DEG
"K-Kris" suaranya bergetar kala melihat lelaki itu ada dihadapannya. 'Apakah Kris melihatnya? Adegan ciumannya?' Melihat tangan lelaki itu mengepal Luhan tahu bahwa tidak ada alasan untuk membantah pemikiran itu. Ia yakin Kris akan kembali mendiamkannya. "A-aku"
"Ke ruanganku" tegasnya.
Semua mata menatap mereka, biasanya mereka akan melihat dua orang itu tertawa saat berjalan bersama. Namun lain halnya saat ini, saat dimana wajah lelaki itu terlihat datar dan angkuh, tatapannya begitu mengintimidasi. Dan wanita yang selalu menjadi bahan keirian mereka hanya merundukkan kepalanya.
GREP
"Kris"
"Sebentar, aku hanya ingin memelukmu. 1 menit saja kumohon" dia masih mematung, namun akhirnya membalas pelukan itu dan mengelus punggung lelaki yang terlihat kuat dari luar namun rapuh didalamnya.
"Maafkan aku"
"Tidak, kau terlihat sangat bahagia. Itu cukup untukku sayang"
Kris menangkup wajah manis itu lalu memberikan kecupan dikeningnya.
"Berbahagialah, aku merelakanmu"
.
.
.
Tap Tap Tap
BRUGHHH
"Ahh"
"Astaga maafkan aku Nona," Jongin berjongkok untuk membantu wanita dihadapannya membereskan berkas-berkas yang berserakan.
"Tidak apa-apa tuan,"
Suara itu mengalun lembut ditelinganya-
Jongin mengambil kertas terakhir yang berada dilantai lalu menyerahkannya pada sang pemilik. Terkejut bukan main karena melihat sosok itu.
"Kyungsoo?"
"K-kai?" wanita itu sama terkejutnya melihat siapa lelaki ini, dia adalah teman masa kecilnya saat masih tinggal di Busan. Jongin sering bermain ke Panti tempatnya tumbuh saat itu, . Jongin seperti sesosok kakak baginya.
"Astaga ini benar kau?" Jongin memeluk erat tubuh mungil itu.
Ia begitu merindukan adik kecilnya- Bagaimana bisa mereka hilang kontak selama 3 tahun ini? Saat itu ia harus mengikuti keinginan orang tuanya untuk pindah ke Seoul. Mereka masih berhubungan sampai menginjak SHS, meski selama kurun waktu mereka berpisah masih melakukan beberapa kali pertemuan.
"Ini aku Kim Jongin- Kai, aku sangat merindukanmu," Kyungsoo membalas pelukan Jongin dengan gembira.
"Aku juga merindukanmu Kyungie, kita harus berbicara," tangannya beralih mengambil ponsel Kyungsoo. Lalu memasukkan nomornya sehingga ponselnya sendiri berdering.
"Simpan nomorku okay, terakhir kali aku menghubungimu nomormu tidak terdaftar,"
"Yaa salahkan pencuri yang mengambil ponselku dulu, aku kehilangan semua kontak termasuk nomormu"
"Aku sangat ingin mengobrol denganmu Kyungie," harapnya.
"Tentu saja. Tapi hari ini aku sedang sibuk- mungkin aku akan menyempatkan waktu untuk bertemu denganmu lain kali,"
Jongin terdiam tak merespon apapun-
"Aku janji Kai, aku akan menghubungimu hmm?"
"Haahh~ pastikan kau menepati janjimu,"
"Baiklah Kai-ku yang tampan, aku pergi dulu omong-omong, Bye" Setelah bayangan wanita itu tak lagi terlihat Jongin mengulas senyuman, ini benar-benar membahagiakan.
Ia sudah lama mencari wanita pujaan hatinya-
.
.
.
.
"Hai Lisa" sapa Kyungsoo. Meletakan satu cup espresso dimejanya.
"Ohh Nona Oh, selamat siang- ingin bertemu Presdir?" Tanya gadis itu. Mengangkat gelas kopi sebagai ucapan terima kasih. Well mereka sudah dekat karena kunjungannya yang terlalu sering.
"Yeah seperti biasa," jawabnya lalu mereka terkekeh.
"Anda bisa menunggu didalam Nona, sebentar lagi Presdir akan kembali,"
"Okay, terimakasih,"
"Kembali, dan terima kasih kopinya" Kyungsoo hanya menggerlingkan matanya lalu masuk keruangan Kris.
Langkahnya berjalan mengitari ruangan yang sudah beberapa kali ia kunjungi ini. Terkadang bersama atasannya juga, namun lagi-lagi ia mendapat mandat untuk mewakilinya- mengingat pria paruh baya itu sudah bermasalah dengan kesehatannya.
Saking asyiknya mengamati seisi ruangan membuatnya lupa jika ia sudah berada dekat dengan meja si pemilik. Bibirnya mengulum senyum kala melihat beberapa mainan anime yang terpajang di meja kerja.
"kekanakan," fikirnya
Semakin penasaran, lalu meraih bingkai foto yang terletak di sudut meja terhalangi dengan beberapa berkas.
"Astaga"
Tangan yang menutup mulutnya gemetar bukan main, melihat siapa yang berada didalam bingkai foto itu.
Apakah dunia sesempit itu untuk kembali mempertemukan mereka?
Atau karena garis takdir yang memberinya petunjuk untuk menyingkirkan seseorang?
Ia hanya terlalu bingung dan senang sekaligus, tangan gemetar itu bahkan sudah meremas kuat ujung bingkainya. Wajah cantik yang biasanya terlihat seperti malaikatpun lenyap dengan sekejap mata- tergantikan oleh seringaian tajam di sudut bibirnya.
"Xi Luhan? jadi kau? Hmm aku tebak, Kris bahkan tidak tahu kalau kita semua saling berhubungan,"
CKLEK
Refleks Kyungsoo meletakan kembali foto itu kemeja, namun-
PRAANGG
Bingkai kacanya pecah karena ia ceroboh tidak menyimpannya dengan benar. "K-Kris maafkan aku, aku tidak melakukannya dengan sengaja"
Kali ini ia benar-benar takut melihat raut wajah pria itu yang berubah menjadi suram. Melihat bagaimana Kris mengambil kertas didalamnya dengan hati-hati- seakan goresan sedikit saja akan membuatnya terluka. Mengabaikan jika pecahan kaca itu lebih beresiko pada kulit tangannya.
"Sungguh maafkan aku Kris, a-aku"
"Tidak apa Kyungsoo, aku tau"
"Kau marah?"
"Hmm tidak, hanya takut jika fotonya rusak," meniup dan mengelus fotonya seakan benda itu hidup dan terluka.
Kyungsoo tertegun, mengapa pria ini begitu mencintai Luhan? Hingga ia bahkan sangat menghargai segala tentangnya, bahkan jika itu adalah sebuah foto.
"Aku harus membeli yang baru," gumamnya lalu mencium kertas itu, menyimpannya dengan rapi dilaci kerjanya. Menolehkan wajahnya melihat wanita itu masih berada dalam fikirannya sendiri.
"Ada apa Kyungsoo? apa Tuan Lee mengirimmu lagi?" tanyanya. Sekarang raut wajahnya jauh terlihat lebih tenang.
"Mmm kita harus melakukan Survey lapangan, pihakmu dan pihak Loriz. Apa kau keberatan jika jadwalnya akan dilakukan dalam minggu ini?"
"Tidak , lakukan yang terbaik,"
"Okay, By the way dia gadismu itu?" Tanya Kyungsoo penasaran, sebenarnya hanya siasatnya saja untuk mengetahui lebih lanjut tentang mereka.
"Hmm gadisku, permataku" wajah Kris bahkan berubah menjadi cerah kala ia menanyakan tentang gadisnya.
Ini sebuah keuntungan baginya-
"Maukah kau menceritakannya padaku?" menyerahkan cup Americano yang ia belikan juga untuk pria itu.
"Bukankah kau sudah tahu segalanya?"
"Hanya penasaran bagaimana hatimu saat ini padanya Kris," pria itu hanya terkekeh, lalu beranjak dari kursinya dan menatap keluar jendela.
Mulutnya menyesap kopi ditangannya dengan perasaan nikmat.
"Aku masih sangat mencintainya Kyungsoo, dan akan selalu seperti itu,"
Oke ini semakin menarik- terjebak dengan pertanyaanya.
"Berniat menikahinya?" kedua tangannya bahkan bertumpu di dagunya memandang lekat sosok dihadapannya mencari tahu lebih dalam lagi, jika dia beruntung mungkin bisa melakukan kerja sama.
Kyungsoo bahkan sangat bahagia membayangkannya-
Dimana ia berharap dengan kekuasaanya bisa memisahkan Istri utama dari suaminya itu.
"Tidak"
"KENAPA ?!" Tubuhnya tegang bukan main, baru saja ia bernostalgia ternyata jawaban pria itu diluar harapannya. Hingga tak sadar bentakannya barusan membuat Kris membalik tubuhnya dan menatapnya bingung.
"Ekhemm maksudku, kau mencintainya tapi kenapa tidak mau menikahinya? Well kau tahu aku hanya ingin melihat kalian bahagia," ucapkan terima kasih pada mulut dan otak liciknya yang bergerak cepat.
Kris menggeleng lalu tersenyum kecut,
"Gadisku sudah menikah Kyungsoo,"
"..…."
"Jika aku menikahinya mungkin dia tak akan pernah merasa bahagia-"
"sakit? tentu saja, Tapi bagiku kebahagiaanya adalah yang utama. Dulu- dia juga memprioritaskanku diatas segalanya, mengabaikan fakta siapa diriku dan bagaimana kehidupanku. Apapun akan kulakukan untuk kebahagiaannya, meski dengan melepaskannya,"
"kau tidak berniat merebutnya?" memancing pria itu untuk berpihak padanya. Namun tetap saja sia-sia karena Kris masih kekeuh pada pendiriannya.
"Jika aku melakukannya itu hanya akan membuatnya terluka, jadi aku hanya akan berada disampingnya sampai dia menginginkanku"
"Bagaimana jika suaminya berkhianat?"
"Aku akan membawanya- tidak boleh ada seorangpun yang menyakiti permataku, karena itu sama saja dengan menyakitiku,"
"…."
"Jika aku tahu-"
"akan kubuat orang itu menyesal"
.
.
.
TIIID TIIIDD
Suara klakson tempat audi hitam didepannya berbunyi, tangan Sehun melambai kearah Kyungsoo yang baru saja sampai dikantor tempat Luhan bekerja.
"Sayang, kenapa kau ada disini?"
"Aku ada meeting hari ini, tapi kenapa Oppa ada disini?" Kyungsoo tau pasti untuk menjemput Luhan. Tiba-tiba ia merasa jengkel.
"Aku-"
"Ahh Oppa aku lupa membeli susu Haowen. Kita harus pergi ke Supermarket sekarang"
"Tapi-"
"Ayolah Oppa, apa kau mau anakmu kelaparan? Lihatlah awan sudah mendung, pasti akan turun hujan,"
Sehun mengangguk lalu menyalakan mesin, mobil mereka melaju menjauh dari tempat seorang wanita yang baru saja keluar dari pintu depan- setelah sebelumnya memberi pesan pada sosok yang seharusnya ia jemput.
Matanya menengok kekanan dan kekiri, namun sepertinya sosok yang ia tunggu belum datang. Jadi dengan senang hati ia akan menunggu di kafe seberang.
"Huhh sayang sekali ponselku mati, tapi jika Wonnie datang aku bisa melihatnya dari sini. Ugghh sangat dingin, lagi-lagi aku melupakan coatku," monolognya lalu memasuki kafe dan memesan secangkir Coklat panas.
.
.
.
.
.
Jarum jam sudah berada diangka 9, ini sudah hampir 4 jam ia menunggu Sehun- tapi sosoknya masih belum muncul.
Apa Sehun melupakannya? tapi tidak mungkin karena Sehun akan selalu menghubunginya. Ohh atau Sehun sedang ada meeting dadakan? yaa benar, mungkin ia harus pulang sekarang menunggu dirumah. fikirnya.
Tapi diluar hujan deras. dan saat ini Luhan sedang kedinginan-
Berdiam diri disini juga tidak aka nada gunanya. Lebih baik ia memanggil taksi saja.
Tap Tap Tap
Baru beberapa langkah dari kafe seseorang dengan cepat menyampas tasnya dan..
"PENCURI !" teriaknya.
Tapi ini sudah malam dan sedang hujan. Beberapa orang yang melihat bahkan tak mau merelakan dirinya basah-basahan karena air hujan. Jadi mereka lebih mengabaikannya dari pada membantunya.
Luhan menangis dalam diam, bagaimana ini? Semua barang berharganya sudah dirampas. Tubuhnya bahkan sudah basah kuyup. Tidak ada yang bisa ia hubungi kali ini. Tapi tunggu-
bibirnya tersenyum tipis kala ingat ia masih berada di depan gedung tempatnya bekerja. Luhan memantapkan diri untuk kembali ke perusahaan dan meminjam salah satu telponnya.
"Semoga saja mereka belum menutupnya" gumamnya dengan gemeletuk giginya yang saling beradu. Bibir merahnya bahkan sudah berubah pucat.
ia tersenyum kala melihat kantor keamanan masih menyala disana. Itu berarti dikantor sedang ada yang bekerja lembur.
Air turun membasahi lantai tempatnya berpijak. Bermaksud menuju ruang resepsionis, tapi sayang tubuhnya terasa lemas. Ia hanya bisa terduduk di kursi yang disediakan untuk pengunjung.
"Luhan?" Gadis itu menoleh mendapati Kris berada didepannya- memberikan senyum lemahnya.
"Hey sayang, kenapa kau masih disini? Ohh astaga ! apa yang terjadi padamu?!" Kris berlutut dihadapan Luhan melepaskan coat miliknya lalu ia pakaikan pada tubuh menggigil Luhan.
"A-aku hanya ingin menelpon su-suamiku" masih dengan bibir gemetarnya.
"Untuk apa?"
"Se-sepertinya d-dia lupa menjemputku, aku menunggunya ta-tapi ponsel dan uangku diambil orang- j-jadi aku ingin meminjam telpon disini,"
Tangan Kris terkepal, ia begitu marah dengan penuturan gadisnya. Bagaimana mungkin suaminya melupakan gadis itu sampai selarut ini? apa ia tidak menyadari ketidakhadiran istrinya dirumah?
"Bo-bolehkah aku meminjam ponselmu?"
"Tidak" Luhan cemberut merasa kecewa.
"Aku tidak akan memberikannya karena aku yang akan mengantarmu pulang Luhan,"
"A-aku"
"Berhenti menolak atau aku akan semakin marah,"
Luhan tau pria itu sudah menahan emosinya sejak tadi. Jadi dia hanya mengangguk pasrah lalu membiarkan dirinya diangkat dipangkuan Kris.
Jujur saja, Luhan lelah-
"Kau sangat beku, kita harus membeli baju baru untukmu," ujarnya sembari memeluk Luhan yang masih meringkuk didekapannya. Lehernya bahkan terasa dingin karena tangan mungil itu memeluknya dengan erat menyembunyikan wajahnya disana.
"Ti-tidak, aku hanya ingin pulang"
"kau akan sakit Luhan," masih dengan lembutnya, perlahan mendudukan gadis itu dikursi penumpang lalu berbalik menuju kursi pengemudi.
Penghangatnya sudah menyala, Luhan sudah terlihat tenang karena giginya tidak lagi terdengar berisik. Kris melepaskan jasnya lalu menumpuknya diatas coat yang tadi ia pakaikan.
"kau baik sayang?" Kris sangat khawatir tentu saja, lalu meraih tangan yang membeku itu mengecupnya "apa kita perlu kerumah sakit?"
"Pu-pulang Kris hiks"
"Sshh kita pulang okay, tidurlah- aku akan membangunkanmu jika sampai," gadis itu hanya mengangguk lemah lalu tertidur begitu saja.
Pria itu menatap prihatin gadis didepannya, suami Luhan sudah membuatnya kecewa karena kejadian ini. Tangan yang sedang memegang kemudi itu mengepal kuat, ia tidak akan membiarkannya menyakiti Luhan lagi seperti ini.
Demi apapun, Luhan sangat berharga baginya- untuk itu ia menyiapkan diri untuk membogem mentah si suami yang tidak bertanggung jawab.
.
.
.
.
"Oppa, sedang apa diluar?" Tanya Kyungsoo yang barusaja keluar dari kamar Haowen.
"Aku menunggu Luhan, dia masih belum pulang sampai sekarang Kyungie"
"Mungkin dia bekerja lembur Oppa, dia pasti menghubungimu nanti. Oppa tahu kan bahwa Eonni sedang banyak job akhir-akhir ini"
Sebenarnya ia hanya berusaha mengalihkan perhatian suaminya saja. "Baiklah, kau masuklah dulu. Aku akan menunggunya 5 menit lagi,"
"Hmm"
BRUMM BRUMM
Baru saja Sehun akan masuk matanya menangkap sebuah mobil yang masuk ke pekarangan rumahnya. Siapa itu? fikirnya.
Pintu mobil terbuka tepat didepan pintu masuk, seorang pria yang ia tahu menghampirinya dan..
BUAGHH BUAGHH
"Kau brengsek !" murka Kris.
"Apa yang kau lakukan !" Tanya Sehun yang terjatuh karena dua bogem mentah Kris.
"Bajingan" desisnya tak mau menjawab pertanyaan dari orang yang membuatnya sangat muak.
Lalu membuka pintu mobil yang lain dan meraih seorang gadis yang lemah tak berdaya. Wajahnya sangat merah dan sangat pucat. Luhan demam, Kris sangat khawatir saat diperjalanan tadi karena ia tidak bisa berbuat apa-apa. Luhan menolak mengurus kesehatannya tentu saja. Jadi yang ia lakukan hanya mengendarai mobil secepatnya.
"Luhan?"
"Dimana kamarnya?"
"Biarkan aku yang-"
"Cukup tunjukan dimana kamarnya jika tidak ingin Luhan terbangun,"
Sehun mengangguk lemah lalu mengantarkan pria yang menggendong istrinya menuju kamar mereka.
"Kamarnya cukup jauh untuk kamar priabadi seorang pemilik rumah," celetuknya. Sehun tertegun.
Setelah menidurkannya diranjang dengan penuh kehati-hatian Kris melihat Sehun yang sedang diam seperti orang bodoh.
"Kau tahu? dia menunggumu entah sejak kapan, dia bahkan kembali kekantor dengan tubuh yang menyedihkan seperti ini. Tapi kenapa kau justru dengan santainya berada diruangan hangat seperti ini disaat istrimu sendiri kedinginan bersama hujan,"
Sehun masih terdiam, ini salahnya. Jika saja ia menunggu Luhan sebentar mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Tapi Kyungsoo membuatnya lupa dengan Luhan karena istri lainnya itu mengajaknya berkeliling untuk mencari pakaian baru bagi Haowen. Mereka bahkan baru 1 jam berada dirumah, dan ia tidak tahu kalo Luhan masih menunggunya disana.
"Sudah memanggil dokter?"
"Tentu saja,"
"Baiklah tugasku sudah selesai," pria itu berjalan keluar kamar sebelum langkahnya terhenti tepat disamping Sehun.
"Persiapkan dirimu, jika aku melihatnya seperti ini lagi-" lalu berbisik "Aku akan merebutnya darimu"
BLAM
.
.
.
.
.
TBC
Eya eya menunggu lama yaa.. kkk~ maafkan diriku yang bingung mau nulis apa meski banyak waktu buat nulis.
Meski chap kemarin responnya bener2 mengecewakan. Setidaknya masih ada orang2 yang peduli, gak Cuma karena suka sama FFnya. Merasa jadi mesin ketik doong kalo gitu kkk~
Pokoknya sekali lagi aku berterima kasih sekali sudah mendukung dan menunggu aku, semoga kalian juga selalu dikuatkan dan dilindungi dimanapun berada.
Vote and Coment please ^_^
