Luhan terdiam, belum selesai dia menikmati moment bahagianya dengan Sehun kemarin kini ia dihadapkan lagi dengan permasalahan Kyungsoo. Dia ingat akan keputusannya yang sudah diambilnya dengan matang. Sebelum mendengarkan kata-kata yang menyakitkan dari bibir Sehun tentang kehamilan Kyungsoo lebih baik Luhan yang memulai pembicaraannya.
"Oppa.. ada hal penting yang ingin aku bicarakan juga denganmu" sergah Luhan.
"Ne.. kau dulu yang bicara"
"Emm.. Oppa.. sebenarnya...
"Hmm?"
"..."
"kau ingin bicara apa Lu?" tanya Sehun lembut.
"Menikahlah dengan Kyungsoo"
.
.
"Ma-maksudmu Lu?"
Luhan menutup matanya sekejap, menghembuskan nafas perlahan dan kemudian kembali menatap Sehun dalam, matanya sarat akan kesedihan.. kesakitan dan cinta. Meski begitu dia tetap bertekad dengan keputusan yang sudah diambilnya. Bahkan dia sudah memikirkan ini selama berhari-hari.
"Maksudku.. aku bersedia dimadu Oppa" lirih Luhan menundukkan kepalanya. Isakannya tertahan dan mungkin sebentar lagi air matanya akan mengalir karena matanya sudah berkaca-kaca. Jelas saja wanita mana yang rela dan tidak sakit hati jika suami yang dicintainya harus ia bagi dengan wanita lain. Sungguh bermimpipun Luhan tidak akan sudi. Tapi memikirkan janin yang ada ditubuh wanita itu membuatnya melakukan ini semua, sebagai seorang wanita dia tidak akan tega melihat seorang anak yang tidak bersalah mendapat cacian dari dunia karena tidak memiliki ayah. Luhan tidak sekejam itu.
"A-APA?!" Sehun tersentak dengan penuturan Luhan. Bahkan dia sama sekali tidak berfikir sejauh itu, dia hanya akan meminta bantuan Luhan untuk permasalahannya dengan Kyungsoo, tapi bukan jawaban ini yang Sehun harapkan.
"Apa kau gila Lu?! Ma-maksudku kenapa kau sampai berfikir sejauh itu?!" bentak Sehun emosi.
"Lalu apa yang harus kulakukan Oppa?! Kau telah menghamili seorang wanita dan aku harus diam saja? Begitu? Kau fikir aku tidak sakit dengan keadaan ini? Hiks.. aku sangat sakit Oppa ! sangat sa-sakit Hiks .. bagaimanapun kau adalah suamiku ! aku tidak akan rela membagi dirimu dengan wanita lain ! tapi aku juga tidak bisa mengabaikan anak yang ada didalam kandungannya !"
"..."
"aku...aku mencintaimu Oppa .. sangat ! selama ini aku bertahan karena aku tidak ingin membuatmu membenciku Hiks... aku berusaha terlihat baik-baik saja agar kau tidak meninggalkanku. Saat ini aku benar-benar lelah untuk bersembunyi lagi. Maaf tapi aku tidak bisa lagi berbohong dengan perasaanku Oppa Hiks.." Luhan segera berlari kekamarnya dengan wajah yang berderai air mata. Sungguh pemandangan yang menyakitkan bagi Sehun. Bagaimanapun tidak pernah terbesit dalam benak Sehun untuk membuat Luhan menangis seperti ini.
Sehun hanya melihat iba Luhan, hatinya berkecamuk dengan keadaan rumit yang sudah ia ciptakan. Bahkan Luhan tidak pernah bersikap seperti itu, yang paling membuatnya terkejut adalah pernyataan cinta Luhan yang benar-benar membuatnya tak percaya. Selama ini Sehun kira Luhan benar-benar bersikap sebagai teman, tapi ternyata dia memiliki perasaan lebih. 'apa yang harus kulakukan saat ini?' fikirnya. Yang pasti untuk saat ini tujuannya hanya ingin menenangkan Luhan.
.
.
Cklek
Pintu kamar Luhan terbuka menampilkan Luhan yang sedang meringkuk diatas ranjang mereka. Masih terdengar isakan-isakan dari mulut manis yang pernah ia cicipi itu. Rasa bersalah semakin menyeruak kedalam hatinya. Entahlah apa ini karena itu atau karena hal lain. Yang pasti hatinya kini ikut sakit melihat Luhan terluka. Sehun berjalan mendekati Luhan, tubuhya bergetar dilihatnya wajahnya yang terpejam namun masih mengeluarkan air mata dengan deras, dia menggigit bibir bawahnya seperti menahan rasa sakit yang mendera dihatinya. Tidak.. tidak bisa lagi Sehun tidak bisa melihat Luhan seperti ini. Diraihya tubuh Luhan kedalam dekapannya dan ia sandarkan di dada bidangnya. Dipeluknya erat tubuh rapuh itu, tangisnya pecah kala mengingat ia telah menghancurkan hati Luhan... wanita yang sangat baik.
"Mianhae.. Hiks .. Mianhae Lu.. Hiks" Sehun terisak membuat Luhan kaget karena perlakuan tiba-tiba Sehun dan menangis? Sehun menangis karenanya? Bukannya mereda mendengar isakan Sehun tangisan Luhan justru semakin kuat dia menumpahkan segala kepahitan dan kesakitan yang selama ini ia rasakan. Bahkan ia sampai meraung-raung dan membuatnya sesegukan disela tangisnya. Satu hal yang Sehun sadar, dia telah membuat luka yang sangat dalam dihati Luhan.
"Se-...Hiks hunh.. Sa-sakit.. Hiks.. sa-sakit se-sekali Hiks hatiku, a-aku serasa Hiks ingin mati Se-Sehunh Hiks.."
"Mianhae.. Hiks .. jebal.. jangan Hiks bicara seperti itu.. Hiks"
"To-tolong Hiks... tolong aku Se-Sehun.. Hiks aku tidak tahan Hiks.."
"Mianhae Lu.. Mianhae... Hiks .. aku berjanji akan membahagiakanmu.. Hiks.. jebal jangan seperti ini.. kau membuatku takut... Hiks"
"ARRGGHH Oppa Hiks Oppa...ssakit Hiks"
"Lu... jebal Hiks"
.
.
.
Mereka terus dalam posisi seperti itu selama satu jam lebih. Semua kepahitan akan keadaan sebelumnya akhirnya bisa tersampaikan. Setidaknya hati mereka sedikit lega walau mereka masih tidak tahu harus melakukan apa kedepannya. Kini mereka berbaring diranjang dengan Sehun yang mendekap erat Luhan dan tak henti-hentinya mengecup pucuk kepala Luhan yang terlelap. Dilihatnya wajah Luhan yang memerah dan sembab, jejak air mata masih terlihat dipipi mulusnya, dielusnya pipi itu dengan halus tak ingin membuat wanita itu terbangun dan kembali menangis, mengingat Luhan yang seperti tadi membuatnya kembali menitikan air matanya. Pria itu menahan isakannya tak ingin melihat Luhan membuka matanya lagi. Tak peduli jika matanya kini juga terlihat membengkak karena aksi menangis bersama sang istri. "Mianhae... hanya itu yang bisa kukatakan padamu Lu.. Hiks maafkan aku yang menyakitimu hingga sedalam ini.. Hiks, aku berjanji aku akan membahagiakanmu setelah ini Hiks.. mianhae.. aku tidak akan menyakitimu lagi.. Hiks kumohon bertahanlah untukku, meski aku tidak tahu apa yang kurasakan padamu tapi aku sangat menyayangimu Lu.. sangat.. Hiks tidurlah aku akan melakukan apapun untuk membahagiakanmu besok" Sehun kembali mengecup bibir Luhan dalam.. sangat dalam... menyalurkan perasaan sayang dan bersalah lalu beralih pada keningnya. Dengan mata terpejam masih dengan bibir yang menempel didahi Luhan Sehun kembali meneteskan air matanya. 'Jalja Baby...' bisiknya. Iapun ikut terlelap bersama Luhan karena sudah kelelahan menangis.
.
.
.
Sinar mentari masuk melalui celah-celah jendela kamar yang kini tengah terbaring sepasang insan yang masih terlelap. Obsidian hitam itu perlahan terbuka, pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah cantik istrinya yang kini masih berada dialam mimpinya, mungkin Luhan benar-benar kelelahan. Sejujurnya Sehun tidak bisa tidur nyenyak semalaman, beberapa kali ia terbangun takut Luhan meninggalkannya. Entahlah mungkin karena ia merasa bersalah jadi ia takut akan tindakan Luhan yang mungkin tak terduga. Melihat wajah polos istrinya ia merasa damai. Terbesit dibenaknya rasa yang tercipta saat ia menyentuh bibir plum istrinya 'manis' fikirnya. Namun Sehun segera menepis fikiran itu 'Ohh ayolah Sehun kau bahkan baru bisa menciumnya jangan meminta hal lebih pada Luhan, hilangkan fikiran mesummu ini masih pagi.. keadaan yang tidak tepat jika harus meminta ekhem sesuatu pada Luhan'. Saat sedang menatap Luhan tiba-tiba kedua mata rusa itu terbuka. Sesaat pandangan mereka bertemu saling menatap dalam, tidak ada yang ingin melepaskan pandangan itu. Keduanya seolah tersedot kedalam mata masing-masing. Baru saja Sehun akan mengalihkan pandangannya tiba-tiba ia merasakan tangan halus menulusuri wajahnya.
Cup..
"Morning Kiss nae nampyeon" ujar Luhan tersenyum lembut, entah kenapa rasa malunya tiba-tiba hilang setelah kejadian kemarin. Yaa Luhan masih mengingat dengan jelas kejadian semalam bagaimana Sehun yang berkali-kali menciumnya untuk meredakan tangisan Luhan.
"Mian..." lirih Sehun, kembali ia mendekap Luhan dan mengelus rambut hingga punggung Luhan membuat si empunya merasa nyaman seolah melupakan apa yang telah terjadi diantara mereka.
"kau tidak bekerja?"
"Aniyo.. aku sedang ingin bersamamu" wajah Luhan bersemu merah mendengar ucapan Sehun yang tiba-tiba. Terbesit rasa bahagia dihatinya karena Sehun yang merelakan pekerjaannya untuk dirinya.
"ingin bersamaku atau kau malu jika kekantor dengan wajah bengkak seperti itu?" ejeknya.
"kekeke mungkin itu salah satunya" jawab Sehun membuatnya mendapatkan pukulan didadanya.
"Menyebalkan !"
Kembali keheningan menyelimuti mereka, bahkan matahari sudah terbit 1 jam yang lalu namun kedua insan ini masih enggan untuk bangkit dari tempat tidur hangat mereka.
"Sehun.."
"Hmmm?" gumam Sehun.
"soal Kyungsoo..."
"bisakah kita membicarakan ini nanti sayang?" potong Sehun. Sebenarnya ia hanya tak ingin melihat Luhan menangis lagi seperti semalam.
"Sayang?" Luhan terperangah dengan panggilan Sehun padanya, benarkah panggilan itu untuknya?
"Ne.. panggilan sayangku untukmu.. kau akan memanggilku apa sayang? Hem?" tanya Sehun masih mengelus punggung Luhan.
"Sehunnie? Bolehkah?" tanya Luhan saat wajahnya mendongak untuk melihat Sehun.
Sehun tersenyum lembut melihat wajah manis Luhan dengan puppy eyesnya seperti anak anjing yang memohon. Inikah sisi manja Luhan? Bahkan baru kali ini ia melihatnya 'sungguh manis' batinnya.
"Tentu.. apapun untuku Baby.."
"Hunnie..."
"Hmm sayang?"
"Kyungsoo..."
"Sudah kubilang jangan membicarakan hal itu !" sentak Sehun membuat Luhan menegang. Kembali rasa bersalah menghampiri Sehun, entah kenapa ia menjadi sangat sensitif mendengar nama itu. Melihat Luhan yang sedang menatapnya kosong kembali ia memeluk Luhan erat.
"Mianhae.. Mianhae... aku tidak bermaksud membentakmu Lu, aku hanya tidak ingin melihatmu kembali menangis, maafkan kesalahanku maaf" ujar Sehun.
Luhan memeluk Sehun erat "Hei.. lihat aku" panggilnya. Perlahan Sehun melonggarkan pelukannya dan menatap Luhan. "aku sudah tidak apa-apa Sehun.. aku lebih tenang sekarang, terimakasih karena sudah menemaniku saat ini. tapi kita tidak bisa terus menundanya, bagaimanapun perut Kyungsoo akan semakin membesar bukan?"
"..."
"Sehun.. menikahlah dengan Kyungsoo"
"tidak ! kita akan mencari cara lain Lu.. aku tidak ingin kau meninggalkanku" lirihnya.
"Hei... suamiku yang tampan, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Apapun yang terjadi aku akan tetap berada disampingmu dan menemanimu"
"Ta-tapi Lu..."
"aku tidak ingin suamiku menjadi orang yang tidak bertanggung jawab. Jangan pernah kau menggugurkan bayi itu, dia tidak bersalah. Nikahilah Kyungsoo.. aku tahu kau sangat mencintainya"
"aku memang mencintainya dan ingin bersamanya Lu,, tapi tidak dengan menyakitimu seperti ini" ujar Sehun membuat Luhan lagi-lagi tersenyum lembut.
"aku tahu.. dan jika kau memang tidak ingin menyakitiku menikahlah dengannya.. hanya itu yang bisa membuatku tenang saat ini. Kau harus bertanggung jawab Sehun, dan bagaimanapun anak itu adalah anakmu dan anakku juga. Aku ingin menganggapnya sebagai anakku.. aku tidak bisa menelantarkannya. Karena itu.. madulah aku.." meski ia berucap seperti itu namun ia tidak bisa berbohong jika ia merasakan sakit masih menjalar dihatinya.
"Lu..."
"Shhh... kumohon Sehun~"
"tapi bagaimana dengan orang tua kita? Mereka pasti tidak akan menerimanya"
"biar aku yang bicara dengan mereka" jawab Luhan tenang. Kembali ia memeluk erat tubuh suaminya.
"Mianhae... telah mengecewakanmu Lu..." .
.
.
Keputusanku.. ya mungkin memang ini yang harus ku ambil demi mempertahankan keutuhan rumah tanggaku. Walau rasa cemburu itu selalu ada namun kurasa ini yang terbaik. Hatiku sudah terbuka untuk membagi suamiku dengan Kyungsoo.. dia adalah wanita yang dicintai Sehun, umurnya jauh lebih muda dariku beberapa bulan. Aku tidak ingin melihat kebelakang lagi. Aku tetap akan melihat kedepan, melihat keluargaku bersatu dan bahagia meski cinta kami harus terbagi, namun aku yakin Sehunku cukup bijak dalam membagi hati dan waktunya bagi kami nanti. aku percaya Kyungsoo adalah wanita yang baik dan tepat. Aku akan menganggapnya sebagai adikku sendiri dan akan menyayanginya karena aku tidak mempunyai adik yang bisa kumanjakan. Aku cukup bahagia saat ini.. kuharap ini adalah langkah yang baik bagi kami...
~ Oh Luhan ~
.
.
.
Hari itu Luhan dan Sehun tidak bekerja, saat ini mereka tengah mempersiapkan makan malam untuk keluarga mereka. Sebenarnya mereka ingin membicarakan rencana Luhan dan Sehun untuk menjadikan Kyungsoo istri kedua Sehun pada orang tua mereka. Sejatinya Sehun sangat berat dengan keputusan Luhan, namun jika memang itu yang Luhan inginkan dia akan melakukannya. Setidaknya itu bisa mengurangi rasa bersalahnya karena sedari tadi Luhan terlihat antusias. Sehun sangat heran baru saja Luhan menyatakan cintanya dan menumpahkan segala rasa sakitnya semalam, sekarang dia malah terlihat sangat bersemangat bahkan seperti tidak terjadi apa-apa. Sikapnya yang seperti itu justru membuat Sehun sangat khawatir. Didekatinya Luhan yang sedang menata makanan dipeluknya tubuh itu membuat Luhan terkejut.
Sehun POV
Kulihat dia sedang asyik berkutat dengan masakannya diatas meja. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini. Sebenarnya beberapa minggu ini aku sering memperhatikannya, aku sangat nyaman saat bersamanya. Hatiku juga senang kala dia mengurus diriku setiap saat, tersenyum padaku, dan berbaring disebelahku setiap malam. Aku sempat berfikir untuk memperbaiki hubunganku dengan Luhan saat itu, aku akan berusaha membuka hatiku untuknya walau aku masih belum yakin karena aku masih sangat mencintai Kyungsoo. Tapi saat itu aku benar-benar akan berniat meninggalkan Kyungsoo untuk Luhan.
Di restaurant hari itu aku sangat senang karena bisa menciumnya 'lagi'... ohh aku belum bilang jika sebenarnya aku sering mencium bibir Luhan saat ia tertidur. Bibirnya seolah candu bagiku semenjak hari pernikahanku dengannya. Aku benar-benar ketagihan sampai saat ini. Aku sangat senang karena hari itu aku menciumnya saat ia tersadar. Aku takut dia akan marah karena perlakuanku yang tiba-tiba, maka dari itu aku bicara padanya bahwa itu adalah akting semata demi rekan bisnisku. Yaa karena dia hanya menganggapku seorang teman aku takut dia marah dan meninggalkanku. Malam harinya aku berniat datang ke apartement Kyungsoo untuk menjelaskan semuanya dan memulai dengan Luhan, namun yang terjadi adalah aku melihat Kyungsoo yang tergeletak dilantai kamarnya dengan wajah yang sangat pucat. Aku sangat khawatir pdanya segera aku segera membawanya kerumah sakit bagaimanapun dia adalah orang yang berharga bagiku. Dan well hasilnya membuatku benar-benar tercengang. Entahlah aku harus merasakan apa, ada bahagia dan kesedihan hadir direlung hatiku secara bersamaan.
Aku menyesal... sangat menyesal karena berbuat hal itu pada mereka, 2 orang yang sangat kusayangi dan kucintai. Mereka pasti terluka karenaku.. aku terlalu bodoh dan pengecut. aku merasa berdosa pada Luhan hingga aku beberapa hari tidak pulang dan aku tahu sikapku itu hanya akan membuat Luhan semakin kecewa tapi aku tidak tahu harus berbuat apalagi, dan saat itu Kyungsoo membutuhkanku karena keadaannya yang kurang sehat.
Aku hanya mengambil dokumen penting untuk bertemu dengan Luhan, itupun sesaat. Dengan keadaan Kyungsoo yang tengah mengandung anakku tidak mungkin aku meninggalkannya, tapi aku juga tidak mau meninggalkan Luhan orang yang saat ini selalu menjadi perhatianku. Dan beberapa hari ini aku pulang kerumah karena aku merindukannya. Tapi semalam adalah malam yang buruk bagiku karena melihat Luhan yang seperti itu sungguh .. membuatku sangat sakit. Luhan benar-benar menangis dengan kerasnya membuatku merasakan kesedihannya walau dia tidak banyak bicara hingga membuatku ikut menangis karena aku tidak dapat menahan air mataku saat meihatnya terluka.
Sedalam itukah aku menyakitinya? Sedalam itukah luka yang kutorehkan padanya? TIDAK ! Aku tidak akan menyakitinya lagi. Aku ingin melihatnya bahagia, dia adalah wanita yang baik dan lembut, kurasa dia cukup baik untuk menjadi istri dan ibu bagi anak-anakkku kelak.
Sungguh dia membuatku sangat kagum, mulianya ia karena rela membagi suaminya dengan wanita lain, Luhan melihat keadaan itu dari sisi wanita dan seorang ibu, dia rela untuk kumadu mengenyampingkan rasa sakit hatinya demi janin yang ada ditubuh Kyungsoo. Tuhan... aku telah salah menyia-nyiakan malaikat sepertinya.
Aku ingin memeluknya ... sangat ingin...
"Se-sehunnie.. kau mengejutkanku" ketusnya. Dengan bibir yang mengerucut sungguh itu membuatnya semakin manis dan membuatku gemas.
"Baby... apakah harus hari ini? kita masih bisa menundanya sayang" ujarku, kuharap dia masih bisa merubah keputusannya karena aku tidak ingin menyakitinya semakin dalam.
"Sehun~ kita sudah membicarakannya berkali-kali.. lebih baik kau bersihkan dirimu sebentar lagi mereka akan sampai sana !" titahnya. Aku sangat gugup, orang tuaku dan mertuaku pasti sangat murka dengan keputusan ini. hahhh aku akan dengan ikhlas menerima hukuman dari mereka setelah ini, tapi aku akan menenang keras jika mereka menginginkan aku berpisah dari Luhan. Meski aku belum yakin dengan lhatiku, tapi aku yakin Luhan adalah wanita yang pantas untukku.
"Ne Baby... aku mandi dulu"
CUPP ... kucuri kecupan darinya membuatnya berteriak dan aku segera lari kekamar mandi daripada melihat amukannya kekekeke.
Sehun POV End
.
.
.
Luhan merona melihat perlakuan Sehun yang kini melembut padanya, bahkan ia bisa merasakan semua perhatian Sehun itu karena tulus dari hatinya. Ahhh sungguh melegakan akhirnya lelaki yang dicintainya itu kini menyayanginya. Ohh dan jangan lupakan sikap manisnya yang selalu membuatnya gugup saat ia menyentuhnya tanpa canggung seperti dulu. Ini benar-benar saat yang dinantikan oleh wanita itu.
Mengingat hal itu terbesit rasa sakit mengingat mulai saat ini ia harus mulai membagi suaminya dengan wanita lain..calon madunya Kyungsoo. Ada rasa kecewa memang namun ini sudah menjadi keputusannya.. ya Luhan tidak akan menyesali keputusannya saat ini. Luhan segera bersiap karena bel rumahnya sudah berbunyi pertanda orang tua mereka sudah datang.
"Selamat datang Eomoni Abeoji... Eomma Appa" Luhan menyambut 4 orang paruh baya itu dengan semangat.
"Hai sayang.. apa kabar?" Tanya Jaejoong setelah melepaskan pelukannya kepada menantu kesayangannya itu.
"Aku baik Eomonim.. ayo kita masuk"
Setelah acara saling menyapa mereka mulai menyantap makan malam buatan Luhan. Sungguh keluarga yang sangat harmonis yang diidamkan setiap orang. Melihat wajah-wajah kebahagiaan itu membuat Luhan sedikit ragu untuk mengutarakan niatnya. Luhan tersenyum kecut kala mengingat kebahagiaan mereka mungkin tidak akan seperti ini lagi kedepannya. Tapi seperti apa keadaan didepannya nanti dia akan tetap berusaha mempertahankan kehangatan keluarganya seperti ini.
Kini mereka semua sedang berkumpul diruang keluarga. Luhan dan Sehun terlihat sangat gugup. Melihat tangan Sehun yang kini bergetar membuat Luhan reflek untuk memegang tangannya. Diremasnya tangan yang lebih besar dari dirinya itu.. ditatapnya pemilik tangan itu dan ia beri senyuman terbaiknya membuat suaminya itu sedikit tenang.
"Appa.. Eomma.. Abeoji.. Eomoni... ada yang ingin aku dan Sehun katakan pada kalian semua"
"Ne sayang kau ingin bicara apa pada kami?" Jawab Yunho.
"A..Aku..."
"Apa kau hamil sayang?" tanya Jaejoong.
"A-Aniyo Eomma... A-aku.."
"Benarkah? Benarkah itu Lu" semangat Heechul.
"Apakah Abeoji akan mempunyai cucu Lu?" timpal Yunho. Mendengar respon mereka yang bersemangat membuat Luhan dan Sehun menegang. Bahkan berciuman dan berpelukan saja baru kemarin mereka lakukan. Haahh ini mungkin benar-benar akan membuat mereka sulit, bahkan para orang tua itu sudah mengharapkan seorang bayi diantara mereka.
"hei kalian bisakah kalian diam sebentar? Luhan bahkan belum mengutarakan apa yang mau ia bicarakan" ujar Hanggeng. "Nah Lu bicaralah sayang" lanjutnya.
"Se-sebenarnya..." belum sempat mengutarakan maksudnya Sehun sudah memotong ucapan Luhan.
"Sebenarnya aku menghamili seseorang"
"MWOO?!"
.
.
.
TBC...
.
.
Yeee udah tau kan sekarang Sehun itu seperti apa... aku kasian juga sama Lu harus menderita terus kekeke.. Chapter ini full Hunhan moment. Kalian suka? Aku berusaha menghibur chingudeul yang pada patah hati aja sama Sehun, tadinya mau aku buat sad lagi chapter ini tapi malah melenceng begini ceritanya.. sebenernya menghindari protes kelian sih ahahaha..
terima kasih tidak henti2nya aku ucapkan untuk dukungannya, dan maaf aku gabisa bales koment satu2. well badanku sebenernya lagi meriang.. ini aku maksain update buat para HHS yang setia menunggu, tapi aku gakuat kalo balas kalian satu2 karena badan aku udah lemes banget.. jadi aku harap kalian mengerti.
jangan lupa coment nya yaa…
