CUP.. lagi-lagi Sehun mengecup manis bibir Luhan. Wanita itu tidak lagi menangis, mata mereka saling menatap sayang. "Gomawo Sehunnie" ucapnya.

"Heumm.. dan maafkan aku sayang. Aku tidak bermaksud memarahimu tadi, aku hanya terlalu khawatir padamu" Luhan mengangguk dan kembali memeluk erat suaminya.

Kebahagiaan mereka tak luput disaksikan oleh sepasang mata yang kini menatapnya marah dan penuh kebencian. Sedari tadi ia hanya mematung dan tidak dihiraukan, bahkan suaminya mengacuhkannya seakan dia tidak berada disana. Karena kesal Kyungsoo meninggalkan ruangan itu dan membanting pintu kamarnya keras.

"Lihat saja.. kau akan mendapatkan kebencian Sehun lagi Luhan.." sinisnya.

.

.

.

.

.

OOEEKK OEEKK

Luhan berlari menaiki tangga mendengar tangisan anaknya, wanita itu melihat Haowen yang sudah memasuki usia 5 bulan. Bayi itu menatapnya polos dan berderai air mata, membuat Luhan gemas dan mencium wajah Haowen berkali-kali.

"Umm.. Baby Mommy kenapa heum? Mengompol lagi yaa, sayang hari ini kau benar-benar membuat mommy tidak bisa meninggalkanmu" monolognya walau Haowen hanya membalasnya dengan lelehan air liur karena mengoceh tak jelas, Luhan sesekali tertawa melihat tingkah lucu anaknya ini. Ahh bahkan dia rela meninggalkan pekerjaanya hanya untuk mengurus Haowen walau hanya sehari. Kyungsoo madunya itu sedang tidak bisa meninggalkan pekerjaanya. Dan Luhan terlalu sayang meninggalkan Haowen bersama Bibi Lee karena sedari tadi bayi itu menempel tak ingin berpisah dengannya. Wajar saja bukan karena selama ini Luhan lah yang mengurus Haowen. Selelah apapun dia akan menyempatkan waktu untuk bermain dan menemani bayi itu dibandingkan ibu kandung Haowen yang jarang sekali mengasuhnya karena sibuk dengan karirnya yang sedang naik.

"Sayang.. apa mommy berhenti bekerja saja dan fokus mengurusmu heum? Mommy benar-benar tidak bisa meninggalkanmu sendiri, ahh kau benar karena mommy selalu merindukanmu setiap saat tentu saja" namun ucapan itu hanya dibalas oleh gumaman Haowen yang sedang sibuk membuat gelembung-gelembung dimulutnya, Luhan kembali terkekeh melihatnya Haowen sangat menggemaskan, membuatnya rela membagi waktu hanya untuk sekedar melihat anak itu.

"Itu terdengar bagus sayang.. Tidak bisakah kau berhenti bekerja dan hanya membiarkan suamimu ini yang bekerja? Tugasmu hanya berdiam diri dirumah dan menghabiskan uang suamimu sayang"

Luhan menoleh terkejut, disana suaminya itu sedang bersandar pada pintu menatapnya dengan senyuman. Luhan membalas tersenyum dan menghampiri suaminya itu. "Sejak kapan kau disini heum?" tanyanya sembari mengambil jas dan dasi suaminya setelah mendapat kecupan ringan dikeningnya.

"Sejak kau bicara pada Haowen sendiri"

"Uggh kenapa aku tidak menyadarinya?"

"Kau hanya terlalu focus pada sikecil sayang, Oh ya sayang tidak bisakah kau melakukan apa yang kau ucapkan tadi?"

"Huh? Tentang?"

"Tentang kau berhenti bekerja sayang"

"Sehunnie.. itu.." Luhan terdiam, ia masih bingung untuk menjawab pertanyaan suaminya itu. Ingin sekali sebenarnya berhenti bekerja. Tapi dia masih belum siap karena Kris pasti akan menolaknya habis-habisan.

Sehun mendengus ia sudah menduga kalau Luhan tidak akan mau, tapi yasudahlah toh istrinya itu akan tetap menjaga hatinya untuknya. Dia tidak perlu takut dan tidak perlu ragu terhadap cinta istrinya itu, Kris atau siapapun tidak akan bisa mengalihkan perasaan Luhan begitu saja. Benar bukan? ia sangat yakin dengan pemikirannya itu.

"Sudahlah.. Sayang kita pergi jalan-jalan, kau mau?"

"Jalan-jalan?"

"Yaa.. aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, kau mau?" wajah Luhan memerah ini pertama kalinya Sehun mengajaknya 'berkencan'.

"Tentu saja Sehunnie, tapi Haowen?"

"Biarkan Bibi Lee yang menjaganya, kumohon Lu Heumm?" Wajah memelas Sehun yang seperti anak anjing yang terlantar membuat Luhan terkekeh, suaminya benar selama ini mereka tidak pernah menghabiskan waktu berdua. Mungkin dulu hal seperti ini sangat canggung untuk dilakukan mengingat Sehun belum pernah sepeduli ini padanya. Tapi sekarang Sehun berubah, pria tampan itu lebih banyak menghabiskan waktu dengannya dibandingkan dengan Kyungsoo, sedikit merasa bersalah sebenarnya karena dia tidak ingin madunya itu berfikiran bahwa Luhan memonopoli Sehun.

"Ayolah Baby kumohon ne ne" Gadis itu mengangguk antusias lalu memberi kecupan ringan dibibir Sehun setelahnya berlari meninggalkan kamar anaknya untuk bersiap. Sementara si pria tampan menghampiri Haowen yang sedari tadi dia abaikan.

"Hai sayang.. maaf Daddy baru menyapamu" Dan ohh lihat sepertinya Haowen kecil sedang merajuk pada Daddynya. Bayi kecil itu menghiraukan Sehun dan hanya membalik badannya memunggungi sang ayah.

"Heyy kau marah ya Baby Hao?"

Tuutt..

"Astaga Baby kenapa kau mengentuti Daddy?" tangannya menutup hidungnya dan mukanya mengernyit tidak suka. Jelas saja saat sang ayah ingin menggelitiki si kecil namun yang didapat hanya semburan gas yang sangat wangi.

"Okke oke kau marah, Daddy janji tidak akan mengulanginya sayang. Tapi boleh kan Daddy pinjam Mommymu sebentar?" Si kecil masih menghiraukan ayahnya dan hanya memainkan gelembung-gelembung yang bermuara dimulutnya. Sehun mendesah kesal karena itu pertanda jika anaknya ini menolak, Haowen sepertinya anak yang cerdas mengingat bahwa bayi itu selalu mengerti apa yang diucapkan orang tuanya. Biasanya bayi itu akan menyambut Sehun dengan kekehan dan sedikit manjaan khas bayi yang enggan ditinggal sang ayah setelah seharian ayahnya bekerja. Namun sikapnya sekarang adalah bentuk protes si kecil yang kesal atau marah mungkin?

Sehun meninggalkan kamar Haowen setelah mendapat respon menyebalkan dari anaknya. Dia bergegas kekamar dan membersihkan diri, hari ini dia akan mengajak Luhan jalan-jalan. Ini adalah kencan pertama mereka setelah satu tahun lebih menikah. Tentu saja dia sudah menyiapkan hal-hal yang special untuk istrinya itu.

"Sehunnie.. kau sudah siap?"

"Ya sayang aku siap, ayo"

"Tu-tunggu Sehunnie, aku ingin berpamitan dulu dengan Haowen" Luhan berlari kekamar anaknya, sebenarnya dia enggan untuk pergi meninggalkan Haowen sendiri meski ada Bibi Lee, tapi dia juga ingin menghabiskan waktu bersama suaminya itu.

Sehun menghela nafas untuk kesekian kalinya. Melihat Luhan yang menyampaikan segala pesan pada Bibi Lee. Ini sudah 15 menit dan Luhan masih sibuk mengurusi Haowen.

"Sayang ayolah, kita sudah terlambat"

"Ta-tapi Haowen"

"Tenang saja ada Bibi Lee yang menjaganya, lagipula kita tidak akan lama" Luhan mengangguk, sekali lagi gadis itu menciumi wajah anaknya yang berada digendongan Bibi Lee.

"Sayang Mommy pergi dulu ne.. jangan nakal"

Sehun segera menarik Luhan kepelukannya, tangannya tersampir dipinggang ramping istrinya. Sesekali gadis itu menengok kebelakang dengan wajah memelas. "Ya Tuhan lindungi anakku"

"Sayang, kita meninggalkan Haowen di rumah bukan diarena perang jika kau lupa" ketus Sehun membuat Luhan terkekeh. Mereka berjalan beriringan menuju Audi hitam yang terparkir didepan rumah sebelum suara tangisan bayi memekakkan telinga.

"Astaga Haowen !" Luhan berlari meninggalkan Sehun yang sudah membukakan pintu untuknya. Bagaimana dengan reaksi Sehun? Tentu saja pria tampan itu kesal bukan main, kenapa anaknya itu tidak mengerti privasi sih? jika kau lupa Haowen adalah bayi Choi Sehun.. ahh dan jangan lupakan bahwa Haowen adalah bayi yang cerdas.

"Baby.. sampai kapan kau mengurusnya? ini waktumu bersamaku"

"No Sehunnie.. aku tidak bisa meninggalkan Haowen sendiri, kita tunda saja heum?" cuek Luhan yang sedang menggendong Haowen sembari memberinya susu. Pria itu mendengus, ini adalah kesempatan dan Haowen dengan menyebalkannya memonopoli Luhan. Sekarang apa kau sedang cemburu dengan anakmu Sehun?.

TRIING .. TRIING..

"Sehunnie bisakah kau gendong Haowen sebentar? Aku harus mengangkatnya" tanpa banyak kata Sehun mengambil alih Haowen ditangan istrinya. Bayi itu berhenti memperlihatkan wajah polosnya dan berubah menjadi err sangat menyebalkan.

"Hey Baby.. apa kau sengaja menahan Mommymu agar tidak pergi berkencan dengan Daddy?"

"bllbzzlblz"

"Baby Hao mau bersaing dengan Daddy heum?" serius Sehun, melupakan bahwa yang sedang ia tantang adalah seorang bayi.

"blzblvblzbbb"

"Okke kita lihat saja, setelah ini Daddy akan membuat Mommy seharian bersama Daddy dan Bab- YAAKKK HAOWENOOOO!"

"Sehunnie ! ada apa?!" teriak Luhan yang berlari menghampirinya dengan wajah cemas.

"Baby Hiks…" wajah Sehun sendu dan matanya berkaca-kaca menatap Luhan sedih.

"Seh- ahahahahaha" Luhan tertawa terbahak-bahak. Melihat Sehun yang sudah dibanjiri Puff Haowen yang memang sedikit encer. Lihatlah tangan dan kemeja putihnya yang kini sudah dipenuhi bercak-bercak kuning yang err wangi. Luhan lupa jika Haowen belum memakai pampersnya, karena dia belum menggantinya setelah tadi Haowen buang air kecil, dan bodohnya Luhan memberikan si kecil pada ayahnya dengan keadaan tanpa celana. Jadilah kini Sehun menjadi tempat penampungan gas beracun milik anaknya. Luhan terpingkal-pingkal hingga meneteskan air mata, suaminya terlihat sangat lucu dengan ekspressi seperti itu.

Merasa sikap nya sedikit keterlaluan Luhan berusaha menghentikan tawanya lalu berjalan mendekati suaminya. Diambilnya Haowen dari gendongan suaminya setelah menyampirkan handuk dibagian bawah si kecil lalu ditidurkan kembali diatas ranjang.

"Bibi Lee tolong bersihkan Haowen ya"

"Ya Nyonya" Luhan tersenyum lalu menarik tangan suaminya tanpa melihat bahwa suaminya sedang memberi tatapan mematikan pada si kecil yang berkata 'Daddy tahu kau sengaja Baby Min. Kita belum selesai'. Ohh ayolah Sehun dia anakmu dan dia hanya seorang bayi.

.

.

.

"Kau marah?" Sehun tidak menjawab dan sibuk membuka kancing kemejanya satu persatu dikamar mandi, pria itu kesal sekarang dia harus mandi lagi karena badannya sudah bau.

"Biar aku bantu" Sehun masih mengabaikan Luhan. Sebenarnya dia tidak marah, hanya sedikit kesal karena rencananya untuk berkencan dengan istrinya gagal karena ulah anaknya yang sepertinya sengaja. Dan sedikit menggoda istrinya ini tidak apa kan?

"Sehunnie.."

"Hmmm"

"Mianhae.. kita tidak bisa pergi, sungguh bukannya aku tidak ingin tapi Hao-"

"Ya aku mengerti" Pria itu ketus dan segera menenggelamkan tubuhnya di Bathup yang sudah diisi air hangat setelah sebelumnya membuat wajah istrinya memerah karena dengan santainya membuka seluruh pakaiannya didepan matanya. Ohh Choi Luhan bukankan itu hal yang wajar? Namun mengingat kebersamaan mereka tidaklah banyak membuat semua itu menjadi hal yang err membuatnya sedikit malu.

"Sedang apa disana? Bukannya ingin membantuku?" interupsi Sehun. Luhan gelagapan dan segera membubuhkan sabun cair di spon mandi lalu menggosokannya ke tubuh suaminya yang sexy. Sehun melihat perubahan wajah Luhan yang menjadi semerah tomat. Ahh ia baru ingat hanya sekali pria itu menyentuh istrinya itu, ia sedikit heran bagaimana mungkin selama ini ia bisa tahan tidak menyentuh istrinya ini? Pria itu ingat untuk bisa tidur seranjang dengan istri tercintanya ini benar-benar sulit. Sekalinya mereka tidurpun pria itu hanya asyik mendekap erat tubuh mungil itu menyalurkan semua rasa rindunya. Sehun memandang wajah malu-malu Luhan yang sungguh menggemaskan, didekatkannya wajahnya dan ..

CUPP ciuman itu akhirnya mendarat dibibir manis Luhan, gadis itu diam tak merespon dan tidak juga menolak. Melihat itu Sehun menggerakkan bibirnya lebih dalam, dan Luhan mulai membalasnya. Perlahan si gadis mengemut bibir atas si pria saat bibir bawahnya dikulum, Semakin lama ciuman itu semakin bergairah, lidah mereka beradu dan saling membelit memberikan kenikmatan hingga kepala merekapun tidak berhenti bergerak. Keduanya terengah saat tautan mereka terlepas. Melihat kabut nafsu dimata suaminya membuat Luhan tersadar bahwa saat ini ia akan lebih dari sekedar memandikan Sehun.

"Se-Sehunnie Kyungsoo.."

"Kau mulai lagi Luhan" perubahan wajah itu membuat Luhan memberenggut, suaminya kembali memasang wajah dingin dan tak menatapnya. Dia segera memeluk leher Sehun erat dan menggeleng berharap Sehun mendengarkan penjelasannya. Namun lelaki itu malah mendiamkannya lagi tanpa membalas pelukan sang istri.

"De-dengarkan aku, kumohon Sehun" gelagapan tak ingin semakin suaminya marah. "Kyungsoo.. dia tidak bisa pulang selama 2 hari ini, ta-tadi dia yang menelponku. Dia menitipkan Haowen padaku.. kumohon jangan marah hmm?" wajahnya berkaca-kaca. Uhh lihatlah wajah Istrinya yang menggemaskan itu membuat Sehun luluh. Bukan pria itu membenci keberadaan istri keduanya, hanya saja dia ingin bersikap adil, saat ini adalah waktunya bersama Luhan dan ia tidak mau ada orang ketiga saat dia sedang bersama istri manisnya.

Sehun kembali mencium lembut istrinya. Gadis itu senang bukan main karena Sehun tidak menunjukkan sikap dinginnya lagi. Dengan senang hati dia membalas setiap perlakuan lembut dan sensual suaminya.

Mereka saling bertatapan, mendapati istrinya berisyarat bahwa dia 'siap' Sehun segera menariknya kedalam Bathup yang masih berisi air hingga membuat pakaian yang masih melekat ditubuh istrinya basah kuyup. Sembari memberikan gerakan sensual dileher dan telinganya membuat Luhan mengerang dan mendesah. Saking menikmati belaian halus suaminya ia sampai tidak menyadari jika ia kini hanya berbalut rok yang sudah naik ke perutnya dengan keadaan basah.

Saat tangan kekar itu meremas kedua buah payudaranya membuatnya semakin mengerang dan menggesekkan belahan pantatnya pada kejantanan suaminya yang sudah sangat keras. Sehun tak tahan. dengan sekali hentak ia melepaskan celana dalam yang masih bertengger indah di selangkangan istrinya. Lalu perlahan memasukan miliknya membuat mereka sama-sama merasakan hangat tiada tara bercinta didalam air yang msih menggenang.

"Eunghh.. Asshh.. Se-sehunhh.. Ugh"

"Baby.. yes.. kau nikmat sayang"

Desahan-desahan itu meluncur dan semakin keras ketika keduanya mencapai hasrat mereka. Luhan terengah dan menyandarkan dirinya didada bidang suaminya. Ini nikmat, sentuhan Luhan begitu membuatnya bergairah. Sehun hanya tidak menyadari bahwa dia mulai merasa candu dengan tubuh istrinya yang mungil itu. Bahkan jika dibandingkan dengan Kyungsoo pria itu lebih menikmati percintaanya dengan Luhan. Kyungsoo sudah berpengalaman dan dia tidak perlu susah-susah untuk membuatnya binal, karena wanita itu akan berkali lipat agresif dan nakal jika sudah menyangkut dengan yang namanya ranjang. Namun beda halnya dengan Luhan, gadis itu membuatnya tertarik semakin dalam. Dia dengan kepolosannya berusaha mengimbangi Sehun meski ciumannya masih sangat amatir, dan itu menjadi obsesi tersendiri baginya untuk mengajari Luhan menjadi sedikit 'binal' mungkin. Pria kekar itu ingin mengajarkan secara perlahan pada si mans ini bagaimana caranya untuk memuaskan hasrat kelelakiannya yang bisa dibilang besar. Tapi disisi lain dia selalu memuja Luhan yang polos, dan dia tidak akan merusak keluguan istrinya. Hey Sehun bilang dia hanya 'sedikit' mengajarkan istrinya untuk 'binal', ingat 'sedikit'. Luhan yang menggemaskan dengan kepolosan dan ketulusannya tetap menjadi kesukaanya. Ahh Sehun sangat bahagia bersamanya saat ini.

.

.

.

"Hey Baby Boy !" ujar Sehun pada si kecil yang sibuk memainkan boneka karet kodok yang tentunya steril didalam bak madi kecil yang memang tersedia untuk memandikannya.

"Blzbzzbllb" Balita itu masih mengachkan Sehun, sementara pria tampan itu memutar matanya malas melihat penolakan yang lagi-lagi dilontarkan anaknya. Tapi tekadnya harus segera dilaksanakan, dengan mantap dia memegang bahu mungil Haowen membuat si balita itu menatap ayahnya.

"Sebagai sesama lelaki kita harus membuat kesepakatan Boy. Ayolah Daddy ingin menghabiskan waktu dengan Mommy mu sebentar saja. Tidak bisakah Haowen mengerti heum?" Sikecil hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Daddy akan memberikanmu banyak susu"

"Blszzlbbl"

"Daddy akan emm .. mengajakmu jalan-jalan keluar"

"bblzzbblbb"

Sehun mengacak rambutnya frustasi, tidak ada cara lain untuk mendapat restu anaknya ini. "Baiklah.. Daddy akan memberikanmu mainan kodok sebanyak mungkin okke. Dan biarkan Daddy bersama Mommy satu hari setuju?" Si kecil terlihat berfikir, tawarannya sangat menggiurkan akhirnya balita itu mengangguk merespon. Sehun merasa terjatuh dari lantai 20, ia terkejut sekaligus heran kenapa anak laki-lakinya ini begitu menyukai kodok? bahkan untuk ukuran bayi yang baru berusia 5 bulan. Sehun tak habis fikir kenapa Haowen begitu tertarik dengan hewan hijau menjijikan itu.

"Jika tau membujuknya hanya membutuhkan kodok sudah lama kulakukan" gumam Sehun. Akhirnya dia mengangkat si kecil dari tempat mandinya dan memanggil Bibi Lee untuk segera memakaikan anaknya pakaian.

"Okke Boy.. setelah ini jangan mengganggu Daddy dan Mommy arra, sebagai lelaki sejati kau harus menepati janjimu heum" Bayi itu hanya melemparkan mainan bebek ke kepala ayahnya.

"Auhh.. baiklah-baiklah Daddy tidak akan banyak bicara. Dan terimakasih heum"

Sehun melenggang pergi setelah mengecup kening anaknya yang sudah tidak mengacuhkannya seperti tadi siang. Sedikit menyebalkan memang, dia sudah berusaha pulang setengah hari untuk bisa berkencan dengan Luhan namun ternyata gagal dan Sehun harus membuatnya lagi dari awal. Tapi tidak apa setidaknya si kecil sudah memberinya izin padanya untuk berkencan bersama istri manisnya, dan itu cukup membuatnya bahagia mengingat Haowen tidak akan mengganggu kebersamaan mereka lagi.

"Sayang.."

"Hmm"

Luhan tersenyum merasakan tangan kekar memeluk erat tubuhnya yang sedikit kedinginan, yaa bagaimana tidak? acara mandi mereka menjadi lebih panjang 2 jam dari seharusnya. Dan itu cukup membuatnya sedikit merasakan hangat ditubuhnya.

"Haowen sepertinya tidak akan mengamuk lagi, jadi bisakah kita pergi? kumohoon"

"Ahh suamiku sangat berharap berkencan denganku ternyata"

"Tentu saja, jadi ?"

"Baiklah.. setelah aku-"

"No Baby ! tidak ada melihat Haowen lagi, aku sudah mengeceknya tadi dan dia baik-baik saja" dia terkekeh melihat wajah kesal suaminya yang pasti sudah berfikir acaranya akan kembali gagal gara-gara sifat keibuannya yang tidak bisa meninggalkan si kecil saat dia benar-benar ada disamping bayi mungil itu.

"Arra Arra, Kajja kita pergi Tuan Oh"

"Baik Nyonya Oh" dan setelahnya mereka tertawa bersama dengan tangan yang saling bertautan mesra, meninggalkan rumah besar dan si kecil di tangan pengasuh setianya.

.

.

.

.

"Senang bekerja sama denganmu Tuan Wu"

"Ya, semoga anda puas bekerja sama dengan perusahaan kami" Kris menjabat tangan pria paruh baya yang menjadi kliennya.

"Oh ya anda bisa mengirimkan dokumen-dokumen pendukungnya pada sekretaris saya nanti Tuan, Kyungsoo kau bantu apa saja yang dibutuhkan untuk kerjasama kita pada Tuan Wu hmm?"

"Ne Sajangnim"

"Kalau begitu saya pamit dulu"

"Ya silahkan Tuan Jang"

"Tuan, untuk berkas dan beberapa agenda pertemuan yang harus segera dilakukan saya akan mengaturnya dengan asisten atau sekretaris anda"

"Baiklah, oh ya kita belum berkenalan Nona. Aku Wu Yi Fan, kau bisa memanggilku Kris" pria itu mengajukan tangan untuk berjabat dengan wanita didepannya.

"Saya Kyungsoo, Oh Kyungsoo"

.

.

.

.

TBC

.

.

.

Mian aku baru bisa up sekarang, yaah berhubung ujiannya udah selesai jadi punya waktu sampai akhr bulan buat bisa up cepet, semoga aja imajinasiku ga beku yaa hehehe

Gabisa ngomong apa2 lagi selain terimakasih buat yang masih mendukung FF ini. hehehe semoga kalian suka chapter yang giung ini, aku udah nepatin janji kaan buat kasih yang manis.. hanya di beberapa chap aja sih udahnya aku kasih yang pait lagi hehe

Review Please ^_^