Sehun masih terdiam, ini salahnya. Jika saja ia menunggu Luhan semuanya tidak akan serumit ini. Ia lupa dengan Luhan karena istri lainnya itu mengajaknya berkeliling untuk mencari pakaian baru bagi Haowen. Mereka bahkan baru 1 jam berada dirumah, dan ia tidak tahu kalo Luhan masih menunggunya disana.

"Sudah memanggil dokter?"

"Tentu saja,"

"Baiklah tugasku sudah selesai," pria itu berjalan keluar kamar sebelum langkahnya terhenti tepat disamping Sehun.

"Persiapkan dirimu, jika aku melihatnya seperti ini lagi-" lalu berbisik "Aku akan merebutnya darimu"

BLAM

.

.

.

.

.

Sehun melangkah perlahan mendekati sosok mungil yang kini tengah terlelap dalam tidurnya. Dokter Lee menyuntikan obat pada tubuh kurus istrinya itu. Dia bilang Luhan kekurangan nutrisi, Sehun begitu tertohok dengan apa yang didengarnya. Dirinya merasa menjadi suami yang tidak bertanggung jawab, karena mengurus dan memperhatikan istri tercintanya pun ia telah lalai.

Tangannya beralih mengusap halus peluh yang membanjiri dahi Luhan. Ia terserang demam – dan Sehun merasa bersalah sudah membuatnya seperti ini. Mungkin ia harus berterima kasih kepada Kris yang mengantarkan istrinya kerumah walau hatinya sedikit membara, ya.. ia merasa sangat cemburu.

Tapi melihat bagaimana lemahnya Luhan ia memilih bungkam saat pria yang menjadi rivalnya itu memaki dan mengancamnya.

Sehun cukup sadar akan kesalahan yang ia perbuat.

"Maafkan aku sayang," masih mengusap helaian rambut yang sedikit basah. Lalu mengecup dahi istrinya dalam.

"Aku akan menjagamu Lu, aku tidak akan meninggalkanmu,"

Sehun beringsut membaringkan tubuhnya disebelah Luhan lalu mendekapnya erat-erat, tidak peduli bagaimana panas dari leher yang begitu menyengat saat bersentuhan dengan kulitnya. Sehun tetap memeluknya seakan sosok itu akan menghilang.

.

.

.

.

.
Luhan merasakan perih menyerang matanya saat terbangun, kepalanya juga sangat sakit. Belum lagi cairan dari hidung yang membuatnya sedikit sulit untuk bernafas.

Tak lama pintu kamarnya terbuka menampilkan sosok suaminya yang sudah terlihat tampan dengan jas biru navy nya.

"kau sudah bangun sayang?" suara berat yang ia kenali terdengar bergetar. Luhan terkejut melihat betapa raut wajah Sehun yang terlihat sendu.

"Sehun, kau baik-baik saja?"

"Seharusnya itu pertanyaanku sayang," Sehun menyimpan nampan berisi Sup gingseng yang masih mengepul karena panasnya di meja nakas. Meraih tubuh lemah istrinya.

"Kau baik? hmm" ucapnya diantara leher dan rahangnya yang masih terasa panas.

"ya aku baik,"

"Kau tidak," Sehun mengecup sepasang mata Luhan yang terlihat merah, mungkin efek demam.

"Soal semalam.."

"Aku tahu, kau tidak usah merasa bersalah okay. Aku baik-baik saja Sehun, kita tidak perlu membahasnya hmm?"

Sehun tertegun, antara merasa lega dan bersalah. Tapi benar, membahasnya hanya akan membuat mereka berada dalam penyesalan.

"Baiklah, sekarang makan sup ini. Aku ingin kau cepat sembuh- kau tahu Baby Haowen terus merengek memanggilmu semalam," ujarnya panjang lebar- merasa lebih baik kala melihat senyuman manis sang istri. Sementara tangannya masih telaten menyuapi Luhan.

"Aku tidak ingin menemuinya,"

Sehun mencelos. "Kenapa?"

"Aku sedang sakit Sehun, aku tidak ingin Haowen tertular demamku," gerutunya masih menerima suapan-suapan dari tangan suaminya. Sehun tersenyum-

"Kau seorang Ibu yang sempurna Luhan. Selalu mementingkan kami diatas segalanya," pujinya. Bagi Sehun- Luhan adalah sosok wanita yang sempurna, selalu tulus terhadap siapapun. Bahkan pada anak yang bukan darah dagingnya.

"Cepatlah sembuh baby, kita akan bermain setelahnya-"

"Kita bersama anak kita,"

.

.

.

"Mmi Mmi"

"Hallo Baby Boy ! kau tidak merindukan Daddy heum?" terdengar cekikikan bayi dari si mungil ketika sang ayah menciumi perut gembulnya. Haowen sudah berusia 8 bulan dan bayi itu berkembang dengan cepat sekali.

"Dyy Dyy Mmii" celotehnya masih saja memanggil ibunya.

"Okay okay kita akan bertemu Mommy mu. Ck tidak sabaran sekali," Sambil menggendong Haowen Sehun menaiki tangga dan membuka kamarnya. Luhan sedang memakai coatnya.

"Ready Mom?" Tanya Sehun dengan suara yang ia buat seperti anak kecil.

Luhan terkekeh. "Ready Daddy and My Boy ! Let's Go !" menggandeng tangan suaminya dan menenteng tas bayi sementara sebelah tangan Sehun ia gunakan untuk menggendong tubuh mungil anaknya.

Hari ini mereka berencana bertamasya ke Nami Island, sebenarnya Sehun menyarankan mereka untuk ketempat yang lebih privat. Tapi sayangnya Luhan tidak ingin piknik keluarga kecilnya harus berada diantara ruangan yang tertutup dengan layanan istimewa dari orang lain.

Ia hanya ingin piknik sederhana disebuah pulau ataupun taman seperti orang lain. Memberikan suaminya masakan rumahan buatannya dan menikmati hari yang cerah disebuah padang rumput dengan alas tikar berukuran kecil, cukup untuk menampung mereka bertiga.

Sehun tidak pernah menyangka jika istrinya juga begitu sederhana, segala kesempurnaan ia sematkan pada gadis itu. Terkadang pria itu merasa kebersamaanya ini seperti sepasang kekasih yang tengah berkencan.

"Sehunnie lihat !" Luhan menunjuk pada sepasang patung yang saling menggenggam.

Winter Sonata-

Betapa melegendanya kisah cinta mereka dalam drama hingga patungnya dibuat dibeberapa tempat. Salah satunya di Nami Island ini. Bahkan patung mereka dijadikan sebagai symbol cinta yang abadi bagi sebagian orang.

Kepopulerannya bahkan sampai hingga ke negeri orang, tidak heran banyak pengunjung yang ingin berfoto dengan patung itu- berharap kisah cinta mereka akan selalu abadi.

Luhan menarik tangan Sehun dengan antusias menuju patung winter sonata.

"Kita harus berfoto Sehun," ujarnya masih menggebu-gebu.

"Baiklah apapun untuk kesayanganku," tangannya menggenggam jemari Luhan lalu mengecupnya.

Pipinya terlihat merona dengan perlakuan spontan suaminya, ia tidak menyangka Sehun akan semanis itu di depan umum.

Kesadarannya kembali saat merasakan tangan Sehun menarik pinggang rampingnya lalu mengecup pelipisnya, sementara Luhan dengan ekspresi terkejut dengan tangan lainnya bersandar pada dada bidang Sehun, jangan lupakan Haowen yang mengerjap lucu tidak mengerti dengan interasksi kedua orang tuanya.

"Sehun mengapa Ajusshi itu memfoto kita?" tanyanya.

"Dia hanya bekerja sayang," masih terkekeh dengan wajah bingung Luhan "Bisa kau memfoto kami?" Tanya Sehun. Pria itu tersenyum senang karena hari ini pulau begitu ramai sehingga ia mendapatkan banyak permintaan jasa foto.

"Tentu saja tuan, biarkan aku mengatur posenya," ujarnya.

"Ahh Nyonya anda bisa menggendong putra anda?" Luhan mengangguk lalu mengambil Haowen digendongan ayahnya. "Nah berbaliklah sedikit miring kearah kamera, dan Tuan bisa berada dibelakangnya"

"Seperti ini?"

"Ya Tuan, anda bisa memeluk istri anda dan berikan kecupan di pelipisnya," Sehun melakukan semua hal yang diintruksikan.

Ia tidak menyadari jika sedari tadi istrinya menahan debaran jantung yang menggila, wajahnya yang putih terlihat semakin memerah karena tersipu.

"Baiklah mari kita ambil fotonya, tersenyum"

CKREK

CKREK

Beberapa kali jeptretan dan berbagai pose telah mereka lakukan di beberapa tempat di taman pulau Nami. Seperti di jembatan, patung berbentuk hati dan dibawah pohon rindang yang kini mereka jadikan tempat untuk beristirahat.

Sehun memberikan beberapa lembar Won dengan jumlah cukup besar kepada pria itu. Ia merasa puas dengan hasilnya, meski kamera yang dipakai bukanlah kamera mahal yang sekarang menjadi trend untuk mengambil gambar- namun jepretan yang dihasilkannya benar-benar seperti seorang pothografer professional. Masih dengan senyum cerahnya Sehun menggelar tikar dengan Luhan yang membantunya.

Mereka menikmati hari bersama seakan tidak ada waktu lain. Haowen merangkak perlahan, tangannya meraih biscuit favoritnya, menginjak usia ini si kecil semakin banyak ingin tahu- dan itu membuat orang tuanya harus menjaga dan terus memantau pertumbuhannya.

Karena terkadang Haowen bisa sangat aktif, bahkan pernah sekali mereka melihat balita itu hendak berdiri dipinggiran sofa, tentu saja teriakan Heechul yang menjadi paling menggemparkan karena wanita paruh baya itu menceramahi mereka tanpa henti.

Mengingatkan betapa mereka harus berhati-hati menjaga Haowen yang mulai suka bereksplorasi diusianya yang mulai menginjak 'I want to know'.

Sehun menikmati buah jeruk yang disodorkan Luhan, merasa begitu tenang ketika ia berbaring dengan paha Luhan sebagai bantalnya.

Sesekali menatap langit yang begitu cerah siang itu. Udara terasa begitu sejuk meski ini musim dingin, karena hari ini matahari terasa lebih hangat dan cukup pas untuk mereka berpiknik.

Hal-hal sederhana seperti ini ternyata begitu menyenangkan, selama ini hidupnya selalu dikelilingi kemewahan dalam aktivitas atau liburan apapun.

Dan dengan Luhan lah Sehun baru merasakan indahnya dunia luar tanpa uang dan barang mewah disampingnya. Mungkin Sehun harus lebih sering meluangkan waktu untuk keluarganya lain kali untuk berjalan-jalan bersama.

"Terima kasih,"

"Kembali, kau senang Sehunnie?"

"Sangat, aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Jadi maafkan aku jika kau tidak terlalu nyaman,"

"Hhmm" Luhan menggeleng "Tidak, ini hari yang sangat sempurna. Kita- ahh tidak- keluarga kecil kita," Mereka tersenyum bahagia. Masih menikmati waktu bersantai hingga petang menjemput.

.

.

.

.

Luhan membuka pintu rumah dan terkejut saat melihat Kyungsoo yang berdiri dengan wajah penuh amarah. Setahunya madunya itu pergi ke Busan untuk beberapa hari karena pekerjaan.

"Kyungsoo, kau sudah pulang?"

"Kenapa? kau tidak suka?" jawabnya sarkatis.

"Ti-tidak maksudku-"

"Berikan anakku," wanita itu merebut Haowen yang masih terlelap dalam pangkuan Luhan. Merasa terusik akhirnya balita mungil itu sedikit merengek.

"mmi mmi"

"Ssshh ini Eomma sayang, malam ini kita tidur bersama hmm," Kyungsoo melangkah pergi meninggalkan Luhan yang tengah mematung dengan tatapan sendu- ia memikirkan perkataan madunya "Anakku". Betapa sakit hatinya ketika ia kembali diingatkan bahwa tidak ada harapan untuk menggendong seorang anak yang lahir dari rahimnya.

"Sayang, kenapa berdiri disini? Haowen dimana?" Sehun menginterupsi. Gadis itu segera menghapus air matanya dan berbalik- memberikan senyuman manis saat melihat Sehun yang kesulitan membawa membawa peralatan piknik mereka tadi.

"Kyungsoo membawanya Sehun, dia pasti merindukan Haowen," ujarnya tersenyum berusaha terlihat baik-baik saja. Melihat suaminya kerepotan Luhan berinisiatif mengambil keranjang yang dibawa Sehun dan menyimpannya di counter dapur.

"Kyungsoo sudah kembali?" matanya menatap Luhan jenaka, entahlah mengapa kini ia merasa terganggu dengan kehadiran istri keduanya itu.

"ya, cepat temui Kyungie. Kita sudah melewatkan hari ini tanpanya, pasti dia sedang kesal,"

"Okay Mommy," namun nyatanya Sehun lebih memilih mendekati Luhan dan memeluknya erat.

"Sehunnie~"

"ya sayang," suara beratnya mengalun begitu sexy ditelinga Luhan.

"Ini malammu bersama saudariku, jangan membuatnya semakin kesal," Sehun mendengus.

"Huh, baiklah Nyonya Oh yang terhormat. Sampai jumpa besok pagi,"

CUP

"Aku mencintaimu Luhannie" Lalu melenggang pergi menuju kamar utamanya bersama madunya.

"Aku- juga mencintaimu Sehunnie," lirihnya.

.

.

.

.

Sehun masih dengan senyum cerahnya saat membuka pintu. Melihat istri keduanya tengah menatap bayi kecil mereka.

"Kau bahagia?" pertanyaan itu lebih seperti pernyataan yang menghakimi Sehun.

Jujur saja Kyungsoo tidak senang melihat wajah sumeringah suaminya disebabkan oleh wanita lain, sekedar mengingatkan jika Kyungsoo adalah wanita yang posessif terhadap miliknya.

"Kenapa raut wajahmu begitu sayang?"

PLAK

Sehun terkejut, merasakan panas yang menjalar di area pipinya. Ia menatap Kyungsoo yang terlihat sangat murka- baru saja ingin berteriak marah namun Sehun urungkan saat melihat wajah istrinya memerah penuh dengan air mata.

"Brengsek! Bajingan!"

"Mulutmu," desis Sehun.

Kyungsoo terjatuh lemas, kakinya tidak bisa menahan berat tubuhnya saat ini. Dadanya terasa sangat sesak jika mengingat Sehun lebih memilih wanita yang menjadi istri pertamanya kini.

Ia merasa terasingkan dalam keluarganya sendiri. Banyak yang menolaknya untuk hadir, tapi ia bertahan dengan rasa sakit yang selama ini menggerogoti karena kehadiran suaminya, karena Sehun selalu ada untuknya. Itu sudah cukup- tapi melihat bagaimana suaminya perlahan berpaling Kyungsoo tidak bisa lagi bersabar.

"Hiks- Kau bilang kau hanya akan mencintaiku, aku fikir kau akan menyisakan sedikit rindu untukku saat aku pergi. Tapi apa yang terjadi hari ini? Bukan pertama kalinya aku melihatmu begitu bahagia bersama Luhan ! Kau berbohong Oppa. Hiks"

"..."

"Aku tetap melangkah kearahmu bahkan saat berada pada jalan yang membuat kakiku berdarah, dengan harapan kau akan selalu menggenggamku," Kyungsoo terkekeh mengusap air matanya "pada akhirnya kau juga meninggalkanku seperti mereka. Bahkan darah dagingku lebih memilih dia dibandingkan aku yang melahirkannya," masih meracau.

"kau salah paham,"

"TIDAK ! Hiks- aku tidak. Aku bisa melihatnya Oppa. Tatapan memujamu terhadapnya, kau mengingkari janjimu. Aku benar-benar tidak diingankan oleh siapapun, hidupku memang akan selalu sendiri. Oppa bahkan tidak pernah lagi menghubungiku,"

"Itu karena kau sibuk dan aku tidak mau mengganggumu sayang" Sehun bersimpuh memegang erat jemari Kyungsoo yang bergetar lalu mengusap air mata wanita itu meski istrinya memalingkan wajah tak ingin menatapnya.

"Kita bercerai,"

.

.

.

.

TBC

Ya aku tau ini lama sekali ga di update.. seperti yang udah aku bolang kalo laptopku sedang diservice.. lcd nya kena omong2 jadi mau gimana lagi.. dan semua data didalemnya juga hilang.. alhasil semuanya kudu ngetik ulang 😭😭 padahal niat pub story baru dan ngetik udah menggebu2 karena udah masuk liburan yang puanjaaang syekaleeh. Tapi mau nasib ya nasiiib 😢😢

Tidak lelah aku ucapkan terima kasih buat yang masih menunggu GMYL Hunhan Version ini. aku tidak bisa sebutin satu2 dan balas komentarnya semua maaf sekali.. tapi aku baca koo

Semoga suka chapter ini yaaa dan maaf kalo pendek.. ngetik dihp omong2 😂

Abaikan typo dan tulisan ga rapih yaa.. hehe

Vote and Coment please ^_^