"Senang bekerja sama denganmu Tuan Wu"

"Ya, semoga anda puas bekerja sama dengan perusahaan kami" Kris menjabat tangan pria paruh baya yang menjadi kliennya.

"Oh ya anda bisa mengirimkan dokumen-dokumen pendukungnya pada sekretaris saya nanti Tuan, Kyungsoo kau bantu apa saja yang dibutuhkan untuk kerjasama kita pada Tuan Wu hmm?"

"Ne Sajangnim"

"Kalau begitu saya pamit dulu"

"Ya silahkan Tuan Jang"

"Tuan, untuk berkas dan beberapa agenda pertemuan yang harus segera dilakukan saya akan mengaturnya dengan asisten atau sekretaris anda"

"Baiklah, oh ya kita belum berkenalan Nona. Aku Wu Yi Fan, kau bisa memanggilku Kris" pria itu mengajukan tangan untuk berjabat dengan wanita didepannya.

"Saya Kyungsoo, Oh Kyungsoo"

.

.

.

"Sehunnie.. ini sangat indah"

"kau suka sayang?" pria itu tersenyum senang melihat betapa antusiasnya wanita yang ada dihadapannya ini. Wajahnya menyiratkan kesenduan mengingat bahwa ini pertama kalinya ia membawa istrinya berkencan setelah 1 tahun lebih menikah bersamanya. Dan sampai saat ini ia masih menyisakan banyak penyesalan yang mendalam untuk semua kesalahannya pada wanita berhati sutra ini. Dan seperti janjinya dengan segenap hati pria itu akan menghabiskan sisa waktunya untuk membahagiakan Luhan dan juga keluarga kecilnya.

"Tentu aku sangat menyukainya, ayo kita berfoto" Tongkat penyangga smartphonepun ia ulurkan agar pemandangan indah dibelakangnya ikut masuk dipotret mereka.

CKREK

"Sehunnie wajahmu" Luhan tertawa melihat hasil jepretannya, suaminya benar benar kaku wajahnya menyiratkan kebingungan sehingga senyumannya terlihat aneh disana.

"Heyy Tuan Oh kenapa mukamu seperti ini, tapi aku suka khekhe" lagi-lagi suaminya hanya tersenyum lalu mengelus puncak kepala sang istri dan mengecupnya sayang.

"Aku tampan disini sayang"

"Ya.. kau selalu tampan dan menawan Sehun" mereka bertatapan dalam lalu kembali tersenyum, lalu Sehun menarik tangan mungil itu menuju jembatan yang katanya bisa mengunci kisah cinta pasangan hingga abadi pada mereka yang datang kesana.

Matanya melirik kekanan kekiri lalu menghampiri seorang pedagang kaki lima mencari sebuah benda yang dibutuhkannya, dan akhirnya terhenti pada sebuah gembok berwarna baby blue yang menarik perhatiannya. Diambilnya gembok itu setelah memberikan beberapa won pada sang pedagang.

"untuk apa gembok itu Sehunnie?"

"Kau tau Lu, banyak yang percaya bahwa saat pasangan yang saling mencintai menggantungkan gemboknya dijembatan ini cinta mereka akan abadi" Bagi pria pebisnis muda yang hebat sepertinya merupakan hal bodoh percaya dengan hal-hal seperti itu sebenarnya, namun entah mengapa saat ini ia berharap bahwa mitos itu benar-benar akan terjadi.. yaa terjadi pada kisah cintanya dengan wanita mulia ini.

"Benarkah?" Tanyanya antusias. Wajahnya merona mengingat perkataan suaminya barusan 'apa? saling mencintai kata Sehun' gadis itu hanya berharap bahwa itu bukan sekedar ucapan tak sengaja yang keluar dari mulut suaminya.

"Aku tidak tahu, hanya saja aku sangat ingin melakukannya bersamamu, mengunci hati kita di gembok ini" tangannya beralih pada dada istrinya "dan disini"

Luhan terkejut, apa ini artinya Sehun sudah mulai mencintainya? Jika memang iya bolehkah ia merasa bahagia saat ini? Hatinya menghangat mendengar betapa manisnya suaminya sekarang. Luhan tidak peduli mitos itu nyata atau tidak, karena baginya cintanya akan selalu abadi untuk Sehun. "Sehunnie.. hatiku, cintaku bahkan ragaku selamanya adalah milikmu. Kau tidak perlu meragukan itu, kau adalah pemilik semua yang ada pada diriku" jelasnya.

"Aku tahu dan aku percaya sayang, jadi kita bisa menyimpannya sekarang?"

"Tentu"

"Ahh aku lupa, kita belum menuliskan nama dan harapan kita digembok ini Baby" Sehun mengambil spidol yang sudah disediakan disana lalu menuliskan namanya dan nama Luhan juga tiga kata di gembok itu, sementara Luhan hanya menatap wajah suaminya yang terlihat serius membuatnya sesekali terkekeh karena dia terlihat seperti mengerjakan berkas-berkas yang biasanya tertumpuk di meja kerjanya, benar-benar serius.

Mereka membuka gembok itu lalu mengaitkannya ditempat yang masih kosong, jembatan itu sudah terlalu penuh dengan gembok, sekilas ia berfikir kenapa banyak sekali orang bodoh yang percaya mitos itu. Ohh pria itu melupakan bahwa ia juga merupakan salah satu pasangan bodoh itu. Setelah mengunci gembok itu mereka membuang kunci itu dikotak besar yang sudah disediakan. Well jika mereka membuangnya kesungai itu akan mencemari lingkungan bukan?

"Lihat, sekarang hati kita sudah terkunci disini"

"Dan disini" potong Luhan sembari tangan kanannya menunjuk dadanya, menyiratkan bahwa hatinya memang sudah terkunci hanya untuk seorang yaitu pria tampan didepannya.

"Yahh aku tahu sayang"

Melihat pemandangan Seoul dimalam hari seperti ini terasa menyejukkan mata. Lampu menyala terang dimana-mana. Gedung pencakar langit menjadi tampak lebih indah. Lelaki itu memeluk tubuh ramping istrinya dari belakang.

"Luhan.."

"Hmm" Sehun membalikkan tubuh itu, matanya menatap dalam mata bulat didepannya. Luhan seperti terhipnotis dan tak terusik ataupun berkedip. Jari-jarinya menelusuri lekuk indah wajah mulus itu, betapa sempurnanya dengan mata yang bulat, hidung yang mancung bibir yang sedikit tebal dan kulitnya yang halus seperti bayi itu. Tidak.. Sehun tidak bisa membohongi hatinya lagi jika ia mulai mencintai sosok ini. Bukan hanya karena rupa cantiknya, namun juga kebaikan hati dan juga ketulusannya. Dia adalah wanita yang sempurna, paling sempurna setelah ibunya dan Sehun tidak memungkiri itu.

"Luhan"

"Ya Sehunnie"

"A..aku"

"Hmm?"

"Aku mencintaimu"

"…"

"Baby" panggilnya karena wanita itu masih bergeming tak memberikan reaksi apapun terhadalp ucapannya.

"Hiks"

"Heyy sayang kenapa menangis" Sehun menangkup wajah istrinya dan menghapus air mata yang mengalir dipipi indah itu.

"Hiks Se-sehun Hiks"

"Hey hey sayang ceritakan padaku, apa aku menyakitimu heum?" Luhan menggeleng lalu menatap mata tajam itu dengan berkaca-kaca. "Aku bahagia.. sangat bahagia. Ini adalah pertama kalinya kau mengatakan cinta padaku. Hiks.. Sehun, ak- aku juga mencintaimu .. sangat Hiks"

Sehun tersenyum getir melihat kebahagiaan yang terpancar dari mata sang kekasih, apa sejahat itu dia menyakiti sosok ini? Hingga saat ia mulai menyadari perasaanya itu memberikan kebahagiaan berlipat seperti ini padanya.

Sehun juga tidak memungkiri bahwa hatinya terharu dengan penuturan Luhan, wanita itu sungguh sangat mencintainya dan Sehun tidak akan mengabaikan lagi perasaan cintanya seperti yang lalu. Saat ini ia berjanji akan memberikan banyak cinta untuk wanita terkasihnya kini.

"Maaf, maafkan aku yang baru menyadari bagaimana hatiku sesungguhnya Lu. Mulai saat ini izinkan aku untuk selalu mencintaimu. Izinkan aku untuk memberikan kebahagiaan yang selama ini tidak pernah aku berikan padamu. Aku, aku tidak ingin kehilanganmu"

"Hiks.. kau adalah sumber kebahagiaanku Sehunnie. Meninggalkanmu adalah hal mustahil yang akan kulakukan selama aku masih diberikan kehidupan. Dan cintaku akan selalu mendampingimu baik sekarang ataupun nanti. Terima kasih, terima kasih karena kau mau mencintai wanita sepertiku"

"Tidak sayang, aku yang berterima kasih karena wanita berharga ini mau memberikan hatinya untuk pria buruk sepertiku" ujarnya masih mengelus pipi basah istrinya yang semakin menangis dan menggeleng mendengar penuturan suaminya.

"Bagiku kau yang terbaik Sehunnie"

"Aku mencintaimu Oh Luhan"

"Aku juga mencintaimu Oh Sehun"

.

.

.

.

"Aku tidak pernah berfikir jika meninggalkan rumah adalah kesalahan terbesar yang kuperbuat. Jika aku tahu mereka akan menjadi semesra ini aku tidak akan lagi pergi jauh" gumamnya, pandangannya yang berkobar masih tertuju pada kedua insan yang kini saling merangkul dan memberi kecupan manis dibibir dibalik jendela yang tertutup tirai. "Aku pastikan kalian tidak akan mendapatkan senyuman itu lagi setelah malam ini" Sosok itu menghampiri bocah mungil yang kini tertidur lelap diranjang kecil miliknya, mengelus wajah dan juga rambutnya secara halus.

"Sayang .. apa kau ingin Daddy menjadi milikmu seorang? Apakah menyingkirkan Mommy mu bisa membuatmu mendapatkan hak sesungguhnya?"

Kyungsoo terpukul, hatinya sangat sakit mendapati kenyataan bahwa putra satu-satunya ini tidak masuk dalam silsilah keluarga Oh termasuk dirinya. Mertuanya menepati janji mereka yang akan menganggapnya sebagai bayangan saja. Disini dialah yang tersakiti, dialah yang tersiksa tapi kenapa semua orang memandangnya seperti perempuan penggoda dan perebut suami orang? Kenapa dia diperlakukan seperti jalang tak tahu diri yang mengincar kekayaan pria kaya? Tidak .. Kyungsoo hanya ingin anaknya tidak merasakan hidup sebagai bayangan ayahnya. Haowen berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik, Haowen berhak mendapatkan pengakuan mertua dan keluarganya. Apapun caranya sebagai seorang Ibu Kyungsoo akan mewujudkan kebahagiaan anaknya.

CKLEK

"Haowen Mommy pulang Eh ~ Kyungsoo? kau sudah pulang?" yang ditanya hanya memutar bola matanya malas namun kemudian ia tersenyum.

"Ya, aku merasa ingin cepat pulang karna takut menemukan seorang pen-cu-ri" jawab Kyungsoo sarkatik membuat madunya mengernyit bingung.

"Sayang kau- Kyungsoo?"

"Oppa.. aku merindukanmu" ujarnya seraya menghambur kepelukan suaminya menenggelamkan wajahnya diceruk leher suaminya dengan erat. Sementara Luhan tersenyum melihat kemanjaan madunya lalu berjalan kearah malaikat kecilnya yang tertidur pulas.

"Kenapa kau sudah pulang? bukankah kau pergi selama 2 hari?" Tanya Sehun masih mengelus rambut Kyungsoo.

"Oppa tidak suka? Oppa tidak merindukanku?"

"Bukan begitu Bummie, hanya saja .. hahh yasudahlah bagaimana kabarmu? kau sehat heum?" tanyanya membuat sang istri kembali sumeringah.

"aku hanya sedikit lelah Oppa"

"Kalau begitu istirahatlah hmm"

"Baiklah, aku pergi" wanita itu meninggalkan ruangan itu dengan lesu setelah mendapatkan ciuman manis dibibirnya, dia tidak berbohong jika saat ini tubuhnya terasa lelah, saat ini karirnya semakin menanjak dan dia tidak bisa jika meninggalkan pekerjaannya karena itu akan menghambat karirnya dimasa depan, walau sebenarnya ia merasa bersalah harus menelantarkan anaknya dirumah.

CUP

"Hey sayang, kenapa diam seperti itu?"tanyanya setelah menempatkan dagunya diantara leher istrinya.

"Aniyo aku hanya sangat merindukan anakku, lihatlah Sehunnie dia sangat tampan" jawabnya tanpa menoleh dari sosok kecil yang sedang memasukkan jarinya dimulut berliur itu.

"Sepertiku?"

"Hmm sepertimu"

"Terimakasih karena kau mau menyayangi dan mencintai Haowen Luhan, kau tahu itu membuatku sangat bahagia" pria itu tersenyum dan hatinya kembali menghangat, selama ini seringkali ia berusaha membuat istri pertamanya itu cemburu atau marah namun usahanya tak pernah berhasil. Hati wanita itu sangat bersih dan jauh dari kata marah dan kebencian, benar benar putih dan polos. Karena setiap apa yang ia ucapkan selalu dibalas dengan kalimat kalimat indah yang mampu meruntuhkan keegoisannya. Seperti saat ini, meski kalimat itu sangat sederhana namun itu mampu membuat Sehun seperti seseorang yang sangat berharga, tentu saja itu hal yang sangat membahagiakan.

"Kau yang memberiku kebahagiaan Sehunnie, aku.. aku sangat mencintaimu. Dan memiliki Haowen adalah hal terindah untukku selain dirimu" Sehun memalingkan wajah istrinya untuk ia tatap. Menyelami mata bulat yang indah itu berusaha menyampaikan apa yang tengah ia rasakan kini.

"Lu.. aku mencintaimu" wanita itu tersenyum cantik, hatinya berkali lebih bahagia saat tanpa ragu suaminya mengucapkan kata-kata indah yang selalu ia nanti lebih dari 3 tahun ini. Yah anggap saja selama ia menikah, karena 2 tahun sebelumnya ia hanya melihat lelaki itu dari kejauhan, mengaguminya, mencintainya dengan jarak.

"Aku juga mencintaimu Sehunnie"

.

.

.

.

"Beginikah cara kerjamu Tuan Shin? apa kau fikir aku membayarmu untuk mengerjakan laporan menjijikan seperti ini?" murkanya, beberapa hari terakhir ini suasana pria yang satu ini sungguh buruk dan melihat pekerjaan anak buahnya yang berantakan membuatnya semakin naik pitam, bahkan ia tidak peduli lagi jika sosok didepannya sudah menunduk semakin dalam dan gemetaran.

"ma-maafkan saya Presdir, saya akan mengulanginya lagi"

"Jika sekali lagi aku menemukan kesalahan aku tidak akan segan-segan memecatmu" ujarnya lalu melemparkan berkas-berkas itu hingga berserakan, sehingga si pemilik lebih memilih memungutinya.

"Ba-baik Presdir" Pria paruh baya itupun berbalik dan bergegas keluar dari ruangan yang 2 hari ini membuatnya terasa di neraka. Bagaimana tidak setelah pulang dari perjalanan bisnisnya Presdir perusahaan itu kembali dalam mood terburuknya.

CKLEK

"Lisa, aku sudah bilang aku tidak ingin diganggu !" bentaknya tanpa menoleh kearah pintu besar ruangannya.

"Jadi kau juga tidak ingin bertemu denganku?" lirih seorang wanita dengan wajah yang cemberut, mendengar suara yang begitu ia kenal Kris mengalihkan pandangannya dan terkejut dengan orang yang menjadi biang mood buruknya dihadapannya. Segera ia berlari meninggalkan berkas-berkasnya yang berceceran dan memeluk erat sosok itu.

"Kau pengecualian Luhan, aku sangat merindukanmu. Kau tahu? 2 bulan tidak bertemu denganmu membuatku nyaris gila. Rasanya aku ingin membakar perusahaan ini dan menghabiskan waktuku hanya denganmu" ujarnya menggebu-gebu mengabaikan senyuman manis diwajah gadisnya itu. Wanita itu tahu betapa lelaki didepannya ini membutuhkannya, ia bahkan sering khawatir jika dirinya tidak akan berada disamping Kris lagi, bagaimana nanti dengan nasib lelaki itu kelak jika ia meninggalkannya demi keluarganya. Bagaimanapun ia sudah menikah dan tidak mungkin terus menerus bersama lelaki ini. Dia hanya tidak ingin membuat suaminya salah paham. Namun kembali ditepis fikiran negative itu, selama ini Kris sudah menjaga dan melindunginya, selama ini Kris selalu ada kapanpun ia membutuhkannya, dan wajar saja bukan jika Luhan peduli dengan pria ini membalas untuk setiap perhatian dan waktu yang laki-laki itu curahkan untuknya dulu.

"Heyy aku disini sekarang" tangannya mengelus punggung tegap itu dengan halus, berusaha menenangkan pria didepannya ini.

"Ya.. kau disini, terima kasih" pria itu semakin erat memeluk gadis itu mengabaikan jika dia mungkin saja merasa sesak, namun bagaimana lagi hatinya benar benar merindukan sosok ini karena hanya dialah yang bisa meredakan semua kegundahan dihatinya.

"Cukup Kris kau sudah berlebihan, dan jangan pernah melampiaskan kemarahanmu itu pada orang lain heum?" wanita itu menatap dalam mata tajam yang memandangnya, sungguh kesal mendapatkan kabar dari Jongin bahwa selama dia tidak masuk Presdir mereka mengamuk kepada siapapun yang mengajaknya bicara atau bertemu, dan itu membuatnya menghela nafas kasar bahwa ia harus segera bertindak. Bertahun-tahun berada disisi pria itu membuat Luhan tidak lupa bahwa Kris masih bergantung padanya, terkadang ia merasa takut jika suatu hari Sehun mengetahui ini hingga hubungan mereka mungkin akan menjadi rumit, namun Kris tidak memiliki siapapun selain dirinya saat ini dan Luhan tidak akan meninggalkan pria itu bergitu saja setelah apa yang terjadi padanya. Untuk itu dia hanya harus bersabar sedikit demi sedikit agar lelaki itu tidak terlalu bergantung padanya.

"Kenapa kemari? aku bisa menemuimu diruanganmu Lu"

"Dan mendapatkan rumor kalau kita berselingkuh lagi? Tidak terima kasih" Kris hanya berdecak untuk menanggapinya.

"Aku akan memecat orang-orang yang berani mengusikmu" jawabannya mendapan delikan tajam dari gadisnya membuatnya terkekeh.

"Dan aku akan semakin dibenci begitu? Oh ayolah Kris berhenti menyalahgunakan kekuasaanmu untuk melindungiku"

"Memangnya kenapa? aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan untukmu. Kau keberatan?" matanya menyipit tidak terima dengan ucapan si manis.

"Baiklah-baiklah aku mengalah, maafkan aku dan terima kasih karena selalu melindungiku" lembutnya.

"Anything for you, lalu kenapa kau kemari hmm?" tanyanya. Luhan menggigit bibirnya ragu untuk mengutarakan maksud kedatangannya kemari.

"Emm mau menolongku?" cicitnya.

"Sudah kubilang apapun akan kulakukan untukmu sayang" ucapnya membuat si gadis tersenyum manis.

"Kau mau mengantarku.. emm kerumah sakit?"

"Astaga kau kenapa? apa kau sakit? kau baik baik saja kan?" Kris mulai meneliti setiap inchi tubuh gadisnya ini dengan panik. Dia tidak akan membiarkan tubuh ini tergores sedikitpun.

"Tidak Kris.. aku aku"

"Hey, kau bisa menceritakannya padaku" gadis itu mengangguk ragu lalu mengangkat wajahnya.

"Aku, ingin konsultasi kehamilan Kris" menghela nafasnya lalu melirik Luhan dengan kesal.

"Apa karena pria itu? Suamimu?" ketusnya. Masih tak terima dengan status baru gadisnya ini.

"Kumohon" wajah polosnya membuat pria itu lagi lagi luluh, dia tidak akan bisa menolak apapun yang menjadi keinginan gadisnya ini.

"Kenapa tidak dengan si hitam itu?" selidiknya. Bukan, bukan karena ia tidak ingin mengantar Luhan, namun ada sepercik rasa cemburu jika ia mendengar hal-hal yang menyangkut kehidupan gadisnya dengan pria lain selain dirinya meski itu adalah suaminya sendiri.

Gadis itu hanya menggeleng "Jongin sedang sibuk dikejar dealine, ingatkan aku bahwa kau yang membuatnya kerepotan seperti itu" pria itu hanya terkekeh.

"Dia pria yang kuat aku yakin. Baiklah.. sebagai imbalannya kita makan siang bersama"

"Setuju"

.

.

.

"Selamat siang Nona" gadis itu menoleh melihat sosok cantik didepannya lalu tersenyum.

"Ada yang bisa saya bantu Nona?" Tanya Lisa.

"Perkenalkan aku Oh Kyungsoo sekretaris Tuan Jang Dong Yoon dari Loriz Enterprise, aku ingin menemui Presdir"

"Ahh Begitu, saya Lisa sekretaris Tuan Wu. Kebetulan Presdir sedang keluar Nona dan mungkin akan kembali beberapa saat lagi, jadi anda bisa menunggu diruangannya"

"Baiklah kalau begitu, terima kasih Lisa-sshi" wanita itu masuk keruangan yang sangat besar didalam setelah dipersilahkan oleh gadis cantik keturunan Thailand itu, saat didalam matanya melirik kesegala arah meneliti setiap bagian dari ruangan ini, begitu mewah dan berkelas. Lamunannya terhenti saat Lisa masuk mengantarkan secangkir teh untuk tamunya itu.

"Silahkan dinikmati, dan Presdir akan sampai tidak lama lagi Kyungsoo-ssi"

"Ne.."

.

.

.

"Presdir, didalam ada Sekretaris dari Tuan Jang Dong Yoon dia ingin bertemu dengan anda"

"Hm" Lisa cemberut Presdir nya itu kelewat dingin bahkan setelah ia bekerja lebih dari 3 tahun disini. Tapi gadis cantik itu sudah terbiasa dengan sikap dinginnya, dan yang ia lakukan hanya mengabaikannya dan kembali berkutat dengan pekerjaan-pekerjaannya. Well berkat mood buruk atasannya itu membuat dirinya harus bekerja ekstra karena membatalkan segala jadwal yang sudah diatur, dan itu bukan hal baru untuk Lisa ia sudah terbiasa.

CKLEK

Kyungsoo menoleh melihat sosok tubuh tinggi tegap yang begitu gagah dihadapannya, ia berdiri lalu membungkuk hormat padanya lalu menjabat tangan Kris.

"Apa yang membuatmu kemari Kyungsoo-ssi? silahkan duduk"

"Seperti yang anda tahu hari ini anda akan meeting dengan Tuan Jang, namun sayang sekali beliau tidak bisa hadir karena alasan kesehatan. Tapi beliau tidak ingin meeting ini dibatalkan, untuk itu beliau meminta saya untuk menggantikannya jika anda tidak keberatan Tuan Wu"

"Ahh begitu rupanya, tentu tidak keberatan. Kalau begitu kita mulai dari mana?" Dan beberapa saat kemudian mereka berdiskusi tentang hal hal yang menyangkut kerjasama dua perusahaan itu.

.

.

.

"Baiklah saya akan menyampaikan ini pada Tuan Jang, dan saya akan memberitahu pada sekretaris anda jika sudah mendapat persetujuan darinya" ujarnya.

"haha tidak perlu seformal itu denganku Kyungsoo-ssi, Anda bisa memanggilku Kris saja" ujar pria itu dengan nada santai.

"Ahh bagaimana mungkin, tetap saja anda adalah seorang presdir dari perusahaan besar" dalihnya.

"Tidak apa-apa, saat kita berdua kau bisa berbicara santai padaku" Kyungsoo hanya mengangguk dan tersenyum. "Oh ya kau sudah menikah?" Tanya Kris, karena melihat sesuatu yang berkilau dijari manis milik wanita didepannya ini.

"Ne Tuan, maksudku Kris. Aku sudah menikah dan memiliki satu orang putra" jelasnya.

"Wahh beruntung sekali pria yang mendapatkanmu. Selain cerdas kau juga cantik" Kyungsoo tertawa mendengar pujian yang sudah pasti ia sering mendengarnya. Namun tiba-tiba wajahnya kembali sendu membuat rekan kerjanya itu mengernyit heran melihat perubahan raut wajahnya.

"Apa ada masalah? maaf aku tidak bermaksud untuk-"

"Tidak apa-apa Kris, aku.. aku hanya sedikit sedih" pria itu masih bergeming mendengarkan. "Dalam rumah tanggaku, posisiku adalah sebagai istri kedua. Kau tahu? terkadang itu membuatku sangat sakit karena aku harus berbagi apapun dengan istri lain suamiku, dan mertuaku mereka sangat membenciku, menganggap bahwa aku merusak kebahagiaan anak dan menantunya. Tapi, mereka yang sudah memisahkan aku dengan suamiku. Kami adalah sepasang kekasih sebelumnya, sampai aku mengetahui bahwa ternyata kekasihku menikah dibelakangku karena perjodohan. Kami saling mencintai sampai akhirnya aku mengandung hasil dari benih yang ia tanam disaat pernikahannya baru menginjak beberapa bulan. Dan beberapa kejadian rumit membuat kami harus berada diposisi seperti ini sekarang. Aku.. aku Hiks" tangan itu baru saja ingin menghapus air matanya sebelum menangkap tangan seseorang yang memberikannya tissue, siapa lagi jika bukan Kris. Diambilnya tissue itu setelah mengucapkan terima kasih. Lelaki itu menatap iba wanita didepannya, bagaimana mungkin ia bisa tahan hidup satu atap untuk berbagi dengan wanita lain. Kris fikir pasti itu akan sangat menyakitkan bahkan ia saja tidak sanggup jika melihat Luhan bersama pria lain, tapi ia bersyukur karena tidak menyaksikannya secara langsung, berbeda dengan wanita didepannya ini yang melihat dan mengalami kejadian-kejadian menyakitkan akibat hidup bersama dengan istri lain suaminya.

"Ma-maafkan aku karena telah lancng menceritakan ini semua pada Anda"

"Gwenchana, kau tidak perlu sungkan Kyungsoo kau bisa menceritakan apapun padaku. Kita teman ingat?" wanita itu tersenyum dan mereka kembali tenggelam dalam cerita-cerita hangat. Sampai akhirnya Kyungsoo mengetahui bagaimana lelaki didepannya ini juga mencintai seseorang begitu dalam dan selama bertahun-tahun menjaga hatinya hanya untuk wanita itu.

Sedikit banyaknya ia juga merasa iba terhadap Kris, jika saja Sehun mencintainya dan memperjuangkannya sebesar itu maka ia akan menjadi wanita yang paling bahagia saat ini.

.

.

.

.

"Pesananmu sayang" pria itu tersenyum melihat sebuat paper bag berisi makan siang yang dibawakan istrinya.

"Terimakasih Nona manis, dan sebagai tambahan bolehkah pelangganmu ini mendapat service lebih? Aku bisa memberi tips yang besar" ujarnya sembari terkekeh.

"Apa yang anda inginkan Tuan Oh?" dengan senyuman yang masih terpatri diwajahnya. Sehun menggiring Luhan menuju sofa didepan mejanya.

"Aku ingin istriku ini menyuapiku" manjanya dengan kepala yang ia usak di leher istrinya.

"Kau sudah besar Sehunnie, kau terlalu tua untuk bermanja-manja seperti ini" Sehun mendelik lalu mendengus mendengar jawaban Luhan yang langsung tertawa melihat ekspresinya. Hell dia masih muda meski sudah menjadi seorang ayah, bahkan ia seperti remaja 20an dengan wajah tampannya ini.

CUP

Kecupan itu menyadarkan Sehun dari lamunannya "Baiklah pelayan ini akan memenuhi keinginan pelanggan yang terhormat ini" mengeluarkan makanan-makanan itu lalu perlahan menyuapi suaminya yang masih betah memeluknya erat dan menyenderkan kepalanya dibahu sang istri. Ini adalah moment-moment yang ia tunggu, saat suaminya bisa ia manjakan dan terlihat bahagia karena kehadirannya ini. Meski harus merelakan mendapat wajah cemberut Kris saat ia meminta izin untuk pulang setengah hari Luhan tidak menyesal jika imbalannya adalah perlakuan manis suaminya itu.

Sehun menggenggam jemari yang lebih kecil lalu mengecupnya berulang kali. Lalu kembali memeluk istrinya sembari mengunyah makanan yang disodorkan Luhan. Mereka begitu menikmati kebersamaan itu sehingga tanpa disadari Sehun tertidur pulas dipangkuan Luhan yang mengelus kepalanya lembut. Luhan tahu pria ini lelah dengan semua pekerjaanya karena bagaimanapun perusahaan ini masih perlu diperbaiki. Status perusahaan besar yang sempat disematnya kini tengah dipertanyakan. Karena semenjak pernikahan keduanya diketahui publik perusahaan itu anjlok mengakibatkan posisinya turun dari 10 perusahaan terbesar di Korea. Dan itu cukup membuatnya terbebani, karena harus mengcewakan sang ayah yang sudah membangun perusahaan itu di titik tertinggi 3 besar. Tapi setidaknya ia masih bisa menghidupi keuarganya sampai saat ini. Sehun tidak pernah menyerah dan selalu berusaha membangkitkan kembali perusahaannya yang terpuruk. Dan saat ini kondisinya sudah lebih baik dari pada setahun yang lalu. Luhan tahu suaminya berjuang dengan beban yang ia tanggung dipunggungnya begitu berat. Dan sebagai istri yang baik dan mencintai suaminya ia akan selalu ada disamping pria ini untuk mendukungnya.

"Senang mengagumiku?" cetusnya. Luhan tersenyum dan merunduk mencium kening Sehun lamat lamat.

"kau tahu, aku akan selalu ada disampingmu Sehunnie"

"Hmm aku tahu, aku mencintaimu Lu" ujarnya masih menatap mata istrinya yang ada diatasnya.

"Aku juga mencintaimu Sehunnie" Sehun tersenyum lalu memeluk perut Luhan erat menyembunyikan wajahnya disana, tanpa Luhan tahu setetes air mata mengalir dari pelupuk mata pria itu.

'aku mencintaimu, sungguh terimakasih karena kau selalu disampingku sayang'

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Okke gamau banyak bicara, mian karena telat banget up nya. setelah sibuknya beres terjerat masalah kuota kkkkk I'm Sorry. Berharap masih ada yang menunggu ff ini deeh hehe.. BTW ada yng punya recommend ff HunHan dan Chanbaek yang bagus? No Fluff atau full romance karena buatku itu sedikit kurang seru, aku lebih suka fantasy, crime, angst dan hurt gitu lebih emosional hehehe

Kalau ada boleh bagi2?

makasih untuk yang masih mendukungku. jangan lupa review yaa