2 jam berlalu Luhan mulai menampakkan batang hidungnya, Jongin yang melihat segera manarik tangan Luhan ketempat yang lebih sepi. Luhan yang terkejut hanya mengikuti sahabatnya itu.

"jelaskan padaku !" bentak Jongin.

"Ma-maksudmu apa Jongin? tenanglah dulu" Luhan berusaha menenangkan Jongin yang benar-benar terlihat emosi.

"Bagaimana aku bisa tenang jika sahabatku ini banyak menyembunyikan sesuaru dariku !"

"Menyembunyikan apa mak…." Luhan terdiam mulai mengerti maksud Jongin.

"jangan bilang kau akan menceraikan Sehun demi wanita itu"

DEG

.

.

.

"Jongin.."

"Apa kau tidak pernah menganggapku sahabatmu Lu? kenapa kau tak mau lagi terbuka padaku?" keluh Jongin, wajahnya terlihat sendu karena bagaimanapun dia selalu terbuka dengan Luhan namun Luhan seperti menjauh darinya semenjak gadis itu menikah.

"Bukan begitu Jong.. aku hanya tidak ingin masalah rumah tanggaku terdengar sampai luar, aku juga tidak ingin selalu membebanimu dengan semua masalahku"

"Terserah.. yang pasti aku kecewa padamu Lu"

"Jongin dengarkan dulu penjelasanku" bujuk Luhan.

"Mian.. aku sibuk !" dengan tegas Jongin meninggalkan Luhan yang masih terpaku dibawah tangga itu. Meski ia tidak tega namun hatinya terlanjur marah karena sikap sahabatnya, tidak peduli jika Luhan saat ini memanggilnya berulang kali Jongin hanya ingin menenangkan fikirannya.

"Hiks Jonginnie… jangan tinggalkan aku Hiks, hanya kau yang kupunya… apa kau akan seperti mereka juga? meninggalkkanku? Hiks"

.

.

.

"Oppa…"

"Hmm?"

"Kapan kau akan bicara pada Luhan?"

"Kyungsoo-ya"

CKLEK

"Aku pulang" Luhan terdiam saat melihat Sehun dan Kyungsoo yang sedang berpelukan di sofa.

"Ahh Eonni.. kau sudah pulang" jawab Kyungsoo namun masih mempertahankan posisinya pada tubuh Sehun.

"Kyung bisa kau lepaskan? aku akan berbicara pada Luhan"

"Andwae ! Baby ingin sama Appa" manjanya pada Sehun.

Luhan tersenyum saat mendengar Kyungsoo mengucapkan kata-kata itu. "Gwenchana Sehunnie, kita bisa bicara disini. Lagi pula ada yang perlu kita sampaikan juga pada Kyungsoo" Luhan mendudukan dirinya disofa single dekat dengan mereka berdua.

"Kyungsoo… bagaimana keadaanmu? Apa kau tidak merasa sakit? setahuku kehamilan awal itu sangat menguras tenaga"

'Ckk.. kau mau pura-pura simpati terhadapku eoh? Dasar jalang ! aku tau kau hanya ingin mendapat perhatian Sehun Oppa' batin Kyungsoo

"sebenarnya Baby ingin terus bersama Appa nya eonni. Tapi Syukurlah karena Oppa mau menyempatkan waktunya untukku dan Baby hari ini"

Luhan kembali tersenyum dan tangannya mengelus perut Kyungsoo perlahan. Gadis itu tersenyum melihat perut yang masih rata milik wanita didepannya ini membuat Sehun dan Kyungsoo terheran.

"Heyy Baby.. jangan nakal ne. Kasihan Kyungsoo eomma, Appa pasti akan selalu menemanimu Eomma Lulu janji. Jadi baik-baik disana ne" ujar Luhan tulus. Meski hatinya selalu merasa sakit saat melihat Sehun dan Kyungsoo namun lain lagi saat dia berhadapan dengan bayi yang masih berada dalam kandungan Kyungsoo. Seperti ada dorongan untuknya menjaga ibu dan calon bayi itu. Luhan benar-benar ingin melihat bayi itu terlahir kedunia dengan sehat. Mungkin inilah yang disebut dengan naluri seorang ibu, meski bukan Luhan yang mengandung bayi itu namun Luhan merasa bahwa bayi itu ingin selalu bersamanya.

Sehun tersenyum melihat apa yang istrinya lakukan, hatinya menghangat mendengar semua perkataan tulus dari istrinya itu. Tangan besarnya ikut mengelus-elus perut Kyungsoo dan ditumpukkan diatas tangan Luhan. "Ne Baby.. Appa akan ada disisi Baby, jadi jangan buat Ibumu sakit ne" Luhan dan Sehun saling berpandangan dan melempar senyum, tentu saja hal itu membuat Kyungsoo meradang.

'Okke kuakui aktingmu sangat bagus Luhan, lihat saja sampai kapan kau akan bertahan dengan Oppa.. aku akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku'

"Eonni bukankah ada yang ingin kau bicarakan denganku?" Tanya Kyungsoo berusaha menghentikan adegan romantis yang tentu membuatnya sangat muak.

"Ahh ne.. Kyungsoo, kau akan menikah dengan Sehun Oppa"

"Jeongmal?" Tanya Kyungsoo tak percaya. Luhan tersenyum dan mengelus surai Kyungsoo lembut, sementara Sehun hanya memandang sendu istrinya.

"Tentu saja, kau ingin pernikahan seperti apa Kyungie?"

"aku ingin pernikahan yang sangaaaat mewah. Lebih mewah dari pernikahan kalian berdua" ucapnya polos, Luhan tersenyum getir mendengarnya.

"Baiklah, aku akan menyiapkannya untukmu Bummie, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan kehamilanmu jika kau terlalu lelah"

"Baiklah… tapi harus sesuai dengan intruksiku arrachi?"

"Kyungsoo ! jaga sikapmu !" hardik Sehun yang sudah jengah dengan kelakuan kedua wanita diepannya ini.

"Waeyo Oppa? bukankah wajar aku memintanya? Eonni kan berniat membantuku. Apa Oppa tidak ingin menikah denganku? tidak mencintaiku lagi?" Kyungsoo memandang Sehun dengan mata berkaca-kaca.

"Gwenchana Sehunnie, aku memang ingin membantunya" tulus Luhan berusaha meredakan Sehun yang sudah emosi. Dengan kesal Sehun melangkahkan kakinya pergi meninggalkan mereka berdua, hatinya kembali kacau saat membahas tentang pernikahan mereka. Sehun mengambil coatnya dan melangkahkan kakinya menuju keluar.

"Oppa kau mau kemana?"

"Kerumah Appa ada yang harus kubicarakan"

BRAAAKKK

Sehun membanting pintu dengan keras membuat kedua wanita itu terperanjat. "Ckk untuk apa Oppa kerumah mereka" sinis Kyungsoo.

"Kyungsoo.. tidak baik berbicara seperti itu, mereka akan menjadi orang tuamu juga" nasihat Luhan membuat Kyungsoo memaksakan senyumnya.

'ya… mereka akan menjadi orang tuaku, bukan orang tuamu tentu saja'

"Ahh ya eonni.. kapan kalian akan bercerai?"

DEG

Luhan terdiam, karena dia belum mengatakan jika Kyungsoo akan menjadi madunya. "Bummie.. sebenarnya …"

.

.

.

Sehun memarkirkan mobilnya dihalaman rumah milik sang ayah. Pria itu bergegas memasuki rumah mewahnya, disana ada sang ibu yang sedang menyiapkan makan malam untuknya dan suaminya.

"Eomma.." Sehun memeluk Jaejoong dengan erat, namun yang dipeluknya hanya diam tidak merespon.

"Mianhae… mianhae aku lagi-lagi mengecewakan Eomma. Kumohon jangan seperti ini Eomma"

"Lalu aku harus seperti apa?" tanyanya dingin, kembali tangannya menyimpan lauk-pauk dimeja makan dan dengan tanpa perasaan melepaskan pelukan anaknya begitu saja.

"Eomma.. aku tau aku tidak termaafkan tapi kumohon jangan diamkan aku seperti ini"

"Jika kau hanya ingin menggangguku pergi saja !" Bentak Jaejoong.

"Aku hanya ingin memberi kabar jika aku dan Kyungsoo akan menikah minggu depan. Aku harap Eomma akan menghadiri pernikahan kami"

"Dalam mimpipun aku tidak akan pernah sudi"

Sehun tertegun dengan sikap ibunya yang kini berubah drastis. Ibunya yang lembut, hangat dan selalu menuruti keinginannya kini menjadi wanita yang dingin. Dengan berat ia meninggalkan Jaejoong tanpa sepatah katapun dan bergegas menuju ruang kerja ayahnya.

"Appa…"

Yunho yang sedang sibuk dengan laptopnya menoleh lalu kembali lagi dengan pekerjaannya tanpa menyambut Sehun.

"Appa.. aku akan menikah dengan Kyungsoo minggu depan" ujar Sehun.

"Lalu? apa urusannya denganku?" Tanya Yunho dingin.

"Aniyo.. aku hanya memberitahu. Kalau begitu aku pergi Appa" belum sempat Sehun membuka pintu.

"Sehun.." panggil Yunho.

"Ne Appa"

"Aku hanya akan menganggap Luhan sebagai menantuku tidak ada yang lain, dan jika wanita itu menikah denganmu jangan sampai media mengetahuinya. Aku tidak ingin perusahaan yang sudah kubangun hancur begitu saja karena ulahmu" ujar Yunho ketus.

"Baiklah jika itu keinginan Appa, aku akan merahasiakannya"

"Dan anak itu, aku tidak akan pernah memasukannya pada calon pewarisku"

Sehun hanya diam menanggapi lalu membuka pintu dan keluar dari ruangan itu. Ia menghela nafasnya berat. Sungguh jika semua menjadi seperti ini Sehun benar-benar sangat menyesal. Pria kekar itu meninggalkan rumah orang tuanya tanpa berpamitan. Jaejoong yang melihat kepergian Sehun hanya menangis dalam diam, meski ia sangat marah pada Sehun namun Jaejoong tetaplah seorang ibu yang menyayangi anaknya. Namun rasa kecewanya terhadap Sehun membuatnya sedikit egois, dia ingin Sehun menyadari kesalahannya. Jaejoong tahu sebenanya Sehun menaruh hati pada menantu kesayangannya namun anaknya itu belum menyadarinya. Dan disaat dia merasa senang akan hal itu wanita gila itu datang dan menghancurkan kehidupan anak dan menantunya. Jaejoong menggeram marah, TIDAK ! Dia tidak akan membiarkan wanita itu senang atas keberhasilannya menjadi menantunya yang lain. Dia tidak akan membiarkan wanita pengganggu itu merusak kebahagiaan keluarganya. Tidak akan pernah..

.

.

.

CKLEK

Sehun memasuki rumahnya yang sudah sangat sepi. Lapar yang sedari tadi ia rasakan tidak dihiraukannya. Sehun hanya ingin cepat tidur dan memeluk Luhan yang selalu membuatnya merasa tenang. Saat membuka pintu kamar utama dirumah itu lampu sudah mati, namun karena terlalu lelah Sehun tidak peduli dan bergegas naik keranjang tanpa mengganti pakaiannya. Sehun memeluk tubuh ramping itu dengan erat dan mencium pucuk kepala itu berkali-kali. Pria itu menangis dalam diam ia bergumam maaf sebelum memejamkan kedua matanya.

Saat tengah malam Sehun terbangun karena dia sangat haus. Sehun menyalakan lampu meja untuk mengambil air yang sudah tersedia namun saat lampu itu menyala wajahnya tegang karena yang didepannya bukanlah istrinya.

"K-Kyungsoo?" gumam Sehun namun Kyungsoo masih terlelap dalam tidurnya.

"Kenapa Kyungsoo ada dikamarku dan…. Luhan? Lalu dimana Luhan?" Sehun terperanjat dan segera turun dari ranjangnya. Dibukanya satu persatu kamar dirumahnya, ia terkejut saat melihat Luhan tidur disalah satu kamar tamu yang cukup jauh dari kamar utama kini sedang meringkuk tanpa memakai selimut.

"Sayang.." panggil Sehun tapi gadis itu masih asyik memejamkan matanya. Tangan Sehun terulur menyentuh wajah Luhan, dielusnya wajah yang sangat cantik itu. Sehun tersenyum melihat polosnya Luhan saat tertidur 'seperti malaikat' katanya. Merasa ada pergerakan tanpa henti diwajahnya Luhan terbangun.

"Sehun ! se-sedang apa?" gugup Luhan.

"Heyy baby.. kenapa kau tidur disini heum? dan kenapa Kyungsoo tidur dikamar kita?"

"Ahh.. itu.. itu .. aku yang menyuruhnya. Aku tidak ingin Baby mencari Appanya malam-malam jadi aku ingin kau tidur bersamanya malam ini"

Wajah Sehun kembali mengeras, lagi dan lagi ! kenapa Luhan selalu memikirkan orang lain dibandingkan dengan dirinya sendiri. Kenapa dia tidak egois untuk memiliki Sehun untuknya seorang. Luhan yang melihat ketegangan itu beringsut memeluknya.

"Sehunnie gwenchana? mianhae aku tidak memberitahumu dulu. Karena Kyungsoo sudah sangat mengantuk begitupun aku jadi aku langsung menyuruhnya tidur dikamarmu"

"Kamar kita" koreksi Sehun.

"Sebenarnya itu akan menjadi kamarmu dan Kyungsoo Sehun"

Sehun memandang Luhan tajam membuat gadis itu menunduk dan tangannya bergetar, Luhan tau Sehun sangat marah padanya kini meski pernikahan mereka belum berumur sampai 4 bulan namun itu cukup bagi Luhan untuk mengenal Sehun. Pria tampan itu benar-benar tak menyangka jika Luhan sampai berbuat sejauh itu untuknya. Bukan apa, tapi hanya akan membuat Sehun semakin merasa bersalah dan semakin menyesal. Meski banyak sekali pertanyaan dibenak Sehun namun ia tidak ingin bertengkar dengan Luhan.

"baiklah jika itu maumu" Sehun pergi meninggalkan Luhan tanpa menoleh sedikitpun padahal gadis itu mulai meneteskan air matanya.

Setelah dikamar Sehun tidur dengan memunggungi Kyungsoo, entah mengapa tidur bersama Kyungsoo tidak senyaman seperti dahulu. Sehun bahkan tidak bisa tidur jika tidak dengan Luhan sekarang.

"Mianhae Luhannie…"

.

.

.

Luhan masih menangis dalam tidurnya, meski berkali-kali ia berusaha tenang namun tidak bisa menghilangkan rasa sakit, kecewa dan kegusaran hatinya.

Mianhae… hanya itu yang bisa kuucapkan. Jika maafku membuatmu bahagia maka aku akan meminta maaf sebanyak mungkin. Jika pengorbananku membuatmu tersenyum aku akan berkorban sesering mungkin. Hanya ini yang bisa kulakukan.. aku terlalu takut kehilanganmu sayang.. aku sangat takut…

Mianhae.. Saranghae…

~ Oh Luhan~

.

.

.

Flashback On

Luhan terdiam, karena dia belum mengatakan jika Kyungsoo akan menjadi madunya. "Kyungsoo.. sebenarnya …"

"Sebenarnya apa Eonni?" desak Kyungsoo.

"Sebenarnya aku tidak akan bercerai dengan Sehun, kau.. kau akan menjadi istri kedua Sehun"

PLAKKK

Pipi Luhan memerah karena tamparan dari Kyungsoo yang cukup keras. Kyungsoo benar-benar merasa dikhianati oleh Luhan.

"Tega sekali kau ! setelah merebut kekasihku kini kau akan membuatku dan anakku dicampakkan oleh Sehun Oppa ?! Begitu !" murka Kyungsoo. Luhan gelagapan dan berusaha menenangkan Kyungsoo namun sia-sia karena wanita itu telah berang.

"Kyungsoo tenanglah.. kumohon dengarkan dulu aku"

"Tidak ! kau wanita tidak punya hati !"

"Mianhae.. aku mencintai Hiks Sehun. Aku juga tidak ingin berpisah dengannya Kyung. Aku Hiks akan ikhlas menerimamu sebagai maduku dan aku rela berbagi Sehun denganmu. Tapi kumohon jangan pisahkan aku dengannya Hiks" mohon Luhan. Gadis itu sudah menangis tersedu-sedu sementara Kyungsoo mengukir seringainya.

"Lalu bagaimana dengan nasibku dan juga anakku?!"

"Aku yakin Sehun akan menjadi suami yang adil bagi kita"

'jika aku ingin menendang Luhan dari rumah ini mungkin akan lebih mudah jika aku menjadi istri muda Sehun Oppa. Baiklah karena ini kemauanmu Luhan aku akan menerima dengan senang hati' seringai Kyungsoo.

"Aku bersedia jika kau mau menuruti keinginanku"

"Apapun Kyungsoo Hiks apapun"

"Baiklah.. Pertama anakku harus menjadi pewaris utama Sehun Oppa.. Kedua rumah ini harus atas namaku dan ketiga aku ingin kamar utama dirumah ini juga menjadi milikku" tutur Kyungsoo. Luhan terdiam mendengar semua syarat Kyungsoo. Gadis itu tidak keberatan dengan syarat pertama dan kedua dari Kyungsoo tapi jika untuk yang ketiga itu adalah hal yang berat. Kamar itu adalah kamarnya dengan Sehun, banyak kenangan disana. Saat mereka tidur, saat mereka bersedih, saat mereka tertawa bahkan saat mereka saling menyentuh. Kamar itu adalah symbol yang menyatakan bahwa dialah Nyonya dirumah ini. Meski tak ingin Luhan akhirnya mengangguk dan mengiyakan keinginan Kyungsoo.

'jika ini yang bisa kulakukan untuk mempertahankanmu, maka aku rela Sehun' batin Luhan.

"jika itu maumu akan kulakukan Kyungsoo" wanita itu tersenyum dengan jawaban Luhan. Sementara gadis itu dengan lunglai sudah menuju kamar utama dan mengambil barang-barang dan juga pakaiannya.

"Eonni.. bisakah kamarmu sedikit menjaga jark dari kamarku? aku hanya tidak ingin mengganggumu dengan suara desahanku nanti" pinta Kyungsoo.

Tangan Luhan bergetar dan segera melangkahkan kakinya menuju kamar tamu yang cukup jauh dari kamar utama yang terletak dilantai satu paling belakang.

'ini baru awal Luhan.. aku akan benar-benar membuatmu tidak nyata dalam kehidupan keluarga Oh, terutama Sehun Oppa' inner Kyungsoo.

Flashback Off

.

.

.

TBC…..

Ohoho selamat bagi EXO yang kemarin mendapatkan 3 penghargaan bersama dengan senior2 nya.. semoga mereka akan terus berkarya ya.. aku suka sama komentar suho saat ditanya apa tanggapannya mengenai BTS dan Wanna One ouhh bijak banget serasa liat Leeteuk Oppa kekeke

Dan Saengil Chukae buat Chanyeol Oppa .. semoga semakin tampan hahaha dan sehat selalu tentunya ^_^

ya aku tau ini telat banget dan bikin kalian kesel hihihi miaan .. tapi kemarin benar-benar sibuk, dan yang paling penting kuota sekarat, maklum akhir bulan kkkkk

tapi aku harap ada yang masih menunggu ff ini, kalo ada silahkan atuh di vote and coment kekeke

makasih buat yang udah coment, maaf aku gabisa bales satu2 saat ini.. tapi kalo ada senggang waktu aku pasti seneng banget bercengkrama sama kalian, maaf bukan so sibuk.. tapi kembali pada yang aku bilang tad =I ini akhir bulan dan handphone aku minta jatah makan tapi emaknya lagi kekeringan dana kkkkk… sampai bertemu di chapter selanjutnya.. ^_^

Regards

Mustika Choi