"Aku bersedia jika kau mau menuruti keinginanku"
"Apapun Kyungsoo Hiks apapun"
"Baiklah.. Pertama anakku harus menjadi pewaris utama Sehun Oppa.. Kedua rumah ini harus atas namaku dan ketiga aku ingin kamar utama dirumah ini juga menjadi milikku" tutur Kyungsoo. Luhan terdiam mendengar semua syarat Kyungsoo. Gadis itu tidak keberatan dengan syarat pertama dan kedua dari Kyungsoo tapi jika untuk yang ketiga itu adalah hal yang berat. Kamar itu adalah kamarnya dengan Sehun, banyak kenangan disana. Saat mereka tidur, saat mereka bersedih, saat mereka tertawa bahkan saat mereka saling menyentuh. Kamar itu adalah symbol yang menyatakan bahwa dialah Nyonya dirumah ini. Meski tak ingin Luhan akhirnya mengangguk dan mengiyakan keinginan Kyungsoo.
'jika ini yang bisa kulakukan untuk mempertahankanmu, maka aku rela Sehunnie' batin Luhan.
"jika itu maumu akan kulakukan Kyungie" Kyungsoo tersenyum dengan jawaban Luhan. Sementara gadis itu dengan lunglai sudah menuju kamar utama dan mengambil barang-barang dan juga pakaiannya.
"Eonni.. bisakah kamarmu sedikit menjaga jark dari kamarku? aku hanya tidak ingin mengganggumu dengan suara desahanku nanti" pinta Kyungsoo.
Tangan Luhan bergetar dan segera melangkahkan kakinya menuju kamar tamu yang cukup jauh dari kamar utama yang terletak dilantai satu paling belakang.
'ini baru awal Luhan.. aku akan benar-benar membuatmu tidak nyata dalam kehidupan keluarga Oh, terutama Sehun Oppa' inner Kyungsoo.
.
.
.
Hari demi hari Luhan lalui untuk mengurus pernikahan Sehun dan Kyungsoo. Sesuai dengan keinginan madunya Luhan membuatkan pesta yang begitu mewah dan dilaksanakan dipulau Jeju. Luhan sangat senang karena menyiapkan pernikahan madunya, walau begitu mereka menyembunyikan pernikahan itu sesuai permintaan mertuanya. Kyungsoo awalnya merasa kesal karena dengan begitu ia hanya menjadi bayangan mereka berdua saja. Namun setelah mendapat tamparan yang keras dan juga cibiran yang mematikan dari ibu Sehun, Kyungsoo menerimanya. Luhan terlihat antusias dengan pernikahan suaminya, meski terkadang kali hatinya merasa sakit namun ketulusan gadis itu lebih besar.
"Sehunnie kau dimana?"
"Dikantor sayang kenapa?"
"Hari ini kita harus mencari cincin pernikahanmu Sehunnie"
"…"
"Kumohon Sehun kita sudah pernah membahas ini sebelumnya"
"Baiklah kujemput nanti dikantormu sayang"
"Hmm gomawo, kalau begitu selamat be-"
Tuttt Tuutt…
Luhan menghela nafas lagi-lagi Sehun bersikap seperti ini padanya, gadis itu terkadang bingung dengan sikap Sehun yang berubah-ubah. Suaminya itu bisa bersikap manis sekali, terkadang juga dia bersikap dingin padanya. Sungguh sulit menebaknya, semenjak Kyungsoo merebut kamar mereka Sehun sama sekali tidak pernah tidur lagi dengannya, miris memang tapi jika mengingat-ingat lagi itu bukanlah salah Sehun. Luhan yang terlalu egois untuk mempertahankan pria itu, tapi harus bagaimana lagi? Cinta telah membutakannya.
Sehun POV
Aku lelah … sangat lelah… berapa kali aku harus melihat dan mendengar semua kata-kata tulus yang terlontar dari mulut Luhan. Aku tahu dia adalah wanita yang sangat baik yang dengan tulusnya rela untuk kumadu, mengizinkanku menikahi kekasihku yang bahkan saat ini aku sendiripun tidak mengerti mengapa aku tidak menginginkannya. Perasaan itu.. semakin hampa saat bersama Kyungsoo.. Perasaan itu semakin hambar saat tidak melihat Luhan.. hatiku.. apa yang terjadi dengan hatiku? Kenapa saat tidak melihatnya aku menjadi gelisah? Aku selalu memikirkan Luhan.. tapi entah kenapa aku tidak bisa menahan emosiku saat dia selalu membahasku dengan Kyungsoo? kau tau Lu, sikapmu yang seperti itu entah mengapa malah membuatku sakit. Menyesalpun sudah tak ada gunanya lagi, yang bisa kulakukan kini adalah membahagiakanmu dan menjadi suami yang adil, tapi kenapa aku semakin egois untuk dimilikimu seorang?
Hari ini kau mengajakku membeli cincin pernikahanku.. kau tahu sayang? itu pasti menyakitimu lagi dan kau menerimanya dengan senang hati. Tapi apa kau tahu itu menyakitiku? lebih baik kau marah dan mencaciku dengan semua kesalahanku daripada kau menerima dengan tenang dan berusaha terlihat baik-baik saja, itu benar-benar menyiksaku dengan rasa bersalahku yang tidak termaafkan ini. Kau bahkan tak pernah sadar jika setiap malam aku selalu datang kekamarmu untuk sekedar melihat wajah polosmu saat tidur. Entah mengapa itu membuatku tenang dan bisa tidur dengan nyenyak. Kau mengubahku Luhan.. apakah ini cinta? tapi aku juga pernah merasakan cinta pada Kyungsoo dan rasanya berbeda.. bersamamu aku selalu ingin bersamamu Luhan…
Jika memang ini yang terbaik untuk kita aku akan melakukannya, aku berjanji akan kutebus semua kesalahanku padamu Lu.. aku berjanji akan membahagiakanmu.
Sehun POV End
.
.
.
Kyungsoo mengenakan gaun putih yang panjang dan sangat mewah sesuai permintaannya. Luhan sedang sibuk mengurus rambut madunya itu agar terlihat lebih indah. "Kau terlihat sangat cantik Kyungie" ujarnya.
"Jinjja? apakah aku mengalahkan kecantikan eonni?" Luhan tersenyum mendengar ucapan Kyungsoo lalu mengelus rambut Kyungsoo lembut.
"Tentu saja, kau selalu terlihat cantik sayang… Apakah kau baik-baik saja hari ini? tidak mual?"
"aniyo eonnie.. Aegya sangat baik hari ini"
"Syukurlah…" Luhan berjongkok didepan Kyungsoo mensejajarkan dengan perut yang mulai membuncit itu. " Baby… baik-baik disana ne. Hari ini Eomma dan Appa akan menikah, jadi jangan ganggu mereka arra?" Kyungsoo lagi-lagi tersenyum, entah mengapa ia sedikit merasa nyaman saat Luhan memperlakukannya seperti ini. Seperti ada dorongan agar wanita didepannya ini selalu bersamanya, bahkan terkadang Kyungsoo sangat ingin bersama Luhan, sampai wanita itu menemaninya tidur dikamar Sehun. Apakah ini keinginan anaknya? Entahlah..
"Eonni… gomawo"
"untuk apa Kyungie?"
"Semuanya… kau tahu eonni ini adalah mimpiku menikah dengan Sehun oppa"
"Gwenchana… aku senang jika kau juga bahagia sayang…"
"….."
'apakah aku terlalu jahat pada Luhan? apa selama ini aku tidak pernah melihat ketulusan darinya? Luhan… kau sangat baik … Tuhan… ada apa denganku?' batin Kyungsoo.
"Selesai… kajja kita bersiap, sebentar lagi acara akan dimulai" Luhan menarik Kyungsoo untuk berdiri namun Kyungsoo terdiam dan menekuk wajahnya, Luhan bahkan melihat setetes air mata jatuh dari kedua matanya.
"No.. Kyungsoo No.. kenapa kau menangis heum? ini akan merusak riasanmu" ujar Luhan sambil mengelap air mata Kyungsoo dengan tissue tergesa. Kyungsoo yang melihat Luhan begitu menyayaginya langsung memeluknya dengan erat.
"Mianhae Eonni.. mianhae… Hiks"
"Hey.. mian untuk apa Kyungie?"
"Mianhae… emm karena aku menangis. aku… aku sedih karena aku tidak mempunyai keluarga untuk mengantarku ke altar.. Hiks aku.. aku hanya yatim piatu Eonni Hiks…" Luhan yang melihat itu menjadi tidak tega dia tersenyum dan menggenggam tangan Kyungsoo erat.
'mianhae atas semua sikapku Eonni…' inner Kyungsoo karena tidak berani mengatakannya.
"Aku akan mendapatkan pendampingmu sebentar lagi Kyungie"
"Huh?" perkataan Luhan membuat Kyungsoo bingung.
CKLEKK…
"Luhannie.. apa Kyungsoo sudah siap sayang?" sahut seorang pria paruh baya yang kini tengah membuka pintu kamar itu dengan setelan jas hitam mewah yang begitu gagah saat menempel ditubuhnya.
"Ne Appa.. Kyungsoo sudah siap" Pria paruh baya itu pun masuk dan melihat Kyungsoo yang masih tercengang dan terlihat bingung dengan maksud dari kedua orang didepannya.
"Eonni.. ini.."
"Ne Kyungsoo-ya… Appaku akan mendampingimu nanti ke altar. Jadi kau tidak usah merasa sedih arra. Baiklah aku akan pergi dulu, ingat jangan sampai terlambat. Dan Appa.."
"Hemm?"
"Jangan sampai membuat Kyungsoo terjatuh arra !"
"kau harus meminta Appa mu dengan lebih sopan sayang.. dan Appa akan menjaga Kyungsoo hm? kau puas?"
"Kekeke nee aku percaya padamu Appa.." Luhan terkekeh dan mengecup pipi Hanggeng ayahnya sekilas sebelum dirinya benar-benar meninggalkan mereka berdua. Setelah gadis itu pergi hanya keheningan diantara mereka. Kyungsoo gelisah entah apa yang harus dilakukannya untuk mencairkan suasana.
"Kau tidak perlu segugup itu nak.."
"Ehh.. Ajusshi.. mianhae merepotkanmu. Tapi jika Ajusshi keberatan aku tidak apa"
"Kalau kau bertanya apakah hatiku sakit tentu saja sangat sakit nak. Dimana ada orang tua yang ingin melihat anak menantunya menikah lagi dengan restu dari anakmu sendiri. Bahkan dalam mimpipun aku tidak pernah memikirkannya. Tapi jika kesakitanku hanya mengecewakan anakku aku akan merestuinya. Bagaimanapun Luhan sudah dewasa dan punya pilihan hidupnya sendiri. Sebagai orang tua aku hanya bisa mendukung keputusannya dan memastikan jika dia tidak akan menyesalinya. Jadi jalani apa yang sudah kau putuskan, dan hiduplah dengan baik Kyungsoo-ah"
Kyungsoo tergelak, penuturan Appa Luhan benar-benar membuat hatinya seperti diremas. Sejahat itukah dia hingga menyakiti orang tua yang begitu menyayangi anaknya? Bahkan selama ini dia sangat mengharapkan mempunyai orang tua. Tak terasa setetes air mata kini kembali jatuh dari sudut matanya, segera mungkin Kyungsoo menghapusnya.
"Ghamsahamidha Ahjusshi.. Ghamsahamidha"
Kyungsoo membungkukan tubuhnya yang disambut dengan usapan lembut dikepalanya.
"Honey… Sudah saatnya" sahut seorang wanita paruh baya yang masih saja modis. Wanita itu melangkahkan kakinya mendekati mereka berdua. Wajahnya terlihat dingin dan tatapan tajamnya membuat Kyungsoo tidak berani untuk menatapnya. Alih-alih memaki madu anaknya itu dengan segala kutukannya Heechul malah mengambil tissue dan menghapus air mata Kyungsoo yang terlihat oleh matanya, lalu dengan kasar membalik tubuh Kyungsoo dan membenarkan tali gaun pengantin Kyungsoo yang sedikit berantakan.
Kyungsoo tidak berani melawan dan bertanya mengapa, karena ia tahu jawaban mereka pasti sama. Walau Eomma Luhan itu sedikit kasar namun entah mengapa hatinya terasa menghangat, perasaan ini.. perasaan yang selama ini diidamkannya. Perasaan hangat yang menyelimuti hatinya.. hangatnya kasih sayang dari kedua orang tua.. mimpinya yang lain..
"Ayo…" ketus Heechul setelah membenarkan gaun Kyungsoo, dan meninggalkan mereka lebih dulu. Tanpa banyak basa basi lagi Hanggeng meraih tangan Kyungsoo dan meletakannya ditangannya.
"kau sudah siap?"
"Ne.. Ahjhussi…"
"Appa.. kau boleh memanggilku Appa Kyungsoo" jawabnya sambil melangkah keluar dari kamar pengantin itu membuat Kyungsoo tertegun.
"Be-benarkah?" Tanyanya ragu-ragu.
"Tentu.. aku sudah tahu siapa dirimu Kyungsoo. Kau juga menantuku sekarang, kau bisa menganggapku Appamu jika kau mau tentunya. Dan aku harap kau bisa hidup rukun dengan Luhan. Kau tahu? dia sudah menganggapmu seperti adiknya sendiri" Kyungsoo mengangguk antusias, ia senang.. mungkin ia akan menandai hari ini sebagai hari terbahagia dalam hidupnya. Lagi-lagi Kyungsoo menangis bahagia.
"Ne .. Ahjusshi.. Hiks maksudku Appa. Jeongmal Ghamsahamidha Appa" secara tak sadar Kyungsoo memeluk Hanggeng dengan erat. Sementara pria paruh baya itu mengelus punggung menantunya itu dengan lembut.
.
.
.
Pernikahan itu berlangsung dengan sangat meriah, Kyungsoo terlihat sangat bahagia. Tapi tidak dengan Sehun, meski ia tersenyum tapi kedua istrinya tahu pria tampan itu sedang bersedih. Bukan karena pernikahannya dengan Kyungsoo, namun karena kedua orang tuanya menepati janjinya yang tidak sudi hadir di pernikahannya. Melihat orang tua Luhan yang bahkan menyempatkan datang membuat Sehun semakin malu. Sehun sedang berada dikamar ganti untuk mengganti tuxedonya dengan warna putih.
"Kau tidak perlu menyesalinya Sehun" Sehun tersentak saat suara seseorang menginterupsi kegiatannya yang sedang memakai jas.
"Eomonim.." Heechul mendekat dan membenarkan dasi yang mengikat leher Sehun.
"Jangan harap mendapatkan maaf dariku, kau sudah sangat berdosa Sehun dan untuk menebusnya jagalah Luhan dan juga anak kalian dengan baik. Kau harus menjadi suami yang adil bagi mereka. Aku marah.. dan aku kecewa pada kalian.. tapi melihat Luhan yang mempertahankanmu dan Kyungsoo membuat hatiku sakit. Sakit mengapa aku mempunyai anak semulia itu, sakit karena anakku menerimanya dengan tulus bahkan setelah kau khianati. Aku menjadi tidak berguna menjadi seorang ibu… Hiks.. aku.. aku bahkan tidak bisa menolak semua keinginannya. Jadi aku mohon Sehun.. Hiks.. tolong jaga Luhan.. Luhan anakku yang malang Hiks.. anakku yang baik.. kumohon"
Sehun segera memeluk mertuanya itu dan menangis dalam diam. "Tentu saja Eomonin.. aku akan menjaga Luhan.. maafkan semua kekhilafanku.. maafkan semua kebodohanku hiks"
.
.
.
Hari semakin larut, Appa dan Eomma Luhan sudah kembali ke Seoul. Kyungsoo yang sedang mood swing juga meminta pulang kerumah mereka. Dengan terpaksa mereka harus kembali ke Seoul dengan helicopter. Setelah sampai Kyungsoo segera masuk kekamarnya untuk berisrahat. Tubuhnya terlalu lelah untuk melakukan aktivitas lagi. Setelah membersihkan dirinya madu Luhan itu langsung tertidur dengan lelap.
CKLEK
Sehun membuka pintu kamarnya dan menghela nafasnya melihat istri keduanya sudah tertidur bahkan mendengkur. Namun ia tersenyum dan mencium kening Kyungsoo sekilas lalu menyampirkan selimut ketubuhnya sebelum melangkahkan kakinya keluar kamar.
Sehun menuju kamar Luhan yang cukup jauh dari kamarnya. Dibukanya pintu itu dan dilihatnya Luhan sedang menatap langit dari jendela kamarnya. Sehun mengamati Luhan yang tidak menyadari kehadirannya. Perlahan ia mendekati gadis itu lalu memeluknya dari belakang membuat istrinya itu tersentak.
"Astaga Sehunnie.. kau mengagetkanku" kesalnya lalu memukul tangan suaminya yang bertengger diperutnya namun tak lama dielusnya merasakan kehangatan tubuh Sehun yang menyelimutinya, belum lagi kepala Sehun yang bersembunyi di lehernya.
"Dimana Kyungsoo?"
"Sudah tidur sayang.."
"Lalu kenapa kau tidak istirahat Sehunnie? kau juga pasti lelah" tanyanya.
"Tapi tidak selelah dirimu yang menyiapkan segalanya Baby" Sehun membalikkan tubuh Luhan lembut. Dipandangnya wajah yang selalu membuatnya tenang itu, dielusnya dengan lembut oleh sebelah tangannya sedangkan tangannya yang lain masih setia berada dipinggang istrinya itu. Tatapan Sehun yang sendu membuat Luhan kembali memeluknya. Ia tahu Sehun merasa bersalah karena selama ini tidak tidur dengannya lagi, ia tahu Sehun merasa bersalah karena hari ini bahkan suaminya itu tidak menanyakan keadaanya karena terlalu sibuk dengan semua tamunya, dan ia juga tahu Sehun masih merasa bersalah dengan kehidupan mereka kini.
"Gwenchana Sehunnie.. aku baik-baik saja" ujar Luhan menenangkan. Sehun menangkup kedua wajah Luhan dengan tangannya.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku, tapi terimakasih karena masih bersamaku.. disampingku Luhan. Seburuk apapun sikapku nanti kumohon jangan tinggalkan aku"
"Tentu saja.. aku mencintaimu Sehun.. aku tidak akan pernah meninggalkanmu"
Sehun tersenyum meski tidak membalas perkataan cinta Luhan lagi-lagi membuat Luhan tersenyum getir. Sehun terus memandang wajah cantik itu dan kemudian seperti ada dorongan untuknya mencicipi mulut manis yang sudah lama ia tidak rasakan. Wajah tampan itu perlahan mendekat membuat Luhan memejamkan matanya. Tak lama untuk membuat kedua bibir mereka menyatu. Dari sekedar kecupan kini menjadi sebuah lumatan. Kehangatan ini begitu mereka rindukan, merasa ingin lebih lidah Sehun mulai mengetuk bibir Luhan, gadis itu mengerti dan membuka kedua mulutnya memberi akses untuk suaminya. Lumatan itu kini berubah menjadi tarikan dan kaitan lidah masing-masing. Hawa panas mulai menyergap tubuh mereka, ciuman mereka semakin liar.
"Asshh.. Sehunnie" desah Luhan, mengerti maksud Luhan Sehun segera melepaskan tautannya dan berpindah kelehernya.
"Shh.. Ahh.. Hunh.. Eungh.." Luhan melenguh Sehun semakin liar, bahkan tangannya sudah membuka piyama tidurnya yang hanya sebuah terusan. Sehun msih gencar dengan leher Luhan tangannya bergerilya membuka pengait bra dibelakang Luhan, setelah terlepas Sehun berjalan perlahan dengan tubuh yang masih menempel dengan tubuh Luhan setelah sampai ranjang Sehun menidurkan Luhan, melihat kedua payudara istrinya sudah menggantung bebas membuatnya semakin bernafsu. Sehun mengemut kedua payudara Luhan membuat gadis itu semakin mendesah, ia tidak khawatir karena kamarnya terletak jauh dari kamar Kyungsoo. Walau sedikit khawatir namun kini egonya yang bekerja, Luhan sungguh ingin memiliki Sehun malam ini.
"Sehunnie.. ahh .. ahhh"
Mereka berdua semakin menikmatinya, Luhan melenguh keras saat jari-jari Sehun mulai mengelus kewanitaanya. Gadis itu bahkan tidak tahu kapan Sehun melepas semua pakaiannya.
Sehun berhenti sejenak dan memandang tubuh polos istrinya, wajahnya sangat bergairah karena rona merah penuh nafsu.
"Bolehkah aku memilikimu Baby?" Luhan tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Merasa sudah mendapat izin dari istrinya Sehun segera melepaskan piyamanya hingga kini mereka berdua polos tanpa sehelai benangpun. Luhan tertegun melihat kejantanan Sehun yang besar, sungguh ini pertama kalinya ia melihat benda seperti ini.
Sehun kembali melancarkan aksinya menjilati kewanitaan Luhan. "Se-sehun.. aahh.. ssshhh". jari-jemari Sehun perlahan masuk ke lubang itu membuat Luhan berteriak kesakitan.
"Rileks Baby…"
"sa-sakit Sehunnie.."
"Tahan sayang.. aku harus menyiapkanmu dulu"
"AARRGGHH…" teriak Luhan. Sehun lagi-lagi memasukan jari keduanya, hal itu terus berlanjut sampai urat-urat kewanitaan Luhan sedikit mengendur. Sehun mempersiapkan kejantanannya, tangannya mengangkat kedua kaki Luhan untuk dilebarkan.
"Baby.. kau siap?"
"Ahh.. eungh.. ne.. sshh" desah Luhan.
Sehun mulai memasukkan kepala kejantanannya, "AARGGGHH SEHUNNIE…"
"Sebentar sayang, tahan ne sshh.. eugh.. ini nikmat"
"AAARRRRGGGGHHHH" lolongan panjang Luhan menandakan jika selaput darahnya kini tengah berhasil dirobek Sehun, gadis .. ahh aniyo wanita itu kini tengah menitikan air matanya. Sehun tidak tega melihatnya dan segera menghapusnya lalu menciumnya bertubi-tubi membuatnya sedikit tenang. Sehun tidak segera menggerakkan karena menunggu izin Luhan, tak ingin menyakiti Luhan Sehun dengan sabar menanti.
"hhhh.. bergeraklah Sehunnie.." Sehun segera menggerakkan miliknya didalam Luhan. Wanita itu kini masih berteriak, Sehun yang tidak ingin menyakiti Luhan lebih lama segera menggenjotnya lebih keras. Perlahan rasa sakit itu berganti menjadi rasa nikmat, membuat keduanya merasakan kenikmatan yang sama.
"Terus Sehuna. ahhh ahhh ssshh"
"Eunghh ahh Lu kau nikmat sayang.." Sehun masih asyik mengeluarkan sudah merasa dirinya akan klimaks semakin meracau dan sedikit liar. Sehun tersenyum disela-sela desahannya, istrinya menunjukkan sikapnya yang lain saat bercinta ternyata. Mereka semakin tenggelam dalam nafsu yang meluap-luap. Hingga Sehun melepaskan cairannya didalam tubuh Luhan. Entah mengapa dia berdoa berharap jika aktivitas mereka malam ini akan menghasilkan sebuah kebahagiaan.
Sehun memandang Luhan yang berkeringat sama sepertinya. Diusapnya peluh itu, dan diciumnya kening istrinya itu. Mereka saling memandang dan tersenyum tulus, tatapan mereka penuh cinta walau Sehun tidak menyadarinya namun ia sangat bahagia malam ini. Tak ada kata yang terlontar diantara mereka, hanya saling memberi kehangatan dengan pelukan yang begitu erat. Akhirnya keduanya memejamkan matanya menuju kealam mimpi dengan tubuh yang masih bertautan tanpa dilepas. Luhan terlalu lelah untuk memprotes itu.
Biarkan.. biarkan seperti ini.. aku sangat bahagia. saatbnkau menyentuhku… kau mencumbuku.. kau memilikiku.. Perlakuanmu yang selama ini kunanti kini kurasakan. Izinkan aku untuk egois kali ini, karena saat ini aku benar-benar ingin bersamamu.. Sehun.. Saranghae.. Jeongmal Saranghae….
~ Oh Luhan ~
.
.
.
TBC
.
.
.
Haii.. terimakasih untuk antusias kalian dengan ff ini. Maaf ya jika NC nya tidak memuaskan, well aku belum menikah jadi kurang mengerti dan imajinasiku tidak terlalu menjurus kesana walau aku terkadang membaca NC. hehehe jadi mohon maklum ne kalo ga panas, ini aja aku udah keringetan bikinnya. gakuaaaatt kekekeke..
Disini aku juga mau menyampaikan untuk readers kalo ff ini diambil dari kisah nyata, meskipun secara keseluruhan aku merubah cast, adegan dan latar belakangnya aku ga akan menghilangkan inti dari cerita ini (seorang istri yang rela dimadu). Jika ada yang tidak suka dan tidak terima ya monggo leave aja. Hanya terkadang sedikit tersinggung dengan kritik yang menggunakan bahasa kurang mengenakan kkkk. Gue masih manusia yang punya perasaan doong haha
Dan yang tidak terima kalau Kyungsoo aku jadiin antagonis disini aku beribu kali minta maaf apalagi untuk fansnya abang Kyungie tapi aku juga ga pernah marah kalo bias aku dijadiin jahat atau menyebalkan bahkan berkarakter aneh. Setiap penulis punya imajinasinya masing2 kan? mereka berhak menuangkannya dalam bentuk apapun. Bahkan kalo bilang karakter Luhan disini ga Logis menurutku logis2 aja, Why? karena semua yang berbau fiksi itu selalu menjadi mungkin. Coba kita lihat genre2 fantasy tentang vampire dan yang lainnya dalam kehidupan nyata memang ga logis tapi untuk kehidupan fiksi itu sah2 aja kan? Dan karakter Luhan disini memang begitu adanya karena seperti yang aku bilang ini diambil dari kisah NYATA.
Well aku tetep berterima kasih pada kalian yang mendukungku sekaligus mengkritikku. Ohh tenang aja itu ga buat aku down, kritikan itu adalah saran untuk membuat kita lebih baik kan? hanya aja mungkin bahasanya lebih sopan kali ya. aku bisa terima ko.. hehe
Aku selalu berharap kalian meninggalkan jejak kalian untuk semangatku melanjutkan semua ff ku ne.. So Review Please ^_^
