah tipeku. Sebenarnya, aku sudah bertemu dengannya beberapa kali. Dan sepertinya Ia memiliki pesona yang membuat setiap orang ingin memilikinya." Jang Ki Yong berhenti sejenak, "Tapi kalian membuatku menginginkannya kembali."

.

.

.

Di siang hari, Jongin masih termenung karena Ahn Bo Hyun. Ia mengurung dirinya di kamar.

Kenapa hidupku seperti ini?

Jika dulu aku melakukannya dengan benar...

Ia tidak akan pernah kembali

"Aku harus menyelesaikannya. Kali ini..."

Aku akan menyingkirkannya.

Lalu...

"Lalu apa yang akan kau lakukan?" Sosok Jongin kecil berbicara di sampingnya.

Jongin termenung.

"Semua orang sudah mengetahuinya sekarang. Kau tidak akan bisa tinggal bersama dengan mereka lagi."

"Diam."

"Kau benar-benar ingin melakukannya? Lagi?"

"Berhenti!" Jongin menangis.

"Jika kau membunuh, apa kau akan merasa bahagia?" Tanya Jongin kecil.

Jongin berhenti menangis. Ia sudah membulatkan tekatnya.

.

.

.

"Hei, akhirnya kau datang juga," ujar Ahn Bo Hyun.

Di sebuah gang sempit, Ahn Bo Hyun menunggu Jongin untuk datang.

Dengan bantuan Mark, Jongin berhasil melacak keberadaan Ahn Bo Hyun.

Di malam yang dingin, Jongin sampai di kota, sendirian. Ia melarikan diri dari pengawasan Sehun.

Jongin menatap Ahn Bo Hyun yang ada didepannya.

Hari ini...

Aku tidak melihat apapun.

Tidak mendengar apapun.

Aku hanya ingin menghirup udara segar.

Sekali saja dalam hidupku.

"Aku percaya kau pasti datang," Ahn Bo Hyun berdiri dari duduknya. "Tidak kusangka, kau bisa menemukanku secepat ini."

Jongin masih menatap Bo Hyun.

"Ah, dimana teman-temanmu?" Bo Hyun pura-pura peduli dengan Jongin.

Kenapa?

Kenapa bajingan seperti dia harus tetap hidup di dunia ini?

Jongin merogoh saku belakangnya, mengeluarkan pistol dan mengarahkannya pada Bo Hyun.

"Wow, kau kira kau bisa membunuhku dengan mainan itu?" Ahn Bo Hyun tertawa.

Jongin menarik pelatuk dan menembakkannya ke sembarang arah.

Bo Hyun terkejut karena itu adalah pistol asli.

"Aku akan membunuhmu dan membiarkan mayatmu dimakan oleh anjing!" Teriak Jongin.

"Sial! Coba saja jika kau berani!" Ahn Bo Hyun marah dah berlari mendekati Jongin.

Jongin terkejut dengan aksi Bo Hyun yang tiba-tiba, Ia tidak sengaja menembak peluru lagi dan berhasil mengendai pundak Bo Hyun.

"Dasar jalang! Jangan bermain-main denganku! Kau menembakku!" Bo Hyun menepis tangan Jongin, menjauhkan pistol itu dari Jongin. Ia menjambak rambut Jongin dan menamparnya. "Aku pikir kau harus diberi pelajaran dari awal lagi, kau mulai membangkang!"

Jongin terus meronta, namun tangannya berhasil di kunci oleh Bo Hyun.

"Tolong–" Jongin mencoba teriak tapi mulutnya segera ditutup oleh tangan Bo Hyun.

"Kau benar-benar perlu kuberi pelajaran!" Bo Hyun memasukkan dua jarinya ke mulut Jongin, menekan lidah Jongin agar Jongin tidak berbicara.

"Rasakan ini, manis. Dulu kau dengan senang hati membuatnya basah agar aku bisa mempersiapkan lubang nakalmu dengan baik."

"Uh geh! Hah guah!" Jongin terus mencoba untuk berteriak. "Ugh!" Jongin mulai kehabisan napasnya.

Ahn Bo Hyun mengeluarkan jari-jarinya, membiarkan Jongin menghirup udara sebanyak-banyaknya.

Ahn Bo Hyun terpaku melihat Jongin dengan ekspresinya yang tersiksa. Air liur dan keringat memenuhi wajahnya, membuatnya terlihat seksi dibawah cahaya bulan.

"Semakin aku melihat wajahmu, semakin aku mengingat wajah Ibumu." Bo Hyun mengelus pipi Jongin, "Kau berhasil membuatku mengingat masa lalu kita yang menyenangkan." Bo Hyun tertawa senang.

Jongin mengibaskan tangannya, sebuah pisau menancap di perut Bo Hyun.

"Shit!"

Karena lengah, Bo Hyun tidak sempat membaca pergerakan Jongin.

Jongin berdiri, "Aku tidak pernah mengerti kenapa sampah sepertimu tetap hidup di dunia ini. Kau memiliki hidup yang malang, tidak akan ada orang yang mencintaimu." Jongin memberanikan dirinya. "Kau tidak punya seseorang yang sangat ingin kau lindungi, kan?" Tanya Jongin. Ia berjalan mendekat ke Bo Hyun, "Sesuatu yang berharga dan sangat ingin kau lindungi bahkan kau rela menyerahkan nyawamu untuk melindunginya..." Jongin mengangkat kakinya dan menginjak luka bekas tusukan di perut Bo Hyun. "Aku punya."

Bo Hyun merintih kesakitan.

"Setelah aku dipenjara, karena membunuh Ibu dan Adikku sendiri, aku mencoba melupakanmu. Aku belajar satu hal yaitu hidupku bukanlah sesuatu yang sial... Ada banyak orang baik yang peduli di sekitarku. Aku menemukan tempatku berada. I'm blessed." Jongin berdiri tegak. "Melihatmu seperti ini semakin meyakinkanku bahwa kau hanyalah sampah di dalam hidupku."

Ah Bo Hyun tertawa keras. "Lucu sekali. Perkataanmu lah yang sampah!" Bo Hyun berdiri dengan susah payah. "Aku hanya ingin bertanya satu hal padamu... Bagaimana caramu hingga kau bisa berhubungan dengan OSH Cooperation?"

Jongin terkejut.

"Aku tidak pernah menyangka bahwa kau akan dilindungi oleh perusahaan besar seperti itu. Aku harap kau memberitahuku yang sebenarnya. "Bo Hyun tersenyum.

"Ba-bagaimana kau bisa tahu itu?!" Jongin berteriak.

"Itu tidaklah penting... Tapi kau benar-benar sukses, menggoda seorang pengusaha dan mafia muda hanya untuk mendapat hartanya, kan? Akan kuberi tahu, kau harus meninggalkannya. Aku menemukan sponsor yang bisa menopang hidupmu lebih baik." Ujar Bo Hyun mendekat pada Jongin. "Aku yakin, Ia akan memperlakukanmu lebih baik."

Apa maksud semua ini? Jongin bertanya dalam hati.

"Ah, kebetulan sekali." Bo Hyun memandang belakang Jongin.

Lima orang pria mendekat ke arah mereka. Karena cahaya yang sedikit, Jongin tidak bisa melihat jelas siapa pria-pria itu.

"Aku tahu kalau kau akan menghancurkanku malam ini. Tapi apa kau pikir aku menunggumu dengan cuma-cuma?" Ahn Bo Hyun tersenyum licik.

"Yo..." Sebuah suara tertangkap di telinga Jongin, "It's been a long time, Jongin."

Jang Ki Yong!

Ia melangkahkan kakinya mendekati Jongin, "Kasihan sekali," Jang Ki Yong mengusap pipi Jongin, "pipimu memerah."

"Jangan sentuh aku!" Jongin mengibaskan pisaunya ke arah Jang Ki Yong.

Jang Ki Yong tersenyum, "Interesting! Kau sudah berubah menjadi lebih agresif. Aku menyukainya." Ia tersenyum licik.

Jongin terkejut.

Jang Ki Yong memberi isyarat pada anak buahnya, tidak lama mereka menahan Jongin. menutup mulutnya dan mengunci tubuhnya.

"Relax, babe. Akan kupastikan untuk tidak melepasmu lagi." Jang Ki Yong memutar tubuhnya, hendak pergi meninggalkan tempat itu hingga berhenti karena Ahn Bo Hyun memanggilnya.

"Kesepakatan kita!" Teriak Bo Hyun mengingatkan.

"Ah benar! Aku hampir melupakannya," Jawab Jang Ki Yong. Ia meraih pistolnya dan dengan cepat menembakkannya ke arah Ahn Bo Hyun.

Ahn Bo Hyun jatuh seketika.

Jongin terkejut dengan aksi itu.

"A-apa yang kau lakukan... Ini tidak... seperti yang kita sepakati...!" Bo Hyun bicara terbata-bata karena menahan sakit di perutnya yang terkena peluru.

Jang Ki Yong tertawa, "Kau salah memilih partner, Mr. Ahn. Aku sudah bilang jika aku tertarik dengannya bukan? Aku tidak akan membiarkan orang yang menginginkannya untuk hidup."

"Sial!" Darah segar mulai membasahi pakaian Ahn Bo Hyun dan juga keluar dari mulutnya. Ia terus merintih kesakitan.

"Jongin," Jang Ki Yong beralih ke arah Jongin, "Aku yakin kau sudah dilatih menggunakan pistol bukan? Ini..." Ia menyerahkan pistol itu pada Jongin. "Kau bebas melakukan apa yang kau mau." Jang Ki Yong tersenyum.

Jongin terpaku, pikirannya bercabang.

"What's wrong?" Tanya Jang Ki Yong, "Bukankah kau sangat ingin membunuh orang ini? Kau datang kesini untuk itu kan?"

Jongin menatap pistol Jang Ki Yong dan Ahn Bo Hyun bergantian.

"Kau hanya perlu menembakkan peluru di kepalanya. It's simple!"

Jang Ki Yong menyerahkan pistol itu pada Jongin. Namun Jongin tidak kunjung bergerak.

"Jangan bilang kalau kau masih mencintainya?" Jang Ki Yong pura-pura terkejut.

Badan Jongin bergetar. Mencintainya? Tidak mungkin!

Jongin merebut pistol dari Jang Ki Yong dan mengarahkannya pada Ahn Bo Hyun.

"That's my babe!" Jang Ki Yong menyandarkan dagunya di bahu Jongin dan berbisik tepat di telinganya, "Kau akan menyerang kepalanya? Atau mungkin dadanya? Ingat apa yang Ia lakukan padamu. Kesempatan ini tidak datang dua kali."

"Tidak..." Ahn Bo Hyun memohon lirih. "Hentikan Jongin!"

"Jangan goyah!" Teriak Jang Ki Yong.

DUAR

Jongin yang terkejut tidak sengaja menembak pistol itu.

Matanya terpejam.

Hening.

Gelap.

"Good job!" suara Jang Ki Yong menyadarkan Jongin.

Ia membuka matanya dan melihat Ahn Bo Hyun didepannya dengan kepala yang berlubang. Penampakan didepannya sungguh mengerikan.

"Sekarang..." Jang Ki Yong mengelus pipis Jongin, "Let's go home, Kim Jongin."

Jongin menatap mata Jang Ki Yong.

"Mulai sekarang," Jang Ki Yong mendekatkan wajahnya ke arah Jongin, "kau adalah milikku."

Jang Ki Yong mencium Jongin lembut di bibirnya. Ia membawa tubuh Jongin semakin mendekat.

Jongin yang bingung tanpa sadar memejamkan matanya.

.

.

.

Shtpnk's memo:

Yeah, Luhan and Jang Ki Yong join forces. I'm sorry y'all :')

Thank you for supporting me :)