"Tidak! aku tidak mau. Kumohon Kyungsoo aku hanya mencintaimu, jangan tinggalkan aku,"
Sehun merengkuh Kyungsoo memohon padanya betapa ia tidak ingin istri yang selama ini menemaninya pergi.
Ini begitu sulit ketika ia harus membagi cintanya. Jujur saja kedua wanita itu mendapatkan cinta yang sama besar darinya.
Sehun tidak bisa melepaskan salah satu dari mereka, serakah memang tapi ia tidak mau ada yang tersakiti lagi karena harus memilih. Lebih baik ia membaginya sama rata agar kedua wanita itu merasakan kebahagiaan yang sama. Namun tetap saja akan ada yang tersakiti saat diduakan sebesar apapun ia memberikan keadilan.
"Aku mohon Oppa. Hiks-" Kyungsoo menangis tersedu. "Aku lelah, jika harus terus seperti ini. Biarkan aku menjalani hidupku sendiri"
"No Kyungsoo kumohon,"
"Masih ada Luhan yang menemanimu, aku bahkan sudah tak berarti lagi untukmu Oppa. Tapi izinkan aku membawa Haowen, dia satu-satunya kebahagiaanku- harta terindah yang kumiliki darimu Oppa. Aku akan melepasmu untuk istrimu," lirihnya.
Sehun membungkam bibir Kyungsoo dengan ciuman yang berantakan. Melesakkan lidahnya menginvasi setiap deretan gigi dan benda lunak lainnya. Tangannya menarik tengkuk wanita itu memperdalam ciuman yang sarat akan emosi itu.
Merasa Kyungsoo jauh lebih tenang Sehun melepas ciuman mereka, menatap mata sayu istri keduanya- memberikan elusan pelan disetiap inchi wajah itu.
CUP
Kening Kyungsoo dikecup lama, matanya beralih menatap mata istrinya. "Kau selalu menjadi istimewa bagiku Kyungsoo, aku selalu mencintaimu. Believe me please,"
Kyungsoo masih terdiam. "Aku mungkin ingkar saat mengatakan bahwa aku tidak akan mencintai Luhan, tapi aku tidak pernah ingkar saat berkata kaulah yang selalu kucintai. Selamanya akan seperti itu Kyungsoo. Tidak ada yang bisa kulepaskan diantara kalian,"
"Oppa sungguh egois, itu menyakiti kami" desis Kyungsoo.
"Aku tahu, tapi tidak bisakah kita melihat sisi Haowen hm? Dia membutuhkanmu dan juga Luhan," pria itu masih berusaha memberi pengertian.
"Aku tetap ingin bercerai jika Oppa tidak bisa melepaskan Luhan. Biar aku yang pergi dari hidup bahagia kalian," Kyungsoo beranjak menuju ranjangnya dan berbaring memunggungi Sehun.
"Kyungsoo kumohon,"
"Tidak, kau akan mendapat surat ceraimu besok Oppa. Dan aku akan memperjuangkan hak asuh Haowen tentu saja,"
Sehun memijit pelipisnya, dia sungguh sakit kepala dengan semua kejadian ini. Kyungsoo sangat keras kepala sekarang. Jika tidak mengalah akan terjadi pertengkaran lebih hebat dari ini.
Lebih baik mengikuti keinginannya dulu, dia akan lupa dengan sendirinya nanti. fikirnya
"..."
"Khekhe~ lucu sekali, hidupku memang selalu sendiri. Bahkan aku tidak tahu siapa orang tua yang tega membuangku yang masih berumur 2 minggu kala itu. Jadi tidak terlalu sulit jika kini kita berpisah, aku sudah terbiasa sendiri" Sehun mengacak rambutnya gemas.
"Fine, kau mendapat keinginanmu Kyungsoo. Jika berpisah dengan Luhan membuatmu puas aku akan melakukannya, tapi berhenti berbicara seperti itu sayang. Aku mencintaimu dan aku tidak ingin melihatmu begini okay," lirih Sehun.
Sejujurnya perkataan itu tidak sesuai dengan isi hatinya. Tapi Kyungsoo benar, selama ini wanita itu hidup sendiri- melihat anggota keluarganya yang tidak memandangnya sedikit banyak membuat hatinya tercubit.
Dan ia tidak akan menjadi salah satunya yang tak menginginkan Kyungsoo.
Kyungsoo menyeringai dibaliknya, ia tahu Sehun akan tetap memilihnya seperti ini. Berbalik dan merentangkan kedua tangannya, mendapatkan rengkuhan hangat dari suaminya lalu kembali tersenyum.
"Aku merindukanmu Oppa~"
Sehun berdecak, sudah ia duga sifat istrinya ini terkadang seperti roller coaster- naik turun dengan tidak diduga. Baru saja ia mengamuk seperti orang tidak waras sekarang sudah memberikan cengiran yang membuatnya jengah.
Pria itu hanya berharap Kyungsoo akan melupakan kejadian dan perkataan yang baru saja keluar dari mulutnya. Itu refleks-
CUP
"Aku juga, berhenti merendahkan dirimu hmm? kau selalu berharga untukku," Kyungsoo mengangguk.
Malam itu mereka kembali berciuman kearah yang lebih panas, malam yang dingin terasa menghangatkan kala keduanya melebur dalam cumbuan hingga tubuhnya beradu tanpa sehelai benangpun.
Menikmati setiap erangan dan desahan yang selalu menjadi candu, Kyungsoo begitu menikmatinya begitu juga Sehun. Tapi siapa yang tahu jika hati lelaki itu justru gelisah- jika mengingat apa yang telah ia ucapkan.
Mereka hanya tidak pernah tahu jika sesosok wanita menggenggam erat segelas susu hangat yang ia buat untuk madunya.
Ia menangis dalam diam mendengarkan kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut dua insan didalam sana. Kembali hatinya dibuat terluka setelah mendapatkan kebahagiaan hari ini.
Sungguh tak menyangka jika pada akhirnya ia tetap menjadi yang kedua meski statusnya adalah yang utama. Luhan melangkah meninggalkan kamar yang pemiliknya tengah mengeluarkan suara kenikmatan surgawi.
Ia menuju kekamar putra semata wayangnya- putra madunya. Memeluk erat balita itu disertai tangis tanpa suara.
"Haowen tidak akan meninggalkan Mommy kan?" lirihnya sesak.
.
.
.
.
Kris mendapati gadisnya termenung di taman yang terletak di lantai 15 gedung kantor. Matanya tak luput menyadari jika sedari tadi gadis itu menatap kosong pemandangan didepannya. Dengan cepat ia menghampiri Luhan lalu memeluknya erat.
"Menangislah," ujarnya lembut, memberikan ketenangan melalui belaian-belaian halus dipunggung gadis itu.
"Hiks-" benar saja Luhan menangis begitu keras kala mendapatkan sandaran. Dia benar-benar membutuhkannya saat ini. Hati yang rapuh kini semakin hancur kala mendapati suaminya menghindarinya pagi ini.
"Aku disini sayang, tenanglah. Ceritakan padaku apa yang terjadi Lu" Kris menangkup wajah Luhan menghapus jejak air mata yang mengalir dipipi gadis itu.
"Kris a-aku-"
"Ya?"
Luhan menunduk, lalu menggeleng. Ia ragu jika harus menceritakan masalahnya pada pria ini "aku mendegarkanmu Luhan. Aku berjanji tidak akan melakukan hal apapun yang membuatmu sedih okay,"
"Berjanjilah menahan emosimu," Kris hanya bergumam. Luhan kembali menatap pria itu. "Apa yang harus aku lakukan?"
"..." pria itu masih membelai rambut Luhan.
"Suamiku- akan menceraikanku demi.."
"..."
"Demi istri keduanya," suaranya mencicit diakhir, elusan dirambutnya pun berhenti. Mata bulat itu menatap Kris yang memerah mendengar pernyataanya.
"Jadi-" Luhan terdiam. "Selama ini kau hidup satu atap dengan wanita lain suamimu? begitu?"
Ini adalah hal yang paling membahayakan saat sorot tajam pria itu memancarkan kemarahan yang luar biasa.
Luhan tahu seharusnya ia tak membicarakan soal madunya. Tapi Kris itu bukan orang bodoh, ia akan mengetahui setiap kebohongan yang Luhan lakukan.
"Dimana posisimu?" gemeletuk giginya bahkan terdengar jelas.
"Pe-pertama,"
"Bodoh! dan kau mengalah begitu saja untuk posisi kedua?"
Bibirnya bungkam. "Bajingan- keparat" desis Kris "aku akan memberikannya pelajaran yang berharga,"
Kris sudah akan beranjak sebelum merasakan pelukan yang begitu erat ditubuhnya.
"Kau sudah berjanji Kris. Tidak akan marah dengan apa yang aku katakan. Kumohon~ aku membutuhkanmu," kembali pria itu berbalik memeluk erat tubuh mungil yang ringkih itu. Mengecupi puncak kepalanya dan menenggelamkan wakahnya diceruk leher Luhan.
"Maka bercerailah, dan menikah denganku"
"Kris !"
"Luhan! Aku akan merelakanmu jika kau memang bahagia, tapi tidak jika bajingan itu hanya menyakitimu seperti ini. Kau tahu betapa berharganya dirimu bagiku, tapi dengan mudahnya dia menganggapmu seperti sampah huh? menduakanmu dengan menikahi wanita lain dan bercerai begitu saja? kau pikir aku rela!"
"Dia tidak seperti itu, dengarkan aku," gadis itu masih mengelus pelan punggung tegap Kris berharap akan sedikit menenangkannya. Tapi tidak, pria itu tidak mudah tenang jika menyangkut gadisnya.
"YA! Suamimu memang seperti itu, dan aku tidak akan membiarkannya menyakitimu lagi. Bercerailah dan menikah denganku. Atau aku akan membuatnya hancur!" Tidak lagi.
Kris tidak akan mengampuni siapapun orang yang menyakiti gadisnya. Dia sudah berada pada limit kesabarannya, sudah cukup gadisnya menangis secara diam-diam beberapa hari terakhir. Dan ia takkan membiarkannya lagi.
"Kau menyakitiku Kris,"
"Aku? tidak aku akan membahagiakanmu Luhan,"
"Aku berharap kau menjadi sandaran saat aku menghadapi masalahku, tapi pada akhirnya kau sama saja seperti yang lain. Tidak merasakan perasaanku dan hanya mengambil keputusan semaumu,"
Memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Sungguh serba salah, Luhan sulit dibujuk jika merajuk seperti ini.
"Baiklah, maafkan aku sayang. Aku akan menjadi pendengar yang baik sekarang, tapi jika kau sudah lelah kau tahu harus kemana," Luhan mengangguk.
"Berjanji tidak akan menghancurkan siapapun,"
"hmm- anything for you baby" Luhan tersenyum. Hatinya sudah lebih baik saat menerima perhatian yang begitu besar.
"Gomawo,"
"Jadi mau bercerita tentang kehidupanmu padaku?
"Tentu saja, siapkan telinga dan hatimu"
Mereka saling melempar senyuman, melegakan memang saat tidak menutupi apapun pada orang-orang terdekat. Kesediaan mereka bisa membantu meringankan beban yang begitu memberatkan hati.
Sesekali mereka tertawa dan juga menggeram kesal, setiap ekspresi wajah Kris membuat Luhan senang, hanya pada pria ini dan Jonginlah ia merasa lebih tenang. Mungkin saat kembali kerumah akan mengubah suasana hatinya kembali mendung.
Tapi untuk saat ini ia akan menikmati harinya, mempersiapkan batin saat malam menjelang dengan tidak menemukan suaminya lagi diranjang yang sama.
Semua kedekatan itu tak luput diperhatikan oleh seseorang yang tengah mengepalkan tangannya,
Sehun-
Pria itu berniat menjelaskan perihal masalahnya bersama Kyungsoo, ia benar-benar tak tenang dan ingin menemui istrinya. Merelakan meeting penting yang ia batalkan demi bertemu Luhan dikantor orang lain.
Tapi pemandangan didepannya membuat urung niatnya. Amarah menguasainya seketika, apalagi mendengar bisikan-bisikan provokasi yang dilakukan istri keduanya beberapa hari kemarin saat mengatakan Luhan mempunyai hubungan special dengan pria lain.
Sehun sungguh tidak ingin mempercayai hal itu, ia sungguh percaya pada Luhan- tapi dengan kejadian hari ini membuatnya sadar-
Luhan mengkhianatinya-.
.
.
.
.
"Jaga tidurmu okay, jangan sampai aku melihat kantung matamu lagi besok pagi," ujar Kris yang masih berada pada kursi pengemudi. Ia mengantarkan Luhan karena meeting tadi membuat mereka harus bekerja lembur.
"Apa aku semengerikan itu?" tanyanya.
"kau tetap terlihat cantik untukku Lu,"
"Issh, aku pergi" Pria itu hanya terkekeh saat mendapat pukulan keras dibahunya.
"Eoh? Kyungsoo?"
Madunya terlihat turun dari sebuah mobil yang sepertinya ia kenal. Itu seperti mobil- Jongin. Kepalanya menggeleng tidak mungkin itu Jongin, bahkan dia tidak melihat dengan jelas Plat nomor mobil sahabatnya itu.
"Kyungsoo?" Luhan menoleh ia baru ingat masih berada dimobil sahabatnya.
"Ahh dia maduku, istri kedua yang kuceritakan" Ucapnya polos. "Kau mengenalnya?"
"Tidak,"
Luhan mengernyit ada apa dengan ekspresi Kris. "Pulanglah, ini sudah larut Lu" gadis itu mengangguk, lalu melambaikan tangannya ketika mobil Kris sudah melenggang pergi.
.
.
.
"Haowen-ya, kau masih bangun hmm anak mommy lucunya,"
"Mmi mmi"
"Yes Baby Boy, Mommy's here"
Luhan masih asyik bermain dengan putra kecilnya. Ia begitu merindukan Haowen, rasanya semua kesedihan dan beban menguap begitu saja jika sudah bertatap wajah dengan sikecil yang menggemaskan.
"Luhan"
Luhan mendapati Sehun berada diambang pintu dengan wajah yang kusut. "Se-sehun" mereka merasa canggung karena beberapa hari tidak bertegur sapa. "A-aku"
BRUGH
"Sehun," tubuhnya terasa seperti jelly mendapatkan rengkuhan yang sangat ia rindukan. Ini pertama kalinya Sehun memeluknya setelah kejadian dimalam ia mendengar perkataan suami dan madunya.
"Aku percaya padamu sayang,"
"A-apa aku melakukan kesalahan?"
"Tidak, kau tahu aku sangat mencintaimu Luhan?" Luhan mengangguk."jadi kumohon berhenti berdekatan dengan pria lain,"
"Aku tidak mengerti Sehun"
"Kris- bisakah kau menjauhinya- untukku? Jika perlu berhenti bekerja, perusahaan sudah cukup stabil saat ini"
Sudah ia duga, akan ada saatnya Sehun memintanya untuk menjauhi pria itu. Dan akan berakhir dengan dirinya yang berhenti bekerja dikantor Kris.
"Ta-tapi kenapa?"
"Hanya turuti permintaanku Lu, kumohon"
"Baiklah akan kuusahakan, kau tahu Sehun? Kris adalah sabat terbaikku. Tidak semudah itu menjauhinya. Dan aku butuh waktu jika harus berhenti," cicitnya. Sehun tersenyum dan memeluk kembali istrinya.
"Aku tahu kau mencintaiku, terimakasih Luhan. Setidaknya aku sudah lega saat ini," mereka tersenyum.
"Tidur denganku malam ini?" tentu saja dijawab dengan antusias. Baik Luhan maupun Sehun sudah rindu untuk saling mendekap.
"Tapi Baby Haowen,"
"Aku tidak keberatan sayang,"
Meski rasa penasaran itu ada tapi ini lebih baik dari pada mereka harus berbicara panjang lebar jika menyangkut orang lain.
Luhan sudah cukup senang suaminya tidak lagi menghindar. Dan ia tak mau merusak hubungan mereka dengan memancing emosi Sehun.
Ya.. menjadi istri penurut adalah dirinya.
.
.
.
.
"Bertemu lagi dengan Presdir Nona Oh?" Tanya Lisa ramah.
"Ya, tinjauan lapangan Lisa-ssi, dia ada?"
"Presdir membatalkan semua meeting hari ini, tapi masuklah Nona mungkin dia menunggu Nona,"
"Okay thanks Lisa" gadis itu mengangguk.
Tok Tok Tok
"Masuk"
"Kris, kau sudah siap? Hari ini kita harus terjun kelapangan," langkah kakinya mendekati meja pria yang masih berkutat dengan semua berkasnya.
"Aku fikir kau orang yang berpendidikan Kyungsoo-ssi," Kyungsoo mengernyit bingung.
"Maksudmu?"
Pria itu meletakan penanya dengan keras lalu memandang Kyungsoo tajam. "Ini dikantor, jadi panggil aku dengan sopan,"
"Apa kau ada masalah denganku?" Sungguh Kyungsoo tidak mengerti dengan perubahan sikap Kris. Baru saja kemarin ia tidak ingin berkata formal dan begitu menyenangkan tapi sekarang kenapa sekarang ia bersikap arogan seperti ini.
Wanita itu semakin mendekat saat pria itu malah mengabaikannya. Retinanya menangkap pigura baru dengan foto yang sama seperti sebelumnya- Luhan – tangannya ingin menyentuh sebelum-
BRRAKK
"Aww" Kris menarik tangannya dan melemparkaknnya kedinding.
"K-kris" Kyungsoo terkejut dan merasakan sakit yang luar biasa saat sebuah tangan mencekik lehernya begitu kuat.
"Uhuk, K-kris uhuk le-lephass,"
Kyungsoo meronta mencari pegangan atau apapun untuk menghentikan cekikan pria itu yang sudah membuat kakinya berjinjit. Tapi sayang dia tidak menemukan apapun.
"Dengarkan aku baik-baik jalang sialan! Jangan berani menyentuh Luhan sedikitpun" desisnya.
"Jika aku tahu jalang sepertimu menyakitinya, hanya ucapkan selamat tinggal pada karir ataupun suamimu,"
"Uhuk Uhuk," Kyungsoo memegang lehernya yang terlihat memerah.
Mengais oksigen sebanyak yang ia bisa saat pria gila itu melepaskannya. Kakinya gemetar bukan main hingga ia terjatuh begitu saja.
"Pergilah, dan ucapkan pada tuanmu bahwa aku membatalkan proyek ini. Kau fikir aku sudi bekerja sama dengan orang yang sudah membuat gadisku menangis? haha lucu sekali,"
"Kenapa? kenapa kau melakukan ini padaku Kris !" teriaknya. Sungguh tidak terima dengan apa yang pria itu perbuat.
"Bertanyalah pada dirimu sendiri wanita sialan. Berhenti serakah jika tidak ingin dirimu hancur, PERGI ! jangan pernah menginjakkan kakimu lagi dikantorku,"
Kyungsoo mengepalkan tangannya saat pria itu bahkan tidak ingin menatapnya, seolah dirinya adalah sampah.
"Karena wanita itu kau memperlakukanku seperti ini? ckk yang benar saja,"
"Apa aku perlu memanggil keamanan untuk menyeretmu?"
Akhirnya ia beranjak meninggalkan ruangan yang membuatnya begitu marah. Pupus sudah niat untuk memprovokasinya untuk merebut Luhan dari Sehun.
Ia sungguh tidak pernah menyangka jika lelaki gila seperti Kris akan merelakan perasaanya demi melihat orang yang ia cintai bersama lelaki lain? Kyungsoo terkekeh mengejek, Kris sudah main-main dengannya.
"Jika aku hancur, maka akan kupastikan Luhan juga hancur. Sshh"
.
.
.
.
Jangan baper jangan ngumpat aahaha. Bahagianya gak jadi wkwkwk
Ini bukan malming ya? Gpp lah tiba2 pengen update aja kkkkk
Cuma mau menyampaikan aja sih kalo mual sama cerita ini ya monggo leave aja.. unfollow atau delete on library.. gpp saya gak keberatan.
Well cerita ini memang drama syekali.. dan jauh buat menggapai kebahagiaan.. kalo teliti di chapter awal sama prolog saya bilang kalo ini diangkat dari kisah nyata.. walau alurnya, adegannya, pemerannya saya rubah habis2an. Dan saya juga menekankan dalam tulisan bahwa ini ANGST, HURT/COMFORT, ROMANCE
Jadi diperhatikan dulu yaa sebelum baca.. jangan asal bash setelahnya 😋😋
Hargailah setiap karya orang, kalo cuma ngebash doang ya gak ngarus juga sih sebenernya buat saya. Ga buat saya drop juga, malah bikin ketawa2 wkwkwk
Udah ahh curhatnya..
Semoga suka, dan maaf typo yang berserakan yoo
Vote and coment please ^_^ aku akan melanjutkan kalo banyak yang tinggalkan jejak. jujur aja kalau responnya sedikit nulisnya juga ogah2an. wkwkwk seperti yang dibilang.. salah satu menghargai karya orang lain adalah meninggalkan jejak wkwkwk
Pai pai
