"Hai.. kau menunggu lama?" sapa wanita dengan perawakan seksi dan berwajah cantik itu.
"Tidak, aku baru saja sampai"
"kau sudah memesan untukku?"
"Hmm tentu saja, jadi apa yang akan kita bahas hari ini Nona?"
"Emm jika menyangkut pekerjaan mungkin itu akan sedikit membosankan mengingat saat kita bertemu topik pembahasannya selalu proyek ini khekhe. Dan kurasa tidak buruk sesekali kita bertemu untuk menjadi teman bicara" jawab Kyungsoo.
"Bukan ide yang buruk, dan kurasa aku juga butuh teman untuk mendengarkan ceritaku. Kau tahu? orang yang kucintai terkadang terlalu sibuk untuk mendengarkan ocehanku. sangat menyebalkan". gerutu Kris sambil menyesap Americano miliknya. Kyungsoo hanya tersenyum geli melihat sikap Presdir yang orang bilang sangat menakutkan dan gila. Tapi tidak, menurutnya Kris tidak seburuk itu karena pada kenyataanya ia menjalin hubungan yang baik dengan pria ini.
"Kau yang membuatnya sibuk dengan proyek-proyek dibidang game milikmu Kris. Jadi jangan pernah mengeluh saat waktunya wanita itu ia habiskan untuk bercinta dengan pekerjaan-pekerjaannya" sindirnya.
"Yaa itu memang kesalahanku, harusnya aku membuatnya duduk ditempat yang mudah dan dia tidak akan merasa kelelahan, apakah aku harus menempatkannya diruanganku? Selain aku bisa selalu melihatnya dia akan punya banyak waktu bersamaku" Tanya Kris antusias, wanita itu hanya memutar bola matanya malas.
"Hell, dia akan merasa bosan jika setiap detik melihatmu Kris"
"Kurasa tidak, aku tampan dan dia sering menemuiku untuk sekedar melihatku" bantah Kris.
"Mungkin ya, tapi kurasa menempatkannya dalam posisi mewah akan membuatnya tidak nyaman. Kau tahu? terkadang wanita tidak perlu kemewahan untuk membuatnya bahagia. Kau bilang wanita yang kau cintai adalah tipe pekerja keras dan kufikir dia tidak akan senang jika hanya memakan gaji buta diperusahaanmu tanpa melakukan apapun"
Pria itu berfikir keras, benar apa yang dikatakan Kyungsoo, Luhannya bukan seorang yang gampangan seperti itu. Jika dia melakukannya hanya akan membuat hubungan mereka kacau, Luhan yang lembut namun keras kepala itu akan memarahinya habis-habisan jika ia bersikap berlebihan, terutama saat para pegawainya tahu. Terlebih ia sangat takut jika Luhan akan meninggalkannya karena sikapnya yang kelewat egois. Dan sepertinya Kris hanya akan merencanakan bagaimana caranya agar pujaanya itu mendapat sedikit pekerjaan, ingatkan dirinya agar rencananya ini tidak sampai ketelinga wanita itu.
"Kurasa kau benar, aku akan memikirkannya lagi nanti"
"hmm baguslah, tapi Kris, ku bilang kau mencintai wanita itu tapi kau tidak pernah menyebutkan namanya padaku, siapa dia? aku hanya tahu bahwa dia adalah teman lama yang merangkap sebagai salah satu pegawaimu" Tanya Kyungsoo penasaran. Ia ingin tahu wanita seperti apakah yang menjadi tipe dari Presdir tampan dan kaya sepertinya, bahkan membuatnya tergila-gila.
"Aku akan mengenalkannya padamu suatu saat nanti. Aku yakin jika kau adalah seorang laki-laki kau akan langsung jatuh cinta padanya" pujinya.
"Kau benar-benar memujanya Kris" wanita itu menyipitkan matanya masih tidak percaya dengan kegilaan pria didepannya.
"Yahh dia sangat sempurna"
"Aku jadi penasaran, kuharap aku akan segera bertemu dengannya"
"Tentu"
.
.
.
.
Flashback On
"Bagaimana hasilnya dokter? Apakah aku bisa memiliki seorang bayi?" tangannya bergetar hebat, tapi sesaat kemudian tangan lain menyentuhnya dan mengusapnya mencoba memberi ketenangan pada wanita itu.
"Oh Luhan-ssi, hasil pemeriksaan menunjukan bahw Rahim anda mengalami kelainan Septate. Kelainan ini terjadi ketika bagian dalam rahim dibagi oleh septum yaitu dinding otot. Septum memiliki ukuran yang panjang dari bagian saluran ke rahim dan juga serviks. Kondisi rahim seperti ini akan menyebabkan Anda sulit hamil. Kalaupun anda mengandung saya tidak yakin bayi itu akan cukup bertahan karena resiko kegugurannya sangat besar"
DEG
"A-aku tidak bisa mengandung?" suaranya bergetar.
"Kemungkinan Anda mengandung sangat kecil, dan bisa saja itu berbahaya bagi nyawa Anda Lu-"
"KAU ! berhenti membuat prediksi bodoh itu !" Kris geram. Pernyataan ini akan menyakitkan bagi wanitanya, lelaki itu bahkan tak sanggup untuk mendengarnya, genggaman di tangannya melemah namun masih bergetar. Wanita rapuh ini, apalagi yang harus dialaminya sekarang, Kris tidak sanggup bahkan untuk membayangkannya.
"Kita pergi Lu, dia pasti salah. Kita akan mencari dokter dan rumah sakit yang lebih baik"
"Tidak Kris" ia menggeleng dan tersenyum lemah meski air mata sudah mengembun dipelupuk matanya. Menghela nafas lalu kembali duduk disebelahnya.
"Maafkan kami Uisa" Dokter itu hanya tersenyum. "Tidak apa-apa Luhan-ssi, semua lelaki akan bertindak seperti suamimu jika mendengar hal ini" mereka hanya tersenyum, tidak membenarkan ataupun menolak perkataan sang dokter.
"Jadi apakah tidak ada jalan lain?"
"Kau bisa mengikuti terapi Luhan-ssi, jangan terlalu lelah dan juga coba lakukan hal-hal yang menyenangkan untuk anda, itu bisa mengurangi stress. Mungkin itu akan berpengaruh pada Rahim anda"
"Setidaknya masih ada harapan kan?"
"Ya.. kita hanya harus selalu berdo'a"
.
.
.
.
"Lu" lelaki itu sesekali memandang wanita yang duduk manis disampingnya, biasanya suasana di mobil tidak akan sheening ini. Mereka akan bercerita apapun untuk mengisi kekosongan, tapi yang dilihatnya saat ini adalah wajah murung yang wanita itu sembunyikan dibalik kaca jendela.
Sayang Kris masih bisa melihatnya bahkan saat air matanya mengalir. Tangannya menggenggam jemari yang terlihat semakin kurus akhir-akhir ini, dahinya mengkerut kenapa ia baru menyadarinya sekarang? Apa sesuatu yang terjadi pada Luhannya? Apa yang tidak ia ketahui tentang kehidupannya?
"….."
"Kita pulang hmm, aku tidak ingin kau kelelahan. Aku akan mengantarmu"
Flashback Off
.
.
.
Tangan rampingnya sedang asyik berkutat dengan masakan rumahan yang biasa ia sajikan untuk keluarga kecilnya, matanya meoleh kearah kiri menilik jam dinding yang saat ini menunjukkan angka 7 malam. Keningnya mengkerut menyadari bahwa sudah selarut ini madunya belum juga terlihat.
Biasanya wanita itu sudah asyik berselonjor kaki diatas sofa mewah sembari menggendong Haowen, sementara dirinya akan jadi penonton dengan wajah berseri-seri melihat keromantisan ibu dan anak itu. Bagaimanapun ia senang saat wanita itu menghabiskan waktu untuk keluarganya, terutama untuk putra semata wayangnya.
Wajar saja bukan mengingat madunya lebih banyak menghabiskan waktu diluar kota bersama tumpukkan pekerjaan yang selalu menantinya. Dan Luhan akan selalu siap siaga membantu mengurus semua kebutuhan satu-satunya balita yang ada dirumah megahnya itu.
Telinganya mendengar suara bel pintu yang berdering nyaring. Tumben sekali karna tidak biasanya Sehun dan Kyungsoo memencet bel untuk masuk kerumah, matanya membulat saat pintu itu ia buka, tapi kemudian ia tersenyum senang mendapati mertua dan juga orang tuanya mengunjungi keluarga kecilnya saat ini.
"Apa kabar sayang?" Yunho, pria paruh baya itu terlebih dulu memeluk menantu kesayangannya, bukan hal yang aneh mengingat Yunho sangat mencintai wanita itu. Bahkan Sehun sebagai putranya saja selalu cemburu berat saat pria tua itu dengan santainya mengajak Luhan untuk menemaninya ke pesta pernikahan, seperti seorang Ajusshi tua yang membawa selingkuhan mudanya untuk diperkenalkan menjadi istri kedua. Ckk
Sedangkan ibunya Jaejoong malah asyik bereksperimen dengan masakan-masakan yang tidak pernah digelutinya dengan sang mertua Xi Heechul, mengabaikan jika suaminya asyik bermesraan dengan sang menantu diacara orang lain. Sudah bukan hal yang mengherankan bagi mereka saat melihat pria itu begitu memanjakan menantunya, mendapatkan Luhan seperti mendapatkan jackpot bagi Yunho yang selama ini begitu menginginkan anak perempuan yang manis dan lembut seperti Luhan, tapi apa mau dikata jika Tuhan hanya memberikannya satu anak laki-laki manja dan sulit diatur, jadi mereka hanya membiarkan pria itu bersenang-senang dengan boneka porselennya yang akan selalu dijaga oleh sang mertua.
Setelah saling menyapa mereka berjalan memasuki ruang tengah dimana ada balita kecil yang asyik berguling-guling dengan boneka kodok ditangannya. Para wanita berteriak gemas menghampiri bayi itu, hanggeng segera duduk disofa single setelah mengecup kening putri bungsunya. Berbeda dengan Yunho yang merangkul pinggang Luhan mengantarkannya ke dapur karena wanita itu berkata bahwa ia sedang menyiapkan makan malam.
"Abeoji duduk saja tidak usah membantuku" ujarnya dengan senyum manisnya.
"No, Abeoji akan membantumu memasak sayang, okke sudah sampai mana masakanmu?"
"Ahh bukankah Abeoji lelah? Lu bisa melakukannya sendiri" tolaknya halus, namun bukan Yunho jika ia menerima begitu saja perintah orang lain. Tangannya menggulung kemeja navy nya hingga kesiku bergantian memperlihatkan bisepnya yang seksi percis milik putranya. Tidak heran darimana Sehun mendapatkan tubuh yang bagus jika melihat ayahnya saja yang sudah kepala lima masih bisa menjaga otot-otot tubuhnya.
Tangan berotot itu dengan cekatan mengisi panci yang sudah ada diatas kompor dengan air, menunggunya hingga mendidih. Tangannya dengan terampil memotong beberapa jenis kol dan juga wortel, belum lagi kekuatannya dalam meracik daging agar lebih lembek dan lembut. Luhan disana hanya sedikit membantu sang ayah, mereka selalu melakukan ini setiap kali bertemu.
Memasak bersama dengan canda tawa, Luhan bahkan selalu terkejut ketika melihat ayah mertuanya ini memasak dengan begitu lihainya seperti seorang koki handal, tentu saja karena pria paruh baya ini adalah lulusan sekolah masak.
Mendengar ceritanya yang ingin menjadi seorang chef membuat gadis itu tertawa bukan main tapi ia mengerti bahwa selama ini Yunho tidak pernah mengekspresikan hobinya, dan saat perusahaan diwariskan pada suaminya pria itu dengan senang hati selalu memasak jika ada pertemuan keluarga seperti ini, Luhan bahkan tak habis fikir kenapa ibu mertuanya mempunyai kepribadian yang berbeda dengan ayah mertuanya? jika dalam hal memasak Jaejoong benar-benar payah.
CKLEK
"Aku pulang" Mata mertuanya menoleh kearah Luhan dan menatapnya tersenyum.
"Sambut suamimu, Abeoji akan mengurus ini" Gadis itu mengangguk lalu berjalan kearah depan untuk sekedar membawakan jas dan tas yang dijinjing suaminya.
"Selamat datang Sehunnie"
Sehun mengecup bibir Luhan dalam lalu kearah keningnya. Matanya memancarkan kebahagiaan teramat sangat saat melihat istrinya selalu menyambutnya ketika tubuhnya begitu lelah.
"Orang tua kita datang" bisiknya. Sehun bergegas kearah ruang tamu melihat betapa ramainya rumah mereka saat ini.
"Kalian datang?" tanyanya lalu berjalan menghampiri kedua wanita yang asyik menggulung Haowen dan mencium pipi mereka setelah melepas pelukannya.
"Abeoji" ujarnya ketika menghampiri Hanggeng dan memeluknya. Ini sudah 2 bulan mereka tidak berkumpul layaknya keluarga bahagia. Sehun benar-benar merindukan mereka. Sejak hubungan semuanya membaik lelaki itu selalu mengharapkan kehadiran orang tuanya diantara mereka seperti dahulu, terang saja melihat mereka didepannya kini membuatnya begitu senang bukan main.
"Sehun mandilah dulu, aku sudah menyiapkan airnya" teriak Luhan dari arah dapur.
"Ya sayang, Abeoji aku akan segera kembali"
"Hmmm baiklah, aku menunggumu di kursi catur"
"Tentu saja, bersiaplah kali ini aku akan mengalahkan Abeoji"
"Aku tidak yakin" katanya sembari terkekeh saat melihat wajah cemberut menantunya.
"Mereka sangat serasi bukan?" Tanya Jaejoong. Semua yang berada disana mengangguk setuju dengan apa yang diucapkan wanita itu.
.
.
.
Dentingan garpu dan piring terdengar begitu nyaring ditengah makan malam mereka yang begitu hening, entah karena begitu lapar atau mereka sedang benar-benar menikmati masakan dari mertua dan menantu itu, yang pasti sejak mereka melahap tidak seorangpun yang berucap kata.
CKLEK
Semuanya terdiam saat mendapati seorang wanita dengan mata mengantuk melepas sepatunya dan juga coatnya. Kyungsoo belum menyadari jika keluarga barunya tengah menatapnya seakan ingin membunuh. Kakinya berjalan lunglai melewati ruang makan dengan mata yang setengah tertutup.
"Apa kau tidak pernah diajarkan menjadi seorang istri yang baik? Mengabaikan orang tua bahkan suamimu sendiri" Kyungsoo menoleh terkejut mendengar suara itu, kesadarannya yang tadi entah dimana kini kembali membuat tubuhnya begitu tegang mendapati sosok-sosok itu menatapnya tak berkedip.
"Ckk lihatlah, bahkan dia tidak menjawab pertanyaanku dan hanya berdiri disana seperti patung bodoh" tegasnya membuat Luhan yang berada disampingnya menggenggam erat tangan mertuanya yang memang berwatak keras mencoba meredakan emosi pria itu.
"Ma-maafkan aku A-abeoji, a-aku tidak bermaksud seperti itu" Kyungsoo melangkah mendekat lalu membungkuk hormat kepada para orang tua disana. Tangannya gemetar setiap kali ia berhadapan dengan pria ini, entahlah nyalinya selalu saja ciut jika sudah berargumen dengannya.
"Apa pekerjaan dan karirmu itu lebih penting dari keluargamu Kyungsoo? Atau lebih penting dari anak dan suamimu?"
"Ti-Tidak Appa, Hiks mereka sangat penting untukku" Wanita itu menggeleng rebut menegaskan bahwa ia sama sekali tidak seperti yang pria itu sebutkan, air matanya tiba-tiba mengalir, hatinya begitu sakit mendengar penuturan kejam dari ayah mertuanya. Tidak ada yang berani membantah Yunho bahkan sahabat dan juga istrinya yang juga ikut bungkam, mereka sadar bahwa tidak baik menentang Yunho yang sedang seperti ini, itu hanya akan memperkeruh keadaan.
Genggaman ditangan Yunho mengerat membuatnya menoleh dan dihadiahi senyuman tulus dari sang menantu yang selalu membuatnya luluh. "Sehun, lain kali ajarkan istrimu tata karma" setelah itu mereka semua kembali menyantap makan malam setelah suasana mencekam dengan Kyungsoo yang masih bergeming disana.
Luhan bersiap berdiri dari tempat duduknya untuk mengantar madunya itu kekamar, dia mengerti bahwa saat ini madunya sedang menahan diri untuk tidak terisak.
"Luhan, kita belum selesai makan nak" Jaejoong terlebih dahulu menginterupsi, Luhan hanya bergumam mianhae pada Kyungsoo lalu kembali duduk.
"A-aku permisi" membungkuk Kyungsoo berlari kekamarnya dan menangis keras. Sampai kapan ia akan dianggap sampah bagi keluarga ini? Sampai kapan? Salahkan jika ia mendapatkan kebahagiaan? Kenapa tidak ada orang yang mencintainya dengan tulus?.
"Kyungie" panggil seseorang diluar sana ia hanya mengabaikannya.
"Kyungie bolehkah aku masuk?" Mendengar tidak ada sahutan sama sekali Luhan memberanikan diri memasuki kamar yang dahulu pernah menjadi kamarnya bersama Sehun. Matanya memandang siluet seseorang yang menangis sesegukan diatas ranjang. Langkahnya mendekat, lalu merengkuh tubuh itu dalam pelukannya.
"Menangislah, aku disini" ucapnya lembut, tangan kanannya sibuk mengelus surai madunya dan menepuk punggung itu pelan, menyalurkan ketenangan pada sang pemilik tubuh.
"Hiks.. mereka membenciku, selalu membenciku Hiks"
"Tidak, mereka menyayangimu Kyungie. Mereka hanya tidak tahu cara menyampaikannya, tunggulah mereka akan segera mengatakannya padamu hmm"
Kyungsoo menolehkan wajahnya pada wanita didepannya. Matanya yang sembab menatap nyalang "Kau ! tentu saja kau bicara seperti itu karena kau dicintai ! Sementara aku dibenci ! " Luhan merengkuh kembali tubuh yang berontak itu lalu mengusap air mata yang masih saja mengalir dipipi madunya.
"Aku akan membuktikannya padamu hmm jadi berhentilah menangis, karena itu membuatku sakit arra?"
"Hiks.. kau su-sudah berjanji Hiks" tangannya membalas pelukan dari wanita ini dan kembali menangis didadanya. Ia merasakannya, merasakan kasih sayang yang diberikan Luhan padanya.
Tidak memungkiri bahwa hatinya bahagia seperti mendapati seorang kakak yang selama ini ia idamkan, Luhan adalah orang yang tepat seperti yang diharapkannya, tapi rasa iri itu sudah menodai kesucian dari sebuah kata cinta dalam sebuah persaudaraan. Kyungsoo memang menyayangi Luhan layaknya seorang adik namun kebenciannya juga mendominasi hingga membuatnya terkadang bertingkah seperti seorang penjahat.
"Aku berjanji, sekarang mandilah aku akan menyiapkan pakaian dan makan malammu" Kyungsoo mengangguk dan segera melepaskan pelukan yang begitu hangat itu, lalu menuju kamar mandi. Matanya memandang cermin, bisa ia lihat wajahnya yang sembab.
'Luhan… apa yang harus kulakukan? Mengapa tak sedikitpun rasa suka itu terbesit dalam hatiku? Kebaikanmu tak mampu mengalahkan rasa benci dan perihku, hatiku… hatiku berontak untuk berbagi sebuah keluarga padamu. Maafkan aku'
Tes
Tes
Air matanya kembali terjatuh, ia merasa sangat berdosa dengan keadaan yang menarik ulur hatinya. Ia lelah, haruskah ia menyerah? Tapi itu hanya akan menghilangkan kebahagiaan dalam hidupnya.
"Maafkan aku… aku akan tetap memperjuangkan kebahagiaan keluargaku Luhan"
.
.
.
Luhan mendesah lirih, apakah ia menjadi penghalang bagi kebahagiaan madunya? jika itu benar apa yang harus ia lakukan? Luhan tidak mau menyakiti orang lain karena ia bahagia, ia ingin semua orang merasakan kebahagiaan mereka. Bahkan jika itu berarti mengorbankan hatinya.
Ia membuka lemari dan mengeluarkan satu pasang piyama berwarna peach untuk madunya. Lalu melangkah keluar dan mendapati keluarganya sedang bersiap-siap untuk pulang.
"Kalian tidak akan menginap?" tanyanya.
"Tidak sayang, masih banyak pekerjaan yang menunggu kami dirumah besok" ujar Heechul.
"Seperti pekerjaan dalam menggosongkan makanan?" celetuknya membuat Hanggeng dan Yunho tertawa. Mereka tahu bahwa kedua wanita itu sangat payah dalam hal memasak. Sementara wanita-wanita itu hanya mendelik.
"Baiklah sayang ini sudah malam, Abeoji akan mengunjungimu lagi nanti"
"Hmm kami selalu menanti kedatangan kalian" Sehun memeluk mereka semua, tapi Jaejoong menarik lengan Luhan.
"Sayang, minumlah ini satu kali dalam sehari. Ini akan membantumu dalam menjaga kesuburan rahimmu" matanya membola, apa yang dikatakan oleh mertuanya ini? Apa mereka mengetahui kekurangannya?
"Tapi Eomonim-"
"Tenanglah, itu bukan masalah sayang. Kami tetap menyayangimu dan akan selalu berusaha mendapatkan si kecil darimu heumm" Yunho menyelah pembicaraan mereka, mata bulat itu menatap semua orang yang kini ada dihadapannya, mereka sudah mengetahuinya. Dan apakah ini akan menjadi akhir baginya? itu yang selalu ada difikirannya, namun ternyata itu hanya dugaanya semata karna pada kenyataanya mereka semua tersenyum dan memeluknya membuat air matanya tak bisa lagi dibendung.
"Hiks terima kasih, terima kasih"
Senyum haru menghiasi wajah para orang tua. Tidak peduli jika Luhan tak memberikan keturunan, mereka akan tetap menjadikan wanita itu sebagai anak dan menantunya. Kebahagiaan hadir bukan dari seorang anak saja, tapi hadir karena semua orang saling mengasihi dan memberikan mereka rasa cinta.
.
.
.
Flashback On
"Sehunnie?"
"…."
"Sehunnie kau kah ini?"
"Eo-eomma…"
"ada apa sayang?"
"Hiks Luhan"
"Kenapa dengan Luhan Sehunnie?!"
"Bantu aku untuk menenangkannya Eomm, dan maafkan aku" Pria itu masih menangis dalam ucapannya.
"Apakah terjadi sesuatu yang buruk?"
"Kumohon Eomma jangan membencinya, Luhan…kesempatannya mengandung sangatlah kecil Eomma. Dan saat itu terjadi bisa saja membahayakan nyawanya"
"….."
"Maafkan aku Eomma, aku tahu Appa akan kecewa. Tapi kumohon jangan pisahkan aku dengan Luhan karena ini Eomma Hiks"
"Sehunnie, kau dengarkan Appa"
DEG
"A-appa" tangannya bergetar, pria itu takut, sangat takut pada keputusan ayahnya. Orang yang sangat ia hormati begitu menginginkan seorang cucu dari menantu kesayangannya, dan jika tidak mendapatkannya Sehun takut ayahnya akan memisahkannya lagi dengan Luhan.
"Apapun yang terjadi Luhan adalah anakku juga. Aku tidak akan menceraikanmu dengannya hanya karena masalah ini. Jadi hentikan kekhawatiranmu itu hmm. Appa sangat menyayangimu dan juga Luhan"suara itu terdengar tegas namun begitu lembut dan menenangkan. Sehun menghapus air matanya dan tersenyum, ia lega karena apa yang ia takutkan tidak akan terjadi.
"terima kasih Appa, aku menyayangimu"
"Aku tahu. Jadi berhentilah menangis, teleponmu sungguh menganggu waktu Appa dan Eomma hmm?"
"ahh.." mereka terkekeh "Maafkan aku Appa, kalau begitu selamat malam"
"Hmm tidurlah dengan baik anakku"
Flashback Off
.
.
.
"Ingat jangan terlalu lelah sayang" Sehun mengelus rambut istrinya yang duduk dikursi penumpang mobilnya lalu menyematkan beberapa helaian yang menghalangi wajah cantik itu kebelakang telinganya.
"Ya aku tahu Sehunnie, kau juga. Apa aku harus mengantarkan makan siangmu lagi?"
"Tidak, cukup pakai waktu istirahatmu dengan baik hmm" Tangannya beralih ke pipi yang terlihat kurus itu. Apa Luhan tertekan? kenapa semakin hari tubuhnya semakin kurus? "Kau tahu? Aku sangat mencintaimu sayang. Jadi jangan fikirkan apapun yang membuatmu tertekan, aku tidak akan pernah meninggalkanmu Baby"
"Aku tahu, aku juga sangat mencintaimu Sehunnie. Ini sudah siang, kau akan terlambat"
"Berikan aku ciumanmu"
CUP
"Ngghh.." Sehun melumat bibir Luhan begitu intens, ciuman itu semakin panas dan terburu-buru. tangan lelaki itu bahkan menekan tengkuk istrinya agar ciumannya semakin dalam. Luhan memukul dada suaminya.
"haahh"
CUP
Kecupan manis dikening Luhan itu mengakhiri pergulatan singkat mereka.
"Aku akan menjemputmu sayang"
Wanita itu mengangguk lalu keluar dari mobil dan melambaikan tangannya saat mobil Sehun berjalan maju menjauhinya.
.
.
.
DEG
"K-Kris" suaranya bergetar kala melihat lelaki itu ada dihadapannya. 'Apakah Kris melihatnya? Adegan ciumannya?' Melihat tangan lelaki itu mengepal Luhan tahu bahwa tidak alasan untuk membantah pemikiran itu. Ia yakin Kris akan kembali mendiamkannya. "A-aku"
"Ke ruanganku" tegasnya.
Semua mata menatap mereka, biasanya mereka akan melihat dua orang itu tertawa saat berjalan bersama. Namun lain halnya saat ini, saat dimana wajah lelaki itu terlihat datar dan angkuh, tatapannya begitu mengintimidasi. Dan wanita yang selalu menjadi bahan keirian mereka hanya merundukkan kepalanya.
GREP
"Kris"
"Sebentar, aku hanya ingin memelukmu. 1 menit saja kumohon" dia masih mematung, namun akhirnya membalas pelukan itu dan mengelus punggung lelaki yang terlihat kuat dari luar namun rapuh didalamnya.
"Maafkan aku"
"Tidak, kau terlihat sangat bahagia. Itu cukup untukku sayang"
Kris menangkup wajah manis itu lalu memberikan kecupan dikeningnya.
"Berbahagialah, aku merelakanmu"
.
.
.
TBC
Okke, berhubung lagi luang aku juga sempatkan update ini. Maaf untuk keterlambatannya ya.. dan Cuma sekedar berpesan kalo memang gasuka ceritanya cukup leave aja. Aku menulis sekedar isi waktu luang, dan menyalurkan hobi aja jadi ga usah bash kalo menurutmu cerita ini bertele2 lah membosankan lah gajelas lahh dan gangerti lah.. gpp asal toh aku buat cerita bukan khusus untuk orang yang bash.
hargai setiap karya orang lain okay..
as I said, leave if you dont like it, I dont care
Vote and Coment Please ^_^
